Kemudian sambungan telepon itu terputus, menyisakan Jihoon yang terduduk diam di kursinya. Matanya tampak menerawang ke hamparan laut di depannya, seperti sedang memikirkan sesuatu. Beberapa meter dari sana, seorang pemuda bersurai gelap tampak menatap ke arah Jihoon dengan segelas lemon tea di tangannya. Dahinya tampak mengernyit, mencoba mencerna beberapa percakapan yang berhasil di dengarnya.
"Kembali ke Korea? Siapa yang akan kembali ke Korea?" Gumamnya pelan.
.
.
.
Ocean
Chapter 2
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, Yaoi
Byeongari Couple/GuanHo
Lai Guanlin x Yoo Seonho
Rating: M
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
South Korea, 3rd September, 2015
Seorang pemuda bersurai dark brown tampak menyeruput Ice Americanonya dengan hikmat di sebuah cafe. Di hadapannya tersaji satu cup Ice Vanilla Latte yang sengaja dia pesan untuk orang yang tengah ditunggunya. Sesekali ia mengedarkan pandangannya ke area sekitar cafe yang saat itu tengah penuh oleh pengunjung. Senyumnya tiba-tiba mengembang ketika inderanya menangkap sosok bersurai caramel yang ditunggunyamemasuki cafe dengan terburu-buru.
"Maaf aku terlambat."
"Tak apa. Minumlah dan netralkan dulu napasmu, kau seperti baru maraton saja." Pemuda bersurai caramel itu tampak sibuk mengatur napas di kursinya seraya meminum Ice Vanilla Latte yang sudah tersaji di hadapannya.
"Huft– terimakasih Guanlin-ah." Ia menghembuskan napasnya lega. "Kelasku baru saja selesai, jadi– maaf?"
"Kau hanya terlambat lima menit, santai saja Jihoon-ah." Pemuda bernama Jihoon tampak tersipu ketika kepalanya ditepuk lembut oleh Guanlin–orang yang disukainya–.
Ya, Jihoon memang menyukai Guanlin, tetangga sekaligus sahabatnya dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah pertama. Kebersamaan yang terjalin sejak mereka kecil membuat perasaan Jihoon muda lambat laun berubah, rasa nyaman sebagai seorang teman berubah menjadi rasa takut kehilangan yang begitu besar. Sayangnya kepindahan mendadak Guanlin ke China setelah lulus sekolah menengah pertama membuat Jihoon tidak punya waktu untuk menyatakan perasaan yang selama ini ia pendam.
Perpisahan mendadak itu benar-benar membuatnya sedih. Minggu-minggu awal libur panjangnya hanya dia isi dengan mengurung diri di kamar sambil menangis, namun berkat bujukan halus Guanlin yang hampir setiap hari menelponnya, ia mulai bisa membiasakan diri dengan keadaannya yang baru. Hatinya terasa begitu senang ketika Guanlin memberi kabar bahwa ia akan menghabiskan liburan musim panasnya di Korea sebulan yang lalu. Setelah menunggu selama bertahun-tahun, akhirnya ia bisa kembali melihat wujud nyata dari orang yang disukainya.
"Guanlin pada Jihoon, kau masih di sana?" Suara berat Guanlin seketika membuyarkan lamunan Jihoon, pemuda manis itu memunculkan senyum malu seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf aku sedikit tidak fokus. Ah, ngomong-ngomong apa yang ingin kau bicarakan denganku? Sepertinya penting sekali."
"Aku ingin meminta bantuanmu." Jihoon mengangkat kedua alisnya.
"Bantuan? Untuk apa?"
"Aku... berencana untuk menyatakan perasaanku pada Seonho."
JDERR–
Bak tersambar petir di siang bolong, Jihoon seketika menghentikan kegiatan menyeruput Ice Vanilla Latte favoritnya. Mata indahnya tampak membelalak karena kaget dengan lontaram kata-kata yang baru saja memasuki gendang telinganya dengan mulus. Apa katanya tadi?
"A– Apa?"
"Aku akan menyatakan perasaanku pada Yoo Seonho, teman SMA mu."
Hati Jihoon serasa terbelah menjadi empat bagian ketika netra gelapnya menangkap binar bahagia di mata Guanlin. Lelaki berdarah China itu mengucapkan setiap kata-katanya dengan mantap, benar-benar tanpa keraguan sama sekali.
Rasanya sakit, tapi tidak berdarah.
