A little of Help?

(Heart)

Disclaimer: Para tokoh milik mereka sendiri

Pairing: MinKyu, MinBum, SiBum(soon)

Genre: Romance, Drama

Warnin': Yaoi, Typo(s), ooc(?)

A/N: Chapter ini sedikit panjang, ada kemungkin membuat suntuk.

Happy reading^^

.

.

Rasanya sangat membosankan duduk diam dalam sebuah ruangan besar mendengarkan para tetua mengoceh tentang segala sesuatu. Semua manusia yang berada di aula itu tentu tidak begitu memperhatikan apa yang disampaikan. Mereka semua summak dengan urusan mereka sendiri, sampai akhirnya mereka menghela napas lega karena acara Wisuda itu berakhir.

Dua sejoli yang memang sejak awal sampai akhir acara wisuda tak memperhatikan sama sekali, melangkah keluar ruangan itu dengan tergesa. Mereka tidak memperdulikan sapaan teman-teman mereka, mereka semakin mempercepat langkah mereka ke arah sebuah mobil mewah yang terparkir di depan unuversitas mereka.

"Lama sekali!" Decak seorang namja kepada dua sejoli tadi yang kini berdiri dihapannya.

Dua orang namja tadi tidak langsung membalas ucapan namja tadi, mereka berdua summak mengatur napas mereka karena berlari dari aula tadi.

"Maaf, Kibum. Aku tidak tahu kalau pak tua itu akan memberi 'pesan terakhir'." Changmin memberikan alasan atas keterlambatanya dan Kyuhyun, Kibum hanya mengangguk dan memasuki mobilnya. Changmin dan Kyuhyun mengikuti Kibum, mereka duduk di belakang. Kibum yang melihat kedua sahabatnya sudah duduk nyaman, segera menyalakan mesin mobil dan melaju.

"Bukankah kalian bisa kabur?" Tanya Kibum tiba-tiba dan mengagetkan Kyuhyun dan Changmin.

Kyuhyun menghembuskan napas, "Bisa, hanya saja kami sedang 'tobat', setidaknya kami ingin jadi mahasiswa yang 'patuh' untuk terakhir kalinya." Jawab Kyuhyun malas.

Changmin hanya melirik Kyuhyun sepintas dan mengalihkan pandangannya keluar. Kibum yang tidak sengaja melihat tingkah Changmin menautkan alisnya 'kenapa dia?'' Heran Kibum melihat tingkah Changmin. Ah, tidak hanya Changmin, Kyuhyun pun begitu. Kyuhyun terlihat menjaga jarak dengan Changmin, biasanya tidak akan ada ruang diantara mereka. Tapi tidak dengan hari, mereka berdua saling menjauh -terlebih Chanmin.

Merasa tidak nyaman dengan situasi yang cukup kaku, Kibum mencoba membuka obrolan, "Changmin, hari ini kau sudah siap dengan presentasimu?" Tanya Kibum yang terdengar basa-basi d telinga Changmin.

Tanpa mengalihkan pandangannya Changmin menjawab, "Ya." Jawaban yang singkat! Sungguh tidak mencerminkan seorang Changmin yang akan berubah cerewet jika berhadapan dengan Kibum dan Kyuhyun.

"Bisa kau percepat?" Pinta Kyuhyun dengan nada tergesa, "Kita bisa terkena masalah kalau seperti ini." Lanjut Kyuhyun.

Kibum sebenarnya jengkel juga mendengar permintaan Kyuhyun yang terdengar seperti perintah, tapi karena Kibum juga dalam keadaan genting seperti kedua sahabatnya, dengan segera ia menambah kecepatan mobilnya.

'Memangnya aku supirmu apa!' Sebal Kibum membatin.

.

.

Helaan napas terdengar dari tiga namja secara bersamaan, wajah mereka mnunjukkan suatu kelegaan dan kepuasan. Mereka bertiga duduk bersisian di sofa yang terlihat sedikit lusuh, warna sofa itu terlihat sudah memudar. Gerakan yang dilakukan oleh mereka sangat kompak, entah disengaja atau tidak. Ketiganya kini saling melirik, terdiam sesaat... dan tertawa bersamaan.

Kelakuan mereka memang sangat kompak, itu dikarenakan kebersamaan mereka yang telah terjalin cukup lama.

"Aku pikir kita akan terlambat dan membuat rapat hari ini kacau." Kekeh Changmin yang duduk ditengah, diantara Kibum dan Kyuhyun. Baik Kyuhyun dan Kibum mengangguk tanda setuju. Ya.. mereka tidak menyangka rapat yang akan mempertaruhkan masa depan perusahaan tempat mereka bekerja akan berjalan sangat lancar. Mereka tiba di waktu yang SANGAT tepat! Satu detik setelah merek mendudukan diri, rapat itu dimulai dan membuat tiga sekawan itu melongo dengan tidak elit.

Yang membuat mereka merasakan kepuasan adalah kala Changmin mempresentasikan inovasi-inovasi baru atas produk prusahaan tersebut, seluruh peserta rapat menyambut baik atas inovasi baru produk itu. Bahkan, sang Presdir memberikan reward atas usaha Changmin.

"Dan kupikir, kau akan tergagap kembali kala presentasi seperti dua bulan lalu." Terselip nada mengejek saat Kyuhyun ngatakannya.

Changmin mendelik pada Kyuhyun, "Ya! Waktu itu aku kan belum terbiasa seperti kalian." Bela Changmin. Kibum hanya tertawa pelan mendengar pembelaan Changmin. Changmin memang baru enam buln bekerja diperusahaan itu, tapi karena kecerdasannya ia bisa langsung mendapat jabatan yang terbilang cukup 'wah'. Changmin mendapat posisi itu karena kerja keras dan pembuktian bahwa 'memang' possi itu pantas untuknya walau masih baru dan muda, para Karyawan lain pun menerima hal itu-walau awalnya menentang-. Kibum dan Kyuhyun... mereka beda soal, karyawan di perusahaan itu memang sudah menjadi bagian perusahaan saat masih duduk di bangku SMA. Keduanya memang sudah dikenalkan dengan dunia bisnis sejak dini, sehingga mereka sudah terbiasa dan menjadi bagian penting perusahaan.

