Title : Pistola e rose chapter 2

Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun, Ahn Hani and others


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa, berisi adegan seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.


NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?

There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.

...

..

.

Cast :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Ahn Hani

others

..

.

Park Shita

Present

..

.

Hani melangkahkan kaki lelahnya menuju ruang tengah ketika ia tak mendapati siapapun disana. Ia melirik jam tangannya dan mengernyit ketika seharusnya Chanyeol sudah berada di rumah lebih dulu darinya, sebelum ia mengingat bahwa Baekhyun oppa-nya sedang sakit.

Gadis itu berjalan dengan wajah tersenyum senang menuju ke dalam kamar yang lebih tua, ia mengetuknya sejenak dan kemudian mendorong daun pintu itu menjauh, membuat aroma manis yang melekat ditubuh Baekhyun menguar.

Ia mendekat kearah ranjang dan menemukan sosok Baekhyun berbaring dengan sebuah kain berada diatas dahinya, ia menyentuhnya lalu mengambil kain yang mengering itu dan membasahinya ke dalam baskom air diatas meja.

"Hani?" Hani tersenyum ketika melihat yang lelaki cantik itu membuka matanya.

"Apa keadaan oppa sudah membaik?" Baekhyun tersenyum dan mengangguk pelan, sebelum akhirnya melihat sekeliling karena tidak menemukan Chanyeol disampingnya.

"Dimana Chanyeol?" tanya Baekhyun. Hani melihat sekeliling lalu kembali beralih menatap Baekhyun yang memejamkan matanya.

"Chanyeol oppa? Apa Chanyeol oppa sudah pulang? Tapi aku tidak menemukan ia dimanapun." Seketika mata Baekhyun terbuka dan ia tidak mungkin berkata jika pria itu memilih membolos demi menemani dirinya.

Baekhyun tersenyum sejenak, lalu kembali menyamankan tubuhnya untuk kembali terlelap.

"Aku pikir dia sudah pulang, karena biasanya dia sudah dirumah di jam seperti ini kan?" Hani mengangguk dan Baekhyun bersyukur karena gadis itu terlihat tidak menyadari kegugupan Baekhyun.

"Apa oppa sudah makan?" tanya Hani lagi dan Baekhyun menggeleng pelan.

"Mau aku buatkan sesuatu?"

"Tidak, aku tak terlalu lapar! Sudah kau mandi dulu sana, aku tahu kau lelah sepulang bekerja, jangan terlalu mengkhawatirkanku!" Hani menggeleng pelan dan memeluk tubuh Baekhyun manja.

"Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu, oppa? Oppa sudah seperti kakak kandungku, seharian ini aku memikirkan tentang keadaan oppa." Adu gadis cantik itu sambil masih bermanja-manja dengan lelaki yang hanya bisa tersenyum sambil mengelus helaian rambut coklat madu itu.

"Ya, ya, ya. Oppa tahu, adik cantik oppa ini sangat memikirkan tentang keadaanku, tapi kau harus memikirkan tentang keadaanmu juga, kau tahu kau bau, mandi sana!" Hani menjauhkan tubuhnya sambil mendelik kearah Baekhyun, membuat yang lebih tua terkekeh.

"Aku bau? Sungguh?" gadis itu membaui kedua ketiaknya dan Baekhyun mengernyitkan hidungnya berpura-pura.

"Tentu saja, sana mandi, kau bau, nanti kalau Chanyeol-oppamu menciumnya, dia bisa saja menjauhimu. Bahkan hidungku yang tersumbat saja bisa menciumnya." Gadis itu mengupas bibirnya kecewa lalu bangkit membuat Baekhyun terkekeh melihatnya.

"Awas kalau nanti aku sudah wangi, oppa akan jatuh cinta padaku." Ancamnya sambil berjalan kearah pintu dan Baekhyun hanya menggeleng pelan.

Setelah pintu tertutup lelaki cantik itu menghela nafas lagi, tubuhnya masih terasa lelah dan ia kembali memejamkan matanya sambil menutupnya dengan satu tangan, berharap esok keadaannya sudah membaik.

….

Chanyeol memasuki apartemen mereka ketika Hani usai membersihkan diri. Kedua pasang mata itu bertemu dan tubuh keduanya sama-sama terdiam di tempat.

"Oh, oppa. Kau sudah pulang?" tanya Hani dengan wajah kebingungan mendapati Chanyeol tidak mengenakan pakaian kerjanya melainkan sebuah kaos lengan panjang berwarna putih dan celana jeans panjang hitamnya, serta dua bungkus belanjaan di kedua tangan pria tampan itu.

"Hm. Aku pulang sejak tadi, dan keluar untuk membeli beberapa bahan makanan. Kau baru pulang?" tanya Chanyeol sambil berjalan masuk setelah melepas sepatunya. Pria itu mendekat kearah sang istri dan mengecup pipi putih tanpa make up istrinya. Sebagai balasan Hani memeluk tubuh Chanyeol dan tersenyum senang mengekori yang lebih tua menuju ke dapur.

"Apa oppa akan memasak makan malam? Apa hari ini adalah hari penting, aku tidak melewatkan sesuatu kan?" Chanyeol yang sedang membuka lemari pendingin hanya menggeleng pelan sambil memindahkan beberapa bahan ke dalam lemari pendingin yang sebelumnya ia letakkan diatas meja.

"Tidak ada hari penting, hanya saja aku ingin memasakan sesuatu untuk Baekhyun." Hani yang sedang membuka-buka isi kantung belanjaan didepannya menghentikan pergerakan tangannya sejenak, lalu ia menoleh kearah Chanyeol yang terlihat begitu serius menyusun beberapa bahan makanan yang baru ia beli.

"Oppa?"

"Hm?"

"Apa…apa jika aku sakit oppa akan melakukan hal yang sama juga?" tanya gadis itu dengan wajah sedikit menunduk, menatap bungkusan apel yang tersusun rapi pada kotaknya.

Chanyeol menghentikan kegiatannya sejenak, ia bangkit dan menoleh kearah gadis yang sedang membelakanginya itu, namun wajah sedih gadis itu jelas terlihat olehnya.

Chanyeol mendekat, mengerti akan kecemburuan sang istri yang menurutnya adalah hal wajar. Chanyeol tahu ia terlalu memanjakan Baekhyun, namun ia tidak bisa untuk tidak melakukannya, dan sebelum menikahi Hani iapun telah menyakinkan gadis itu akan perilakunya terhadap Baekhyun, dan karena Hani tak menolak untuk itu Chanyeol menikahi gadis cantik dan periang itu.

Chanyeol mengusak rambut Hani membuat yang lebih pendek menoleh dan mendongakkan kepalanya karena perbedaan tinggi mereka yang sangat kontras.

"Tentu. Kau istriku, tentu aku akan melakukan hal yang sama. Tapi daripada itu, aku lebih berharap bahwa kau selalu sehat, sehingga kau akan terus memperlihatkan senyum lebarmu itu." Ucap Chanyeol sambil mencubit pelan pipi Hani, gadis itu tersenyum senang lalu menerjang tubuh Chanyeol untuk memberikan sebuah pelukan kuat.

"Akh, kau memelukku terlalu kencang, aku kehabisan nafas, Hani-ah." Hani terkekeh dan semakin menguatkan pelukannya, ia merasa bahagia dengan jawaban sang suami yang sempat ia ragukan.

Ketika pelukan mereka terlepas, Chanyeol kembali pada kegiatannya sebelumnya berjongkok di depan kulkas dan memasukan beberapa bahan makanan ke dalam lemari pendingin sementara Hani berdiri di belakang Chanyeol sambil memeluk leher yang lebih tua dan menunjuk-nunjuk beberapa tempat kosong untuk kemudian Chanyeol isi dengan bahan yang ia pegang, yang lebih terlihat seperti memerintah.

Baekhyun yang membawa gelas kosongnya menuju dapur, menghentikan kakinya sejenak melihat kemesraan dua orang di depannya. Tidak bisa ia pungkiri jika rasanya menyakitkan, namun tidak bisa pula ia perlihatkan rasa sedihnya itu.