"A– Apa kau sudah memikirkannya dengan baik? Kau baru mengenalnya selama kurang lebih tiga minggu." Ia berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar dan terdengar seperti orang yang akan menangis.
Jika saja ini bukan tempat umum, dapat dipastikan air mata sudah membanjiri wajah manisnya sejak tadi.
"Aku bahkan sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu." Guanlin menggaruk belakang lehernya seraya melemparkan senyum kecil. "Meski tiga minggu adalah waktu yang terbilang singkat, tapi aku sudah yakin padanya."
Shit.
Jihoon mati-matian menahan air matanya agar tidak meluncur bebas membasahi pipi tembamnya. Sungguh, perasaannya saat ini benar-benar campur aduk, sedih, kesal, kecewa, semuanya bercampur jadi satu hingga membuat kepalanya pening. Ingin rasanya ia berlari pulang ke apartemen, kemudian menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
"K– Kau benar-benar sudah yakin?" Guanlin menatap pemuda bersurai caramel itu dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Kau... seperti tidak setuju dengan keputusanku."
Aku tidak setuju karena aku mencintaimu bodoh!
"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin hubungan kalian berakhir dengan cepat karena keputusan yang terburu-buru." Jihoon berusaha menampilkan senyuman manis andalannya. "Seonho adalah seorang artis rookie, ia tidak diperbolehkan memegang alat komunikasi pribadi selama dua tahun, sedangkan kau harus kembali ke Los Angeles ketika liburanmu usai. Bukankah hubungan jarak jauh membutuhkan komunikasi yang baik agar relasi kalian tetap terjaga?"
"Aku sudah memikirkan hal itu." Guanlin kembali mengembangkan senyumnya. "Maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu, kau mau kan?"
Pemuda berpipi tembam itu tak menjawab, jemarinya menggerakkan sedotan yang tertancap di gelas plastik dengan gerakan memutar. Bisa dibilang saat ini dia sedang dilema, jika ia mengatakan 'ya', maka ia akan kehilangan kesempatan untuk bisa bersama Guanlin, namun jika ia menjawab 'tidak', sudah pasti sahabat kecilnya akan kecewa dan bisa jadi membencinya. Jihoon menghela napasnya pelan, sebelum akhirnya memutuskan pilihannya.
"Baiklah, aku akan membantumu." Jawaban itu berhasil memunculkan senyum secerah mentari di wajah Guanlin. Digenggamnya jemari tangan Jihoon yang terletak bebas di atas meja.
"Terimakasih banyak Jihoon-ah, kau benar-benar teman terbaik yang pernah ku miliki."
Jihoon mengusap punggung tangan Guanlin yang kini tengah menggenggam tangannya. Ia sungguh ingin Guanlin menggenggam tangannya erat seperti ini, namun dengan status yang berbeda, status yang lebih romantis dan hangat. Katakan Jihoon adalah orang yang egois karena menginginkan sosok tampan itu untuk dirinya seorang.
Tapi jika hati sudah memilih, dia bisa apa?
Rasa cintanya pada pemuda berdarah China itu begitu besar, tak mudah baginya untuk membuang begitu saja perasaan yang sudah lama mengendap di dasar hatinya. Ia tidak ingin kehilangan Guanlin untuk yang kedua kalinya, benar-benar tidak ingin.
.
.
.
~Buttermints~
.
.
.
South Korea, 20th September 2015
Tiga minggu setelah acara pernyataan itu dilakukan, Jihoon belum juga mampu menetralkan rasa perih di hatinya. Bagaimana tidak, kemanapun Guanlin pergi, Seonho selalu ada di sampingnya. Entah kebetulan atau tidak, sehari setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Seonho mendapatkan liburan selama dua minggu penuh dan jadwalnya setelah liburan hanya berupa latihan rutin dari pagi hingga sore hari. Hal itu secara tidak langsung membuat mereka bebas untuk bertemu setiap hari.
Dan Jihoon tidak suka itu.
Beruntung ia memiliki kemampuan akting yang cukup bagus sehingga tak sulit baginya untuk bersikap nomal di depan teman satu gengnya ketika berkumpul bersama seperti sekarang. Berusaha menyembunyikan perasaan muak karena melihat interaksi pasangan baru yang kelewat romantis di hadapannya. Seonho yang tersipu ketika Guanlin merangkulnya erat, Seonho yang tertawa karena lelucon yang dilontarkan Guanlin, Seonho yang mengerucutkan bibir karena keisengan Guanlin. Seonho yang–
Ah sudahlah, memperhatikan mereka hanya akan membuat kekesalannya memuncak. Ia tak ingin lepas kendali di hadapan teman-teman dekatnya, terutama Guanlin. Sebuah helaan napas pelan meluncur dari bibir penuhnya, matanya tampak terpejam sesaat, mencoba meredakan rasa cemburu yang sudah meletup-letup layaknya kuah kari mendidih yang hampir meluber keluar dari panci.
