Mystery

By Ciezie Kyuhyunnie AdmrHyukkie

Inspired by Beast Mystery

KyuHyuk (friendship) FF. With OC.

.

.

.

"Kyuhyun..."

Kyuhyun mendekat ke arah teman sebangkunya dengan tampang sedikit heran. Dari tadi suasana sekolah sedikit aneh. "Ada apa ini Hyukkie?"

"Ada anak dari sekolah kita meninggal."

"Yee?"

"Emmm kau tahu.. tadi aku melihat fotonya yang dipajang di mading sekolah, dan dia.. emmm gadis yang selalu mengikutimu itu..."

"Mwo?"

Kyuhyun terduduk dengan ekspresi blank. Pikirannya langsung tertuju pada benda yang kemarin diberikan gadis itu. Jadi ini benar? Gadis itu..

.

.

.

Kyuhyun POV

"Kyuhyun, gwaenchana?"

Begitu menoleh, kudapati wajah khawatir Hyukkie. Aku menelan ludah. "Hyukkie itu benar... ah maksudku benarkah itu?"

Sesaat Hyukkie memandangku tak mengerti, "Maksudmu apakah gadis itu yang benar-benar meninggal?"

Aku mengangguk kaku. Katakan ini hanya bohong. Kau hanya bercanda padaku kan Hyukkie? Katakan kau hanya ingin mengerjaiku, menakutiku? Tapi Hyukkie mengangguk pasti dengan wajah menyesal.

"Awalnya aku ragu ketika melihat fotonya di dinding, tapi kemarin aku sempat memperhatikan wajahnya jelas Kyu. Kemarin dia mendatangi kelas ini, menanyakanmu, waktu itu kau sedang ke kamar mandi. Wajahnya khas, tipe wajah yang akan kuingat sekali lihat, dia gadis yang manis. Meski kita belum akrab, aku yakin dia gadis yang baik."

Kembali pikiranku kosong. Rasanya seperti melayang. Gadis itu meninggal, yang benar saja? Kenapa harus secepat ini? Kenapa setelah dia memberiku itu? Kenapa setelah aku ingin mengenalnya dan menjadi temannya? Kenapa? Kurasa dia berhak bahagia.

"Kyu... kau baik baik saja kan?" kembali suara khawatir itu menginterupsi imajinasiku.

Aku menoleh tapi tak benar-benar memandangnya. Pikiranku masih dipenuhi tentang gadis itu. Lalu kurasakan sebuah pelukan erat.

"Apa kau merasa menyesal karena bersikap kasar pada gadis itu?" terdengar suara Hyukkie di telingaku.

Aku masih tak bisa merespon apapun.

"Ini sama sekali tak ada hubungannya denganmu Kyu. Soal itu, sifatmu memang begitu kan? Kau bersikap sama pada semua orang. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri ya. Ini sudah takdir dia saja meninggal. Katanya dia terjebak di rumahnya yang kebakaran."

Aku segera melepaskan pelukan Hyukkie. Kupegang dua bahunya erat. Hyukkie memandang bergantian heran wajahku dan tanganku yang mencengkram bahunya. "Wae Kyu?"

"Hyukkie..."

Hyukkie ikut memegang tanganku, memberiku dorongan.

"Kau tahu... kemarin gadis itu mendatangiku..."

Hyukkie mengangguk. Ah iya bukankah gadis itu mencariku ke kelas dan menanyakannya pada Hyukkie.

"Dia memberiku ini..." aku segera membuka tasku, mengaduknya sebentar dan memberikannya pada Hyukkie.

Ragu Hyukkie mengambilnya. Ia memandangku. Mungkin bertanya apa benar itu dari dia.

"Itu benar-benar darinya. Kemarin di kamar mandi dia memberiku itu..."

Hyukkie terlihat menghela nafasnya sebelum membuka buku itu, benda yang diberikan gadis itu kemarin.

.

.

.

.

.

Hyukkie POV

Jung Rae Kyung

Tulisan besar dan indah itu yang menyambutku, ketika kubuka buku harian itu, ya ternyata itu adalah buku harian gadis itu. Kyu duduk di sampingku masih terlihat setengah sadar. Ia benar-benar tak bisa kuajak bicara sama sekali, terlalu shock sepertinya.

