Kyaahh~~ Sorry For late update TwT)o
My MMD request really made me busy X"D
Bte, thank's for your favorite, review and anything! :"D thank's for read my bad fanfic X"D
ah, sebelumnya, aku tak yakin dengan chapter yang satu ini u,u)o
. . .
Teacher Look at Me
Chapter 2 – Lost Memory
Previous Chapter :
"Khh!" Aku memegang kepalaku yang mulai pusing. Seingatku, dokter yang mengurusku saat itu berkata jika aku mulai mengingat sesuatu aku akan merasakan pusing.
"Kaito-chan? A-apa kau tak apa-apa?" Kurasakan tangan kamui-san memegang pundakku. Aku menatap kearahnya. Pandanganku mulai kabur lalu semua terlihat gelap. Sebenarnya, apa yang aku lupakan?"
. . .
[Flash Back]
5 years ago
"Hei! Berikaan uang jajanmu, kami hanya ingin memakainya untuk meminum teh kok"
"Sudah berikan saja, kau pasti tak membutuhkannya kan? Atau kau mau kami paksa?"
".." Sosok pemuda berambut biru yang sedang dikepung oleh 3 preman di lorong gang kecil terlihat gemetar ketakutan. Tubuh para preman yang notabene lebih tinggi dan membawa pisau lipat itu semakin membuatnya hanya diam membisu
"Kau tuli ya! Sudah kubilang berikan kami uang itu!" salah satu preman menghentakkan badan pemuda itu ke tembok. Membuat pemuda bernama Kaito itu sedikit merintih sakit
"Hei, bukannya dia laki-laki?" ucap salah satu preman sambil memegang dagu Kaito, membuat Kaito mendongak melihat kearahnya. Irish biru yang senada dengan rambutnya sudah berkaca-kaca "Bukannya dia terlalu manis?" tambah sang preman itu sambil terkekeh pelan "mungkin tidak apa-apa kalau kita bermain sebentar dengannya"
"Akh!, s-saya mohon jangan" Kaito membelalakkan matanya saat si preman mulai mencoba melepas jas sekolah yang dipakainya
"hei, ayolah? Dengan begini kau tak perlu memberi uang jajanmu kan?"
"Saya mohon jangan" Tangis Kaito pecah, kekuatan fisik dan nyalinya yang lemah membuat dirinya hanya dapat merintih mencoba dikasihani
"Dia bilang jangan kan? Apa kalian tak dengar" ucap seorang bocah dengan rambut panjangnya yang diikat ala samurai membuat para preman terdiam, berhenti melakukan aktifitasnya dan mulai terkekeh pelan
"oh ayolah, kau memang bisa apa?" Sang preman berjalan mendekati bocah itu
"Hei, tak usah kau ladeni dia, Kau hanya membuang-buang wak- tu?" Preman yang sedari tadi memegang kedua tangan Kaito terbelalak tak percaya melihat temannya sudah terkapar di tanah
"Padahal aku sudah memperingatkan kalian" Ucap sang bocah yang saat ini sedang memegang pedag kayu. "Apa kalian mau mencobanya?" Bocah itu berjalan tanpa ragu mendekati para preman. Sedikit membuat para preman itu kalang kabut
"Hei ! Dia hanya bocah! Masa kau ta-AKH!" Dengan cekatang, bocah pembawa pedang ayu itu sudah berhasil mengayunkan pedangnya kearah kaki preman. Membuat preman itu merintih kesakitan
"S-siapa kau!" Preman yang tersisa mencoba menjadikan Kaito sebagai sandra. "Jika kau berani mendekat, akan kubunuh anak ini!" Seru Preman itu
"haha~" Bocah itu terkekeh. Membuat preman amatir itu bingung "Kau tak mengenalku? Yang benar saja?" Bocah itu makin mendekati sang preman dengan pedang kayu yang siap untuk menebas kapan saja
"J-jangan jangan! K-kamui-san?"
"Kau telat menyadarinya" dengan cekatan, bocah Kamui itu berhasil menebaskan pedangnnya ketangan si preman. Membuat pisau yang digunakan untuk menyandra terjatuh
"Akh!" Teriak si preman kesakitan
"Jadi, apa kau mau menyusul teman-temanmu" Tanya Kamui sambil menodongkan mata pedangnya tepat di depan hidung si preman
"J-jangan!"