"Aku ke kamar mandi dulu." Sosok lain di sebelahnya sedikit terperanjat ketika Jihoon mendadak berdiri dari kursinya. Lelaki bersurai medium brown itu lalu menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Jihoon.
"Oi! Bae Jinyoung! kau menyukai Jihoon ya?" Jinyoung menolehkan kepalanya ke arah lelaki gingsul yang duduk tepat di hadapannya.
Seketika semua pandangan tertuju pada lelaki yang tengah memasang ekspresi blank setengah bingung di wajah kecilnya. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Woojin, teman satu klub dance yang mengajaknya untuk ikut berkumpul bersama teman satu gengnya.
Seketika suasana hening di meja makan berubah menjadi riuh saat anggukan pelan Jinyoung tertangkap oleh berpasang-pasang mata di sana.
"Benarkah? Baejin, kau menyukai Jihoon?!" Daehwi tampak membelalakkan kedua matanya, dia kaget tentu saja. Pasalnya Jinyoung yang notabene adalah teman sekelas sekaligus sahabatnya sama sekali tidak pernah menceritakan hal ini padanya.
"Woah, kurasa kalian berdua akan jadi pasangan yang cocok." Pernyataan Seonho mengundang anggukan setuju dari delapan orang lainnya.
"Pasangan? Siapa?"
Hyungseob segera merubah topik pembicaraan ketika Jihoon kembali duduk di tempatnya. Pemuda cantik itu melemparkan pandangan bingung pada Hyungseob yang menurutnya bertingkah sedikit aneh. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok pemuda berwajah kecil yang tampak gugup di sebelahnya.
"Kau oke?" Tubuh Jinyoung sedikit terlonjak ketika suara lembut Jihoon menyapa pendengarannya.
"A– Aku?"
"Uhum, wajahmu tampak gugup. Apa mereka mulai bicara yang tidak-tidak?" Ujarnya seraya menyeruput strawberry smoothies dengan sedotan, sorot penasaran dari mata Jihoon berhasil membuat jantung Jinyoung berpacu dua kali lebih cepat.
"Tidak, kami hanya sedikit bercanda saja tadi."
"Aaa..." Jihoon mengangguk-anggukan kepalanya. "Jika mereka mulai bicara yang tidak-tidak, jangan ragu untuk membalasnya. Tingkah mereka kadang menyebalkan"
Ekspresi kesal Jihoon memancing tawa gemas dari Jinyoung. Merasa ditertawakan, pemuda bersurai caramel itu melayangkan pandangan bingung pada lelaki di sebelahnya.
"Apa yang lucu?"
"Tidak ada. Hanya– kau terlihat menggemaskan ketika kesal." Tanpa disadari, rona merah perlahan menjalari pipi tembam Jihoon.
Kejadian tak terduga itu kembali mengundang sorak sorai dari penghuni meja makan. Hyungseob, Seongwoo, dan Seonho tampak memekik heboh di kursinya masing-masing, sementara Daehwi hanya memandangi Jinyoung dan Jihoon dengan mata membelalak dan bibir yang terbuka lebar.
"Akhirnya, setelah bertahun-tahun sendiri, kau menenemukan pasangan juga Jihoon-ah." Ujar Guanlin dengan senyum lebar di wajahnya.
Memang sejak dulu teman kecilnya ini sama sekali tidak pernah berkencan, bukan karena tidak ada yang mau dengannnya, melainkan Jihoon sendirilah yang menolak setiap ajakan kencan itu. Jihoon merupakan salah satu murid populer saat sekolah dulu, setiap hari lokernya selalu penuh dengan surat-surat dan hadiah. Tak sedikit juga murid-murid yang menyatakan perasaannya secara langsung, namun Jihoon langsung saja menolaknya dengan alasan ada orang lain yang dia sukai dan sampai sekarang dia tidak pernah tahu siapa sebenarnya orang yang selama ini disukai oleh Jihoon.
"J– Jangan mengada-ngada!" Jihoon merengut, rona merah di pipinya makin terlihat jelas karena malu. Netra gelapnya melirik Jinyoung yang tengah meminum lemon tea dengan wajah setengah gugup.
