Lanjutannya….
Uhk, luput nih soal tanda baca…
Berikutnya enggak deh…
Warning : penggunaan bahasa gaul. (mungkin?)
Eyeshield 21
By Riichihiro Inagaki & Yuusuke Murata
Fanfic by Alumina Akari –chan
Kue Sus Favoritku Bab 2
.
.
.
"Hah…bosan." Gerutuku. Ukh, sendiri lagi (gag sendiri sih, ada mama kok. Tapi sebentar lagi mau pergi). Hahhh…ngapain ya? pikirku
"Mamo chan! Mama mau pergi dulu. Ada urusan. Pulangnya agak malam jadi jaga rumah ya!!!" kata mama sambil menuju pintu rumah.
Sebelum itu mama melihat melihat langit. Mukanya agak pucat. Kenapa?
"Mamo chan! Baik-baik ya!" kata mama lagi. Dari nada bicaranya sepertinya rada khawatir-takut gitu.
BLAM!
Suara pintu itu menandakan bahwa aku benar-benar SENDIRI. Menyebalkan! Coba saja nggak ada acara keracunan segala, pasti udah di sekolah. Trus pengen tahu hasil ulangan MTK ku. Dan juga mengawasi si iblis itu supaya gag mengganggu Sena dan warga sekolah yang lainnya. Tapi, cuaca hari ini sedang gag bagus. Mendung plus angin kencang. Gelap sekali di luar. Padahal baru jam 1 siang.
TING TONG!
"Eh?"
TING TONG!
Suara bel pintu berbunyi. Siapa ya? apa mama lupa sesuatu? Bisa saja sih. Lalu, mulai turun gerimis.
DEDEDEDEDEDEDERERERERERET!!!!!!"BUKA PINTUNYA MANAJER SIALAN!!! GERIMIS TAU!!!!"
Su, suara itu…
"HIRUMA!" teriakku.
"Apa?" katanya dengan sinis.
"Ngapain kamu kesini?" kataku dengan heran.
"DARIPADA NGOMONG BEGITU, CEPAT BUKA PINTUNYA!!!! HUJAN TAU!!!!" teriaknya.
"I, iya. Tunggu sebentar." Kataku dengan terburu buru.
Setelah itu, Hiruma pun masuk ke rumahku. Tubuhnya sedikit basah karena gerimis. Dan dia pun membawa tas yang isinya lumayan banyak. Untuk apa?
"Hei!" sahutnya.
"Apa?" jawabku.
"Bagaimana rasanya tersiksa di rumah, manajer sialan? Menyakitkan kan? Ke ke ke…"
"Iya…menyakitkan. Ngapain kamu datang kemari?" sahutku
"Nih! Semenjak kamu vakum, dah segini banyak nih." Katanya sambil membawa beberapa lembar kertas dari tasnya. Ooohhh…gitu toh. Pantas bawa tas plus laptop. Ternyata sakit atau enggak sama saja.
Lalu, aku mengerjakannnya bareng Hiruma di kamarku. Hujan makin deras saja. Ada petir pula, mengerikan. Tapi, kalau disuruh milih mana yang paling mengerikan, petir atau Hiruma, pasti kujawab HIRUMA
"Hei! Mana colokan listriknya? Mau pakai laptop nih!" katanya sambil cari-cari tepat colokannya.
"Ah! Pakai saja colokan di lampu tidur ini." Kataku.
"Hei, hari ini latihan enggak klub American Football-nya?" tanyaku.
"Ngapain, hujan begini. Cuma sebentar tadi." jawabnya
Kemudian, dia memakai laptopnya dengan mengunyah permen karet tanpa gulanya. Seperti biasa, terkadang di depan laptop ia terkekeh-kekeh entah apa. Yang jelas pasti bukan hal yang baik. Selain itu, di rumah ini hanya aku dan Hiruma.
Hah? Hanya berdua? Aku dan Hiruma?
Haduh!!! Gimana nih?! Jangan sampai terjadi macam-macam. Duh, Suzuna. Kenapa sih kamu minjemin komik begituan padaku? (kenapa kamu terima aja komik begituan itu?) Apalagi selalu diawali dengan tokoh utama hanya berdua dengan kekasihnya lalu…ARRGGHHH!!! Tanpa sadar mukaku memerah.
TEP!
"Eh! Hiruma kamu ngapain?"
"Ukur suhu tubuhmu, manajer sialan!" katanya sambil mengukur suhu tubuhku dengan tangannya yang menempel di keningku. "Wah, Suhumu 39. terakhir cek, 40" katanya lagi.
Akurat sekali laporannya. Dasar Iblis! Aku heran, kenapa bisa? Padahal enggak ada termometer.
Selagi berpikir begitu tiba-tiba…
ZZZTTTTTAAAAARRRRR!!!!!
KLIP! (suara mati lampu, hue he he…)
"AH!!!! GELAP!!!" tanpa sadar kupeluk sebuah tubuh yang berada disampingku. Saking kagetnya, aku enggak bisa berpikir kalau yang kupeluk itu…"AH!!! SETAN!!!" setan itu mengerikan, matanya hijau menyala.