"eh?" Kamui menatap Kaito dengan tatapan bingung. Kenapa ia mencegahnya untuk melumpuhkan preman itu, fikir kamui
"A-aku mohon, jangan lakukan itu lagi. Biarkan saja dia lari. A-aku baik-baik saja kok!" Kaito mencoba merapihkan jasnya lalu mendekati Kamui. Dan tentu saja kesempatan ini digunakan oleh si premaan untuk melarikan diri
"Cih, " Gerutu si Kamui cilik lalu mendongak melihat Kaito yang lebih tinggi darinya. Kau terlalu lemah
"M-maaf saa, aku memang tidak suka berolah raga" Kaito menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Ah, sebelumnya terimakasih sudah membantuku. Aku sangat tertolong! Namaku Kaito, kalau k-" Lidah Kaito mendadak tercekat, mengingat apa yang dikatakan oleh Kamui
"Kau tak mengenalku? Yang benar saja?"
"K?" Kamui memasukkan pedang kayunya kembali ke sarungnya
"K – K - Kamui-san sedang apa disini" ucap Kaito. Hanya kata-kata itulah yang terfikir olehnya untuk menghindari pertanyaan tentang nama itu.
"Aku baru mau ke dojo dekat kuil untuk latihan"
"Dojo dekat kuil? Ah! Rumahku dekat sana, apa kau mau bareng?" Kaito tersenyum lebar, menatap Kamui denga penuh harap
"ah, er? Ok"
"Terimakasih!"
. . .
"Kaito-kun? Ayo, kau akan ikut karaoke kan?"
"Eh? Ma-maaf aku harus segera pergi" Pemuda manis bernama Kaito itu tersenyum canggung. Mencoba menolak permintaan temannya dengan sesopan mungkin. Tangannya terlihat terburu-buru memasukkan buku-buku ke dalam tasnya
"eh! Sekarang hari Rabu ya?" Sang teman berusaha mengingat suatu hal "Pasti dia kan!" Pemuda teman Kaito itu melirik Kaito dengan tatapan penuh arti. Membuat semburat merah menghiasi wajah tampannya
"Y-yea, semoga aku tidak telat. Aku permisi!" Ucap Kaito lalu berlari keluar ruangan kelas
Rabu, 15.00
Mungkin bagi orang-orang tak ada yang special pada saat itu. Namun berbeda dengan Kaito. Baginya hari itu adalah hari yang sangat special, dimana ia dapat melihat pujaan hatinya berlatih kendo di kuil dekat rumahnya.
Ia sangat beruntung akhirnya ia dapat mengobrol dengan sosok terhormat Kamui (Setidaknya begitu yang difikirkan oleh Kaito) mengingat sosok Kamui yang masih memiliki garis keturunan Samurai.
"Kamui-chan!" Teriak Kaito membuat bocah berambut ungu itu menghentikan latihannya
"Kau datang lagi" mengelap keringatnya, lalu mendekati sosok Kaito yang mencoba mengatur nafasnya karena berlari
"Su-sudah tentu kan!" Kaito mengacak rambut Kamui. Membuat bocah itu menggerutu "Aku bawa es krim lho! Kau mau" Kaito membuka tasnya lalu mencari dimana es krim itu
"Memangnya tidak meleleh? Bentuknya pasti rusak jika senpai menyimpannya di tas"
"Eh?" Kaito mengernyitkan dahinya saat berhasil menemukan es krim itu "EKHH!"
"phft! Baka"
"M-maafkan aku! Akubenar-benar tak sadar jika akan seperti ini. A-aku aku!"
