Cast: Park Chorong (Apink) a.k.a Park Chorong

: Kang Daniel (Wanna One) a.k.a Kang Daniel

: Kim Seokijn (BTS)a.k.a Kim Seokjin

: Oh Seunghee (CLC) a.k.a Oh Seunghee

: Park Jihoon. (Wanna One) a.k.a Park Jihoon

Gendre : Romance(?)

Summary: "aku percaya bahwa cincin itu datang padaku dengan sebuah alasan"

@

@

Yeoja itu terlihat manis dengan dress putih pendeknya dan dengan sebuah karangan bunga yang bertengger manis dikepalanya, tak lama seorang anak berjalan menghampiri yeoja itu sebari tersenyum, anak cantik dengan dandanan yang serupa dengannya, yah tentu saja dengan ukurannya yang lebih kecil.

"Eoma aku menyayangimu dan juga appa" gadis kecil itu tersenyum dan memeluk Chorong, gadis itu mengerti bahwa Chorong adalah wanita yang baik, yang akan menjadi salah satu bagian dihidupnya, yang akan menjadi seorang pencerah, dan yan akan menjadi orang yang membimbingnya sampai gadis kecil itu beranjak dewasa.

"aku juga menyayangimu.. " Chorong memeluk gadis kecil itu erat.

Sampai suara berat seorang namja menginyerupsi kegiatan mereka.

"kau sudah siap?" Chorong mengangguk, ia mencium pipi gadis kecil itu, dan melepaskan pelukannya.

Chorong menghembuskan nafasnya pelan ketika namja paruh baya dihadapannya menjulurkan tangannya dan dengan langkah yang pasti yeoja itu memlepas uluran tangan namja paruh baya itu dan mulai berjalan di jalan yang penuh bunga menuju sebuah altar dimana seorang namja tinggi tengah menunggunya dengan gagah sambil tersenyum hangat.

Cincin itu membawaku pada jodohku yang sebenarnya…

@

@

Gadis itu tersenyum memandang halaman rumah sakit yang begitu luas, hujau dan asri, angin lembut menerbangkan helaian rambut coklatnya, matahari yang bersinar terik menyinari wajah putih pucatnya yang terdapat beberapa luka lebam.

Sudah hampir 2 minggu gadis itu disini, dirumah sakit yang menjadi saksi kepergian seseorang yang sangat disayangi juga mungkin dibenci oleh dirinya, tak mau munafik jika boleh jujur gadis itu merindukannya, merindukan Seokjin yang entah kenapa tak kunjung kembali setelah percekcokan mereka yang berujung pada kecelakaan yang hampir merenggut nyawa gadis itu.

Park Chorong, gadis itu melirik ke arah cincin yang dipakainya dan tesenyum lembut, cincin berlian dengan permata biru ditengahnya itu selalu membuatnya mampu tersenyum dan menetralisir rasa sesak kala ia merindukan Seokjin, pemberian terakhir namja itu sebelum meninggalkaanya tanpa kabar hingga saat ini.

Sret

"anyeong noona" sapa seseorang , senyum yang semula terpatri dibibir Chorong tiba tiba hilang digantikan oleh kerutan heran ketika seorang namja menyodorkan setangkai mawar disamping wajah Chorong, Chorong berbalik kebelakang mendapati namja yang kini tersenyum lembut ke arahnya, Chorong kembali tersenyum setelah mengetahui siapa yang mendatanginya dan langsung mengambil bunga yang disodorkan namja itu.

"jangan melamum disiang bolong seperti ini, kalau ada hantu lewat kau bisa kesurupan noona.. " Chorong terkekeh mendengar bualan namja itu.

"sudahlah Daniel-ah, kemari duduk bersamaku" namja yang dipanggil Daniel itu tak menjawab dan langsung mendudukan dirinya disebelah Chorong.

"apa yang kau pikirkan disini eoh, seharusnya kau duduk cantik dikamar rawatmu agar uisanim tidak susah susah mencarimu saat ingin memeriksa dirimu" Chorong menggeleng, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu tegap Daniel.

"aku bosan Daniel-ah, dua minggu hanya tertidur dikamar, kau ingin aku tumbuh akar disana eoh? " Daniel terkekeh, namja itu mengulurkan tangannya kebelakang tubuh Chorong dan mengusap bahu yeoja itu pelan.