"Padahal kan kau sudah terbiasa 'berdiri' di depan banyak orang, harusnya kau bisa melakukannya dengan baik." Saran Kibum.

"Beda cerita! Yang kupertaruhkan sekararang itu masa depanku. Kalau aku salah sedikit saja, bukan hanya aku saja yang akan susah." Kilah Changmin, matanya melirik Kyuhyun saat mengatakan kalimat terakhir.

Kyuhyun yang menangkap arti dari kalimat terakhir Changmin dan beradu pandangan, refleks menunduk dengan pipi yang agak memerah.

Kibum yang melihat kelakuan sahabatnya, hanya menautkan kedua alisnya. Sebenarnya Kibum penasaran dengan kata-kata Changmin dan tingkah laku Kyuhyun tapi ia urungkn niatnya untuk bertanya. Biarlah hanya dua sejoli itu memiliki rahasia tersendiri, toh Kibum yakin kalau mereka akan cerita jika itu memang bukan rahasia penting. Selain itu... sepertinya Kibum bisa menebak sedikit, mungkin.

"Sepertinya aku harus segera pulang." Kibum bangkit dari duduknya dan menatap kedua sejoli itu bergantian dan menunjukkan senyum sejuta artinya, yang ditatap hanya terheran melihat tingkah sahabatnya.

"Baiklah, sampai jumpa." Kibum membuka pintu apartemen Changmin dan melangkah keluar, bunyi pintu tertutup terdengar nyaring. Sesaat, HANYA sesaat keheningan terjadi setelah kepergian Kibum, tapi tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka kembali. Refleks dua sejoli itu melihat ke arah pintu dan telihatlah sebuah kepala menyembul dari balik pintu, "Minnie! Jangan sentuh Kyu sebelum kalian Menikah! Ingat itu!" Peringat -ancam- sang pemilik kepala yang ternyata Kibum. Kepala itu perlahan menghilang dan pintu itu tertutup lagi, meninggalkan Changmin dan Kyuhyun dengan keadaan wajah yang Memerah.

.

.

Sejak kejadian dua minggu lalu, hubungan Changmin dan Kyuhyun terlihat kaku. Jika mereka berada dalam satu ruangan yang hanya ada mereka saja, yang ada hanyalah kecanggungan yang terjadi. Changmin akan menghindar terlebih dahulu, dengan cara menjauhi Kyuhyun seperti saat ini. Beberapa menit setelah kepergian Kibum, Changmin beranjak dari sofa dan pergi ke balkon. Kyuhyun hanya menghela napas melihat tingkah Changmin, merasa bosan dan kesal dengan keadaan mereka yang seperti ini, Kyuhyun beranjak dari sofa dan menghampiri Changmin.

.

Changmin terlihat menikmati pemandangan yang tersaji didepannya. Apartemen sederhana milik Changmin memiliki balkon yng berhadapan langsung dengan pemandangan yang asri. Meski apartemen tempat tinggal Changmin hanya apartemen untuk golongan menengah, pemandangan yang disajikan tidak kalah indah dengan apartemen kelas atas. Dari balkon, Changmin bisa melihat matahari terbenam. Jika malam tahun baru tiba, balkon adalah tempat yang pas untuk melihat kembang api, sangt terlihat jelas seakan kau melihat dari dekat tempat kembang api itu dinyalakan.

Langit sudah terlihat akan menengelamkan matahari, mata Changmin melihat ke langit betharap matahari akan segera tengelam dan akan memberikan pemandangan yang menenangkan hati. Changmin masih saja menatap kelangit, sampai ia merasa ada yang memeluknya dari belakang ia mengalihkan pandangannya. Diliriknya seseorang yang ia yakini Kyuhyun dari balik bahunya. Kyuhyun menyandarkan kepalanya pada punggung Changmin.

"Aku bosan," ucap Kyuhyun mengawali pembicaraan, "Aku bosan dengan keadaan kita sejak dua minggu lalu." Keluh Kyuhyun.

Changmin mengenggam kedua tangan Kyuhyun yang melingkari pinggangnya. Sebenarnya Changmin pun tidak nyaman dengan keadaan mereka sekarang, tapi pertanyaan Kyuhyun dua minggu lalu membuatnya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Memang ia berjanji pada Kyuhyun akan melamarnya saat ia membujuk Kyuhyun ketika dia marah karena Changmin membantu Kibum. Saat itu, Kyuhyun yang mengurung diri di apartemennya segera keluar saat Changmin menjanjikan akan segera melamarnya setelah ia lulus dan masalah Kibum selesai. Tapi, ternyata bujukannya itu malah menimbulkan pergulatan batin bagi Changmin, bukannya ia tidak mau mengikat Kyuhyun dalam pernikahan. Ia hanya merasa... belum pantas untuk Kyuhyun.

"Waktu itu, aku sangat cemburu." Kyuhyun angkat bicara lagi setelah sekian lama tidak ada respon dari Changmin, "Meski kau hanya berpura-pura, tapi aku merasa kau bersungguh-sungguh. Terlebih lagi saat kau.." Kyuhyun manarik napas, memberi jeda, "Terlebih saat kau mengajukan penawaran pada Mr. Kim. Aku merasa kau masih menyukai Kibum." Lirih Kyuhyun dengan berat hati mengatakannya.

