Yare-yare. . . author kembali lagi niee. Sesuai yang author katakan, chap satu ini terdiri dari dua part, jadi agak lebih cepat updatenya. Chap ini sudah berusaha author panjangin dan sedikit ada perbaikan. Mungkin bila ada yang penasaran dengan jati diri Hinata di chapter ini akan terkuak siapa sebenarnya keluarga Hinata. Satu lagi author ucapkan terima kasih atas koreksinya di chapter pertama, Arigato-minnaaa :D

Yosh! Sekian cuap-cuap dari author untuk selanjutnya silahkan membaca ceritanya

Disclamer : om Masashi Kisimoto

Pairing : Naruto-Hinata

Warning : typos, AU, abal, geje, OOC dll

Chapter 2 : Terrible Boy (part 2)

.

.

.

Masih teringat dengan kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini terjadi padanya, Hinata menatap langit-langit kamar mandi. Ia jelas sangat kesal dengan semua tingkah laku Naruto yang tiba-tiba mencari gara-gara dengannya, seingatnya ia tidaklah mendamba lelaki itu atau mencari penyakit dengan mengibarkan bendera peperangan. Gusar dengan pikirannya Hinata memutuskan untuk menyudahi acara berendamnya.

Saat ia berdiri, dilihat dari arah belakang tepatnya di bahu sebelah kanan terlihat sebuah bekas luka sayatan yang cukup lebar. Hinata merabanya, sebuah luka yang ia dapatkan karena melindungi seseorang yang penting baginya. "Aku bahkan masih tidak menemukan alasan untuk membencimu, Naruto." lirih Hinata.

Melihat ke depan cermin, Hinata bisa melihat iris matanya yang tak lazim. Kelopaknya menutup lalu membuka lagi. Ah, inilah pupil putih, pupil khas yang hanya dimiliki oleh seorang Hyuuga. Pupil putih yang melambangkan sebuah kasta bangsawan dari jaman Jepang kuno dulu dan juga lambang akan statusnya sebagai Yakuza, sebuah mafia besar di Jepang.

Mengeratkan ikat jubah mandinya di pinggang, Hinata keluar dari kamar mandi. Ini sudah petang dan sudah waktunya untuk makan malam. Setelah berganti pakaian Hinata lantas berjalan menuju dapur dan melihat Hanabi yang tengah memasak sup hangat. Hinata tersenyum mengamati tingkah Hanabi yang masih kaku untuk mengiris beberapa sayur. Ini adalah salah satu pendidikan dasar bagi seorang putri Hyuuga, seorang perempuan harus bisa memasak meskipun ia seorang Yakuza, dan Hanabi tengah dalam proses itu sekarang.

"Kau ingin membuat perut mulas karena makan sup garam, Hana-chan?"

Hanabi langsung cemberut mendengar nada meremehkan yang dilontarkan Hinata. Ia masih baru di dapur, jikapun boleh memilih tentu ia akan lebih senang dengan sparring daripada harus memasak. Hell, memasak bukan keahliannya.

"Bisakah tuan putri Hinata membantuku daripada berdiri seperti patung?" berbalik menyerang Hinata, Hanabi malah harus merelakan rambut rapinya jadi korban acakan tangan Hinata.

"Ini menjadi pembelajaranmu Hanabi. Kau harus bisa, kau perempuan dan inilah kodrat kita."

"Tapi aku lebih senang melakukan sparring, memanah, menembak, judo dan karate nee-san." Rajuk Hanabi.

"Semua butuh proses, ayah tahu kau berbakat dalam hal itu namun selagi kau tidak lulus dalam tahap ini maka kau tidak akan mendapat pengakuan dari ayah ataupun Neji-nii."

"Hmm. . . tapi bisakah aku ikut denganmu ke 'kantor' nee-san?"

Hinata paham dengan kantor yang dimaksudkan oleh adiknya ini. "Tidak," tegas Hinata. "Kau belum cukup umur. Peraturan di keluarga kita hanya membolehkan ke sana saat umur kita genap 16 tahun dan kau masih 14 tahun."