"kan ada aku, aku tak akan membuatmu kebosanan bukan, ah ya apa yang sedang kau lamunkan, kau tak sedang memikirkan namja itukan? " tanya Daniel dengan ekspresi menyelidik

Plak

"aku tidak sedang memikirkannya bodoh, aku sedaaang.. Memikirkanmu ya memikirkanmu. " Daniel berdecih pelan ketika Chorong menggeplak kepalanya, ah gadis ini pandai sekali mengelak padahal Daniel tahu dengan jelas kalau gadis itu pasti sedang memikirkan Kim Seokjin.

"jangan bohong, aku tahu kau memikirkannya karna sejak tadi kau hanya melihat cincin itu" Chorong terdiam,yeoja itu mendelik ke arah Daniel.

"kau bilang ini cincinmukan? Jadi sudah jelas kalau aku sedang memikirkanmu. "

"tapi si Seokjin itu yang memberikannya padamu"

"kau itu.. Ah sudahlah kau membuat moodku buruk saja" Chorong bangkit dari duduknya dan akan pergi tapi Daniel dengan cepat menahan tangan Yeoja itu.

"aish Noona kenapa kau malah merajuk, sudahlah ayo duduk lagi" ajak Daniel, namun Chorong tak bergeming membuat namja itu menghela nafasnya pelan.

"yasudah aku yang salah noona, jadi jangan merajuk lagi dan kembalilah duduk arrachi, aku akan melakukan apapun agar kau tak marah lagi" Chorong sedikit melirik ke arah Daniel kemudian kembali tersenyum, yeoja itu kembali duduk dan menatap Daniel.

"kau akan melakukan apapun untukku? " Daniel mengangguk yakin.

"kau ingat saat pertama kali kita bertemu satu minggu yang lalu" Daniel mengangguk namja itu sedikit mengingat ngingat bagaimana pertemenuannya dengan gadis ini satu minggu yang lalu.

Flash Back

Chorong tidak mengerti kenapa dia bisa pergi ke tempat ini, bukankah seharusnya dia masih beristirahat di ranjang rumah sakit, ini baru seminggu sejak kecelakaan yang terjadi padanya dan Seokjin, dan yeoja itu sama sekali belum diperbolehkan keluar dari rumah sakit mengingat kondisinya yang memang cukup buruk.

Tapi salahkanlah egonya yang lebih memilih pergi atau kabur dari rumah sakit, dan membuatnya terdampar ditempat ini.

Tempat ini adalah tempat yang sama dimana Seokjin membawanya lari, tempat yang sama dimana namja itu mengawasinya dengan mata tajamnya dan tempat yang sama yang selalu membuat Chorong kembali merindukan namja itu.

"huft kau dimana eoh? Tak merindukanku? " entah siapa yang biaa menjawab pertanyaan itu, Chorongpun tak tahu, yang ia tahu ia hanya ingin mengucapkannya saja, hanya itu.

Gadis dengan banyak coretan luka diwajahnya itu menunduk dan memandang cincin yang tersampir indah di jari manisnya, yeoja itu tersenyun dan mengelus cincin itu dengan lembut.

"Kau hanya meninggalkan cincin ini untukku, kau bahkan tak menjelaskan kenapa dalam cincin ini terdapat nama Kang, bukankah seluruh keluargamu bermarha Kim, ibumu maupun ayahmu.. Tapi.."

"ada banyak hal yang menjadi misteri tak tahu apakah kita bisa memahaminya atau hanya bisa menurutinya tapi bukankah hidup terus berjalan meski kita tak bisa menangkap apa maksudnya" Chorong menyerit ketika seorang namja tinggi tiba tiba berbicara padanya, Chorong memandang namja itu, sedangkan namja itu hanya tersenyum dan duduk disebelahnya.

"kau memandang cincin itu seolah cincin itu akan menghilang dari tempatnya" ucap namja itu lagi.

"Nuguseo? " Chorong sedikit berpikir apakah dia mengenal namja ini? Kenapa namja ini terlihat sudah mengenal Chorong? Chorong merasa tidak terkena ambesia saat kecelakaan itu.