Lagipula selama setahun ini Baekhyun telah melatih raut wajah dan ketegeran hatinya menghadapi kemesraan yang terkadang akan ditunjukan oleh sepasang pengantin baru itu. Untuk itu ia hanya akan menghela nafas sejenak dan kemudian membaur dengan keadaan.

"Lihat, siapa yang bermesraan di dapur dan meninggalkan si sakit sendirian di kamar." Ucapan Baekhyun membuat kedua sosok itu menoleh terkejut. Baekhyun berjalan mendekat kearah lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral sambil menatap Chanyeol lekat dan kemudian mengalihkannya pada Hani.

"Oppa, aku_" ucapan Hani terhenti karena Chanyeol tiba-tiba bangkit dan berjalan kearah bar dimana Baekhyun berdiri sambil membuka botol airnya. Chanyeol merampas botol itu dari tangan yang lebih kecil, membuat yang lebih kecil memekik kesal.

"Kau tahu kan kau sedang sakit? Tidak ada air dingin untuk orang sakit." Ucap Chanyeol sambil mengambil alih gelas kosong Baekhyun dan mengisinya dengan campuran air biasa dan air panas dari dispenser.

Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah kesal menatap punggung lebar Chanyeol yang terlihat sibuk mencampurkan air lalu meminumnya untuk mengetahui bahwa air itu tidak terlalu panas untuk yang lebih pendek minum.

"Ini." Baekhyun menerimanya dengan wajah kesal lalu meminumnya dan Chanyeol segera meletakkan tangannya di dahi Baekhyun, mengukur panas tubuh yang lebih kecil dengan punggung tangannya.

Hani masih disana, menyaksikan semua hal manis itu dengan kedua mata besarnya. Ia tersenyum melihat keakraban dua lelaki di hadapannya, namun sebuah perasaan lain yang entah darimana datangnya mengatakan bahwa hal itu salah.

"Panasmu sudah turun. Jika bukan aku yang merawatmu, kau tak akan bisa berjalan saat ini." Baekhyun mencibir sambil meletakkan gelasnya, ia menatap Chanyeol nyalang dengan jarak wajah yang terlampau dekat. Ingin sekali memarahi Chanyeol karena sikap berlebihannya, namun menyadari sosok Hani masih disana berdiri di depan lemari pendingin yang terbuka membuat Baekhyun berdeham pelan dan melangkah meninggalkan dapur.

"Aku lelah, aku ingin_"

"Tunggu! Aku akan memasakanmu makan malam. Kau ingin apa? Aku sudah membeli bahan makanan yang kemungkinan menjadi bahan makanan yang kau inginkan." Baekhyun melirik tangannya yang dicengkram Chanyeol, lalu menepisnya dan melirik kearah Hani.

"Daripada memasakanku yang sama sekali tak lapar, lebih baik kau masakan untuk Hani. Lihat, dia bertambah kurus. Hani, sebutkan masakan yang kau inginkan dan koki tampan ini akan membuatkannya untukmu. Aku ingin kembali tidur, aku lelah. Maaf menganggu kemesraan kalian tadi." Ucap Baekhyun terlampau santai.

Hani terkekeh melihat sikap Baekhyun dan ia segera mendekat kearah Baekhyun, memeluk salah satu lengan Baekhyun manja.

"Oppa, aku akan menemani Baekhyun oppa, jadi koki tampan kita buatkan kami masakan yang enak ya?" ucapnya sambil menyeret Baekhyun meninggalkan dapur.

Ketika tiba di dalam kamarnya, Baekhyun membiarkan Hani untuk berbaring diatas ranjangnya. Gadis itu menggeliat senang sambil menutup matanya. Baekhyun menggeleng pelan lalu membaringkan tubuhnya disamping istri kekasihnya itu.

"Bagaimana harimu?" tanya Baekhyun, sekedar basa-basi untuk membuka pembicaraan, hal yang biasa mereka lakukan setiap harinya.

"Tidak terlalu buruk. Mr. Eric terlihat begitu gembira hari ini. Ada yang bilang bahwa itu karena ia telah mendapat restu atas hubungannya." Ucap Hani. Baekhyun mengernyit, merasa tertarik dengan topik pembicaraan yang lebih muda.

"Restu? Apa hubungan yang ia milikki sejenis hubungan tak direstui seperti di drama? Si kaya yang jatuh cinta pada si miskin?" tanya Baekhyun dan Hani tertawa pelan.

"Ini lebih daripada kisah klasik di drama, oppa. Ini tentang si pria tampan yang jatuh cinta pada pria tampan lainnya." Seketika kelopak mata Baekhyun terbuka lebar, dan kedua pasang mata itu bertemu.

"Jadi, atasanmu itu adalah_" Baekhyun tak melanjutkan ucapannya namun Hani telah lebih dulu mengangguk.

"Ya, dia gay. Aku pikir hal seperti itu tidak mungkin terjadi di dalam hidupku, aku nyaris tidak mempercayai bagaimana bisa dua orang pria saling jatuh cinta. Mereka sama, mereka tidak memiliki perbedaan pada anatomi tubuh mereka, lalu apa yang membuat mereka menjadi seorang gay? Tapi kemudian kejadian atasanku ini membuatku tahu bahwa tidak ada yang mustahil. Benar kan, oppa?" Baekhyun mengangguk pelan sambil mengelus rambut Hani yang berbaring lebih rendah dari dirinya.

"Tapi yang kau perlu tahu, bahwa ketika kau jatuh cinta bukan fisik, harta maupun gender yang menjadi tolak ukurmu. Cinta berasal dari hati bukan dari mata. Ketika hatimu berkata 'klik' maka saat itulah disebut cinta buta. Banyak orang menganggap cinta buta adalah istilah yang negatif, namun bagiku semua cinta itu buta. Cinta tidak memandang apapun, Hani-ah. Karena itu tidak ada yang bisa menyalahi siapapun ketika sebuah hubungan yang 'tidak diinginkan' terjadi."

Hani menatap Baekhyun dalam, dan ketika Baekhyun menyadari dirinya terbawa perasaan ia segera tersenyum dan mencubit pipi gadis itu.

"Oppa, aku tidak tahu oppa tahu banyak tentang cinta. Aku pikir orang seperti oppa hanya memikirkan karir, karir dan karir."

"Hei, bagaimana pun aku juga manusia." Hani lagi-lagi terkekeh dan Baekhyun tersenyum dengan gelengan kecil.

"Lalu, apa oppa pernah jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan?" Baekhyun mengangguk pelan dan Hani segera membalik tubuhnya untuk berbaring dalam posisi tengkurap, menggunakan kedua siku tangannya sebagai tumpuan. Menatap berbinar kearah wajah Baekhyun.

"Benarkah? Kapan? dengan siapa?" tanya Hani penasaran. Baekhyun tersenyum sejenak, menatap dalam pada kedua manik gadis di depannya lalu menghela nafas pelan.

"Beberapa tahun lalu dengan seseorang yang saat ini masih aku cintai." Hani lagi-lagi membulatkan matanya dan semakin penasaran.

"Siapa-siapa? Apa dia seseorang yang cantik?" Baekhyun menggeleng pelan ,mengusap pucuk kepala Hani pelan.

"Siapa oppa~" rengek gadis itu dan lagi Baekhyun menahan senyumannya.

"Apa lebih cantik dariku? Ya? Ya? Tentu aku yang lebih cantik kan? Apa dia seksi?" Lagi gadis itu bertanya secara beruntun. Baekhyun menatap ke dalam mata gadis itu, ada sebuah kebimbingan disana. Haruskah ia berkata jujur, atau lebih baik membuat sebuah kebohongan, pada akhirnya ia menghela nafas pelan dan mengulum sebuah senyum.

