Lucky

Main Casts : Oh Sehun and Xi Luhan (GS)

Support Casts : Find it by yourself

Genre : AU, Romance, School Life

Length : Twoshot

2016©Summerlight92


Terhitung 1 minggu sejak pengakuan Sehun—soal dia yang menyukai Luhan—gadis bermata rusa itu kedapatan sering melamun. Entah di rumah maupun di sekolah, Luhan kerap menghabiskan waktunya selama beberapa menit, hanya dengan bertopang dagu dan tatapan matanya yang kosong, tanda bahwa dia sedang melamunkan sesuatu.

Kondisi ini bukan hanya mengundang reaksi bingung orang tuanya saja, Baekhyun dan Kyungsoo yang belum pernah melihat Luhan seperti ini pun dibuat keheranan sekaligus penasaran.

Apa yang sudah membuat Luhan menjadi seperti ini?

"Luhan?"

Baekhyun dan Kyungsoo saling memandang. Untuk kesekian kali, mereka mendapati Luhan melamun di dalam kelas dengan pandangan mengarah ke luar jendela.

"Lu ..." Baekhyun mengusap lembut punggung Luhan.

Merasakan sentuhan di bagian belakang tubuhnya, barulah Luhan menoleh ke samping. Ia mengerutkan dahinya begitu mendapati dua sahabatnya sudah duduk dengan pandangan menyelidik, namun terselip kecemasan di balik tatapan mereka.

"Oh, kalian. Ada apa?" tanya Luhan.

Baekhyun dan Kyungsoo menghela napas kompak. Melihat reaksi kedua sahabatnya itu, Luhan terlihat bingung.

"Ada apa?"

"Seharusnya itu pertanyaan kami untukmu, Lu," Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Ada apa denganmu? Belakangan ini kami sering melihatmu melamun."

Wajah Luhan mulai terlihat gelisah. Dia menghela napas panjang sebelum kemudian menyandarkan kepalanya di atas meja.

"Aku hanya sedang bingung ..." jawabnya lirih.

Kyungsoo melirik Baekhyun yang hanya menanggapi dengan mengangkat bahunya acuh.

"Bingung kenapa, Lu?" tanya Kyungsoo. Ia benar-benar penasaran apa yang terjadi dengan sahabat kesayangannya yang satu ini. Ke mana Luhan yang biasanya ceria dan bersemangat?

"Apa menurut kalian, perasaan cinta terhadap seseorang selama 1 tahun bisa tergantikan dalam hitungan hari karena kedatangan cinta yang lain?"

Baekhyun dan Kyungsoo sama-sama mengernyitkan dahi mereka.

"Kau paham apa yang dia tanyakan?" bisik Kyungsoo.

"Aku tidak yakin, tapi kurasa aku tahu sesuatu," Baekhyun balas berbisik sambil mengedipkan sebelah matanya. "Serahkan padaku."

Kyungsoo mengangguk, lalu membiarkan Baekhyun mengutarakan pendapatnya.

"Jika perasaan cintamu pada seseorang selama 1 tahun bisa tergantikan dalam hitungan hari karena kedatangan cinta yang lain, itu berarti ..." Baekhyun bergumam tanda sedang berpikir, "perasaan cintamu yang sudah kau jaga selama 1 tahun itu, bukanlah perasaan cinta yang sebenarnya."

Luhan menatap Baekhyun dengan kebingungan. Begitu pun Kyungsoo. Gadis ini menilai kalau Baekhyun terlalu berbelit-belit menjelaskannya.

"Maksudku, cinta yang baru datang selama beberapa hari itulah cintamu yang sebenarnya, Lu."

Luhan yang mulai paham maksud ucapan Baekhyun menggeleng pelan, "Itu tidak mungkin. Waktunya terlalu singkat."

Baekhyun tersenyum penuh arti, "Cinta itu datang kapan saja dan tidak mengenal waktu, Lulu Sayang. Tidak peduli mau lama ataupun singkat, ketika kau terkena panah asmara yang dilepaskan oleh cupid, maka saat itulah kau merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta."

"Woah, aku tidak menyangka kau bisa mengatakan hal bagus seperti itu, Baek," Kyungsoo bertepuk tangan heboh, sedangkan Baekhyun hanya mengibaskan rambut sambil mengangkat wajahnya dengan bangga.

"Sekarang ceritakan pada kami, Lu. Apa yang sebenarnya mengusik pikiranmu belakangan ini?" Baekhyun memiringkan kepalanya. "Sepertinya masih ada masalah lain, selain apa yang kau tanyakan tadi. Benar 'kan?"

Luhan mengangguk.

"Ceritakan pada kami, Lu. Mungkin kami bisa membantumu mencari solusi penyelesaiannya," bujuk Kyungsoo yang disetujui oleh Baekhyun.

"Kalian janji tidak akan tertawa mendengar ceritaku?" tanya Luhan sedikit mengancam.

"Kami janji!" jawab Baekhyun dan Kyungsoo kompak. Luhan menghela napas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita.

"Ng ... sebenarnya Sehun ..." Luhan menatap kedua sahabatnya secara bergantian. "Dia bilang dia menyukaiku ..."

Luhan langsung menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Dia sudah siap seandainya setelah ini akan terdengar jeritan histeris dari kedua sahabatnya.

"HA?"

Nyatanya yang keluar justru reaksi yang paling tidak elit dari Baekhyun dan Kyungsoo.

"Hei, reaksi macam apa itu? Kupikir kalian akan bereaksi heboh dengan teriakan histeris kalian," Luhan memberengut kesal dengan bibir bersungut-sungut. Terlihat imut sekali.

"Lalu kau mau kami berteriak 'APA?! SEHUN MENYUKAIMU?!'. Begitu?" Kyungsoo berdecak-decak. "Tentu saja kami tidak melakukannya, karena reaksi itu sudah kami perlihatkan 1 tahun yang lalu sejak kita masih berada di tahun pertama. Tepatnya setelah Chanyeol dan Jongin memberitahu kami kalau Sehun menyukaimu."

Hening selama beberapa detik. Mata Luhan berkedip-kedip, sementara Baekhyun terlihat menepuk keras keningnya.

"Ups," gumam Kyungsoo.

"Dasar bodoh ..." ketus Baekhyun sambil melirik tajam ke arah Kyungsoo.

