.

.

2. Dia baik-baik saja

.

.

"Aku harus diet agar terlihat langsing saat hari pernikahanku." Kata Ino sambil mengamati cincin tunangan yang menghiasi jarinya. "Aku hanya akan pesan salad."

Sakura meletakkan buku menu yang ia pegang. "Nikmati saja saladmu. Aku akan pesan steak dan chocolate cake." Ia lalu memanggil pelayan untuk mengatakan pesanannya.

Ino lalu mendengus ketika si pelayan pergi meninggalkan meja mereka. "Kuharap kau cepat gendut."

"Kau hanya iri karena aku lebih langsing darimu meskipun aku tidak melakukan diet ketat sepertimu."

"Akui saja jika kau iri denganku karena sebentar lagi aku menikah sedangkan kau masih lajang." Wanita berambut pirang itu lalu memamerkan cincin berliannya pada Sakura.

"Apa kau memanggilku kesini hanya untuk berdebat denganmu? Jika ya, maka aku akan pergi."

"Ah! Sakura, jangan cepat marah, aku hanya bercanda." Kata Ino cepat-cepat.

"Lalu apa alasanmu memanggilku untuk menemanimu disini?"

"Aku… butuh teman bicara." Ino nampak kikuk. "Pernikahanku tinggal empat hari lagi dan aku merasa… gugup, cemas, belum siap…"

Sakura mengangkat alisnya. "Apa kau berubah pikiran?"

"Tidak! Aku ingin menikah dengan Sai, aku hanya merasa… semua ini masih belum terasa nyata."

"Sejujurnya aku tidak bisa memahami apa yang sedang kau rasakan. Aku tidak bisa memberimu saran karena aku tidak memiliki pengalaman dalam hal seperti ini. Namun jika kau mau bercerita maka aku dengan senang hati akan mendengarkan keluh kesahmu."

"Terima kasih, kau memang yang terbaik." Ino tersenyum lebar. Kemudian senyum itu menghilang dan berganti dengan raut wajah serius. "Tapi sejujurnya aku berpikir jika kau akan berakhir bersama Sasuke. Hubungan kalian dulu sangat sempurna."

Sakura tersenyum getir. "Tidak ada kata 'sempurna' di dunia ini."

"Aku belum pernah bertemu dengan istri Sasuke. Si brengsek itu tidak mengundangku saat pernikahannya dulu. Apakah dia cantik?"

Rambut indigo berponi rata, kulit lembut seputih susu, mata bening dan besar, pipi bulat, bibir menawan, hidung mungil…

"Lumayan."

"Apakah kau membencinya?"

"Aku tidak membencinya!" Kata Sakura dengan tegas. Ino memang sahabatnya, akan tetapi mulut si pirang itu terkadang sangat menyebalkan.

Ino terlihat bersalah. "Ah, maaf. Sepertinya aku sudah kelewatan."

Sakura tidak menjawabnya. Dia tidak membenci Hinata, namun dia juga tidak menyukai Hinata. Sakura memang telah menerima fakta jika ia tidak bisa menggeser posisi Hinata dari sisi Sasuke, namun ia masih tetap merasa sedih dan cemburu.

Sakura menatap Ino dengan serius. "Jika kau tetap ingin menjadi sahabatku, maka berhenti membicarakan tentang Sasuke ataupun istrinya."

Ino mengangguk dengan antusias.

.

.

Sakura memasukkan sabun mandi ke dalam keranjang belanjaannya. Setelah mendengarkan semua keluh kesah Ino dari sore hingga petang, akhirnya sahabatnya itu pergi dengan hati yang jauh lebih ringan. Apakah setiap calon pengantin pasti mengalami stress seperti itu? Entahlah.

"Ah iya, gula di dapur juga sudah habis." Gumam Sakura perlahan. Sebelum pulang ke apartemennya, ia memutuskan untuk pergi berbelanja di toserba langganannya. Hari memang sudah beranjak malam, namun masih banyak pengunjung yang berbelanja disini.

"Menurutmu mana yang lebih enak?"

Tangan Sakura yang sedang memegang sekantung gula membeku ketika mendengar suara yang tidak asing baginya.

"Terserah."

"Tapi aku mengajakmu berbelanja karena ingin meminta pendapatmu."

"Kalau begitu beli saja keduanya."

Sasuke dan Hinata.

Sakura lalu berjalan mendekati sumber suara itu untuk memastikannya. Dan itu memang benar, tak jauh darinya nampak Hinata dan Sasuke sedang berbelanja. Hinata terlihat sibuk membanding-bandingkan dua botol saus sedangkan Sasuke berdiri dengan bosan.