"Dia tidak cantik, dia tampan." Seketika tubuh Hani menegang, matanya menatap lurus pada Baekhyun yang kini terkekeh pelan. Senyum gadis itu luntur tergantikan oleh garis lurus yang dibuat oleh bibirnya dan mata membulat yang besar.

"Ja-jadi..oppa…oppa gay?" Baekhyun mengangguk lagi dan kali ini Hani terlihat begitu syok, dan tanpa di duga ia menerjang tubuh Baekhyun hingga lelaki mungil itu nyaris terjungkal.

"Maafkan aku oppa, aku baru saja mengatakan hal yang tidak baik tentang gay. Aku tidak akan meremehkan kaum homoseksual lagi, aku akan mendukung oppa." Ucap Hani dan Baekhyun hanya mengelus pungung sempit itu pelan. Ia tahu bahwa Hani sungguh gadis yang sangat baik.

"Tapi oppa, siapa lelaki itu? Apa Chanyeol oppa tahu? Apa dia lebih tampan daripada Chanyeol oppa?" Baekhyun menegang sejenak, namun kemudian ia menggeleng pelan.

"Tentu, karena dia sangat tampan melebihi suamimu, karena itu aku tidak bisa melupakannya." Hani kembali mengangguk lagi, lalu matanya bergulir pada Baekhyun. Ia tak tahu reaksi apa yang harus ia berikan selain sebuah anggukan, meskipun itu begitu kontras dengan pertentangan di dalam hatinya. Di benaknya ada beribu pertanyaan mengenai sosok Baekhyun dan tentu saja suaminya.

"Lalu…apa.. apa oppa pernah memiliki perasaan pada Chanyeol oppa?" tubuh Baekhyun menegang sejenak, lagi sebuah perasaan ingin mendominasi muncul namun kalah oleh rasa bersalahnya, Baekhyun memilih menggeleng pelan.

"Lelaki ku itu adalah cinta pertamaku, sosok yang mencuri hatiku hingga saat ini, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya di dalam sini. Kau tenang saja, Hani-ah." Lidah tidak bertulang, tentu pribahasa itu benar adanya. Baekhyun bisa mengatakan apapun untuk tidak membuat gadis baik di depannya bersedih, namun ketika ia menyelami dirinya lebih dalam maka ia hanya menemukan bahwa yang ia lakukan hanya untuk melindungi hubungan gelapnya dengan Chanyeol. Egois? Tentu, dan itu manusiawi.

"Lihat kedua tuan puteri ini, tidak adakah yang bersedia membantuku di dapur?" tanya Chanyeol yang berdiri di depan pintu dengan celemek hitam dan sebuah spatula di salah satu tangannya yang terlipat di depan dada.

"Baiklah, baiklah. Aku akan menjadi istri yang baik malam ini." Ucap Hani yang segera bangkit dan berjalan menuju pintu, mendorong tubuh Chanyeol menjauhi kamar Baekhyun, sebelum akhirnya menutup pintu itu.

Hani yang sedang membantu Chanyeol untuk mencuci beberapa piring kotor menoleh sejenak melihat Chanyeol yang sedang sibuk mengaduk sup di dalam panci.

"Oppa, bukankah oppa dan Baekhyun oppa berteman sudah sejak lama?"

"Ya. Ada apa?"

"Apa, oppa tahu tentang penyimpangan Baekhyun oppa?"

"Uhuk…uhuk…"

Chanyeol yang sedang mencicipi supnya mendadak tersedak dan hal itu membuat Hani segera membilas tangannya dan menepuk pundak Chanyeol dengan cemas.

"Oppa, kenapa bisa tersedak sih? Oppa tidak apa-apa?" Chanyeol menggeleng dan kembali bersikap normal meskipun wajahnya sudah memerah padam.

"Terima kasih." Ucap Chanyeol ketika Hani memberikan segelas air untuknya.

Sejam kemudian mereka makan bersama, setelah memaksa Baekhyun untuk ikut bergabung dengan susah payah.

Lelaki cantik itu selalu menolak dengan berbagai alasan dan karena itu Hani menyeretnya dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya lelaki yang sedang sakit itu menurut dan ikut duduk di depan meja makan.

Setelah makan malam usai, Hani membantu Chanyeol mencuci piring sementara Baekhyun yang bersikeras ingin membantu di paksa Chanyeol kembali ke kamar. Biasanya mereka bertiga akan berbagi tugas, siapapun yang kebagian tugas memasak atau membeli makan malam maka berhak untuk tidak merapikan meja makan ataupun mencuci piring dan itu sudah mereka jalani setahun belakangan.

..

.

Hani membalik tubuhnya ketika merasakan pergerakan di atas ranjangnya. Itu suaminya yang bangkit dari atas ranjang di tengah kegelapan kamar mereka.

"Oppa, mau kemana?" tanya Hani. Chanyeol menoleh dan mengelus rambut Hani pelan.

"Aku ingin mengecek keadaan Baekhyun, diluar hujan dan aku takut dia lupa mengatur suhu kamarnya. Kau tahu kan oppa manjamu itu tidak kuat berada di suhu rendah." Hani mengangguk sejenak dan membiarkan sosok Chanyeol bangkit dan menghilang di balik pintu kamar mereka.

Ketika Chanyeol membuka pintu ia mendapati Baekhyun sedang bermain dengan ponselnya di tengah kegelapan dan menoleh terkejut ketika mendapati Chanyeol diambang pintu kamarnya.

"Yak, apa yang kau lakukan disini malam-malam?" tanya Baekhyun. Chanyeol tak menjawab dan segera berjalan menuju ranjang setelah menutup pintu kamar.

"Tidak ada ponsel ketika sakit!" ucapnya sambil merebut ponsel yang lebih kecil lalu meletakkannya di atas nakas disampingnya membuat Baekhyun memekik kesal namun tetap menggeser tubuhnya ketika Chanyeol mengambil tempat disampingnya.

"Kau itu terlalu berlebihan, aku hanya mengecek beberapa pesan dari klienku. Dan kau, kenapa kau ada diatas ranjangku malam-malam begini?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol yang memasukan dirinya ke dalam selimut yang sama dengannya dengan alis bertautan.

"Ingin memastikan bahwa kau sudah cukup hangat."

"Oh Park Chanyeol, kau pikir aku ini anak kecil? Sana kembali ke kamarmu, istrimu lah yang perlu kehangatan darimu." Ucap Baekhyun yang sudah terduduk dan mendorong tubuh berat Chanyeol.

Chanyeol menangkap kedua tangan Baekhyun, menariknya hingga tubuh Baekhyun terjatuh diatas dadanya. Baekhyun yang menggeliat segera terhenti ketika Chanyeol memeluk tubuhnya erat dan mengecup ujung kepalanya.

"Chanyeol? Hentikan! Hani ada di kamar kalian, dia pasti menunggumu."

"Bisakah kau tidak memikirkan orang lain sementara kau yang butuh untuk diperhatikan disini?" Baekhyun bangkit dan menatap Chanyeol dengan kedua tangan di pinggang.

"Ya, aku tahu tapi posisinya aku adalah orang ketiga diantara sepasang suami istri di rumah ini. Kau tak boleh menjadikanku prioritas Chanyeol, bukankah sudah aku katakan berkali-kali padamu?" Chanyeol tak merepon, ia menutup wajahnya dengan satu tangan, berpura-pura tak mendengar ocehan Baekhyun.

"Lihat, raksasa ini berpura-pura tidur! Hei, sana kembali ke kamarmu, kau itu. Kasihan istrimu, Chanyeol! Yak! Park Chanyeol!" Baekhyun menyentuh-nyentuh pundak Chanyeol dan mendorongnya pelan agar lelaki itu membuka matanya.

"Chanyeol, kau itu suami macam apa sih? Seharusnya kau tidur di kamar bersama istrimu, bukan di kamar sahabatmu, nanti_"

"Kalau begitu jadilah istriku, berhenti bersikap seolah kau tidak sakit hati melihatku bersama dengan orang lain!" pekikan Chanyeol membuat Baekhyun terdiam, ia menatap lurus kearah Chanyeol lalu di detik berikutnya menyeringai dengan sebuah kekehan pelan.