Mendengar penuturan Kyuhyun, tubuh Changmin menegang. Kyuhyun bisa merasakannya, apakah benar Changmin masih menyukai Kibum? Kalau memang Changmin sudah tidak menyukai -mencintai- Kibum, tidak mungkin ia harus berupa-pura melamar Kibum untuk membatalkan perjodohan Kibum. Bukankah ada cara lain? Dan lagi, ide itu dicetuskan oleh Changmin sendiri. Selain itu, penawaran yang ia ajukan menguntungkan bagi dirinya. Jika menolak, harta keluarga Kibum akan menjadi miliknya. Kyuhyun tahu Changmin bukan pengila harta, Kyuhyun yakin Changmin akan mengembalikan harta itu jika benar terjadi. Dan tentu saja, ia akan mengembalikannya pada Kibum dan jika Changmin masih menyukai Kibum... ia akan mengembalikan harta itu dengan syarat... menikahi Kibum. Hal itu sama saja dengan jika Mr. Kim lebih memilih hartanya, berakhir dengan mendapatkan Kibum.

Kyuhyun bisa memperkirakan hal itu, karena sudah hampir tiga tahun menjalin hubungan tentu ia hafal dengan sifat kekasihnya itu. Ia takut, ia sangat takut jika perkiraannya benar. Ia takut kehilangan Changmin.

Changmin melepaskan pelukan Kyuhyun, ia memutar tubahnya dan menghadapkan Kyuhyun padannya. Kini mereka saling berhadapan dengan pemandangan langit yang mulai tertelan malam disamping mereka.

Changmin menangkupkan kedua tangannya diwajah Kyuhyuh, mendongakkan wajah itu hingga menatap Cjangmin.

"Aku mencintaimu, Kyu. Sangat mencintaimu," Mulai Changmin, "Percayalah. Yang aku cintai hanya kau, Kyu." Lanjutnya. Sorot mata Changmin menunjukkan kesungguhan, sorot mata yang menunjukkan kelembutan setiap menatap Kyuhyun. Sorot mata yang yang selalu membuat Kyuhyun tenang, sorot mata yang hanya ditunjukkan pada Kyuhyun seorang, seakan hanya Kyuhyun yang ia lihat tidak memperdulikan hal lain.

"Lalu, kenapa kau menghindariku?" Tanya Kyuhyun. Tangannya mengenggam tangan Changmin, menatap tepat pada mata Changmin yang menatapnya.

"Aku... aku hanya merasa belum saatnya. Maafkan aku." Sesal Changmin.

Kyuhyuh melepaskan tangannya bersamaan dengan tangan Changmin dari wajahnya. "Aku memang berniat melamarmu setelah lulus dan mendapat pekerjaan." Jelas Changmin.

"Bukankah kau sudah memiliki perkerjaan, bahkan sebelum kita lulus."

"Tapi itu belum cukup." Bantah Changmin.

"Belum cukup? Jabatanmu diperusahaan bahkan lebih dari target awalmu, apa yang membuatmu merasa tidak cukup?" Kesal Kyuhyun. Dia menghempaskan tangan Changmin yang sedari tadi ia genggam, lalu memalingkan pandangannya pada pemandangan disampingnya yang entah kenapa jadi tidak terlihat indah.

"Bilang saja kalau kau... masih Mencintai Kibum." Lirih Kyuhyuh, tangannya mencengkram pagar besi balkon. Nada suaranya menahan amarah dan kekecewaan, ia menundukkan kepalanya.

Changmin membelalakkan matanya mendengar perkataan Kyuhyun.

"Kalau aku masih mencintai Kibum, aku tidak akan mempertahankanmu selama tiga tahun ini." Jelas Changmin, "Aku pun pasti akan mengejar Kibum dan memutuskanmun. Meski memang, kau hanya pelarianku."

Tubuh Kyuhyuh tersentak mendengarnya, ia menatap Changmin dengan pandangan terluka. Pelarian? Jadi selama ini Kyuhyun hanya dijadikan pelarian? Yang benar saja!

Kyuhyun hendak membalas Changmin, tapi Changmin lebih dahulu berbicara, "Itu Awalnya, saat kau mengatakan bahwa kau mencintaiku aku bermaksud menjadikanmu pelarian. Bahkan aku bermaksud untuk memanfaatkanmu agar aku bisa mengorek informasi tentang Kibim." Papar Changmin yang membuat Kyuhyuh semakin terkejut. Hatinya berdenyut sakit, sangat sakit mengetahui kenyataan yang sangat terlambat untuk diketahuinya. Tidak tahukah Changmin bahwa saat itu Kyuhyun merasa jadi orang paling bahagia saat Changmin menerimanya? Tidak tahukah Changmin bahwa Kyuhyuh bertingkah seperti orang gila saat Changmin pertama kali mengatakan bahwa ia mencintainya, setelah tiga bulan mereka menjalin hubungan? Apakah semua ini tidak berarti bagi Changmin, setelah tiga tahun mereka lewati bersama?

Tubuh Kyuhyun bergetar menahan rasa sakit. Bukan ini yang ingin didengar Kyuhyuh, bukan kenyataan seperti ini. Ia hanya ingin mendengar Changmin mengatakan kapan ia akan menepati janjinya. Tergesa? Ya, mungkin Kyuhyun tergesa-gesa dengan keinginannya. Ia merasa akan ada sesuatu pada hubungan mereka yg akan terjadi, apakah hal ini? Firasat akan hubungam mereka?

"Bohong.. katakan kalau ku sedang mengerjaiku!" Dengan bibir yang bergetar ia berkata.

Changmin memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan diri. "Tidak, Kyu." Jawabnya singkat. Dan air mata Kyuhyun menetes melewati pipinya.

Changmin merengkuh Kyuhyun dalam pelukannya. Kyuhyun memcoba memberontak, namun Changmin semakin mengeratkan pelukannya. "Dengarkan aku, Kyu." Pinta Changmin, Kyuhyun menggeleng keras dan masih mencoba melepaskan pelukan Changmin. "Kumohon, Kyu..." mohon Changmin. Kyuhyun diam, dia mencoba menenangkan dirinya dan mengangguk mencoba memenuhi kemauan kekasihnya.

