Secret Admirer

.

.

.

Disclaimer : Saint Seiya © Masami Kurumada

Saint Seiya The Lost Canvas © Shiori Teshirogi

Saya tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fic ini, hanya kepuasan dari fangirling-an semata. Maaf jika pairing ini dirasa terlalu crack, salahkan saya mengapa tiba – tiba merasa gemas sekali sama kambing gunung satu itu. Buat Sisyphus dan Milo, saya pinjam El Cid ama Camus ya... bentar aja kok, nanti juga dikembalikan #plakk dan terkhusus buat mbak Lia, selamat menikmati~

Genre : Humor, Romance, AU

Pairing : El Cid x Camus

.

.

.

Camus lengkap dengan seragam sekolahnya serta ransel dipunggungnya, melangkah turun dari lantai atas. Kakinya membawanya menuju meja makan yang telah dipenuhi roti bakar isi coklat. Tanda – tanda keberadaan sang kakak tidak terlihat disana, membuatnya berpikir mungkin kakak semata wayangnya itu masih ada didapur menyiapkan sesuatu entah apa. Baru saja ia ingin menarik kursi, pemandangan makhluk berbulu putih agak keabu – abuan telah mencuri perhatiannya. Masih kucing yang sama dengan kemarin, sedang minum di mortal yang sama juga. Satu – satunya perbedaan hanyalah makhluk itu terlihat lebih segar, ditandai dengan meong-an lengkingnya saat Camus memasuki teritori pendengarannya.

"Dia sudah lumayan lebih sehat." Degel dengan celemek biru tua muncul dari pintu belakang, tangannya menggenggam dua cangkir susu.

"Jadi, dia tinggal disini?" Camus meletakkan ranselnya disamping kursi dan segera duduk, sembari mengambil cangkir bagiannya sendiri.

"Untuk sementara, iya." Sang kakak ikut duduk diseberang meja. "Tapi tenang saja, dia sepertinya bukan tipe hewan tidak tahu aturan. Tadi malam kakak lihat dia keluar untuk buang air dihalaman. Mungkin dia peliharaan orang yang kabur dari majikannya, atau tersesat."

"Tidak mungkin." Camus menimpali. "Kucing tidak pernah tersesat. Sistem navigasi hewan itu spesial, dan akan selalu menuntunnya pulang."

Degel tersenyum penuh arti memandang sang adik. "Tidak seperti manusia, yang selalu tersesat dan bahkan tidak tahu arah jalan pulang."

Camus tidak menjawab, dia malah sibuk dengan cangkir berisi susu dihadapannya yang terus dia aduk. Sial bagi Degel, dia sempat berpikir adiknya itu akan menyambung dengan 'aku tanpamu butiran debu', ternyata virus alay Milo sama sekali belum menjangkiti Camus. Berikan aplaus untuk antibodi adiknya itu.

"Biarkan saja dia tinggal disini." Dokter muda itu mulai mengemas roti miliknya dan memasukannya ke dalam mulut. "Lagipula kakak sudah dapat nama yang bagus untuknya."

Awalnya Camus tidak mengerti kenapa kakaknya harus repot – repot mencarikan nama untuk sang kucing. Tapi akhirnya dia sadar, kucing sekalipun pasti tidak merasa nyaman jika tiap hari dipanggil dengan sebutan 'kucing itu', atau 'makhluk itu'. "Siapa namanya?"

"Bella."

"Dia betina?"

"Bukan, dia jantan."

Adik Degel itu menghentikan gerakan tangannya yang mengaduk gelas, dan dengan tatapan aneh memandang sang kakak. Dia tahu kalau mata kakaknya ini minus, tapi tidak sampai sebegini juga 'kan? Oh iya, tadi malam dirinya mendengar suara gedebug besar dari kamar Degel, mungkin saja kakaknya itu terbentur sesuatu sampai kinerja otaknya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ya, ya, mungkin saja. "Nama yang sangat... gagah?"

"Itu hanya panggilan, kok." Degel terkekeh, menyadari tatapan Camus. "Nama lengkapnya Belladonnae."

Meski ciri keperempuanan masih sangat kentara, Camus dapat menangkap makna historis dari nama itu. Setidaknya jika kucing itu bisa bicara dan menanyai asal muasal namanya, Camus dapat menjelaskan dengan baik dan benar. "Obat yang kemarin dia makan."

Biarpun dirinya bukan penyayang binatang seperti gebetannya Shaka, ada satu hal yang masih menjanggal dalam kepalanya. "Tidak takut dia kesepian? Di sekitar sini sama sekali tidak ada kucing selain dia."

Degel mengangguk mengerti, ini juga merupakan masalah yang tadi malam dia pikirkan hingga membuatnya tidak fokus dan malah jatuh terpeleset menginjak kakinya sendiri (sekarang misteri bunyi gedebug tengah malam telah terpecahkan). "Tenang saja. Sebentar lagi bulan purnama, kakak yakin dia akan mendapat teman nantinya. Atau betina." Tersenyum misterius, Degel menyesap cairan hangat dalam genggamannya. "Setidaknya kita tahu, kalau hewan juga bisa berkelakuan romantis." Ya, ya, Pak Dokter. Melakukan proses reproduksi dibawah bulan purnama memang merupakan suatu hal yang tidak bisa dibilang tidak indah.

"Dan Camus..." masih dengan senyum yang sama, Degel menurunkan cangkir susunya. Kemudian menatap sang adik dengan tangan kanan menopang dagu. "Kamu kapan?"

Dan untuk kedua kalinya dunia menyaksikan seorang Camus salah tingkah!

"Apa perlu tunggu bulan purnama juga?"

...

"—pohon salak."