"Jika itu semudah membalikkan telapak tangan aku sudah menikah denganmu dan hidup bahagia bersama, tapi diatas kebahagiaan kita akan ada banyak pihak yang tersakiti. Tidakkah kau takut melihat senyuman ibumu lenyap? Tidakkah kau takut kebanggaan ayahmu luntur jika putra semata wayangnya menikahi seorang lelaki? Chanyeol, aku memang tersakiti dengan semua ini, tapi aku masih bisa bertahan untuk orang-orang yang aku cintai." Chanyeol terdiam melihat bagaimana wajah terluka Baekhyun yang berusaha terlihat tegar.

Chanyeol tahu, sangat tahu tentang sikap sok tegar Baekhyun. Ia mengenal sosok itu cukup lama, ia mengenal sosok itu melebihi dirinya sendiri dan ia tahu selama setahun belakangan ini Baekhyun-nya hidup dalam sebuah kepura-puraan.

Ingin rasanya Chanyeol membawa sosok itu pergi jauh ke tempat dimana mereka bisa hidup bahagia hanya berdua tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain demi membuat orang sekitar mereka bahagia. Chanyeol hanya ingin Baekhyun-nya, hanya itu sudah cukup untuknya. Tapi sekali lagi, dunia itu penuh dengan ketidakadilan, kepura-puraan adalah modal utama untuk bertahan hidup dan berada di balik topeng kepalsuan adalah satu-satunya cara untuk menjadi manusia yang utuh.

"Baekhyun? Kau selalu memikirkan orang lain, bagaimana dengan dirimu sendiri, dengan kebahagiaanmu?" Baekhyun tersenyum menatap Chanyeol, tak ada air mata yang terlihat karena hati Baekhyun sudah terbiasa untuk itu.

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membahagiakan kedua orangtuamu ketika mereka membuka tangan mereka pertama kalinya untukku, bagaimana mereka memperlakukanku seperti anak kandung mereka membuatku merasa bahwa aku pantas untuk dicintai. Chanyeol, jangan pikirkan tentang diriku, karena bagiku aku sudah terlalu egois dengan mempertahankan hubungan ini." Hening sejenak, tak ada lagi untaian kata dari bibir keduanya, namun tatapan mata keduanya masih menyiratkan perasaan yang mendalam.

"Lalu, apa kau memikirkan tentang perasaanku? Bagaimana aku setiap harinya dibayangi oleh sebuah rasa bersalah?" Baekhyun mengelus wajah Chanyeol pelan, merasakan bagaimana Chanyeol juga tersakiti.

"Bukankah aku sudah menawarkan sebuah penyelesaian? Tapi kau menolaknya ketika itu." Chanyeol menepis tangan Baekhyun dan mendengus kesal.

"Jangan mengada-ngada! Kau memintaku untuk meninggalkanmu, sementara kau telah mencuri seluruh hatiku, Baek." Lagi Baekhyun tersenyum meskipun ucapan Chanyeol membuatnya tersentuh.

"Untuk itu, Chanyeollie-ku. Aku akan mengembalikannya perlahan, agar kau bisa membiarkan orang lain mencuri hatimu lagi, Hani berhak untuk itu." Chanyeol tak menjawab, ia mencengkram tangan Baekhyun menindih tubuh yang lebih kecil, lalu menciumnya dengan ganas.

Baekhyun tak mengelak, ia menerima ciuman ganas itu dengan bibir terbuka, bahkan kedua tangannya memeluk leher Chanyeol dan gesekan-gesekan di tubuh bagian bawah mereka tak juga ia tolak, karena Baekhyun tahu Chanyeol-nya sedang tersulut emosi, dan karena dirinya-lah satu-satunya yang bisa memadamkan api yang berkobar di diri Chanyeol.

..

.

Sejak hubungan mereka yang selalu diuji, Baekhyun selalu yakin bahwa Tuhan tak benar menyayanginya. Seluruh hal yang terjadi di dalam hidupnya tak pernah lepas dari sebuah kejutan yang tak begitu menyenangkan.

Seperti sekarang, ketika Bibi Park menelpon untuk menanyakan keadaannya yang ia yakin bahwa wanita baik itu tahu dari bibir Hani bahwa dirinya baru sembuh dari sakit.

Baekhyun tersenyum ketika wanita itu memarahinya karena tak bisa menjaga diri karena terlalu sibuk bekerja dan juga karena tak mengabarinya perihal dirinya yang jatuh sakit. Ia suka bagaimana wanita itu menganggap dirinya adalah anak bungsu di keluarga Park, dan hal itu semakin membuat rasa bersalahnya meningkat berkali-lipat.

Dari semua percakapan dan penolakan yang ia sabotase, akhirnya adalah yang paling Baekhyun takuti.

"Datanglah kerumah, jika tak ingin Ibu dan Ayah membencimu."

Baekhyun ingin menolak, namun ia tak kuasa untuk mengecewakan wanita baik itu. Untuk itu selain menyetujuinya tak ada yang bisa Baekhyun lakukan, karena memberikan alasan lain hanya membuat wanita Park itu muncul secara tiba-tiba di pintu apartemen mereka dan akan menghabiskan waktunya hingga berhari-hari disana bahkan seminggu dengan segala peraturan dan juga omelannya.

Baekhyun bukan menghindar karena ia merasa terganggu, namun melihat kedua sosok orangtua Chanyeol akan semakin membuat dirinya merasa penuh dosa. Terakhir kali ia berkunjung kerumah keluarga Park adalah ketika Chanyeol dan Hani menikah, dan setelah itu ia memberikan seribu alasan untuk menolak undangan mereka dan membiarkan Chanyeol dan Hani yang datang berdua kesana.

Tapi empat bulan setelahnya, malah membuat Baekhyun menyesal karena tak datang ketika kembali diundang. Jika ia yang berkunjung ia tentu memiliki alasan untuk pulang, namun jika Bibi Park yang berkunjung maka ia tak memiliki alasan untuk mengusir wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu.

"Oppa, ayo!" Baekhyun tersadar ketika Hani memanggilnya dari dalam mobil Chanyeol. Baekhyun melirik Chanyeol dengan wajah sedih ketika lelaki itu usai memasukan seluruh barang mereka ke dalam mobil.

"Apa tidak bisa dikurangi? Mungkin sehari semalam?" rengek Baekhyun lagi, namun Chanyeol mendorong tubuh itu masuk sementara dirinya segera menduduki posisi di belakang kemudi.

"Kau tahu kan bagaimana ibu? Dia memiliki seribu cara untuk membuat keinginannya terwujud." Ucap Chanyeol sambil memakai sabuk pengamannya. Baekhyun mencibir dan menoleh kearah jendela, memikirkan tentang dirinya yang akan berada di kediaman keluarga Park 3 hari dua malam.

"Oppa seharusnya bersyukur karena oppa tidak perlu meminta izin pada atasan oppa, sementara aku dan Chanyeol oppa harus mendapatkan omelan dan tentu saja jatah cuti kami berkurang." Baekhyun menghela nafas dan kembali menoleh kearah jendela.

"Ini hari penting mereka, tentu aku harus datang. Dan kau Baek, jangan memasang wajah seperti itu! Klienmu tak akan pergi hanya karena kau libur tiga hari, lagipula ada anak buahmu kan?"

"Ya, Ya, Ya. Aku mengerti," sahut Baekhyun malas.

..

.

Rumah keluarga Park bukanlah rumah yang mewah, namun rumah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas itu termasuk rumah yang cukup nyaman untuk dihuni selain juga karena kehangatan di dalamnya.

Baekhyun tersenyum senang dan segera memeluk tubuh Bibi Park ketika wanita itu membukakan pintu.

"Astaga, putra kecilku. Lihat, kau bertambah kurus saja, pasti makanmu kurang baik kan?" omel Bibi Park sambil membawa Baekhyun masuk ke dalam rumah, dan sesekali mengelus kepala Hani yang mengekor dibelakang. Sementara Chanyeol terlihat kesusahan menurunkan beberapa barang mereka.