Changmin membelai rambut Kyuhyun dengan lembut, "Aku akui aku salah, maafkan aku." Mulainya, "Tapi, asal kau tahu Aku sangat mencintaimu. Hal itu kusadari saat Kibum memakiku dan menghajarku saat aku bilang kalau kau kujadikan pelarian."

.

Dua bulan setelah Kyuhyun dan Changmin menjalin hubungan, Changmin kembali mengatakan bahwa ia masih mencintai Kibum dan menginginkannya menjadi kekasihnya. Bahkan dengan jujur ia mengatakan Kyuhyun tidak lebih dari pelarian yang ia manfaatkan. Tentu saja itu membuat Kibum refleks menghajar Changmin dan memaki Changmin dengan kata-kata kasar. Kibum tidak terima sahabat masa kecilnya yang sudah ia anggap sebagai adik dipermainkan begitu saja. Kibum sangat tidak menyangka sahabat dari SMP-nya bisa berbuat seperti itu, padahal sudah jelas Kibum tidak mencintainya, menolak Changmin dengan tegas. Setelah kejadian itu, Kibum meminta Changmin untuk merenungkan kelakuannya. Selama satu minggu Changmin menghindari Kyuhyun dan Kibum, hal itu membuat Kyuhyun binggung dan selalu melamun. Kyuhyun selalu bertanya pada Kibum ada apa, tapi Kibum hanya megatakan bahwa Kyuhyun harus bersabar dan menunggu Changmin. Kyuhyun patuh menuruti Kibum, karena Kyuhyun akan menunggu Changmin cerita padanya.

Dua minggu terlewati Changmin akhirnya memberanikan diri menyapa Kibum dan memintanya berbicara empat mata. Sejak dua minggu lalu, Changmin merenunggi kata-kata Kibum untuk menerima Kyuhyun karena memang ia mencintainya. Dan selama dua minggu itu Changmin merasakan sepi tanpa Kyuhyun, hari-hari yang biasa ia lewati bersama Kyuhyun menjadi hampa tanpanya. Benar kata Kibum, bahwa ia telah jatuh cinta pada Kyuhyun bahkan sebelum ia menyatakan perasaannya pada Kibum.

Kibum tersenyum puas, sebenarnya Kibum tahu bahwa Changmin memang telah jatuh cinta pada Kyuhyun. Tapi, karena Kibum adalah orang pertama yang menjadi sahabatnya bahkan tidak memandang siapa dirinya, perasaannya pada Kyuhyun tertutupi. Dan menyalah artikan perasaannya pada Kibum.

.

"Kau ingat saat selama dua minggu aku tidak menyapamu?" Tanyanya pada Kyuhyun yang dijawab dengan anggukan kecil. "Selama dua minggu aku merenunggi perbuatanku padamu. Dan apa kau tahu?" Changmin kembali mendongakkan wajah Kyuhyun untuk menatapnya, "Selama dua minggu itu aku sepi tanpamu, aku merasa kehilangan. Kibum benar, aku telah jatuh cinta padamu." Sebuah senyum tulus terukir di bibir Changmin dan sorot matanya menunjukkan suatu kebahagiaan seakan ia baru pertama kali merasakan Cinta. "Maafkan aku, karena aku baru bisa mengucapkan kata Cinta setelah tiga bulan menjalin hubungan." Lanjutnya. "Aku sangat mencintaimu. Baik dulu, sekarang, dimasa yang akan datang, dan selamanya. Hanya Cho Kyuhyun yang aku Cintai, Cho Kyuhyun who will be Kim Kyuhyun soon." Ucapnya penuh keyakinan.

Kyuhyun tepana melihat senyum tulus dan binar kebahagian serta kata-kata dari Changmin. Senyum itu... senyum pertama yang ditunjukkan Changmin saat mengungkapkan bahwa ia mencintainya. Sorot mata itu, ia kenal dengan sorot mata itu karena ia juga pernah-bahkan masih memiliki binar itu saat menatap Changmin. Ini benar, Changmin masih-ah, bukan! Changmin Memang mencintainya. Kyuhyun tersenyum bahagia dan dalam sekejap ia mendekatkan wajahnya pada wajah Changmin dengan sedikit berjinjit. Ia menyentuhkan bibirnya pada bibir Changmin dan mulai memejamkan matanya. Changmin menyambut baik ciuman itu dan memejamkan matanya juga. Mereka berciuman dengan mesra dibawah langit sore dimana matahari mulai tenggelam. Ciuman lembut tanpa ada hasrat saling mendominasi, sebuah ciuman yang menunjukkan bahwa merek saling mencintai.

Ah, pemandangan yang romantis. Berciuman kala matahari terbenam, melukiskan suatu kisah cinta yang manis diantara sepasang kekasih yang saling mencintai.

.

.

The End

.

.

Ups, intemezzo numpang lewat :p

.

.

Ciuman yang romantis... yah, itu akan sangat romantis Jika Saja..

BRAAKK!

Jika saja suara pintu yang dummaka dengan kasar tidak mengintrupsi mereka untuk menghentikan kegiatan mereka dengan Terpaksa!

Kedua sejoli itu tidak langsung memisahkan diri, mereka hanya melepaskan ciuman mereka dan menatap kesal pada sang pelaku. "KIM KummaUUM!" Teriak Changmin menyebutkan nama sang penganggu. Bukannya merasa bersalah, Kibum malah tersenyum dengan killer smile-nya dan menghampiri mereka.

"Lepaskan pelukanmu pada Kyuhyun, Kim Changmin!" Desis Kibum dengan aura yang menyeramkan. Kyuhyun bergidik ngeri melihat seringai dan aura Kibum yang menggerikan. Changmin sendiri, dia malah semakin menenggelamkan Kyuhyun dipelukannya. Menantang Kibum yang bersiap membantai Changmin detik itu juga, seperti enam bulan lalu.