"Apa?" Shura yang sedang membersihkan langit – langit kelas dengan kemoceng, berhenti beraktivitas sejenak. Sapu tangan yang dia ikat menutupi mulut dan hidungnya (mencegah debu – debu untuk masuk menggerayangi kedua lubang penciumannya) dia turunkan sampai sebatas leher. "Kamu tadi bilang apa?"

Jam masih menunjukan pukul setengah enam, tapi dua pemuda yang diyakini sedang menjalin hubungan itu sudah berada dikelasnya. Shura-lah yang memaksa Angelo agar cepat – cepat datang demi menyelesaikan hukuman dari Pak Shion. Benar, hukuman membersihkan selokan kemarin masih memiliki sekuel, setidaknya selama sebulan ini Angelo harus rela jadi cleaning service sekolah dadakan. Dan itu membuatnya amat teramat jengkel setengah mati, dia hanya membuat mata kiri Fenrir memar, kaki kanan terkilir, hidung bengkok, itu saja (saja?). Baik, sekarang kita mengerti dasar keputusan Shion, kasus ditutup.

Jika ada yang bingung dengan alasan kenapa Shura niat sekali ingin membantu, jawabannya adalah jangan tanya! Karena Shura sendiri tidak mengerti kenapa. Dia hanya tidak bisa melihat Angelo kesusahan, itu saja. Awalnya dia pikir ini hanya sebuah solidaritas antar teman, ikatan batin yang mendeklarasikan 'kamu senang, saya juga senang. Kamu sedih, saya lebih sedih', tapi kenyataannya lebih dari itu. Nasehat 'berpikirlah sebelum bertindak' yang biasa diajari kakaknya di Dojo tempatnya berlatih, kini dia buang jauh – jauh. Karena tindakannya bukan berdasar pada logika, tapi perasaan. Meski jelas amat sangat membebaninya.

"Gue bilang..." Pemuda berambut biru melawan gravitasi itu meletakkan kembali penghapus papan yang telah dia bersihkan. Sambil mendongak menatap Shura yang ada diatas sana, berdiri tepat dipucuk kursi – kursi dan meja – meja yang disusun sedemikian rupa hingga sang pacar dapat mencapai langit – langit kelas guna membersihkannya. "Kakak loe kayak pohon salak."

"Maksudnya pohon salak?" Shura gagal paham.

"Ya, pohon salak." Angelo meraih sapu yang bersandar di balik pintu. "Memangnya pohon salak kayak gimana?"

Shura mengambil pose berpikir, lengkap dengan tangan mengelus dagu. "Asam, sepat, agak kecut, tajam berduri, bijinya keras, banyak getahnya—"

"Itu buah salak, Shura sayang!" Angelo hampir saja membanting sapu di tangannya. "Bukan pohon salak."

"Memangnya pohon salak kayak gimana?" dengan wajah layaknya jambu air, Shura mengulangi pertanyaan serupa. Jarang sekali Angelo memanggilnya seperti itu, bahkan mungkin ini pertama kalinya.

"Pohon salak. Gak mandiri, nggak punya inisiatif sendiri buat membina hubungan sama pasangannya." Tambah berkerutlah kening Shura mendengar penjelasan sang pacar. "Loe tahu 'kan, pohon salak itu tiap mau kawin harus dibantu dulu. Harus ada campur tangan dari orang lain. Butuh bantuan orang ketiga Cuma buat putiknya bisa menyatu dengan benang sari pohon yang lain. Ya... kayak Kak Cid!"

Shura mulai memahami jalan cerita Angelo. Meski dalam hati tak habis pikir, pemuda Italia itu punya wawasan yang luas tentang Biologi rupanya. Atau ini sisi lain Angelo yang Shura tidak tahu?

"Aphrodite, yang bilang." Seolah punya kemampuan telepati, Angelo menambah penjelasannya. "Dia kerja sampingan bantu – bantu kakaknya jadi penghulunya pohon salak. Makanya dia gak masuk sekolah karena tangannya lecet – lecet begitu, gara – gara nekat gak pake sarung tangan pas kerja."

Shura mengangguk, dalam hati kasihan juga dengan sahabatnya satu itu. "Tapi tumben." Dia tersenyum simpul, mulai menyadari sesuatu. "Kenapa pas tahu Kak Cid suka sama Camus, kamu gak ngomong kemana – mana? Biasanya 'kan kamu yang paling heboh tiap ada gosip baru."

Angelo melanjutkan pekerjaannya menyapu lantai kelas. "Mau ya, kalau gue besok - besok cuman jadi nama di batu nisan?" pemuda jangkuk itu terkekeh kecil. "Excalibur-nya Kak Cid ngeri, tahu! Lagian gue 'kan belum bikin loe bahagia, bisa gentayangan jadinya kalau lihat loe jalan sama orang lain—aduh, Shura! Kerja yang bener, dong. Sarang laba – labanya kemana – mana, tahu!"

"Kena, ya? Maaf, maaf!" Shura gelagapan, tidak menyiapkan diri dengan serangan tiba – tiba yang berdampak ada kedua pipinya yang lagi – lagi merona. Begini nih resiko pacaran sama orang Italia, kebiasaan Angelo yang frontal dan bicara jelas tanpa pandang bulu memang jadi nuansa tersendiri baginya. Kadang – kadang bisa bikin dirinya down teramat sangat karena, tapi tidak jarang juga membuatnya terbang tinggi ke langit, karena Shura tahu semuanya berasal dari dalam hati. Bedanya sekarang dia tidak perlu terbang ke langit, karena dirinya sekarang memang sudah berada di 'langit – langit'.

