LOVE LIKE THIS
Chapter 2 : Pouring Rain in Wonwoo's Eyes
Chaptered – Mingyu X Wonwoo – Boys Love
"Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
Di biarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu"
Sapardi Djoko Damono
"Jadi, aku rasa ada yang harus kalian jelaskan padaku. Silahkan." Tatapan tajam yang di berikan Joo Young ssaem pada kami rasanya tidak mempengaruhi salah satu dari kami untuk buka suara. Nyatanya aku hanya menundukkan kepalaku, percampuran dari rasa malu karna telah membuat seisi kelas atau bahkan satu sekolah heboh atas tindakanku yang cukup ekstrim, dan juga rasa takut yang tak mungkin lepas dari diriku mengingat Joo Young-ssaem terkenal sering memberikn hukuman yang aneh pada siswa yang melanggar ketertiban sekolah.
Aku yakin saat ini Si-Bajingan-Tapi-Tampan-Kim-Minggyu juga tak menghiraukan tatapan tajam Joo Young-ssaem. Keangkuhannya yang menembus langit pasti membuatnya memalingkan wajahnya. Aku sedikit menegakkan kepalaku untuk melihat raut wajah Joo Young-ssaem. Dari raut wajahnya aku yakin dia sangat lelah, ku dengar dia punya masalah dengan perkawinannya di tambah lagi masalah yang di timbulkan oleh murid-murid seperti kami. Yah mungkin saat ini aku bisa di panggil pembuat masalah, dan mungkin sebentar lagi aku pasti akan terkenal.
"Dengar, kalian pasti tau kalau aku sangat lelah, dan kalian juga terutama kau Minggyu. Lukamu pasti masih terasa sakit. Jadi mari kita selesaikan masalah ini dengan cepat dan dingin." Ucapnya. "Sekarang adakah yang mau menjelaskan apa yang terjadi?" Jujur saat ini aku merasa kasihan pada Joo young-ssaem, jadi kukumpulkan keberanianku yang hanya sedikit itu dan menegakkan kepala untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ssaem sebenarnya tadi aku dan Ming-."
"Aku yang salah ssaem." Aku mengarahkan pandanganku pada Minggyu, dia masih memalingkan wajahnya enggan menatap Joo Young-ssaem.
"Hah? Kau yang salah?" ucap Joo Young-ssaem keheranan.
"Aku bercanda berlebihan ssaem, aku mencium Wonwoo."
"APA?!" BRAKK!
Ucapan gila Minggyu sukses membuat Joo Young jatuh kebelakang saking terkejutnya. Aku langsung menolong Joo Young-ssaem dan membantunya berdiri. "Anda baik-baik saja Ssaem?" Ucapku prihatin.
"Baik-baik saja katamu! Aku jelas tidak baik baik saja. Bagaimana kau melakukan itu hah, kau sudah gila ya Kim Minggyu!" nada bicaranya naik satu oktaf mungkin karna pengakuan bodoh dan anti mainstream yang baru dia dapatkan dari salah satu murid favoritnya, atau mungkin murid favorit semua guru di sekolah ini.
"Maaf Ssaem aku rasa wonwoo sudah membuatku gila." Ucap Mingyu dengan wajah kelewat datar dan dengan tatapan tenang sekaligus keren andalannya. Entah bagaimana jalan fikiran si Mingyu ini, mungkin dia malu karna pria yang lebih kecil darinya mampu menumbangkannya dan hebatnya dalam sekali pukulan, aku sedikit bangga akan hal ini. Aku juga tak tau kalau pukulanku akan sekeras itu sampai membuatnya jatuh. Saat itu aku hanya memikirkan bagaimana aku bisa keluar dari kelakuan si Mingyu ini. Salah satu cara yang bisa kulakukan saat itu adalah memukulnya supaya dia kapok. Jujur saat itu aku sedikit ragu untuk menghajarnya, karna kau taulah pukulan dari tubuh yang kecil ini mungkin tidak akan bereaksi padanya yang dasarnya bertubuh atletis dan rajin berolah-raga. Tapi, sesaat aku mengingat perkataan guruku saat SMP dia berkata "Jika kau merasa pukulanmu tak akan menggetarkan orang lain, cobalah untuk mengumpulkan semua perasaanmu menjadi satu dengan pukulanmu!" Nah dengan itu aku mencoba mengumpulkan semua perasaan benciku pada si Mingyu itu lalu kelepaskan bersama dengan pukulan dan BANG! Hasil yang sangat mengejutkan.