Ini pertama kalinya Jihoon merasakan debaran menyenangkan di dadanya ketika dekat dengan orang lain. Sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal seperti ini kecuali saat bersama Guanlin. Ia tak pernah benar-benar bicara dengan Jinyoung sebelumnya, hanya beberapa kali menyapa saat mereka kebetulan berada di kelas yang sama.
Apa yang terjadi dengannya?
"Sepertinya malam ini aku dan Seonho akan pulang lebih awal." Suara berat Guanlin seketika membuyarkan lamunan Jihoon.
"Kenapa buru-buru? Ini masih jam sembilan." Daniel melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Seonho ada jadwal latihan besok pagi, dia tidak boleh terlambat."
"Ah... pasangan baru memang– Aduh! Kenapa memukulku?!" Hyungseob mendelik sebal pada Seonho yang baru saja memukul kepalanya dengan sumpit.
"Tadi ada nyamuk di rambutmu." Seyum tak berdosa yang dilontarkan Seonho membuat Hyungseob mencebikkan bibir penuhnya, kesal karena alasan tak masuk akal si anak ayam.
"Kami pulang dulu semuanya. Ayo sayang." Guanlin meraih tas miliknya dan juga Seonho, kemudian berdiri dari kursinya disusul oleh kekasihnya.
"Hati-hati di jalan brother." Pemuda China itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada Samuel.
Setelah berpamitan, mereka berdua beranjak dari taman belakang kediaman Woojin yang dijadikan tempat berkumpul. Diam-diam lelaki bersurai caramel menatap pasangan itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Rasa terbakar yang tadinya sempat mereda mendadak kembali muncul merambati hatinya ketika matanya melihat mereka berdua saling menautkan jari. Buku-buku jarinya tampak memutih akibat terlalu erat memegang gelas bening berisi smoothies, ia seakan melampiaskan segala kekesalannya pada gelas tak berdosa itu.
Tanpa disadari ada sosok lain yang mengamati perubahan ekspresi pemuda manis itu. Netra gelapnya mengikuti arah pandangan Jihoon dan saat itu juga dia sadar akan sesuatu.
Sepertinya Jihoon menyukai Guanlin.
.
.
.
~Buttermints~
.
.
.
South Korea, 30th September 2015
Pagi ini Jihoon dikejutkan oleh kedatangan Seonho ke apartemennya dengan mata sembab dan kantung mata yang menghitam. Jam baru menunjukkan pukul enam pagi, jika saja Seonho bukan salah satu teman baiknya sudah pasti ia akan mengomeli orang yang berani mengganggu kegiatn beauty sleepnya.
Masih dengan piyama baby pink melekat di tubuh kecilnya, ia menyajikan secangkir teh hangat untuk Seonho yang masih sesenggukan di sofa ruang tamu. Jihoon lalu mendudukkan tubuhnya di sebelah Seonho, mengelus pelan punggungnya yang bergetar.
"Minumlah dulu."
"T– Terimakasih." Pemuda bersurai caramel tampak memperhatikan Seonho yang meminum tehnya dengan perlahan, jemarinya masih setia mengelus punggung sempit temannya itu.
"Tenangkan dulu dirimu sebelum bercerita, oke?" Pertanyaan Jihoon dijawab dengan anggukan pelan oleh pemuda di sebelahnya. Ia mencoba menormalkan deru napasnya yang tersendat-sendat akibat menangis.
"Sudah?" Seonho mengangguk lagi. "Ceritakan pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru. Aku punya banyak waktu untukmu."
"G– Guanlin menghilang." Tubuh Jihoon seketika menegang ketika mendengar penuturan Seonho. "S– saat aku bertanya p– padamu waktu itu, dia sudah menghilang s– selama lima hari."
"M– Menghilang?"
"Aku sudah bertanya pada yang lain, termasuk padamu. T– Tapi mereka semua tidak tahu dimana keberadaannya. Aku juga minta bantuan pada Donghyun-hyung, tapi sampai sekarang tidak menemukan hasil." Seonho menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata agar tak kembali jatuh membasahi pipinya.
"Satu-satunya harapanku sekarang hanyalah dirimu Jihoon-ah, hanya kau satu-satunya orang yang dekat dan mengenal Guanlin dengan baik." Jihoon tersentak dari lamunannya ketika Seonho tiba-tiba menggenggam tangannya erat. "Kumohon, bantu aku."
"A– Aku akan berusaha membantumu, tapi selama beberapa hari belakangan Guanlin sama sekali tidak menghubungiku. Nomornya juga tidak aktif ketika aku mencoba menelponnya."
