LONG Distance
.
.
Sunny Blue February
Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi
Peringatan: OOC & typos (maybe?) AU, AH, No Bashing Chara
.o.O.o.
Chapter 1: Wake Up!
.. Dunia Langit ..
Dunia berwarna putih dengan langit-langit tanpa batas membuat gadis yang telah menjadi seorang ibu ini memandang langit putih dengan pandangan kosong, seperti merasakan kalau jiwanya menghilang entah ke mana.
Dunia langit ini memang menjadi tempat untuk memberikan kedamaian daripada di dunia manusia. Dunia manusia tidak lagi indah karena tidak ada sosok pemuda berambut biru dongker di sana. Rumah keluarga Uchiha yang pernah didatanginya bersama Sasuke dan beberapa teman-temannya menghilang ditelan Bumi.
Sedangkan teman-temannya tiba-tiba kehilangan ingatan, tidak mengingat Sasuke dan Sakura lagi juga kejadian di taman hiburan beberapa tahun lalu.
Sakura menutup matanya sambil mengangkat tangan ke atas, dan berdiri di sebuah jurang yang bukan jurang biasa. Ini adalah jurang untuk seorang pengkhianat. Kenapa Sakura berada di tepi jurang pengkhianatan?
"Sasuke..." Sakura meneteskan air mata terus mengangkat tangannya untuk mengambil sesuatu. Dia memajukan langkahnya. Sakura masih menutup matanya dan tidak tahu kalau dia dalam bahaya.
"Ibu..." suara murni dan seperti nyanyian itu membuat langkah Sakura terhenti. Dia membuka matanya dan menoleh ke anak perempuan cantik berambut biru dengan kedua bola mata emerald.
"Hana?" kata Sakura pelan masih melihat anak perempuan berusia tiga tahun tengah berjalan mendekatinya.
"Ibu mau apa? Mau ke mana? Kenapa Ibu beldili di syitu?" tanyanya seorang anak perempuan yang polos.
Sakura malah meneteskan air matanya sebanyak mungkin. Dia berlari memeluk Hana penuh kasih sayang. Saat memeluk anaknya erat, dia juga melihat dua anak kembar cowok sedang memandangnya sendu.
"Ibu menangis?" Hiro melihat ibunya menangis, menghapus air mata tersebut memakai jari mungilnya sambil tersenyum hangat. Ada sebuah cahaya di dalam anak itu, rambut berwarna merah muda dan bola mata sebiru langit angkasa membuat Hiro yang artinya pahlawan menjadi bersinar di mata Sakura.
"Jangan menangis. Kalau ibu menangis, kami juga ikut sedih," kata balita seusia tiga tahun berambut biru dengan bola mata hitam tapi beriris emerald di sudut matanya. Ini adalah anak yang tidak memiliki arti apa-apa, tapi arti untuk Sakura kepada Menma adalah hatinya yang jujur bagaikan malaikat.
Sakura kembali meneteskan air mata memeluk kedua bocah laki-laki tersebut. Sakura sangat bersyukur bisa memiliki mereka, namun itu tidak bisa disyukuri lagi karena sang pendamping tidak bersamanya.
"Ibu, jangan menangis. Kami mohon," hibur Hiro.
"Ibu tidak akan menangis lagi," Sakura menghapus air matanya memakai punggung tangannya. Dia berdiri, membungkukkan badannya kepada mereka. "Apa kalian sudah makan?"
"Sudah. Tapi..." Hiro menunduk kepalanya. "Kami tidak akan makan kalau ibu tidak makan bersama kami."
Sakura terkejut mendengar kalimat Hiro. Balita bermata biru itu hanya tersenyum hangat saja saat mengangkat kepalanya menatap mata emerald Sakura.
"Kalau begitu, ibu ikut kami makan bersama. Sudah dipanggil bibi Temari dan bibi Tenten lho." Hana menarik tangan Sakura. Tangan mungil yang hangat membuat Sakura terhanyut.
"Baiklah, kalau itu keputusan kalian bersama," jawab Sakura berjalan ke ruang makan bersama ketiga anak kembarnya.