"JADI KALIAN SUDAH LAMA TAHU KALAU SEHUN MENYUKAIKU?!"

"Ehem!"

Suara baritone terdengar dari arah pintu kelas dan sukses membuat ketiga gadis itu menoleh kompak. Mata Luhan membulat sempurna begitu mengetahui sosok yang baru saja berdeham dengan wajah canggungnya.

ASTAGA! SEJAK KAPAN SEHUN ADA DI SANA?!

"Ngg ... Lu—"

"Luhan, kau sudah tahu kalau Sehun menyukaimu?" lalu Jongin merasakan sesuatu yang keras menghantam kepalanya. "YA! Kenapa kau memukul kepalaku, Yeol?!"

Tidak Kyungsoo, tidak Jongin, keduanya sama saja. Dasar pasangan kompak.

"Ugh ... kalian ... menyebalkan ..." Luhan menunduk sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah. "HUWAAAA ... KALIAN MENYEBALKAN!"

Luhan langsung berlari keluar kelas. Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Sehun. Karena tidak siap dengan perlakuan Luhan, keseimbangan Sehun goyah hingga pemuda itu jatuh menimpa Chanyeol, lalu keduanya berakhir menimpa Jongin yang kebetulan berdiri paling belakang. Setelahnya tanpa menoleh lagi, Luhan terus berlari meninggalkan kelas.

"ARRRGHHH! CEPAT MENYINGKIR DARIKU!" Jongin berteriak sambil berusaha mendorong tubuh Chanyeol dan Sehun. Baekhyun dan Kyungsoo yang melihat kejadian itu tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut mereka.

..

..

Luhan berlari di sepanjang lorong sambil terus menatap lantai. Rasa malu masih menguasainya setelah apa yang terjadi di dalam kelas beberapa saat yang lalu. Entah kenapa ia tidak mempunyai keberanian untuk bertemu dengan Sehun.

BRUK!

Karena terus menatap ke bawah, Luhan tidak melihat jika di depannya ada orang lain. Akibatnya, gadis itu menabrak pemuda tersebut dan keduanya sukses jatuh ke lantai. Luhan yang melihat siapa sosok yang sedang berada di bawahnya hanya bisa melotot kaget.

"Kris-sunbae?" Luhan gelagapan dan buru-buru menjauhkan diri dari tubuh pemuda berambut blonde itu. "Ma-maafkan aku. Sunbae baik-baik saja?"

"Kris?!"

Luhan menoleh pada sosok gadis berperawakan tinggi yang tiba-tiba muncul, lalu tanpa ragu segera menghampiri Kris. Gadis dengan mata pandanya itu terlihat panik dan sibuk memeriksa kondisi Kris.

"Kau baik-baik saja? Ada yang terluka tidak?"

Kris tersenyum lalu menggenggam lembut tangan gadis itu yang tengah menangkup wajahnya. "Aku baik-baik saja, Zi ..."

Luhan sedikit melebarkan bola matanya karena panggilan Kris pada gadis itu yang terdengar mesra. Dia mengingat-ingat lagi sosok gadis yang memiliki postur tubuh layaknya model itu. Kalau tidak salah—ah, namanya Huang Zitao. Satu angkatan dengan Kris dan otomatis seniornya juga.

"Syukurlah. Kupikir kau terluka," ucap Zitao disertai senyum penuh kelegaan.

"Sunbae, aku minta maaf sudah menabrakmu dan membuatmu terjatuh. Aku tidak sengaja. Maafkan aku," Luhan membungkuk sopan ke arah keduanya.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Lain kali kau harus berhati-hati," Kris tersenyum sambil mengusap kepala Luhan. Gadis itu tertegun. Sikap Kris barusan mencerminkan sikap layaknya seorang kakak kepada adiknya.

"Ngomong-ngomong, jangan memanggilku terlalu formal. Panggil aku Oppa saja. Lagi pula, kau adalah kekasih Sehun. Kurasa akan lebih menyenangkan jika kita berbicara lebih akrab layaknya kakak dan adik."

"APA?! KAU KEKASIH SEHUN?!"

Luhan nyaris terjungkal karena teriakan heboh Zitao.

"Hei, kau membuatnya kaget, Zi." Kris menepuk pelan pipi Zitao, lalu mencubitnya dengan gemas. Membuat gadis itu mendelik kesal ke arahnya.

"Jangan heran dengan reaksinya, Lu. Dia baru kembali dari Jepang setelah mengikuti pertukaran pelajar di sana," jelas Kris pada Luhan yang terlihat bingung menatap keduanya. "Ah iya, mungkin kau sudah tahu siapa dia."

Luhan mengangguk-angguk.

"Huang Zitao."

"Xi Luhan."

Kris tersenyum melihat kedua gadis itu bersalaman, setelahnya ia memeluk pinggang Zitao yang sukses membuat mata Luhan membola. "Zitao ini kekasihku, Lu ..." bisik Kris dengan nada seduktif.

"EH?!"

"Kris, hentikan! Jangan mengumbar kemesraan di depan umum! Apalagi di depan kekasih adikmu sendiri!" Zitao berusaha melepaskan tangan Kris, namun yang ada pelukan mereka malah semakin mengerat.

"Kenapa? Aku bahkan pernah memergoki Sehun sedang bermanja ria di pangkuan Luhan."

"APA?!"

Luhan menunduk setelah merasakan hawa panas di sekitar wajahnya.

"Ya ampun, kalian ini kakak-adik sama saja. Sama-sama mesum!" Zitao menggelengkan kepalanya lalu menatap Luhan dengan penuh peringatan. "Ingat, Lu. Jika Sehun berani melakukan skinship melebihi batas, katakan saja padaku. Aku akan menghadiahi jurus wushu terbaruku kepada anak itu. Oke?"

Mata Luhan mengerjap polos. Sedikit terkejut sekaligus geli melihat tingkah Zitao seperti seorang kakak yang protective pada adik perempuan kesayangannya.

"I-iya, Sunbae."

"Panggil aku Eonni!"

"Ah, ne, Eonni ..." Luhan terlihat kikuk lalu tersenyum lebar melihat Zitao lebih dulu memasang senyum.

"Ya sudah, kami kembali ke kelas dulu," ucap Zitao yang dibalas anggukan Luhan. Gadis itu mengangguk sebanyak tiga kali, persis seperti anak anjing yang sedang menurut.

