K GoRa-GoHands
M-Rated
YAOI, SEMI-CANON, OOC, FREAK, and so on
Ketentuan hidup bukan berada di tangan orang lain. Bukan di tangan kedua orang tua kita dan bukan di tangan manusia-manusia lainnya. Relasi tertinggi kita adalah saat bertemu Sang Penguasa untuk yang pertama kalinya. Di mana kita diberikan waktu dan alasan kenapa kita diciptakan, diberi umur, nasib, dan bahkan pasangan hidup. Namun, saat kita telah dewasa dan mengerti tentang artinya hidup … semua hal itu telah hilang dari ingatan kita. Karena apa? Karena kita hidup … bertujuan untuk mencari dan menepati janji pada pertemuan itu. Saat kita menentang jalan kehidupan kita sendiri … di saat itulah kita mengingkari janji kita. Biarkanlah kehidupan mengalir dengan fluks. Membiarkan kedua kaki dan netra ini untuk menapaki dan menatap kehidupan ini.
Mad Gangster
Second Note
.
.
Seorang pria dengan rambut cokelat muda tampak menatap sosok di hadapannya dengan geram. Mata merah tuanya tak pernah lepas dari sosok berambut hitam panjang tersebut. "Kau buta, ya? Kalau jalan lihat-lihat! Wanita sialan!" teriaknya sembari mengacungkan tongkat pemukul yang ada di genggaman tangan kanannya. Dengan perlahan dia mendekati sosok itu dan ingin memukulnya. Namun gerakannya terhenti saat seorang pria brambut putih mendekati sosok tersebut.
"Kuroh~ kenapa kau lama sek—eh? Siapa orang ini?" tanyanya sembari menunjuk sosok brambut kecokelatan tersebut. Dia tampak memiringkan kepalanya tak mengerti sembari menatap pria berambut hitam yang baru saja diberikannya pertanyaan tersebut. Sosok berambut putih itu hanya mampu terdiam dan membulatkan matanya saat melihat apa yang telah tergeletak di hadapannya. "Ku-kuenya?" ucapnya dengan nada horror seraya menundukkan dirinya untuk memegang kue yang telah terburai tersebut.
"Berandal sinting ini yang telah meperlakukan kue kita dengan tidak senonoh seperti itu!" ucap Kuroh sembari menunjuk pria berambut cokelat muda di hadapannya. Tampak guratan-guratan marah menghiasi wajah tampan Kuroh. "Ganti kuenya, sialan!"
"Eh, wanita tidak tahu diri! Dari ratusan meter sebelumnya aku sudah berteriak untuk menyuruh semua orang menyingkir dari jalan, kau saja yang tuli! Makanya rambut itu dipotong agar tidak menutupi kuping." Yata menyeringai penuh kemenangan saat melihat wajah kesal pria yang dianggapnya wanita tersebut.
"Sialan! Sudah kukatakan bahwa aku ini pria bukan wanita!" Kuroh menatap Yata dengan kesal. Dengan perlahan dia berjalan mendekati Yata dan hendak menggerakkan tangan kanannya untuk menyentuh Yata.
'BWOSH'
Kuroh membulatkan matanya saat melihat seorang pria berambut pirang muda sedang memegang tangannya dengan kuat. "Maa~ maa~ ayo hentikan perkelahian bodoh ini." sosok itu tersenyum ramah ke arah Kuroh. Namun tak dapat Kuroh pungkiri bahwa genggaman tangan itu begitu kuat. "Yata-chan, ayo pul-Yata-chan?" Izumo melihat ke sekelilingnya. Nihil. Tak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaan Yata di sekitar sana. Izumo mengeraskan rahangnya. Dengan kasar dia melepaskan tangan Kuroh. "Maaf telah mengganggu pagimu," ucapnya sembari tersenyum ramah.