"kau mungkin tak akan percaya, tapi aku adalah pemilik cincin itu, Kang Daniel imnida" Chorong membulatkan matanya kaget, gadis itu segera berdiri dengan cepat agar ia bisa berlari dari namja aneh itu, tapi mengingat keadaannya yang memang lemah ditambah dia berdiri terlalu cepat membuat kepala Chorong pening, hingga gadis itu terjatuh, namun berhasil ditangkap oleh Daniel.

"ck sudah tahu kau masih pasien rumah sakit, kau malah jalan jalan tidak jelas, mulai sekarang berterima kasihlah padaku karna aku akan mengantarkanmu kembali kerumah sakit" Chorong ingin menolak namun namja itu terlebih dahuku menggendong tubuhnya membuat Chorong yang memang masih lemas hanya bisa pasrah, ia hanya berharap bahwa namja ini bukan seorang penculik, pencuri atau apalah itu.

Oh Chorong sepertinya harus sedikit berpikir baik tentang seseorang yang baru saja dikenalnya. Gadis itu bahkan tak menyangka jika Daniel benar benar membawanya kerumah sakit tempatnya dirawat bahkan sampai kekamar rawatnya, Chorong heran bagaimana namja itu tahu dia dirawat disini, padahal namja itu sama sekali tak bertanya pasa suster ataupun dokter yang tengah berjaga.

"memperhatikan aku noona Park? " tanya Daniel yang tengah menunduk sebari memainkan ponselnya, namja itu tengah duduk disebelah ranjang Chorong.

"ania, hanya heran kenapa kau masih disini? " Daniel mematikan ponselnya dan memandang Chorong.

"kenapa? Tidak boleh. Toh orang tuamu juga tak melarang aku untuk disini, mereka malah menyuruhku untuk menjagamu tidak ingat? " Chorong menghembuskan nafasnya pelan, ia lupa atau tidak terlalu ingat, bahwa saat namja ini membawanya kekamar rawatnya, mereka bertemu dengan kedua orang tua Chorong, dan namja bernama Kang Daniel itu dengan seenak jidat mengaku sebagai Teman Chorong, hal itu membuat orang tua Chorong percaya dan mengizinkan Daniel untuk menemani Chorong disini.

"aku tak mengerti sebenarnya kau siapa eoh? Aku tak mengenalmu" ucap Chorong heran.

"aku tahu, karna kau tak mengenalku ayo kita berkenalan namaku Kang Daniel, aku adalah pemilik cincin ini dan aku adalah kakak Oh Seunghee kau masih ingat dia?" jelas Daniel, Chorong membulatkan matanya tak percaya, Oh Seunghee?

"Seunghee istri Seokjin yang sudah meninggal? " tanya Chorong memastikan, namja itu mengangguk yakin dan menyerahkan sebuah surat pada Chorong.

"aku tahu mungkin kau tak percaya, tapi surat itu dari Seunghee sebelum dia meninggal" ucap Daniel, Chorong menyerit memandang surat itu.

"Kang Daniel tunggu, bukankah kau dan Seunghee adik kakak tapi kenapa marga kalian berbeda? Dan kau juga mengaku bahwa cincin ini adalah milikmu. Bagaimana mungkin itu terjadi? " banyak pertanyaan dikepala Chorong ketika mendengar penuturan dari namja itu.

"kami saudara tiri, ayah kami berbeda, dan tentang cincin itu, apakah kau tak menyadari bahwa marga yang tertulis disana adalah Kang bukan Kim? " Chorong mengangguk kecil membenarkan apa yang namja itu sampaikan, sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin ia ajukan pada Seokjin.

Chorong membuka surat itu

Untuk Park ChorongEonie aku Oh Seunghee kau masih mengingatku?Pertemuan pertama kita adalah hari dimana aku benar benar bertemu dengan peri sepertimu, aku masih tak menyangka bahwa aku bisa bertemu orang sebaik dirimu yang rela menyerahkan kekasihnya untuk menikahiku, maafkan aku.Eonie demi apapun sungguh aku tak bermaksud merebut Seokjin darimu, aku bahkan tak tahu bahwa Seokjin sudah memiliki kekasih sebaik dirimu, jika aku tau aku tak akan terpengaruh oleh janji janji manisnya.