"KYAAAA ... KAU IMUT SEKALI!" Zitao langsung menerjang tubuh mungil Luhan dan memeluknya dengan erat.

"Hei, hei, kau membuatnya kesulitan bernapas, Zi," Kris buru-buru menarik Zitao lalu terkekeh geli melihat ekspresi wajah Luhan yang masih terbengong di tempatnya. "Sampai jumpa lagi, Lu."

Lagi, Luhan hanya menganggukan kepala tanpa mengatakan apapun, dan membiarkan pasangan itu pergi meninggalkannya. Luhan bukannya tidak mau membalas ucapan mereka. Gadis itu hanya terlalu shock setelah mengetahui sebuah fakta.

Fakta bahwa Kris ternyata sudah mempunyai kekasih yang tidak lain juga siswi di sekolah mereka—teman satu angkatannya, Zitao. Sebenarnya Luhan sudah lama mendengar rumor kalau mereka menjalin hubungan, namun ia tidak pernah mempercayainya, karena rumor tersebut terdengar setelah kepergian Zitao ke Jepang untuk pertukaran pelajar 6 bulan yang lalu.

Namun hari ini, rumor itu terbukti dan berubah menjadi fakta. Kali ini Luhan tidak akan meragukannya lagi karena dia mendengarnya sendiri dari narasumber yang terpercaya.

Luhan terdiam. Tangannya bergerak menyentuh dadanya secara perlahan. Aneh, bukankah dia menyukai Kris? Seharusnya ketika tahu Kris sudah memiliki kekasih, ada rasa sesak maupun nyeri di dalam sini. Kenapa perasaan sakit itu tidak ada? Kenapa yang muncul justru perasaan lega?

"Tidak mungkin ..." Luhan menggeleng, Satu pemikiran yang beberapa hari belakangan mengusiknya kembali muncul di kepalanya.

..

..

Bel baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu, namun sekarang Luhan justru berada di tepi kolam renang sekolahnya. Terlalu banyak pikiran, gadis itu memilih untuk membolos pelajaran jam terakhir. Luhan membutuhkan tempat yang sepi untuk menenangkan pikirannya. Dan entah mengapa, pilihan Luhan justru jatuh pada tempat yang biasanya selalu ia hindari—kolam renang.

"Sepertinya ini hari keberuntungan kita ..."

DEG!

Dengan gerakan kaku, Luhan berbalik ke sumber suara. Setelahnya, mata gadis itu membelalak lebar. Sial! Kenapa di saat seperti ini mereka harus muncul?!

"Mau apa kalian?" tanya Luhan pada Minjoo cs yang entah dari mana sudah muncul di hadapannya. Luhan memperkirakan jika trio rubah itu membuntutinya.

"Hei, kenapa kau terlihat ketakutan?" tanya Minjoo dengan nada mengejek.

Luhan menelan salivanya, kemudian melirik ke belakang.

"Minjoo-ya, apa kau tidak tahu kalau Luhan tidak bisa berenang?" kali ini Sora yang menyahut ucapan Minjoo.

Minjoo dengan sengaja membuat wajahnya terlihat kaget, "Benarkah?"

"Yang benar saja, masa kau tidak tahu?" giliran Jihyun yang tersenyum menyeringai ke arah Luhan yang kini terlihat semakin ketakutan. Apalagi setelah mereka bertiga mulai mendekat, yang membuat Luhan refleks melangkah mundur. Sekarang jarak antara Luhan dengan kolam renang itu hanya tinggal beberapa langkah saja.

"Dia bahkan selalu absen dalam pelajaran renang. Kau benar-benar tidak tahu?"

"Aku memang tidak tahu," Minjoo berpura-pura memasang wajah bodohnya. "Tapi berkat kalian, sekarang aku jadi tahu."

Ketiganya tertawa kompak dan menurut Luhan itu terdengar memuakkan. Sayangnya, dia lebih difokuskan dengan kondisinya sendiri yang terjebak di tepi kolam renang. Luhan berasumsi, jika sejak awal mereka datang, ketiga gadis itu sudah tahu kalau dia tidak bisa berenang.

"Ma-mau apa kalian?" Luhan sudah tidak peduli lagi dengan suaranya yang kini bergetar hebat. Firasatnya mengatakan hal buruk akan segera menimpanya.

"Lihat, apa ini Xi Luhan yang sebelumnya berani membentakku?" ejek Minjoo sarkastik yang disambut tawa oleh kedua rekannya.

"Jangan mendekat!" Luhan semakin ketakutan saat Minjoo melangkah maju, yang membuatnya melangkah mundur.

"Han Minjoo ... aku tahu apa yang kau rencanakan padaku," Luhan berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk memperingatkan Minjoo. "Jika kau tetap melakukannya, kau akan menyesal."

"Itu kata-kata terakhirmu?" Minjoo bersedekap sambil tersenyum sinis. Tak ada jawaban dari Luhan, tubuh gadis itu melemas dan ia merasakan kakinya berubah seperti jelly.

"Baiklah ..." Minjoo kembali melangkah maju dan Luhan hanya terdiam di tempatnya. "Selamat tinggal, Xi Luhan."

BYUR!

Hanya dalam satu dorongan saja, tubuh Luhan terhempas ke dalam kolam renang. Minjoo tertawa puas melihat gadis yang dianggapnya sebagai rival karena sudah merebut Sehun—pujaan hatinya—itu, kini tengah berjuang melawan maut di dalam kolam renang.

"To-tolong ..." Luhan semakin panik. Namun karena ia terus bergerak, tanpa sadar tubuhnya langsung terbawa ke tengah kolam renang.

"Berapa kalipun kau berteriak tidak akan ada yang menolongmu!"

Luhan semakin panik ketika merasakan kakinya mulai kram. Napasnya serasa tercekik ketika bayangan masa lalunya kembali muncul. Ya, Luhan sebenarnya mempunyai trauma masa kecil di mana ia pernah nyaris tenggelam di sungai. Itulah yang membuat Luhan tidak bisa berenang.

Di sela kondisinya yang sebentar lagi akan tenggelam, bayang-bayang wajah Sehun tiba-tiba saja muncul di depan Luhan. Air mata gadis itu pun mulai mengalir. Tubuhnya semakin lemah, Luhan mulai kehilangan tenaganya. Sehun ... tolong aku ...

"Minjoo, sebaiknya kita segera pergi."

"Tunggu, aku masih mau melihat gadis itu tersiksa."

