She's A Lady


Cast:

Fem!Sehun, Jongin (ehemnya Sehun), Fem!Baekhyun (sohibnya Sehun), Fem!Xiumin (sohibnya Sehun), Fem!Kyuhyun (Mamanya Sehun), Donghae (Papanya Sehun), dan Jeno (adiknya sehun).

Rating: T

Genre : Romance, Genderswitch for uke, Mahasiswa-life, comedy abal, friendship, family, AU, OOC, dll

Bahasa: Menggunakan bahasa indonesia campur sari yang tidak lolos standar MUI

WARNING: This is Romcom dengan tema bad romance between young normal couples. Yang punya pacar dan sedang ribut dengan pacarnya diharap untuk tidak baper berlebih. This-is-fic. Don't like dont read and please don't bash^^

Summary Lengkap: Jongin dan Sehun terjebak dalam Love-Hate relationship yang aneh. Sehun is a Queen of grumbler-possesive-bitch-temperamental-mellowdrama-who-loves-yelling. Jongin is… Jongin. (terinspirasi dari lagu She's A Lady-nya FTSK).


"She's a lady

And ladies shouldn't be messed with…"


~~HAPPY READING (^^)


Belum pernah Jongin merasa sekhawatir ini. Perasaannya tidak enak. Dia mencoba mengalihkan pikirannya yang sedang ruwet. Menunggu yang bersangkutan membalas pesan atau minimal menelpon balik. Karena Jongin sangat… damn! Dia cemas banget! Mukanya sampai kusut begitu. Apa Sehun marah? Wajar sih, Sehun punya hak untuk marah. Jongin memang keterlaluan, menghilang dua bulan tanpa kabar. Tapi dia punya alasan yang solid kok. Team work building dan training di perusahaan yang berusaha merekrut tenaganya. Itu memakan waktu hampir sebulan. Para peserta tak diizinkan menyentuh ponsel. Ponsel-ponsel dikumpukan dalam satu kotak, disimpan di loker tertutup. Jangankan menyentuh, melirik saja hukumnya haram. Stress? Pastilah! Terlebih Taeil si kembaran Unyil yang hadir di postingan Sehun tidak membantu menjelaskan sama sekali. Malah ikut-ikutan membully! Kenapa sih teman-temannya senang merusak ketentraman? Jongin ogah berkomentar bukan karena sombong, dia benci berkoar-koar dan publikasi asmara di medsos. Jongin tidak alay. Persoalan pribadi pantasnya diselesaikan berdua bareng pasangan. Bukan dijadikan topik gurauan di media sosial. Mungkin ada sebagian orang yang santai buka-bukaan, biarkan dunia tahu, tapi Jongin bukan tipe orang yang senang jadi sorotan. Bahkan kepada teman-teman dekatnya pun dia agak tertutup kalau sudah menyangkut persoalan hati. Pokoknya Jongin anti jadi konsumsi publik! Berkali-kali Taeil berusaha mengorek-ngorek tentang Sehun, yang selalu diberi jawaban seadanya oleh Jongin. Intinya jenis-jenis jawaban yang sekali kita dengar pasti bikin emosi berkepanjangan, kayak: "Lu pikir lu bisa ngepoin gue? Mimpi!" yang tadi masih lebih mending. Jongin paling demen berlagak jaim dan sadis jika ada serigala-serigala yang lancang bertanya mengenai hubungannya.

Sambil menunggu ponsel kerempengnya berdering, Jongin perang komen dulu dengan Kris di salah satu postingan foto siluman naga botak itu.

Aktivis gadungan! Tumbuhin dulu tuh rambut minimal satu senti, baru berkoar-koar soal ideologi tulis Jongin dibawah komentar Kris yang menjatuhkan harga dirinya. Kris bahkan menyebut Jongin labil dan cuma menang di kulit: Bocah labil, gak usah sok manly bangga-banggain kulit, ngurus satu cewek aja ora becus.

Jongin masih sempat baca komentar Kris berikutnya: Jangan rasis sama kaum botak tapi baru sebatas membaca, karena saat itulah ponselnya bernyanyi. Jongin tersentak kaget dengar bunyi ringtonenya sendiri, buru-buru dia menempelkan iPhone ke kuping. "Halo sayang? Oh, elu Baek. Kupikir Se—mm, apa?! Sehun tercebur… maksudnya? Serius?!"

Berita itu bagai geledek siang bolong yang menyambar tubuhnya dan membakar kulitnya sampai habis. Tunggu… jangan bilang…"Sehun nggak melakukan percobaan bunuh diri 'kan?" tanya Jongin ekstra ngawur.

"Enggak lah! Emang lu siapa? Mark Zuckenberg si penemu facebook? Penting amat bunuh diri demi elu."

Ngabarinnya iklas nggak sih? Dalam hati Jongin membayangkan cewek cabe satu ini dimasukkan ke sekolah kepribadian. Mungkin pengajar-pengajar disana akan menangis berjamaah dan meraung-raung histeris sambil menjedot-jedotkan jidat ke tembok karena semua bakal merasa gagal mengubah cewek galak dan nyinyir ini jadi lebih baik dan mulutnya nggak setajam celurit. Sekarang Jongin sadar kenapa Sehun betah berkawan dengan Baekhyun. Mereka setipe. Attractive but bitter.

Jong, cewekmu sedang dalam bahaya. Bukan saatnya menghina dan mendendam!

Baekhyun menceritakan kronologis kejadian dan detik itu juga Jongin menyalahkan diri sendiri. Sehun sempat pingsan beberapa menit gara-gara shock, dan butuh perawatan dari perawat di lokasi karena tumbuhnya memar di jidat cewek itu saat membentur sisi perahu, meskipun tergolong luka ringan. Tanpa sadar Jongin tahan napas saking tegangnya. "Sahabat macam apa sih lu? Nggak bisa jagain Sehun. Untung nggak ada luka fatal!" tegurnya marah. Kalau seandainya Baekhyun ada disini, pasti sudah ditikamnya dengan tatapan tajam.

Baekhyun ternganga di seberang telepon. "Kenapa lu jadi marah sama gue sih? Harusnya elu yang ngelindungin dia dong! Sehun itu pacar lu! Bukan gue!"

Remasan tangan Jongin di kepala tidak memperbaiki apapun. Cowok itu membutuhkan bantuan psikiater. Dan mungkin sedikit napas buatan karena dia nyaris pingsan. Bagaimana caranya menghubungi Sehun jika ponsel cewek itu mendekam di dasar laut? Untung si pemilik berhasil dilarikan ke rumah sakit pantai. Ayah dan ibunya Sehun yang lebih dulu dihubungi Xiumin sampai sekarang ini belum reda serangan paniknya. Mereka ngotot ingin terbang ke Rusia sekarang juga. Jongin yang masih terjebak di asrama khusus peserta pelatihan bisa apa? Dia bokek, ingat?

"Sehun apes gara-gara elu, tau nggak?! Pokoknya gue nggak mau tahu, kalau sampai dia kenapa-kenapa, apalagi hilang ingatan, gue santet lu, Jong! Bener. Nggak bercanda nih. Gue geret leher lu selagi tidur, gue bagi-bagi daging lu ke sekawanan macan di kebun binatang. Walaupun lu udah jadi setan, gue nggak bakal biarian arwah lu gentayang bebas, gue segel lu di pohon mangga."

"Iya iya sori..." Jongin menggerung kesal, "Acara penyegelannya bisa ditunda dulu? Sehun mana? Dia udah siuman? Gue pengen ngomong."

Baekhyun tak punya kuasa untuk lanjut mengomel, ponsel di tangannya beralih secepat kilat, direbut Sehun. "Jong? Jongin? Halo?"

Sungguh ultra bahagia mendengar suara merdu sang kekasih. Daripada mendengarkan rintihan suara cucu medusa tadi. "Sehun, sayang, kamu nggak apa-apa?"

Sehun tersedak.

Jongin mulai panik. "Halo? Halo? Kamu nangis?" Dia takjub dengar Sehun sesenggukan, suaranya bergetar dan mirip cicitan tikus sekarat.

"Akhirnya kamu panggil aku sayang."

Yeee… malah mikirin itu! "Hun, kamu ngapain sih? Pakai kecebur segala, untung kepala kamu cuma benjol, untung ada Chen dan Luhan, kalau ada apa-apa sama kamu, aku juga yang kena. Ditambah ada kejadian begini. Kamu itu selalu aja bikin orang khawatir! Udah tau nggak bisa berenang, mending kalian pulang sekarang."

Kegiatan tersipu-sipu Sehun langsung tamat. Kok bisa-bisanya tadi dia deg-degan sama cowok dingin ini? Bodo. Berhubung dia lagi gembira, jangan dirusak dengan perdebatan.

Sehun berdehem. "Aku nggak mau pulang sebelum kamu nyanyi."

"Kok malah nyuruh nyanyi?" Jongin mengerutkan dahi.

"Kalau gitu baca puisi."

Kerutan di dahi Jongin membentuk gelombang. "Sayang, kamu itu lagi kena musibah, malah nyuruh-nyuruh aku nyanyi lah, baca puisi lah."

"Aku cuma terpeleset dari perahu, Jong. Itu salahku sendiri."

"Itu salahku, Hun."

"Kata siapa? Itu salahku," Sehun ngotot.

Jongin menggeleng. "Nggak, itu salahku. Nelpon pas kamu lagi diatas perahu, harusnya aku sadar kamu itu teledor."

"Ya kamu mana tahu sih aku lagi di perahu? Lagipula, kenapa baru nelpon sekarang? Kemarin kamu sibuk banget ya?"

Barusan itu jenis pertanyaan sensitif. Jawabnya juga harus hati-hati. "Jadi perusahaan tempat aku magang, mereka merekomendasikan aku dan Taeil buat ikut seminar dan pelatihan teknis di lapangan, padahal status kita 'kan mahasiswa, belum lulus, mereka bilang kalau kami udah selesai nanti kami bisa masukin lamaran dan cukup sertakan transkrip sama ijazah, nggak usah ikut interview dan ujian kayak pelamar lainnya."

"Wow. Selamat."

"Makasih."

Sehun menghela napas. "Dan… itu yang bikin kamu sibuk? Sampai nggak ada waktu buat pegang hape?"

"Mereka nggak ngasih kesempatan, katanya supaya kami fokus." Jongin merasa bersalah saat menjelaskan ini. "Sayang, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf… aku nggak tahu musti gimana untuk menebus ini."

"Pertama-tama nyanyi," perintah Sehun. "Itu aja dulu. Opsi kedua, kirimin aku puisi. Dulu kamu sering banget bikinin aku puisi, kamu punya utang puisi ke aku, ingat? Sampai sekarang nggak pernah kamu kirim. Lunasin dulu utang puisinya."

Oke, puisi, nyanyi… oke, oke… Jongin bisa kok. Gampang! "Puisi aku udah pernah niatin kirim, cuma karena kita sering ribut-ribut nggak jelas, puisinya batal kukirim. Sepulang dari café sebenarnya aku udah pengen ngasih, tapi ada banyak hal kecowokan yang mengalihkan pikiran, aku lupa-lupa terus."

"Hal kecowokan kayak game bola?"

Jongin mesam-mesem. "Smart girl."

"Jadi…"

"Jadi…"

Dua orang itu buka suara bareng, namun sama-sama terdiam setelahnya.

"Hun, aku benar-benar minta maaf nggak ngabarin kamu."

"Biasanya juga gitu kok."

Terdengar helaan napas berat. "Kalau dipikir-pikir, aku ini egois banget ya?"

Hanya deburan ombak yang menjawab di latar belakang, ada suara gesekan kecil juga, pasti pergerakan telinga Sehun. Jongin mengira diamnya cewek itu pertanda lampu hijau. Dia kembali menuduh diri sendiri. "Aku tau aku bego. Childish, pengecut, egois. Aku minta maaf, tapi jujur… aku capek digalakin terus. Aku pengen kamu ngerti, tapi bingung ngungkapinnya gimana biar kamu nggak nyolot dan emosi tiap kali aku ngomong. Denger kamu marah, ngamuk, sama nangis, aku nggak bisa, Hun. Aku nggak kuat. Jujur. Makanya aku selalu nolak kalau kamu ajak ketemuan. Kenapa? Karena itu tadi. Ditelpon juga kerjaan kamu ngomel. Aku nggak mau hubungan kita diisi dengan perang mulut nggak sehat."