Kuroh tak menjawab perkataan Izumo. Dia hanya terus menatap Izumo dengan lekat. Dia menyeringai penuh arti sembari merapikan pakaiannya. "Kita buat kue lainnya," ucapnya sembari menarik pria berambut putih yang menatapnya dengan bingung. "Pasangan yang sedang berkelahi itu menyeramkan," ucap Kuroh semakin membuat Shiro bingung. Shiro hanya sesekali menolehkan kepalanya untuk melihat Izumo yang masih berdiri di tempatnya yang sama.
.
.
.
Yata mengeram kesal sembari menendang dinding di sebelahnya. "Sial! Pagi yang buruk!" ujarnya kesal sembari menghela napas lelah. Sudah beberapa hari ini dia mengalami masalah kecil yang menyebalkan. Mulai dari susah tidur sampai memungut sosok yang dia sendiri sama sekali tak kenali. Yata menyandarkan punggungnya pada dinding di sebelahnya. Dia mengelap keringat yang membasahi dahinya dengan kasar. "Bagaimana keadaan orang itu, ya?" bisiknya kecil.
"Dia baik-baik saja, Totsuka-san sudah merawatnya dengan sangat baik dan … sepertinya Mikoto tidak masalah dengan adanya orang baru."
Yata menolehkan kepalanya ke samping dan terkejut saat melihat Izumo sedang menatapnya dengan senyuman tipis. "Izumo-san, sedang apa kau di sini?" tanyanya seraya menegakkan tubuhnya untuk bertatapan langsung dengan Izumo. "Maafkan ketidaksopananku pagi ini." Yata membungkukkan badannya penuh hormat.
"Bukan seperti dirimu membawa orang tak dikenal pulang," kata Izumo setelah meniupkan asap rokoknya. Dia menatap Yata dengan lekat. "Kautahu aku sedikit tidak menyukai dirimu yang peduli dengan orang lain terlalu banyak."
Yata mematung di tempat saat mendengar perkataan orang yang selama ini selalu dihargainya. "Ma-maksudmu Izumo-san?" tanya Yata dengan nada bingung diikuti dengan raut wajahnya yang sama bingungnya. Izumo hanya menghembuskan asap rokoknya dengan kasar dan menggeleng pelan.
"Ha—ah, dia tidak mengerti maksudku," Izumo membatin lelah sembari pergi meninggalkan Yata begitu saja. Dia sempat membalikkan badannya dan tersenyum tipis ke arah Yata. "Dia selalu menanyakan siapa yang telah membawanya ke Homra. Cepatlah temui dia."
Yata hanya terdiam tak berniat menjawab. Kedua tangannya mengepal erat. "Dia tidak mau jujur denganku," ucapnya pelan sembari meremas dadanya dengan kuat.
-VargaS. Oyabun-
Chitose tersenyum ramah menatap orang baru yang sedang duduk di hadapannya. "Beritahu kami namamu," ucapnya sembari tersenyum tipis. Dewa hanya menatapnya dengan kesal. "Kenapa? Aku kan ingin tahu soal namanya."
"Kau menakutinya, bodoh. Lihat saja mukanya jadi babak belur begitu."
'BLETAK'
"Dia babak belur karena habis berkelahi, bukan karena aku. Dasar bodoh!" Chitose tersenyum jahat ke arah Dewa. Matanya tersenyum ramah namun tidak dengan hatinya.
"Seharusnya kau bersikap biasa saja di Homra. Kami semua pernah mengalami hal yang sama denganmu. Namun Mikoto-san menerima kami layaknya keluarga. Kautahu, Homra adalah rumah paling indah di negeri ini."
Dewa dan Chitose menatap jijik ke arah Bandou. "Jangan mendongeng di sini," ucap mereka berdua sarkastis. Bandou hanya dapat menelan ludahnya dengan terpaksa. Ketiga orang itu berbalik menatap pintu masuk saat lonceng yang ada tampak berbunyi dengan nyaring—tanda pintu tersebut dibuka dengan kasar. Mereka semua tampak terkejut saat melihat Yata berdiri dengan pakaian yang kumal begitu juga dengan mukanya. "Yata-san?"