Eonie meski kira hanya bertemu satu kali tapi aku terus mngingatmu sebagai malaikatku dan putriku, kau menyelamatkan kami dan memberi putriku keluarga yang utuh saat ia lahir, meski Seokjin akhinya memutuskan untuk meninggalkanku dan anakku, eonie sejujurnya aku khawatir melihat dia yang sepertinya sangat terobsesi untuk menemukanmu yang tiba-tiba menghilang sejak pernikahan kami, aku khawatir dia akan menyakitimu karna begitu menginginkanmu jadi aku, menyuruh kakakku Kang Daniel untuk menjagamu, meskipun kau tak tahu itu.

Chorong menghela nafasnya, gadis itu melirik ke arah Daniel yang sekarang duduk disofa sebari memakan sebuah apel.

Mungkin kau sedikit tidak nyaman dengan ini, tapi ini untuk kebaikanmu, percayalah dia orang yang baik..

Hanya itu isi Surat yang Seunghee berikan padanya.

"kau yakin kau bukan penipu? " tanya Chorong lagi, Daniel menghela nafasnya berat

"apa surat itu tidak cukup untukmu?" Chorong menggeleng, bukan, ia bukan tak percaya pada surat itu, tapi isi suratnya.

"sudah berapa lama kau mengikutiku? "

"sekitar 4 bulan yang lalu saat Seokjin menuntut cerai adikku" jawab Daniel cuek, Chorong menghembuskan nafasnya pelan.

"bukankah adikmu meninggal satu tahun yang lalu karna melahirkan bagaimana mungkin dia menulis surat ini 4 bulan yang lalu, aku semakin yakin kalau kau itu penipu" ujar Chorong, Daniel menyelesaikan gigitan apel terakhirnya, namja itu kembali mendekatkan dirinua dihadapan Chorong.

"noona seorang penipu tidak akan mengakui jika dirinya penipu, dan kau dari mana kau menyimpulkan bahwa adikku meninggal saat melahirkan? " Daniel tentu saja tahu jawabannya, dia hanya ingin memancing yeoja itu agar bisa berkata lebih banyak padanya.

"Seokjin.. "gumam Chorong, Daniel terkekeh

"Tentu saja aku tahu siapa yang mengatakan itu, kau harus tahu selama ini aku benar benar mengikutimu dan namja itu, dan harus kau tahu, akulah orang yang membawamu dan Seokjin kerumah sakit ini saat kalian kecelakaan" Chorong membulatkan matanya kaget.

"jinja? " Daniel mengangguk, namja itu mengelus pipi Chorong lembut.

"kau itu gampang sekali ditipu noona, jangan biarkan dirimu seperti orang bodoh, kau tahu selama aku mengikutimu, kuperhatikan kau sering sekali dibodohi oleh namja itu, kau menurutinya saat dia memintamu untuk menengok ke bawah, kau menurutinya saat dia menyeretmu pergi, kau seharusnya melawan, meski aku tahu kalian bersama sejak kecil tapi itu tidak menjamin dia akan selalu baik-kan" Chorong mengangguk membenarkan perkataan Daniel, dia tahu hatinya terlalu lemah saat menghadapi Hati Seokjin yang memang sekeras batu.

"cincin ini milikmu? Bagaimana bisa ini ada ditangan Seokjin? " tanya Chorong saat matanya tak sengaja melirik cincin dijari manisnya, Daniel tersenyum

"aku akan menjelaskannya nanti, sekarang izinkan aku untuk menjagamu seperti apa yang Seunghee katakan, jangan pikirkan apapun aku bukan orang yang akan menyakitimu, lagi pula kudengar orang tuamu akan kembali ke jepang untuk urusan bisnisnyakan? Kasian bila adikmu menungguimi disini sendirian, jadi aku akan menemaninya"

FlashBack Off

"Tentu saja.. " Chorong tersenyum dan menoel hidung Daniel pelan.

"aku ingin kau membawaku ke makam Seunghee" ucap Chorong, Daniel membulatkan matanya kaget.

"mau apa kau kesana eoh? " Chorong mendelikan bahunya.

"hanya memastikan bahwa kau bukan penipu" Daniel menghembuskan nafasnya pelan,alasan macam apa itu?