"Mingyu, Kim Mingyu yang terhormat dengarkan aku sekali ini saja. Kau tau kan hubungan sesama jenis itu sangat tabu jadi ku ha-"
"Apa maksudmu ssaem?" Ini Mingyu yang kembali memotong ucapan Joo Young-ssaem.
"HAH?! Maksudku katamu? Bukankah kau tertarik pada si, siapa namamu tadi?" Joo Young-ssaem melihat kearaku dan bertanya siapa namaku. Hah dasar guru pelupa. "Wonwoo ssaem."
"Ah iya Wonwoo, bukannya kau tertarik pada Wonwoo jadi kau menciumnya, yak an?" Kali ini Joo Young-ssaem memandang kearah Mingyu dengan wajah yang sangat bersemangat seakan-akan dia berhasil menyelesaikan kasus senilai satu milyar.
"Siapa yang bilang aku tertarik pada si kurus ini?" Joo Young-ssaem terlihat sangat terkejut dengan perkataan Mingyu karna hipotesis yang baru ia umbar ternyata salah. Beda dengan ku yang mengganggapnya biasa karna dari awal masalanya bukan itu.
"Lalu kenapa kau menciumnya, Bodoh!" Nada bicara guruku ini naik satu oktaf lagi, jangan lupakan bonus-bonus yang juga keluar dari mulutnya.
"Hmm kenapa ya? Aku hanya penasaran ssaem bagaimana rasanya mencium pria, apakah rasanya sama seperti saat aku mencium pacar-pacarku."
"Pacar-pacarmu, memangnya pacarmu ada berapa?"
"Ah itu rahasia ssaem. Jadi bagaimana sekarang? Kurasa semua sudah sangat jelas, Apa kami bisa keluar sekarang?"
"Hah, baiklah semua sudah jelas. Tapi bagaimanapun juga kalian sudah membuat suasana kelas jadi tidak kondusif. Jadi sebagai hukuman sepulang sekolah kalian harus membersihkan kolam renang, tentu saja kalian harus mengurasnya terlebih dahulu. Mengerti?"
"Baik ssaem." Ucapku dan Mingyu
"Bagus, sekarang kalian bisa kembali ke kelas."
…..
Jeon Wonwoo dikenal sebagai orang yang terlihat dingin. Suasana akan berubah menjadi dingin saat mata sipitnya menatapmu. Awalnya, hanya sedikit orang yang mau mendekatinyauntuk menjadikannya teman, karna kau tau orang lain pasti menilaimu dari kesan pertama yang kamu berikan pada orang lain tanpa mau mengetahui alasannya terlebih dahulu. Namun Jeon Wonwoo akan berubah menjadi pribadi yang hangat sekaligus menyenangkan saat kau mencoba mendekatinya. Kesan dingin yang keluar dari dirinya saat memperhatikannya pertama kali hanyalah sebuah kamuflase dari sifat aslinya yang begitu pemalu dan sedikit penakut. Dia, maksudku Wonwoo sangat sungkan untuk memulai pembicaraan bahkan untuk tersenyum kepada orang yang asing baginya saja mungkin terasa sangat sulit.
Tapi, kau tau kan orang bijak sering mengatakan bahwa jangan hanya menilai buku dari sampulnya. Maka dari itu aku mencoba apa yang sering dikatakan orang bijak. Aku mencoba untuk mendekatinya, dalam hal ini aku mencoba untuk menyapanya dan kalau beruntung mungkin aku besa mengajaknya mengobrol sebentar. Oh ya sebenarnya waktu itu aku sudah tertarik padanya, maksudku bukan pada sifatnya yang beberapa saat lalu ku jelaskan. Tapi aku tertarik dengan fisiknya. Entah bagaimana menjelaskannya mata, hidung, bibir dan pipi itu membuatku berhenti sejenak hanya untuk mengagumi betapa indahnya dia. Semakin aku dekat dengannya semakin dalam pula aku terjatu dalam pesonannya yang luar biasa. Entah apa yang dia lakukan sampai-sampai membuat manusia sepertiku tunduk dibawah pesonanya. Awalnya aku merasa semua yang kurasakan ini hanyalah semacam perasaan kagum pada orang lain yang kagum yang begitu berlebihan, kagum yang begitu candu, kagum yang membuatku gila saat sehari saja tak melihat wajahnya. Namun semuanya terasa jelas bagiku ketika ada sebuah amplop berbentuk merah muda dengan sticker berbentuk hati di tengahnya yang tersipan manis di laci meja Wonwoo. Tanpa ragu kubawa raga ini beserta sang amplop merah jambu menjauhi kelas. Tak ada tujuan dan tak punya alasan langkahku membawa tubuh ini melewati beberapa anak tangga menuju atap sekolah. Kutarik nafas panjang sesaat aku sampai di atap, ku tatap lagi amplop merah jambu itu dan membukanya. Kubaca, kuresapi setiap kata, kurasakan setiap cinta dari rajutan kalimatnya. Ku ambil lagi nafas panjang setelah selesai membacanya. Kuremas kertas itu menjadi bola dan membuangnya sembarang arah. Saat itu baru aku tau perasaan kagum ini sudah berkembang terlalu jauh, perasaan kagum ini sudah tumbuh besar dan kuat, serta memberikan buah-buahnya yang begitu menggoda namun aku sadar kalau itu beracun. Mungin satu gigitan saja sudah cukup membuat jantungku berhenti. Dan buah itu adalah Cinta, ya hanya satu kata "Cinta."