Mendadak sebuah ide melintas dalam pikirannya. Ide yang kiranya dapat menyelamatkan perasaan kakak satu – satunya yang masih betah berlama – lama menjalani cinta sepihak. "Angelo!" panggilnya sambil menunduk, memaksa Angelo yang ada dibawah sana untuk mendongak sekali lagi. "Bagaimana kalau kita mencoba untuk menyatukan mereka. Seperti yang kamu bilang, pohon salak, butuh perantara. Orang ketiga."

"Makcomblang, begitu?" Angelo mengangkat satu alisnya. Shura mengangguk. "Kalau loe yang bilang, gue pasti gak bisa nolak. Cuman, berapa persen bakal berhasil kira – kira?"

Shura kembali diam berpikir. Ini beresiko tentu saja, tapi pemandangan El Cid yang sedang dalam masalah bukanlah sesuatu yang enak untuk dipandang. "Enam puluh atau lima puluh. Sepertinya." Dia agak ragu, ini bukan merupakan rencana yang bisa berjalan lancar memang.

"Salah!" tiba – tiba pintu masuk kelas berayun terbuka, memunculkan sesosok tegap di baliknya. Sosok yang hampir membuat Shura jatuh dari singgasananya di atas tumpukan meja dan kursi. "Tapi seratus persen."

"KAMU?!"

...

Hasgard, Dohko, El Cid, dan Defteros berdiri tegap di depan gedung Dojo berlambang kepala kambing itu. Pedang terasah tajam telah bertengger gagah pada masing – masing pinggang dan punggung. Terutama Dohko yang biarpun berbadan kecil, punggungnya telah terhias dua pedang emas kebanggaannya. Membiarkan keempat senior mereka berjaga di barisan paling depan, murid – murid tempat pelatihan yang masih dirasa junior itu mengambil tempat dibelakang, juga memanggul senjata. Berjaga – jaga nantinya jika situasi semakin kacau, setidaknya ada kekuatan tambahan jika enam orang berpakaian serba hitam itu mendesak masuk ke dalam. Meski mereka tahu, kekuatan empat dari keenam Master Dojo Capricorn ini saja sudah cukup.

Enam pria berpakaian gelap tapi bukan anggota band gothic itu juga mengambil gestur siaga, sama dengan keempat penghadangnya. Diantara mereka hanya empat yang memanggul pedang, dan El Cid kenal mereka. Oneiros, Morpheus, Icelus, dan Phantasos, para penyerangnya beberapa bulan lalu. Entah kenapa tangan kanannya yang sekarang di-gips menjadi panas secara tiba – tiba.

Defteros mengernyit melihat 'mereka', pasalnya kakak kembarnya pernah menjadi salah satu dari 'mereka'. Tapi segera keluar karena—percaya tidak percaya, tapi ini kenyataan—tidak tahan dengan kelakuan para Spectre (sebutan bagi mereka) yang aneh bin ajaib. Selain keempat penyerang El Cid, dia mengenal dua orang lain, yang berambut gelap bernama Kagaho, dan yang paling berwibawa diantara semuanya, berambut pirang, Hypnos.

"Ngapain kalian kesini?!" Dohko hampir saja menghunus kedua pedangnya. Bahkan butuh seseorang sebesar Hasgard untuk mencegahnya berbuat lebih brutal lagi. "Mau duel? Sini saya lawan satu – satu!"

Amarah yang tidak dapat terbendung lagi milik pemuda China ini punya landasan yang kuat. Pasalnya, dia adalah saksi mata sekaligus orang pertama yang mendapati El Cid terbaring bersimbah darah di tempat kejadian. Dia mengerti masalahnya, temannya ini kalah bukan karena lemah, tapi karena lawannya yang kelewat curang sampai – sampai duel satu lawan satu pun mereka tidak mampu. Apalagi dengan kondisi batiniah El Cid yang serasa dilanda masalah, tentu saja kalah telak dapat diprediksi dengan mudah dalam laga empat lawan satu.

"Hypnos... sudah lama tidak bertemu." Sosok tegak seorang tua tapi terlihat amat kekar berjalan pelan melewati barisan empat muridnya yang segera menyingkir memberi jalan. Dibelakangnya juga muncul seorang lagi dengan aura yang sama persis, perkenalkan sang pemilik Dojo, Master Izo. "Ingin melanjutkan duel kita yang sempat tertunda itu?"

"Hakurei, sayang sekali saya tidak datang untuk itu. Tapi karena masalah lain." Meski tersenyum, kilatan aneh tertera jelas saat pria bernama Hypnos itu menatap mata tetua Dojo. "Empat anak saya ingin meminta maaf tentang kejadian beberapa waktu lalu. Ya, menyangkut anak didikmu yang berbakat itu, siapa namanya?"

"El Cid." Izo yang menjawab. Pria paruh baya berambut panjang diikat kebelakang itu memberi kode dengan gerakan kepala ke arah anak didiknya, membuat semua mata sekarang tertuju pada El Cid seorang.

Hypnos tersenyum lagi, dan berbalik menghadap salah satu anaknya yang berwajah paling masam di antara yang lain. "Icelus, lakukan bagianmu!"

Sementara yang dipanggil malah membuang muka acuh, tanda bahwa dia sama sekali tidak menginginkan ini terjadi. Dia tidak tahu saja bahwa sang ayah sekarang malah semakin memperlebar senyumnya, yang entah kenapa membuat siapapun yang melihatnya merinding seketika. Hasgard bahkan tidak dapat menilai itu tampan atau mengerikan.

"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Jadi laksanakan, atau..." Hypnos menggantung, sengaja tidak melanjutkan, membiarkan orang – orang berspekulasi sesukanya. Tapi tiba – tiba raut wajahnya melunak, meski senyumnya masih tetap mengancam. "Ini demi kebaikanmu, nak."

"Iya! Iya!" mendengus jengkel, Icelus maju dengan gusar tepat di hadapan El Cid. Dengan tatapan meremehkan, dia memandang sang musuh lama yang juga sedang memandangnya. "Masih hidup aja, loe?"