Sakura lalu menyembunyikan dirinya di balik rak makanan. Ketika sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, ia tertawa dalam hati. Mengapa ia bersembunyi seperti seorang pecundang?! Mengapa ia tidak ingin agar dua orang itu melihatnya?! Mengapa ia harus menghindar?! Ia tidak melakukan kesalahan yang mengharuskannya menyembunyikan wajah.

Sakura menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sakura bukan pengecut, ia akan pergi mendatangi mereka dan menyapanya. Bertemu secara kebetulan saat belanja di toserba adalah hal yang normal kan?

Sakura lalu keluar dari persembunyiannya dengan percaya diri. Namun baru tiga langkah ia berjalan, kakinya berhenti melangkah.

Hinata kini membalikkan badan dan beralih menatap deretan saus yang dipajang di rak toserba. Jari-jarinya terlihat sibuk menunjuk-nunjuk aneka merek saus yang ada dan tidak menyadari jika Sasuke sedang menatapnya.

Tenggorokan Sakura terasa tercekat. Ia memang telah mengikhlaskan Sasuke pada Hinata namun itu bukan berarti perasaannya pada Sasuke telah menghilang sepenuhnya. Ketika ia menyaksikan Sasuke yang menatap Hinata seolah-olah wanita berambut panjang itu adalah segala-galanya di dunia ini, hatinya terasa robek menjadi bagian-bagian kecil.

Sasuke memang tidak berteriak sekencang-kencangnya, akan tetapi siapapun yang melihat tatapannya saat ini pasti tahu jika sepasang mata hitam itu berteriak 'aku mencintai wanita ini'.

Sakura kembali bersembunyi. Matanya terasa pedih, begitu pula dengan hatinya. Apa yang membuat Hinata begitu istimewa sehingga Sasuke begitu tergila-gila padanya?

Apa yang dimiliki Hinata yang bahkan Sakura tidak memilikinya?

Sakura mengusap-usap matanya sambil merutuki dirinya sendiri. Bukankah ia telah berjanji untuk membuka lembaran kisah baru tanpa ada Sasuke didalamnya? Lalu apa yang ia lakukan ini?!

Sakura itu kuat. Oleh karena itu ia harus tegar dan melangkah maju.

Melepaskan Sasuke memang tidak mudah, tapi itu bukan hal yang mustahil kan?

.

.

Sasuke menatap Hinata yang tidur terlelap.

Dia masih hidup.

Hinata masih bernafas.

Dia masih hidup, dia baik-baik saja.

Hinata masih berada di sisinya.

Dia hanya tertidur, dia baik-baik saja.

Terkadang Sasuke berpikir jika ini semua hanyalah mimpi dan ia akan terbangun dan mendapati Hinata yang terbaring koma di rumah sakit dengan selang infus yang menancap di tangannya. Itu adalah saat-saat yang menakutkan. Hinata terlihat sangat rapuh, seolah-olah satu kesalahan kecil saja bisa membuat Hinata menghilang selamanya.

Sasuke lalu meletakkan jarinya di leher Hinata. Ia dapat merasakan denyut nadi yang mengalun lembut. Jarinya lalu berpindah ke arah hidung. Ia dapat merasakan dengan jelas hembusan nafas Hinata.

Dia masih hidup, dia hanya tertidur, dia baik-baik saja. Sasuke berkali-kali mengucapkan kalimat itu dalam hatinya.

Sejujurnya ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika wanita ini pergi meninggalkannya. Sasuke tidak mau membayangkan kemungkinan yang mengerikan itu.

Kegagalannya dulu hampir merenggut nyawa istrinya ini. Ia masih mengingat dengan jelas dada Hinata yang bersimbah darah. Setiap kali mengingat itu, perasaan takut menjalari sekujur tubuhnya. Ia benar-benar takut membayangkan Hinata… pergi.

Ia tidak boleh gagal lagi.

Itulah mengapa ia tidak akan berhenti sampai kebenaran mengenai kasus Obito terungkap jelas. Sasuke tidak ingin menerima kejutan yang mengerikan lagi.

Telapak tangannya kini menangkup pipi bulat itu. Hangat. Tidak lagi pucat dan dingin. Ia lalu mencubit pipi itu, berusaha membuat istrinya terbangun. Ia ingin sekali melihat sepasang bola mata berwarna lavender yang mengerjap-ngerjap dengan manis.

Ia ingin melihat jika Hinata baik-baik saja dan mampu membuka kedua matanya.

Hinata menepis tangan yang tengah mencubit pipinya. Sepasang matanya berusaha mendelik tajam meski sedang mengantuk. "Sasuke, jangan mengganggu. Aku mengantuk." Keluh Hinata sambil beralih memunggungi Sasuke.

Dia masih hidup, dia baik-baik saja.

Sasuke lalu mendekap erat tubuh mungil itu.