Kenapa gadis itu memberikan buku hariannya pada Kyu. Bukannya Kyu hanya pernah bertemu satu kali saja dengannya? Aku membalik halaman itu. kudapati satu halaman full tulisan. Tulisannya rapi, dan enak dipandang.

26 April

Hai, my Diary. Its my first note eh?

Aku akan mulai menulis Diary sekarang. Kau tahu ada seseorang yang menyarankan itu. sebenarnya bukan menyarankan padaku sih. Tapi aku merasa menulis Diary baik juga untukku. Kau tahu, aku bukan orang yang suka bicara. Itu buruk kan? Tapi sekarang setidaknya aku bicara kan lewat tulisan dan padamu ^^

Kau tahu siapa yang membuatku jadi lebih hidup? Ya dia, namanya Cho Kyuhyun. Dia adalah murid di sekolahku. Tidak! Dia bukan siswa paling terkenal. Meski ya lumayan banyak yang tahu dia dengan kepintaran dan sifat dinginnya.

Lalu kenapa aku begitu menyukainya. Bagaimana kalau kuceritakan pertemuan awal kami. Hari itu adalah hari pertamaku masuk ke sekolah ini. Aku tak ikut saat pendaftaran karena sakit. Maka sekarang aku pusing sendiri jadinya.

Lalu ketika aku kebingungan, aku bertemu dengannya. Name tagnya bertuliskan "Cho Kyuhyun", Karena aku benar-benar bingung, meski takut aku pun mendekatinya. Aku tanyakan di mana aku bisa menemukan ruang guru. Awalnya dia hanya memandangku sekilas, lalu kembali berjalan, kukira dia mengabaikanku, tapi ternyata dia berbalik, meski masih asyik dengan bukunya.

"Ayo ikuti aku! Bukankah menanyakan di mana ruang guru?" suaranya berat dan dalam.

Aku pun mengikutinya pelan. Dan ternyata dia mengantarkanku sampai di depan kantor. Aku langsung berterimakasih. Ketika aku hampir akan masuk ke dalam kantor. Terdengar suaranya lagi. Kau tahu Diary, apa yang dia katakan?

"Jangan takut-takut seperti itu, tak ada yang perlu kau takuti kecuali kalau kau memang salah!"

Dia berkata tanpa menatapku sama sekali.

Lalu kembali dia berjalan menjauh. Kata-katanya benar-benar pas dan menusuk ke dalam hatiku. Kau tahu aku hanya berdiri di sana seperti orang bodoh, sampai ada guru yang menegurku dan membawaku masuk. Untuk pertama kalinya ada orang yang mengatakan hal seperti itu padaku. Dan sejak itu pulalah mataku tertuju dan terpaut padanya. Aku jadi semangat bersekolah.

30 April

Ternyata aku tak bisa menemukan Kyuhyun lagi.

Sekolahnya terlalu besar dan aku tak tahu kelas dia di mana. Tapi punya harapan itu memang membuat hidup terasa lebih semangat. Tujuanku ingin kenal dan akrab dengannya, atau setidaknya bisa lebih sering melihatnya.

Apa ini aneh diary?

Mungkin bagi orang yang banyak teman aneh. Tapi bagiku yang sulit sekali berteman, disapa seperti itu atau dibantu seperti itu sudah amat luar biasa, tak salah kan aku langsung menyukainya. Dan semakin menyukainya dari hari ke hari, karena yang kulakukan adalah menghayalkan bisa dekat dengannya.

Tidak! Aku tidak berharap bisa jadi pacarnya. Cukup adik atau sahabatnya saja. Dia terlalu sempurna untuk orang sepertiku. Aku cukup senang dengan menjadi pengagumnya di kejauhan seperti ini. Aku berharap dia bisa mendapatkan kebahagiaan di sepanjang hidupnya. ^^

1 Juni

Diary...

my beloved Diary...

KYAAAAAAA aku melihatnya, akhirnya aku bisa melihat Kyuhyun lagi. Aku disuruh mengembalikan buku ke perpustakaan dan dia ada di sana, sedang asyik membaca. Aku langsung duduk di sebuah bangku yang bisa membuatku melihatnya dengan jelas. Dia amat tampan ketika membaca. Wajah seriusnya. Seandainya aku punya kemampuan menggambar, aku pasti akan mengabadikannya dalam bentuk sketsa.