Tidak lama setelah itu, mereka berempat telah tiba di ruang makan di mana Temari dan Tenten sedang mempersiapkan makanan di meja makan, di rumah Sakura atau bisa dibilang rumah terdahulu Kizashi.
"Kamu sudah pulang, Sakura?" tanya Tenten menghampiri Sakura sambil mengelap kedua tangan memakai serbet.
"Sudah. Mereka memintaku untuk makan bersama. Apa masih ada makanan?" tanya Sakura lemah.
"Masih ada," jawab Tenten tersenyum. Sebenarnya Tenten melihat ekspresi wajah Sakura agak pucat. Apa mungkin Sakura sakit? Pikir Tenten merasa aneh dengan keadaan Sakura yang terlihat lemah.
Sakura berjalan tertatih-tatih. Langkahnya seperti terhuyung membuat Sakura terjatuh dan pingsan. Ini membuat tiga anak kembar panik dan cemas, begitu juga Tenten dan Temari.
"SAKURA!" teriak Tenten dan Temari mendekati Sakura. Kepala Sakura diangkat ke pangkuan Temari, memegang dahi dan denyut nadi di pergelangan tangannya. Untunglah masih berdetak walau masih lemah, namun suhu Sakura betul-betul sangat dingin.
"Bagaimana keadaan Sakura?" tanya Tenten menatap Temari yang semakin cemas.
"Masih bernapas, tapi suhu tubuhnya sangat dingin begitu juga dengan denyut nadi yang lemah. Sepertinya Sakura terus berusaha memaksakan diri untuk bergerak," gumam Temari sambil berbisik-bisik kepada Tenten agar ketiga anak kembarnya tidak kecewa.
"Kita harus bertemu seseorang untuk menyelamatkan Sakura!" seru Tenten ingin beranjak berdiri, tapi tangannya ditarik Temari. "Ada apa, Temari?"
"Kita bawa saja Sakura ke langit tingkat sepuluh. Di sana mungkin ada seseorang yang bisa memberikan solusi," Temari berhenti sejenak, melirik ketiga anak kembar. "Kamu lebih baik temani anak-anak Sakura agar tidak mengikutiku ke mana aku pergi. Mengerti?" Tanpa menoleh, Temari meminta Tenten untuk menjaga ketiga anak kembar Sakura.
"Baiklah..." kata Tenten hati-hati dalam berbicara.
Temari menggendong Sakura ala bridal style. Temari menutup mata dan menghilang sekejap. Ketiga anak kembar terlihat kebingungan, kenapa hanya mereka bertiga, anak-anaknya tidak diberitahu.
"Apa yang terjadi bibi Tenten?" tanya Hana menarik-narik celemek Tenten. "Kenapa dengan ibu Hana?"
Tenten membelai rambut berambut biru pendek sebahu. Mata anak perempuan balita tersebut berkaca-kaca, ingin sekali mengetahui apa yang terjadi pada ibunya. Tentu saja Menma juga ingin sekali mengetahui kenapa ibunya dibawa pergi tanpa bicara sama mereka. Mungkin hanya anak kedua saja tidak berbicara.
"Ibu kalian pasti baik-baik saja. Bibi yakin sekali akan itu," Tenten tersenyum lembut kepada ketiganya agar mereka tidak terlalu khawatir.
"Benarkah?" Hana dan Menma tersenyum gembira. Hiro yang jelas tidak mengatakan apa pun, hanya terdiam sekali.
"Iya." Tenten melihat Hiro. "Kamu kenapa Hiro?"
Hiro terkejut dan tersenyum saja, tidak bilang apa-apa.
Tenten merasa ada yang disembunyikan oleh anak ini. Sesuatu membuat anak kedua memiliki mata seindah langit yaitu biru hanya tersenyum seolah ingin mengatakannya. Mengatakan hal-hal yang paling diketahui selain kakak dan adiknya.
"Lebih baik kita makan dulu. Ya?" ajak Tenten meminta ketiga kembar untuk makan bersama dengannya.
"Baik!"
Mereka bertiga pun makan bersama. Mereka tidak mengatakan apa-apa. Soalnya cara makan dunia langit tidak boleh berisik ataupun ribut. Itu karena ini sudah tradisi dunia langit, saat makan tidak boleh ribut.
