Family
.
.
Chapter 1
'Morning'
.
.
Pagi di kediaman keluarga Kang selalu tenang. Karena memang, baik orangtua maupun anak-anaknya tidak ada yang suka membuat keributan. Kecuali di saat-saat tertentu.
Minhyun sudah selesai menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Tinggal memanggil suami dan anak-anaknya, maka sarapan pun akan segera dimulai.
"Jinyoung-hyung, itu kaos kaki Guan, jadi kembalikan!"
Minhyun menoleh ke arah tangga dimana kedua anaknya tengah memperebutkan sepasang kaos kaki yang tengah dipegang oleh Jinyoung —si anak sulungnya.
"Ini punyaku Guan. Aku meletakannya di samping ranjang kemarin." Bela Jinyoung seraya mempertahankan kaos kaki yang ada di tangannya.
"Tidak hyung! Itu punyaku! Aku yang meletakannya di samping meja belajar." Guanlin tak mau kalah.
"Oh, jadi kalian tak meletakan kaos kaki kalian ditempat yang seharusnya?"
Kedua anak itupun membeku. Mati! Mommy mereka sudah mendengar semuanya.
Jinyoung dan Guanlin menoleh secara perlahan. Dan mereka menemukan Mommy mereka yang tengah bersidekap seraya menatap keduanya dengan tajam.
"Sudah berapa kali Mommy bilang, taruh semua barang pada tempatnya. Jangan sembarangan begitu, kalau sudah tertukar, siapa yang repot hah? Kalian sendiri 'kan?" Jinyoung dan Guanlin menunduk saat Mommy mereka sudah mulai menceramahi keduanya.
Jinyoung melirik Guanlin dengan tatapan, 'Ini semua salahmu' yang dibalas juga oleh Guanlin 'Aku tak melakukan apapun'.
"Kalian berdua, apa mendengar Mommy?" Keduanya langsung gelagapan begitu mendengar suara sang Mommy yang terdengar lebih menakutkan dibanding biasanya.
Minhyun menghela nafas, ternyata gen jorok dari suaminya tetap turun kepada anak-anaknya.
"Pokoknya Mommy tak mau tahu, mulai hari ini kalian harus meletakan semua barang pada tempatnya. Jangan mengikuti kebiasaan buruk Daddy kalian." Nasihat Minhyun pada kedua anaknya.
"Aku dengar itu lho, hyung." Suara Daniel terdengar dari atas tangga.
Minhyun tak peduli, ia mengusap lembut rambut kedua anaknya sebelum tersenyum kepada mereka berdua.
"Nah, sekarang ayo sarapan. Nanti kalian terlambat sekolah."
Guanlin dan Jinyoung mengangkat kepala mereka, menatap mata sang Mommy sebelum mengangguk dan berlari ke ruang makan.
"Kau belum rapi juga, Niel?" Minhyun berganti menatap Daniel yang tersenyum lebar lengkap dengan dasi berwarna biru di tangannya.
"Kau tahu sendiri, aku tak bisa memasang dasi." Ujar Daniel setelah sampai di depan Minhyun. Minhyun mendengus, namun ia tetap mengambil dasi Daniel dan memakaikannya.
"Bukannya tak bisa, kau hanya ingin merepotkanku saja." Cibir Minhyun dengan tangan yang masih bekerja.
Daniel diam, matanya memperhatikan wajah Minhyun dan tangannya melingkar dengan pas di pinggang Minhyun.
"Salah jika aku ingin dimanjakan istriku sendiri?" Tanya Daniel dengan senyum yang menawan. Pipi Minhyun memerah melihat senyuman milik Daniel.
"Daddy, ayo sarapan!" Guanlin berteriak dari ruang makan.
Minhyun yang mendengar suara Guanlin pun segera melepaskan tangan Daniel di pinggangnya.
"Ck terserahmu saja, Tuan Kang. Sekarang cepat sarapan, aku tak mau anak-anak terlambat datang ke sekolah mereka." Minhyun merengut seraya berjalan meninggalkan Daniel ke ruang makan.
"Sesuai perintahmu, Nyonya Kang." Balas Daniel sambil tertawa geli, namun langkahnya mengikuti Minhyun ke ruang makan.
.
.
"KIM WOOJIN! ITU SUSUKU, JANGAN DIMINUM!"
