chapter 2

.

.

.

Sudah satu bulan sejak Naruto membuka matanya. Namun tak sekalipun ia mengeluarkan suaranya. Matanya kosong seakan tak berjiwa. Tak ada yang dapat mereka lakukan. Dokterpun hanya dapat berspekulasi, bahwa mungkin mental Narutolah yang terluka sehingga membuat ia diam tak berbicara dan berekspresi.

Minato yang sejatinya dapat membaca pikiran sekalipun tak dapat mengetahui isi kepala putrinya. Seakan-akan terdapat barier kuat yang menghalanginya. Deidara mengatakan bahwa aura Naruto adalah nol tak berwarna. Dimana Deidara tak dapat sedikitpun merasakan aura Naruto. Deidara sangat merindukan aura hangat yang dulu selalu dipancarkan oleh adiknya.

Kini Naruto telah kembali ke kediaman Namikaze, saat ini ia sedang duduk diam dibelakang rumah. Matanya menatap kosong kedepan. Karena hal ini Kushina tak ingin meninggalkan putrinya sendiri. Ia menemani putrinya, terus bercerita sesuatu yang menarik walaupun tak ada sedikitpun respon dari putrinya tersayang.

Tanpa disadarinya, kedua matanya kembali mengeluarkan air matanya. Ia terus bercerita dengan tangis yang tak kunjung reda. Hingga suara gemerisik menarik perhatian Kushina. Dan ketika seekor rubah berwarna orange melompat keluar membuat Kushina berteriak keras terkejut. Sedang Naruto ia berdiri, kedua matanya menatap rubah tersebut.

Sang rubah berjalan pelan mendekati Naruto. Ia mengusap kepalanya manja pada kaki Naruto. "Kyuubi" suara Naruto akhirnya dapat terdengar. Suara tersebut benar-benar tak memilki emosi sedikitpun. Naruto membawa rubah tersebut dan kembali duduk di samping Kushina. Rubah yang ia panggil Kyuubi tadi ia dudukkan di pangkuannya. Naruto kembali diam sambil mengelus kepala Kyuubi sayang.

Kushina yang mendengar suara dingin Naruto semakin menangis. Tak pernah pernah terpikirkan sedikitpun bahwa Naruto akan menjadi begitu dingin. Ia selalu berharap Naruto akan terus memberikan kehangatan pada clan Namikaze. Bukan hal yang baru bagi clan Namikaze, ketika mereka berkumpul Naruto akan membuat suasana menjadi sangat hangat dan ceria.

Tak sedikit yang menduga bahwa kekuatan Naruto adalah kehangatan itu sendiri. Tetapi jika kehangatan tersebut lenyap, bukankah kekuatan Naruto juga turut lenyap?

.

.

.

Sabtu ini kediaman Namikaze akan kedatangan Sara, kakak dari Kushina. Ia ingin menitipkan anaknya Karin selama ia pergi dalam perjalanan bisnis di Uzu. Hal tersebut tentu diterima dengan senang hati oleh Kushina.

Sebenarnya Kushina tak begitu mengenal Karin. Walau Karin adalah keponakannya, ia tak pernah sekalipun bertemu dengan Karin. Sara bilang umur Karin 7 tahun, itu berarti ia 2 tahun lebih tua dari Naruto. Kushina juga sempat mendengar dari desas desus keluarga besarnya, bahwa Karin adalah anak yang istimewa. Ia adalah yang terpilih.

Terlepas dari semua itu, Kushina berharap dengan datangnya Karin mungkin Naruto mau sedikit berkomunikasi. Minato pun juga memiliki harapan yang sama besarnya dengan Kushina. Karin adalah anak yang ceria, ia tahu itu. Karena ia pernah bertemu dengan Karin dahulu.

"Koi jam berapa mereka akan datang" Minato jelas tak sabar

"Sebentar lagi anata, tenang saja" Kushina yang sedang memasak untuk menyambut kedatangan keponakannya harus berhenti sebentar untuk memberikan senyuman menenangkan kepada Minato yang sejak tadi gelisah. Ia tahu suaminya tersebut sedang tidak sabar untuk membuat Naruto kembali ceria seperti dahulu.

Suara deru mobil menghentikan akitifitas seluruh penghuni rumah. Deidara yang sedang bermain di ruang tamu segera berlari menuju teras untuk menyambut sepupunya. Tidak seperti yang lain, Deidara sudah lebih dahulu mengenal Karin. Karena ia sempat berlibur di rumah Sara selam liburan musim panas tahun lalu.

Seorang gadis cilik berambut merah terlihat melompat keluar dari dalam mobil. Ia melambaikan tangannya heboh ketika melihat Deidara berlari menuju arahnya. Cengiran lebar ia berikan kepada sepupunya tersebut.

"Dei-chan…."

"Karin-chan, apa kabar?" Deidara memeluk sepupu yang paling ia sayangi itu.

"Baik Dei-chan, wah kau semakin terlihat tampan ya"

Meninggalkan anaknya melepas rindu dengan Deidara, Sara segera memasuki kediaman Namikaze dengan sebuah koper di tangannya. Koper tersebut adalah perlengkapan milik Karin selama Karin tinggal di kediaman Namikaze.

Minato yang melihat kedatangan Sara, segera mengambil koper yang dibawa Sara. Kushina yang datang setelahnya memeluk kakakaya erat. Sayangnya Sara harus segera pergi karena jam keberangkatan pesawatnya adalah kurang dari 1 jam lagi.