"terserah kau sajalah.. "

"baiklah kita berangkat besok" putus Chorong, Daniel lagi lagi harus mmembulatkan matanya kaget, kenapa yeoja ini kekeh sekali sih?

"aku akan membawamu setelah kau pulang dari rumah sakit" sela Daniel

"tapi.. "

"kau ingin aku dibunuh Park Ajhusi jika membawamu dalam keadaan seperti ini, ayolah Jihoon bahkan tak akan menjadi ngizinkanmu keluar" ucap Daniel, Chorong memanyunkan bibirnya kesal, tapi perkataan Daniel ada benarnya juga, kasian jika dia harus membuat Daniel kesusahan karnanya.

"baiklah asal kau membawaku kesana saja"

Daniel menghela nafasnya berat sesekali namja itu memandang sebuah foto besar disudut kamar ini,namja itu kemudian mengalihkan pandangannya pada gadis kecil disampingnya yang tengah asik bermain dengan beberapa mainannya.

"Seungra-ya" merasa namanya disebut, gadis kecil bernama Seungra itu menatap Daniel dengan mata bulatnya.

"kalau saja kau mengerti dengan apa yang Samchon katakan, mungkin kau akan sakit hati mendengar ini, tapi untung kau masih kecil jadi kau belum mengerti apapun" Daniel memangku gadis kecil itu dan memeluknya erat.

"ayahmu bahkan mengatakan kau sudah meninggal, tega sekali dia.. " gumam Daniel lagi.

"padahal dia yang membuat ibumu meninggal,tapi kenapa dia seolah olah menyalahkanmu, dengan mengatakan bahwa ibumu meninggal saat melahirkanmu, itu membuatku semakin marah ra-ya, kau jangan membenciku karna aku membenci ayahmu ya.. " gadis kecil itu hanya memandang sang paman dengan tatapan polosnya.

"Seungra ingin bertemu eoma tidak?" tanya Daniel, gadis kecil itu tersenyum ketika merasa mengerti dengan apa yang pamannya katakan, kemudian mengangguk lucu.

"lusa kita kesana ya, kita ajak Chorong immo kesana juga" entahlah kenapa Daniel menyebut Chorong immo pada Seungra yang bahkan tak mengenal gadis itu, Daniel terkekeh.

"ini keterlaluan Seungra-ya, ibumu menyuruhku untuk melindungi orang lain, tapi aku malah jatuh cinta padanya bodoh bukan? " gumam Daniel sebari meruntuki dirinya sendiri.

"jangan tersenyum seperti itu jika kau sedang memandang cincin itu, kau seperti orang gila tahu" gumaman menyakitkan itu datang dari mulut seorang remaja yang tengah menulis beberapa kata dalam bukunya, Chorong mendelik kesal dan melemparkan bantalnya pada remaja itu membuat tulisan rapih yang ditulisnya kacau balau.

"Yakk NOONA KAU MEMBUAT TUGASKU BERANTAKAN" bentak remaja itu, Chorong tak peduli dan malah memandang namja itu kesal.

"itu salahmu Park Jihoon sayang, siap suruh mengatai kakakmu ini gila eoh? " tentang Chorong, Jihoon-remaja itu-- membuang wajahnya kesal.

"aku sedang tidak mengejekmu itu benar, kalau kau suka pada Daniel Hyung ya bilang saja, jangan hanya memandangi cincinnya bodoh" gumam Jihoon.

"aku tidak menyukai Daniel, lagi pula yang menyerahkan cincin ini padaku Seokjin bukan Daniel"

"nah itu lebih gila lagi jika kau masih memikirkan namja yang membuatmu seperti ini dasar bodoh, lagi pula kupikir cincin itu tetap milik Daniel Hyung meski yang menyerahkan cincin itu padamu Seokjin Hyung" Chorong sedikit berpikir, memang benar dengan apa yang jihoon katakan

"Jihoon-ah sebenarnya aku berniat mengbalikan cincin ini pada Daniel, tapi nanti setelan aku mengunjungi makam Seunghee, lagi pula aku sedikit tidak percaya, bagaimana mungkin cincin ini miliknya sedangkan yang memberikannya padaku saja Seokjin" jelas Chorong, Jihoon membereskan bukunya dan menyimpannya kedalam nakas.