"MINTA LAGI SAMA BUNDA JIHOON. KALAU PERLU SAMA SAPI SEKALIAN AJA!"
"BUNDAAAA! DASI PELANGI AYAH DIMANA?"
Sungwoon memijit kepalanya yang terasa pusing akibat teriakan-teriakan dari suami dan anak-anaknya yang terasa seperti akan memecahkan gendang telinganya.
Sungwoon masuk ke dalam rumahnya —ia baru selesai menyiram tanaman— dan mendatangi Jihoon dan Woojin yang masih berdebat di dapur.
"Kalian ini kenapa? Bunda 'kan udah bikin dua gelas tadi. Kenapa masih ribut?" Sungwoon berdiri di tengah-tengah keduanya. Berusaha mencegah dua anaknya itu untuk adu jotos dipagi hari ini.
"Woojin minum dua-duanya Bun! Gimana Jihoon nggak marah coba?" Wajah Jihoon memerah karena marah.
Sungwoon menatap Woojin yang kini meletakan gelas kedua susu yang sudah ia habiskan semua.
"Woojin, kenapa kamu habiskan semuanya? Kasihan Jihoon 'kan."
"Habisnya, Woojin pengen tinggi kaya Guanlin, makanya Woojin minum susu banyak-banyak." Balas Woojin dengan senyum yang menampilkan gingsulnya.
'Gimana mau tinggi kaya Guanlin coba? Orang gennya aja pendek semua?' Batin Jihoon.
Sungwoon menghela nafas, 'Untung anak, untung sayang.'
"Bunda, mana dasi pelangi Ayah?" Jaehwan tiba-tiba muncul di belakang mereka bertiga. Sungwoon menepuk dahinya. Masalah satu aja belum beres, ini nambah lagi.
'Tuhan, salah apa hamba?' —Ha Sungwoon, ibu rumah tangga teribet 2k17.
"Emang di tempat biasa nggak ada yah?" Sungwoon berjalan menuju kamar mereka berdua, Jaehwan mengekori di belakangnya.
Sementara Jihoon dan Woojin, sudah duduk di kursi masing-masing sambil memakan makanan mereka. Mereka tidak terlalu peduli, dengan Ayah dan Bunda mereka yang selalu mengomel jika keduanya makan tanpa menunggu Ayah dan Bunda.
Sungwoon mengacak-acak lemari pakaiannya, sementara Jaehwan hanya memperhatikannya dari belakang.
"Emangnya buat apa sih yah, dasinya?" Sungwoon bertanya dengan ekor mata yang melirik sang suami.
"Ya buat dipake dong Bun. Masa ya buat pajangan? Kan nggak lucu." Jaehwan menjawab dengan senyum yang mengembang.
"Iya dipake buat apaan, Ayah? Emangnya Ayah mau ke kantor? Kantor siapa emangnya? Kan Ayah cuma guru."
"Meskipun cuma guru, penampilan juga cuma nomor satu, Bunda."
"Iya sih, tapi emang entar nggak malu kalau diledekin anak-anak murid Ayah?"
"Kenapa juga harus diledekin, Bun?"
"Ya, apa nyambungnya juga kemeja hitam ama dasi pelangi?"
Sungwoon berbalik dan menyerahkan dasi berwarna pelangi pada Jaehwan.
"Pake sendiri. Bunda mau liat anak-anak."
"AYAH, BUNDA. KITA BERDUA BERANGKAT YAAA!"
Suara teriakan yang terdengar membuat Sungwoon lagi-lagi menghela nafasnya. Anak-anaknya memang kurang ajar.
"Jadi, Bunda yang pakein ya?"
Sama seperti Ayahnya.
.
.
"ONG! JANGAN PAKE YANG ITU! AKU UDAH SIAPIN BAJUNYA DI ATAS KASUR!"
"WARNANYA NGGAK SESUAI SAMA MOOD AKU SEKARANG, HYUNG!"
"UDAH SIH PAKE AJA. MASIH MENDING UDAH AKU SIAPIN. KOK YA NGGAK DIHARGAIN."
"MAU DIHARGAIN BERAPA EMANG? SERIBU? DUA RIBU?"
