CALOCHLOR
by: roxanne
Time to Confession
Aku benar-benar bertekad untuk mengatakannya pada Jongin. Aku sudah menyiapkan mentalku dan aku cukup yakin bahwa Jongin memiliki perasaan yang sama padaku menilik sikapnya beberapa waktu ini. Mungkin ini terlalu cepat, tapi jam hormonku sudah tidak bisa menanti lagi. Hatiku dan perasaanku dalam kata chaos, dan aku tidak memiliki kemampuan apapun untuk memperbaikinya selain mengatakannya.
Aku memutuskannya untuk memberitahunya hari ini, seminggu setelah malam hujan yang penuh kehangatan.
Hari itu hari Jumat artinya aku memiliki kesempatan berbicara padanya saat pulang. Kegiatan hari itu berjalan seperti biasanya dan aku rasa aku cukup berhasil mengontrol emosiku. Dan akhirnya waktu pulang pun datang aku segera menghampiri Jongin. Aku memaksanya untuk mampir kekedai es krim sebelum kami pulang. Aku memulai dengan percakapan ringan, hingga akhirnya kami memiliki keheningan. Aku berdeham,
"Jongin, aku ingin kau percaya ketika aku mengatakan ini." Kataku sambil meremas tanganku meredakan kegugupan.
"Huh apa itu Kyung?" tanyanya masa bodoh.
"Eung..Jongin...Jongin, Jongin-ah aku mencintaimu." Jawabku sambil mengerutkan mataku menutup mata, tak tahan dengan semua rasa yang berkecimuk. Akhirnya perasaanku lega telah mengatakannya. Aku tak pernah merasa senyaman ini dalam hidupku. Aku rasa hatiku benar-benar membludah, rasa bahagia dan puas ini tidak akan bisa ditandingi seribu ekstasi manapun. Getaran dan perasaan hangat ini aku sungguh menikmatinya. Dengan perlahan aku membuka mata untuk melihatnya kembali.
…..
"Kyung, kau gay? Kau serius?"
"…" aku hanya menganggukan kepala dan tersenyum selembut mungkin padanya.
"Baiklah, melihat ekspresimu yang bersemu seperti itu aku yakin kau serius. Ya Tuhan! Aku anggap kau tidak pernah mengatakan ini. Kyung mungkin kau hanya menyukaiku, karena hanya aku temanmu." Jongin berkata seakan-akan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dan aku muak dengan tingkahnya yang hanya bersikukuh untuk menjadi seorang yang patuh pada norma. Tidakkah dia sedikit saja untuk membuka pikirannya?.
"Jongin, setidaknya bisakah kau mencoba denganku? Maksudku, ku pikir luka penolakkan gadis itu membuatmu malas dengan gadis lainnya. Dan aku tau seberapa besar kau berusaha untuk merangsang dirimu dengan video porn atau wanita telanjang dalam majalahmu. Tapi Jongin, kau tidak pernah bisa menyembuhkan impontenmu karena luka gadis itu. Aku i…" aku terus menekan setiap nada dan berusaha mencoba merubah pikirannya, yang sebaliknya terdengar ocehan tak berujung. Aku tidak terima dengan penolakan.
"Kyung….."
"…ngin kau mencobanya denganku. Aku tidak masalah menjadi pihak lemah. Kau hanya akan menjadi pecundang jika kau terus bepikir ideal…" aku melihat Jongin mulai memperhatikan ku dan terprovokasi, membuat perasaanku untuk tidak menerima penolakan meningkat.
"kyung!"
"….jadi cobalah denganku…."
"KYUNGSOO!"
Jongin menatapku kosong, jijik, aneh, bingung dan mungkin mual, yang mana membuat hatiku benar-benar patah kembali. Perasaan dan getaran hangat itu kini berguling perlahan menjadi rasa sesak dan chaos dalam diriku muncul dan lebih dari sebelumnya. Semuanya hitam dalam otakku, aku benar-benar tidak siap menerima tatapan itu, karena sejujurnya aku tak pernah membayangkan tatapan itu. Aku menyesal.