"Maaf telah menyebabkan keributan. Aku akan bertanggung jawab." Yata menghampiri sosok yang sedang duduk dalam keadaan kepala ditundukkan. "Kau baik-baik saja? Kauingin kuantar pulang?" tanya Yata sembari mendekati sosok tersebut. "Ah, maaf. Aku belum memperkenalkan diriku. Yata Misaki, kau?"
"Fushimi Saruhiko. Terima kasih telah menolongku." Sosok itu tetap menundukkan kepalanya.
Yata menghela napas lelah dan memegang dagu orang tersebut agar dapat melihatnya dengan jelas. Yata mengernyitkan keningnya bingung saat sosok yang bernama Fushimi itu membulatkan matanya.
"San-chan! Tutup matamu! Kau tidak boleh melihat adegan boys love ini!" teriak Shouhei sembari menutup mata Bandou. "Tu-tutup! Tutup mata Chitose! Dia tidak boleh melihat ini juga!"
"Hah? Apa-ap-HEI!" Chitose berteriak nyaring saat tiba-tiba Dewa menutup matanya dengan kasar. "Lepaskan, hei! aku sudah cukup dewasa untuk melihatnya! Dasar sialan!"
"Mattaku." Mikoto yang baru saja turun dari lantai dua hanya mampu menghela napas lelah sembari menutup kedua mata Anna. "Yata, kau membuat seseorang di seberang sana patah hati," ucapnya sembari menunjuk ke arah pintu masuk di mana Izumo sedang berdiri mematung dengan mulut yang terbuka lebar. "Hentikan pagi yang aneh ini, tidak sadarkah kalian di sini ada anak di bawah umur."
Semua mata beralih pada Yata dan menatapnya dengan lekat.
'BWOSH'
"A-apa?" ucap Shouhei kaget saat melihat api mengelilingi mereka semua. Matanya beralih pada Mikoto yang sedang menundukkan kepalanya dengan kesal. Aura-aura gelap tampak menyelimuti tubuhnya. "Ke-kenapa Mikoto-san?" tanyanya tidak tahu diri.
"Anak di bawah umur yang kumaksudkan adalah Anna dan bukan Yata," ucapnya sembari menunjuk Anna. Mikoto menghilangkan apinya saat merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya dengan pelan. Tanpa menolehkan kepalanya pun Mikoto sudah tahu siapa pelakunya. "Aku akan kembali tidur."
Totsuka tersenyum ramah. "Ayo hentikan adegan ini. Izumo masuklah, jangan berdiri di depan pintu saja. Yata, turunkan tanganmu sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
"Yes, Ma'am!" jawab mereka serentak.
Totsuka tersenyum ramah sembari mendudukkan dirinya di sebelah Fushimi. "Yata adalah orang yang menyelamatkanmu semalam. Aku bersyukur kau tidak apa-apa. Pagi ini kau belum makan, bukan? Bagaimana jika kita makan terlebih dahulu." Totsuka bangkit dari duduknya dan pergi menuju dapur. Tak lama kemudian dia kembali dengan beberapa jenis makanan yang telah disusun rapi di atas piring. Dia tersenyum ramah dan menyusun piring-piring tersebut di atas meja. "Kita makan sama-sama."
"Mikoto-san?" tanya Yata sembari mendudukkan dirinya di sebelah Fushimi.
"Dia tidak akan menyia-nyiakan tidurnya hanya untuk makan," jawab Totsuka seadanya.
Setelah percakapan kecil itu mulailah mereka makan seperti biasanya. Meskipun masih ada sedikit aura-aura canggung yang terkadang menyelimuti.