"Kau juga kehilangan kontak dengannya?" Pemuda bersurai caramel tampak mengangguk pelan. "Sama sekali tidak mendapatkan pesan apapun?"
"Um– terakhir kali dia mengabariku sekitar seminggu yang lalu."
"Seminggu yang lalu? Itu terakhir kalinya aku bertemu dengan Guanlin di cafe." Gumamnya pelan. "Apa dia tidak memberitahumu sesuatu?"
"Kurasa tidak ada, waktu itu aku hanya bertanya masalah tanggal kepulangannya ke Los Angeles. Kau pasti sudah tau tentang hal itu kan?"
"Um..." Seonho kembali mengangguk. "Dia bilang akan kembali ke LA akhir bulan depan."
"Dia hanya bilang itu padaku, setelah itu dia tidak membalas pesanku lagi."
Raut wajah Seonho seketika berubah sendu, air mata tampak kembali menggenang di pelupuk matanya. Dia benar-benar bingung sekarang, segala cara sudah ia lakukan termasuk mendatangi apartemen yang disewa Guanlin, namun hasilnya benar-benar nihil, ia tidak mendapatkan informasi apapun mengenai keberadaan kekasihnya. Jihoon yang notabene sahabatnya pun kehilangan komunikasi dengannya.
"Seonho-ya, aku ke kamar mandi sebentar. Tak apa kutinggal?"
"U– Uhm tak apa, aku akan menunggu." Seonho tersenyum tipis. "Maaf sudah merepotkanmu Jihoonie."
"Tak apa." Lelaki berwajah manis itu menepuk-nepuk pelan kepala Seonho. "Tenangkan dirimu, aku akan kembali."
Jihoon segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke arah kamarnya. Tepat setelah ia menutup pintu kamar, lelaki itu buru-buru mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Jari-jarinya tampak bergerak-gerak membentuk sebuah pola untuk membuka kunci yang memang sengaja dipasang olehnya. Beberapa kali ia salah membuat pola akibat rasa gugup yang mendadak menyelimutinya.
TINGG–
1 New Messsage
Jarinya dengan cepat menekan icon berbentuk amplop dan membaca isi dari pesan itu.
Fr: Linlinie
Sepertinya aku tak bisa kembali ke Korea seperti yang ku janjikan kemarin. Keadaan ayah masih belum membaik, jadi aku tak bisa meninggalkan ibuku sendirian. Kemungkinan besar aku akan menetap di sini sampai liburanku berakhir. Ah, kau tak lupa menyampaikan pesan dan permintaan maafku pada Seonho kan? Maaf atas permintaanku yang terkesan merepotkan, tapi satu-satunya orang yang kupercaya adalah dirimu Jihoon. Aku akan menelponmu malam ini, jika bisa tolong kau ajak Seonho bersamamu, aku benar-benar merindukannya.
Jihoon kembali menggerakkan jarinya, menekan dengan lancar tombol-tombol huruf di layar ponselnya. Ia memeriksa ulang kalimat-kalimat yang baru saja selesai diketik.
To: Linlinie
Sedikit sedih mendengarmu tak bisa kembali kemari :( Tapi tak apa, kau memang harus menemani ibumu di sana, kasihan jika kau tinggalkan dia sendirian. Masalah pesan waktu itu, aku sudah menyampaikannya pada Seonho, dia baik-baik saja sekarang kau tidak perlu khawatir. Kebetulan sekali hari ini aku kosong sampai malam, aku akan berusaha menghubungi Seonho nanti. Kau baik-baiklah di sana.
Pemuda manis itu kemudian menekan tombol send dan menunggu pesan itu terkirim. Setelah memastikan pesan itu sudah terkirim, ia segera menghapus semua pesan dengan ID name Linlinie dari inboxnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Update~
Chapter ini bener-bener full flashback dan fokus sama karakter Jihoon. Untuk berikutnya aku nggak akan memberikan terlalu banyak flashback biar readernim sekalian bisa lebih nyaman pas baca ceritanya.
Oh iya, Mohon maaf bagi readernim yang nungguin Critical Beauty update, aku terpaksa menunda tanggal updatenya dikarenakan beberapa hal. Tapi aku bakal usahain update dalam waktu dekat, sekali lagi mohon maaf *bow*
Terimakasih bagi yang udah favorite, follow, dan review ff ini.
Kutunggu saran dan komentar kalian di kolom review~
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
Love
~Buttermints~