Aku jadi lebih bersemangat lagi sekolah. Aku mengikutinya sampai dia masuk ke kelasnya, pantas saja aku jarang melihatnya, dia ada di kelas unggulan yang gedungnya terpisah. Aku akan belajar dengan keras, agar semester depan aku bisa masuk unggulan juga dan bisa satu gedung dengannya.

Ganbatte! :D

2 Juni

Diary, ah. Bahkan tanganku bergetar ketika menuliskan ini. Aku sungguh sedih saat ini. Kau tahu saat pemilihan kelompok tadi, hanya aku yang bersisa, tak ada ketua kelompok yang memilihku. Dan sepertinya mereka juga kurang suka saat aku disuruh bergabung dalam satu kelompok oleh Songsaengnim. Aku ingin sekali menangis di sana, Diary. Hanya karena aku pendiam, atau aku aneh?

Kalau tak ingat Kyuhyun rasanya aku ingin melakukan hal terburuk dalam hidupku. Tak ada yang menyayangiku apalagi membutuhkanku, tidak di sini atau pun di rumah. Tapi aku masih punya asa yang belum tertunaikan, aku ingin dekat dengan Kyuhyun, aku ingin bisa berbincang dengannya. Aku harus kuat, setidaknya sampai saat itu.

3 Juni

Diary, kau tahu? kau tahu apa yang terjadi tadi. Ternyata kesabaranku berbuah kebaikan. Ternyata tema tugas itu adalah keahlianku. Penelitian mengenai berbagai jenis bunga dan kupu-kupu. Aku mengoleksi kupu-kupu dan tamanku penuh dengan macam-macam bunga. Akhirnya mereka bisa menghargaiku.

Dan ini bagian terbaiknya.

Aku pergi ke perpustakaan, dan dia sedang ada. Kyuhyun sedang membaca di tempat kesukaannya. Dia tak sendiri seorang namja lain asyik mengganggunya di sampingnya. Tapi karenanya aku bisa melihat ekspresi Kyuhyun, dia juga jadi banyak bicara karena namja itu. Mereka sepertinya sahabat akrab.

10 Juni

Mianhae. Aku baru bisa menulis lagi. Aku sekarang sudah tahu jadwal keseluruhan Kyuhyun, aku mengikutinya seharian. Dia bukan tipe anak yang suka bermain atau berkumpul-kumpul. Sahabat yang paling dekat dengannya hanya satu orang yaitu Lee Hyuk Jae. Kurasa Lee Hyukjae adalah namja yang amat baik. Kebaikan hatinya begitu terpancar dan menyala-nyala. Aku juga menyukainya dan berharap bisa dekat dengan mereka berdua. Menjadi bagian dari mereka berdua pasti amat membahagiakan.

Ada yang sedikit menyebalkan, soal keluargaku. Ah haruskah kusebut mereka keluarga? Mereka adalah paman dan bibiku. Mereka memang bersikap baik sejak ayah dan Ibu meninggal. Tapi entahlah aku selalu merasakan feeling buruk setiap ada mereka. Tak mungkin cerita perebutan harta itu ada di dunia nyata kan?

13 Juni

Hari ini tak ada yang spesial. Aku tak bisa mengikuti Kyuhyun karena jadwalnya dan jadwalku berbentrokan. Aku makin sebal pada paman dan bibiku. Mereka ingin tinggal di sini bersamaku katanya ingin menemani dan menjagaku. Aku tak mau, aku cukup senang tinggal bersama para pelayan dan butlerku.

1 Agustus

Aku menulis ini sambil menangis. Kertasnya bahkan membulat basah dan kusut di beberapa bagian. Diary ternyata bahkan kisah film-film itu memang terinspirasi dari kisah nyata. Mereka memang berniat mengambil alih semua harta Umma dan Appa. Aku sendirian sekarang. Satu persatu pelayan menghilang tanpa sebab.

Paman dan bibi juga mulai bersikap kasar dan banyak mengancamku. Aku ingin sekali ada yang bisa menyelamatkanku. Dan entah kenapa nama Kyuhyun lah yang muncul, bahkan nama Lee Hyukjae sahabatnya juga. tapi bagaimana caranya? Aku kenal juga tidak.

