Permen karet baru masuk ke mulut mungil Tenten yang kini sibuk mengunyahnya. Rambut coklat miliknya berkibar liar di udara mengikuti deras angin pesisir Konoha. Aroma air asin menguar dari deretan pepohonan kelapaーatau palm? Entahlah. Kau pikir Tenten siapa? Botanis?ーyang berjejer membingkai pemandangan laut. Matahari di ujung cakrawala bersiap untuk menenggelamkan diri.
"Bagaimana kabar Kushina?"
Gadis berambut coklat itu menoleh sekilas ke pria di kursi supir. Ekspresinya tidak berubah sedikitpun bahkan setelah mendengar nama istrinya disebut.
"Dia sehat." jawab Minato kasual.
Gelembung permen karet Tenten meletup dengan bunyi pelan. Kacamata berbentuk hati yang ia kenakan melindungi matanya dari sengatan matahari senja dan debu jalan raya. Warna lensanya yang merupakan gradasi hijau emerald dan ungu lilac adalah favoritnya.
Kacamata pemberian Minato.
Tenten tersenyum menggoda merasakan tangan Minato menggenggam tangannya lembut. Jemari mereka bersilang, memberikan sensasi hangat yang tidak bisa diberikan pesisir Konoha.
"Menggenggam tanganku mesra sambil memikirkan istrimu?"
Minato hanya tersenyum. Kedua mata biru langit terpaku ke jalan raya. Mereka terlihat sangat indah di bawah sinar senja seperti ini. Saat pria pirang itu menoleh untuk memindai Tenten dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk beberapa saat, Tenten melakukan hal yang sama dan mendapati dirinya menghela nafas kagum.
Minato. Pria dewasa yang mempesona.
Jika ia melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan, semua wanita yang hadir akan menoleh mengakui kehadirannya. Mencoba berbicara dengannya. Berharap bisa mencuri hatinya.
Dan sekarang pria itu menggenggam tangannya.
"Kita mau ke mana?" tanya Tenten setelah berhasil melepaskan pandangannya dari sosok di sampingnya. Badannya menjadi hangat dan dia yakin Minato bisa merasakannya.
Minato mengerdikkan bahu. "Ke restoran yang kau ingin kunjungi, kurasa?"
"Kau serius?"
Minato tertawa kecil melihat ekspresi terkejut kekasihnya. "Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Habisnya," Tenten menggeleng tidak percaya. "Restoran itu perlu reservasi dua bulan di awal."
Tenten memejamkan matanya saat tangan yang menggenggam tangannya berpindah, mengacak-acak rambut coklatnya gemas.
"Dan sekarang kita akan makan malam di sana."
Tenten menganga takjub bahkan ketika mobil Chevrolet klasik yang mereka kendarai memasuki area restoran bintang lima bernama Ichiraku. Valet parkir menyambut mereka hangat. Minato membukakan pintu untuk gadis berambut coklat berantakan itu, tawa kecil masih menghiasi ekspresinya.
"Jangan buat aku menggendongmu ke meja kita." ancamnya melihat Tenten terhenyak di kursi mobil.
Tenten bergegas berdiri, tidak ingin membuat kesan memalukan di depan waiter yang memperhatikan mereka beberapa meter dari mobil. Setelah mengkonfirmasi 'tuan Minato' sudah tiba untuk pesanan pukul enam, waiter tersebut meminta mereka mengikutinya ke pintu belakang.
Minato tersenyum penuh rasa bersalah. "Maaf."
Tenten, dengan tangan menggandeng lengan kiri pria itu menggeleng pelan. Mereka tidak bisa menggunakan pintu depan; ia paham.
"Aku tidak keberatan."
Minato tersenyum lagi. Ia menghentikan langkahnya, membuat Tenten terpaksa melakukan yang sama. Saat waiter menghilang di belokan selanjutnya, Minato mengambil kesempatan; mendorong Tenten ke dinding dan menghujaninya dengan ciuman.
Tenten memejamkan mata. Ia hapal betul gaya ciuman Minato. Pertama, pria itu akan memiringkan kepalanya ke kiri; bukti bahwa ia kidal; tangan kirinya memposisikan kepala Tenten untuk akses yang lebih leluasa. Kedua, bibir lembut akan mendarat di atas bibirnya, mengecup bak kuncup bunga yang belum mekar kemudian perlahan merekah. Terus begitu sampai Tenten terjepit di dinding tanpa ada kesempatan untuk kabur. Terkadang, lidah Minato juga menggodanya, mengacaukan benak Tenten dan mencuri nafasnya.
Suara deheman menyadarkan mereka kembali ke kenyataan.
"Maaf, nona dan tuanーdi sebelah sini."
Bola mata coklat Tenten bertemu bola mata kebiruan Minato. Mereka berkedip. Sekali, dua kali.
Pffffft.
Mereka tertawa. Getaran dari tubuh mereka tersalurkan dari tempat di mana dahi mereka bertemu. Minato meminta maaf pada waiter yang memposisikan dirinya di sudut yang tidak terlihat oleh mereka, menggandeng Tenten yang masih sibuk terkekeh geli, lalu beranjak menuju meja reservasi.
"Wow."
Tenten menempel di lengan kanan Minato. Angin laut di lantai dua restoran membuatnya merasa dingin, tapi ia tetap ingin menyaksikan panorama matahari senja. Mereka bisa melihat seluruh pesisir Konoha dari balkon bernuansa vintage itu. Karang raksasa Konoha terbentang di ujung utara pesisir, di mana matahari meleleh bersama garis horizon. Dunia terbalutkan lapisan warna jingga, dan Tenten terlalu terpukau dibuatnya hingga tidak sedikitpun terpikir olehnya untuk mengambil foto.
Minato mencium lembut dahi gadis di sisinya. "Aku punya sesuatu untukmu."
Di ujung balkon, tiga orang waiter sibuk menyajikan hidangan yang baru saja dimasak chef terbaik di Konohaーkalau bocoran berita yang Tenten baca dari internet tidak salah. Alunan permainan biola di ujung lainnya juga menarik perhatian Tenten. Mereka tidak mengatakan apapun tentang pertunjukkan biola. Jadi rumor tentang restoran eksklusif bagi orang-orang terkaya di Konoha benar adanya.
Sensasi dingin di tangannya menginterupsi pikiran Tenten. Mata coklatnya menjatuhkan pandangan ke jari manis tangan kirinya. Jantung Tenten melompat.
"Ehー"
Cincin platina tersemat rapi. Kemilaunya membutakan. Pantulan matahari senja di permukaan mulusnya sungguh menawan.
Air mata melumasi permukaan bola mata Tenten. "Minaー"
Kebahagiaan yang meluap di dada Tenten perlahan-lahan meredup. Bukan, bukan karena ia benar-benar lupa kalau hari ini menandai genap setahun hubungan mereka. Padahal Minato selalu menggenggam tangannya, tapi kenapa...
Senyuman Minato menyentuh ujung kedua matanya. "Happy anniversary."
Tenten baru menyadarinya.
Di jari manis tangan kiri Minato...tidak ada cincin.