"Kata siapa nggak sehat? Mulutku sehat kok. Aku rajin sikat gigi."

"Hun…" Jongin meremas rambutnya. "Aku nggak lagi ngelawak. Plis."

"Sori." Sehun berdehem, kembali menjawab serius. "Kamu keterlaluan itu namanya."

"Iya, iya aku tau. Harusnya aku nggak menghindar. Makanya, karena kita mulai dengan baik-baik, aku mau kita tetap lanjut, dengan baik-baik."

Hening. Jongin cemas, takut ditinggal pergi. Takut Sehun balas dendam dengan cara mengaktifkan loud speaker dan memperdengarkannya ke Baekhyun dkk. Lalu mereka cekikikan sambil berlomba-lomba pasang wajah kocak.

Ah, mana mungkin! Sehun memang stubborn, tapi dia nggak mungkin sekejam itu.

"Jong, aku dipanggil Xiumin, Mama aku nelpon lewat ponsel dia."

Jongin berkedip, agak tidak rela mengakhiri percakapan. "Ouh… gitu? Oke. Sip."

"Nggak apa-apa kan?" tanya Sehun. "Nanti kita lanjut."

Bahu Jongin merosot. "Oh, oke. Ntar aku telpon lagi. Bye."

"Bye."

.

.

.

.

JonginQu~

Aku berjalan di bawah sore yang cerah,

Menyusuri sudut kota tua,

Mencari kediaman bahagia,

Lepas lelah sembari tertawa.

Orang-orang lupa akan luka,

Percayalah, hati mereka pilu,

Lebih dari separuh tengah berduka,

Karena kehilangan adalah keniscayaan.

Hidup adalah pilu, jangan lari,

Karena kau takkan sanggup.

Tak ada yang salah, inilah dunia, tak tentu arah,

Kesedihan dan kebahagiaan silih berganti,

Celakanya perasaan kita adalah panggungnya,

Kehilangan tak dapat dihindari,

Jika tak siap, semesta memaksa siap.

Aku duduk di sudut taman, mereka masih tertawa,

Gumamku, "Selamat berbahagia untuk sementara."

P.S: Hun, maaf aku nyampah. Cuma pengen tahu gimana pendapat kamu soal ini. Terlalu menyedihkan ya? Ha-ha. Aku deg-degan banget lho waktu ngirim ini. Bilang kalau jelek. Need your advice, beyb :*

Jongin pakai emoticon kiss!

Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh!

Sudah berabad-abad lamanya emoticon itu terkubur. Mereka kembali ke start?! Dream comes true. Sehun cepat-cepat membalas.

Honey: Umm… ini puisi tentang siapa? Bukan tentang aku kn? Kesannya dark banget. Qmu pasti lagi galau n bete bgt ya waktu bkin ini? :(

Balasannya muncul tak sampai dua menit. Sehun yang siap-siap beranjak dari kasur untuk ngambil handuk di gantungan kontan batal berdiri, dia terjang tumpukan bantal di kasur, kemudian guling-guling dari sisi kiri ke sisi kanan saking girangnya.

JonginQu~: Bete? nggak sih… lagi iseng aja

Honey: Ah yang bener?

JonginQu~: Kenapa? Norak ya?

Honey: Puitis kok

JonginQu~: Aku nyesel banget kirim itu. Sumpah. Malu-maluin.

Honey: Ih, jadi selama ini kamu demen menggalau di taman :v Gak takut diciduk satpol pp? Gak takut digodain banci lewat?

JonginQu~: Kamu ketawa? Hapus sekarang juga! HAPUS. DELETE. Jangan disimpan!

Honey: Gak ah :p

JonginQu~: Gigit nih?

Honey: Mau transfer ke laptop, kuprint di kertas spanduk, terus pajang di tembok kamar :p. Tiap ada temen-temenku datang mereka gak bengong nungguin aku selesai mandi. Mereka bisa baca puisi kamu sambil makan keripik pisang. Malah, kayaknya bagus dikirim ke penerbit.

JonginQu~: TIDAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK TERKUTUK K AU MALIN KUNDANG!

Honey: Qmu kalau marah tambah tamvan deh :p :*Love you Nose :*

JonginQu~: Love you pretty-bubbly-butty, situ juga oke. 6969 YUK? Rawwwrrr

Honey: Paan? Aku ga ngerti

JonginQu~: Polos banget kamu

Honey: Beneran ga ngerti

JonginQu~: :(:(:(:(:(( Masih dendam?

Honey: B-)

JonginQu~: Speaking of keripik pisang, kemarin aku beli banyak banget jajanan di pasar. Thai-market has everything! Mulai dari keripik kulit gurita kesukaan Jeno adek kamu, entar aku bawain deh kalau main ke sana

Honey: :* Makasih B

JonginQu~: B?

Honey: Bebeb :*

JonginQu~: Ahhh imutnya cipok neh? :3

Honey: Cipok itu apa? ;o

JonginQu~: Ai like it when you ask me ;) ;p so kinkyyyyyyy

Honey: Beb, mau mandi dulu ya, tadi habis dari pantai, badan aku masih gatel

JonginQu~: Gatel? Hayuk kugarukin :p? Apa temenin mandi?

Honey: Jangan nakal!

JonginQu~: Bukannya kmu suka yg nakal?;ppppp. Eh foto kamu di pantai itu cantik banget deh, tapi ada yg kurang

Honey: Kurang apanya?

JonginQu~: Kurang pendek celananya. Kurang transparan.Kurang rendah belahannya :v

Honey: (-_-'') Mesyum

JonginQu~: Mesyumbuthandsom B-))696969 mau gak?

JonginQu~: Bayangin deh, lagi hujan deras, dingin, terus aku meluk kamu di halte bus. You loved rainfall. Jadi kamu narik aku bergabung dibawah guyuran hujan. Nggak pakai sehelai kain pun… kulit kamu dingin, tapi kulit aku hangat, kulit kita menempel…

Honey: (-_-'')/ bye!

JonginQu~: Yaaaah kok bye?!

JonginQu~: Sayang cantik

JonginQu~: Honey?

JonginQu~: Madu?

JonginQu~: Manis?

JonginQu~: Beneran bye?!

JonginQu~: Iklas kok :')

.

.

.

.

Menjaga hubungan tetap awet versi Sehun adalah…. SANTAI CYIN! WOLEEES.

Kalau kata Xiumin, yang sudah berpengalaman dan lebih lama menjalin hubungan dengan Chen (Mereka tujuh tahun! Udah dari SMA malah), dibawa have fun aja, sis. Jangan pernah artikan 'Have Fun' sebagai 'bersenang-senang doang'. Have fun adalah saat dimana kau enjoy dengan si dia, tidak malu bersendawa di depannya, lalu meringis bahagia sesudahnya. Saling perang sendawa juga boleh. Sangat dianjurkan!

Tidak perlu 21 langkah, tidak perlu 30 langkah, cukup 1 langkah: Santai. Santai bukan berarti tidak memberi kabar sama sekali. Santai bukan berarti lepas tangan. Santai bukan berarti tak peduli. Santai dan jadilah diri sendiri. Santai namun tetap menjaga perhatian-perhatian kecil. Santai dan jangan pernah ungkit pertengkaran di masa lalu. Santai dalam memaafkan. Santai itu berarti tak harus menghabiskan waktu 24 jam dikali 7 hari bersamanya, punya pasangan bukan berarti tidak ada waktu untuk berinteraksi dengan teman masing-masing. Cukup saling percaya.

"Ingat ya Hunnie sayang," Nasihat Bunda Umin. "Setiap berantem jangan curhat ke twitter. Setiap beradu pendapat, jangan langsung ganti status dan marah-marah di Facebook. Duuh, anak kecil banget sih? Pasangan yang selalu posting masalah mereka ke media sosial cenderung merasa tidak mampu menyelesaikan masalah itu secara personal. Selesaikan masalah dengan dewasa. Ingat, kamu nggak lagi berantem dengan akun media sosialmu. Admin Facebook dan orang-orang asing diluar sana gak perlu tahu masalah yang kalian hadapi. Tuntaskan problem dengan pasanganmu secara privat. Yang perlu orang lain tahu cuma seneng-senengnya kalian aja, deh."

"Min, kayaknya lu emang berbakat jadi psikolog asmara. Salah jurusan lu," timpal Baekhyun. "Ngapain ngambil jurusan informatika?"

"Aku nggak ngomong sama kamu," Xiumin mendengus keki, kemudian tatapannya ke Sehun. "Kamu belum bisa masak, Hun? Belajar. Cari kesibukan di dapur bareng Mama kamu, masak kek, apa bantu nyuci baju, setrika, setinggi apapun kalian sekolah, ujung-ujungnya tanggung jawab terbesar adalah sebagai ibu."

"Intinya, kalau laki lu sok sibuk, lu juga sok sibuk," tukas Baekhyun. "Biar nggak jadi beban pikiran. Dia nggak bales chat semenit aja udah panik. Jangan! Yang berlebihan itu biasanya nggak bagus."

"Bener!" Xiumin manggut-manggut. "Cari aktivitas yang bermanfaat, supaya pikiranmu fokusnya nggak ke dia melulu. Mumpung masih muda."

"Bikin Jongin kagum dan jatuh cinta tiap hari. Bikin dia butuh elu," saran Baekhyun berapi-api. "Gue tahu dia nggak bakal mungkin macem-macem ama cewek lain. Jongin tuh setia. Kalau udah satu ya satu aja. Gue kenal dia dari SMP, jadi gue tahu, mantannya baru sebiji. Cuma tuh anak suka rada korslet, ya maklumin aja. Jangan dibawa stress ah! Gue gak mau lu cepet tua gara-gara dia."

Sehun setuju. Iya sih, mantan Jongin baru satu. Dia ingat dulu sekali Jongin pernah bercerita tentang Krystal, sang cinta monyet, cewek IPS yang bikin Jongin rela menjomblo sampai lulus gara-gara patah hati akut mantannya jadian dengan anak kuliahan. Sejak saat itu dia bertekad untuk belajar giat, supaya keterima di universitas negeri terfavorit. Setelah mereka mengangkat topik itu, malamnya Sehun ngambek, menuduh Jongin diam-diam masih punya rasa dan sengaja mendaftar di kampus yang sama demi pedekate. Makanya Jongin nggak pernah berani bahas soal Krystal lagi di depan Sehun.

Niat awal terpacu oleh Krystal, tapi rencana tak selalu berjalan sesuai keinginan. Jongin membelot, teralihkan oleh Sehun—teman satu jurusan.

"Iya, coba gih buka-buka internet, cari lowongan kerja atau magang dimana gitu. Jangan di Koran, ajaib-ajaib isinya." Xiumin bergidik. "Masa aku pernah nemu lowongan cashierman di panti pijat manula. Mana pelanggannya tuir-tuir semua pasti."

"Masih mending panti pijat manula, gue malah pernah nggak sengaja nemu lowongan buat asisten pelatih lumba-lumba. Itu kerjaannya ngapain ya? Apa bengong ngeliatin si pelatih ngajarin bayi lumba-lumba berenang?" Baekhyun ngikik.

"Paling disuruh ngasih makan sama mandiin lumba-lumba," kata Xiumin. "Terus ngepel dan nyikatin lantai kolam."

"Tapi gue mau selesai kuliah dulu baru cari kerja," Sehun merengut karena pembahasannya menjalar kesana kemari. "Ngurangin beban orangtua emang udah gue planning dari sekarang. Cuma entar, kalau udah lulus S2."

Xiumin mencibir. "Judul skripsi aja belum beres. Pikiranmu ketinggian."

Sehun mendelik. "Apa salahnya sekolah tinggi-tinggi? Mumpung masih muda. Lo sendiri yang bilang tadi."

"Banyak cingcong! Browsing aja dulu. Siapa tau ada lowongan jadi bos," Baekhyun menunjuk iPad di tangan Sehun. "Atau kalau nggak ikut kursus apa kek."