"Sialan!" memanfaatkan celah kungkungan Hasgard yang terbuka, Dohko maju menerjang Icelus dengan pedang terhunus. Tapi sebelum pedang keemasan itu menyentuh kulit targetnya, pedang lain dengan warna lebih gelap telah menepisnya.

"Minggir, Kagaho!" Dohko mendelik tajam setajam silet kepada seseorang yang dengan lancangnya menginterupsinya. Sementara yang ditatap hanya memberi ekspresi datar, seolah mengejek sang pemuda Asia yang cepat naik darah.

"Yang tidak berkepentingan sebaiknya jangan ikut campur." Ucapnya dingin.

Mengenyampingkan rasa penasaran bagaimana Dohko dapat mengetahui nama pemuda berambut gelap itu, Hasgard dibantu dengan Defteros menarik paksa teman kecilnya untuk mundur. Yang diterima Dohko dengan tidak ikhlas, pedangnya tidak ia sarungkan, tanda bahwa terjangan tiba – tiba mungkin akan terjadi sekali lagi.

Disisi lain, El Cid masih diam tidak bergeming dengan adanya Icelus di depannya. Excalibur, pedang legendaris warisan dari Izo, dia genggam kuat – kuat di tangan kirinya. Tangan kanannya memang sedang tidak dapat diandalkan, tapi dirinya masih punya tangan yang lain, dan itu sudah cukup baginya.

Pemuda Spanyol itu mengernyit sedikit begitu menyadari Icelus tanpa kata – kata menyodorkan sebuah pedang bermata dua lengkap dengan sarungnya kepadanya. Kubu Dojo Capricorn juga berekspresi sama, tidak mengerti disertai naiknya satu alis mereka. Kecuali Hakurei yang memang tidak punya alis. Sementara kubu yang lain diam saja, seolah tahu maksud di balik semua ini.

"Ambil, bego!" tegur Icelus begitu menyadari El Cid sama sekali tidak meresponnya. Mengundang geraman sekali lagi dari bibir Dohko.

"Kamu beneran minta ditebas!" semua ada batasnya, termasuk kesabaran Dohko. Tapi kita harus berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa karena pemuda itu hanya menggeram di tempatnya berdiri, tidak berinisiatif untuk menyerang lagi. Mungkin dia sudah lelah.

"Yang kecil disana, bisa diam sedikit?" Oneiros berkomentar pedas, memunculkan urat – urat di dahi orang yang tadi dia tegur. "Ini situasi krusial, mengerti tidak?"

"Tahu, nih! Bikin tambah gerah aja." Saudaranya yang bernama Phantasos menimpali.

"Eh! Terserah saya, dong! Saya yang tuan rumah, tamu jangan main interupsi sembarangan." Dohko tidak tinggal diam.

"Dimana – mana tuan tumah yang harus hormat sama tamu! Disini kebalik, ya? Heran." Morpheus semakin menambah kadar emosi dalam diri sang pemuda China.

"KALIAN—"

"Yang ingin bicara lagi, disarankan untuk diam. Atau dengan sangat terpaksa saya harus menebasnya." Izo yang mulai jengkel dengan cek – cok tidak berguna ini. "Termasuk kamu, Dohko."

Pemuda yang disebut namanya itu ingin sekali mengelak, tapi apa daya, pedang yang tergenggam manis di tangan masternya sekarang lebih mengerikan. Akhirnya dia hanya bisa pasrah menyarungkan kembali pedangnya, dan diam di tempat dengan muka merajuk yang tidak enak dilihat oleh siapapun.

Melanjutkan sesi hadap – hadapan El Cid dan Icelus, meski dongkol setengah mati, El Cid tetap berwajah datar mengambil pedang panjang itu dari manusia di hadapannya. Dia mengenalinya, pedang yang sama yang telah hampir memutus lengan kanannya. Sekarang malah digenggam oleh tangan kirinya, memberi reaksi aneh pada tangannya yang lain. Penolakan mungkin.

Disisi yang satunya, Icelus mundur tiga langkah menjauhi El Cid. Kemudian merentangkan kedua tangannya sambil mendongak dan menutup mata. Membuat siapapun akan mengucek mata tidak percaya begitu melihatnya, mustahil bagi seorang bertampang preman macam Icelus untuk berpose pasrah layaknya sekarang. "Tebas di manapun loe suka." Dengar, walau nadanya masih sombong, tapi kental dengan kepasrahan.

Penampakan ini membuat sesuatu terlintas dalam benak Izo. Selama hidupnya sebagai ahli pedang, kejadian seperti ini sangat jarang dijumpainya. "Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Tebasan pedang dibalas tebasan juga." Dia mengalihkan tatapannya kepada Hypnos yang entah kenapa amat murah senyum sekarang. "Jadi ini yang kalian maksud. Pengembalian kehormatan?"

Pria pirang yang meski telah berumur tapi tetap kelihatan aura mudanya itu mengangguk. "Setidaknya kehormatannya dapat dipulihkan. Saya akui Oneiros, Morpheus, dan Phantasos juga bersalah, tapi hanya pedang Icelus-lah yang tidak mengakui pemiliknya lagi."

Sekarang semuanya sudah jelas, bahkan Dohko mulai merasa sedikit respect terhadap Icelus. Setidaknya orang itu masih memiliki jiwa kesatria biarpun hanya secuil saja. Semua perhatian tercurahkan kepada El Cid sekarang, ini keputusan yang harus dia ambil. Menebas kembali Icelus, membawa kehormatan agar pedangnya dapat mengenali pemiliknya kembali, dan masalah ini akan selesai.