"Aku hanya memeluk dan menciumnya!" Tantang Changmin dengan mimik yang menyebalkan.

"Awalnya! Setelah memeluk dan mencium, kau pasti akan melakukan hal lebih dari itu, seperti enam bulan lalu." Kesal Kibum.

Changmin menyeringai, "Hei, Kyuhyun saja pasrah padaku. Kenapa kau marah?" Tanya Changmin santai. Mendengar kata pasrah, wajah Kyuhyun kembali memerah dan menyelusupkan wajahnya pada dada Changmin. "Wajarkan kalau aku melakukan hal lebih padanya." Seringai kembali terpampang jelas.

Kibum mendecih. Harus ia akui, Kibum memang tidak berhak marah, toh mereka sudah sama-sama dewasa. Jika melakukan hal yang lebih pun itu urusan mereka, tapi tetap saja ia tidak rela jika Adik Kesayangannya yang sama-sama Evil sepertinya dan sahabatnya itu, dinodai sebelum waktunya! (?)

"Nikahi dia terlebih dahulu! Aku tidak mau adikku ternoda karena nafsu bejatmu!" Dan Kibum kembali meninggalkan mereka, meninggalkan Changmin yang tersenyum puas dan Kyuhyun yang menatap heran pada Kibum.

"Jadi... Sebenarnya Kibum mau apa kembali lagi kesini?"

.

.

~Π~0~Π~…

"Aku belum bisa melamarmu, karena aku merasa belum pantas untukmu dan keluargamu. Aku merasa bukanlah apa-apa saat ini, aku baru bekerja selama enam bulan. Pekerjaan yang kumiliki walau jabatanku tinggi, tapi aku hanya pegawai kontrak. Belum menjadi pegawai tetap, dengan kata lain aku bisa kehilangan pekerjaanku kapanpun."

"Aku tidak ingin dirimu hidup dalam kesederhanaan sepertiku, karena aku tahu kau tidak akan tahan menjalani hidup sepertiku. Kau bahkan membutuhkan waktu enam bulan untuk membiasakan diri dengan gaya hidupku dan bisa berkunjung ke apartemenku dengan nyaman."

"Saat ini pun, aku masih tinggal diapartemen sederhanaku. Memang, dengan gajiku yang sekarang aku bisa memeli apartemen yang lebih baik. Aku pun bisa melamarmu dan menikahimu saat ini juga dengan uang yang kutabung sejak dua tahun lalu. Tapi seperti yang kukatakan, aku tidak ingin terburu-buru dan mengambil tindakan bodoh."

"Ini baru awal dari karirku, baru sebuah awal untuk menuju kesuksesan. Jadi, maafkan aku. Bukan berarti aku melanggar janjiku, aku hanya tidak ingin kau menyesal nantinya. Aku akan berusaha menjadi sukses dan menunjukkan pada orang-orang, terutama keluargamu bahwa aku pantas bersanding denganmu. Karena itu, tunggulah aku."

"Hari itu akan tiba, dimana kita akan berdiri berdampingan disebuah altar suci. Didepan semua saksi, aku akan memilikimu seutuhnya. Aku kan mengucap sumpah, begitupula dirimu. Kita akan bersumpah sehidup-semati."

"Tunggulah, saat itu akan tiba. Aku akan menyematkan tanda kepemilikanku di jari manismu. Hanya Kim Changmin yang boleh memiliki Cho Kyuhyun. Aku Berjanji dan akan berusaha memegang janjiku untuk selalu mencintaimu."

"I Love You."

.

.

"Akan kutunggu, aku akan menunggu saat itu tiba."

"Aku akan menanti dengan setia, selama cintamu masih milikku. Kejarlah masa depanmu, buktikan kau bisa."

"Aku akan sangat menanti dimana jari manisku terikat oleh Cincin bukti janji suci kita. Aku akan menjadi orang yang sangat bahagia, meski kita tahu akan banyak orang yang mencekam janji suci kita."

"Genggamlah Janjimu erat-erat, jangan biarkan janji yang kau kunci rapat terbuka begitu saja. Aku percaya padamu, aku sangat mempercayaimu. Aku akan setia menantimu membawaku ke altar suci yang kau janjikan. Aku akan menanti dengan cinta yang akan terus tumbuh hanya untukmu."

"I Love You too!"

~Π~0~Π~…

.

.

Kibum menatap appanya dari balik pintu kerja appanya. Kibum bisa melihat berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya, namun bukan hal itu yang ia permasalahkan. Yang membuatnya penasaran adalah sebuah berkas yang diberikan oleh orang suruhan appanya, di berkas itu tanpa sengaja ia melihat foto dan nama Changmin tertera di berkas itu.

Sejak kejadian dua minggu lalu, appanya tidak pernah mengungkit masalah perdebatannya dengan Changmin. appanya pun tidak pernah bertannya soal Changmin lagi padanya. Apa mungkin rencananya gagal?

Sampai sekarang appanya belum memberi kabar tentang penawaran Changmin. Kibum tahu sifat appanya, appanya pasti hanya menganggap angin lalu kejadian dua minggu lalu. Tapi, berkas itu... apa mungkin?

"Tuan muda, anda ditunggu nyonya besar di halaman belakang." Sebuah suara berat seorang pelayan mengagetkannya dan membuyarkan lamunannya. Kibum menatap sang pelayan yang menunduk hormat, dia mengagguk dan melangkah menuju halaman belakang diikuti pelayan tadi.

Kibum berjalan santai menghampiri ummanya yang sedang menikmati teh paginya. Kibum memeluk ummanya dari belakang dengan lembut dan mengecup puncak kepala ummanya. ummanya hanya tersenyum merasakan perlakuan Kibum yang kini malah bermanja pada ummanya, "Kau kan sudah dewasa, jangan bersikap seolah kau anak kecil, Kibummie." Nasihat ummanya dengan senyum dan tawa kecil menyertainya.