"SETAN, SETAN, ini aku, BODOH!" Kata mahluk yang kukira setan, "HIRUMA!"
Aku segera melepaskan pelukanku. "Ma…maaf…" antara perasaan takut bercampur kaget, mukaku pun memerah. Ukh…malunya.
Seelah itu, dia bergerak keluar kamar. "Oi! Dimana kau biasanya kamu menyimpan lilin? Ada kan?" katanya.
"Di dapur." kataku.
DUK!
"ADAUUU!!! DASAR TEMBOK SIALAN!!!" sentaknya walau tahu kalau teriak ke tembok tidak ada gunanya.
Akupun menunggu di kamar sampai Hiruma kembali dengan lilin. Sudah satu jam setengah berlalu. Lama-lama makin sore, gelap. Itu karena langit yang begitu gelap. Ditambah lagi, hujannya makin deras.
Beberapa saat kemudian, Hiruma pun kembali.
"Cih! Gak bisa pakai laptop." Keluhnya.
Aku berpikir. Hmm…"Oh ya, Hiruma."
"Apa?" jawabnya.
"Kubuatkan coklat panas ya." kataku sambil memegang lilin.
"Terserah. Tapi aku enggak mau tahu kepalamu ketimpuk tembok!" katanya. Lalu dia pun melihat hujan di jendela itu.
Setelah itu, akupun membawa dua coklat panas ditanganku sama kue susku.
"(Author : Eh, Mamori? Bukannya kue susnya ada racunnya? Trus kan…
Mamori : Oh…kebetulan aku simpan di tempat rahasia. Gag beracun kok. Sudah ku cek! Eh, cepetan lanjutin fanfictnya.
Author : Oh, gitu. Lanjutin dah.)"
Hiruma pun meminum coklas panas buatanku. "Enak kan?" kataku.
"Yah, lumayan." katanya sambil minum diapun berkata "Hei! Kenapa jidatmu? Lebam deh kayaknya. Kejedot ya? ke ke ke…"
Dasar! Suka banget sih ketawa diatas penderitaan orang. Mana masih sakit lagi. Nyut-nyutan nih.
"Biar saja." Kataku cuek. Kulihat hujan mulai mendingan. Yah, walaupun masih dibilang deras. Yang jelas enggak sederas kayak tadi.
"Hei. Tadi saat aku ke dapur ada sesuatu yang melayang. Putih-merah gitu." Katanya.
"Hiruma, kamu…tidak bercanda kan?" jawabku dengan takut.
"Ngapain bercanda. Kalau bercanda kamu enggak ketawa kan?" balasnya.
"Hiruma, beneran atau tidak?" kataku dengan suara agak keras.
"Berisik sekali. Betul aku melihatnya. Cewek putih, baju merah dan rambut panjang. Serta ada luka di tubuhnya dan melayang gitu." ujarnya.
"A, APA?!" kejutku.
"Ngapain bohong. Aku melihatnya kok. Jelas lagi. Mang napa sih?" tanyanya.
"I, Itu…pokoknya ITU!!!" kataku dengan takut. Saking takutnya, aku tidak bisa bilang kepada kalian kenapa aku takut begini.
"Hei, aku tidak mengerti apa maksudmu, manajer sialan. KATAKAN YANG JELAS." Jawabnya yang mulai marah karena merasa dipermainkan.
Kemudian, aku bicara sama Hiruma kenapa aku takut begini (dan juga pada kalian ^_^). Tapi saat aku mulai bicara tiba tiba…
DUK!
"Apa itu?" tanyanya.
DUK!
"I, ITU…TIDAK!!!!" teriakku. Jangan dibayangkan seberapa kerasnya. Norak deh.
Lalu, kamipun melihat sesosok bayangan seorang wanita. Dan ada darah yang menetes.
TES! Itu bunyinya.
"KYA!!!" teriakku makin keras.
"APAAN SIH?!!" katanya sambil teriak. Sepertinya ia ingin mengalahkan suara teriakku yang keras.
"CEPAT!!!" teriakku sambil menyeret Hiruma ke kamar mandi kamarku. Entah kenapa aku bisa menyeret orang itu yang tentunya jauh lebih kuat daripadaku. Tapi, aku enggak bisa berpikir lagi!!!
Lalu, aku dan Hiruma di kamar mandi. Dengan kecepatan cahaya, akupun mengunci pintu kamar mandi.
"ADA APA SIH?!!!" teriaknya.
"Sssttt!!!" peringatku. "Diam."
Perlahan-lahan, kamipun mendengar suara derap kaki plus suara tetesan darah ato air. Suara hujan plus petir pun juga terdengar. Lalu, perlahan-lahan, suara itupun pergi. Sepertinya dia mau ke bawah.
"Hah…leganya…" kataku.
"Ada apa sih? Kenapa ketakutan begitu? Ditambah lagi sampai kapan kita disini terus?" keluhnya.