10 September

Mereka makin kejam. Aku bahkan merasa ingin mati sekarang. Tapi aku masih juga berharap pada Kyuhyun yang semakin hari malah semakin sulit kujangkau. Aku ingin mati. Aku tak bisa kemana-mana selain sekolah. Pulang-pergi ke sekolah hanya naik bis. Makan, kalau mereka mengizinkan. Mereka bilang kalau aku melapor, mereka dengan mudah bisa memutarbalikkan keadaan. Mereka akan mengatakan kalau aku gila. aku tak punya siapa-siapa di sampingku untuk menjadi pembela Diary.

Kyuhyun... Hyukjae tolong aku.

19 Oktober

Aku sudah tak peduli lagi, asal aku masih diizinkan hidup dan bertemu dengan Kyuhyun. Aku bisa bersyukur. Lagipula musim hujan sudah tiba kan? Aku suka musim hujan. Amat suka.

20 Oktober

Diary, aku bertemu bukan tapi aku bisa berdampingan bahkan dia tersenyum padaku. Kami juga sepayung berdua menuju sekolah. Ini hari yang amat membahagiakan selama aku hidup. Kau tahu mungkin sekarang aku rela kalau aku harus mati

21 Oktober

Mereka benar-benar merencanakan akan membunuhku, karena warisan itu takkan jatuh pada mereka selama aku hidup. Haruskah aku pasrah saja? Aku sudah bisa mengobrol dekat dengan Kyuhyun kan? Haruskah aku merelakan saja diriku sekarang.

25 Oktober

Belakangan aku benar-benar menstalker Kyuhyun selama di sekolah. Aku tak punya waktu lagi. Tapi Kyuhyun mungkin terganggu, karena dia berkata kasar padaku. Rasanya sakit. Hanya dia harapanku. Ah tapi mungkin Kyuhyun hanya salah paham kan? Bahkan di saat sesedih ini aku tetap mencari pembelaan untuknya. Aku terlanjur banyak berharap padanya.

Aku membalik lagi, tapi halamaan setelah itu kosong. Aku menatap Kyuhyun. Ini tanggal saat gadis itu menemui Kyuhyun kemarin kan? Memang berarti ini hari terakhir dia menulis di buku hariannya.

"Kyu..."

Kyuhyun menoleh masih dengan pandangan tak fokus.

"Gwaenchana?"

Kyuhyun langsung menghambur ke pelukanku. "Hyukkie... aku jahat kan? Bukankah gadis itu hanya ingin berteman denganku. Hanya ingin berteman Hyukkie... dan kenapa aku sejahat itu? andai aku memberi kesempatan padanya dari awal, dia tak harus mati kan?"

Aku menepuk punggungnya, aku tak tahu bagaimana cara menghiburnya. "Kyu... lalu apa yang akan kita lakukan?"

Kyuhyun melepaskan pelukannya, sinar sedih yang tak pernah kulihat ada di matanya tergambar jelas. "Aku akan membuat paman dan bibinya masuk ke penjara. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Setidaknya aku melakukan apa yang ingin dia inginkan, membantunya menyelesaikan masalahnya, meski... ya... ini terlambat."

"Tidak ada kata terlambat. Ayo, aku akan membantumu." Aku menepuk pundaknya.

Kyuhyun tersenyum. Matanya kini memancarkan tekad yang amat kuat.

.

.

.

.

.

.

Normal POV

"Kyu..." Hyukkie menarik-narik ujung tas selendang Kyuhyun dari belakang.

Kyuhyun menoleh dan memberi tatapan tajam pada Lee Hyuk Jae alias Eunhyuk/Hyukkie. "Apa? Bukannya kau mau membantuku?"

"Tapi apa ini tidak berbahaya? Ini masih hari berkabung."

"Aku juga takkan langsung frontal. Aku hanya ingin menyelidiki rumahnya. semakin cepat kita menemukan bukti semakin baik. Kita tak bisa menyerahkan buku itu sebagai buku, karena tak ada bukti itu bukunya, meski mungkin dari tes tulisan bisa dibuktikan itu tulisannya. Tapi ini bukti yang belum kuat."

Hyukkie akhirnya mengangguk, dia pun mengikuti langkah Kyuhyun menuju rumah Rainy. Kyuhyun ingin memanggilnya begitu.