Setelah selesai makan, si kembar diantar ke ruangan tempat di mana teman-teman Naruto mengajarkan mereka kekuatan dan ilmu-ilmu terdalam sekalian mengenal dunia Langit. Mereka belum pernah bertemu dengan Petinggi Langit dan Naruto. Di usia mereka yang masih muda, tidak boleh sekalipun bertemu kalau bukan lima Master Kage mengizinkannya.
Mereka diajari cara pertarungan dan juga mendapatkan kekuatan dari dalam hati. Hana diajari oleh Temari, Tenten dan Chouji. Hiro diajari oleh Lee, Kankurou, dan Killer Bee. Sedangkan Menma diajari oleh Shikamaru, Gaara dan Kakashi.
Entah kenapa hanya Menma saja yang boleh diajari ketiga orang terhebat ini? Hana yang bisa menyadarinya dan Hiro bisa mengetahui apa yang terjadi di masa depan, pasrah dalam melakukannya karena Menma memiliki kekuatan sama seperti sang ayah yang mereka tidak tahu.
.o.O.o.
.. Dunia Manusia ..
Dunia yang masih sama seperti empat tahun lalu, semua penduduk bumi ini memang tidak pernah berubah. Sejak kepergian Sasuke, Sakura dan Naruto, kedamaian dunia manusia terancam habis karena banyak sekali pertarungan, perkelahian dan hal-hal yang tidak baik membuat kehancuran bumi diambang jurang terdalam.
Hal ini dikarenakan sang penyangga dunia manusia yang tidak lain adalah keluarga Uchiha menghilang. Kenapa keluarga Uchiha menjadi penyangga dunia manusia? Alasannya keturunan malaikat dan manusia adalah Uchiha Mikoto, dan Uchiha Fugaku adalah keturunan Iblis. Ketiga dunia ini hanya boleh disangga oleh seseorang yang memiliki ketiga keturunan tersebut. Kalau keturunan itu menghilang, penjagaan untuk dunia manusia sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah kehancuran.
Laki-laki yang tengah berdiri di depan gedung habis hancur dan rubuh, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Laki-laki ini adalah Rikuudo dan di sebelahnya adalah Tsunade.
"Sepertinya dunia manusia menjadi hancur sedikit demi sedikit," kata seorang perempuan berambut kuning.
"Itu karena ulah mereka sendiri yang tidak mau belajar mengurus kehidupan mereka sendiri," ujar Rikudo tidak menyukai keegoisan manusia yang hanya meminta kepada sang penyangga untuk melindungi dunianya.
"Hebat sekali para orang-orang dunia manusia yang selalu mementingkan keegoisan dan keras kepala mereka itu. Apa mereka selalu begitu?"
"Seharusnya dunia di mana kita tinggal harus dijaga seutuhnya dari mala petaka seperti bencana, namun jika tidak dilakukan maka akan menjadi seperti ini. Hancur lebur sedikit demi sedikit karena sifat-sifat kejam dan hawa nafsu manusia."
Keduanya terdiam masih memandang pemandangan mengerikan ini. Tidak semua orang bisa mengembalikan keadaan seperti semula, sebuah kedamaian. Apakah ini adalah akhir dunia?
"Apa berarti dunia ini akan..." Tsunade tidak melanjutkan kalimatnya karena Kurenai telah muncul.
"Bagaimana keadaan dia, Kurenai?" tanya Rikuudo tanpa menoleh sedikit pun.
"Dia memang sudah menyangganya di setiap langkahnya. Saya tidak tahu dengan kemampuannya yang terbilang luar biasa itu, Rikuudo-sama," sahut Kurenai sambil menundukkan kepala.
"Siapa dia, Rikuudo-sama?" Tsunade sangat penasaran siapa orang yang selalu dirahasiakan sang petinggi langit pada saat menyuruh anak buahnya.
"Kamu akan tahu, Tsunade." Rikuudo berbalik. "Ikutilah dia terus. Jangan sampai kehilangan jejak. Kalau dia datang ke tempat ini, segera bilang kepadaku."
"Baik!" Kurenai menghilang sesuai arah angin.