"Nggak usah kursus, jadi asisten pelukis aja, kamu hobi menggambar kan, Hun? Nah, cocok tuh. Atau jadi tutor bahasa inggris buat persiapan UN di tempat bimbel."

Xiumin mendedikasikan separuh hidupnya untuk membantu sang ibunda ngajar anak-anak menari, berhubung Mamanya Xiumin buka tempat les di rumah. Baekhyun sendiri bantu-bantu Mamanya keliling jualan Tupperware sehabis pulang kuliah, panas-panasan boncengan motor, makanya mereka bisa ngasih saran. Lah, Sehun ngapain? Dia nggak punya kegiatan lain diluar menceramahi dan memaki-maki tabiat Jongin.

Dengan keki Sehun membuka browser di iPad-nya. Mau mulai berubah jadi positif aja susahnya minta ampun. Memulai sesuatu kebiasaan yang bukan rutinitas kita dari lahir itu memang nggak semudah membalik telapak tangan. Kalau kata Xiumin, Sehun itu manja, serba-aman, serba-terjamin, dan susah mau keluar dari comfort zone. Apa-apa tergantung orangtua. Biarpun menyebalkan, tapi Sehun terpaksa mengakui omongan sahabat-sahabatnya terbukti benar. Membayangkan dia harus kerja tiap hari, mencari uang sendiri, kemungkinan lembur, nggak punya waktu santai, kemungkinan subsidi dari orangtuanya bakal stop kalau dia sudah berpenghasilan serta sederet ketakutan-ketakutan tentang tanggung jawab, Sehun memutuskan dia belum siap dan butuh waktu.

Minta lanjut kuliah S2, lumayan kan? Dua tahun dia mempersiapkan mental dan masih bisa jadi anak kuliahan. Nyaman berlindung dibawah jaminan orangtua. Apalagi alasannya sungguh mulia: Menuntut ilmu. Tapi setelah kemarin-kemarin, setelah perseteruan dengan Jongin, tega rasanya kalau Sehun tetap cuek dengan keadaan dan melanjutkan hidup seperti biasa. Tetap jadi manja dan pengeluh. Memakai alasan kuliah untuk menghindari tanggung jawab menjadi dewasa. Supaya tetap bisa pacaran dan landing di tempat-tempat gelap layaknya anak muda, tuduh Baekhyun (dia langsung dapat hadiah dua kali geplakan buku cetak di kepala). Padahal masih ada Jeno—adiknya yang masih SMA—yang perlu banyak biaya.

"Gajinya gede nih…" gumam Xiumin.

Bret! Sehun merebut ponsel Xiumin. Bola mata Sehun bergulir semangat. Membaca kolom-kolom job vacancy yang terpajang di situs dengan sangat telaten. "Yang mana? Profesinya apa?"

"Guru silat."

Sehun berhenti mencari dan beralih melotot ke Xiumin. "Guru silat? Lo serius nggak sih mau bantuin gue?

Baekhyun ngikik. "Eh, ada yang lagi nyari perawat Orangutan. Ada keluarga kaya yang pelihara gitu dibawa dari Kalimantan, dua ratus perjam untuk nyusuin sama mandiin bayi-bayinya. Lumayan. Mau nggak lo, Hun?"

Sehun pura-pura budek.

Xiumin merebut kembali ponselnya dari tangan Sehun. "Yeee… aku cuma bilang gajinya gede, bukan berarti cocok buat kamu. Lagian maen rebut aja sih."

Sehun manyun, lalu menggaruk-garuk rambutnya untuk kesekian ribu kali. Frutasi. Daritadi capek men-scroll layar sampai jempolnya mulai kapalan, tapi nggak ketemu satupun yang cocok. "Aduuuh! Nggak tahu, ah! Bingung. Gue pikir-pikir dulu deh. Toh masih ada hari esok buat mikir."

"Ya udah, terserah. Tapi muka lo ganti dulu dong. Jangan pasang muka-muka kemerungsung gitu. Tampang lo menebarkan hawa depresi tau!" protes Baekhyun. "Senyummmmmm…."

"Senyum." Sehun ikut menyeringai.

Baekhyun mendelik dongkol. "Muke lo, Huuuun… senyum darimana?! Itu kayak serigala jahat. Cocok lu membintangi The Conjuring."

Sehun cemberut. "Bawel lu, kayak nenek-nenek di iklan BukaLapak."

Xiumin menimpuk bibir Sehun yang selalu bersungut-sungut. "Pantesan Jongin sombong. Tampangmu membawa dampak polusi hati."

"Senyum adalah ibadah," ujar Baekhyun. "Biar lo selalu kelihatan awet muda dan nggak boros."

"Apanya boros?" Perasaan Sehun mulai tidak enak.

"MUKA!" Baekhyun ngakak kampungan sambil nunjuk-nunjuk.

Tuhan… berilah Sehun ketabahan ekstra. Musti strong punya temen-temen kayak mereka.

.

.

.

.

Tawaran justru datang dari arah tak terduga. Jeno mengabarinya lewat sms. Pasalnya guru komputer di sekolah Jeno butuh asisten pengajar, berhubung guru bersangkutan sering dikirim ke kantor dinas untuk mengikuti pelatihan.

"Kita harus bikin variasi dalam hubungan." Sehun buka-bukaan. Ya, dia memang buka-bukaan dari dulu, hanya saja, kali ini mulutnya berfungsi lebih positif. Tidak untuk menghina sepatu Jongin atau gaya baru bangun tidurnya yang sering asal-asalan. Pernah Jongin pakai celana basket, kemeja kotak-kotak, sandal jepit butut ke kampus. Pulangnya Sehun mengomel karena menganggap perpaduan style Jongin sungguh tak wajar dipakai menemui dosen.

Jongin menaikkan satu alis, perhatiannya berbelok seratus persen dari layar TV. "Okay, I hear you."

"Aku mau daftar jadi asisten pengajar di lab komputer, isi waktu dengan kegiatan berguna." Sehun mengedikkan bahu. "Keluar dari rumah."

Jongin tersenyum. "Hebat, sayang. Aku dukung pasti. Kamu mau ngajar dimana?"

"Sekolah adikku," sahutnya. "Nggak terlalu jauh dari rumah. Itupun aku sanggupnya Senin-Kamis, jadwal siang. Mumpung mata kuliah udah mulai berkurang."

"Wow!" Binar-binar muncul di wajah Jongin. "Itu hebat. Bagus. Emang harus gitu."

"Dan kayaknya kita harus kurang-kurangin waktu ketemuan. Sekali seminggu."

Binar-binar itu redup. "Oh…" Jongin tidak yakin harus memberikan tanggapan apa. "Ya…" Akhirnya cuma itu yang keluar. "Bagus. Oke."

Reaksi cowok itu membuat Sehun bingung. "Sayang, kamu iklas gak sih? Aku udah punya niat mandiri gini."

"Tapi aku masih boleh jemput kamu?"

"Sekolahnya deket dari rumah, aku tinggal jalan kaki bareng Jeno. Kamu nggak perlu repot-repot." Sehun mendaratkan kecupan kilat di pipi Jongin. "Biar kamu bebas ngurusin skripsi."

Jongin nyengir ogah-ogahan. Harusnya sih, ciuman bikin jantungnya gila-gilaan, minimal melejit, tapi Jongin terlalu tenggelam dalam pikiran-pikirannya sendiri hingga lupa berdebar-debar.

"Ini masa percobaan. Kalau nggak kuat, salah satu dari kita musti jujur ngungkapin, nggak ada lagi curhat di medsos."

"Yaah, yang pastinya tukang curhat di medsos bukan aku."

Sehun tertawa jengah. "Iya, maaf soal itu. Mulai saat ini aku bakal stop dan ngurang-ngurangin aktivitas di medsos."

Jongin masih dilemma dan nggak rela, mereka baru aja baikan minggu lalu, sekarang Sehun berubah sepesat ini. Sejak kapan cewek itu punya pikiran jadi pengajar? Jongin shock luar biasa. Antara nggak nyangka dan belum percaya. Biasanya ada-ada saja yang dikeluhkan Sehun. Mulai dari cuaca, keringat berlebih, bus yang ngaret, sampai betapa cepatnya Jongin melangkah. Shock? Pasti!

"Tapi kamu yakin?"

Ya ampun, kenapa ditanya lagi sih?

"Iya, yakin. Apa aku keliatan bercanda?" sungut Sehun manja. "Mau aku jadi mak lampir galak kayak dulu? Kamu lebih suka diomelin? Lebih suka kugelendotin sambil dengar aku ngoceh kayak radio rusak?"

"Eh, jangan… jangan," Jongin memegangi pundak Sehun. Seakan-akan kalau tidak dipegangi begitu ceweknya benar-benar akan menggeliat di tanah lalu bertransformasi menjadi mak lampir. "Mm… tapi aku gak yakin…"

Sehun mengernyit, agak tersinggung. "Maksudnya?"

"Soal ini… pertemuan dibatasi, asisten lab komputer, aku nggak yakin percobaan ini akan berhasil."

"Kamu meragukan kemampuanku?" Sehun agak tersinggung.

"Ya… nggak, maksudku bukan gitu, aku nggak yakin percobaan ini berhasil buat aku."

Sehun tercengang sejenak. Habisnya dia terbiasa dengan Jongin yang suka buang muka, asik sama dunia sendiri, dan masa bodoh. Mendengar cowok ini tampak cemas, berbicara hati-hati dengan tatapan mata yang teduh kayak sekarang, rasanya seperti ngobrol sama orang yang baru dikenal.

"Makanya dicoba dulu. Mudah-mudahan aku bisa ngejalaninnya. Toh aku ngerasa sikap aku yang dulu memalukan, wajar kamu nggak nyaman."

Jongin mengangguk, diraihnya tangan cewek itu, digenggamnya lembut, lalu dikecupnya bibir pink di wajah manis itu sampai Sehun nyaris mati lemas. "Makasih udah mau ngerti."

Pipi Sehun memanas. Seolah-olah semua darahnya naik dan berkumpul di pipi. Biarpun sepatah kata "Makasih", rasanya seneng dan bangga banget, yang penting keluar dari mulut Jongin.

"Aku sadar kita harusnya lebih sering melihat dunia luar. Kamu perlu ketemu orang-orang baru. Orang-orang yang bisa bikin kamu tenang dan tertawa lepas, supaya nggak terus-menerus tertekan."

"Mau tahu apa yang bikin aku nggak tertekan?"

"Apa?" tanya Jongin, walaupun sudah memperkirakan jawabannya.

"Baca sms dari kamu."

Melihat wajah lega Jongin, Sehun ikut tersenyum lega. Sebagai pacar, otomatis dia adalah orang yang paling dekat dengan Jongin. Harus belajar mengerti pasangan dan selalu mensupport. Tapi gimana mau jadi pendukung setia kalau diri sendiri belum dibenahi?

.

.

.

.

Banyak orang bilang, kita tak akan pernah tahu kapan malapetaka itu muncul. Sampai kedatangannya yang secara tiba-tiba membuatmu sekarat, lalu kau merasa sebentar lagi langit akan runtuh dan jatuh menibani kepalamu. Seakan belum puas melihatmu sekarat ditiban langit runtuh, Matahari pun ikut berkonspirasi membelah diri kemudian ikut-ikutan runtuh diatas kepalamu. Itulah yang Jongin rasakan ketika membaca pesan dari Sehun. Pesan pembatalan kencan ke-9. Satu kali lagi dan Jongin mungkin bisa bawa pulang doorprize berupa piala penghargaan sebagai cowok ter-ngenes abad ini.

Honey: Maaf, aku ga bisa. Hari ini temen-temen guru ngajakin makan diluar, ada guru yang anaknya ulang tahun, aku gak enak nolak

Jongin menahan napas sekaligus menahan diri supaya nggak meledak dan mengamuk pada kompor dan seluruh perkakas dapur di sekelilingnya.

JonginQu~: Tapi aku udah masak :'(

JonginQu~: Aku sampai bela-belain belajar masakan mediterania :(

Honey: Jong…

Honey: I wish I could, but no… sorry. Kamu minta temenin Taeil aja gimana?