Rumahnya besar, khas orang berpunya. Dengan pagar tinggi dan angkuh. Rumahnya juga besar, tinggi dan mewah. Karena seperti kabar berita yang beredar, yang terbakar hanya bagian belakang, jadi bagian depan tetap terlihat mewah. Di sana hanya segelintir orang yang sedang ikut berduka. Kyuhyun semakin diserang rasa bersalah, Rainy pasti amat kesepian. Dan tekad Kyuhyun pun semakin besar.

Kyuhyun dan Eunhyuk langsung disambut oleh sepasang suami istri yang dari tangisan pura-puranya saja, sudah bisa Kyuhyun dan Eunhyuk pastikan adalah si paman dan bibi yang kejam itu. mereka langsung membungkun dan berbasa-basi seperti biasa.

Sebuah foto besar di pajang di ruang tengah, Kyuhyun menatapnya lekat. Setidaknya saat ini akhirnya ia bisa mengingat wajah gadis itu. Dulu kejadian yang membuat Rainy menyukainya, benar-benar tak bisa ia ingat. Yang Kyuhyun ingat dari Rainy adalah saat di hari berhujan itu saja.

"Kalian teman dari sekolahnya yang baru itu?" Ahjussi mendekati Kyuhyun dan Eunhyuk.

Kyuhyun dan Eunhyuk hanya mengangguk.

"Tak banyak yang datang, karena dia memang amat pendiam dan tak punya banyak teman. Benar-benar anak yang malang." Ucapnya kemudian dengan ekspresi pura-pura yang benar-benar membuat Kyuhyun dan Eunhyuk muak.

"Ah iya.. sebetulnya kami pun tak terlalu akrab, hanya kami kebetulan sering bertemu di perpustakaan." Jawab Kyuhyun. "Bagaimana kejadiannya Ahjussi?"

"Haaahhh kejadiannya benar-benar tak disangka. Saat itu saya dan istri saya pergi untuk mengunjungi adik dari istri saya. Rae seperti biasa tinggal di rumah, karena tak ingin ketika kami ajak. Lalu ketika pulang kami sudah menemukan rumah terbakar di bagian dapur. Sepertinya Rae mencoba memasak sesuatu. Kami juga tak tahu tepatnya bagaimana. Ketika pemadam kebakaran datang dan berhasil memadamkan api. Yang kami temukan adalah jasad yang sudah gosong di dekat kamar mandi, dia terjebak sepertinya."

Kyuhyun dan Eunhyuk hanya mengangguk-angguk.

"Emm mianhae ahjussi, saya sebenarnya amat tak enak mengucapkan ini, tapi saya benar-benar perlu buku saya yang kebetulan dipinjam Rae. Itu tugas untuk besok. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf. Saya juga benar-benar amat sedih dan terpukul dengan ini."

Ahjussi tersenyum dan menepuk pundak Kyuhyun, yang sejujurnya ingin Kyuhyun tepis saat itu juga. "Tentu saja, masuk saja ke kamarnya, di lantai dua itu yang di pintunya ada gantungan namanya sendiri. Maaf tak bisa menemani, kami harus menyambut beberapa tamu lagi."

Setelah itu Ahjussi pun meninggalkan mereka.

Kyuhyun segera menarik Eunhyuk untuk naik ke tingkat dua. Di pintu ke dua, mereka langsung menemukan nama Jung Rae Kyung tertempel manis di pintu. Mereka pun masuk ke dalam. Kamar yang rapi khas anak perempuan dengan pernak-perniknya. Meski ada sedikit perbedaan. Rainy sepertinya amat suka dengan gambar-gambar anime. Karena di dinding kamarnya bertebaran gambar-gambar yang ditempel dengan artistik.

"Apa yang harus kita cari?" tanya Eunhyuk.

"Aku tidak tahu. coba lihat-lihat saja, siapa tahu dia meninggalkan petunjuk yang lain."

Kyuhyun menatap sekeliling kamar, sedangkan Eunhyuk mulai mencari-cari di rak buku yang tertempel di rak buku dekat pintu.

"Kyu..."

Kyuhyun langsung menoleh dan mendapati Eunhyuk yang sedang mengacungkan buku yang sama persis seperti yang diberikan pada Kyuhyun. Sebelum Kyuhyun mendekat, pintu terbuka dan kali ini Ahjuma yang menghampiri mereka.

"Ah Ahjussi sudah bilang kalian mencari buku kalian yang dipinjam Rae kan? Sudah kalian temukan?"

