I Can't
Enjoy~~~
Mata sipitnya masih mencoba membiasakan dengan cahaya yang membuat retinanya silau. Di kerjap-kerjapkan berulang kali sampai Ia dapat melihat sesosok namja yang menjulang tinggi sambil menggendong sesuatu berwarna ungu. Terdengar senandung kecil yang membuat hati menjadi begitu hangat.
Sekejap sederet peristiwa masuk dalam nalarnya. Bayi. Bayi. Reflek sang namja yang baru sadar itu meraba perutnya.
"Datar" gumam Jinki, namja itu pelan. Sebersit rasa takut menghinggapinya. Jangan-jangan dia kelihangan bayi pertamanya? Bagaimana ini? Batinnya kalut. Tangannya meremas-remas selimut hingga kusut. Salahkan dia saja yang begitu ceroboh hinga terpeleset di kamar mandi. Jinki takut usaha yang dilakukan Ratu Jung sia-sia karena kecerobohannya.
"Syukurlah kau sudah bangun…" pekikan seseorang membuat namja yang asyik dengan pikirannya itu tersentak kaget.
"Changmin hyuunnggg…" ucap Jinki kaget.
"Kau tidur selama 2 hari, sayang. Kau membuatku takut." Changmin mendekat kearah Istrinya.
"Bayi.." ucap Jinki takut.
"Ah,, Ia begitu mirip denganmu. Lihat.." Changmin menyodorkan sang bayi berkelamin lelaki kepada Jinki. Anehnya Jinki beringsut menjauh. Changmin mengangkat alisnya bingung. Reaksi Jinkinya sungguh tak terduga.
"Errrrr dia begitu kecil. Aku takut melukainya." Cicit jinki. Changmin langsung melongo mendengarnya. Sebelum Changmin berkomentar, Ibundanya datang sambil membawa makanan.
"Oh, Tuhan syukurlah kau sadar. Ibu sangat khawatir." Pekik sang ratu lalu memeluk Jinki dengan erat. Sebagai balasan Jinki hanya bisa tersenyum.
"Kau kehilangan banyak darah, dan kritis setelahnya." Jelas Changmin. Sang Ratu mengiyakan.
"Terima kasih telah memberiku cucu, Jinki ah." Ucap Jung Jaejoong, sang Ratu. Lagi-lagi Jinki hanya tersenyum.
"Kau sudah melihat bayimu? Dia sangat mirip denganmu." Jelas Ratu Jung.
"Dan kecil sekali." Sahut Jinki.
"Yah, dia lahir premature kan? Jadi wajar kalau kecil, seiring dia tumbuh nanti dia akan seperti bayi normal. Lebih besar." Kata Ratu Jung yakin.
"Ngomong-ngomong siapa namanya? Kita tak bisa memanggilnya Dia terus kan?" lanjut Ratu Jung.
"Eeerrrr aku belum menyiapkan nama sama sekali. Aku lupa satu hal itu. Apa Changmin hyung mempunyai ide?" sahut Jinki.
"Tentu saja kau lupa. Bukankah kau sibuk dengan pemikiran negatifmu selama hamil?" kekeh Changmin.
"Tentu saja. Aku belum 20 tahun, dan harus hamil. Itu membuat aku tertekan." Bela Jinki.
Jaejoong terkikik geli melihat dua orang yang sibuk berdebat itu. Sewaktu dulu Changmin membawa Jinki ke Istana, Jaejoong memutuskan langsung menyukai namja berpipi chubby tersebut. Dari dulu sang ratu memang menginginkan seorang putera yang lucu dan ramah seperti Jinki. Bukan Food Monster dan penggila game seperti kedua puteranya. Err sebenarnya Jinki juga seorang chicken lover, tapi Ratu Jung tidak mempersalahkan hal tersebut. Hanya saja Jaejoong agak heran karena Changmin ternyata lebih menyukai seorang namja daripada seorang yeoja. Yah, kalau sudah cinta mau bagaimana lagi kan?
Sebenarnya Raja Jung tidak menyukai pilihan Changmin. Changmin seorang penerus Raja, seharusnya dia memilih seseorang yang bisa memberikan keturunan. Untuk itu Ratu Jung mengusahakan berbagai cara agar Jinki bisa menghasilkan keturunan. Usahanya berhasil 2 hari lalu, walaupun harus lahir premature Ratu Jung senang dengan kenyataan lahirnya cucu pertamanya. Dengan ini semoga Raja Jung bisa menerima kehadiran Jinki.