"Mungkin hanya perasaan,eomma. Aku makan dengan baik, tanyakan saja pada menantu eomma ini." Bibi Park menoleh dan memeluk Hani sejenak, sebelum akhirnya meneliti tubuh gadis itu juga.

"Kau juga bertambah kurus, apa Chanyeol tidak memasakan kalian dengan benar?" Chanyeol yang baru memasuki ruang tengah menaikkan kedua alisnya bingung.

"Chanyeol, apa kau membiarkan mereka kelaparan? Kenapa tidak membuatkan masakan yang enak-enak untuk mereka, dan bagaimana bisa kau membuat putra kecil Ibu ini jatuh sakit?" Chanyeol hanya memutar bola matanya malas dan duduk di sofa disamping Baekhyun, dimana Baekhyun berada diantara pasangan ibu dan anak itu.

Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Baekhyun.

"Putra Ibu ini sangat nakal, asal Ibu tahu." Ucap Chanyeol sambil mendorong kepala Baekhyun ke depan dan Baekhyun merengek sambil memeluk tubuh Bibi Park manja.

"Benarkah? Apa Baekhyunie tidak mau mendengarkan ucapan Chanyeol lagi?" Baekhyun mendengus pelan.

"Chanyeol itu terlalu banyak bicara bu, dia memperlakukanku seperti bocah sekolah dasar, tanyakan saja pada Hani. Iya kan, Hani?" Hani tersenyum canggung dan Bibi Park mengelus kepala gadis itu pelan.

"Kau pasti berat harus tinggal dengan dua lelaki tidak sadar usia ini kan?" Hani hanya memperlihatkan deretan giginya, tidak memiliki jawaban atas pertanyaan ibu mertuanya.

"Ayah!" Baekhyun memekik ketika melihat sosok berkemeja biru tua memasuki ruang tengah, ia bangkit dan segera berlari untuk memeluk sosok tua itu. Chanyeol yang melihat itu segera bergeser dan memeluk ibunya manja.

"Lihat bu, siapa yang telah bertemu dengan pembelanya." Adu Chanyeol seperti anak kecil, Nyonya Park menggeleng pelan dan menatap senang kearah Baekhyun yang bergelayut manja di lengan suaminya.

"Aku pikir hari ini tak pernah datang, melihat kau berada dirumah ini, dasar tuan sok sibuk." Baekhyun mengerucutkan bibirnya mendapat cubitan kecil dari Tuan Park.

"Ayah tahu sendiri bahwa aku memiliki karir yang cukup baik saat ini, aku tak ingin kerja kerasku sia-sia, Yah." Sosok itu tertawa dan mengusak rambut Baekhyun pelan, lalu melirik kearah Hani yang memberikan hormat kearahnya.

"Oh, menantuku. Senang melihatmu masih bisa tersenyum setelah menghabiskan hidupmu tinggal dengan lelaki merepotkan ini."

"Ayah~" rengek Baekhyun dan seluruh orang disana tertawa.

Keluarga Park adalah keluarga yang sangat ramah pada siapapun, mereka terkenal mudah menerima orang baru itu mengapa baik Baekhyun maupun Hani selalu merasa senang tiap kali berada diantara kedua pasangan suami istri itu.

Pertama kali Baekhyun menginjakan kaki dirumah itu adalah ketika Chanyeol mengajaknya untuk mengerjakan tugas bersama. Sebuah takdir membuat kedua kubu bermusuhan itu menjadi satu kelompok dan karena nilai kelompok memberikan kontribusi terbesar dalam nilai akhir semester mereka untuk itu Chanyeol yang merasa amat sangat sial harus membuat aturan agar Baekhyun selalu datang setiap kali mereka mengadakan kerja kelompok.

Waktu berjalan seiring dengan status permusuhan mereka yang berangsur menjadi sebuah perteman, persahabatan dan berakhir dengan kekasih. Rumah itu telah menjadi saksi biksu bagaimana cinta terlarang itu tumbuh diantara dua insan sejenis yang tak bisa mengelak sebesar apa mereka menolak.

Kamar Chanyeol tidak terlalu luas, namun di kamar bercat biru muda itu banyak kenangan yang terjadi. Bagaimana Baekhyun dan Chanyeol tumbuh bersama, berbagi segala keluh kesah dan juga berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama.

"Mengingat masa lalu?" Baekhyun menoleh ketika suara Chanyeol menyapa indera pendengarannya, ia yang sedang termenung seketika tersadar dan segera menarik tas hitamnya masuk.

Chanyeol tersenyum sambil membawa tas berisi pakaian Baekhyun untuk masuk ke dalam, meletakannya disamping lemari tuanya.

"Siapa bilang? Kau mengejutkanku, Park." ucap Baekhyun sambil meletakkan tasnya di atas meja belajar Chanyeol.

"Lalu kenapa kau terkejut? Jangan mengelak Nyonya Park."

"Yak! Tutup mulutmu!" bentak Baekhyun sambil mendudukan dirinya di ujung ranjang dan menatap Chanyeol yang memasukan beberapa pakaian bawaaan Baekhyun ke dalam lemarinya.

"Buat aku!" yang lebih tinggi berucap sambil berjalan mendekat kearah Baekhyun, Baekhyun hanya menyeringai sambil menyilangkan kedua kakinya, dan Chanyeol menganggap itu sebagai sebuah tantangan.

Baekhyun memperhatikan bagaimana tubuh tegap itu berjalan kearahnya sambil memasang wajah menggoda yang terkesan begitu nakal, dan Baekhyun sama sekali tak terkejut akan itu.

"Oppa~" Keduanya menoleh dan tersenyum kearah Hani yang terlihat kesulitan menarik koper kecilnya. Melihat kedua oppa kesayangannya gadis itu memilih mengabaikan kopernya dan ikut bergabung.

"Aku selalu suka aroma kamar ini. Aku yakin ini aroma Chanyeol oppa ketika masih remaja kan?" ucapnya sambil berbaring diatas kasur. Baekhyun menoleh dan mengelus kaki terjuntai Hani.

"Chanyeol itu tipe lelaki yang sangat bersih, dia bahkan memiliki banyak koleksi parfum dilemarinya, dia itu seperti wanita." Ucap Baekhyun sambil melirik Chanyeol yang kembali memasukan pakaian miliknya ke dalam lemari.

"Apa itu benar Chanyeol oppa?" tanya Hani yang telah membalik tubuhnya, dimana ia tengkurap dan menggunakan kedua tangannya sebagai topangan dagunya.

"Kau percaya ucapannya? Asal kau tahu Baekhyun itu dulu yang paling tergila-gila dengan aromaku, bahkan keringatku."

"Benarkah?" Hani menoleh kearah Baekhyun dan Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan sebuah senyuman.

"Dia akan mengelak tentu saja." Ucap Chanyeol yang telah selesai memasukan pakaian Baekhyun, lalu berjalan mendekat kearah dua orang diatas ranjangnya. Langkahnya sangat dekat, hingga kedua ujung kaki miliknya dan milik Baekhyun saling menyentuh, lalu yang lebih tinggi menundukan wajahnya dan Baekhyun sedikit mendongak.

"Nyonya Park ini yang paling pandai mengelak sejak dulu." Chanyeol menyeringai setelah menyentil kening Baekhyun, lalu berpindah ke Hani dan mengusak pucuk kepala gadis yang sempat terdiam itu.

"Nyonya Park?" gumam Hani pelan dan sontak membuat dua orang lainnya menoleh.

"Bukankah Baekhyun lebih pantas disebut Nyonya? Dia cantik seperti seorang wanita kan? Dan secara tak langsung marganya tentu berganti Park karena Ibu dan Ayah menganggapnya sebagai anak." Baekhyun menendang kaki Chanyeol seiring dengan dirinya yang bangkit sementara Hani hanya mengangguk pelan dengan sorot mata yang berbeda.