Asalkan Hinata baik-baik saja maka ia juga akan baik-baik saja.

.

.

"Si pengantin wanita sangat cantik." Kata Hinata sambil mengamati sosok Ino Yamanaka yang terlihat mempesona dengan gaun pengantinnya. Ia lalu tertawa perlahan. "Si pengantin pria mirip denganmu."

"Hm." Jawab Sasuke dengan nada khasnya.

"Sai-san sangat mirip dengamu. Kalian berdua memiliki mata hitam dan rambut gelap. Ah, juga kulit putih!"

"Mana mungkin kami berdua mirip, aku ribuan kali lebih tampan bila dibandingkan dengannya."

Hinata mendecih perlahan. Dasar pria arogan. Jika dibandingkan, Sai justru terlihat lebih ramah daripada Sasuke si muka kaku.

Pesta resepsi pasangan Sai-Ino berlangsung dengan sangat meriah di hotel bintang lima. Semua tamu undangan yang hadir memakai pakaian bagus, sepertinya mereka semua berasal dari kalangan atas.

Ini adalah kali pertama Hinata menghadiri sebuah pesta resmi bersama Sasuke. Suaminya itu terlihat menawan ketika memperkenalkan Hinata sebagai 'istrinya' pada semua teman dan kenalannya. Hinata tahu ia telah lama menjadi nyonya Uchiha, akan tetapi ketika ia mendengar kalimat 'perkenalkan, ini adalah istriku' hatinya terasa berbunga-bunga. Rasanya ia seperti telah diterima sepenuhnya.

"I-ini pertama kalinya a-aku menghadiri acara semewah ini." Bisik Hinata dengan malu-malu. Pesta pernikahannya dulu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pesta pernikahan Sai-Ino. Bahkan gaun pengantin Ino bertabur berlian dan kristal.

Sasuke mengangkat alisnya. "Kau tidak pernah diundang dalam acara yang diadakan Hyuuga?"

Uhh… Hinata berusaha membolak-balik memori di kepalanya.

"A-aku terlalu pemalu sehingga jarang pergi ke tempat yang ramai."

"Ck, kau benar-benar menyedihkan."

Hinata mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menolak berkomentar. Ia memang kuper dan culun, oke?! Bahkan ia sendiri tidak membantah kenyataan itu.

Perhatian Hinata lalu teralihkan oleh kehadiran dua orang yang mendatangi mejanya.

"Bolehkah kami ikut bergabung?" Tanya Naruto.

Hinata tersenyum ramah. "Tentu saja, silahkan."

.

.

"Apakah kau mau bergabung bersama Sasuke dan Hinata?" Tanya Naruto.

"Tentu." Jawab Sakura dengan santai. Tidak ada alasan baginya untuk berlari dan menghindar.

Sayang sekali Sakura tidak sadar jika Naruto menggunakan kesempatan ini untuk mengetahui apakah Sakura masih menyimpan perasaan untuk Sasuke.

Nampaknya Sasuke dan Hinata tidak keberatan jika ia dan Naruto turut bergabung bersama di meja mereka. Sasuke terlihat dingin dan tenang seperti biasa sedangkan Hinata sekarang jauh lebih ramah padanya. Wanita bermata bening itu tersenyum tulus padanya dan menyapanya dengan ramah. Tidak ada sikap yang dibuat-buat dalam dalam diri Hinata saat ini. Sakura tersenyum masam. Hinata telah menang, tidak mungkin lagi ia mengibarkan bendera perang pada Sakura seperti dulu.

Hinata terlihat menawan hari ini dengan gaun berwarna biru muda dan riasan tipis di wajahnya. Lugu dan manis, itu adalah kesan yang ditangkap oleh Sakura setiap kali melihat Hinata. Sakura lalu menundukkan pandangannya dan mengamati taplak putih polos yang menutupi meja di hadapannya. Apakah wanita yang disukai oleh Sasuke adalah seseorang yang lugu, polos, dan manis seperti Hinata? Sakura bukan seperti itu, tak mengherankan ia kalah.

Sakura tersadar dari lamunannya ketika Naruto menyenggolnya perlahan.

"Apa kau tidak apa-apa? Aku memanggilmu beberapa kali namun kau hanya diam saja." Tanya Naruto.

Sakura mencoba tertawa. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit lelah karena sejak pagi buta aku harus membantu Ino mempersiapkan semuanya."

Naruto menganggukkan kepalanya. "Ah, begitu rupanya."

Sakura lalu memasang senyum sambil berusaha menyimak Naruto yang sedang menceritakan tentang hal-hal memalukan yang dialami Sai menjelang hari pernikahannya. Sasuke mendengarkan cerita Naruto dengan raut wajah bosan, berbeda dengan Hinata yang terlihat antusias dan sesekali mengomentari perkataan Naruto. Sakura lalu mengigit bibirnya, mereka berdua benar-benar bertolak belakang. Bagaimana mereka berdua bisa berakhir bersama?