-VargaS. Oyabun-
Munakata menatap wanita di hadapannya dengan senyuman tipis. Hembusan napas kecil meluncur manis dari bibirnya. "Jadi, kau belum bisa menemukan buruan kecil kita? Tidak seperti dirimu Awashima-san," ucapnya seraya bangkit dari duduknya. "Mungkin akan lebih baik jika kau menengok bar kecil itu," ucapnya sembari menyeringai tipis. Munakata membetulkan letak kacamatanya sembari meninggalkan Awashima.
"Baik, ketua!" jawabnya sembari meninggalkan ruangan tersebut. Dia menghela napas lelah sembari mengelap keringat yang ada di dahinya. Dengan segara dia bergegas menuju bar kecil yang memang selalu dia kunjungi setiap ada waktu. Senyuman lelah terukir di bibirnya saat matanya menatap ramainya jalanan Tokyo. Sudah cukup lama semenjak terakhir kali dia menginjak jalanan Tokyo yang penuh dengan teknologi canggih. Golden King memang patut diacungi jempol.
.
.
.
Yata tersenyum lebar saat melihat Fushimi memakai pakaian yang telah diberikan oleh Totsuka-san. "Kau sangat cocok dengan itu, Saru!" ucapnya dengan senyuman lebar. Sepertinya akhir-akhir ini mereka menjadi semakin dekat semenjak kejadian pagi itu. Namun, hal itu malah membuat salah satu anggota Homra menjadi kesal dan … cemburu.
Izumo mengeraskan pegangannya pada gelas kaca yang dibersihkannya.
'PRANG'
Semua mata tertuju pada Izumo yang hanya memasang tampang datar. "Ada apa denganmu Izumo-san?" tanya Yata sembari mendekati Izumo. Izumo hanya menatap Yata dengan senyuman yang sedikit canggung. Izumo kemudian mengambil sebuah gelas lagi dan kembali membersihkannya.
"Misaki, ayo keluar. Aku ingin melihat-lihat jalanan," kata Fushimi seraya menarik lengan Yata dengan pelan. "Kami akan kembali secepatnya." Fushimi melambai kecil pada anggota Homra yang masih asik berbicara satu sama lain.
'BLAM'
'PRANG'
Mikoto menolehkan kepalanya ke arah Izumo. "Kau akan memecahkan semua barang yang ada di sana. Kenapa tidak kau buntuti saja mereka. Ah, sepertinya itu mustah-hei!" Mikoto mendecah kesal saat melihat Izumo benar-benar keluar dan berniat membuntuti mereka berdua. Sebegitunya rasa sukanya terhadap Yata sampai-sampai dia tidak ingin ada orang lain yang menghalanginya. "Aku akan tidur di atas," ucap Mikoto sembari bangkit dari duduknya.
Totsuka tersenyum kecil, "Dia tidak pandai untuk berbohong," batinnya sembari tersenyum ke arah Chitose yang sedang mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti. "Sepertinya kita harus membereskan pecahan ini dulu sebelum mengikuti mereka."
"Yay!" Bandou dan Shouhei berteriak senang. Sepertinya Totsuka sangat tahu jika mereka sangat ingin membuntuti orang-orang itu. "Apakah cerita ini akan menjadi drama cinta segitiga, hahaha." Bandou menatap kesal ke arah Shouhei, orang itu memang terlalu berisik dan tidak pernah bisa diam.
-VargaS. Oyabun-
Fushimi menatap kesal pada sosok di hadapannya. Sudah beruntung dia tidak melihat orang-orang itu lagi. Lalu kenapa mereka muncul di hadapannya dalam waktu yang seperti ini. Fushimi mendesis tidak suka saat satu orang mencoba memegang tangannya. "Menyingkir dari hadapanku atau kau mati!"
"Siapa mereka?" tanya Yata sembari memasang tampang siaga. Sialnya dia tidak membawa tongkat dan skateboard andalannya hari ini. "Apa mau kalian?"