Rikuudo menatap langit. Langit berwarna jingga. Warna yang cocok di tengah kekacauan ini. "Lebih baik kita pulang. Kita tidak menemukan mereka di sini, Tsunade."
"Baiklah, Rikuudo-sama."
Tsunade dan Rikuudo menghilang. Di tengah kekacauan dan keributan yang diakibatkan ulah manusia, mau tidak mau mereka harus melakukan sesuatu. Entah itu apa.
.o.O.o.
.. Dunia Bawah ..
Pemuda berambut merah sedang merenung tidak karuan sambil melakukan sesuatu yang tidak lain adalah memasak buat dirinya dan keluarga Uchiha. Seharusnya ini menjadi pekerjaan Konan dan Kabuto, namun mereka tidak berada di sini dikarenakan mengikuti Uchiha Sasuke.
"Hari ini membuat moodku tidak baik saja," Nagato mematikan kompor, terus merenung menatap jendela kosong. "Mereka tidak ada di sini membuatku jadi malas."
"Apa kamu sudah selesai memasak, Nagato?" Obito membawa sekumpulan ikan-ikan yang dipancingnya di dunia manusia.
Nagato malas menjawab. Sebenarnya yang bisa memasak juga adalah Uchiha Mikoto dan Uchiha Obito. Hanya Uchiha Obito-lah yang bisa melakukannya tanpa pengarahan pasti.
Obito membuka penutup panci dan bau harum menyengat di hidung membuatnya tambah lapar. "Ini bisa menjadi sarapan untuk kita."
"Kapan mereka akan pulang, ya?" tanya Nagato menyandarkan punggung di pinggiran meja.
"Aku merasa mereka akan pulang. Mungkin empat tahun lagi untuk dunia manusia," sahut Obito sambil mencicipi sup hangat di panci. "Hmmm... enak sekali." Obito menutup panci. "Kamu hebat bisa membuat masakan walaupun sering merenung."
"Apa Mikoto-san baik-baik saja?" tanya Nagato sangat mengkhawatirkan kondisi Mikoto yang kian hari menjadi tidak baik.
"Dia tidak mau makan sekalipun. Dia masih terus saja mengkhawatirkan Itachi ketimbang Sasuke," jawab Obito yang tidak memakai topengnya.
"Masih dia!?" Nagato mengangkat alisnya. "Seorang calon penyangga hanya berkeliling dunia untuk menjaga stabilitas dunia? Apa dia tidak memikirkan orang tuanya?"
"Dia juga harus mencari beberapa orang untuk menyelamatkan adik kesayangannya. Bukankah itu tugas seorang kakak untuk melindungi adiknya?" Obito mengangkat panci tersebut dan menuangkan ke cawan untuk diberikan kepada keluarga Uchiha. "Aku mengantar ini dulu baru berbicara denganmu."
"Tidak usah. Bantu aku saja membersihkan kandang monster dari lantai atas ke lantai bawah," kata Nagato mengambil pembersih rumah tangga.
Obito berkeringat dingin. "Rasanya bikin capek kalau tidak ada mereka," kata Obito mengeluh.
"Akhirnya kamu mengeluh juga sama sepertiku," Nagato berjalan ke depan melewati Obito yang sweatdrop.
Topeng Obito tidak digunakan, itu berarti bahwa dia masih sama seperti manusia, berbicara yang seharusnya. Bukan seperti malaikat ataupun orang dunia bawah. Itulah kenapa, dia menjadi diri sendiri daripada menjadi Tobi, sang anggota Akatsuki.
Obito memang berniat akhirnya membersihkan ruangan-ruangan milik anggotanya. Tentu saja anggotanya memang sangat menyukai kebersihan agar kestabilan Dunia Bawah dan Dunia Langit bisa terjaga walaupun dunia Manusia menjadi sangat hancur.
Obito pergi ke danau di mana biasanya Kisame suka berada di situ untuk memberi makan hiu-hiunya. Di sana ada Mikoto sedang memandang hiu-hiu yang ingin minta makan. Sejujurnya Obito tidak tega melihat wajah murung dan kurusan milik Mikoto. Fugaku saja tidak bisa membuat Mikoto ceria kembali. Entah apa yang membuat dia menjadi begitu.