"Nanti ada yang melihat, Minjoo! Kita pergi sekarang!"

"TIDAK!" Minjoo berteriak keras lalu menatap marah pada kedua sahabatnya. "Aku tidak akan pergi sebelum gadis itu menemui ajalnya."

"Tapi—"

"LUHAN!"

..

..

Sehun mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia berusaha mencari keberadaan Luhan, namun pemuda itu tak kunjung menemukannya. Sampai kemudian Sehun melihat sosok Kris yang tengah berjalan berdampingan dengan Zitao.

"Hyung!"

Kris dan Zitao terkejut mendengar teriakan Sehun, terlebih dengan kondisi wajah pemuda itu berkeringat, dan napas yang tersengal-sengal.

"Sehun? Ada apa?" tanya Kris kebingungan.

"Apa kau melihat Luhan, Hyung?"

"Luhan?" yang bereaksi paling antusias justru Zitao. "Kami baru saja bertemu dengannya."

"Be-benarkah?" mata Sehun berbinar. "Sekarang dia di mana, Noona?"

"Aku tidak tahu," Zitao mengedikkan bahunya. "Kami berpisah di persimpangan lorong sana, Sehun-ah."

Sehun mendesah panjang, kemudian tanpa mengatakan apapun dia langsung pergi meninggalkan Kris dan Zitao.

"Lho? Sehun?"

Sehun kembali berhenti ketika berpapasan dengan salah satu guru olahraga di sekolahnya—Choi Siwon.

"Siwon-ssaem?"

"Kenapa tidak masuk ke kelas? Bukankah pelajaran terakhir sudah dimulai?"

"A-aku ... sedang mencari Luhan, Ssaem," jawab Sehun seadanya.

"Luhan? Maksudmu Xi Luhan dari kelas 2-2?"

Sehun mengangguk. "Maukah Ssaem membantuku mencarinya? Aku punya firasat tidak enak, takut terjadi hal buruk padanya."

"Baiklah," pria berperawakan tinggi yang berusia sekitar 30an itu mengiyakan permintaan Sehun. "Aku akan membantu mencarinya."

Sehun tersenyum senang, lantas berlari secepat mungkin keluar gedung sekolah, diikuti oleh Siwon di belakangnya. Mereka sempat mencari di taman belakang sekolah, namun hasilnya nihil. Kemudian mereka pergi menuju area yang biasa digunakan untuk berolahraga, mulai dari lapangan sepak bola, lapangan basket, sampai akhirnya kolam renang.

Semula Sehun tidak yakin kalau Luhan berada di sana, tapi entah kenapa ada dorongan yang kuat dalam diri Sehun untuk memeriksanya di area kolam renang.

"Lu—"

"Minjoo, sebaiknya kita segera pergi."

Langkah Sehun dan Siwon terhenti begitu mereka mendengar suara keras dari arah kolam renang. Sehun memicingkan matanya sampai kemudian melihat dengan jelas sosok gadis yang berdiri di dekat tepi kolam renang. Han Minjoo!

"Tunggu, aku masih mau melihat gadis itu tersiksa."

"Nanti ada yang melihat, Minjoo! Kita pergi sekarang!"

"TIDAK! Aku tidak akan pergi sebelum gadis itu menemui ajalnya."

DEG!

Bersamaan kalimat terakhir yang keluar dari bibir Minjoo, Sehun melihat sosok yang kini berada di tengah kolam renang. Mata Sehun membulat sempurna begitu dia mengenali gadis itu. Siwon yang melihat pemandangan itu pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Tapi—"

"LUHAN!" Sehun berteriak, lalu berlari menuju kolam renang. Dia langsung menceburkan diri ke dalam kolam renang, kemudian berenang ke tengah untuk menyelamatkan Luhan.

"TIDAK!" Sehun berteriak panik ketika melihat Luhan tenggelam. Ia menambah kecepatan berenangnya agar segera sampai di posisi Luhan.

Sementara itu, Minjoo yang masih terkejut dengan kemunculan Sehun, hanya berdiri mematung di tepi kolam renang. Ia masih memperhatikan Sehun yang sekarang sedang berusaha menyelamatkan Luhan.

"Minjoo, kita harus pergi!" teriak Sora mengingatkan.

Minjoo bergeming.

"Ayo, kita pergi, Minjoo!" Jihyun langsung menarik tangan Minjoo dan menyeret gadis itu menjauh dari area kolam renang.

"Kalian mau pergi ke mana?"

Ketiga gadis itu berjengkit kaget melihat kemunculan Siwon yang langsung menghadang langkah mereka.

"Ikut aku menghadap kepala sekolah sekarang juga! Kalian harus bertanggung jawab atas perbuatan kalian!"

Minjoo, Sora, dan Jihyun hanya bisa menunduk pasrah. Tak ada jalan keluar bagi mereka untuk melarikan diri, karena nyatanya aksi mereka tertangkap basah oleh pihak sekolah.

..

..

"Hhhh ... hhh ..." Sehun langsung menghirup napas sebanyak-banyaknya begitu dia berhasil membawa Luhan keluar dari air. Tanpa membuang waktu lagi, Sehun segera membopong tubuh Luhan ke tepi kolam renang.

"Luhan, buka matamu!" Sehun menepuk-nepuk pipi Luhan, namun tetap tidak ada reaksi. Sehun kemudian melakukan CPR untuk memberikan pertolongan pertama. Ia bahkan memberikan napas buatan untuk gadis itu. Sehun melakukannya berulang-ulang sampai Luhan sadarkan diri.

"UHUK!"

"Luhan!" Sehun tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika melihat Luhan memuntahkan air dari mulutnya. Gadis itu terbatuk dan perlahan mulai membuka matanya.

"Lu, kau baik-baik saja? Katakan padaku, mana yang sakit, hm?" Sehun menangkup wajah Luhan. Kepanikan masih menyelimuti diri Sehun, meskipun Luhan sudah mendapatkan kesadarannya kembali.

"Se-Sehun ..." suara Luhan terdengar serak.

"Iya, ini aku, Lu. Katakan padaku, mana yang sakit?"

Bukannya menjawab, Luhan justru terisak di tempatnya. Reaksinya itu spontan saja mengundang rasa panik Sehun yang kian menjadi.

"Luhan, ada apa? Kenapa kau menangis?"

"Hiks ... Sehun ..."