'DOR'
Fushimi membulatkan matanya saat salah seorang dari kawanan itu menembakkan pelurunya tepat ke arah Yata. "Apa yang kaulakukan, seialan?" Fushimi menendang pistol tersebut hingga terpantal jauh. "Misaki, kau tidak apa-apa?"
"Ssshh, itu sakit, bodoh!" teriaknya sembari bangkit dari duduknya. Misaki memegangi telapak tangannya dengan kuat. "Siapa yang menyuruhmu asal tembak seperti itu, hah? Dasar bodoh!"
Fushimi membulatkan matanya tak percaya. Orang ini sudah ditembak masih saja bisa teriak-teriak seperti itu. "Mi-misaki, kumohon tenanglah. Kau bisa kehabisan darah jika seperti itu," ucap Fushimi takut sembari memegang tangan Yata. "Hei, Misaki! Misaki!" betapa terkejutnya Fushimi saat tiba-tiba Yata berlari dan mengepung sekumpulan orang itu dengan api berwarna merah menyala. "Apa yang kaulakukan, Misaki?"
"Arrrggghhh!" orang-orang itu tampak berteriak kesakitan saat api yang dibuat Yata mulai mendekati mereka.
"Dia mencoba melukaimu, Saru! Aku tidak akan memaafkannya!"
"Tapi saat ini yang sedang terluka bukan aku melainkan dirimu!" Fushimi berteriak tepat di hadapan Yata dengan nyaring. "Lihat apa yang kaulakukan? Kau bisa saja membunuh mereka dengan api berbahaya itu!"
"Aku tidak peduli! kau temanku dan mereka mencoba melukaimu!"
"Misa—"
"Jangan coba unt—"
"Misaki!"
"APA?"
'CUP'
"Berhenti bersikap keras kepala atau aku akan menciummu lagi?"
Yata terdiam di tempat. Perlahan-lahan api yang dibuatnya mulai mengecil. Dia menatap Fushimi dengan tatapan tak percaya. Tiba-tiba Yata meringis sakit saat rasa nyut-nyutan di telapak tangannya mulai kambuh. "Ki-kita kembali!" ucapnya nyaring sembari menarik tangan Fushimi.
Fushimi berhenti mendadak saat merasakan tangan Yata tak lagi menggenggam tangannya. "Misakiiiii!" Fushimi terkejut saat melihat Yata sudah berada di tangan Munakata dalam keadaan tak sadarkan diri. "Munakata!" desisnya tidak suka.
"Hoo? Sekarang kau berani dengan orang yang telah menyelamatkanmu dari ledakan itu, huh? Jika tidak ada aku kau tidak akan ada di sini." Munakata perlahan mendekati Fushimi yang sedang memasang tampang marah. "Kau berani denganku karena bocah ini, huh?"
"Jangan menyebutnya seperti itu! Misaki adalah temanku!"
'BWOSH'
Munakata termundur jauh saat api merah besar menuju ke arahnya. Dia menyeringai penuh arti. Dia tahu sekali siapa yang ada di balik api tersebut. "Mikoto?" ucapnya dengan seringaian lebar.
"Maaf, kali ini aku tidak akan ikut campur. Karena ini adalah urusan Izumo." Mikoto menyeringai tipis sembari meninggalkan tempat tersebut.
"Kukira Red King tidak akan melarikan diri seperti itu, huh?"
'BWOSH'
Munakata menyeringai penuh arti saat api merah mengelilinginya. "Oh? Mikoto kecil sepertinya sedang marah?"
'BOOM'
Fushimi terdiam di tempat saat melihat Izumo sudah berdiri tepat di hadapan Munakata. "Kembalikan Yata-chan, atau kau mati."
'DUAR'
"Cih, aku bukan orang yang pandai jika menggunakkan fisik," batin Izumo sembari menahan hembusan api biru Munakata. "Yata-chan, aku akan menyelamatkanmu … pasti," batin Izumo penuh kemarahan.
TO BE CONTINUED
Terima kasih bagi yang telah membaca. Maaf jika terlalu lama updatenya~