"Hahaha~ sudah tidak apa-apa, ayo kita makan, bentuk bukan masalah kan?" Kamui cilik tersenyum manis. Membuat jantung Kaito berdetak dengan kencang
"Ini yang aku suka darimu"
"E-ekh? A-apa maksud sen-"
"Aku menykaimu! Apakah aku salah?" Kaito menatap Kamui cilik dengan tatapa seriusnya. Tatapan yang jarang-jarang dilontarkan oleh Kaito. "A-apa karena aku SMA dan Kau SMP kau tak mau bersamaku?" Ucap Kaito lagi
"B-bukan begitu, a-aku kasar kan? Kau tahu aku menakutka-"
"Itu tak masalah bagiku. Aku senang bagaimanapun siakp Kamui-chan, terutama senyummu" Kaito menunduk. Mencoba menyembunyikan wajahnya yang merah "A-Aku.. a-aa"
"T-terimakasih" jawab Kamui sambil ikut menunduk "A-Aku suka mata senpai, jadi tolong lihat a-emph~" Kamui cilik membelalakkan matanya saat ia merasakan bibir sang senpai sudah bertaut dengan bibirnya
"H-harusnya aku yang berterimakasih" Kaito melepasnya ciumannya lalu membungkukkan badannya, mencoba menyetarakan tingginya dengan sosok Kamui "Aku jadi sedikit berterimakasih karena preman-preman itu, jika mereka tidak mencegatku pasti aku tak akan bertemu denganmu"
"B-baka! Senpai baka!" Ucap Kamui cilik yang terlihat manis dengan wajahnya yang merah padam
"hm~ jadi mulai sekarang? Apakah kita pacaran?" Kaito mencoba menggoda Kamui cilik dengan melepaskan ikatan rambutnya. Membuat rambut ungu Kamui iclik tergerai bebas "Kau terlihat lebih cantik jika seperti ini" Ucap Kaito sambil mengelus rambut kekasihnya itu
"..."
"..."
SRAAKK
"AKHH!" Kaito memegang perutnya yang berhasil terpukul oleh pedang Kayu Kamui
"Gomenne, senpai"
"K-kamui-c.."
[Flash Back End]
. . .
[Kaito's POV]
"KAMUI-CHAN!"
"eh?"
"K-kamui-chan~" Aku menatap Kiri-kananku. Mencoba bangkit dari posisi tidurku "Kh!" Sial! Kepalaku benar-benar pusing
"Sensei! Kau narubangun dari pingsan, setidaknya tenangkan dulu dirimu!" Kamui-san kembali mendorong tubuhku agar berbaring di kasur. Eh Kasur?
"D-Dimana aku?" Aku menatap sosoknya yangterlihat cukup cemas "Kenapa aku ada disini?" Aku menatapnya,menuntut jawaban
"Kau pingsan kemarin. Jadi aku membawamu ke rumahku. Saat ini kau tidak tinggal dirumahmu kan? Jadi aku tak mengantarmu kerumah"
"K-kamui-kun, a-apakah kau memiliki saudara perempuan?"
"Eh? Ah y-yea aku memilikinya"
"Pertemukanku dengannya!"
"Tapi bahkan kau masih pusing kan!"
"Tolong biarkan aku bertemu dengannya!"Kembali, aku mencoba untuk bangkit dari posisi tidurku. Namun, kali ini kurasakan tangan hangat Kamui-kun mengangkat tubuhku dengan ringannya. Oh hell! Posisi apa ini!
"Kau masih pusing, aku rasa dengan begini akan lebih mudah bagimu bertemu dengannya" Jelas Kamui-kun sambil berjalan keluar dari ruangan. Membuatku agar tak berfikir terlalu jauh
"T-terimakasih" Wajahku panas. YA! Tentu saja panas! Kau pasti tahu bagaimana rasanya digendong ala pengantin oleh Kamui-kun yang menjadi idola sekolah
Sepanjang lorong bertatami ini terlihat beberapa kaligrafi dan lukisan-lukisan tradisional. Jadi ini kediaman Kamui yang terhormat itu? Ini jauh lebih indah dari yang aku bayangkan
"Aneeki? Apa Kau ada di dalam?" Kamui-san menghentikan langkahnya di depan pintu dorong bercorak bunga sakura. Aku tak sabar melihat apa yang ada di dalamnya
"Ya, Masukklah" Jawab suara anggun dari dalam ruangan itu . Anee? Berarti ia kakak Kamui-san? Ah! Syukurlah ternyata Kamui-chan bukan anak SMA! Itu memudahkanku untuk melanjutkan hubungan kan?
Kamui-san menurunkanku lalu membuka pintu itu. Memperlihatkan sosok anggun berambut ungu dengan yukata pinknya yang sedang merangkai bunga. Oh tuhan! Pemandangan indah macam apa ini!