Sehun menyeka air mata Luhan yang terus mengalir. "Sssst ... tenanglah, aku di sini."

"Ku-kupikir ... kau tidak akan datang ... kupikir aku tadi tidak akan selamat ... kupikir aku tadi akan ma—" kalimat Luhan terpotong ketika bibir Sehun dengan lembut menyentuh bibirnya. Gadis itu bisa merasakan tubuhnya terasa lemas seketika.

"Aku di sini. Aku datang untuk menyelamatkanmu," Sehun membelai wajah Luhan. "Kau aman sekarang ..."

"Sehun ..." Luhan berucap lirih dan ia merasakan kepalanya terasa berat. Seketika pandangannya menggelap. Hal yang didengar Luhan terakhir kali adalah teriakan Sehun yang memanggil namanya.

..

..

Ketika Luhan membuka mata, dia sudah mendapati dirinya berada di sebuah ruangan dengan nuansa putih yang mendominasi. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia tidak menemukan siapapun di sana—kecuali sosok perempuan yang mengenakan setelan jas dokter di dekat meja.

"Eonni ..."

Perempuan yang memakai nametag bertuliskan Kwon Boa itu menoleh. Senyum penuh kelegaan terpancar di wajahnya.

"Syukurlah, Lu. Kau sudah sadar," Boa berjalan mendekati ranjang periksa yang ditempati Luhan. "Bagaimana kondisimu? Apa masih ada yang sakit?"

"Kepalaku ... sedikit pusing ..." jawab Luhan lirih.

Boa mengangguk paham, "Tidak apa-apa. Sebentar lagi rasa sakitnya akan hilang setelah kau meminum obat dariku. Kau juga harus meminum vitamin supaya staminamu kembali pulih."

Luhan tercenung. Mendadak gadis itu memikirkan sosok yang diharapkan ada di sampingnya ketika dia tersadar dari pingsannya. Boa yang menyadari perubahan ekspresi wajah Luhan hanya mengulum senyum.

"Kau mencari Sehun?"

"Eh?" Sungguh, reaksi polos Luhan membuat Boa memekik gemas.

"Dia sedang pergi ke kafetaria untuk membeli makanan untukmu. Sebentar lagi juga da—"

"Luhan?"

Boa dan Luhan menoleh ke arah pintu.

"Lihat, dia sudah datang," ujar Boa sedikit berbisik namun mampu meninggalkan semburat rona merah di pipi Luhan. "Kebetulan kau sudah datang, Sehun. Luhan baru saja sadar."

"Benarkah? Bagaimana kondisinya, Noona?" tanya Sehun sambil mendekat.

"Dia masih mengeluhkan pusing, tapi kau jangan khawatir. Setelah meminum obat dan vitamin yang kuberikan, juga beristirahat yang cukup, kondisinya akan segera pulih," jelas Boa panjang lebar. "Karena kau sudah ada di sini, aku tinggal sebentar. Pastikan Luhan mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum meminum obat."

Sehun mengangguk, "Terima kasih atas bantuanmu, Noona."

"Terima kasih, Eonni ..." kata Luhan yang dibalas usapan lembut dari Boa di kepalanya.

Sepeninggalan Boa, suasana canggung kembali menyergap keduanya. Sehun berdeham pelan untuk memecah keheningan.

"Aku membawakan bubur untukmu," ujar Sehun sembari duduk di tepi ranjang. "Kebetulan saat aku datang ke kafetaria, Bibi Lee sedang membuat bubur untuk Paman Lee. Jadi, sekalian saja aku memintanya untukmu."

Luhan masih terdiam melihat Sehun tersenyum tulus padanya. Mungkin ini sudah yang kesekian kali pemuda itu memperlihatkan senyumannya di hadapan Luhan—sejak pengakuannya 1 minggu yang lalu. Sadar atau tidak, hanya melalui senyuman itu, Luhan merasakan sesuatu yang menggelitik. Seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.

Hati Luhan semakin menghangat ketika dia melihat Sehun sibuk menyiapkan bubur untuknya, lalu dengan hati-hati sedikit meniup bubur tersebut, sebelum menyuapkannya ke mulut Luhan.

"Bagaimana rasanya?"

"Ini enak," Luhan tersenyum. "Masakan Bibi Lee memang paling lezat."

Sehun terkekeh mendengarnya. Sungguh, Luhan semakin dibuat terpesona dengan aura ketampanan Sehun yang semakin menguar, ketika pemuda itu melepas topeng ice prince yang selama ini melekat di wajahnya.

Luhan jadi teringat kembali dengan fakta hubungan Kris dan Zitao. Kalau dipikir-pikir, seharusnya Luhan merasa sedih mengetahui orang yang disukainya ternyata sudah menjalin hubungan dengan gadis lain. Namun sejak ia tahu, Luhan sama sekali tidak merasakan kesedihan itu. Yang ada justru perasaan berdebar lainnya yang jauh lebih kuat ketimbang perasaan Luhan sebelumnya terhadap Kris.

Mungkinkah ... perasaanku sekarang memang sudah berubah karena Sehun?

"Aaaaa ..." Sehun kembali menyuapkan sesendok bubur untuk Luhan.

Wajah Luhan kembali dibuat merona karena perhatian yang diberikan Sehun. Terakhir kali, pemuda itu menolongnya dari lemparan minuman Minjoo di kafetaria. Lalu sejak mengaku jika dia menyukai Luhan, Sehun terus memberikan perhatiannya untuk gadis ini. Mulai dari menjemput ke sekolah, mengantar pulang ke rumah, dan masih banyak bentuk perhatiannya lagi yang sebenarnya sederhana, namun sangat berkesan bagi Luhan.

"Sehun ..."

"Hm?"

"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Luhan ragu-ragu.

Sehun mengangguk.

"Ngg ... yang kau katakan waktu itu ... apakah itu benar-benar tulus dari hatimu?"

Sehun mendongakkan kepalanya hingga tatapan mereka bertemu.

"Saat kau bilang kalau kau menyukaiku, apakah itu sungguhan? Bukan candaan yang termasuk bagian dari hukuman yang kuterima sebelumnya?"

Mata Sehun mengerjap polos, setelahnya ia tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Luhan.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Luhan bingung.

"Serius, Lu. Kau masih menganggap itu adalah hukuman untukmu?"

Luhan mengernyitkan dahinya, "Aku tidak mengerti."