"tapi noona itu bisa saja terjadi, lagi pula aku yakin cincin itu bukan milik Seokjin Hyung" Chorong melirok ke arah Jihoon.

"darimana kau tahu" Jihoon sedikit berpikir.

"aku dan Eomakan datang kepernikahaan mereka, aku bahkan melihat Daniel Hyung disana, dan saat penyerahan cincin ibu Seokjin hyung menyerahkan cincin itu pada Istri Seokjin Hyung, cincin itu ada Tulisan Kimnya dan berwarna Pink bukan biru seperti yang kau pakai" Chorong menyerit, benar juga Jihoon memang datang kepernikahan itu bersama ibu dan ayahnya sedangkan saat itu Chorong memilih untuk tetap di apartemennya.

"Tunggu kau bilang kau melihat Kang Daniel disana, kenapa tidak bilang dari kemarin kemarin? " Chorong tidak berbohong, dia benar benar tak pernah tahu bahwa Jihoon pernah melihat Daniel dipernikahan Seokjin dan Seunghee.

"aku bukan tak mau mengatakannya noona, bahkan saat pertana kali dia datang kemari mengantarkanmu yang pingsan satu minggu yang lalu aku sudah mau mengatakannya namun kau saja yang tak pernah mau mendengarkannya" Benar juga,selama satu minggu ini Jihoon dan Daniel memang bergantian menjaga Chorong di Rumah sakit, dan ketika Jihoon ingin menjelaskan tentang Daniel, Chorong selalu menyelanya dengan alasan

'aku bosan mendengarjar ocehan tak jelas Daniel, jangan kau tambahkan lagi dengan menceritakan sesuatu tentangnya'

Itulah yang selalu Chorong katakan pada jihoon jika Jihoon mulainmengatakan tenyang kang Daniel.

"ah kau benar..huft Daniel benar, aku ini benar benar payah kenapa aku selalu tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain huft pada akhirnya aku yang selalu menyesal" Jihoon menaikan Sebelah alisnya.

"itu kau tahu kau payah.. " ceplos Jihoon dan lagi lagi dihadiahi hujanan bantal sari sang kakak..

"Jihoon bodoh"

"ck wanita itu selalu benar dan laki laki itu selalu salah" guman Jihoon

Daniel memangku Seungra dan berjalan menuju ruang rawat Chorong, ini hari ke-20 gadis itu dirawat dirumah sakit ini dan menurut Dokter yang merawat gadis itu Chorong sudah diperbolehkan pulang.

Dan hari ini Jihoon menelfon Daniel dan mengatakan bahwa dia tak bisa menemani Chorong untuk berbenah jadi dia meminta Daniel untuk mengantar Chorong pulang kerumah mereka.

Ceklek

Chorong yang sedang menyisir rambutnya ketika Daniel membuka pintu kamar rawatnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

"ayolah Kang Daniel setidaknya kau mengetuk pintu sebelum kau masuk kekamar seorang gadis" Gumam Chorong, Daniel mendelikan bahunya tak peduli namja itu mendudukan Seungra disebelah Chorong membuat Chorong mengerutkan keningnya heran.

"hey anak siapa ini? Kau tak menculik anak ini dari orang tuanyakan? " Tanya Chorong asal, Daniel memutar bola matanya malas.

"enak saja, dia itu keponakanku, dia kubawa karna tidak ada orang dirumah" sebenarnya jawaban Daniel itu sedikit mengarah ke arah kebohongan, dirumahnya ada banyak pembantu yang bisa mengurus Seungra, tapi Daniel mengatakan itu karna memang ibunya - yang mengurus Seungra - tidak ada dirumah.

"oh kukira.. Hey gadis kecil anyeong, siapa namamu" sapa Chorong gadis itu memangku Seungra dan mendudukan Seungra diatas pangkuannya.