"Gakkun? Tumben kau membawa teman? Ah, silahkan masuk" Ucap Kamui-chan dengan anggunnya, senyumnya dan. Tunggu? Kenapa ini berbeda dengan bayanganku?
Gakupo menggandengku agar memasuki ruangan yang sangat girly itu lalu berjala mendekat ke Kamui-chan. Ah tuhan! Jantungku tak kuat dengan keindahan ini! Kamui-chan yang dulu gahar, sekarang jadi sangat anggun seperti ini!
"Langsung saja, sensei? Apa yang ingin kau tanyakan pada kakakku?"
"eh? Sen-sensei? Jadi dia gurumu? Ah, maafkan saya, saya kira anda teman sekelas gakkun" Dia sedikit terbelalak kaget lalu membungkuk meminta maaf. Jadi semuda itukah wajahku?
"K-kamui-chan? A-Apa kau mengingatku?" Aku menatapnya dengan tatapan serius. Oh ayolah! 5 tahun tak akan membuatmu melupakanku kan?
"e-eh?" Kamui-chan mengernyitkan dahinya "M-maaf, tapi saya benar-benar tak mengenal anda"
"T-tapi! Y-yang benar saja! Bukannya Kau pernah menolongku dulu? Saat ada preman yang mencegatku. Kau selalu tampak keren dan berwibawa saat mengayunkan pedangmu. Kau juga selalu berlatih di dojo dekat kuil! " Aku mencoba membuat ingatannya kembali. Oh tuhan! Tolong sadarkanlah Kamui-chan. Toltong ingatkan dia padaku!
"P-pedang?" Kamui-chan menatap Kamui-san dengan tatapan bingung, lalu ia terkekeh pelan "Ah, mungkin maksudmu Gakkun?"
"ekh?" Aku menatap Kamui-san dengan tatapan bingung "A-apa maksudmu?" Aku benar-benar bingung. Apa yang ia katakan!
"Keluarga kami memiliki 2 orang anak, Saya Kamui Gakuko, dan adikku Kamui Gakupo. Dulu saat kami kecil, kami memang benar-benar mirip. Padahal kami tidak kembar" Kamui-chan tersenyum anggun "Saya bertugas mewarisi seni tari dan merangkai bunga, sedangkan Gakkun mewarisi seni pedang dan juga musik. Saya sama sekali tak pernah berlatih menggunakan pedang sejak saya menginjak SMP. Jadi mungkin yang kau maksud itu Gakupo-kun" Ia mencoba menjelaskannya. Namun aku sama sekali tak mengerti. Kenapa bocah laki-laki memiliki rambut panjang!
Mustahil Kamui-chan yang cantik, anggun , pendek , perempuan ya setidaknya aku menganggapnya perempuan berubah menjadi sosok jangkung yang cuek , kasar, dan tentu sangat er. Aa~ manly? Ya! Dia terlihat manly dengan rambut panjang dan suara bassnya
"Kalau begitu, kami permisi. Maaf sudah mengganggumu" pamit Kamui-san sambil menarikku agar keluar ruangan "Nah, kau sudah sadar Senpai?" Kamui-san menatapku dengan tatapan meledek
"..."
"Sen~pai~" ulangnya. Membuat wajahku memerah. Jadi saat itu aku mencium Kamui Gakupo ? Jadi ini alasan ia marah saat aku berkata jika ia cantik? Tapi, saat itu ia benar-benar cantik! Itu seperti sosok yang berbeda dengan kamui yang aku kenal sekarang
"Apa Kau tak mau menciumku lagi? Mungkin aku tak akan menolak jika dengan makhuk semanis senpai~" Ia kembali menggodaku. Akh! Jaantungku tak kuat dengan rasa malu ini!
"B-biarkan aku pulang"
"Yakin? Kau tak mau bernostalgia dulu?"
"P-Pulang" Tak terasa air mata sudah meluncur dari mataku. Akh! Aku tak sanggup menahan rasa malu ini!
"Ekh, se-senpai. Hei! Apa kau menangis?"
"H-huuwaaaa~~!"
...
[chapter 2 END]
Osh! X"D
Aku lama gak ngetik, jadi cacat gini #orz
Reviewnya dong :D
Aku mulai lupa dengan cerita ini #orz, ingatanku sangat lemah #cries