"….. tidak bisa, Hyung. Jangan paksa aku." Pekikkan Jinki terdengar begitu nyaring. Jaejoong sampai tersentak kaget. Tak lama tangisan bayi terdengar memenuhi ruang berwarna krem tersebut. Reflex Ratu Jung menenangkan cucunya saat melihat Jinki tak melakukan apa-apa, hanya terbengong melihat sang bayi seolah-olah baru pertama melihat bayi menangis.
"Shhhh…. Cup cuppp…" gumam Ratu Jung sambil menimang-nimang cucunya.
"Jadi, siapa namanya?" Tanya Ratu Jung setelah cucunya tenang.
"Jung Yoogeun." Jawab Changmin.
"Nah Yoogeunnie, selamat datang dikeluarga besar Jung" Ucap Ratu Jung pelan. Sebuah senyuman terpatri jelas diwajahnya.
.
.
.
Setelah 2 hari menginap di rumah sakit, hari ini dokter mengijinkan Jinki pulang. Kondisi tubuhnya sudah stabil walaupun dilarang melakukan pekerjaan yang berat-berat. Semenjak sadar kemarin Jinki sama sekali belum menyentuh Yoogeun. Jinki sudah berusaha agar tidak takut saat menyentuh Yoogeun, namun trauma mengalahkan segalanya. Padahal hanya menyentuh, belum menggendong dan sebagainya. Jinki berfikir menjadi orang tua benar-benar sulit. Lebih sulit dari dugaannya selama ini.
Kamar pasangan Changmin-Jinki berubah total. Beberapa perabotan berpindah tempat. Jinki menyukai keadaan kamarnya sekarang. Benar-benar membuat mood nya bagus. Kamar yang semula tampak lenggang itu kini dipenuhi oleh berbagai macam perabotan khas milik bayi.
Ruangan sebelah kanan milik sang ayah-ibu, sedang bagian kiri milik sang bayi. Sebenarnya Changmin ingin Yoogeun mempunyai kamar sendiri, namun Ratu Jung menolak dengan tegas. Katanya, bayi seumur Yoogeun harus mendapatkan perhatian extra dari orang tuanya. Lagian, kalau Yoogeun terbangun di malam hari akan capek karena harus bolak-balik. Akhirnya Changmin mengalah.
"Keponakan ku, imutnyaaaa…" Jung Kyuhyun, adik Changmin menjerit-jerit sambil mencubiti pipi gembul Yoogeun.
"Kendalikan dirimu evil, nanti Yoogeunnie terbangun." Sahut Changmin galak. Walaupun bayi berumur 5 hari itu hanya bisa tidur melulu toh Changmin tak suka bila tidur nyenyak anaknya itu terganggu.
"Perutmu masih nyeri?" Tanya Changmin saat melihat Jinki meringis.
"Sedikit." Jawab Jinki singkat.
"Istirahatlah"
.
.
.
Diluar masih gelap. Sayup-sayup terdengar suara bayi menangis. Jinki yang tengah menyelami alam sadarnya sontak terbangun. Dengan langkah perlahan Jinki menghampiri box Yoogeun. Yah, Yoogeun kecil terbangun. Bukan mencoba menenangkan, Jinki malah asyik memandangi Yoogeun. Anaknya benar-benar mirip dengannya, batin Jinki geli.
"Kenapa hanya memandangnya?" entah sejak kapan Changmin sudah berdiri di samping Jinki. Ikut memandang Yoogeun yang tengah menangis.
"Dia benar-benar mirip denganku." Ucap Jinki.
"Tentu saja." Sahut Changmin lalu menggendong Yoogeun, menimang-nimangnya dengan pelan. Jinki tersenyum melihat 2 orang yang dicintainya itu.
"Tak ingin menggendongnya?" tawar Changmin.
"Aku belum .. aku pernah menjatuhkan anak anjing sewaktu ku gendong. Puppy nya meninggal. Aku hanya takut itu terulang saat aku menggendong Yoogeun hyung. Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi?" Jinki panic duluan.
"Lalu apa yang kau dapatkan setelah membaca begitu banyak buku panduan merawat bayi, hemm?" Changmin merasa alasan trauma Jinki terlalu mengada-ada. Bagaimana mungkin seseorang takut menyentuh buah hatinya sendiri? Tidak ada.
"Aku sudah paham, hanya prakteknya terlalu sulit. Ini sesuatu yang baru untukku. Dan aku tak punya pengalaman sama sekali." Ujar Jinki. Nada bicaranya naik 1 oktaf.
"Oke, mungkin saat ini aku bisa ikut merawat Yoogeun, tapi bagaimana nanti kalau aku bekerja, kau akan bergantung pada siapa? Bunda?" nada bicara Changmin meninggi. Terdengar Jinki meneguk ludahnya.