Kibum memajukan bibirnya tanda ia cemberut, "Ya, Umma kan selalu bilang sampai kapanpun aku akan tetap menjadi Kibum kecil. Bahkan sampai aku menikah pun umma akan terus menganggapku begitu!" Protes Kibum. ummanya hanya tersenyum mendengar Kibum berkata seperti itu, ia melepaskan pelukan Kibum dan menyuruh putranya untuk berdiri disampingnya. Kibum mematuhi perintah ummanya, namun ia bersimpuh pada ummanya dengan kepala yang ia sandarkan di pangkuan ummanya.

"Umma, apa salah jika aku menentang perjodohan yang appa rencanakan?" Tanya Kibum lirih. Ia memainkan tangan kiri ummanya, membelainya dengan lembut. ummanya hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kibum, diusapnya rambut Kibum yang kini mulai memanjang. "Kalau kau memang tidak menyukai pilihan appa mu, itu tidaklah salah. Tapi, jika kau menentang appamu dan membuat appa mu murka maka kau telah membuat kesalahan." Jawab sang umma.

Kibum terdiam sesaat, "Aku sudah melawan appa dengan menolak perjodohan ini, tapi sampai detik ini appa belum memberi reaksi. Aku.. tidak ingin hidup degan orang yang tidak kucintai," jeda sesaat, "Aku ingin seperti appa dan umma, hidup bersama yang didasari oleh Cinta dan kasih sayang." Harap Kibum.

Umma Kibum kembali tersenyum. Ya, kedua orangtua Kibum saling mencintai, mereka menikah karena adanya rasa cinta. Sampai saat ini, Kibum belum pernah melihat appa dan ummanya bertengkar. Mereka masih mesra seperti baru menjalin hubungan. "Kibummie, kau tahu kan appa sangat menyayangi mu?" Tanya ummanya lembut, tangannya masih setia membelai rambut putra semata wayangnya, "Appa mu tidak ingin kau salah memilih pasangan, appa mu sangat takut jika kau hidup menderita. Appa mu... terlalu menyayangimu, karena itu appa memilihkan pendamping untukmu." Jelas ummanya.

"Tapi aku mencintai orang lain umma, aku tidak mau kalau bukan dia. Aku sangat mencintainya walau dia tidak mengetahui perasaanku." Tutur Kibum mencurahkan perasaannya yang selama ini ia simpan rapat.

Tangan yang membelai rambut hitam kelam itu terhenti, "Kau egois, Kibummie. Ia bahkan tidak mengetahui perasaanmu, kau pun tak mengetahui perasaannya padamu. Tapi kau menginginkannya? Kalau kau tidak mengungkapkannya, kau hanya akan menderita, Kibum."

"Aku tidak berani, umma. Aku takut untuk mengungkapkannya." Lirih Kibum dengan suara yang agak serak. "Aku tidak ingin dijodohkan. Aku mencintainya, hanya mencintainya dan hanya dia yang kuinginkan."

"Kalau begitu, kejarlah ia dan dapatkan kebahagiaanmu. Umma akan selalu mendukungmu, Kibummie."

.

.

Yang tidak mereka berdua ketahui adalah sang kepala keluarga yang tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka, sang kepala keluarga itu meninggalkan halaman belakang itu dengan raut wajah yang menunjukkan kesedihan. Mengurungkan niat awalnya untuk memberikan sebuah berita pada keduanya, terutama pada putra kesayangannya.

.

.

Derap langkah yang cepat cukup menggema di lorong sebuah gedung. Derap langkah cepat seorang namja yang begitu terburu-buru menuju sebuah ruangan yang hanya dapat dimasuki oleh orang-orang tertentu yang memang berkepentingan dengan sang penghuni ruangan. Setelah beberapa menit berjalan cepat, akhirnya namja itu sampai di depan pintu berwarna coklak kemerahan, ia mengetuk pintu itu beberapa kali sampai ada yang mengintrupsinya untuk masuk. Ia membuka handle pintu itu dan melangkah memasuki ruangan itu, ia berhenti tepat di depan meja kerja dan membungkuk memberi hormat. "Anda memanggil saya, Pak Presdir?" Tanya namja itu sopan.

Seseorang yang dipanggil Presdir itu mengalihkan pandangannya dari dokumen dan menatap orang yang ada didepannya, "Bisa kau gantikan aku menemui rekan bisnis kita, Kibum?" Tanya sang Preadir pada Kibum langsung. Kibum mengangguk, "Baik, kapan dan dimana pertemuannya diadakan?" Tanya Kibum.

Sang Presdir menuliskan sesuatu di sebuah kertas kecil, "Ini alamat tempat pertemuannya," sang presdir menyerahkan kertas kecil itu dan diterima oleh Kibum. "Waktunya, pukul 01:00 PM. Usahakan jangan terlambat." Perintahnya. Kibum kembali mengangguk dan ia membungkukkan badannya memberi hormat. Setelah pamit ia melangkah bermaksud keluar ruangan, namun langkahnya terhenti saat sang presdir memanggilnya lagi. Kibum berbalik menghadap sang presdir, "Saat hanya kita berdua, kau tidak perlu bersikap formal, Kibummie." Pinta sang presdir. Kibum terdiam sesaat dan kemudian tersenyum, "Baik, appa." Dan Kibum pun meninggalkan sang appa yang menatap kepergian anaknya dengan sendu.

.

.

"Changmnnie!" Panggil seseorang pada Changmin yang sedang serius menekuni pekerjaannya.

"Changmin!" Panggil namja itu lagi agak keras, sudah lima kali ia memanggil Changmin namun masih saja tidak dihiraukan.