Goddamn! Temenin Taeil?! Sampai Badan Antariksa menetapkan planet bumi keluar dari sistem tata surya sekalipun Jongin ogah dinner bareng pejantan berpedang! Kenapa Sehun jadi berubah drastis? No no no! Bukan ini maunya! Ini terlalu drastis! Terlalu membahayakan. Jongin musti bertindak.

Honey: Nggak apa2 kn?

Jongin mengetuk-ngetuk telunjuknya ke ujung meja. Ini sih lebih parah daripada gelisah. Kalau dia bilang nggak boleh, itu artinya dia resmi jadi cowok posesif. Tapi kalau dia bilang boleh, jelas-jelas hatinya nggak iklas.

JonginQu~: Ok :)

.

.

.

.

Primadona nyata, status yang disandang Sehun di SM High School karena wajah manis dan kulit mulus khas Dewi Salju. Dimana ada kesejukan, disitu ada Sehun. Sungguh suatu kehormatan digila-gilai hampir seluruh murid laki-laki di sekolah. Tidak hanya murid, beberapa guru honor dan mahasiswa-mahasiswa yang kebetulan magang sebagai pengajar disitu semuanya takluk! Sehun bahkan tidak perlu ngapa-ngapain, hanya duduk ongkang-ongkang kaki bak putri sambil tertawa cantik. Dari sekian banyak penggemar, yang paling getol menunjukkan ketertarikan serta tekad bulat dan sudah benar-benar putus urat malunya hanya Jaehyun. Mahasiswa semester lima yang tanpa disangka dan tanpa diduga-duga berkuliah di kampus yang sama dengan Sehun. Beda fakultas, tentu saja.

Cara pendekatan Jaehyun spontan, kelihatan tidak direncanakan. Karena cowok itu selalu muncul kapanpun, sesuka hatinya. Diawali dengan kemunculannya di satu pagi, di koridor kelas yang lengang nan damai sentosa. Tiba-tiba nongol dan langsung mengomentari penampilan Sehun.

"Halo semester sembilan. Wah, kok nggak kelihatan ya? Kukira semester empat," puji Jaehyun tersenyum keren.

Sehun memang tidak punya urusan hati dengan bocah ini, jadi tanggapannya pun ala kadarnya. "Haha, bisa aja kamu."

"Lipstik baru, hm?" Jaehyun masih belum kapok. Malah terang-terangan mengamati bibir mungil kemerah-jambuan milik Sehun.

"Ini lipstik alami," sungut Sehun.

"Oh ya? Kok aku baru denger? Emang lipstik alami gimana bentuknya? Terbuat dari mineral yang digali langsung dari tanah pegunungan atau gimana?"

Sehun mendengus. "Cukup basahin pakai ludah. Hemat. Nggak buang-buang duit beli lipstik."

Jaehyun melongo, terus terang agak takjub dengar jawaban unik tadi. "Jadi… nggak pernah pakai lipstik?"

"Pernah, jarang tapi, pake pas ke acara-acara formal aja. Aku nggak biasa dandan heboh. Mau makan yang berminyak aja risih banget rasanya. Cewek kuliahan musti simpel."

"Waa, kok bisa kelihatan seger gitu ya? Kamu 'kan capek ngajar dari siang sampai sore. Masa stok ludahnya gak habis-habis?"

Sehun memutar mata. Jaehyun ini sengaja bertingkah idiot atau sengaja bikin dia kesel sih?

"Yang paling umum, orang capek tuh selain mukanya kusam, bibirnya kering dan pucat akibat dehidrasi."

Sehun memutar mata lagi. Iya deh guru Biologi!

"Gampang, cukup rajin minum air putih banyak-banyak. Menghindari bibir kering dan pecah-pecah." Entah Sehun polos atau kelewat I don't care, sampai tidak bisa mendeteksi tatapan lapar Jaehyun, dia malah sibuk nyerocos dan ngasih tips menjaga kelembaban alami bibir. Padahal Jaehyun cowok dan yang dia butuhkan hanya berbasa-basi sambil curi-curi kesempatan, bukan mengikuti saran panjang-lebarnya. Kalaupun Jaehyun peduli soal bibir-bibiran, itu karena dia penasaran mengapa bibir Sehun selalu seksi dan kissable.

"Oh gitu… udah cantik, nggak ribet, pinter jaga kesehatan pula." Jaehyun berdecak-decak, makin salut.

"Kamu ngajar jam berapa? Emang ada kelas pagi?" Sehun mulai curiga dan gelisah, sorot tajam Jaehyun seperti tengah melubangi wajahnya.

Jaehyun menggeleng. "Nggak sih. Cuma pengen ngobrol-ngobrol aja."

Kali ini Sehun yang cengo. Hah? Ngobrol-ngobrol sama dia maksudnya? Sesaat Sehun hanya menatap Jaehyun seakan-akan cowok itu sedang berdiri diatas sepeda roda satu. Begitu dilihatnya beberapa guru mulai datang dan ruangan mulai ramai, Sehun buru-buru beranjak ke ruang guru. Gila aja! Apa Sehun terlihat jomblo? Apa Sehun mirip mbak-mbak penjual rujak? Atau penjual jamu yang gampang dirayu? Memang Jaehyun nggak punya target lain yang lebih fresh dan kinclong dan free? Demen kok sama senior. Senior beda fakultas pula. Mau cari mati dia?

.

.

.

.

Sehun setuju dijemput Jongin sepulang dari mengajar hari ini. Untung cuma sejam, setelah bagi-bagi kertas ujian titipan Eunhyuk ssaem, dia dipersilahkan pulang cepat, berhubung ada dua guru honor bersedia jadi pengawas. Sehun langsung cabut tanpa mikir. Ya iyalah, ngapain mikir? Mending jalan-jalan, kebetulan dia diajak pacar gantengnya makan siang di mall, sebagai penebus yang waktu itu. Suatu keajaiban dunia lainnya terjadi dan Sehun tak boleh melewatkan kesempatan emas. Jarang-jarang Sehun diajakin jajan di mall. Tujuan Jongin ke mall paling Gramedia.

"Kok tumben?" tanya Sehun.

"Lagi kepingin ganti suasana. Ada restoran baru buka katanya, serba murah. Kita bisa pilih menu bervariasi dengan budget standar."

Ketebak banget. Jongin si pemburu serba murah.

"Udah selesai urusan di dalem? Lain kali kalau ada bocah-bocah godain kamu, bilang gini: "Mending benerin dulu cara pipisnya dek, kalau udah nggak belepotan lagi baru ngegombalin saya". Gitu!" Jongin menyodorkan helm dan langsung dijawab dengan keplakan di bahu.

"Sembarangan."

Jongin tetap pasang muka lempeng. "Lho, memang iya kan? Pipis aja belum becus, gimana mau becus membina rumah tangga? Jangankan membina rumah tangga, membina hubungan harmonis dengan pemilik rental PS aja gagal. Kerjanya ngutang, kayak Mark adeknya si botak Gru."

"Gru itu… majikannya Minion bukan?" Sehun mengernyit.

"Iya," sahut Jongin.

"Memang adeknya Gru namanya Mark dan suka ngutang di rental PS?" Rupanya Sehun lagi telat mikir.

Jongin tepuk helm, "Bukan Gru yang itu. Aku nyindir si nagabonyok Kris. Kan dia mirip Gru. Perhatiin deh, terus bandingin pas kamu lagi nonton. Mirip. Bener!"

Tangan Sehun yang siap mengangkat helm ke kepala, spontan turun lagi. "Emang situ udah becus? Buktikan! Jangan cuma mengkritik doang."

Mata Jongin melebar konyol. "Itu model pertanyaan yang nggak perlu dijawab. Kalau sama aku dijamin ending di masa depan udah ketahuan."

Huh! Sehun mendengus sebal. Tapi dia suka Jongin yang luwes dan punya kepercayaan diri melewati ambang batas kewajaran manusia normal ini. Jadi daripada komat-kamit protes, Sehun segera memakai helm full stiker itu di kepalanya, berpegangan pada pundak Jongin, sementara tangan kiri bertumpu pada spasi dibagian belakang supaya gampang memanjat naik ke boncengan. Maklum, motor punya Jongin tipe-tipe motor antik yang bentuk bannya besar, berbintil, berduri, dan nyusahin penumpang yang hendak naik ke boncengan.

Tiba-tiba…

"Sehun!"

Kaki Sehun yang baru setengah naik ke pijakan motor, refleks turun lagi dan dia menoleh ke asal suara. Jongin juga kontan menoleh. Lalu dua-duanya sama-sama heran.

Jaehyun berdiri di ambang pintu gerbang sambil menatap lurus-lurus ke arah Sehun. Mengabaikan Jongin sepenuhnya.

Muka Sehun berubah mendung. "Eh kamu Jae… kirain siapa."

Dengan santai Jaehyun berjalan menghampiri pasangan itu. Setengah gondok, Sehun terpaksa mengenalkan Jaehyun pada Jongin.

"Jaehyun."

"Jongin," Dia menyambut tangan Jaehyun yang terulur, menjabatnya dengan tatapan menghujam lurus dan senyum yang terlihat jelas tidak tulus. Melihat itu, kening Jaehyun sedikit mengerut. Barulah saat Jongin menambahkan, "Pacar Sehun" dengan nada yang sengaja ditekan dan dibuat mengintimidasi, dugaan di kepala Jaehyun terjawab.

"Apaan?" tanya Sehun rada ketus pada Jaehyun.

"Judes amat sih? Nanti malem aku mau ke rumahmu."

"Ngapain? Laptopku lagi di pinjam Jeno semaleman, buat ngetik tugas."

"Gue perlu sama kamu, bukan sama Jeno, apalagi sama laptop kamu. Oke? See you tonight." Setelah mengedipkan mata pada Sehun, dan tersenyum kaku pada Jongin, cowok itu pergi dengan langkah-langkah panjang dan santai.

"Siapa? Kayaknya kamu akrab banget sama dia."

Sehun tersenyum kikuk, merasa tidak enak. "Mahasiswa magang, ceritanya guru yang bantu-bantu ngajar pas dibutuhin guru asli. Beda-beda tipislah, sama kayak aku."

"Gitu?"

Sehun langsung merasakan sesuatu yang ganjil dari respon datar Jongin. Gawat.

"Anak mana?"

"Siapa?"

"Tadi," Jongin tetap datar dan jutek. Bikin Sehun bergidik dan tanpa henti memanjatkan doa pengusir setan di sepanjang perjalanan.

"Oh, satu kampus sama kita, cuma dia biologi."

"Bah! Anak biologi, belum pernah dilempar pakai mikroskop ya dia?"

"Kamu kok nanyanya gitu sih?"

Jongin mengumpat dibalik kaca helm.

"Udahlah, aku nggak mau kamu ribut," Sehun mengusap-usap punggung kokoh Jongin. Berusaha menyalurkan ketenangan lewat sentuhan. "Janji ya kamu nggak bakal ribut-ribut?"

"Kenapa? Karena muka dia terlalu ganteng buat dikotorin? Kamu naksir sama cowok tadi?" tembak Jongin langsung dan nyelekit.

Mampus. Orang-orang kayak Jongin jarang melampiaskan amarah lewat hal-hal ekstrem, giliran disenggol dikit, biasanya mematikan. Sampai burung gagak pun segan terbang mondar-mandir diatas kepalanya. Sehun takut, cemas juga, khawatir juga, takut Jongin kena masalah yang lebih serius dan berat kalau sampai terjadi apa-apa.

"Sayang, pokoknya aku nggak mau kamu cari ribut sama anak orang, lagian juga nggak pernah kutanggepin. Udah deh, cuek aja. Santai, sayang. Aku cuek ini kok sama dia."

Jongin semakin gusar dan nggak suka.

.

.

.

.

Jaehyun menelpon langsung ke nomor telepon rumah Sehun suatu malam. Kalau nelponnya ke hape sih nggak apa-apa. Ini ke nomor rumah! Jeno yang pertama kali mengangkat.

"Halo? Dengan siapa dimana?"

Sunyi.

"Halooo?"

Hening.

"Lohaaa?"

Tetap sunyi.

Jeno garuk-garuk perut, sebel. "Jongin hyung, jangan sok menyamar jadi penelpon misterius deh. Nggak serem tau! Jongin hyung kan?"

"Umm… ini Jeno ya?"