Tanpa peringatan kenyataan menerpa logika ku yang sempat dibutakan racun yang bernama cinta. Kenyataan itu datang bagaikan hundusan pedang es yang secara langsung menancapkn pedangnya yang tajam dan dingin di ulu hatiku.
Kenyataan bahwa kita, aku dan Jeon Wonwoo adalah Laki-Laki.
Setelahnya, hatiku yang malang ini membeku, retak dan hancur berkeping-keping.
Sejak saat itulah kucoba mengais kembali pecahan hatiku yang telah hancur. Tak ketinggalan kucoba mencari penawar untuk menyembukan dampak dari racun yang di sebut "Cinta". Namun sayang racun itu sudah menyebar keseluruh tubuhku, bahkan mungkin sudah merusak jantung dan otakku.
….
Nyatanya aku adalah seorang pengecut. Aku, Jeon Wonwoo adalah seorang pengecut. Kata Jihoon dengan mulut tajamnya, diriku ini di bentuk dari berbagai macam keburukan. Dimulai dari kepengecutanku, kegengsianku, ketakutanku dan lain-lain. Tadinya aku merasa semua yang dikatakan Lee Jihoon adalah omong kosong belakang. Tapi tidak ini lebih nyata dari apapun. Begitulah aku apa adanya.
Sifat ku yang begitu pengecut membuatku harus rela tinggal lebih lama di sekolah demi menjalani hukuman. Seandainya sifat beraniku bisa keluar lagi mungkin aku tak akan menjalani masa hukuman ini dengan orang yang paling ingin aku hindari. Seaindainya tadi aku bisa mengelak semua perkataan gila Mingyu tentang menciumku dan mengatakan yang sesungguhnya kalau sebenarnya si siswa popular Kim Mingyu ini mengancam ku yang juga merupakan tindakan pembully-an mungkin saat ini aku sedang menikmati matahari sore yang indah sambil bermalas-malasan di kasur.
Sejujurnya aku tak tau alasan Mingyu sering mengganggu ku. Kau tau aku ini bukan jenis siswa yang akan dibully. Penampilanku cukup menarik walaupun tidak sampai membuat siswa perempuan melihatku dengan tatapan kagum. Tapi setidaknya aku tidak separah itu untuk menjadi siswa yang sering di ganggu. Aku juga cukup fashionable dan gaul. Aku juga bukan orang lemah , bukan orang yang berbicara gagap atau apapun itu kriteria sebagai siswa sasaran pembullyan.
Malahan aku cukup komunikatif dan supel, walau di awal-awal masuk sekolah ini aku terlihat sangat dingin, jujur pada saat itu aku merasa canggung dan sangat malu. Aku melihat banyak siswa dan siswi yang cantik di sekolah mengengah ku ini, aku sedikit minder dan berkecil hati pada awalnya. Tapi seiring berjalannya waktu aku bisa menyesuaikan diri dengan sekolah ini dan sedikit demi sedikit membuat sifat pengecutku. Dan aku juga punya banyak teman dan beberapa teman baik yang bisa di sebut sahabat.
Entah apa jalan fikiran Mingyu yang membuatnya sering menggangguku.
"Hai bodoh! Apa kau mau diam saja disitu! Cepat turun kemari. Cih, kau membuang waktu berhargaku saja." Nah nah lihat kan, mulutnya yang tajam kembali menyumpahiku dan mengataiku.