"Aku menyesal telah melakukan banyak sentuhan dan juga pelukan denganmu Kyung. Apa kau Juga bermanstrubasi sambil membayangkan wajahku? Sejak kapan mencintaiku atau apalah itu?" Jongin berkata seperti mercon yang tak dapat dihentikan terus berbicara, membuat ku pening dan tatapan Jongin membuatku menglami kecemasan, sial scopophobia-ku akhirnya mempan dengan tatapan Jongin.
"Kau tidak bisa menyalahkan perasaanku Jongin! Aku sudah menyukaiku dari lama. Berperasanlah dari sudut pandangku! Aku sungguh tersiksa menahan semuanya, aku juga ingin fantasi ku denganmu menjadi kenyataan, itu wajar bukan? Itu tujuan final perasaan ini. Jongin harg…."
BRAK!
Kalimatku terpotong dengan suara gebrakan meja dari Jongin. Kecemasanku membuatku tidak bisa berpikir jernih seperti ada yang menyumbat pembuluhku. Aku harusnya mengontrol diri dan tidak mengularkan pembelaan persetan itu. Aku jelas paham Jongin terlihat menahan marah, siapapun marah dilecehkan dengan omonganku dan fantasi seperti itu.
Aku sungguh menyesal, melihatnya keluar dari kedai dengan bahu tenggang. Rasa kehilangan perlahan merebutku dari kesadaran. 1 2 3 aku menghitung dalam hati hingga kesadaranku benar-benar hilang. Apakah aku harus mengucapkan selamat tinggal Jongin?
Misery
Aku tidak tau sebanyak apa aku mencintai Jongin, dan sebanyak apa Jongin menyakitiku, karena aku hanya pernah mencintai Jongin. Aku berada di pihak yang salah, dan aku sadar itu. Sering kali aku memohon maaf pada Jongin, dan sesering itu pula Jongin mengabaikanku.
Jongin mulai hilang dari hidupku.
Hingga akhirnya rahasia yang selama ini ku simpan terungkap. Entah rumor aku gay datang darimana aku tidak tahu. Tapi semua orang tau itu dan mereka mulai membicarakan di belakangku. Tapi aku masih percaya Jongin tidak akan melakukan itu, entahlah aku hanya percaya saja.
Hari demi hari mulai terasa berat, scopophobia bahkan datang dua atau tiga kali dalam sehari karena tatapan berbagai variasi dari semua orang yang menatapku. Faktanya semua gadis yang pernah tertarik pada kini mencemooh paling terdepan. Bahkan mereka terang-terangan menjadikanku lelucon dihadapanku.
Mereka tidak benar-benar mengangguku, tapi serius aku tidak tahan walaupun hanya ditatap dan mendengar kalimat-kalimat mereka yang seperti itu. Rasanya aku ingin marah, sangat marah. Tapi semua yang mereka katakan adalah kebenerannya.
Dan rumor ke-abnormalan ku ini berdampak pada Jongin, sehingga membuatnya semakin menjauh dariku. Parahnya Jongin pun sering di jadikan lelucon, walaupun tidak sebanyak lelucon tentang diriku.
Jongin benar-benar menjauh dariku, dia bahkan tidak melirikku dan tidak menganggapku ada. Puncaknya aku keluar dari ekstrakulikuler musik, karena sudah tidak ada tujuan untuk tetap bertahan.
Suatu saat aku memberanikan diri untuk mendekatinya ditengah koridor memaksanya untuk bicara. Jongin langsung menghindar, tapi aku bersikeras menariknya hingga ia mendorongku. Semua mata melihat pada kami dan mereka terkikik seperti geli melihat drama picisan kami. Scopophobia mulai bereaksi dan aku tersadar setelah berada diranjang kamarku.
Jongin benar-benar marah, hingga besoknya aku mendapatkan pesan.
'Aku cukup bersabar Do Kyungsoo-ssi. Berhentilah mempermalukanku, aku akan membuatmu mati jika melakukannya.' –Jonginah
The Climax
Seminggu lagi adalah hari pelulusan tingkat tiga, dan aku mendaftarkan diri sebagai salah satu pengisi acara dengan bernyanyi.