Namja itu mendengus, "Minnie!" Panggilnya lagi dengan sedikit teriak, tapi tetap saja orang yang dipanggil masih asyik dengan dengan pekerjaannya. Merasa kekesalan telah sampai pada ubun-ubunnya, namja itu beranjak dari meja kerjanya dan menghampiri Changmin. Setelah berhadapan dengan Changmin, ia mendengus sebal. Ya, bagaimana Changmin bisa mendergarnya kalau telingannya disumpal handfree? Dengan sedikit kasar ia tarik handfree itu dari telingga Changmin hingga menyebabkan Changmin tersentak kaget dan melihat ke arah sang pelaku.

"Ya! Apa yang kau lakukan, Kyuhyun!" Tanyanya tidak luput dari rasa kesal pada sang pelaku yang ternyata Kyuhyun.

"Salah sendiri, ku panggil daritadi tidak menjawab." Sebal Kyuhyun. Changmin mengerjapkan matanya, "Eh?" Hanya itu respon yang ia berikan dan hal itu membuat Kyuhyun tambah kesal.

"Ck, sudahlah! Ayo kita makan siang." Ajak Kyuhyun sambil menarik lengan Changmin, memaksanya untuk berdiri. "Aku sudah lapar, jam istirahat hampir tiba." Kyuhyun menuntun Changmin -yang telah berdiri tegak- munuju pintu ruangan mereka.

Ruangan mereka? Ya, di ruangan kerja itu hanya ada mereka berdua. Ruangan khusus yang diberikan sang pemimpin sekaligus pemilik perusahaan pada Changmin dan Kyuhyun. Mungkin, jika ada karyawan lain yang memiliki kemampuan seperti mereka, sang pemimpin akan menempatkanya di rungan ini. Mungkin...

Kyuhyun dan Changmin berjalan beriringan meuju tempat parkir, tidak ada yang mereka bicarakan selama perjalanan hingga mereka sampai di tempat parkir dan menuju mobil Kyuhyun. Kyuhyun mengambil kunci mobilnya dan menyerahkannya pada Changmin, Changmin merimanya dan membukakan kunci pintu kemudi. Changmin berjalan ke arah pintu lain, membukakan pintu untuk Kyuhyun dan Kyuhyun segera masuk setelah mengucapkan terima kasih. Changmin berbalik masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobil Kyuhyun.

"Kita akan kemana?" Tanya Changmin pada Kyuhyun tanpa melihatnya. Kyuhyun yang sedang asyik bermain PSP menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari PSP, "Tempat biasa." Jawabnya singkat.

.

Satu jam sudah berlalu Changmin dan Kyuhyun menikmati makan siangnya. Mereka segera beranjak untuk kembali ke kantor -yang tentunya setelah membayar makanan mereka-, namun Kyuhyun meminta Changmin untuk menunggunya sebentar karena Kyuhyun pergi ke toilet.

Cukup lama Changmin menunggu Kyuhyun tak kunjung datang juga. Saat akan menyusul Kyuhyun, Changmin melihat Kyuhyun sedang berbicara dengan seseorang yang tidak ia kenali. Penasaran, Changmin mendekati mereka dan menepuk pundak Kyuhyun saat telah berdiri di samping Kyuhyuh. "Ada apa?" Tanya Changmin. Kyuhyhun menoleh pada Changmin dan tersenyum, "Bukan apa-apa, kami tidak sengaja bertabrakan." Jawab Kyuhyun yang disahuti Changmin dengan anggukan. Kyuhyun kembali melihat namja yang bertabrakan dengannya tadi, "Maafkan saya, saya sedang terburu-buru. Sekali lagi maaf." Namja itu meminta maaf dengan sopan dan menundukkan tubuhnya untuk kesekian kalinya.

"Aku sudah memaafkanmu, berhentilah minta maaf!" Kesal Kyuhyun yang sedari tadi mendengar namja itu meminta maaf. Changmin tersenyum geli melihat sikap Kyuhyun. "Jangan seperti itu, Kyu. Tidak sopan." Peringat Changmin yang malah dibalas oleh bibir yang cemberut Kyuhyun.

Changmin sebenarnya ingin sekali menarik kedua pipi Kyuhyun karena gemas dengan tingkah Kyuhyun, tapi ini harus diakhiri karena jam istirahat telah berakhir. Changmin beralih pada namja tadi, "Ah, maaf kami harus segera pergi. Dan maafkan atas sikapnya yang kurang sopan pada anda." Changmin membungkuk pamit dan segera menarik Kyuhyun keluar restoran itu dengan terburu-buru.

.

.

~Π~0~Π~

Tidakkah kau tahu, namja yang kau temui adalah namja yang akan merubah hubungan diantara kalian? Tidakkah kau lihat tatapan matanya saat melihatmu? Begitu lembut dan penuh dengan rasa cinta yang baru tumbuh.

Kau telah membuat seorang namja jatuh cinta padamu tanpa tahu bahwa hal itu akan membuat kalian merasakan luka dikehidupan kalian.

Pertemuan yang bukan Tidak disengaja, tapi pertemuan yang telah ditakdirkan untuk kehidupan cinta kalian.

~Π~0~Π~

.

Seorang namja tampan dan berpenampilan sangat manly dengan pakaian kerjanya berjalan terburu-buru ke sebuah restoran. Tak diperdulikannya pandang orang-orang yang menatapnya kagum pada kesempurnaan fisik yang dimilikinya. Ia memasuki restoran itu dengan sedikit tergesa dan pandangan matanya mengedar ke penjuru restoran mencari seseorang yang akan ditemuinya. Begitu serius mencari seseorang itu, tanpa sengaja ia menabrak seseorang hingga orang itu terjatuh.

Namja itu dengan segera mengulurkan tangannya berniat menolong, namun sebelum uluran tangannya disambut, ia terpesona melihat paras seseorang yang ia tabrak. Matanya tidak berkedip sedikitpun, menatap penuh kekaguman pada namja yang tengah meringgis.

Kesadaran kembali saat namja itu meneriakinya dan berdiri sendiri tanpa menerima uluran tangannya.