Pemuda berambut pendek itu menitip Excalibur pada Hakurei, dan mulai melepaskan pedang Icelus dari sarungnya. Pedang yang tampak berbahaya dan mengancam seperti pemiliknya, seolah membuktikan bahwa besi tempaan itu telah banyak meminum darah musuh – musuhnya. Mengelus gagangnya, El Cid meminta persetujuan dari sang pedang, yang berdampak pada lengan kanannya yang kembali normal, tidak tegang seperti tadi.

El Cid mengangkat pedang itu tinggi, sambil matanya menatap lurus Icelus yang sama sekali tidak bergetar di tempatnya sekarang. Keberanian yang patut dihadiahi pelukan, sama sekali tidak ada tremor pada tubuh Icelus, menandakan target benar – benar menganggap ini hanya permainan belaka.

ZIIINNGGG...

Mata pedang itu terayun tegas menebas tubuh sang majikan. Membisukan siapa saja yang melihatnya, bahkan bagi murid – murid junior di tempat pelatihan itu yang sedang mengintip dari kejauhan. Tidak ada yang memekik, tidak ada yang menjerit, tidak ada yang berkomentar, tidak ada yang bersuara biar satupun. Semuanya menahan napas, mencoba mencerna tayangan super cepat yang belum dapat diproses otak masing – masing.

Sampai El Cid kembali ke tempatnya, dan menyarungkan kembali pedang bewarna gelap milik Icelus. Kemudian menyerahkan sang pedang kepada pemiliknya dengan wajah dibuat seramah mungkin, meski hasilnya aneh. "Pedangmu tajam."

Bibir Icelus bergetar, tremor yang tadi dia tahan muncul seluruhnya. Tapi ini aneh baginya. Tebasan tadi jelas – jelas menembus tubuhnya, tapi dirinya sama sekali tidak merasakan apa – apa. Atau ini karena gerakan El Cid yang kelewat cepat, hingga menimbulkan ilusi optik di matanya? Tidak ada rasa sakit, tidak ada ceceran darah, tidak ada potongan tubuh beterbangan, tidak ada apa – apa.

"Eh?" dia cepat – cepat menunduk dan mendapati helai – helai rambutnya telah berserakan di atas tanah. Menyebar di mana – mana bahkan ada yang tertiup angin. Tangan kanannya refleks menyentuh kepalanya, tempat dimana El Cid mengarahkan tebasannya. Ada bagian kasar dan tidak teratur, bukti bahwa baru saja dipotong walau tidak sampai botak. El Cid hanya menebas rambutnya. Tapi kenapa? Bukankah seharusnya dia berbuat lebih brutal lagi? Apa manusia bernama El Cid itu tidak kenal dengan yang namanya balas dendam?

"Dia berpengalaman, asah dengan baik. Setelah ini, dia akan terus setia padamu." El Cid kembali berbicara, memecah kesunyian yang sama sekali belum dihentikan oleh Dohko yang biasanya paling benci diam – diaman. "Kalau boleh tahu siapa namanya, pedangmu?"

"Vi-Vision." Icelus merutuki lidahnya dalam hati, yang bisa – bisanya terbata – bata dalam berkata – kata. Tidak seperti dirinya yang biasanya.

"Nama yang bagus."

Icelus tidak berkata apa – apa lagi. Ralat, tidak mampu berkata apa – apa lagi.

Setelah dirasa masalah ini telah tuntas, El Cid pamit dan beranjak pergi sekaligus mengambil kembali pedangnya dari Hakurei, masuk ke dalam gedung dengan alasan sudah waktunya ganti perban. Sementara Icelus masih diam di tempatnya berdiri, belum dapat menerima apapun yang telah terjadi. Dia bingung setengah mati.

"Kenapa? Kenapa dia—"

"Karena kamu Cuma bilang 'tebas di mana pun yang loe suka'." Dohko yang menjawab, tapi bukan dengan geraman seperti tadi, tapi dengan seyuman yang dipaksa ramah. Mulai menerima bahwa Icelus tidak sepreman tampangnya. "Terjemahin sendiri deh artinya." Dia berbalik mengikuti El Cid, Hasgard dan Defteros yang terkekeh kecil melihat ekspresi bingung Icelus juga ikut meninggalkan tempat. Menolak berkomentar lebih banyak lagi.

"Maksudnya?" entah karena memang dari sananya telat mikir atau terbentur banyak persoalan, Icelus sama sekali belum mendapat gambaran maksud kelakuan El Cid tadi.

"Artinya..." Hakurei berbaik hati menjelaskan, lengkap dengan senyum terpampang. "Dia suka rambutmu."

Membekulah Icelus mendengarnya.

"Mari masuk. Sudah waktunya makan siang, tidak keberan 'kan makan bersama kami?" Izo mempersilahkan tamu – tamunya itu. Ekspresi ramah menghiasi wajah paruh bayanya.

"Dengan senang hati, tentu saja." Hypnos membalas, dan memberi komando kepada bawahannya yang lain untuk mengikutinya masuk ke dalam gedung utama Dojo. Yang lainnya mengikuti dengan tertib, meski bingung dengan sikap ramah tamah sang tuan rumah yang tiba – tiba.

"Oh, dan Icelus..." sebelum benar – benar pergi, Hypnos menyempatkan diri untuk berbalik sejenak. Menengok keadaan sang 'anak'. "Mukamu merah sekali."

...

Defteros sekarang mengerti apa maksud Aspros saat kakak kembarnya itu berkata bahwa kelakuan semua Spectre itu aneh bin ajaib. Ya, ya, setidaknya dia paham tekanan batin apa yang dirasakan saudara kembarnya itu. Tidak perlulah disebut semua, cukup satu saja yang mewakili lainnya. Tepat disebelahnya, duduk seseorang yang diidentifikasi sebagai Phantasos.