"Maaf." Gumam Changmin kemudian. Suasana mendadak hening. Jinki mengandung di usia mudanya adalah kesalahan penuh Changmin. Sehingga dia tidak mau terlalu menekan ketidaksiapan Jinki.
"Aku akan benar-benar berusaha. Beri aku waktu." Ucap Jinki dengan tekad yang bulat.
Entah sudah berapa kali Changmin jatuh cinta dengan pemuda bermata sipit ini. Tak terhitung. Changmin bahkan rela melanggar semua peraturan untuk bisa bersama dengan Jinki. Changmin rela bila ia harus melepaskan gelar putera mahkotanya. Bahkan kalau sampai dia dikeluarkan dari silsilah keluarganya dia sangat rela. Agar bisa bersama Jinki, Changmin akan melakukan apapun. Untung saja Ratu Jung, menyukai Jinki jadi Changmin tidak perlu terlalu berjuang. Hanya Ayahandanya yang harus segera ia taklukkan. Mengenai keluarga Jinki, Changmin tak mengenalnya, bahkan Jinki pun juga tidak tahu. Kalau seandainya Orang tua Jinki masih hidup, akankah beliau merestui mereka? Changmin sangat berhadap jawabannya adalah Iya.
" Jadi, darimana aku harus memulainya?" lanjut Jinki diiringi senyuman.
.
.
.
Jinki menatap cemas kearah Yoogeun. Si Bayi terlihat tidak nyaman. Badannya tak mau diam.
"Oh Tuhan, kau apakan Yoogeunnie?" pekikan horror terdengar di pagi hari, sebelum jinki melakukan sesuatu agar Yoogeun merasa nyaman. Jinki sebenarnya sudah hafal cara-cara memakaikan baju, popok serta tetek bengeknya, hanya sekali lagi prakteknya terlalu sulit. Baju yang dipakaikan Jinki terlalu ketat, pantas Yoogeun merasa tak nyaman.
Buru-buru Changmin membongkar Geritan Yoogeun, dan memakaikannya kembali, kali ini agak longgar. Setelah itu Changmin menghapus bedak bayi yang berlebihan di wajah Yoogeun. Sebenarnya Changmin yang bertugas memandikan dan memakaikan baju Yoogeun, tetapi kemudian Jinki datang bergabung dan mencetuskan ide supaya dia yang bertugas memakaikan baju Yoogeun. Jinki menyuruh Changmin membuat susu saja.
"Yoogeunnie sangat lucu dengan wajah penuh bedak begitu Hyung." Jelas Jinki buru-buru sebelum di interogasi suaminya.
"Lucu memang, tapi Yoogeun tak nyaman." Sahut Changmin sambil menghela nafas. Oke Jinki memang 10 tahun lebih muda darinya, tetapi tak seharusnya kan dia bertingkah konyol seperti itu? Apalagi sekarang dia telah menjadi orang tua.
"Nah ingat, jangan memakaikan geritan terlalu kencang, Yoogeunnie bias sesak nafas." Jelas Changmin, lalu meyodorkan sebotol susu ke bibir Yoogeun, dengan lahap si kecil mulai menyedot susunya. Jinki tidak bisa menghasilkan susu tentu saja. Untuk memenuhi kebutuhan ASI Yoogeun, seorang kerabat Istana membagi ASI nya untuk Yoogeun.
"Hyung pipi Yoogeun seperti bakpao, aku jadi ingin makan bakpao." Ucap Jinki, matanya berbinar-binar melihat pipi Yoogeun.
"Masa ngidam mu sudah selesai, sayang. Nah, sekarang gendong dia." Sahut Changmin sekaligus memberi perintah.
"Dia sudah tidur hyung, sebaiknya letakkan di ranjang saja." Kelit Jinki. Dengan pandangan melas Jinki, mau tak mau Changmin menuruti keinginannya. Yah, Jinkinya benar-benar belum siap. Changmin tak mau memaksa.
Ratu Jung pernah menyarankan untuk mencari babysitter agar Jinki tidak begitu kerepotan nantinya. Tapi Jinki menolak, walaupun dia belum bisa merawat Yoogeun dengan benar, tetapi dia akan berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi sosok orang tua yang baik.
.
.
.