Jeno memandangi gagang telepon, tidak yakin dengar suara barusan. Kok beda? Kok kurang ngebass? Dia kontan berkerut bingung dengar suara asing yang sama sekali bukan suara calon kakak iparnya "Lo siapa?"

"Jaehyun. Kakak lo lagi ada di rumah?"

"Nunaaaaaaaaaaa! Selingkuhan lo nelpon."

Sehun yang sedang leyeh-leyeh baca majalah W, spontan melejit dari sofa dengar teriakan adiknya yang baru menginjak puber. "Lalat Tsetse! Nggak usah teriak-teriak! Lo pikir kita tinggal di hutan?" Dia seret kedua telapak kakinya malas-malasan. Menghampiri meja telepon. "Malu-maluin aja! Kalau yang lain curiga, apalagi sampai nanya-nanya dan salah paham, gue kunciin lo di kamar mandi!"

Jeno nyengir, menyerahkan gagang telepon sambil berbisik selirih mungkin. "Nih… calon sugar boy ideal buat lo. Berminat?"

Sehun menjewer kuping adiknya penuh nafsu. "Darimana lo belajar istilah sugar boy, hah? Lo pikir gue tante girang?!"

"AAAA! Ampun! Lepasin! Tolong Mamaa! Aku dianiaya!"

Keselamatan kuping Jeno kembali.

"Kenapa dia nggak nelpon ke HP sih?" dumel Sehun.

"Berarti dia kasmaran berat ama elu nun, sampe jadi bego…hmpph!" Mata Jeno melebar protes, dia terpaksa diam, atau bekapan tangan Sehun nemplok lebih lama.

Jeno memuta mata, nyerah. Dia langsung tarik napas dalam-dalam begitu sang kakak menarik tangannya. "Kalau bekap orang itu mulutnya aja, jangan ampe ke hidung. Kalau aku mati kehabisan napas gimana?" protes Jeno sambil melotot.

"Gentayangan paling." Sehun cengengesan.

Bukannya minggat, Jeno malah menarik kursi plastik dan duduk di sebelah Sehun.

"Halo, ada apa? Ngapain lo nelpon-nelpon?"

Jaehyun hanya tersenyum tipis, sudah tidak kaget lagi dengan mulut pedas Sehun. "Lho, salah ya temen nelpon temen? Apalagi gue kan jomblo, boleh dong sesekali mengakrabkan diri sama partner di tempat kerja?"

Sehun ternganga.

"Sarap."

Setelah itu dia menutup telpon lalu mematung dengan wajah tercengang.

"Kenapa, nun? Jaehyun hyung ngajak gitu-gituan?" tanya Jeno dengan tampang meledek.

Sehun malah ngeloyor masuk kamar. "Shut up anak kecil!"

.

.

.

.

Esoknya, Jongin mendatangi parkiran Fakultas MIPA. Ditunggunya oknum tersangka di sebuah bangku kayu tua. Diawasinya setiap manusia yang keluar masuk, juga kendaraan yang datang dan pergi. Begitu motor dengan pengemudi yang postur tubuhnya tak asing melewati pintu palang yang terbuka lebar, cowok itu melompat berdiri, segera menghadang dengan berdiri di tengah jalan. Menghalangi akses motor Jaehyun menuju ke parkiran.

Dengan rahang terkatup keras dan raut wajah yang sengaja disetel ke mode poker-bitch, Jongin mendekati cowok itu.

"Turun lo. Cepet!"

Jaehyun cukup patuh, dia turun dari motor dengan tenang. Tanpa berkata-kata.

"Ada maksud apa lo ngedeketin cewek gue? Emang lo gak tahu? Apa pura-pura? Lo sengaja biar hubungan orang lain bubar?"

"Dari awal dia ngajar di tempat itu, gue udah dekat sama dia. Dan Sehun kelihatannya nggak masalah gue deketin."

Seketika kedua manik hitam Jongin terbakar mendengar itu. "Gue nggak peduli lo anak siapa, gue pengen bilang kalau sebaiknya lo jauh-jauh. Jangan terlalu bermimpi lah ya. Tau diri sedikit."

Jaehyun tersenyum lebar. "Bro, jaman sekarang ini jaman emansipasi wanita. Kalau pria bisa punya dua, kenapa wanita enggak? Jangan terlalu kaku lah, senior. Kesampingkan dulu sisi primitif lo itu. Gimana negara ini maju kalau orang-orangnya sebentar-sebentar main kekerasan?"

Jongin terpana. Benar-benar terkuras kesabarannya. Kedua tangannya terkepal geram. Letupan emosi mengalir ke ubun-ubunnya, meledak jadi lava kemarahan yang siaga melumat. Kampret! Siapa bocah kampretos ini?! Berani sekali mengajarinya moral-moral kemanusiaan!?

Seketika kepalan tangannya melayang, Jaehyun bergerak lincah menangkap tinju itu lalu balas menatap tajam.

"Persis seperti yang gue ramalkan."

Jongin melayangkan tinju kirinya dan ekstra sukses menabrak pipi Jaehyun telak-telak. Mencetak satu noda memar kebiruan disana. Pertahanan berhasil ditembus. Tembok berhasil diruntuhkan. Jaehyun terhuyung mundur sambil menyeka pipinya sekilas.

Dengan kedua rahang terkatup keras, Jongin menerjang pemuda malang itu lalu mencekal satu lengannya di belakang. Cekalan itu begitu keras sampai Jaehyun merasa aliran darahnya akan terhenti.

"Lo pikir gue takut berkelahi di kandang lo?! Nggak akan!" bisik Jongin tajam sembari memajukan wajahnya hingga sejajar dengan telinga lawan. "Mana? Kalau perlu panggil sini senior-senior lo. Panggil semua!"

Mereka bertatapan. Tepat ke bola mata masing-masing. Jaehyun sudah tahu apa yang menimpa dirinya sesaat lagi. Karena itu dia tidak berusaha melawan saat Jongin membenturkan punggungnya ke pohon. Meninju perutnya berulang kali sampai kedua lututnya lemas dan terasa mau copot. Meneriakkan makian berulang kali. Dan hujan tinju bertubi-tubi itu baru berhenti setelah Jaehyun mengerang, merosot di paving block, lalu membungkuk dan terbatuk-batuk sambil memegangi perut.

"Woi! Berhenti!" Sekelompok pemuda berlarian menghampiri. Lari menggebu-gebu dalam mode ready to kick. Jongin menyeringai seram. Mau sepuluh kek, mau seangkatan kek, mau kok dia meladeni mereka satu-satu. Layangkan tendangan ke satu orang, sikut dada satu orang lainnya.

Jongin berjongkok di sisi Jaehyun yang masih tepar sambil terbatuk-batuk. Ditepuk-tepuknya kedua pipi cowok itu. "Hei, hei, dengar ya, adek kelas, jangan berlagak jadi pahlawan kalau nggak mau disambar petir."

Jaehyun tertawa mendengus. "Sori. Gue lagi cari partner buat diajak patah hati. Sehun sunbae sering cerita sama murid-muridnya, ngebangga-banggain, katanya lo jago banget main PES. Sampai juara satu lomba main PES antar fakultas. Pasti lo orangnya asik."

Kenapa situasinya jadi aneh? Tidak ada perlawanan, malah sesi curhat. Jongin dapat pujian pula. Bocah sableng ini ngetes ceritanya? Dikiranya Jongin hanya bisa gigit jari pasrah sambil upload status galau lihat Sehun digodain sana-sini? Not in one thousand years! "Dasar edan. Untung gue gak bawa kawan main PES gue kesini."

Jaehyun terkekeh. "Buat bantu-bantu memberi pelajaran?"

Segerombolan cowok kebakaran jenggot tapi bergaya kutu buku sebentar lagi hampir mencapai area parkiran. Beberapa orang yang tak ingin terlibat dan terseret menyingkir dari lokasi, kebanyakan cewek-cewek. Menatap Jongin seolah cowok itu kriminal yang pantas dihukum gantung. Jaehyun menyeringai lebar. "Tenang aja, sunbae. Biar gue yang jelasin ke mereka, lo nggak salah. Gue yang terlalu pembangkang."

"Nggak nyangka, ternyata otak lo masih ada," sindir Jongin, walaupun nada bicaranya mulai lunak. "Heh, bro, habis sini lo ada kelas?"

Jaehyun menggeleng lemah, masih ngos-ngosan sisa pertarungan tadi. "Kenapa emang?"

"Temenin gue ke warkop, gue ajarin trik-trik maen PES ala profesional. Biar lo nggak cemen, sekalian gue kader."

"Cuma PES?" tanya Jaehyun.

"Lo maunya apa? COC? DotA? GTA? Resident Evil? Lengkap di laptop gue. Tinggal pilih."

Jaehyun tertawa lepas. "Ternyata bener ya."

"Huh?" Jongin mengerutkan alis.

"Kata temen-temen, senior-senior teknik itu gila—dalam artian positif. Sori, jangan tersinggung."

Jongin angkat dagu tinggi-tinggi. "Baru tau? Puas sekarang? Udah ngerasain sendiri 'kan buktinya? Masih mau nyari gara-gara besok-besok? Sekali lagi lo godain cewek gue…" Jongin ambil ancang-ancang ronde kedua, Jaehyun meringis.

"Nggak deh. Kapok. Ampun. Sudah cukup."

Jaehyun mengerang, berusaha bangkit sambil memegangi perutnya yang nyut-nyutan parah, namun Jongin mengulurkan tangan dan langsung disambut secara sukacita.

Seperti perjumpaan pertama, mereka berjabat tangan, hanya saja dengan aura dan tatapan yang berbeda. Jongin tersenyum. Jaehyun tersenyum dan berujar "Sori." Begitulah. Sehabis gelap, terbit perdamaian. Kemenangan mutlak diboyong oleh Jongin.

"Gue suka gaya lo, bahkan junior-junior gue sekarang nggak ada yang kayak elo mentalnya."

Jaehyun senyum miring. "Yang barusan itu pujian?"

"Jangan seneng dulu. Lo masih punya PR Mengarang Alibi. Sono!"

.

.

.

.

Sabtu pagi.

Banyak yang bisa dilakukan di Sabtu pagi. Banyak! Tapi seorang gadis manis bernama Sehun hanya melakukan satu hal di Sabtu pagi. Begitu bangun tidur, kebiasaan Sehun adalah mengecek ponsel. Di Sabtu pagi yang cerah ini Sehun memilih diem di rumah aja, sambil menatap ponsel, menunggu WhatsApp dari Jongin. Sambil nunggu, dia mengomentari dan meninggalkan love di postingan teman-temannya. Udah lima belas menit nunggu, balasannya yang semalam belum datang-datang juga. Padahal dia ngirimnya dari sebelum gelap lho. Nggak dibalas sama sekali. Sehun mencoba berpikiran kalau semalam Jongin kecapekan dan langsung tidur cepat. Tapi masa jam segini belum bangun sih? Biasanya Jongin kalau tidur cepat dari jam empat subuh juga udah nyapa dia.

Honey: Jong? Anybody home?

Tetap aja nggak ada balasan.

Sehun mulai gelisah. Serius deh, Jongin kemana sih? Di WhatsApp, di Line, di Sms, di Facebook messenger, semua nggak dibalas. Ditelpon juga nggak diangkat. Apa cemburu? Tapi kok Sehun jadi kena getahnya juga sih? Dia kan nggak ada niat selingkuh! Sehun nggak terima diperlakukan begini!

Sehun berhenti melakukan teror telpon dan rentetan chat dengan ribuan tanda tanya di dalamnya. Takut ketenangan Jongin terusik. Jikalau memang pacarnya sedang mengerjakan sesuatu, maka alangkah sangat mengesalkan dan menganggunya miskol serta ledakan sms bertubi-tubi. Nah, kalau Jongin emang belum bangun, syukurlah. Berarti Sehun yang terlalu paranoid. Kebiasaan jelek dipelihara!

Tapi sampai Sehun selesai sarapan, baca tabloid gosip, ketiduran, dan bangun dari ketiduran, Jongin belum juga membalas. Mau nggak mau perasaan Sehun yang awalnya cuma "mulai gelisah" meningkat jadi "gelisah banget" dan sekarang naik tingkat lagi jadi "gelisah gila!". Kalau dua-tiga jam nggak ada kabar, ya kemungkinan cowok itu sibuk. Tapi ini udah hampir setengah hari. Jangan-jangan Jongin kenapa-napa?