Menurut cerita Aspros, salah satu anak Hypnos ini punya kelainan Dissociative Identitiy Disorder alias kepribadian ganda. Sisi lain dirinya sebagai seorang laki – laki angkuh nan sombong, tapi jika 'dirinya' yang lain sedang kumat, bertransformasilah Phantasos menjadi berwatak keperempuanan yang agak kecentilan. Seperti sekarang ini, Phantasos female version telah mengambil alih, karena meski tampilannya macho tapi gerak – gerik manusia itu sama sekali tidak mencerminkan begitu.

"Ih, Aspros jangan lihatin aku kayak gitu, dong!" Phantasos yang menyadari tatapan aneh mengarah padanya, segera berkomentar. 'Suka, ya?"

"Siapa, juga?!" Defteros merinding seketika. Dia sudah punya Asmita, meski pacarnya itu lempeng minta ampun, tapi sama sekali tidak membuat pemuda berkulit kecoklatan itu pindah ke lain hati. "Maaf ya, saya Defteros bukan Aspros. Kami memang kembar, tapi tolong jangan disamakan!"

"Kalian memangnya apa bedanya, sih?" Phantasos mengernyit.

"Aspros ganteng. Saya lebih ganteng lagi. Selesai!" Defteros menjawab acuh, sebelum menjauh dari jarak rangkul Phantasos. Mendekati Dohko yang berada di sampingnya.

Setelah makan siang yang—tumben – tumbennya—damai itu, Hypnos ingin membicarakan sesuatu yang penting tentang Spectre dan Dojo Capricorn. Menyangkut kerja sama dan lain – lain, yang segera diterima dengan sangat antusias oleh Hakurei dan Izo. Karena itulah, ketiga pria berumur itu mengurung diri mereka di ruangan pribadi Izo guna menemukan tempat rapat yang lebih nyaman.

Meski sempat terjadi kehebohan gara – gara Dohko yang menyeletuk aneh – aneh dengan mengatakan 'Tidak yakin, tuh mereka benar – benar mau rapat. Atau jangan – jangan 'rapat' yang tidak – tidak lagi. Kalau kalian tahu maksud saya-lah', yang segera dihadiahi jitakan dari gagang pedang Excalibur milik El Cid. Walau tidak bisa dipungkiri, pihak Spectre juga berpikir hal yang sama. If you know what I mean-lah (?).

Kita abaikan dulu pikiran sesat sejenak. Karena ketua masing – masing yang sedang terfokus pada pembicaraan khusus, alhasil anak buahnya hanya bisa duduk menunggu. Dan beginilah mereka sekarang, Phantasos, Defteros, Dohko, Kagaho, Oneiros, Morpheus, Icelus, Hasgard, dan El Cid yang duduk melingkar di aula utama. Menunggu pimpinan mereka menyelesaikan rapat yang katanya serius itu.

Yang tidak mengenakan adalah, setelah hampir sepuluh menit berlalu, tidak ada sama sekali yang berbaik hati membuka topik pembicaraan bersama setelah percakapan labil menyerempet narsis antara Defteros dan Phantasos. Menjadi awkward-lah suasana aula itu, bayangkan! Sembilan orang berkumpul tapi tidak ada satu pembicaraanpun yang muncul. Mana itu Phantasos yang katanya ceplas – ceplos? Icelus yang katanya selalu bisa mengomentari apa saja? Defteros yang narsis? Dohko yang cerewet? Kenapa tiba – tiba jadi kalem begini? Habis diceramahi Asmita berjamaah, ya kalian semua?

"Begini saja!" Oh, apa tadi saya bilang kalau Dohko cerewet? Dan benar saja, hening – heningan memang bukanlah sesuatu yang membuatnya nyaman. "Dari pada kita semua bengong seperti ini. Lebih baik memainkan sebuah permainan."

Meski tatapan aneh dari kedelapan orang itu tengah mencecarnya, pendirian Dohko untuk mengakhiri situasi krik-krik jangkrik ini tetap kokoh. "Permainannya, salah seorang dari kita akan menyebut sebuah kata. Misal timbangan. Dan orang disebelahnya harus menyambung dengan kata lain, dan begitu seterusnya sampai berakhir. Kalau ada yang terlambat menjawab, atau mengucap kata yang sudah disebutkan sebelumnya, dia harus dihukum. Bagaimana?"

Seolah mendengar Dohko menyarankan mereka untuk main lompat tali, begitulah reaksi mereka yang lain. Ada yang menganga, ada yang melotot, ada yang memasang ekspresi 'ngaco, loe!', ada yang terkekeh, ada yang berdecak, ada yang facepalm, ada yang bengong, dan ada yang tidak bereaksi apa – apa. Sementara sang pencetus ide jadi ingin pundung segera, begitu diberi respon tidak mendukung itu.

"'Kan Cuma saran." Dohko manyun semanyun – manyunnya.

"Api." Kagaho berucap cuek, sambil tangannya menyalakan ujung rokok yang segera ia hisap. Tatapan aneh yang tadi tertuju pada Dohko, sekarang terpental kearahnya. Tidak menghiraukan tatapan – tatapan menyesakkan hati, pemuda berambut hitam itu menjepit rokok tadi di sela – sela jarinya. "Daripada Cuma diam 'kan. Apa salahnya ikut main?"

Dohko tidak jadi manyun, dia menatap Kagaho dengan tatapan sulit diartikan. Tidak menyangka ada yang berbaik hati menyetujui usulannya.

"Asap, kalau begitu." Mau tidak mau Oneiros yang ada di samping Kagaho ikut menyambung.

"Betulan mau main?" Morpheus masih tidak percaya. "Rokok, aja deh."

Icelus ikut mengernyit tidak percaya, tapi akhirnya ikutan juga. "Kanker."