Sara menghampiri sang anak yang sedang mengobrol asyik dengan Deidara. Ia usap rambut Karin sayang lalu mencium kening Karin lama. Sebelum kembali masuk kedalam mobilnya, ia memberikan senyuman yang menawan kepada Karin yang dibalas senyum tak kalah menawan oleh Karin. Namun ketika ia berbalik sebuah tangan mencegah ia berjalan lebih jauh.

"Ada apa Naru-chan?" Sara sedikit terkejut melihat Naruto menggenggam tangan Sara erat.

"Bibi, tidak bisakah disini saja?" Naruto berkata pelan.

"Hmmm?" Sara dibuat terbingung, begitu pula dengan semua yang melihat kejadian ini. Kushina bahkan menutup kedua mulutnya ketika mendengar Naruto mau mulai berinteraksi.

"Dia menunggu bibi disana, tidak ada yang bisa lari. Tapi mawar merahnya akan bersedih kalau bibi tetap pergi" kalimat ambigu tersebut membuat kedua alis Sara tertaut.

"Dan ketika mawar tersebut menangis, itu akan menjadi tugas Naru-chan untuk membuatnya tidak bersedih lagi" Sara mencubit gemas hidung Naruto lalu beralih menuju Karin "Nah Karin, kaasan berangkat dulu. Jangan menyusahkan bibi Kushina ya"

"Naru-chan berjanji akan membuat sang mawar merah tidak bersedih?" Sara memberikan kelinkingnya di depan wajah Naruto, meminta Naruto untuk berjanji.

"Naru tidak janji" wajah yang terlewat datar tersebut membuat Sara tertawa pelan lalu menarik tangan Naruto dan menyatukan kelingking Naruto dengannya. Sebuah segel perjanjian.

"Tidak, Naru-chan harus berjanji. Kita bahkan sudah membuat segel perjanjian, dan Naru-chan harus menepatinya" Naruto terdiam ragu sebelum menganggukkan kepalanya pelan.

"Mmm"

Sara mulai berjalan meninggalkan kediaman Namikaze. Setiap langkah kaki Sara membuat dada Naruto meringis. Tapi tak ada yang mengetahuinya. Naruto tetap bertahan dengan raut wajah stoicnya. Hanya tangannya saja yang berjalan menuju dadanya. Hanya tangan kecilnya yang menggenggam dadanya erat, seolah mencoba mengurangi rasa sakit yang ia rasakan sekarang.

Mobil Sara sudah tak terlihat di halaman kediaman Namikaze, ketika telepon rumah bordering. Kushina yang menjawab telepon tersebut awalnya memeliki raut wajah yang biasa, namun ketika semakin lama raut wajah tersebut berubah. Minato tahu, istrinya sedang berusaha tegar. Tapi tegar dari apa?

"Kushina-chan ada apa?" Namikaze berjalan pelan menuju istrinya yang terlihat mematung.

"Anata, Kenzo-san" suara Kushina terdengar bergetar.

"Apa yang ia lihat?" melihat mata Kushina melirik Karin yang sedang duduk bersama Naruto dan Deidara, Minato mengerti. Ia membawa istrinya menuju kamar "Kita bicarakan didalam."

.

.

.

"Hah ternyata pesawatnya delay, tahu begini aku akan menghabiskan waktuku bersama mereka" Sara sedang melihat berkas-berkas yang akan ia bawa menuju Uzu, tetapi mulutnya tak berhenti mengeluarkan keluhan.

"Dan lagi kenapa mereka tidak memberitahukan hal ini, bukankah hal seperti ini harusnya diberitahukan kepada semua penumpang! Dan apa-apaan ini! Mengapa sampai selama ini delaynya!"

Sara terus mengeluh tanpa melihat sekitar. Semua orang yang ada disana memilih sedikit menjauh. Mereka tak ingin berurusan dengan seorang Uzumaki Sara yang sedang marah. Bawahannya yang sengaja ia ikutkan memilih diam disamping Sara dengan menundukkan kepala. Sedikit banyak ia merasa bersalah karena tak menge check terlebih dahulu.

Hingga tiba-tiba suara jeritan terdengar bersaut-sautan. Hal ini membuat beberapa calon penumpang yang semula sibuk sendiri-sendiri menolehkan kepalanya cepat menuju asal suara. Lalu semua seakan berjalan begitu lambat, semua orang sibuk berlarian menghindar. Tak sedikit beberapa calon penumpang yang jatuh, anak-anak mereka mulai menangis kencang.

Sara pun tak begitu ingat apa yang terjadi, ia mulai berlari ketika bawahannya menariknya. Dan lalu ketika seorang bertubuh gempal bertabrakan dengannya. Ia sudah tidak dapat berlari lagi. Kakinya terkilir. Dan setelah itu gelap segera menyambutnya. Ia tidak merasakan apa-apa lagi.

TBC

Sangat sulit untuk mendapatka alur pada fanfic ini, tapi semoga chapter ini tidak mengecewakan reader-tachi. Untuk pairing masih misteri, di tunggu saja pada chapter-chapter kedepannya. Terimakasih yang sudah mau comment, fav, dan follow fanfic ini. Fumio-chan ini udah dilanjut, semoga aku bisa update lagi sebelum UAS jumat depan. Saran dan kritik yang membangun sangat diterima. Terima kasih sudah membaca :)