"Aku membawakanmu makanan sebuah sup hangat. Kamu harus makan sambil menunggu Itachi dan Sasuke pulang," Obito mengarahkan bowl ke depan wajah Mikoto. Mikoto menggeleng. Lalu, Obito menaruh bowl itu di sampingnya dan duduk juga. "Lebih baik kamu makan daripada kamu sakit."
"Aku bukan hanya memikirkan Sasuke dan Itachi saja. Aku terus memikirkan pemuda bernama Naruto," Akhirnya Mikoto berbicara walau dengan suara lemah.
"Masih pikirkan itu?" Obito yang satu-satunya mengetahui apa yang ada di pikiran Mikoto.
Sejak hari di mana para malaikat membawa Sakura dan Naruto pingsan, keluarga Uchiha dan anggota Akatsuki yang tersisa juga ikut menghilang di muka bumi. Tidak ada yang mengetahui mereka lagi. Berkat keputusan bersama antara dua dunia, mereka menghapus semua ingatan yang mengenal mereka. Tidak ada orang lagi yang mengetahui sosok mereka lagi.
Sejak itu juga Mikoto terus bertanya-tanya di mana pemuda bernama Naruto tinggal. Itu membuat Fugaku dan Madara kebingungan. Apa maksud perkataan Mikoto dan kenapa dia kenal dengan orang bernama Naruto? Itu terus membuat mereka menjadi bingung dan kesal.
Mikoto akhirnya mengatakan rahasianya kepada Obito saja setelah melepaskan topeng Tobi. Rahasia yang telah membuat Obito terdiam seribu bahasa. Dia tidak menyangka kalau Naruto adalah seorang kakek buyut Sasuke dan Itachi, juga Kakek Mikoto. Betul-betul dunia yang sangat sempit, dan ini juga bukan kebetulan belaka.
"Memang tidak ada namanya kebetulan. Semuanya adalah suratan takdir Tuhan. Aku saja masih belum mengerti penjelasanmu saat kamu menceritakan itu. Semoga saja besok, hari-hari ke depan, bulan-bulan depan dan tahun-tahun depan bisa menjawab semuanya." Obito menghirup napas dan membuangnya. "Asal kamu makan dan tidak membayangkan itu lagi sebelum Tuhan mempertemukan kita lagi dengannya. Dan waktu yang bisa melakukannya."
Mikoto menoleh ke Obito. Dia tersenyum. Akhirnya dia mengambil bowl tersebut dan memakannya.
Obito lega. Dan pikiran masih menjalar di dalam otaknya. Seharusnya Mikoto mati di tangan semua monster milik Akatsuki, kenapa mereka tidak membunuhnya? Apa karena kekuatan Naruto yang merupakan malaikat suci telah melindunginya. Betul-betul anak yang hebat dan lincah. Pantasan saja mirip dengan Sasuke. Pikir Obito dalam hati sambil memandang hiu-hiu minta makan.
"Aku akan memberikan kalian sebuah makanan besar yang aku dapatkan di dunia manusia," Obito melemparkan makanan daging ayam yang didapatkannya di dunia manusia. Hiu-hiu itu berebut memakan makanannya. Obito merendahkan bahu dan menyangga pipinya sambil berjongkok, memandang hiu-hiu berebut makanan. "Esok semoga menjadi lebih baik."
.o.O.o.
.. Empat tahun kemudian .. (Dunia Langit)
Sudah empat tahun berlalu dan semuanya tidak berubah kecuali anak-anak kembar yang tengah bertengkar di lorong-lorong gedung putih bercahaya. Mereka berdebat soal apa yang pernah diajarkan oleh Master Kazekage. Tentu saja itu soal hati mereka yang mengetahui apa yang terjadi.
"'Kan sudah aku katakan kalau aku tidak ada hubungan dengan itu semua. Kenapa kamu selalu membuat aku yang melakukannya, Hiro?!" teriak Menma marah pada saudara kembarnya yang berambut biru ini.
"Aku tidak memarahimu, hanya saja... kekuatan itu tidak cocok untukmu dan menggunakan secara sembarangan. Kasihan 'kan ibu, kalau melihatnya," sahut Hiro juga kesal atas perilaku Menma kepadanya.