"Obat." Hasgard turut ambil bagian.

Jujur, begitu mendengar kata 'obat', hal pertama yang terlintas di kepala El Cid adalah 'Camus'. Tapi mustahil baginya untuk mengucapkannya, akhirnya dia memaksa otaknya untuk memikirkan kata yang lain. "Sakit." Oh, apakah ini refleksi dari hatinya?

"Rumah Sakit." Phantasos menjawab cepat.

"Harus satu kata." Dohko mengoreksi.

"Eh?" Phantasos panik. "Rumahsakit!"

"Main yang bener, dong!" Icelus protes dari tempatnya duduk. "Udah hampir dua menit. Dihukum! Dihukum! Dihukum!"

"Phantasos dihukum!" Morpheus menyeringai melihat saudara (atau saudari)-nya yang gelagapan bukan main.

"Masa' dihukum?" sang terdakwa tidak terima.

"Dan hukumannya, harus ditebas." Oneiros menampilkan ekspresi serius sambil merogoh kantong celananya. Membuat yang lain waspada seketika. Ditebas? Muke gile? "... dengan spidol!" bersamaan dengan perubahan ekspresi yang mendadak, Oneiros mendekati Phantasos dan segera melukis huruf 'X' besar diwajah adiknya itu dengan spidol dari sakunya. Kemudian tertawa geli melihat hasil karyanya. Semua yang lain minus korban juga tertawa bersama Oneiros, termasuk El Cid walau hanya sekedar lengkungan samar di bibirnya.

"Sial! Awas ya, kalian!" Phantasos geram sekali. Mendapati wajah 'eksotis'-nya dinistai seperti itu. "Benci!"

"Heh?" Defteros kaget, tapi segera meyambung. "Rindu?"

Ini mengingatkan Dohko dengan lagu yang sering dinyanyikan Shura adiknnya El Cid. Dengan senyum ditahan, dia menyambung. "Payung."

"Hitam." Sepertinya Kagaho juga memikirkan hal yang sama.

"Laut." Oneiros mulai menikmati.

"Harapan."

"Impian."

"Cinta."

"Cam—" El Cid berusaha menghentikan dirinya sendiri sebelum nama itu terlontar keluar. Sial, kenapa di saat – saat seperti ini yang dia pikirkan hanya orang itu? Belum tentu orang itu juga sedang memikirkannya. "Camaraderie[1]."

"Eh? Apaan itu?" Phantasos pecah konsentrasinya. Sama sekali tidak mengenali kata yang dilontarkan pemuda di sampingnya ini.

"Phantasos dihukum!" Morpheus berteriak lagi.

"Dihukum! Dihukum! Dihukum!" Dohko dan Icelus bertepuk tangan kompak, memanas – manasi pemuda berambut kuning yang panik untuk kedua kalinya.

"Kok gitu?" Phantasos tidak terima.

Detik berikutnya Dohko, Icelus, dan Defteros telah berebut untuk mencoreti wajah Phantasos dengan spidol yang mereka dapat entah dari mana. Semenatara sang korban berusaha mati – matian menghindar.

"TIDAAAAKKK... WAJAH CANTIKKU...!" Berasa dengar teriakan Aphrodite kedua.

...

Hypnos bengong.

Hakurei shock.

Izo sweatdrop di tempat.

Bagaimana tidak? Baru saja mereka berdiskusi membahas tentang kerjasama dua organisasi ini, tiba – tiba disuguhkan dengan anak didik masing – masing yang wajahnya bagai lukisan abstrak. Torehan tinta hitam menyebar dimana – mana, lucunya lagi mereka malah bertampang sok jaim. Benar! Mereka, termasuk El Cid yang memang sudah jaim. Hanya saja bekas spidol yang ada pada pemuda Spanyol itu hanya berupa garis horizontal panjang di tengah, yang membagi wajahnya menjadi dua. Dan yang paling banyak mendapat hiasan 'kehormatan' itu adalah Phantasos. Bahkan saking penuhnya wajahnya dengan tinta spidol, sampai merembes ke rambut dan lehernya. Kita bisa menilai siapa yang punya konsentrasi paling tinggi dan siapa yang sebaliknya.

"Kalian..." Hypnos masih berupaya tersenyum normal. Meski hati kecilnya sedang tertawa membahana. "... bersenang – senang?"

Sementara Hakurei dan Izo tidak dapat berkomentar saking sakitnya perut mereka menahan tawa.

"Lumayan." Oneiros berusaha mati – matian menjaga wibawanya dengan batuk gadungan. "Rapatnya bagaimana?"

"Lancar, tentu saja. Setelah pulang nanti bisa langsung dilaporkan kepada pimpinan." Dia berbalik menghadap Hakurei yang sedang menggigit bibirnya. Masih dengan senyum tersungging. "Bisa kami pinjam toilet sebentar? Sepertinya itu perlu."

"Tentu saja." Hakurei berhasil membuka mulutnya dan mengucap kata tadi sambil tetap menahan tawa. Oh, andai dia bawa kamera, peistiwa ini akan dia abadikan sepanjang masa. "Silahkan, lewat sini." Salah satu tetua Dojo itu menunjuk pintu keluar, dan membimbing tamu – tamunya menuju lokasi yang mereka cari. Meninggalkan aula utama yang sekarang ditinggali Izo, El Cid, Hasgard, Dohko, dan Defteros, lengkap dengan wajah mereka yang butuh untuk ditertawakan.

"Cepat sekali akrabnya." Komentar Izo tidak dapat menahan senyum.

...

Camus mengambil salinan resep yang diberikan oleh salah satu teman kerjanya, dan meneliti satu – satu obat yang tertera di dalamnya. Tangannya dengan cekatan segera mengambil bahan – bahan yang diperlukan di rak penyimpanan, dan menimbang kadarnya pada timbangan di hadapannya.