Donghae juga cemas melihat kondisi putrinya terlihat murung seharian. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan karena yang ditanya bolak-balik mengatakan tidak apa-apa. Hanya masalah komunikasi yang kurang lancar dari semalam. Dan sms yang tidak dibalas sealam satu hari bukan alasan yan tepat untuk membuat perhitungan, apalagi menghakimi anak orang. Akhirnya, dia pakai taktik alternatif yang lebih persuasif untuk menghibur anak perempuan satu-satunya itu. Pakai taktik seorang ayah yang baru terima gaji bulanan.

"Anak cewek Papa yang cantik, temenin Mama sama adek kamu shopping mau gak? Kata Mama sepatu kets lama kamu udah robek depannya."

Kedua mata Sehun membulat antusias dengar kata shopping. "Beneran nih? Aku dibeliin sepatu baru? Oke Pa. Aku mau mandi dulu. Asyiiik!"

"Nggak usah beliin dia, Pa. Palingan dipake seminggu robek lagi. Sehun nuna kalau pake sepatu bukan dipake jalan kayak orang-orang normal lainnya, tapi dipake ngebunuhin semut. Coba tanyain aja tuh Pa, ngapain sepatu ditaruh di dalam kamar kalau nggak buat gebukin semut?"

Kamar kakak-beradik itu gabung, sering jadi tempat nongkrong favorit semut-semut. Ini akibat dua makhluk jorok digabung dalam satu kamar yang sama. Dua-duanya pemalas. Tapi saling tunjuk menyalahkan kalau kondisi kamar mulai kacau-balau. Terlebih Sehun, udah keenakan baring-baring, tau-tau ngelihat pasukan semut melintas di lantai, padahal nggak jelas apa yang dikerubutin. Daripada bikin risih mata, dia capek keluar kamar ngambil semprotan, mending dia comot aja benda terdekat. Sepatu. Dipakailah buat membubarkan acara kumpul-kumpul dan baris-berbaris koloni semut iseng kelewat maruk yang hobi banget berkerumun di kamar mereka. Apa yang dikerubutin sih?! Sehun sebal dan nggak habis pikir. Apa bau telapak kaki Jeno yang mengalahkan aroma bawang goreng? Atau sisa keringat di kaos kaki Sehun ternyata kaya akan kandungan gula dan antioxidan?

Jeno santai-santai aja dengar BAKKK BUKKK BAKK BUKKK dari arah kamar pas siang bolong. Udah ketebak pergulatan macam apa yang terjadi.

Sehun melirik sang empunya suara dengan sorot mata kejam andalannya. "Lo dendam apa sih ama gue?"

"Bukan gue yang dendam, tapi semut-semut itu. Gue hanya mencoba menyampaikan aspirasi atas nama rakyat semut yang terdzolimi." Jeno menjawab kalem. "Awas kena karma lho, nun. Entar lo dikutuk jadi Ant-woman."

"Eh, masih kerenan Ant-woman, daripada lo, demen kok Flying dutch-man? Udah jelek, tua, setan lagi."

"Itu kan idola masa kecil. Masa kecil! Sekarang beda lah!" tanda Jeno sewot.

"Terus siapa idola masa remaja lo? Sora Aoi? Lu suka yang teteknya tumpeh-tumpeh?"

Donghae menginterupsi. "Bisa nggak di rumah ini kita menerapkan aturan? Jangan ada kosakata provokatif kayak tetek dan sebangsanya?"

"Tadi Papa nyebutin." Sehun menyeringai.

"Itu cuma contoh. Udah mandi sana! Yang telat ditinggal."

Dua orang itu berebut menyambar handuk dan saling dorong didepan pintu kamar mandi. Tapi baru satu jempol kaki Sehun yang menyentuh lantai kamar mandi, Jeno secepat kilat menerobos dari belakang. Otomatis Sehun terdorong ke pinggir dan nyaris menibani gantungan handuk.

"Ngalah dong ama cewek!"

"Emang lu cewek?" teriak Jeno dari dalam.

"Paaaa! Jeno curang!"

"Dibawah ada kamar mandi. Kamu ini udah 22 kok kelakuan kayak bocah."

Sehun cemberut. Tuh kan. Salah lagi dia. Susah ya jadi kakak. Selalu kelihatan salah. Jika di kampus beredar peraturan tak tertulis: 'Senior selalu benar', di rumah justru kebalikannya: 'Kesalahan terletak pada yang lahir duluan'.

.

.

.

.

Malam harinya, sepulang dari family shopping, Sehun dapat kabar mengejutkan.

"Hunnieeeeeeeee! Lo harus buka timeline lo! Sekarang! Anak-anak di kampus pada heboh tadi, cowok lu berantem sama junior dari MIPA! Videonya udah kesebar gak cuma di Line, di Instagram juga!"

Speechless adalah kondisi yang tepat untuk mendeskripsikan Sehun saat ini. Dia mati gaya dan mulutnya buka-tutup saking shocknya.

"Lo darimana sih? Ditelpon-telpon nggak diangkat. Nomor lo nggak aktif melulu!"

"Hape ketinggalan di rumah. Gue cas. Habis jalan tadi. Eh, tunggu… ini beneran kan? Lo nggak becanda kan? Jongin… nggak, nggak mungkin gitu, kemarin dia udah janji. Maksud lo… dia berkelahi… Ya Tuhan… udah gue larang padahal…" Sehun gigit jari panik, kalimatnya jadi berantakan, dari tadi pagi perasaannya nggak enak, dengar berita Jongin nggak membuat perasaannya membaik sama sekali. Ya iyalah, coba kalau Baekhyun membawa berita gembira kayak: "Hun! Cowok lo baru-baru ini menyelamatkan seorang jomblo yang hendak bunuh diri" Sehun mungkin bisa bernapas lega. Tapi ini? Ini bukan jenis kabar yang ingin dia dengar! Apalagi Jongin dalang masalah yang memulai perkelahian.

"Sehun, tenang, apapun alasan Jongin, gue percaya dia melakukannya dengan sebab-sebab yang kuat. Coba lu tanya dulu motifnya dia, oke? Jangan main cakar aja."

Sehun menghela napas. "Lo dimana? Kampus?"

"Rumah, ini aja baru tau via Chen ama Kris. Mereka nginap di kampus. Biasalah, cowok-cowok nganggur, rutinitasnya berkisar di catur."

"Catur? Mereka lagi pada tanding? Dalam rangka apa?"

"Tauk. Eh, terus si cowok yang dihajar itu… lo kenal?" tanya Baekhyun, suaranya mulai bergemerisik, pengaruh sinyal jelek. "Hun… halo? Lo denger suara gue gak? Halo? Halo?"

"Gue denger kok…" Duh, gimana ya? Jujur apa enggak nih? Setelah menimbang-nimbang sesaat, akhirnya Sehun pilih buka-bukaan. Nggak enak bohong, apalagi ini sohib sendiri. Baekhyun dan teman-teman dekatnya yang lain berhak tahu fakta langsung dari mulutnya dia, bukan dari pemberitaan atau kabar burung nggak jelas di sosmed. "Iya, gue kenal, kami sama-sama ngajar di SM High. Jaehyun anak biologi."

Baekhyun berdecak pelan. "Gue udah mempredikis apa motif Jongin."

"Memprediksi!" ralat Sehun agak-agak kesel. "Jujur ya, nggak nyangka Jongin senekat itu," tukas Sehun, jantungnya masih berdebar-debar kencang untuk sesuatu yang nggak dia pahami. Oke, Sehun nggak munafik, dia suka Jongin bersikap protektif. Dia suka Jongin jealous. Dia suka Jongin lebih perhatian, khawatiran, dan pedulian sekarang. Siapa sih yang nggak suka pacarnya terbakar cemburu? Cuman, Sehun nggak pernah kebayang cowoknya akan bertindak kebablasan. Sampai mendatangi markas rivalnya, face-to-face, dan memusnahkannya di tempat. Jongin si manusia penjunjung tinggi logika, akal sehat dan mengidolakan Karl Marx. Apa sih yang ada di kepala Jongin waktu menghajar Jaehyun? Sehun nggak mungkin selingkuh! Jongin tahu itu. Nggak ada seorang pun yang bikin hatinya tergerak selain Jongin. Tak terhitung berapa banyaknya jumlah penggemar Sehun di perusahaan tempat mereka magang. Mulai dari bujang tua, bujang muda, duda, lesbian terselubung, sampai suami orang, toh yang ada di kepalanya hanya Jongin. Kenapa Jongin nggak muncul memberi kabar? Kenapa Jongin bosan? Kenapa dulu dia begini dan begitu? Otak Sehun hanya bersedia memproses Jongin, Jongin, Jongin dan "Kenapa Jongin…?". JUST HIM!

"Hun, gue rasa nih, menurut gue ya, apa yang dilakukan Jongin nggak salah-salah banget."

Sehun mengernyit. "Kamsudnya? Nggak salah-salah banget gimana? Dia bikin orang lain babak-belur! Baek, jangan mentang-mentang Jongin temen kecil lo trus dibela-belain melulu."

"Ini nggak ada hubunganya sama dia temen gue atau bukan. Kenapa gue bisa ngomong gini dengan pedenya karena… lo tahu nggak budaya di kampus kita? Satu orang kena, semuanya harus turun tangan. Satu orang bermasalah, semua orang kena getahnya. Tapi Jongin memilih datang sendiri nemuin si dia dan nggak mau melibatkan pasukan, karena dia merasa tuh ini masalah pribadi. Walaupun ujung-ujungnya tetep ketahuan dan tetep menimbulkan histeria massal juga. Lo tau cowok-cowok yang biasanya nongkrong di Sekret. BEM? Mereka udah panas tadi, udah kepancing, bawaannya pengen ninju tembok aja. Nah si Jongin, mati-matian nahan mereka biar masalahnya nggak membengkak."

Tetap saja nggak mengurangi debaran abnormal di dada. Sehun masih panik, clueless, dan takjub. "Gue setuju kali ini sama Jongin, nggak usah ada serangan susulan. Kalau mereka udah saling ketemu, itu tandanya selesai! Udah. Udah cukup. Orang-orang luar nggak usah terlibat. Campur tangan mereka nggak dibutuhkan disini. Makin kacau entar."

"Tapi gue denger-denger tadi si Chen cerita, katanya cowok temen ngajar lo itu mulutnya nggak punya rem standar ya? Jongin yang gue kenal sabar jadi meledak-ledak gitu. Bener, gue nonton videonya sampai kepingin pingsan. Berasa kayak nonton pemuda tukang pukul dari kampung sebelah yang nggak gue kenal. Orang cemburu dilemparin petasan ya bereaksi ganas lah. Kayak nggak tahu aja. Bego juga dia sengaja manas-manasain. Macan kalau lagi sakit gigi jangan dikira jinak, mereka diem-diem nelen bayi mana tahu para petugas bonbin?"

"Baek, tolong jangan ngomongin Macan dan petugas bonbin." Sehun mengusap-usap muka saking kekinya. Masa Jongin dibanding-bandingkan sama Macan sakit gigi? "Pembahasan lo out of the content."

Baekhyun meringis. "Hehe, sori… eh, tapi lo bakal ngehubungin Jongin?"

"Haruslah, dari kemarin malem dia kayak asap yang menghilang tanpa jejak. Feeling gue udah mulai nggak enak dari semalam. Nah, ternyata bener kan. Ada berita kayak gini. Tapi gue mau minta bantuan cowok lo, boleh gak?"

"Anything for my dearest friend. What's that?"

"Bilangin ke Luhan, jangan ada lagi video-video Jongin beredar luas di sosmed. Bilang aja gitu, Luhan pasti ngerti kok. Dia pasti nemuin cara."

Baekhyun langsung paham. Meretas, memblokir, mengacaukan sistem, hingga melenyapkan keberadaannya memang keahlian Luhan. "Siap! Serahin semua ke dia. Soal gitu-gitu mah kecil!"