Sakura lalu mengeluarkan ponsel yang ia simpan di tasnya, berusaha mencari kesibukan. Ia sedikit merasa menyesal karena telah menyetujui ajakan Naruto untuk bergabung bersama mereka berdua. Diantara sekian banyak meja mengapa Naruto justru memilih duduk bersama Sasuke dan Hinata?! Dan mengapa pula Sakura menyetujuinya tadi?!

Beberapa menit telah berlalu ketika Sakura selesai membalas semua pesan masuk di ponselnya. Ketika ia mengangkat wajahnya kembali, Naruto terlihat sibuk menyantap makanannya sedangkan Hinata tengah membisikkan sesuatu ke telinga Sasuke. Samar-samar Sakura mampu mendengar apa yang tengah dibisikkan Hinata.

"Sasuke, gaya rambut nyonya bergaun merah menyala itu mirip seperti spaghetti."

Sakura lalu melirik ke arah nyonya yang dimaksud oleh Hinata. Si nyonya itu memiliki rambut pirang yang ditata mancung ke atas mirip spaghetti yang digulung. Di pucuk rambutnya, ada hiasan bunga merah besar, mirip seperti saus yang dituangkan ke atas pasta.

Sakura mengerutkan dahinya. Mengapa Hinata mengatakan hal-hal konyol seperti itu? Mana mungkin Sasuke tertarik mendengar hal bodoh semacam-

Oh…

Tepat di depan matanya, Sasuke tersenyum. Sepasang mata hitam yang tajam itu nampak melembut. Kebekuan yang sangat familiar disana perlahan mencair oleh kehangatan yang terpancar secara tidak sengaja.

Dada Sakura terasa sesak ketika ia menangkap kejujuran dan cinta yang dikatakan oleh sepasang mata Sasuke untuk Hinata.

Ia lalu mengalihkan pandangannya. Ia tidak mampu berlama-lama menyaksikan sesuatu yang bisa membakar jiwanya.

Sakura tidak sadar jika Naruto memandanginya lekat-lekat.

.

.

Hinata sedikit kikuk berjalan dengan menggunakan sepatu hak tinggi, itulah mengapa ia selalu berjalan dengan ekstra hati-hati. Meski begitu, terkadang kakinya mengalami 'kecelakaan' seperti yang tengah ia alami saat ini. Ujung kakinya tersandung karpet yang sedikit menggembung dan membuat tubuhnya oleng ke depan.

Sebelum Hinata bisa mencium lantai, sebuah tangan kekar menarik lengannya dari belakang dan membuat Hinata kembali mendapatkan keseimbangannya. Sebelum Hinata sempat mengucapkan terima kasihnya, orang itu justru menyelipkan sebuah lipatan kertas ke tangannya.

Secara refleks, Hinata langsung menggenggam kertas itu. Hinata lalu berusaha berbalik dan menatap orang yang telah memberikan sesuatu padanya. Sayang sekali orang itu langsung berbalik dan pergi menyelinap diantara kerumunan tamu yang pergi meninggalkan acara.

Siapakah dia? Apakah yang dia inginkan?

Hinata tidak bisa melihat dengan jelas siapa sosok itu. Yang Hinata tahu hanyalah dia adalah seorang pria berambut gelap dengan tubuh tinggi dan berperawakan sedang. Hinata lalu menyimpan kertas itu ke dalam tasnya. Apapun itu, ia tidak mungkin membukanya disini secara langsung.

Hinata terlonjak kaget ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang.

"S-Sasuke! K-kau membuatku terkejut! Me-mengapa kau lama sekali?"

"Aku hanya pergi selama tiga menit untuk berbicara pada Sai. Itu tidak lama." Kini ia meraih pundak Hinata untuk menggiringnya pergi. "Ayo pulang."

"O-oke."

.

.

Hinata mengunci pintu kamar mandi rapat-rapat. Ia tidak ingin diganggu ketika sedang berusaha membuka kertas ini.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Hinata perlahan-lahan membuka lipatan kertas itu.

Dunia Hinata seakan jungkir balik ketika membaca dua kalimat yang tertulis di kertas itu.

Kau seharusnya tidak berada di kisah ini.

Keberadaanmu menghancurkan alur yang telah ditentukan.

Mengapa orang ini… tahu tentang alur kisah kehidupan Hinata Hyuuga?

Siapakah orang ini sebenarnya?

.

.

Move on memang sulit, hadew…

Terima kasih untuk semua respon dan reviewnya^^

Saya merasa sangat senang karena banyak yang masih mau mengikuti cerita saya. Love you all!