Si kecil Yoogeun kedatangan banyak tamu. Kerabat Istana datang silih berganti. Sepertinya Yoogeun mendapatkan sambutan positif. Banyak yang bilang Yoogeun imut, tampan, perpaduan pas antara Changmin dan Jinki. Sebagian bilang Yoogeun merupakan duplikat Jinki, dan mereka khawatir Yoogeun menurun sifat Changmin. Sebagian kerabat tergelak penuh tawa saat bercerita tentang Changmin sewktu kecil. Jinki tak mengira Changmin kecil begitu usil dan nakal. Sejujurnya Jinki tidak ingin Yoogeun seperti Appanya, dia tak ingin Yoogeun menjadi setan kecil. We'll see. Dari sekian banyak pengunjung Jinki memutuskan memilih Kyuhyun sebagai pengunjung tetap, karena sejak kemarin Kyuhyun tak beranjak sedikitpun dari sisi Yoogeun. Biasanya dia sibuk mencubiti pipi chubby Yoogeun. Oh ya..Progess merawat bayi Jinki masih tersendat. Percobaan selalu gagal.
"Apa kau akan terus mencubitinya seperti itu?" ujar Changmin sambil menyingkirkan tangan Kyuhyun dari pipi Yoogeun.
"Pipinya bikin gemas hyung." Kyuhyun terkekeh.
"Buat sendiri sana." Kyuhyun memutar matanya. Dia belum menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi Ibu dari anaknya kelak.
"Ini sudah waktunya makan siang. Pasti Bunda sudah menunggu dari tadi." Sahut Jinki menginterupsi. Tak mau berdebat Kyuhyun menuruti kakak iparnya. Menemui Ibundanya.
Chuppp
Chuuuppppppp
Sekarang gantian Changmin yang sibuk menciumi pipi Yoogeun. Anaknya memang benar-benar menggemaskan. Yoogeun yang sedari tidur kemudian membuka matanya. Mata bulat nya mengerjap-ngerjap dengan imut.
"Yoogeunnie terbangun hemm? Appa mengganggu tidurmu?" celoteh Changmin sambil terus menciumi pipi Yoogeun. Tak lama kemudian Yoogeun malah menangis. Lapar mungkin. Sudah waktunya makan siang kan?
Dengan hati-hati Jinki menyodorkan sebotol susu. Membungkam tangisan Yoogeun.
"Kapan kau mulai kerja Hyung?" Tanya Jinki.
"Minggu depan mungkin." Jinki sedih mendengarnya.
"Hei, mulai sekarang ada Yoogeun yang menemanimu. Kau tak sendirian lagi." Ucap Changmin buru-buru.
"Tapi aku belum bisa menggendongnya, bisakah kau cuti lebih lama lagi? Sampai aku benar-benar siap kau tinggal." Jinki mencoba bernegosiasi.
"Seperti aku akan pergi jauh saja."
"Tapi disini benar-benar tidak ada orang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"
"Babysitter?" tawar Changmin. Jinki menggeleng.
"Oke, dalam 1 minggu kamu harus sudah benar-benar bisa. Deal?" Jinki berjinjit kemudian
Chupp..
Jinki mencium pipi Changmin.
"Deal" sahut Jinki lalu nyengir. Changmin menyeringai sambil mendekat kearah Jinki. Matanya tak lepas dari bibir merah Jinki.
"Ehemm…" sebuah deheman menginterupsi keduanya.
Raja Jung sudah diambang pintu. Sontak Jinki gemetaran. Jinki tahu kalau Raja Jung belum sepenuhnya menerimanya sebagai menantu. Raja Jung ingin menantu seorang yeoja yang bisa melahirkan penerus. Tapi bukankah sudah ada Yoogeun? Harusnya Raja Jung sudah bisa menerimanya kan?
"Ayah." Ucap Changmin.
Tbc
Akhirnya chapter 1 selesai…. Semoga tidak mengecewakan.
Di prolog kemarin saya to the point sekali. Tidak ada Disclaimernya, warning, cast dan lain-lain. Kemarin saya lupa yang satu itu. Di chapter ini pun saya pura-pura lupa =.="
Soal istana-istana, Raja, Ratu, Putera mahkota dll. Anggap aja Changmin dan Jinki hidup di Negara yang dipimpin oleh raja. Raja Jung Yunho dan Ratu Jung Jaejoong. Terus soal usaha agar Jinki bisa hamil…. Ehmm anggap juga ada terobosan terbaru agar seorang lelaki bisa hamil. Untuk detail prosesnya jangan tanya saya, saya tidak tahu =.=" saya tahu ini terlalu absurb =.="
Apakah ada pertanyaan? ?_? *berasa jadi guru
Terima kasih yang udah mau review fict abal ini.
Saya tunggu kritik dan sarannya.
See you next chapter *0*