"Tapi disana kan banyak penjaga nee-san, aku pasti aman-aman saja." Hanabi masih ngotot ingin menjajakan kakinya di sana. Ia hanya ingin melihat suasana disana, tidak lebih.

Mata lavender Hinata seketika berkilat bagai perak, "Bahkan meskipun kau adalah anak dari seorang ketua Yakuza terbesar bila umurmu belum mencukupi maka mereka tak segan melakukan hal kasar padamu."

Sedikit bergidik ngeri melihat aura berbeda dari kakaknya, Hanabi akhirnya pasrah saja. "Aku hanya bercanda nee-san, lagipula aku masih banyak tugas dari sekolah."

Wajah Hinata kembali melembut, "Kau bercanda dengan wajah serius. Nanti nee-san akan membawakan oleh-oleh cake kesukaanmu." Hibur Hinata. Meski sedikit kecewa toh akhirnya Hanabi hanya bisa menurut, lagipula cake dengan selai bluberry dan taburan kacang almont tidaklah begitu buruk untuk menghiburnya.

Makan malam sederhana di meja makan ini terasa sangat sepi. Hinata menatap satu kursi di samping kursi utama yang sejak beberapa tahun yang lalu telah kosong. Ibunya meninggal ketika ia masih berusia tujuh tahun, meninggalkan luka mendalam di hatinya dan kedua saudaranya terutama ayahnya, Hiashi Hyuuga. Semenjak itupula ayahnya sering berpindah-pindah tempat yang menurut alasanya demi keselamatan putra dan putrinya. Dan akhirnya ayahnya memutuskan untuk berdiam di kota Konoha yang ramai penduduk. Hinata sadar bahwa banyak yang mengincar nyawa mereka, ya meskipun mereka adalah Yazuya besar yang disegani, namun karena mereka menolak akan peredaran obat-obatan terlarang, penjualan manusia, peredaran uang palsu dan malah membantu pemerintah dalam mengamankan kawasan distrik di kota Konoha meski dengan terselubung. Itu membuat banyak geng yakuza atau mafia lain berlomba untuk menghancurkan kelompak Yakuza Hyuuga.

Selesai makan malam Hinata bergegas untuk kegiatan selanjutnya yang sudah ia tekuni salama satu tahun belakangan ini. "Hanabi, nee-san berangkat dulu. Bila ada apa-apa kau tahu kan harus berbuat apa?" Hinata mengambil tas selempangnya yang ia taruh di atas sofa lalu memakai sepatu kets hadiah dari Neji karena berhasil menumbangkan 10 orang dewasa di waktu latihan tiga bulan lalu.

Hanabi mengangguk. Ia juga tak merasa takut meski tiap malam ia sendirian di rumah. Biarpun umurnya masih sangat mudah tapi kemampuan beladirinya sudah tak diragukan lagi. "Bila ada penyusup, kukira mereka hanya akan mati konyol disini."

Memang benar bahwa disini adalah komplek keluarga Hyuuga. Rumah kecil yang saling berdempetan seolah mengaburkan pandangan publik tentang jati diri atas kompleks Hyuuga ini. Keluarga Hyuuga juga sangat lihai dalam pembauran dan penyamaran, sebagaian dari elit pemerintah memang sengaja menjaga identitas mereka namun dengan imbalan bahwa mereka harus membantu orang-orang sipil dari serangan kelompok lain dan ikut mengawasi setiap kegiatan malam di kota Konoha.

Di sepanjang perjalanan melewati gang-gang kecil kompleks Hyuuga, Hinata disambut oleh bungkukan hormat para loyalnya yang bergabung ke kelompok Hyuuga. Meski ia berjalan dengan tegap dan wajah yang sedikit terangkat, aura lembut yang dibawah oleh Hinata membuatnya menjadi tuan putri yang disegani. Dan sebutan the precious memang patut disandangnya.