Empat tahun berlalu, sejak Sakura tertidur di usia mereka tiga tahun waktu itu. Sakura belum sadar sepenuhnya, matanya yang berwarna emerald menjadi kosong dan hampa. Entah kemana hatinya dan jiwanya pergi. Banyak yang mengira kalau jiwanya ada di dunia mimpi. Dunia tenang tanpa ada orang yang mengetahuinya.
Ini menjadi pengetahuan Hiro yang tidak terlalu khawatir pada ibunya karena sudah tahu dari awal. Ibunya juga seorang keturunan setengah malaikat dan setengah manusia bisa merasakan sesuatu ke depannya. Itulah kenapa Sakura bisa mengetahui kalau anak-anaknya memiliki kekuatan khusus dari awal saat kandungan berusia lima bulan.
Makanya Sakura tertidur dan jiwanya yang terbang ke alam mimpi. Sudah beberapa tahun semua kekuatan dan nasehat untuk membawa Sakura pulang, tidak bisa membawa hasil karena Sakura lebih nyaman di dunia mimpi ketimbang dunia Langit ataupun dunia Manusia.
Kalau tidak ada Sasuke memang begitu, tapi bagaimana dengan anak-anaknya. Apa Sakura berniat meninggalkannya di mana semua anak-anak butuh pengajaran dari sang orang tua? Tentu saja Hiro bisa mengerti kenapa ibunya berbuat begitu, itu karena ada sosok orang yang bisa mengajarkan apa arti hidup sambil mencari sang ayah yang dia lihat melalui kekuatannya.
Hana dan Menma memang tidak mengetahuinya, tapi mereka yakin kenapa ibunya lebih memilih berada di dunia itu. Sudah saatnya mereka belajar mengetahui semuanya walaupun mereka tidak tahu siapa sosok orang yang akan membantu mereka mencari ayah kandung mereka.
"Bisakah kamu berhenti memarahiku, M-e-n-m-a!" Hiro sangat kesal saat Menma memarahinya. Yah, memang sih, kalau Menma lebih tua darinya, tapi jangan sampai hatinya sakit gara-gara dia.
"Bukannya kamu duluan yang memarahiku untuk tidak memakai kekuatan ini?!" geram Menma dengan ekspresi marah.
"Jangan bertengkar kakak-kakak. Hana mohon kepada kalian..." isak Hana berkaca-kaca menghentikan pertengkaran dua kakak paling dia sayang.
"Diam kamu, Hana!" teriak Menma tidak sadar dengan ucapannya.
"Kenapa kamu memarahi Hana, Idiot!" Hiro memarahi Menma, menghampiri Hana sudah meneteskan air mata akibat perlakuan Menma. "Jangan menangis, Hana. Menma tidak bermaksud memarahimu."
"Hana tahu, kak Hiro." Air mata Hana diseka oleh Hiro. Hana menatap Hiro dan tersenyum.
Menma tidak merasa enak, mendekatinya dan mengusap-usap rambut Hana. Wangi rambut Hana membuat Menma merasa tenang dan merasa bersalah apa yang dilakukannya kepada adiknya. "Maafkan kak Menma, ya, Hana." Menma memeluk Hana yang lebih pendek darinya. "Aku tidak akan memarahimu lagi. Asal kamu janji jangan menangis."
"Hana mengerti, kak Menma." Hana memeluk erat Menma. Memang rasanya sangat nyaman kalau ada dua orang yang paling di sayangi ada di sisi kita bersama.
"Sudah. Lebih baik kita pulang karena bibi Temari sudah memasak sesuatu untuk kita," kata Hiro menepuk bahu mereka masing-masing.
Keduanya melepaskan pelukan dan mengangguk.
Ketiga melanjutkan perjalanan menuju langit tingkat tujuh di mana tempat tinggal Temari berada. Setelah itu, Hana berhenti dan melihat pintu besar tinggi menjulang ke atas. Hana sangat penasaran dan membuka pintu tersebut. Walau sangat berat, Hana akhirnya bisa membukanya dengan kekuatan hatinya yang lembut.