Resep ini, adalah resep obat luka bakar. Jadi dirinya diberi komando secara tidak langsung untuk segera menyelesaikannya dalam waktu singkat. Apalagi dengan predikat 'Cito'[2] yang tertulis jelas di puncak resep, merupakan hal yang harus disegerakan.

Setelah menempelkan etiket biru—penanda bahwa obat ini khusus untuk pemakaian luar—serta label 'kocok dahulu' pada botol obat, Camus beranjak menuju loket penerimaan. Bermaksud untuk menyerahkan obat tadi kepada pasien yang sedang menunggu. Dan terkejutlah ia mendapati siapa sang pasien.

Camus tidak tahu namanya siapa, tapi yang jelas, dia pernah melihatnya. Salah satu anak Hypnos, yang juga merupakan tersangka penyerangan El Cid. Pemuda berambut hijau itu kembali memperhatikan etiket obatnya, dan merutuki diri sendiri yang dengan mudahnya melupakan nama tak normal yang diambil dari salah satu Dewa Mimpi dalam Mitologi.

"Icelus..."

"Oh, itu gue." Sang pasien buru – buru menghampiri loket di mana Camus berada dengan tangan kanannya yang memerah. Pemuda itu segera mengambil obat di tangan Camus dan membuka tutupnya.

"Mohon dikocok dahulu." Camus memperingati.

Icelus menurut saja dan mengocok botol kecil itu sebelum memakaikannya pada tangannya yang habis disembur minyak panas oleh Kagaho. Alasannya simpel, karena Icelus telah membocorkan rahasia kalau selama ini personifikasi dari Bennu itu diam – diam menjalin hubungan dengan salah satu pelatih senior Dojo Capricorn. Ya, yang berambut coklat itu, yang childish, dan tidak bisa diam. Siapa namanya? Dohko?

Dirinya hanya keceplosan itu saja, tapi tempatnya memang sedang tidak memadai. Dia tidak sengaja mengungkap fakta itu di rapat sepulang dari kunjungan mereka ke Dojo Capricorn, tepat di depan Hades dan pengasuhnya Pandora. Berhubung Pandora adalah tipe cewek yang suka heboh jika ada gosip baru, maka menyebarlah kisah itu lewat perantara speaker yang dipasang di setiap sudut gedung kastil mereka. Dan Icelus harus ikhlas mendapat semburan api kemarahan (dalam arti sebenarnya) dari Kagaho yang sedang menggila.

"Kenapa wajahmu?" Camus bertanya, begitu melihat bekas coretan hitam yang menyebar tidak merata pada wajah sang pasien.

"Oh, ini." Icelus terus mengocok botol dalam genggamannya. Kemudian membuka tutup botol dan mengolesinya pada lengannya. "Habis kena spidol."

Camus mengangguk menanggapinya.

"Wah. Manjur ternyata!" Komentar Icelus begitu merasa lengannya mulai baikan saat cairan kental berwarna putih itu menyelimuti daerah yang sakit. "Makasih, eh..." Icelus mencoba membaca etiket di obat tadi, mencari nama sang pembuat obat. Tapi sama sekali tidak bisa membaca tulisannya. Di matanya hanya berupa jalinan benang kusut—maaf, tapi itulah kebenarannya.

Beruntung, karena lawan bicaranya sepertinya telah maklum dengan hal ini. "Camus."

"Oh, iya. Makasih, Cam—" mendadak matanya membesar. Memori beberapa jam lalu tentang permainan kata usulan Dohko kembali terngiang dalam kepalanya. "—Mus."

"Sama – sama." Camus menjawab.

'Cam—' nama ini.

'Cam—' nama ini.

'Cam—' nama ini jangan – jangan...

'Cam—' apa kata sebelum nama ini?

'Cam—' Cinta?

'Camaraderie.' Kedokmu terbuka, eh, kambing!

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.

[1] Camaraderie, bahasa Inggris. Memiliki arti persahabatan. Jika pembaca tahu maksud saya :D, apakah hubungan dua pemeran utama kita ini akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius? Ataukah hanya sebatas camaraderie seperti disinggung di atas? Kita tunggu tanggal mainnya #plakk

[2] Cito, bahasa Latin. Memiliki arti segera. Merupakan istilah dalam Farmasi yang dipergunakan dalam resep yang butuh penanganan secepatnya. Bersinonim dengan urgent, dan statim.

Selamat menikmati persembahan dari saya. Maaf kalau humornya kerasa agak tenggelam, kadar humor saya sedang berkabung soalnya. Ternyata bukan Cuma hukumannya Angelo saja yang memiliki sekuel, ulangan juga punya sekuel, dan itulah yang melanda saya sekarang T.T entah saya kena kutuk atau bagaimana, Senin depan akan ada ulangan Biologi #teringatchapterlalu

Benar, pemirsa! Karma itu ada, waspadalah! Waspadalah!

Tentang Dohko yang baby face, itu adalah komentar teman sekelas saya yang masih awam dengan Saint Seiya. Suatu hari dia ikutan nonton Saint Seiya Original, pas di Hades Sanctuary dan saat lihat Dohko, dia bilang "Unyu ini. Kayak anak kecil!" dan begitulah asal muasal kejadiannya. Saat teman saya melihat Dohko yang old version penunggu air terjun Rozan, dia benar – benar tidak habis pikir XD

Saya ucapkan terima kasih kembali kepada pembaca yang telah meluangkan waktu, juga yang telah mengapresiasi fic ini dalam bentuk apapun. Buat Mbak Lia, 'asupannya' akan saya tingkatkan di-chapter mendatang. Sekali lagi terima kasih~