Sehun terdiam sejenak, tampak menggumamkan sesuatu seolah tanda berpikir.

"Bagaimana ... jika ucapanku waktu itu adalah pernyataan cintaku yang terselubung?"

"Eh, apa maksudmu?"

Sehun tertawa kecil, lalu menyentil hidung Luhan dengan gemas. "Dengar baik-baik, Lu. Sebenarnya ..."

Flashback

Sehun baru saja keluar dari ruang guru. Buru-buru ia memeriksa ponselnya untuk melihat jam. Sebentar lagi waktu istirahat akan berakhir.

"Sebaiknya aku ke kelas saja ..." gumamnya sambil melangkah meninggalkan ruang guru. Namun sebelum ke kelasnya, Sehun pergi ke area loker untuk mengambil barang miliknya.

Ketika Sehun sampai di sana, ia dikejutkan dengan keberadaan empat orang yang sedang berdiri di depan lokernya. Salah satu dari mereka terlihat baru saja menarik tangannya dari dalam loker. Seperti baru saja menaruh sesuatu di dalam sana.

"Apa yang kalian lakukan di depan lokerku?"

"ASTAGA!" Keempat orang itu berteriak kaget mendengar suara Sehun yang menyapa mereka.

"YA! KAU MENGAGETKAN KAMI, BODOH!" Jongin berteriak kesal sambil memukul kepala Sehun

"YA!"

"STOP!" Teriakan Baekhyun sukses menghentikan aksi kedua pemuda kopi-susu yang tengah melakukan aksi konyol dengan saling memukul itu. "Kalian ini ..."

Sehun mendengus kesal, "Apa yang kalian lakukan di depan lokerku? Kalian ingin mencuri, ya?"

PLETAK!

Kali ini giliran Chanyeol yang memukul kepala Sehun. "Diam, bodoh! Kami ini sedang membantumu."

Sehun mengusap-usap kepalanya yang kesakitan. Lalu matanya menangkap sebuah benda berbentuk persegi panjang warna pink yang ada di tangan Baekhyun.

"Benda apa itu?"

"Ini surat cinta milik Luhan. Tadi kami melihat Luhan meletakkan surat ini di loker Kris-oppa."

"APA?!"

Diam-diam Jongin dan Chanyeol cekikikan bersama melihat reaksi Sehun, begitu pun Kyungsoo yang kesulitan menahan tawanya karena wajah frustasi pemuda berkulit pucat itu. Bagi mereka berempat, sudah menjadi rahasia umum kalau Sehun menyukai Luhan sejak tahun pertama sekolah mereka.

"Dengar, kalau kau ingin Luhan menjadi kekasihmu, kau harus mengikuti ide kami. Bagaimana?" tanya Baekhyun sambil menaik-turunkan alisnya.

"Mengikuti ide kalian?" Sehun memandang curiga. "Kalian yakin akan berhasil?"

"Tentu saja!" jawab Jongin penuh keyakinan. "Tapi, itu semua tergantung aktingmu. Apakah Luhan akan mempercayainya atau tidak."

"Apa maksudmu?"

"Begini ..." Kyungsoo akhirnya mengambil alih untuk memberi penjelasan. "Kami tadi sedang memindahkan surat milik Luhan ke lokermu. Dengan begitu, orang yang datang untuk menemui ajakan Luhan sesuai surat ini adalah kau, bukan Kris-oppa. Luhan pasti terkejut saat melihat kedatanganmu, terlebih setelah dia melihatmu membawa surat ini. Jika dia bertanya, bagaimana surat ini bisa di tanganmu, kau jawab saja kalau kau menemukan surat ini di lokermu. Kami yakin, dia pasti akan mengelak telah melakukan kesalahan ketika keliru meletakkan surat ini di lokermu."

"Nah, saat dia masih menyangkal, gunakan saja topeng ice prince-mu itu. Bilang padanya kalau ini adalah salah Luhan sendiri, dan dia harus bertanggung jawab dengan menjadi kekasihmu," sambung Chanyeol. Keempat orang itu tersenyum lebar—seolah bangga dengan ide mereka.

Sehun tercengang. Benar-benar tidak membayangkan ide brilliant—atau sebenarnya sangat konyol—dari keempat orang itu.

"Kalian yakin ini akan berhasil?"

"Sudah kubilang ini tergantung aktingmu, Tuan Oh."

"Kau meremehkan kemampuanku?!" bentak Sehun tak terima.

"Kalau begitu buktikan!" tantang Baekhyun sambil bersedekap. "Dengar, Sehun. Ini bukan hanya membuat Luhan untuk menjadi kekasihmu, tapi kau juga akan menolongnya dari rasa malu karena menyatakan cinta pada seseorang yang jelas-jelas sudah mempunyai kekasih."

Sehun mengernyitkan dahinya.

"Kau mengerti maksudku, bukan? Sekali pun hanya akting karena kami yang sudah mengaturnya, saat kau menyuruh Luhan untuk menjadi kekasihmu, usahakan terselip ketulusan di sana. Ya, aku memang tidak bisa menjanjikan Luhan akan menyadari hal itu atau tidak, tapi ada baiknya—"

"Aku mengerti," potong Sehun disertai senyum lebarnya. "Jangan khawatir, aku akan mengatakannya dengan tulus saat memintanya menjadi kekasihku."

Flashback off

Mulut Luhan menganga lebar selesai mendengar cerita Sehun. Pemuda itu terkikik geli melihat bagaimana wajah spektakuler Luhan yang begitu kaget usai mendengar cerita darinya.

"Jadi yang memindah suratku ke lokermu adalah mereka?!"

Sehun mengangguk-angguk. Bukannya takut melihat kemarahan Luhan, pemuda itu justru tertawa. Karena Luhan malah tampak menggemaskan dengan wajah kesalnya.

"Tega sekali mereka melakukan itu padaku!" Luhan semakin mengerucutkan bibirnya dengan imut.

"Kau marah?"

"Tentu saja!" Luhan berteriak keras. "Gara-gara mereka, aku harus mengalami nasib sial karena menjadi kekasihmu."

"Hei, kau bilang apa? Sial?" Sehun sekarang ikut terpancing emosinya. "Seharusnya kau senang. Menjadi kekasihku itu adalah keberuntungan, tahu!"