"Siapa namanya Daniel-ah? "

"Seungra" jawab Daniel singkat

'haruskah aku mengatakan bahwa namanya adalah Kim Seungra, kurasa tidak' batin Daniel

"noona kau ingin pergi ke makam Seunghee sekarang? " tanya Daniel,Chorong sedikit berfikir

"ini masih pagi, tentu ayo kita pergi hari ini" jawab Chorong, Daniel mengangguk mengiyakan. Namja itu membawa koper Chorong, sedangkan Chorong menggendong Seungra, sebenarnya Daniel ingin menggendong Seungra bersama dirinya tapi Chorong menolak gadis itu tak keberatan jika sikecil Seungra ia gendong.

Daniel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang sekali namja itu mengajak Seungra maupun Chorong bicara, sedangkan Chorong sendiri hanya memandang wajah Seungra dengan pandangan berpikir.

"Daniel-ah, kenapa aku merasa tak asing dengan wajah Seungra ya, dia seperti mirip seseorang.." ucap Chorong,

Daniel tak menjawab hingga mereka sampai disebuah perbukitan, seluruh halaman bukit itu sudah diisi oleh banyak nisan yang menandakan bahwa perbukitan itu merupakan area pemakaman.

"Seungra-ya kajja" Chorong menyerahkan Seungra pada Daniel dan merekapun berjalan beriringan menuju ke atas Bukit dimana Seunghee dimakamkan.

Chorong menghembuskan nafasnya ketika mereka sampai disebuah pusaran, dipapan nisan yang besar bertuliskan "Oh Seunghee" lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematiannya. Chorong tersenyum miris, gais itu bahkan 2 tahun lebih muda darinya, tapi ajal sudah menjemputnya diusia muda, dan menambah rasa sesak Chorong adalah tanggal kematiannya, bukan satu tahun yang lalu seperti yang dibicarakan Seokjin tapi 4 bulan yang lalu.

Gadis itu melirik ke arah Daniel yang berdiri dibelakangnya bersama dengan Seungra kemudian kembali memandang makam Seunghee.

"Anyeong Seunghee-ya aku sudah menerima suratmu, maaf bila aku baru datang sekarang, dan terima kasih kau mengirimkan orang yang baik yang menjagaku melebihi apapun" gumam Chorong, Daniel yang berdiri dibelakangnya hanya tersenyum Penuh arti, dia merasa berhasil melindungi gadis itu meski ia tidak bisa mengelak bahwa ia tak bisa menyelamatkan adiknya karna terlalu sibuk dengan Chorong.

"aku menyesal dan meminta maaf padamu, aku benar benar tidak ingin merebut Seokjin darimu itulah sebabnya aku pergi meninggalkannya, tapi ternyata dia tetap menemukanku, padahal aku sudah berusaha untuk menghindar tapi dia tak kenal rasa lelah rupanya"

Chorong menghembuskan nafasnya pelan, ia mengusap air matanya yang jatuh begitu saja.

"Eo..Eoma.. "gumaman kecil itu menginterupsi kegiatan Chorong, dia dan Daniel sama sama memandang Seungra yang tiba tiba memangil Eoma ketika melihat foto besar Seunghee yang memang ditempel di batu nisan, Chorong menyerit.

"Eoma? " tanya Chorong, gadis itu melirik ke arah Daniel meminta penjelasan sedangkan Daniel sendiri hanya tersenyum dan memandang balik Chorong.

"Seungra, namanya Kim Seungra dia putri Kim Seokjin dan adikku yang lahir 18 bulan yang lalu, jika kau mempercayai kata kata Seokjin mungkin kau tak akan percaya bahwa gadis kecil ini masih hidup dan.. " Daniel sedikit membuka kerah baju Seungra menunjukan sebuah cincin yang menjadi liontin dari kalung tersebut. Cincin indah dengan permata pink muda bertuliskan "Kim" disampingnya.

"kau boleh mengatakan adikku egois, tapi aku mengerti yang dia lakukan hanya untuk membuat putrinya diakui, dia bahkan bertahan selama hampir 2 tahun bersama Kim Seokjin yang bahkan yang bahkan tak pernah menganggapnya ada, itu semua dia lakukan hanya agar Seungra mempunyai status sebagai salah satu anggota keluarga Kim" Daniel menghela nafasnya berat, dia kembali memandang Chorong dan memegang tangan gadis itu.