Malas menanggapi ucapannya, aku hanya diam dan segera turuk ke kolam renang yang sebelumnya sudah dikuras airnya. Kini kolam itu hanya tersisa air setinggi mata kaki dan terus berkurang. Aku melintingkan ujung celanaku dan mengambil tongkat pel yang ujungnya seperti sikat.
Aku dan Mingyu memulai hukuman membersihkan kolam renang dalam suasana hening. Tidak ada satupun dari kami yang berniat membuka pembicaraan. Sampai pada akhirnya suara Mingyu memecahkan keheningan yang kami buat.
"Ya Jeon Wonwoo, kau niat tidak sih menyelesaikan hukuman ini?"
"Tidak, karna semua ini kau yang memulainya. Dan seharusnya kau yang melakukan semua hukuman ini."
"Jangan lupakan bagian kau meninjuku hingga jatuh."
"Kau fikir siapa yang membuatku melakukan itu?"
"Kau dan semua sifat pengecutmu."
"Ya ! kau masih belum sadar juga ya Kim Mingyu? Kasihan sekali."
"Sadar apanya? Dasar berlebihan." Mingyu mengalihkan pandangannya dari aku dan melanjutkan membersihkan kolam. Aku yang saat ini sudah sangat geram dan terlanjur emosi tak bisa lagi menahan semua kata-kata yang selama ini ada di benak ku.
"Berlebihan katamu? Kau memang dungu ya Kim Mingyu kau pikir semua yang kau lakukan selama ini hanya gurauan saja, HAH!? Jawab Sialan!" Mingyu menghentikan kegiatannya lalu memutar badan dan membalas tatapanku sama sengitnya.
"Tidak aku tidak pernah melakukan hal yang berlebihan padamu."
"Lalu menyembunyikan kartu ujianku, melempar sepatu olah raga ku keluar jendela, mengambil kaos olah ragaku, dan masih banyak hal konyol yang kau lakukan. Kau piker itu tidak berlebihan? Hah, yang benar saja."
Mingyu menatapku dengan tajam tapi tatapannya kali ini entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya. Aku merasa tatapan itu seperti tatapan sayang yang diberikan Seungcheol pada Jeonghan. Tapi aku segera menampiknya jauh-jauh dari otak-ku karna tidak mungkin si bajingan Kim Mingyu memberikan aku tatapan seperti itu. Walau saat di tatap seperti itu aku merasa sedikit ingat hanya sedikit Senang.
"Maaf kalau aku berlebihan, aku tak tau kalu itu melukaimu." Berubah, maksudku bukan Mingyu yang berubah tapi tatapan yang ia berikan berubah. Ada penyesalan yang jelas terpancar dari matanya saat aku menatap matanya. "Lalu tentang tindakanku di belakang sekolah tadi aku hanya ingin berbicara denganmu. Aku tak suka kau berdekatan dengan JooHeon kau tau kan kalau dia itu gay? Dan dia sudah meniduri banyak pria gay di sekolah ini. Aku hanya tak ingin kau menjadi salah satu siswa yang ditiduri olehnya."
"Kenap-"
"Sudah ayo kita lanjutkan lagi, sepertinya sebentar lagi hujan." Ah iya aku awan sudah semakin menghitam
"Ya."
…
Dengan kecepatan super, aku dan Mingyu berhasil membersihkan kolam renang sesaat sebelum hujan turun. Dan sekarang disinilah aku, menunggu bus di sebuah halte bus dimanjakan dengan suara rintikan hujan yang menyentuh bumi, diselimuti aroma petrichor dan ditemani seseorang yang mungkin sebentar lagi akan ku reset ulang pandanganku, pemikiranku dan segala prasangkaku padanya.
"Ah itu dia bis nya dating."
"Tunggu." Mingyu menarik tanganku sebelum aku berjalan menghampiri bus. Tanpa aku duga Mingyu melepaskan Jaket Bomber yang ia kenakan dan memberikannya padaku. "Ini Pakai ini ku lihat pakaian mu basah." Aku sedikit kaget atas perlakuannya, dan itu juga senyumannya, ya tuhan si bajingan Kim Mingyu tersenyum padaku. Aku segera memakai Bomber Mingyu dan segera menaiki Bus. Saat sudah di dalam bus aku masih melihatnya, melihatnya tersenyum dengan bahagia. Senyuman itu sesaat membuat detak jantungku menyamai suara saat sang air langit menyentuh tanah, senyuman itu sukses menjungkir balikan duniaku.
TBC…
Ya ya ya ya ya
Review ya