"Ah, begini…" ujarku.
"Dulu, 5 tahun lalu ada kecelakaan di depan rumahku. Pada saat itu hujan deras sama petir seperti ini. Itu karena ada mobil yang melintas melewati jalan pintas dengan cepat. Saat itu, ada wanita berbaju putih yang lagi menangis. Lalu, mobil itupun lewat. Dan dengan kepala mata sendiri aku…" ceritaku.
"Terus?" tanyanya.
"Wanita itu tertabrak mobil. Sungguh mengerikan. Wanita itu tewas seketika. Darahnya banyak sekali. Banyak luka dimana-mana. Penabrak pun ditangkap. Lalu, ambulans pun mulai datang. Aku diminta sebagai saksi. Tapi, karena aku takut, mereka pun hanya tanya sedikit padaku. Lalu, semenjak itu, di rumahku sering ada penampakan wanita itu. Mama pernah melihatnya." Jelasku.
"Tunggu sebentar!" hentinya.
"Apa?" tanyaku.
"Kaubilang wanita berbaju putih. Tapi aku lihat kan wanita berbaju merah." Protesnya.
"Warna merah itu adalah warna darah. Dan setiap kali datang, selalu hujan begini." Jelasku sekali lagi.
"Oh…jadi pantas kamu ketakutan begitu. Lain kali kalau mau teriak jangan di telingaku!" katanya.
"Huh! gak tau ya ketakutan seorang gadis malang yang ditemani iblis sialan sepertimu." Balasku.
"Iya, iya…" jawabnya. "Oh, ya. kenapa wanita itu menangis?" katanya.
"Err…enggak begitu tahu sih. Tapi sih menurut desas-desus yang kudengar wanita itu habis melihat cowoknya lagi bareng sama sahabatnya. Mesra lagi. Tidak seperti teman sehobi komputer karena mereka berdua computer freak. Lalu, diapun melihat mereka berdua berciuman dan berbarengan dengan itu petir datang dan hujan pun turun. Wanita itu menagis, berjalan kesini dan…yah! Seperti itu deh. Saat itu aku lagi makan kue sus favoritku plus jus jeruk dingin…"
"Jangan ceritakan bagian itu, manajer sialan. Ternyata gag kapok juga." Katanya.
"Iya, iya. Trus setelah itu bawaan wanita itu ada yang hilang." Lanjutku. "Dan…"
"Sudahlah. Sempit nih. Keluar dong!" katanya.
"Iya, iya. Dasar…" ujarku. Lalu akupun membuka pintu kamar mandi. Hiruma keluar lebih dulu. Dan…
"SIALAN!!! LAPTOPKU!!!" katanya sambil cari-cari laptopnya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Hei! Lanjutkan ceritanmu tadi." Jawabnya.
"Kenapa?"
"Lanjutkan saja!"
"Setelah bawaan wanita itu ya?"
"YA!"
"Dan…setiap muncul penampakan entah kenapa pasti ada barang yang hilang. Entah uang, hp, tv dan sebagainya. Kata mama sih, sebagai jaminan supaya enggak diapa-apain ma tu hantu." Kataku.
"Barang yang hilang? Hei, manajer sialan. Itu bukan hantu." Katanya.
"APA?" kataku dengan perasaan lega plus penasaran. "Trus apa?" tanyaku.
"Maling." Jawabnya. Singkat, padat dan jelas.
"Kenapa?"
"Saat itu bawaan wanita itu ada yang hilangkan? Dan setiap kali muncul wanita itu ada yang hilangkan? Itu pasti maling yang sengaja jadi wanita itu dan menggunakan peristiwa itu supaya bisa menggondol barang-barang rumahmu dengan sukses!" jelasnya.
"Oh…begitu!" legaku.
"Jangan oh oh aja! Laptopku dibawa tahu!" marahnya.
"Trus kenapa?"
"Laptop itu isinya selain strategi dan informasi pemain amefuto, disitu juga ada…"
"Apa?"
"Foto kamu lagi…" (silahkan pikirkan sendiri. Author cerita ini lagi kehabisan ide.)
"ARRRGGGHHHHH!!! HIRUMA KAMU KETERLALUAN SEKALI!!!!"teriakku. sekali lagi. Jangan bayangkan seberapa besar teriakknya ya. Memalukan.
"Berisik!" katanya sambil menutup mulutku dengan tangannya. Uwa…mukanya dekat sekali dengan mukaku. Deg degan rasanya. "siapa tau malingnya masih dirumah ini karena diluar masih hujan." Bisiknya.
"I, iya." Katanku dengan muka merah. Untung mati lampu sehingga mukaku tidak terlihat olehnya.
"Kita harus menangkapnya. Ke ke ke…jadi enggak sabar." Semangatnya.
"IYA! Harus ditangkap!" lanjutku dengan semangat 45. Habis…di laptop itu…
Lanjutanya ada di bab selanjutnya…
Kayaknya tambah panjang…
Bingung ni genre naon ni fanfic
Review?