Hinata masuk ke dalam 'kantornya' yang sebenarnya adalah sebuah pub malam di Konoha. Para pelayan yang melihat kedatangan majikan mereka langsung memberi hormat. Awalnya Hinata tidaklah terlalu biasa mendapat salam hormat oleh para pekerja disini, alasannya karena kebanyakan umur mereka sepantaran dengannya, jadi terasa sedikit aneh saja. Apalagi di sekolah ia malah mendapat perlakuan berkebalikan dari teman-temannya. Sepatunya sering hilang dari loker, tasnya tersangkut di pohon, mejanya penuh sampah dan serangkain hal-hal yang menurut Hinata bodoh karena mereka berani menantang maut sendiri. Tapi ia adalah Hinata yang meskipun selalu dididik keras dan penuh penekanan namun ia tidaklah akan membalas perbuatan mereka dengan cara fisik, ia hanya membentak atau berkata kasar ketika sudah ada yang kelewat batas karena Hinata sadar bahwa bila ia sekali saja menunjukkan dirinya yang sebenarnya, maka semua hal yang dirahasiakan selama ini akan terbongkar dan ia tidak akan merasakan kehidupan normal lagi. Setidaknya dibully itu masih lebih baik daripada setiap hari kau harus bertarung dengan banyak geng yang menantangmu bukan.

"Hinata-sama, saya mohon anda tidak perlu memakai pakaian pelayan dan terjun langsung melayani para konsumer." Ayame mencoba membujuk majikannya ini agar berhenti melakukan pekerjaan kasar seperti ini. Hinata seharusnya ada di balik kursi empuk dan hanya memeriksa keuangan saja, setidaknya itulah yang ada di benak Ayame.

Namun rupanya saran ayame hanya ditanggapi senyuman oleh Hinata. Ini bukan pekerjaan berat, justru dengan langsung terjun ke lapangan, ia jadi lebih tahu apa yang diinginkan oleh para pelanggannya. Dan tentu ia bisa mengawasi setiap pergerakan yang ada di pubnya ini. "Duduk-duduk saja tidaklah enak Ayame-san, setidaknya aku bisa berguna."

Ayame menggeleng dengan keras. Hinata adalah pemilik yang sangat baik, bahkan ia selalu melindungi para karyawannya jika ada seorang yang melakukan tindakan berlebih. Hinata baginya adalah seorang yang tulus meski dengan nama belakang yang menyandang gelar seorang putri Yakuza. Ayame hendak mengucapkan sesuatu tapi Hinata sudah lebih dulu memotongnya.

"Ayame-san tidak usah khawatir. Justru aku sangat senang bisa bebas seperti ini, jadi biarkan aku melakukan ini Ayame-san." Mohon Hinata. Melihat kedua manik Hinata yang membesar dengan sedikit binar pengharapan membuat Ayame tidak bisa lagi menghalangi tuannya ini. Ia kalah dengan tatapan Hinata.

Senyum Hinata mengembang sempurna. Ia memeluk Ayame sebentar lalu melesat pergi untuk memulai perannya sebagai seorang waiters. Ia senang bertemu banyak orang, tapi bertemu dengan Naruto itu lain ceritanya.

Bagaimana bisa lelaki itu sudah duduk di meja bartender dengan arogan. Kemeja yang dua kancing bagian atas tidak dikancingkan, rambut acakan yang menyembul ke segalah arah, dan lagi seringai memuakkan yang jelas-jelas ditunjukkan kepada Hinta saat mereka bertatap muka. Oke, usia Naruto memang legal bila masuk ke pub tapi bukan itu alasan yang membuat Hinata balik menatapnya dengan tatapan cemas. Ia takut jika. . . .

"Yo Hinata, entah kenapa malam ini aku ingin sekali bertemu denganmu," Naruto menarik pinggang Hinata hingga tubuhnya merapat ke tubuh Hinata. Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata yang sedikit memerah. "Aku tidak bisa menunggu hingga esok tiba, jadi kuputuskan untuk datang ke sini. Oleh karena itu, layani aku jalang." Dengan beraninya Naruto mencium helai rambut Hinata yang beraroma lavender. Aroma yang tidak menyengat seperti wangi parfum para wanita yang biasa ia kencani. Naruto terlena, ia bahkan mengacuhkan Hinata yang memberontak ingin dilepas. Kedua mata Hinata memandang ke sudut-sudut ruang yang sudah ditempati oleh penjaga suruhan ayahnya. Jika mereka melihat dirinya seperti ini maka sudah dipastikan kalau Naruto akan dihajar dan mungkin dibunuh karena sudah berani menyentuh putri terhormat Hyuuga.