Berulang kali ia meminta maaf pada namja dihadapannya, yang tentu saja telah dimaafkan walau awalnya hanya umpatan yang didengarnya. Bukanya dia segaja memintamaaf berulangkali, tapi itu karena ia terpesona pada namja dihadapannya hingga ia merasa gugup dan berulangkali meminta maaf. Kegiatan itu terhenti saat seseorang menghampiri mereka dan memperingatkan sikap namja yang ia tabrak. Setelahnya mereka meninggalkan dirinya yang masih menatap kepergian mereka.

Senyum lembut terlukis di wajah tampanya yang menambah kharismanya.

"Cho Kyuhyun..."

.

.

Kibum mendengus kesal, beberapa kali ia alihkan pandangannya pada pintu restoran. Lima belas menit berlalu dari waktu yang dijanjikan, padahal Kibum berpikir bahwa ia akan terlambat. Nyatanya? Seseorang yang akan menjadi rekan bisnisnya belum datang juga. Kibum melempar buku menu yang ia pegang sedari tadi ke atas meja.

Ok, sekarang sudah dua puluh menit. Kembali ia alihkan pandangannya, alisnya berkerut saat melihat dekat kasir seperti terjadi sedikit insiden. Baru lima menit ia tidak melihat kesana dan dalam waktu singkat telah tejadi keributan kecil.

Sebenarnya ia tidak peduli dengan hal itu, tapi ia menjadi sedikit tertarik kala melihat sebuah siluet orang yng menghampiri dua pelaku keributan kecil itu. "Changmin?" Herannya, namun ia menepis dugaannya. Tidak mungkin Changmin berada disini, restoran ini cukup jauh dari kantornya.

Merasa bodoh dengan tindakannya memperhatikan seseorang yang 'mirip' sahabatnya itu, ia memutuskan untuk memesan minuman. Setelah memanggil pelayan dan memesan minuman, ia arahkan kembali pandangannya ke arah pintu. Namun sebelum ia melirik pintu masuk itu, ia dikagetkan oleh seseorang yang ia tunggu sudah duduk nyaman di depannya.

Seseorang itu tersenyum, "Maafkan saya terlambat, Kibum-ssi. Tadi ada sedikit insiden." Jelasnya memberi alasan keterlambatannya.

Kibum yang masih dalam keadaan terkejut, berdehem dan bersikap biasa lagi.

"Tidak apa, Siwon-ssi. Saya juga baru tiba." Bohong Kibum menutupi kekesalannya .

Seenarnya Kibum sudah terbiasa menunggu rekan bisnisnya ini, sudah dua tahun mereka sering bertemu dalam urusan bisnis.

Selalu seperti ini, selalu Kibum yang menunggu. Entah apa yang dilakukan Siwon hingga ia SERING terlambat jika ada pertemuan dengannya. Dan Kibum.. ia SERING berbohong dengan mengatakan bahwa ia baru tiba, entahlah kenapa ia melakukan itu. Padahal Kibum bukan tipe penyabar dalam hal menunggu.

"Baiklah, sebaiknya kita mulai saja." Kata Siwon dengan sangat.

Kibum memperhatikan tingkah Siwon, ada yang berbeda dengannya hari ini. Siwon terlihat begitu bersemangat dan... merasakan suatu kebahagiaan.

Kibum bisa melihat dari pancaran bola mata Siwon yang bersinar terang. Binar yang ia kenali, binar yang akan muncul jika seseorang bertememu dengan pujaan hatinya. Tapi, binar itu bukan ditunjukkan padanya...

Dan hati Kibum merasakan sebuah nyeri yang baru pertama kali ia alami.

.

.

~Π~0~Π~

.

Kau telah merebut hatiku.

Kau telah membuat hidupku tambah berwarna.

Meski kita hanya bertemu dalam sebuah hubungan bernama teman, tapi aku sangat bahagia bisa menatapmu dari dekat.

Meski kita hanya bertemu demi masa depan keluarga kita, tapi aku cukup bahagia kerena setelah hal itu selesai, kita akan menjadi teman.

Teman, walau hanya teman ngobrol.

Aku bertekad akan membuatmu menatapku lebih dari teman dan rekan bisnis.

Tapi, melihatmu hari ini..

Aku merasa perjuanganku akan sia-sia jika aku melakukannya.

Binar matamu telah menunjukkan bahwa kau telah jatuh cinta.

Dan binar itu bukan untukku, tidak ada refleksi bayanganku di matamu.

Dia..

Dia yang tidak kuketahui siapa.

Dia lah yang telah membuatmu jatuh dalam sekejap, tidak sepertiku... selama dua tahun ini, aku tidak berani mengungkapkan perasaanku.

Akan kupendam.

Aku akan memendamnya kembali perasaan ini.

Aku tidak mungkin merebut kebahagiaanmu.

Biarlah hanya aku, hanya aku yang merasakan sakit ini.

Sakit karena memendam rasa cinta yang sudah terlalu lama.

Akan kupendam,

walau aku yakin aku tidak akan bisa.

.

~Π~0~Π~

.

T.B.C (?)

.

_Hf Zone_

Bagi yang bertanya kapan Changmin melamar Kyuhyun dan Kyuhyun cemburu atau tidak pada Kibum, sudah terjawab d chap ini ^^.

Maaf update-nya lama (_°_)

Chap depan ada kemungkinan updet-nya lama, karena sebentar lagi liburan saya selesai.

Terimakasih sudah bersedia membaca fic saya, terlebih me-Review-nya.

Semoga chap ini tidak mengecewakan. Terimakasih.

Maaf jika ada yang kurang atau tidak sesuai dengan kalian m(_^_)m

Thanks to:

Park YUIrin ^ eL-chan ^ yooshi704 ^ Meong ^ mhiakyu ^ Blacknancho ^ rhiee ^ evil baby magnae ^ Rose ^ Snowysmile.

And You, Silent Reader.

.

Mind to Review?