"Ya, Baekhyun oppa itu cantik."

"Jangan termakan omongannya Hani-ah, Chanyeol itu idiot." Ucap Baekhyun yang kini berdiri di depan meja belajar Chanyeol sambil memeriksa ponselnya.

"Aku mau membersihkan diri, sebaiknya kalian ke kamar kalian saja! Dan Tuan Park terima kasih untuk jasa service mu." Ucap Baekhyun sambil memaksa tubuh kedua pasangan itu meninggalkan kamar yang akan ia tempati.

Setelah pintu tertutup dan terdengar gerutuan Chanyeol diluar sana Baekhyun hanya tersenyum, menyapu pandangannya pada seluruh ruangan lalu senyumnya melebar mengingat potongan demi potongan kenangan yang mereka lalui disana.

..

.

Ketika Baekhyun menuruni anak tangga , samar-samar ia mendengar suara Chanyeol dan Tuan Park. Ia berjalan mendekat menuju ruang tengah dan mendapati empat sosok dewasa disana sedang duduk diatas sofa sambil bercakap-cakap.

Baekhyun tanpa sadar tersenyum melihat dua orang yang sudah ia anggap sebagai orangtua kandungnya itu tertawa dengan kerutan menghiasi wajah mereka, sementara sedikit hatinya merasakan sesak melihat sepasang suami istri lain yang duduk berdekatan dengan sang istri yang bersandar manja.

"Kapan aku akan menggendong cucu? Kalian sungguh tega, Ibu sungguh tidak sabar." Langkah Baekhyun terhenti, senyumannya seketika memudar. Ia tidak tahu apa yang membuatnya kecewa, namun ada sebuah rasa perasaan kesal dan marah yang muncul, tapi Byun Baekhyun sudah terbiasa dengan itu, ia sudah terbiasa memakai topengnya dengan sangat professional.

"Kami baru saja menikah, bagaimana mungkin kami sudah memiliki anak?" suara Chanyeol terdengar seolah keberatan dan disana Baekhyun melihat wajah kecewa Hani yang menatap suaminya. Meski Baekhyun seorang laki-laki, ia tahu seperti apa rasa kecewa yang muncul dalam diri gadis cantik itu.

"Apanya yang baru? Kalian ini sudah menikah setahun lamanya." Suara Nyonya Park lagi-lagi terdengar, Baekhyun pun tak menyalahkan keinginan menggebu-gebu wanita paruh baya itu, dan karena alasan itu pula Baekhyun memilih mundur dari hubungannya dengan Chanyeol.

"Ah, Ibu seperti tak tahu saja. Mereka ini selalu bertingkah seperti pengantin baru." Suara Baekhyun membuat keempat orang lainnya menoleh dan menyambut dengan senyuman, namun tidak untuk Chanyeol yang hanya menatap dalam kearahnya.

Baekhyun sedikit menyeringai kearah kekasih gelapnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk disamping sang ayah dan memeluk tubuh paruh baya itu dengan manja.

"Benarkah?"

"Iya, Yah. Mereka ini selalu berlovey-dovey, seperti love bird." Ejek Baekhyun membuat tiga orang lainnya tertawa. Tuan Park memeluk Baekhyun erat dan mengelus kepala itu dengan sayang.

Selama percakapan Chanyeol selalu memperhatikan Baekhyun yang duduk disofa di seberangnya, memperhatikan bagaimana wajah cantik itu tersenyum ketika ibu dan ayahnya memperlakukannya seperti anak kecil dan seberapa menggemaskannya sosok mungil itu ketika melakukan aegyo untuk mendapatkan perhatian kedua orangtuanya.

"Oppa?" Chanyeol tersadar ketika Hani menggetarkan pundaknya dan memandang kearahnya dengan mata besarnya. Chanyeol menoleh dan tersenyum cepat menutupi rasa gugupnya.

"Ya?"

"Bolehkah aku ikut Ibu ke pasar tradisional sore ini?" Tanya gadis itu sambil menunggu jawaban dari suaminya. Chanyeol mengangguk pelan dan mengelus rambut sang istri.

Baekhyun tersenyum di tempat, lalu kemudian bangkit dengan sedikit helaan nafas panjang dan meregangkan tubuhnya.

"Baiklah, ayo kita berangkat!" Chanyeol mengernyit.

"Kemana?" tanyanya membuat Baekhyun memutar tubuhnya malas.

"Otakmu pasti sedang berada jauh dari tempat ini ketika kami membahas itu tadi, aku, Ibu dan Hani akan berbelanja ke pasar tradisional, kami akan masak besar. Iya kan Bu?" Nyonya Park mengangguk dan segera bangkit untuk menyiapkan diri.

"Hani, ambil jaketmu!" perintah Nyonya Park sambil berjalan meninggalkan ruang tengah yang disusul oleh Hani. Tuan Park pun segera bangkit dan berjalan ke lemari di dekat dinding.

"Chanyeol bagaimana bila kita bermain catur sambil menunggu para wanita berbelanja?"

"AYAAH~" Rengek Baekhyun kesal sambil hendak berjalan kearah sang ayah dan mencubit perut besarnya, namun sebelum itu terjadi Chanyeol menahan tangan Baekhyun dan menariknya.

"Aku akan mengantar para tuan puteri ini, Appa. Aku tak ingin Tuan Putri yang satu ini tersesat di pasar."

"Apa? Tidak! Aku ini sudah besar, Park." Protes Baekhyun namun tangannya sudah ditarik oleh Chanyeol menuju keluar rumah, sementara Tuan Park yang sudah memegang papan caturnya hanya bisa menghela nafas sambil menggeleng pelan.

….

"Baekhyun!"

"Baekhyun!"

Panggilan itu membuat orang-orang disekitar mereka menoleh. Pasar tradisional adalah satu dari beberapa tempat umum terpadat yang ada, dan itulah yang membuat Chanyeol semakin khawatir karena sosok mungil yang berjalan disampingnya beberapa detik lalu menghilang begitu saja.

"Dimana dia Chanyeol?" Nada Nyonya Park terdengar sangat cemas, wanita itu hanya bisa meremas daftar belanjanya dengan wajah nyaris menangis.

Baekhyun sudah berusia 18 tahun , tapi tetap saja tubuhnya yang mungil membuatnya dengan mudah tertelan oleh keramaian pasar. Chanyeol bersyukur tubuhnya terlahir jangkung, namun tak juga cukup membantu meski ia sudah berjinjit untuk mencari si sosok berjaket biru muda.

Suara bising membuat Chanyeol tak mampu mendengar dengan jelas suara Baekhyun, ia mengumpat membuat sang ibu memarahinya berulang kali dan kembali kedua orang itu dibuat panik ketika mendengar suara keributan yang dihasilkan oleh beberapa pembeli yang bertengkar.

"Baekhyunie!" Panggil Chanyeol lagi sambil berlari memecah keramaian meninggalkan ibunya yang masih kebingungan.

Jika tahu Baekhyun akan hilang semudah bocah 5 tahun, Chanyeol tak akan membiarkan sang ibu mengajak sosok mungil itu ketempat yang sangat ramai seperti tempatnya sekarang.

Dan, Chanyeol tak akan segan-segan untuk menggenggam tangan mungil itu dan membawanya kemana pun ia pergi. Chanyeol berdoa di dalam hati, berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada sosok yang diam-diam ia cintai itu.

"Baekhyun!" Chanyeol berteriak sangat keras membuat hampir semua orang menoleh termasuk sosok berjaket biru yang sedang berjongkok di depan sebuah ember sambil memasukan jemarinya takut-takut kesana.

"Chanyeol?"

"Kau!" Chanyeol memekik, menarik paksa tubuh kecil itu untuk berdiri, menggetarkannya kuat hingga membuat Baekhyun meringis.

"Apa-apaan? Sakit Chanyeol." Ucap Baekhyun kesal, tapi kekesalan Chanyeol jauh lebih tinggi.