"Le. . .lepaskan bodoh." Maki Hinata.

Naruto tidak menggubrisnya. "Aku bahkan bisa membelimu dengan harga tinggi jika kau mau menemaniku, nona Hyuuga."

Pernyataan itu bagai pedang yang mengiris ulu hati Hinata. Apakah ia serendah itu dimata Naruto? Tapi meskipun ia merasa sakit, ia masih lebih menghawatirkan keselamatan Naruto karena para penjaga nampaknya mulai berdiri dan hendak menuju ke arahnya. "Kubilang lepas brengsek!" Tak tahan dengan sikap pasif naruto yang ogah untuk melepasnya, tangan Hinata yang bebas terangkat cepat dan diarahkannya tepat di pipi kiri Naruto.

'Plaakk!'

Tamparan keras dan panas didapatkan oleh Naruto. Rahangnya mengeras seketika, ia sudah direndahkan oleh wanita rendahan yang munafik. "Dasar jalang sialan. Kau pikir kau siapa heh?"

Mata biru itu nampak bergejolak marah. Tangannya dengan keras menarik helai rambut indigo milik Hinata hingga membuat Hinata terhuyung hendak jatuh. Sontak saja keributan ini membuat para pengunjung kaget, bahkan para pelayan lainnya juga kaget karena melihat majikan mereka diperlakukan kasar oleh seorang tamu.

"Jika kau merasa terhormat kenapa kau kerja disini? Kenapa kau terlihat senang hanya karena duduk diantara banyak lelaki huh? Kau butuh uang kan mangkanya kau bekerja disini!"

"Jika kau butuh ambil ini, jalang." Naruto menghamburkan lembaran uang yen dengan nominal ratusan ribu ke wajah Hinata. "Maka dengan ini kau sudah menjadi milikku sialan!"

Dada Naruto kembang kempis meluapkan emosinya. Ia sama sekali tidak tahu kenapa ia bisa sebegitu marahnya hanya karena penolakan Hinata. Puas meluapkan amarahnya, Naruto melihat dengan angkuh ke arah Hinata, tapi bukan tatapan sengit yang biasa ia dapat dari seorang Hyuuga Hinata. Naruto malah tertegun mendapati tatapan terluka dari manik beriris lavender di depannya. Ia merasa familiar dengan mata dan tatapan seperti itu sebelumnya, tapi dimana? Kapan? Seolah ada sebuah magnet yang membuat Naruto mendekat, tangannya terulur hendak mencapai Hinata. Tapi tiba-tiba ia merasakan sebuah pukulan keras menghantam tengkuknya.

Mata Hinata mendelik melihat penjaganya telah mengepung Naruto, mereka mengelilingi Naruto layaknya seorang gladiator yang siap menancapkan mata pisau ke nadi kehidupan. Seorang dari mereka kembali memukul Naruto dengan tongkat bisbol ketika ia hendak berdiri. Naruto tentu tidak akan semudah itu tumbang, meski ia merasakan perih dan tetetasan liquid merah mulai menetes ke pelipisnya namun ia masih bisa bertahan. Naruto dapat menghindar ketika dua orang menyerangnya, ia melompat kebelakang lalu menyerang balik dengan menendang kedua orang tersebut hingga tersungkur.