Luhan memalingkan wajahnya, "Aku tidak percaya. Itu bahkan terjadi karena kalian yang sudah merencanakannya, bukan secara kebetulan. Jadi menurutku itu adalah kesialan."

Sehun memasang wajah cemberutnya. Ingin membalas ucapan Luhan, namun kemudian dia teringat sesuatu.

"Kau sudah bertemu dengan Kris-hyung dan Zitao-noona?"

DEG!

Wajah Luhan kembali berubah. Gadis itu mengangguk singkat sebagai respon untuk pertanyaan Sehun.

"Kau sudah tahu hubungan mereka berdua bukan?"

"Ne, aku sudah tahu ..." jawab Luhan lesu. "Aku mau tanya, apa mereka juga sudah tahu kalau kakakmu menjalin hubungan dengan Zitao-eonni."

Sehun mengangguk, "Itu juga yang menjadi alasan kenapa mereka memindahkan suratmu ke lokerku. Agar kau tidak mendapat malu setelah ditolak oleh kakakku."

Luhan tersenyum kecut mendengar penjelasan Sehun.

Melihat wajah murung Luhan, Sehun mengulurkan tangannya ke depan, lalu menyentuh dagu gadis itu. Perlahan ia menuntun wajah Luhan agar menghadap ke arahnya dan menatap manik mata rusa itu secara intens.

"Mungkin benar kejadian waktu itu diawali dengan rencana kami. Tapi ketahuilah, semua tidak akan berjalan dengan lancar jika ini bukan takdir dari Tuhan," kata Sehun mencoba memberi pemahaman.

Luhan tertegun. Seperti mendapat pencerahan melalui kata-kata Sehun, gadis itu tertunduk dengan seulas senyum.

"Jadi ..." Sehun menimang-nimang, "apa menurutmu menjadi kekasihku adalah sebuah kesialan?"

"..."

"Atau keberuntungan?" lanjut Sehun disertai senyuman terbaiknya.

Final, melihat senyum Sehun yang begitu tulus membuat Luhan tidak bisa lagi menutupi perasaan asing yang belakangan mengusik dirinya. Namun lebih dari itu, Luhan tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengenali perasaan asing itu, sebab dia sudah menemukan jawabannya.

"Luhan, kau belum menjawab pertanyaanku ..." desak Sehun tak sabar. "Menjadi kekasihku, adalah kesialan atau keberuntungan bagimu?"

"Itu ..." Luhan mengambil jeda sejenak, lalu menatap Sehun yang tengah memandanginya lekat-lekat. Entah muncul dorongan dari mana, Luhan mendaratkan kecupan singkat di bibir tipis Sehun, sambil menjawab, "kurasa itu adalah keberuntungan bagiku ..."

Bibir Sehun melengkung sempurna.

"Hei, kenapa kau menyembunyikan wajahmu? Ayo, lihat ke sini." Sehun terheran dengan sikap Luhan yang terus memeluknya, seolah menjadikan dada bidangnya untuk bersembunyi.

"TIDAK! AKU MALU!"

Sehun terkekeh, "Ayolah, Lu. Kenapa harus malu, hm? Angkat wajahmu, aku ingin melihatnya ..."

"Ja-jangan ... wajahku terlihat jelek ..."

"Luhan ..."

"Wajahku jelek seperti tomat, Sehun! Lihat!"

Sehun tercengang ketika Luhan mengangkat wajahnya yang kini merah padam. Benar-benar menyerupai tomat, namun itu tidak terlihat jelek. Melainkan terlihat lucu dan menggemaskan.

"Kau menertawaiku?!" Luhan mendelik kesal. "Menyebalkan!"

Sehun buru-buru menghentikan tawanya lalu berdeham pelan. "Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu ... hanya saja ..."

"APA?!"

"Shit! Aku tidak tahan lagi!" Sehun tanpa basa-basi langsung menangkup wajah Luhan, kemudian mencium bibir gadis itu dengan penuh gairah. Luhan yang semula terkejut dengan aksi tiba-tiba Sehun, perlahan mulai mengimbangi ciuman yang mereka lakukan.

Keduanya sama-sama kehabisan napas ketika tautan bibir mereka terlepas. Cengkeraman tangan Luhan di seragam Sehun perlahan mengendur, gadis itu semakin menundukkan kepalanya dan memilih menjadikan dada bidang Sehun sebagai objek penglihatannya.

"Kau tahu, Lu," Sehun mengangkat wajah Luhan. "Wajah merahmu yang seperti tomat itu sama sekali tidak jelek. Sebaliknya, terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Aku suka."

BLUSH!

"Ugh, jangan katakan itu lagi!" rengek Luhan. "Sejak kapan seorang ice prince seperti dirimu bisa mengeluarkan kata-kata cheesy seperti itu?!"

"Aku belajar dari Chanyeol dan Jongin."

"APA?!" Luhan tiba-tiba kembali berteriak heboh. "Kau tidak boleh belajar dari mereka. Nanti kau tertular kelakuan mesum dan idiot mereka. Aku tidak mau!"

"Jadi kau lebih senang kalau aku tetap berperilaku sebagai ice prince, begitu?"

"Iya! Aku lebih senang kalau tetap bertingkah seperti ice prince di hadapan semua orang, tapi ..." Luhan menggantungkan kalimatnya sembari melirik Sehun yang terlihat mengernyitkan dahinya.

"Tapi apa?"

Perlahan senyum mengembang di bibir Luhan, "Tapi kau akan berlaku hangat ketika hanya bersamaku."

Sehun terkekeh, "Lihat, sekarang siapa yang lebih cheesy, eoh?"

Luhan terkikik geli, kemudian menghambur ke dalam pelukan Sehun yang dibalas usapan lembut pemuda itu di punggungnya.

"Luhan, kau belum membalas ucapanku waktu itu ..."

Luhan mendongak, "Haruskah?"

"Tentu saja. Paling tidak setelah mendengarnya darimu, perasaanku akan jauh lebih senang dan lega," ujar Sehun sambil mengusap pipi Luhan.

Luhan mengangguk imut, kemudian memperlihatkan senyuman terbaiknya.

"Oh Sehun ..."

Sehun tersenyum melihat Luhan mulai menangkup wajahnya.

"Terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan untukku," Luhan tersenyum lagi. "Aku menyukaimu."

Sehun tersenyum bahagia mendengar pengakuan Luhan. Pemuda itu kembali mencium bibir Luhan untuk kesekian kalinya.