"MAKANYA JANGAN PERGI SEENAKNYA! KAU PUNYA MULUT! KAU BISA MENGATAKAN PADAKU KEMANA KAU AKAN PERGI!" Teriakan Chanyeol nyatanya membuat Baekhyun malu, ia melihat sekitar yang menatap kearah mereka dengan tatapan aneh. Baekhyun memukul perut Chanyeol, lalu melenggang dengan wajah kesal.

"HEI! SIALAN!" Panggil Chanyeol, namun diabaikan oleh Baekhyun yang masih merasa kesal.

"Baekhyunie!"

"Ibu!" Baekhyun segera memeluk Nyonya Park dan wanita itu terus menyebut nama Tuhan sebagai wujud rasa syukurnya.

"Lain kali jangan berjalan jauh-jauh dariku mengerti?"

"Ya, Bu."

….

Chanyeol melirik tangan mungil yang ia genggam, dan semakin mengeratkan genggamannya ketika sosok itu meronta ingin melepaskan diri.

"Aku bukan anak kecil, Chanyeol."

"Diam, dan ikuti aku!" ucap Chanyeol sambil kembali menghadap kedepan dimana ibu dan istrinya sedang berjalan bergandengan tangan. Baekhyun mencibir kesal sambil membuang wajahnya tak ingin menatap Chanyeol.

"Wah, lihat!" Langkah Chanyeol terhenti ketika pijakan Baekhyun melekat pada tanah. Ia menoleh dan mendapati sosok itu sedang menatap hewan-hewan laut di dalam ember dan akuarium.

"Tch! Seseorang yang baru saja berkata dirinya bukan anak kecil, terpesona hanya karena melihat ikan. Sebenarnya berapa umurmu, Byun?" Senyum Baekhyun lenyap tergantikan oleh wajah kesalnya.

"Ajushi, apa akuarium ini tidak terlalu kecil untuk mereka?" Chanyeol memutar bola matanya malas, Baekhyun itu sebenarnya sangat kekanak-kanakan.

"Jika tidak mau beli sana pergi, jangan urusi cara berdagangku." Usir pria gendut itu, Baekhyun mengerutkan bibirnya dengan kening mengernyit. Chanyeol yang melihat itu mendelik.

"Berikan aku dua kilogram!" ucap Chanyeol dingin, pedagang itu mengangguk cepat dan segera menyiapkannya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan satu alis terangkat.

"Ish, memangnya kau tahu bisa dijadikan apa ikan ini?" protes Baekhyun sambil mengangkat kantung berisi ikan ditangannya ketika mereka kembali melanjutkan perjalanan.

"Tidak. Aku pikir jika membeli beberapa maka akan ada cukup ruang untuk ikan yang lain." Baekhyun memutar tubuhnya dan menatap Chanyeol kesal, tidak habis pikir dengan keidiotan sosok itu.

"Apa kau bodoh? Lalu akan kita apakan ikan ini? Astaga Park, kau sungguh idiot."

"Memangnya siapa yang tadi memasang wajah cemberut seperti ini hah?" ucap Chanyeol sambil meniru ekspresi wajah cemberut Baekhyun.

"Lalu kenapa? Aku bisa saja memasang ekspresi yang aku mau, tapi kau tak harus melakukan hal bodoh karena itu."

"Sudahlah, lagipula sudah terjadi. Ayo kita kembali berjalan, sepertinya kita telah ketinggalan." Baekhyun menoleh kedepan dan baru menyadari jika Hani dan Ibu Chanyeol tak ada di depan mereka.

Chanyeol tersenyum melihat wajah pasrah Baekhyun, lalu ia mengambil alih kantung itu untuk ia jinjing sementara satu tangan yang lain menggenggam tangan si mungil. Chanyeol merasa bahagia, sudah lama sejak ia dan Baekhyun berkencan di tempat umum, meski saat ini tidak bisa disebut sebagai berkencan, namun ketika bersama si mungil membuat tempat seburuk apapun menjadi indah untuknya.

"Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan?"

Chanyeol segera meraih ponsel di dalam sakunya ketika benda itu berdering, dan tetap kembali meraih tangan Baekhyun untuk ia genggam.

"Oh, Iya Bu. Tidak, dia bersamaku saat ini. Oh baiklah, baik…baik.. jaga Hani untukku,Bu." Ucap Chanyeol sebelum akhirnya mematikan ponselnya. Baekhyun menatap Chanyeol menuntut dan pria itu hanya tersenyum sambil menarik tangan Baekhyun.

"Yak! Akan kemana kita Park?"

"Ikut aku!"

Baekhyun menghempaskan tangannya ketika mereka sampai di parkiran, namun Chanyeol hanya membiarkan sosok itu marah dan mengumpat tentang dirinya yang batal menikmati berbelanja di pasar tradisional.

Chanyeol meletakkan kantung berisi ikan itu di bagasi mobil, lalu ia segera menarik yang lebih pendek untuk masuk. Keduanya telah duduk di kursi penumpang bagian belakang , dengan Baekhyun yang berada di dalam pelukan Chanyeol.

"Kita memiliki waktu setidaknya 30 menit sebelum mereka kembali." Ucap Chanyeol sambil melihat jam tangannya.

"Jangan gila, Park!" Chanyeol tak menjawab dan malah memeluk tubuh Baekhyun dari arah belakang, menghirup nafas panjang sambil tersenyum senang.

"Aku sungguh merindukan waktu berharga kita, Baek." Baekhyun yang hendak protes akhirnya terdiam, ia membiarkan dirinya dipeluk oleh yang lebih tinggi.

"Aku juga." Chanyeol menyeringai penuh kemenangan ketika sosok sok tegar di depannya akhirnya mengaku.

"Ah, sayang. Seandainya aku bisa melakukan ini setiap saat denganmu." Baekhyun menggigit bibirnya, topik ini selalu membuat pertahanannya runtuh. Ia remas tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya, lalu menyandarkan kepalanya.

"Yeol?"

"Hm?"

"Apa kau sungguh tak ingin memberikan Ibu cucu?" Chanyeol menggeleng pelan dan Baekhyun dapat merasakan pergerakan itu di pundak kanannya.

"Kenapa?"

"Aku sudah pernah menjawabnya kan?"

"Tidakkah kau ingin melihat Ibu dan Ayah senang?"

"Cucu tak menjadi tolak ukur kesenangan seseorang. Jangan berlebihan, jika aku memiliki anak perhatianku akan terbagi, aku tak ingin menyakitimu lebih dari ini." Baekhyun terdiam, Chanyeol benar, dengan pernikahan yang Chanyeol lakukan sudah membuat setengah hati Baekhyun tersakiti.

"Aku tak akan tersakiti Chanyeol, mungkin aku akan menjadi yang paling senang karena telah menjadi paman."

"Tidak. Jawabanku masih sama. Aku mengenalmu dengan baik Byun, aku tahu orang seperti apa dirimu. Jadi jangan meminta hal yang aneh-aneh padaku!" Baekhyun memilih bungkam tak ingin menyulut emosi kekasihnya. Baekhyun tersenyum, ia merasa senang, ternyata Chanyeol masih sangat memikirkan tentang perasaannya. Tidakkah dia begitu egois?

Baekhyun menoleh, lalu menarik tengkuk Chanyeol membuat keduanya bibir itu saling bertautan. Lumatan demi lumatan lembut berubah semakin menuntut. Tangan besar Chanyeol telah menyusup ke dalam pakaian Baekhyun, membuat yang lebih pendek mendesah dalam ciumannya.

Mungkin mereka gila, mungkin mereka buta akan cinta, tapi itulah yang akan terjadi jika dua orang dimabuk asmara dan bercampur nafsu hanya berada berdua dalam suasana yang mendukung, seperti sebuah pepatah kuno yang berkata 'jika dua orang berada dalam tempat sepi, maka yang ketiga adalah setan'.

..

.