Daehwi menutup telinganya mendengar suara teriakan yang berasal dari kamar orangtuanya. Daehwi menatap makanan di hadapannya tanpa nafsu. Ia merasa iri dengan teriakan dari dua rumah lainnya —yang berada di sisi kiri dan kanan rumahnya— yang saling meneriakan nama saudara masing-masing.
'Andai aku punya saudara.' Batin Daehwi dengan senyum sedihnya.
"Daehwi, kenapa bengong?" Jisung menghampiri sang anak yang duduk sendirian di meja makan dan belum menyentuh makanannya.
Daehwi menggeleng dan tersenyum tipis, "Daehwi nungguin Appa, Eomma."
Jisung tersenyum, ia mengusap rambut sang anak dengan penuh kasih sayang dan duduk di samping anaknya. Jisung sangat mengerti, bagaimana perasaan anaknya sepenuhnya.
"Kok pada diem? Kenapa nggak dimakan makanannya?" Sang kepala keluarga akhirnya datang. Ia segera duduk di kursinya dan menatap istri dan anaknya dengan tatapan bertanya.
"Kita nungguin Appa." Jawab Daehwi dengan senyum yang mengembang.
Seongwoo ikut tersenyum.
"Ya udah, ayo kita sarapan sekarang."
Ketiganya pun memulai sarapan dengan keheningan yang menyelimuti.
"Bentar lagi Daehwi ulang tahun, Daehwi mau hadiah apa?" Tanya Jisung disela-sela sarapan mereka.
Daehwi menghentikan acara sarapannya. Matanya berbinar senang menatap sang Eomma yang tersenyum lebar menatapnya.
"Kalau Daehwi minta adik, boleh?"
Uhuk!
Seongwoo tersedak makanan ketika mendengar ucapan Daehwi. Dengan segera, ia mengambil gelas air di dekatnya dan meminumnya dengan cepat.
"Nggak boleh ya?" Sinar mata Daehwi meredup.
Sementara Jisung, ia menendang kaki Seongwoo dengan kesal.
"Daehwi jangan sedih, nanti Eomma usahain Daehwi punya adik." Jisung mengusap bahu Daehwi. Daehwi melihat ke arah sang Eomma dengan senyum yang mengembang.
"Benar Eomma?"
"Iya Daehwi. Apa sih yang nggak buat anak kesayangan Eomma?"
Daehwi tertawa senang dan memeluk Jisung dengan erat.
"Terima kasih Eomma. Aku mencintaimu."
"Eomma juga mencintaimu, sayang."
"Nggak cinta apa?" Tanya Seongwoo dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"NGGAK." Balas Jisung dan Daehwi dengan kompak.
"Jahat." —Ong Seongwoo, Appa yang tersakiti 2k17.
.
.
Daehwi keluar dari rumahnya dengan senyum lebar yang terpatri di wajah manisnya. Ia mendekati kedua pasang adik-kakak yang sudah menunggunya di depan rumahnya.
"Sepertinya ada yang sedang bahagia hari ini." Ucap Jihoon seraya memperhatikan ekspresi wajah Daehwi.
"Benar. Daehwi-hyung, kau bahagia kenapa?" Tanya Guanlin penasaran.
"Aku bahagia, karena sebentar lagi aku akan punya adik." Jawab Daehwi.
"Wahh benarkah? Jihoon-ah, ayo kita minta adik juga pada Bunda, pasti menyenangkan." Celetuk Woojin.
Jihoon yang mendengarnya berfikir sebentar sebelum menganggukan kepalanya. "Sepertinya memang seru." Gumam Jihoon.
Jinyoung dan Guanlin saling berpandangan. "Tapi kalau kami, berdua sepertinya sudah cukup." Ujar Jinyoung.
"Ck, sudahlah kita hampir terlambat. Ayo berangkat." Ajak Daehwi seraya berjalan lebih dulu.
Kelima anak sekolah dasar itupun pergi ke sekolah.
.
.
TBC
.
.
A/N :
1.) Aku nggak nyangka ternyata banyak yg respon ff ini. Makasih banyak ya, semuanya. Aku cinta kalian.
2.) Kalo ini kurang sesuai dengan ekspetasi kalian, aku mohon maaf. Karena aku baru belajar bikin ff begini/?
3.) Kritik dan sarannya ya. Siapa tau aku bisa update cepet lagi nanti.
03 Desember 2017
Panda