Sehun tersenyum lega. "Makasih ya, Baek. Udah gue duga cowok lo ada gunanya juga suatu saat nanti."

"Jadi maksud lo selama ini cowok gue nggak berguna, gitu?"

Sehun buru-buru nutup telpon sambil cekakakan.

Setelah sambungan telepon terputus dan tawa cekakakannya berhenti, perasaan galau yang berganti menderanya. Jongin… Jongin… iya sih, cemburu sah-sah aja, tapi sampai mukulin anak orang padahal sudah dilarang itu keterlaluan! Tapi Jaehyun juga salah, siapa suruh nantang. Sok jadi pahlawan. Kini dia penasaran dengan nasib Jongin. Ada baiknya dia calling Jongin lewat WhatsApp. Jangan-jangan Jongin menghilang dari semalam gara-gara nyusun rencana buat melabrak Jaehyun? Tapi tapi tapi—

Oke. Tenang. Sabar. Fokus. Selowwww. Baekhyun ada benarnya, Jongin bergerak dengan pertimbangan matang-matang. Walau tetap nggak melegakan. Duh! Mending tanya langsung. Capek menerka-nerka.

"Nak. Kamu lagi apa?" Mama Kyu ngintip di pintu. "Bantuin goreng ikan, adek kamu aja habis nyuci piring tadi."

"Nyuci piring?" Sehun mencibir skeptis, nggak nyangka. "Serius? Jeno udah bisa nyuci piring? Wow!" Prestasi dalam dunia perdapuran baru-baru saja diborong pulang oleh JENO! Karena sejak kapan bocah itu tertarik menyentuh piring kotor?

"Ini anak kenapa sih?" Kuping Sehun langsung kena jewer. Sehun memekik dan berusaha menyelamatkan kupingnya. "Nggak tau umur, kamu itu harusnya udah ngerti kerjaan, udah gede gitu, dua dua itu bukan sekedar angka. Sadar diri. Cewek gede harus ngerti kerjaan! Ayo sana masak! Masa kalah sama adek kamu? Jeno pinter gitu, udah mau bantu Mama tanpa disuruh-suruh. Harusnya kamu nggak perlu Mama suruh-suruh lagi. Harus cepet tanggap sendiri. Malu kamu kalau lebih males dari anak cowok. Kamu tuh cewek gede, Hun. Udah dewasa. Nanti jadi istri orang nggak tahu apa-apa, goreng tempe aja masih gosong. Mama yang malu! Kerjanya melototin hape melulu! Udah tua gitu. Udah gede."

Hiih! Kenapa sih orangtua hobi banget ngulang-ulang omongan?! Bikin telinga pengang! Sekali aja nyindirnya, Sehun udah ngerti. Nggak perlu diingatkan berulang-ulang kalau dia udah tua! Udah gede! Udah wajib berlatih jadi calon istri yang baik. Udah tua! Udah gede! Udah tua! Udah gede! Gitu terus sampai Taj Mahal pindah ke Seoul!

"Aduuh…" Sehun bersungut-sungut, diusap-usap kupingnya yang memerah. "Mama kok kejam banget sih? Lagi dapet ya…ADOOH!" Kedua telinganya dipelintir sang mama kuat-kuat.

"Tuh kan, mau kamu disuruh pake cara begitu? Nggak kan?"

Sehun berdecak gerah. "Iya iya! Santai aja dong, Ma. Ntar kalau telinga aku putus gimana?"

"Masuk rumah sakit paling."

Sehun misah-misuh.

"Ngomong apa barusan?" tantang Kyuhyun berkacak pinggang.

Sehun geleng-geleng. "Gak. Gak ngomong apa-apa."

"Cepetan turun! Keburu gosong ikannya. Lelet deh!" Kyuhyun menghentakkan kakinya yang pakai sendal bulu-bulu dengan nggak sabar.

"Ma, kok sensi amat? Pulang belanja bulanan harusnya lebih ceria!"

"Habis Mama gemes lihat kamu loyo-loyoan di kasur. Seharian gituu aja kerjanya! Biasa-biasa aja jadi orang, biar dia yang nelpon duluan. Apa-apa jangan dijadiin beban. Yang luwes gitu lah jadi cewek. Nak, nak. Kamu ini. Yang kuat gitu jadi cewek. Yang gagah. Yang keren. Jangan menye-menye. Kalau emang cowokmu butuh, pasti dia yang ngejer, pasti dia yang nelpon. Nggak usah dibawa pikiran. Mending kamu bantu-bantu di dapur, cari kesibukan yang bermanfaat gitu kek."

"Iyaaaaaaa!" Sehun segera beranjak. Kelamaan nempel di kasur semakin panjang ocehan dan wejangan yang musti ditampung kedua telinganya.

Tapi sebelum benar-benar keluar, Sehun mengetik satu pesan di Line, berbunyi:

[Jong… aku mau bantu Mamaku masak, telp aku klau sempet. Peluk cium. Miss u xoxoxo]

Yang tidak diketahui Sehun adalah, balasan Jongin tiba beberapa menit setelah si empunya ponsel sibuk berkutat dengan kompor licin, rempah-rempah, sisik ikan, dan minyak goreng.

[Hun, maaf aku baru baca pesan kamu. Maaf banget :( Kemarin malem hp aku tinggal di himpunan, kamu gak marah kan?]

[Aku keasikan nemenin si cengcorang Jaehyun main PES ampe siang, tadi seru banget, anak-anak tanding catur di terminal. IT vs Biology, kami yang juara B-)]

Sehun sedang menjerit-jerit histeris dibawah, bolak-balik jadi sasaran minyak-minyak yang marah. Dia benci kecipratan minyak goreng panas, rusaklah kulit mulusnya, apalagi sambil diketawain adiknya yang durhaka dan tidak berkeperi-kakak-an.

[Hun? Kamu belajar masak? Terharu :'D. Pasti demi masa depan kita, so sweet :*]

[Baby?]

[Honeey?]

Sehun bersin-bersin parah, nyaris menangis, bau jahe dan merica menghambat pasokan udara segar ke lubang hidungnya.

[Kamu marah :(? Aku kesana! Wait. Jangan kemana-mana]

.

.

.

.

"Jahat kamu."

Dua patah kata yang keluar dari bibir tipis Sehun sewaktu mendapati Jongin cengar-cengir di pintu depan.

"Kok sms-sms aku gak dibales?" serangnya, tanpa mempersilahkan Jongin duduk atau copot sepatu. "Lagian, kamu ngapain senekat itu ngehajar Jaehyun? Udah kubilang nggak usah diladenin. Tega banget sih kamu! Kenapa nggak ditampar aja? Kasihan perutnya kamu tendangin."

Mata Jongin membesar nggak percaya. Sehun serius berharap dia cuma nampar Jaehyun? Jongin refleks tersenyum getir. Nampar? Yang bener aja!

"Kenapa senyam-senyum, Jong? Ini nggak lucu! Kamu tadi habis menganiaya orang, dan itu sama aja dengan nggak punya perasaan. Aku nggak nyangka, kupikir kamu lebih ngutamain logika. Kalau anak orang babak belur parah gimana? Kamu nggak mikir sampai kesana?"

Tangan Jongin mengepal dengar tuduhan-tuduhan Sehun yang dialamatkan kepadanya. Dia menatap cewek itu super serius. "Daripada kamu nyuruh aku nampar Jaehyun si bocah semblung, mending kamu suruh aku jambak dia aja sekalian. Supaya kami kelihatan kayak bencong lagi berantem. Mana videonya tersebar ke internet. Itu yang kamu mau?"

Sehun berdecak, bingung musti gimana, "Ya tapi nggak usah gitu juga. Kan masih banyak cara."

Jongin bersedekap. "Aku kesini mau nyicipin masakan kamu, bukan beradu mulut."

"Kamu udah baca semuanya?" Sehun melongo.

"Udah, cuma handphone kutinggal di himpunan kemarin malam. Kupikir kamu udah buka Line? Aku baru-baru ngebales."

Sehun menggeleng pelan. "Belum, sibuk di dapur. Ponselku di kamar." Matanya menatap lurus dengan ekspresi paling aneh yang pernah Jongin lihat. Kalau dianalisis, kayaknya itu campuran antara marah, kaget, kangen, lega, senang dan pengen nangis. Tiba-tiba Sehun melompat ke depan dan memeluk—lebih tepatnya menggabruk—Jongin. Sungguh drama.

"Kukira kamu diserempet mobil di tengah jalan. Dasar. Lain kali jangan bikin aku cemas melulu!"

"Iya deh. Sori." Hampir aja Jongin kelepasan ngakak kalau nggak buru-buru ditahan saking gelinya. Dia hirup dan kecup pundak Sehun. Aroma tubuh Sehun menguarkan wangi bawang putih, bawang merah, lombok, terasi, dan minyak goreng.

"Sehuun! Suruh Jongin masuk! Ngapain kamu di pintu? Ini anak kok nggak punya sopan santun!" Kyuhyun ngomel-ngomel dari arah dapur.

"Jongin, gimana kabar orangtua?" Donghae merusak acara 'temu-kangen' dua sejoli itu dengan mengajak Jongin salaman lalu mempersilahkan pemuda itu duduk.

"Baik, Om. Orangtua baik."

"Maaf ya, nggak ada sirup jeruk, adanya sirup leci. Kamu nggak alergi sama leci kan?"

Jongin mesam-mesem geli dengar pertanyaan ajaib barusan. Orang macam apa yang alergi terhadap sirup leci? "Nggak kok, Om. Saya sih kalau sirup, rasa apa aja saya telen, nggak memandang buahnya. Lagian, saya nggak pernah ketemu orang yang alergi sama sirup, Om. Mungkin mereka punya riwayat diabetes, makanya ngurang-ngurangin yang manis-manis."

Donghae berhasil melakukan intervensi! Sehun ditinggal berdiri sambil terperangah karena pasangannya baru saja direbut sang ayah beberapa detik yang lalu.

"Om, punya riwayat diabetes juga nggak?" tanya Jongin santai namun sopan.

"Wah, kalau diabetes sih nggak ya, cuma kadang Om suka takut, makanya jaga-jaga aja. Soalnya kan umur-umur kayak saya ini biasanya rentan. Menurut kamu makanan apa yang cocok biar gula darah nggak naik?"

"Banyak sih, Om. Terutama ya sayur-sayuran. Kalau emang Om nggak terlalu suka makan sayur-sayuran polos, bisa ditambahin bakso. Kayak misalnya nih Om, buncis, itu bisa dipakein irisan bakso buat menyamarkan rasa sayurnya," cerocos Jongin asik sendiri jadi ahli konsultan sayur-mayur bagi kesehatan Donghae. Dia ingat papanya Sehun nggak terlalu suka sayur. "Nah, brokoli? Bisa disiasatin, Om. Pakein aja irisan sosis. Tante pasti tahu yang kayak gitu-gitu."

Inilah yang disukai orangtua Sehun dari Jongin. Anak itu kalau diajak cerita langsung nyambung, nggak butuh waktu lama bagi Jongin untuk melanjutkan topik obrolan. Dan rata-rata bukan omong kosong. Padahal niat Donghae bertanya kadang cuma pengen ngetes sampai dimana tingkat kepedulian pemuda itu, tapi jawaban yang diberikan benar-benar nggak setengah-setengah. Jongin sanggup menyesuaikan diri di segala kalangan, bahkan mamanya Sehun betah mengajak Jongin sharing-sharing soal bumbu dapur. Mengingat orangtua Jongin punya usaha restoran seafood di alun-alun pasar malam di kampungnya sana. Tiap liburan, kalau sedang bebas tugas, Jongin pasti bantu-bantu.

"Eh iya, katanya tadi Sehun belajar masak ya, Om?" tanya Jongin, baru ingat pacarnya masih berdiri di dekat pintu. Terabaikan.

"Wah, kalau masak sih, wajib itu. Anak cewek udah akhil baliq nggak tau masak ya malu. Masa kalah sama suami?"

Great job. Sindiran yang sungguh ngena di hati. Sehun tersenyum nggak iklas.

"Hun, kalau ada tamu itu ya disiapin minuman. Jangan berdiri-berdiri aja kamu," kata Donghae. "Sana bikinin minum."