Eunhyuk segera mengangguk sambil mengacungkan buku itu. "Emm sudah ahjumma. Sepertinya kami permisi dulu. Dan sekali lagi kami turut berduka cita yang amat dalam."

Kyuhyun hanya ikut mengannguk.

"Iya sama-sama."

Lalu Kyuhyun dan Eunhyuk pun keluar dari rumah itu. mereka cepat-cepat menuju rumah Kyuhyun.

.

.

.

.

.

.

26 Oktober

Kemarin aku memberikan buku harianku padanya Diary. Entahlah padahal saat itu aku hanya bermaksud untuk menyapa ah maksudku menjelaskan soal aku selalu mengikutinya. Aku sadar salahku kalau Kyuhyun kemarin marah dan membentak. Dia pasti kesal diikuti olehku. Tapi ketika melihat tatapan matanya, aku langsung tak tahu harus berkata apa. Maka aku memberikan saja buku itu.

Untung aku dulu membeli dua buku, :) jadi aku tetap bisa bercerita padamu Diary.

Aku tak tahu bagaimana reaksinya saat membaca buku itu. apa dia semakin mengangapku aneh. Atau sebuah keajaiban membuat dia malah jadi ingin membantuku? Ah aku benar-benar jadi takut dan berdebar sendiri jadinya.

Soal ahjuma dan ahjusiku, mereka tetap seperti itu. tapi sepertinya belum berniat membunuhku sekarang. Jadi aku nikmati saja dulu ya hidupku saat ini.

Ah Diary... tunggu sebentar ya. Bel dari tadi berbunyi. Ahjussi dan Ahjuma sedang pergi entah kemana. Mereka hanya menyuruhku tinggal di rumah...

Hanya sampai sana.

Kyuhyun dan Eunhyuk berpandangan. Apa saat itu, kebakaran terjadi? Siapa yang datang?

"Kita harus mencari tahu siapa yang datang hari itu? Benarkah Ahjuma dan Ahjusi pergi ke rumah keluarganya? Tapi bagaimana caranya? Ini sulit."

Eunhyuk tersenyum, "Bagaimana kalau kita meminta bantuan seseorang?"

"Siapa?"

"Hyungku. Dia itu kan detektif abal-abal, hhehe. Tapi dia memang lumayan jago loh. Kemampuannya mengotak atik data lewat jaringan maya, bisa diacungi jempol."

"Aishh tapi aku malas berurusan dengannya."

Eunhyuk tersenyum, "Kangin Hyung baik kok, dia Cuma agak usil..."

"Baiklah. Tapi aku tak mau memohon padanya."

"Iya biar aku saja."

Lalu kemudian suasana jadi hening. "Hyukkie.. entah kenapa aku merasa dia masih ada."

Eunhyum menanatap Kyuhyun kaget. "Mwo?"

"Ah abaikan mungkin pengaruh dari rasa bersalahku saja ya."

Kembali yang bisa Eunhyuk lakukan hanya menepuk-nepuk pundak Kyuhyun. "Ayo kita selesaikan ini untuknya, hanya itu yang bisa kita lakukan."

Kyuhyun menghela nafas, kemudian memberi senyum kecil pada Eunhyuk.

.

.

.

TBC

Sebenarnya mood ada di titik nadir, tapi ini sudah selesai diketik.. jadi Bagaimana? Apakah masih menarik untuk dilanjutkan? Kalau memang tidak. Maka saya akhiri sampai di sini saja ne :)

Balasan RIPIU :

May AngelBunny : udah dilanjut ^^ mian lama

Ecca Augest : umm bukan.. gimana masih perlu lanjut gak?

Gyurievil : hehheh gomawo :D

Stephaniechoi : ummm sebenernya lebih k misteri daripada horor

Nyukkunyuk : udah lanjut Rien. Gimna?

Glass : ummm makasih tapi di sini mereka hanya friendship. Gimana masih minat baca?

RianaTrieEdge : udahhh :)

MinnieGalz : umm udah diceritain gmana?

ItsWhy : udaah mian lama :D

Gyurei : idahhh miann ya lama

ChwangMine95 : udah lanut :) kamu kemana aja kayanya enggak ada di ff saya yng baru yang lain hehhehhe

Lee Eun Jae : udaaahh makasih :)

Lynda : udah dijawab di sini ^^ makasih udah comen FF saya yang lain juga ya :D