Disclaimer: I own nothing.


Tangga yang dipandanginya seakan tak berujung. Kagome mengeratkan jaketnya sebelum melangkah naik, ke rumahnya, ke tempat yang menjadi bagian dari mimpi buruknya.

Rambutnya terombang-ambing oleh desir angin. Kedatangannya hanyalah atas permintaan ibunya. Sudah pasti ini bukan liburan yang diinginkannya. Disetiap langkah yang di ambilnya, semakin dalam penggalan kenangan menyakitkan terungkit kembali. Berbagai macam usaha dan ratusan jam yang ia habiskan untuk menjalani terapi tidak memiliki pengaruh besar kepadanya. Tidak ada yang dapat memperbaiki mentalnya.

Tidak setelah kejadian itu.

Kedua tangan dan kakinya dingin tiba-tiba ketika ia melewati pohon keramat yang besar, dan bangunan kecil untuk sebuah sumur.

Kagome dapat sedikit bernafas lega saat ia sudah masuk ke dalam rumahnya. Sang ibu menyambutnya dengan senyum, begitupun dengan adiknya yang sudah remaja dan kakeknya.

Siang itu berjalan mulus, tidak ada halusinasi maupun delusi. Tapi tetap saja, ia seperti bom waktu, kehisterisannya dapat meledak kapan saja.

Apalagi saat-saat yang paling riskan belum terlewati, momen yang paling ia takutkan ketika menghabiskan waktu di rumah keluarganya, malam hari.

Ibunya baru saja pergi dari kamarnya. Jendela sudah ditutupnya dengan dua selimut agar tidak ada angin maupun bayangan yang dapat mengganggunya. Lampu ia biarkan terang benderang. Dengan wajah menghadap tembok dan selimut menutupi seluruh tubuhnya, Kagome berusaha tidur.

Keringat dingin membasahi keningnya. Lagi-lagi, mimpi buruk membangunkannya di tengah malam yang gelap. Tunggu, gelap? Kamarnya gelap gulita!? Sontak kekacauan tubuhnya dimulai.

"Mama," suaranya tercekat.

Samar, sudut matanya menangkap sesuatu di sudut kamar, di samping pintu, tempat yang seharusnya kosong.

Kagome memejamkan mata kuat-kuat. Ia menelan ludah tuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.

'Mimpi! Ini hanyalah mimpi, ya kan?'

Setelah beberapa puluh detik berlalu ia kembali membuka mata secara perlahan. Kekecewaan yang teramat menyergapnya, rasa takut melumpuhkan tubuhnya saat menyadari sosok putih itu masih ada di sana. Di bawah bayang lemari besar, dan 'sesuatu' itu balik menatapnya dengan kekejaman yang dibawa oleh tragedi sepuluh tahun yang lalu.

'Tidak lagi!?'


Words count: 310