Di sana dia melihat sosok orang tertidur begitu dengan binatang jingga kemerahan berbentuk Rubah. Hana bisa melihat dengan baik kalau wajah tidur itu agak mirip dengan wajah kakaknya Hiro, hanya rambutnya yang berbeda. Rambut kuning keemasan seperti matahari yang terbit di Timur.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Hana?" tanya Menma masuk ke dalam ruangan tersebut bersama Hiro. Menma melihat sosok orang yang tertidur. "Siapa dia?"
"Hana tidak tahu, kak Menma," Hana menggeleng.
Hiro mendekati sosok tertidur itu. Wajahnya agak mirip dengannya, tapi rambutnya berbeda. Entah kenapa kalau sosok yang ada di dalam mimpinya sangat mirip dengan orang tertidur ini.
"Mungkin orang baru, " kata Menma paling malas kalau berurusan dengan sesuatu yang bukan urusannya.
Hiro dan Hana menekan kulit kuning langsat tersebut, menekan-nekan hingga sang pemilik merasa gelisah. Menma yang melihat tingkah saudara kembarnya hanya termangu. Menma paling tidak suka mengganggu sesuatu yang bukan urusannya. Saat dia melihat Rubah berekor sembilan, perasaan untuk mengganggu langsung menancap di hatinya. Menma berjalan dengan sok menendang perut besar Kyuubi.
Rubah tersebut meraung dan membuka matanya. "Kenapa kamu menggangguku, anak kecil sialan!?" geram Kyuubi menatap Menma.
"Hanya hiburan karena adik-adikku terus mencubit orang itu," kata Menma menunjukkan siapa memakai jempolnya.
Kedua mata Kyuubi melebar. Di sana dia bisa melihat Naruto sangat kesal dan memarahi kedua anak kembar tersebut.
"Bisakah kalian tidak membangunkanku!" teriak Naruto marah yang akhirnya bangun, tapi merasa kesal.
"Selamat datang wahai pemuda penyelamat," sahut Hiro dengan wajah datar sambil memeluk Hana yang gemetaran ketakutan.
"Hah!?" Sosok bernama Naruto memandang keduanya yang sangat mirip walau rambut berbeda, juga sosok bocah berusia delapan tahun di belakang mereka. Wajah mereka sangat mirip dia, Sasuke dan Sakura. "Kalian siapa?"
"Kami adalah anak dari Haruno Sakura. Salam kenal, Naruto atau aku sebut Paman Naruto."
.o.O.o.
A/N: Woaah... Akhirnya bisa membuatnya. Untuk kalian yang belum di jawab dalam via PM, saya akan menjawabnya di sini saja, ya? Mulai dari yang paling bawah
ca kun: sudah ter-update lho
yukarindha yoshikuni: sudah. Saya sudah meng-update. Makasih sudah mereview
Neerval-Li: Karena semua jawaban Neerval terjawab lewat via PM, saya hanya berterima kasih karena sudah mereview fict ini.
Kiriko Mahaera: Terima kasih, Soyu.
Nurrafa Chimarae: Menma artinya sudah ada di atas. Hiro juga ada. Kalau Hana, sudah tahu 'kan? Makasih sudah me-review. ^^
Uchiha Shige: Makasih ^^. Update kilat sudah terlaksana.
Uchizuki RirinIin: Makasih, Iin. ^^
Killua Socchii: Sasuke-nya tidak ada. Chapter esok akan dibuktikan, Sasuke-nya ada atau tidak. ^^
A4 Project: Makasih sudah me-review!
hiruma hikari: Saya sudah update lho. Makasih sudah mereview
Aden L Kazt: Makasih sudah me-review dan juga terima kasih atas pujiannya. Sengaja kok membuatnya, yang ada tiga fict. Always, LONG Distance, dan The Future.
Saya senang sekali bisa melihat review dan terima kasih sudah membacanya . Saya akan meng-updatenya bulan depan. Mungkin? Harap ditunggu dengan sabar, ya! ^^
Salam hangat,
Sunny Blue February
Date: Makassar, 11/29/2012
Update Date: 11/28/2012
Silakan berminat jika ingin melakukannya ^^