BRUK!

Tiba-tiba terdengar suara debuman keras dari arah pintu ruang UKS yang kini terbuka secara perlahan. Luhan langsung menjauhkan wajahnya dari Sehun, dan seketika matanya membulat melihat pemandangan yang terjadi di depan sana.

"YA! KENAPA AKU HARUS MENGALAMI INI LAGI! CEPAT MENYINGKIR DARIKU!" Itu teriakan merana Jongin yang kembali harus menjadi yang terbawah, saat mereka jatuh terjerembab di lantai—dengan sebagian tubuh mereka yang masih berada di luar pintu. Dua pasangan itu—Chanyeol, Baekhyun, Jongin, dan Kyungsoo, rupanya mereka sudah berada di balik pintu sejak tadi.

Hal lainnya yang membuat Luhan semakin terkejut, yaitu keberadaan satu pasangan lagi yang berada di belakang empat orang itu. Keduanya tidak ikut terjatuh, tapi mereka ikut mengintip dari balik pintu.

"Akh! Akh!" Sehun merintih kesakitan karena Zitao tiba-tiba langsung menyeruak masuk—mengabaikan keempat orang yang masih saling tumpang tindih di dekat pintu—kemudian menjewer telinganya.

"Noona, telingaku sakit!"

"Itu hukuman karena kau sudah berbuat mesum pada Luhan! Kau membuatnya kesulitan bernapas karena terus menciumnya, bodoh!"

"Tapi dia juga menikmatinya, Noona!"

PLETAK!

"Ah, Hyung! Kenapa kau ikut-ikutan memukulku?!" bentak Sehun tak terima.

"Kau harus mengontrol hormonmu, Sehun-ah. Kami yakin kalau tidak ada kami yang mengawasi, kau pasti akan bertindak lebih jauh dari tadi," Kris menggeleng-gelengkan kepalanya, namun dibalik itu sebenarnya dia menahan senyumannya.

"Ish, aku seperti ini juga belajar darimu, Hyung! Kau dan Zitao-noona 'kan sering melakukannya di rumah," jawab Sehun lancar tanpa jeda dan-

PLAK!

-sukses mendapat hadiah manis dari Zitao berupa tamparan kecil di mulutnya.

"Mulutmu itu ... Oh Sehun ..." geram Zitao marah. Sedangkan Sehun hanya memberengut kesal sambil mengusap-usap bagian tubuhnya yang sakit karena terkena baru saja amukan panda dan naga.

"Luuuuu ..."

Ketiga pasangan itu mendelik melihat Sehun yang tiba-tiba bersikap tsundere.

"Apa?"

"Mereka memukulku, Lu. Kau tidak mau membelaku?"

"Kau memang pantas mendapatkannya, Tuan Oh mesum!"

Tawa terdengar dari dua pasangan yang masih berdiri di dekat pintu.

"Ya ampun, baru kali ini aku melihat ice prince merengek seperti anak kecil."—Baekhyun.

"Apa benar ini Oh Sehun yang kukenal?"—Kyungsoo.

"Lihat, dia benar-benar rela mempermalukan dirinya sendiri di depan Luhan."—Chanyeol.

"Oi, Sehun. Kau tidak harus belajar lewat Kris-hyung saja. Kau tahu, kau bisa belajar denganku. Mau kuajari teknik berciuman yang terbaru?"—Jongin. Jelas ucapannya membuktikan bahwa dia yang paling mesum di antara semua orang.

"EHEM!" Luhan berdeham pelan lalu menatap tajam pada dua pasangan itu. "Kalian tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?"

Glek! Keempat orang itu seketika mematung di tempat, merasakan sesuatu yang membuat tubuh mereka menegang. Belum lagi bagaimana kilat api kemarahan di mata Luhan yang terlihat begitu menakutkan.

Chanyeol yang menyadari hal itu langsung melirik Sehun. "Sehun-ah, jangan bilang kalau Luhan—"

"Ya, aku sudah tahu semuanya." Luhan memotong kalimat Chanyeol, "Aku sudah tahu kalau kalian yang memindah suratku ke loker Sehun."

Hening. Semua orang terdiam mendengar pengakuan Luhan barusan. Hanya satu pasangan yang terlihat bingung dan saling memandang.

"Surat?" Zitao mengernyitkan dahinya. "Surat apa, Sehun-ah?"

"Ah, bukan apa-apa, Noona. Hanya—"

"LARIIIIII!"

Zitao dan Kris terkesiap mendengar teriakan empat orang tadi yang kini diketahui sudah menghilang dari pintu UKS.

"YA! BERHENTI KALIAN!" Luhan tiba-tiba saja melompat turun dari ranjang dan berlari menyusul mereka. Sehun yang melihat reaksi kemarahan kekasihnya itu malah tertawa di tempat sambil memegangi perutnya.

"BERHENTI!"

"KYAAAA ... TOLONG! ADA RUSA CHINA MENGAMUK!"

..

..

..

"Menjadi kekasih Oh Sehun, bukanlah sebuah kesialan, melainkan sebuah keberuntungan."

-Luhan-

"Kehadiran Xi Luhan dalam hidupku adalah keberuntungan yang paling berkesan bagiku."

-Sehun-

..

..

-THE END-

10 Maret 2016


A/N : Huwaaa, apaan ini? Maaf kalau jadinya malah absurd gini *bow* Makasih ya, buat yang udah mau baca dan review, sekaligus yang udah favorites/follow FF ini :)

Habis ini aku lanjutin yang You're Mine, oke?

Special Thanks to :

Angel Deer, tiehanhun9094, lulu-shi, CheonsaKim13, minkook94, KMHHS, JungHunHan, Selenia Oh, LSaber, Wind Noona, Hilma700, salma lulu, Agassi 20, Asmaul, MeriskaLu, Seravin509, zeno, ohmitha, Guest, RealCY, DEERHUN794, OhXiSeLu, hunnaxxx, Arifahohse, Juna Oh, Guest, Skymoebius, rafa, Ayam Ungu, stephjung, laabaikands, niasw3ty, Light-B, luharawr, misslah, nisaramaidah28, Gebetanku1220, pramesti . angel, Nurul999, SyiSehun, Namebbcskl, Sarrah HunHan, Pinku Deer

Buat yang baru review setelah aku update chapter terbaru, aku ucapkan makasih banyak :D

I love you all *muach*