Jongin melirik wajah keruh Sehun dengan nggak enak hati. "Biar saya ambil sendiri, Om. Nggak usah repot-repot. Sekalian nyapa Tante. Lagi pada masak apa tadi? Dari baunya kayak enak nih," Dia mengedipkan mata pada Sehun. "Gimana eksperimen kamu? Udah berhasil buat sayur asam tanpa arang?"

Sehun melotot. Apa-apaan nanya kayak gitu? Ngeledek? "Aku nggak masak sayur asam, aku goreng ikan."

"Woww! Ikan!" Jongin bangkit penuh semangat. "I like that! Mana? Aku pengen nyicipin."

Sehun mendadak salah tingkah. Rona merah gelap di pipinya nyebar sampai ke daun telinga. Gimana kalau ternyata Jongin nggak suka dan dia kelihatan payah banget. "Engg… b-belum mateng…" Mulutnya sudah terbuka. Siap melancarkan jurus rayuan agar Jongin bertahan, tapi cowok itu sudah keburu melepas sepatu, taruh di keset pintu depan, lalu ngeloyor ke dapur tanpa memperdulikan ekspresi nelangsa Sehun. Tujuannya jelas: Menyambangi meja makan. Bentuk ikan hasil karya sang nona rumah spontan membangkitkan seringai di bibirnya. Oke… ikan itu tidak lagi terlihat seperti ikan pada umumnya. Lebih mirip daging ikan suwir-suwir saking susahnya diprediksi mana bagian ekor dan mana bagian perut. Hancur berserakan di piring! Malah di beberapa bagian ada yang terlalu matang, ada yang separuh matang, dan ada yang menjurus kearah gosong.

"Hmmm… enak sekali," Jongin hirup napas dalam-dalam, lubang hidungnya dia dekatkan ke gumpalan asap yang menguar dari piring. "Boleh kucoba?"

Sehun panas dingin, khawatir Jongin terserang sakit perut setelah mencicipi ikan hasil gorengannya. "Emm… kalau kamu… mm, nggak keberatan, tapi Mama udah masak daging semur sih…"

"Aku pengen nyobain ini," Jongin tetap ngotot mencomot secuil daging. "Masakan calon istriku."

Kedua tangan Sehun nemplok di muka. Duuuuuuhh, malu, malu, malu! Tuhan… rubahlah rasa ikan absurd itu menjadi ikan terenak di dunia.

"Eh, ada Nak Jongin," Kyuhyun melangkah keluar dari kamar mandi. "Udah laper? Semurnya belum mateng tuh, mau nungguin sebentar? Dikit lagi mateng kok."

Jongin kecap-kecap sambil menerawang ke depan, merasakan perpaduan asin dan gurih di lidahnya. Hmm. Lumayan. Butuh digembleng lagi. But so far so good. "Aku makan ini aja, Tante. Ini aja udah enak banget."

Sehun mengintip dari sela-sela jari. "Serius?" tanyanya tidak yakin, takut salah dengar.

Jeno yang sedaritadi berkutat dengan PSP di tangannya kini angkat bicara. "Hyung, lu nggak perlu terlalu baik hati. Buktinya Mama barusan dari kamar mandi. Gara-gara siapa? Gara-gara ikan laknat buatan Sehun nuna."

"Itu bohong! Bohong! Nggak bener! Fitnah!" Sehun membantah sampai nyaris histeris, tapi adik super isengnya malah tertawa.

"Di lemari kabinet sebelah sana ada obat pencahar, hyung. Kali aja lo mau buang racun yang barusan masuk di perut."

Jongin tertawa pelan sambil menahan kekasih galaknya yang sudah bersiap menghampiri sang adik dengan gulungan majalah di tangan.

Jeno mencelat dari sofa. "Apa lo?!"

"Elu yang apa?!" Sehun makin jengkel punya adek cowok nggak bisa diatur dan nggak tunduk kayak begini. Perasaan temen-temennya punya adek cowok di rumah, tapi nggak gini-gini amat deh.

Kyuhyun tidak sabar lagi menghadapi keributan di dapurnya. "Udah! Udah! Nggak usah kamu ladeni adik kamu. Malah makin ngelunjak. Dia cuma bercanda kok."

"Bercandanya keterlaluan, Ma! Aku malu!"

"Bener kata Mama kamu, Hun." Jongin menampilkan wajah bak malaikat yang siap menolong. "Ayo duduk sini, temenin aku makan," bujuknya lembut.

Cewek itu lalu menoleh dan menatap gusar sang mama. "Ma, apa bener yang dibilang Jeno? Mama sakit perut setelah makan ikan hasil gorenganku?"

Kyuhyun ikut tertawa sambil mengusap-usap kepala putrinya. "Ya enggak dong, sayang. Ikan gurame hasil gorengan kamu enak kok. Mama sakit perut ya karena emang lagi sakit perut. Bukan gara-gara kamu."

Sehun menoleh dan menatap Jeno penuh dendam. "Elo…! Awas… sekali lo nyuil ikan laknat itu… gue potong tangan laknat lo…!"

"Ya ampun kalian ini!" desis Kyuhyun berang, jari-jari tangan berminyaknya mencubit lengan Sehun. Tak ketinggalan lengan putra bungsunya.

"Adaow!" Jeno melotot protes. "Aku dapat bagian juga?"

Kyuhyun melempar tatapan peringatan. "Mulutnya. Tolong. Ada tamu." Dia memasukkan seember sayur bayam ke kulkas sambil mendengus. "Makan sana! Ajak Jongin makan. Rumah ini nggak berkah kalau penghuninya ribut melulu kayak kalian. Kalian ribut itu sama dengar ngusir malaikat. Mana ada malaikat yang mau masuk kalau penghuninya nggak akur? Sama aja kalian ngusir rejeki. Papa Mama nggak mau seret rejeki karena anak-anaknya berantem terus. Udah pada gede-gede juga."

Sehun ambruk di kursi sambil bertopang dagu. Muak. Merepeeeeet terus! Mana nggak tahu sikon. Ocehan berbusa-busa mamanya bikin Sehun merasa diperlakukan kayak anak kecil, itu yang bikin dia sebel.

Jeno duduk ogah-ogahan, kursinya dia geser sampai ke posisi terjauh dari Sehun. Dia menjulurkan lidah dengan mimik menghina. Sehun balas menjulurkan lidah, habis itu buang muka sambil mendengus ala banteng, keki.

"Maaf, Nak Jongin." Kyuhyun menghela napas. "Tante punya anak nggak ada yang kalem-kalem meneduhkan."

Jongin tetap cengar-cengir. "Gak apa-apa, Tante. Saya justru seneng. Daripada sepi." Dia suka suasana rumah seperti ini. Berisik tapi seru. Membuatnya rindu pada orangtua dan kakak-kakak ceweknya di kampung.

"Oh iya, denger-denger kamu lagi sibuk di organisasi ya? Organisasi apa?" tanya Jongin, berusaha menunjukkan sisi 'calon-kakak-ipar-de-best' kepada bocah SMA yang sedang mengambek.

Sehun menyambar. "Organisasi Pemuda-Pemudi Mulut Nyinyir se-Samudra Atlantik. Dia ketuanya."

Jongin berjuang mengabaikan celotehan tadi, melanjutkan ramah-tamahnya. "Terus, dengar-dengar kamu juga terpilih sebagai duta ya? Duta apa kalau boleh tau?"

Sehun kembali menyambar seenak jidat. "Duta Pelestarian Berandalan Cilik dan Pemulung Terlatih."

Jeno melompat bangun dari kursi. Sehun juga, sambil berkacak pinggang.

Kyuhyun langsung menyetop episode pertarungan antara kakak-beradik bermulut pedas itu dengan mengoceh tentang nilai-nilai dan adat istiadat masyarakat timur dan betapa tabunya ribut di meja makan, apalagi sampai berkelahi sesama saudara, karena itu sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang dianut masyarakat timur. Lalu dia bercerita panjang lebar tentang organisasi palang merah remaja yang diikuti Jeno serta prestasi-prestasinya, menggantikan putranya yang masih diam tepekur menyembunyikan kepala dibalik lipatan tangan. Cari aman. Setiap kali ada salah satu pihak yang buka mulut, bukan jawaban manis nan santun yang didengar, malah gonggongan lagi, gonggongan lagi—begitu kata Kyuhyun, sembari menumis cabai merah.

"Muka-muka seleb kayak kamu pasti udah punya pacar, minimal penggemar, nggak mungkin nggak tenar, pasti banyak yang suka nih, ngaku?" tebak Jongin, belum menyerah untuk tetap bergaul dengan Jeno. Mengabaikan Sehun.

Barulah anak itu menampilkan raut berbeda. Tersipu-sipu dengan lubang hidung kembang kempis bangga. Pancingan Jongin berhasil!

"Iya sih. Tapi aku bukan playboy, hyung. Aku sukanya sama satu cewek aja. Cuma cewek itu nggak mau pacaran, dia milih fokus."

"Cantik gak?" Jongin buru-buru tarik kursi, merapat ke seberang. Ngacangin Sehun sepenuhnya. Muka keponya memancarkan aura penasaran tiada tara.

Meskipun masih rada-rada gondok, Sehun ikut pasang telinga dari seberang meja. Soalnya Jeno agak susah buka-bukaan sama dia masalah percintaan, apalagi curhat. Walaupun hobi ngajak berantem, hobi merusak hari-hari damai Sehun, dan suka mengeluarkan komentar yang bikin ubun-ubun Sehun hangus terbakar emosi, Jeno sebenarnya tipikal pemalu di luar rumah. Yang nggak kenal pasti beranggapan anak itu cool, jaim, dan hanya tau mesam-mesem sambil pamer eye-smile indahnya yang sukses menawan hati ribuan gadis.

"Cantik," Jeno manggut-manggut. "Yang jelas lebih seksi dari Sehun nuna."

Sehun ngorek-ngorek kuping sambil putar-putar mata.

Dua cowok beda usia itu larut dalam obrolan sendiri tentang perempuan. Sesekali Sehun ikut campur dengan cara meneriakkan bantahan "Sok tau!", tapi keduanya tak pusing. Donghae melenggang masuk ke dapur, ada ponsel menempel di telinganya, ponsel itu disangga pakai bahu kanan, sementara kedua tangannya sibuk mencatat sesuatu di kertas memo.

"Pa, udahan dulu telpon-telponnya," tegur Kyuhyun mengacungkan sendok nasi. "Kamu ini, kayak nggak kenal hari libur aja."

Donghae buru-buru duduk dengan patuh. Takut disambit sendok nasi panas.

Jongin tertawa pelan. Sehun tersenyum memandangi wajah rileks Jongin. Dia suka lihat Jongin berbaur dengan keluarganya. Berusaha akrab, nggak fokus melulu ke Sehun. Daritadi Jongin bahkan tidak merasa terganggu atau menampilkan gelagat risih, malah kelihatan nyaman jadi bagian dari keributan di keluarga ini. Cowok itu larut dalam obrolan ringan seputar pacar-pacaran dan lempeng eurasia dengan Jeno, namun bersedia nimbrung obrolan soal kebijakan pemerintah serta valuta asing dengan papa-mama Sehun.

Aaahh… senangnyaaa! Kalau punya cowok kayak gini 'kan Sehun jadi nggak ragu-ragu kalau misalnya diajak melangkah ke jenjang berikutnya.

.

.

-FIN-

A/N: Yaa, intinya, pengalaman diapelin cowok memunculkan ide untuk menulis ff ini :D. Semoga agan-agan pembaca suka. Selain terhibur, juga ada sesuatu yang bisa dipetik dari kisah ini ya, jamaaaaaaah! #Ala Bu Ustadzah

Sebagai fans saya selalu bangga sama EXO dan makin bangga sampai detik ini karena HOLLY! Semua lagu di album itu SEMUANYA da-best! Sampai nggak berhenti saya putar, mulai dari bangun tidur, masak, nyetrika, buang air besar, sampai tidur lagi, handphone dan headset selalu mengikuti saya kemanapun xD

They're Overdose!

Sekian, pesan dan kesan dari saya. Review sangat dibutuhkan, pengen denger pendapat temen-temen :D #Guling-guling puppy eyes