"Dan alasan kenapa cincinku berada ditanganmu, Karna sebagai seorang kakak, meski aku membencinya saat tahu dia hamil diluar nikah, aku tetap mengkhawatirkannya, dia selalu menangis saat dengan sengaja Seokjin merampas cincin itu dari jarinya sesaat setelah Seunghee melahirkan, aku tak bisa membiarkannya, jadi aku memutuskan untuk menukar cincin itu dengan cincinku dan menyerahkannya pada Seunghee" Chorong terbatuk pelan, gadis itu memang sudah menangis sejak awal sebari memandang miris Seungra, gadis kecil yang malang.

"ani aku mengerti Daniel-ah, aku tahu aku salah menilai Seokjin belakangan ini, aku tahu dia tak bermaksud seperti itu, dia terlalu mencintaiku hingga terobsesi padaku, aku tahu dia adalah orang yang menginginkan banyak kebahagiaan, aku tak ingin menyalahkannya, ataupun membelanya, sejak kecil Seokjin tumbuh denga diperebutkan oleh ayah dan ibunya yang sudah bercerai, hingga akhirnya dia memutuskan untuk tinggal sendiri, aku tahu dia kecewa karna orang tuanya dan mungkin itulah alasan dia melakukan ini semua" Chorong menghembuskan nafasnya berat, gadis itu kemudian melepaskan cincin yang terpasang di jari manisnya dan menyerahkannya pada Daniel.

"aku pikir aku tak punya alasan lagi untuk memakainya, aku mengajakmu kemari hanya untuk memastikan semuanya benar atau tidak, tapi ternyata yang aku dapat lebih dari itu, Gomawo telah menjagaku selama 4 bulan ini Daniel-ah" ucap Chorong, Daniel mengambil cincin itu dan memasangkannya kembali dijari manisa Chorong.

"Sejujurnya dari awal aku tak berniat mengambil cincin itu darimu, pakailah selama kau mau, karna .." Daniel menggantungkan ucapannya.

"karna apa? "

"karna aku berharap kau akan terus memakainya, Selamanya, noona aku menyukaimu jika kau mau mari membesarkan Seungra bersama, dan menikahlah denganku.." Chorong terperanjat gadis itu menutup mulutnua dan menaikan sebelah alisnya

"kau mengajakku menikah? " tanya Chorong, gadis itu mengambil alih Seungra dari gendongan Daniel.

"Aish ini memalukan.. " ucap Daniel sebari menghentakan kakinya dengan wajah yang sudah memerah sebari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"kau lucu sekali Daniel-ah.. " kikik Chorong, Seungra yang ada dipangkuannyapun ikut tetawa.

"Ah Noona aku.. "

GREP

Perkataan Daniel terhenti ketika Chorong tiba tiba memeluknya dengan sebelah tangan, gadis itu mendongak dan tersenyum lembut.

"kau itu. Bukan seperti itu caranya melamar, masa kau melamarku di komplek pemakaman tidak romantis" gumam Chorong, Daniel menepuk nempuk bahu Chorong pelan.

"lalu? "

"kau baru 22 tahun, mari menunggumu cukup umur untuk menikah, dan selama itu ayo besarkan Seungra bersama" Daniel tersenyum canggung dan memebalas pelukan Chorong, tidak memeluk terlalu erat karna Chorong sendiri memang sedang menggendong Seungra.

"Gomawo noona, aku akan menjagamu denga. Baik"

'Tidak kau sudah menjagaku dengan baik selama ini,dan aku yakin kau bisa menjagaku selamanya, aku tidak yakin dengan perasaanku yang selaluengharapkan Kim Seokjin, tapi aku akan berusaha mencintaimu karna aku yakin ada alasan kenapa cincin itu bisa sampai padaku, dan aku percaya inilah alasannya, alasannya adalah dirimu.. Kang Daniel"

END.

Aneh? Gaje? Gak sesuai judul? Gak nyambung sama cerita yg satu? Saya akui itu, sebenernya banyak ide yang nyangkut tapi setelah saya ketik pas pertengahan semuanya menguap begity saja maafkan saya. Huhu.. Next time saya mungkin akan lanjutkan cerita dont leave me dan cerita Oneshoot lain, jujur membuat ff bersambung itu susahnya minta ampun dibanding ff Oneshoot, yah sekiat bacotan saya dan terima kasih telah membaca..