"Keh, jangan memandang remeh padaku." Mata Naruto seolah berubah dari yang semula biru jernih menjadi merah layaknya seekor rubah. Dengan kecepatan luar biasa Naruto memukul lima orang lainnya dengan keras. Tapi, meski mereka jatuh mereka tetap bisa mengimbangi perlawanan Naruto. Mereka bukanlah preman yang asal bisa memukul, mereka tak hanya terlatih namun juga terdidik dalam hal belah diri. Dalam sudut pandang Naruto, ia melihat bahwa ke tujuh orang tersebut sedang dalam formasi melindungi sesuatu, tapi apa yang mereka lindungi? Di tengah mereka hanya ada si Hyuuga Hinata yang diam ditempat. Apa mereka bertujuan melindungi seorang waiters? Sejak kapan pula seorang pelayan pub harus diberi perlindungan extra seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sontak memenuhi pikiran Naruto. Karena tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu maka Naruto memutuskan untuk segera menghabisi mereka semua, namun ia tidak menyangka bahwa saat ia hendak menyerang tiba-tiba Hinata berlari kearahnya. Kaki Naruto berhenti seketika, ia tidak bisa menyerang seorang wanita, ia lengah dan yang dapat ia rasakan selanjutnya adalah rasa tusukan di dadanya yang membuat jantungnya seolah dipaksa untuk berhenti.

'Gomenne, Naruto-kun. Jyuken.'

Tubuh Naruto oleng dan tumbang. Ia tak sadarkan diri akibat serangan cepat Hinata yang menuju jantungnya, namun sayup-sayup ia masih bisa mendengar suara Hinata yang menyapa indra pendengarannya. Suara lembut yang menerjang memorinya tentang masa lalu. Suara seorang anak perempuan yang sering mengganggu malam-malamnya. Suara milik seseorang yang ia cari namun tak pernah ingat akan siapa.

"Cepat bawa ia pergi." Suara dingin Hinata memerintah anak buahnya untuk segerah membereskan Naruto. Hinata berjalan kembali ke dalam ruangan dengan mata kosong tanpa tujuan. Ayame yang melihatnya buru-buru menghampiri Hinata dan membantunya untuk duduk serta mengambilkannya air minum.

"Hinata-sama. . ." Gumam Ayame.

.

.

.

TBC

Please RnR

Ada yang ngasih saran nggak enaknya Naruto diapain setelah ngebuat Hinata jadi sedih? *timpuk sendal

Author benar-benar bertema kasih atas apresiasi para reader yang mau mereview dan memberikan masukkan, yang mem-favorid serta yang mem-follow. Terima kasih juga kepada silent reader yang sudah membaca karya author ini.

Oh ya author tidak bisa balas review satu persatu, namun author akan jawab secara garis besar saja pertanyaannya.

Tentang pembulyan dan bekerja di pub malam sebenarnya author juga sadar bahwa banyak yang mengangkat thema seperti itu, namun author juga harus menyesuaikan dengan jalannya cerita agar bisa singkron.

Alasan Hinata kerja di pub sepertinya sudah bisa dilihat pada cerita di atas. She is a Yakuza's daughter.

Masalah rencana update yang author bikin sebulan sekali adalah agar tidak kehilangan stok cerita, soalnya author juga disibukkan oleh berbagai praktikum di sekolah author. #alesannnn :p

Naruto akan nyesel? Hmm. . . mending ikutin aja deh ceritanya wkwkward

Lalu soal pairing, author rasa sudah cukup jelas bahwa pairing disini Naru-Hina, memang author rencananya mau kasih pairing lain tp itu hanya pelengkap dan nggak terlalu author ulas.

Happy or Sad End? Author masih bimbang juga nie. X_X

Bila ada pertanyaan yang belum author jawab, author mohon maaf. Dont Flame ok!

Big thanks to : blackschool, , Aika Moriuchi, 94, Cicikun, penggemar hokage, JihanFitrina-chan, Uchiha Ryuuki, alluka-chan, hana, virgo24, Guest, juwita, Akari Yuka, Guest(2), Soputan, sweet koneko, ika chan, durara, Amai Ruri, Zombie-NHL, mangetsuNaru, Arashi MN, Guest(3), wirna, Chess sakura, Izumi Koizora, otsukareina14, MM, , Misti Chan, Azetha Mei, DiRa-cchi 7ack, kensuchan, cieru cherry, sahwachan, Rabenda Miku, bluerose.

Mohon maaf bila ada yang belum author sebutin penmane-nya.

Note : Alur cerita kemungkinan akan author buat agak lambat.

See u in next chap

Atharu_u