Aku akan bernyanyi dari hatiku, maksudku dari amarahku. Aku hanya ingin semua orang tau perasaanku bukan sesuatu yang patut untuk diperolok-olok. Aku hanya ingin mereka menyesal apapun caranya. Aku akan menunjukan pada Jongin seberapa aku membenci penolakannya, seharusnya dia tidak memperlakukan seperti itu. Aku sungguh tersakiti dengan tatapan jijiknya padaku, dan aku ingin Jongin tau rasanya.
Hari itu tiba, hari dimana aku akan ditatap oleh hampir seribu orang. Dengan memikirkannya saja aku mual. Tapi aku harus melakukan sesuatu dalam hidupku.
Seorang pembawa acara memanggilku, dengan kaki gemetar aku menaiki panggung dan aku melihat semua orang mulai menatapku. Orang tua murid terlihat tenang tidak ada tatapan menghujat padaku, tetapi tidak dengan para anak mereka yang brengsek. Aku menemukan Jongin ditengah-tengah kursi. Aku menatapnya dan dia membuang muka, tapi aku tetap menatapnya karena merasa gangguan kecemasanku menurun saat menatapnya. Music dari piano muali berdenting dan aku mulai bernyanyi
I never want to play the games that people play
I never want to hear the things they gotta say
I've found everything I need
I never wanted anymore than I can see
I only want you to believe
If it's wrong to tell the truth
Then what am I supposed to do
When all I want to do is speak my mind
If it's wrong to do what's right
I'm prepared to testify
If loving you with all my heart's a crime
Then I'm guilty
Aku terus menatap Jongin mencoba menark perhatiannya. Dan akhirnya aku medapatkannya, dia mulai memperhatikanku walaupun dengan pandangan marah.
Boy I followed my heart
Followed the truth
Right from the start it led me to you
Please don't leave me this way
I'm guilty now all I have to say
Aku tersenyum lirih ketika mendengar beberapa murid menirukan suara muntah, dan pekikan geli ketika aku mengganti lirik –girl menjadi boy- tersebut. Sebagian orang tua siswa berbisik dan mengernyit, menatapku heran. Satu persatu orang mulai mencari kemana arah tatapanku yang terus terpaku pada satu titik. Mereka menemukannya, menemukan Jongin. Aula kini tidak hanya dipenuhi oleh suaraku, bisik-bisik semua orang mulai mengganggu, bahkan bisik-bisik itu lebih mendominasi dari nyanianku. Dan Jongin keluar ruangan, merasa malu.
What am I supposed to do
Then I'm guilty
All I wanna do is speak my mind
Guilty
Then I'm guilty
I'm prepared to testify
If it's wrong to do what's right then tell me about this feeling inside
If loving you with all my hearts a crime
I'm Guilty
Aku menyelesaikan lagu dengan respon hening, tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan atau mencela. Aku menuruni panggung begitu saja, dan pulang kerumah. Dan baru menyadai betapa menjijkannya tindakan ku tadi. Dan betapa Jongin akan membenciku hari ini. Aku menyesal karena itu, lagi pula aku sadar karena faktanya aku masih mencintai Jongin. keselahan dan dosa terbesarku untuk membuatnya membenciku
Hari aku menyakikan lagu itu adalah hari ini. Dan well, sepertinya tenagaku telah habis untuk terus bercerita lagi. Dan darah yang terkuras dari leherku sudah tidak sederas tadii, dan aku sudah tidak kuat menahan pusing. Aku rasa aku perlu tidur.
.
.
.
.
.
END
gak nyangka ada yang respon, aku kira cumasatu atau dua orang. buat yang review, fav, atau follow terimakasih banyak.
endingnya aneh ya? aku harap kalian gak kecewa wkwkwk. banyak yang ngarep happy ending tapi bakal aneh atau lama kalau ganti alur hiks ;( jadi bikin gantung biar kalian bisa bayangin kelanjutannya.
rencananya mau bikin cerita pendek-pendek gini lagi buat baekyeol, doain beres minggu depan ya.
sekali lagi makasih, aku harap dapet review atau respon kalian lainnya
thaks to: ryaauliao, flowerdyo, ChangChang, alexa, , kaisooship, Rahmah736, DKSlovePCY, Lovesoo, kyungiesoo123, Kaisooship, CuteSoo93, solar, HawaAF, allete, unniechan1