Hani tersenyum ketika melihat mobil suaminya dari jauh, ia mempercepat langkahnya sambil mengelap keringat yang memenuhi dahinya. Menjinjing kantung-kantung belanjaan ditangan kurusnya, membuat bayangan akan berada di dalam mobil yang ber-AC membuat senyumannya semakin lebar.

Ketika ia membuka pintu hal pertama yang ia dapati adalah aroma aneh di dalam mobil serta dua orang yang sedang duduk di tempat mereka. Chanyeol di depan kemudi, dan Baekhyun di kursi belakang penumpang bersandar di jendela dengan mata tertutup.

"Sudah selesai?" tanya Chanyeol dan gadis itu mengangguk. Chanyeol segera berjalan keluar untuk membantu istri dan ibunya memasukan belanjaan ke dalam mobil.

"Ah, akhirnya. Uhm, bau apa ini?" tanya Hani yang sudah mengambil duduk di bangku belakang disamping Baekhyun, sementara Nyonya Park duduk di kursi penumpang di depan.

Baekhyun berdeham sambil membuang pandangannya keluar jendela, serta menaikan kerah jaketnya untuk menutupi noda di lehernya.

"Oh, mungkin ikan yang kami beli." Sahut Chanyeol yang sibuk menyalakan mobil.

"kalian membeli ikan?"

"Ya, Ibu. Baekhyun pelakunya, dia kasihan melihat ikan di dalam akurium berdesakan, jadi ia membeli untuk mengurangi kapasitasnya."

"Yak! Enak saja melimpahkan keidiotanmu padaku." Ucap Baekhyun sambil menendang kursi Chanyeol. Hani yang menoleh mengernyitkan keningnya ketika melihat cairan di sekitar kaki jenjang Baekhyun.

"Oppa, apa itu?" Hani segera menyentuh cairan itu dan Baekhyun seketika menegang.

"Iuh, lendir apa ini?" tanya Hani sambil segera mengelap tanganya di kaos yang ia kenakan.

"Pasti ikan yang tadi dibawa Baekhyun, dia memang sangat ceroboh dan berantakan." Baekhyun tak bisa kesal kali ini atas ejekan Chanyeol karena itu sangat membantu, yang harus ia kesali adalah sperma Chanyeol yang meleleh di kakinya yang lolos dari usapan tisu yang Chanyeol gunakan untuk membersihkan kakinya tadi, atau mungkin Chanyeol memang sengaja melakukannya.

"Memangnya ikan apa yang kalian beli?" tanya Nyonya Park membuat keduanya terdiam.

..

.

Ketika mereka tiba dirumah, Baekhyun segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya dan juga mengganti bajunya dengan kerah yang lebih tinggi baru setelahnya ia kembali bergabung.

Saat memasuki dapur hal pertama yang ia dengar adalah pertengkaran antara ibu dan anak tunggal Park itu yang membahas tentang ikan yang Chanyeol beli. Nyonya Park bilang ikan itu adalah ikan mahal dan cara mengolahnya pun cukup sulit, sementara dirinya sendiri bahkan tak tahu harus diapakan ikan itu.

"Ibu, cari saja resep masakannya di Internet!" usul Baekhyun yang baru bergabung ke dalam dapur sambil menatap Chanyeol tajam, sementara lelaki itu hanya menggaruk belakang kepalanya.

"Itu akan memakan waktu, sementara acara kita akan dimulai nanti malam." Ucap Nyonya Park sambil mengeluarkan seluruh belanjaannya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu terus menggerutu atas kebodohan putra semata wayangnya.

"Ya sudah biar aku yang kerjakan." Ucap Baekhyun sambil mengambil alih kantung platik ikan yang tergelatak di atas meja, membuat yang lainnya menatap penuh kebingungan.

"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Chanyeol ragu.

"Memeliharanya. "

"Apa?" Chanyeol memekik lalu menarik paksa kantung ditangan Baekhyun, dan detik berikutnya menarik tangan Baekhyun untuk berjalan meninggalkan dapur.

"Aku dan Baekhyun akan mengurus ini." Ucap Chanyeol sambil tetap berlalu menuju halaman belakang.

"Apa yang akan kita lakukan memangnya?" tanya Baekhyun dengan kedua tangan disilangkan menatap kearah Chanyeol yang nampak berjalan menuju gudang berdinding kayu di dalam halaman tersebut.

"Yak!" kesal Baekhyun sambil mengikuti Chanyeol menuju ke dalam gudang dan bersandar di pintu kayu berdebu itu dengan mata tetap mengawasi pergerakan Chanyeol yang nampak mencari-cari sesuatu.

"Chanyeol aku bertanya!" yang lebih pendek menghentakan kakinya ke belakang membuat pintu dibelakangnya tertubruk keras, Chanyeol menoleh dan menatap tajam Baekhyun namun tak membuat yang lebih pendek merasa takut.

"Memanggangnya. Memangnya apa yang bisa dilakukan lagi?"

"Kejam!" gerutu Baekhyun sambil hendak berbalik membiarkan Chanyeol yang kesusahan membawa pemanggang dengan kedua tangannya.

"Memangnya kau pikir ini ulah siapa hah?" Ucapan Chanyeol membuat Baekhyun meringis keras karena tubuhnya sengaja ditabrak dari belakang.

"Kau menyalahkanku? Memangnya siapa yang dengan bodoh membeli semua ikan-ikan itu?" tunjuk Baekhyun pada kantung ikan yang tergeletak di atas rumput, Chanyeol tak memperdulikan Baekhyun, lelaki itu tetap melanjutkan pekerjaannya karena meladeni Baekhyun hanya akan membuat semuanya berantakan.

"Ambilkan pematik api!" Baekhyun yang duduk dengan kaki disilangkan dan kedua tangan terlipat di depan dada menoleh dengan mata mendelik.

"Kau baru saja memerintahku?" Chanyeol bangkit, menatap Baekhyun dalam dengan senyum jahilnya membuat yang lebih pendek memundurkan kepalanya kebelakang dengan waspada.

"Apa baby boy-ku ini ingin daddy-nya bersikap lebih kasar hah?" Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol yang berada di dagunya, lalu bangkit dengan wajah kesal, Chanyeol tertawa penuh kemenangan dan kembali melanjutkan pekerjaanya.

Sebenarnya ancaman Chanyeol bukanlah apa-apa dan sama sekali tak membuatnya takut, namun ia khawatir jika interaksi itu akan menimbulkan kecurigaan dari kedua orangtua Chanyeol.

Untuk itu ia lebih memilih mengalah daripada membiarkan Chanyeol lepas kendali dan berakhir dengan menciumnya di halaman belakang rumah, apalagi antara dapur dan belakang rumah hanya dibatasi oleh sebuah kaca besar yang memungkinkan orang rumah melihat apa yang mereka lakukan diluar.

Baekhyun mendesah lega ketika melihat dua orang wanita yang ia kenal sedang berada di dapur dan nampak begitu sibuk, sementara Tuan Park duduk di depan televisi sambil memilah dasi yang akan ia gunakan untuk acara ulang tahun pernikahan mereka.

"Ibu_"

"Apa kehidupan seks kalian baik-baik saja?" langkah Baekhyun terhenti ketika mendengar suara Nyonya Park yang tertangkap inderanya. Ia memilih urung untuk masuk ke dalam dapur dan bersandar pada dinding yang mampu menyembunyikan wajahnya.

"Huh?" Baekhyun dapat melihat wajah terkejut Hani, pastilah wanita itu merasa terkejut dengan topic seputar urusan ranjang yang terkesan begitu privasi.

"Apa kalian sering melakukannya?" Hani menelan ludahnya susah dan Baekhyun merasa iba padanya. Hani menghela nafas sejenak dan kemudian mengangguk.

"Lu-lumayan Ibu, tapi tidak terlalu sering." Nyonya Park mengangguk sambil tetap melajutkan pekerjaannya mencuci beras membelakangi Hani yang nampak terdiam.

"Hmm.. ini aneh, seharusnya kalian sudah memiliki anak kan? Apa kalian sudah memeriksakannya? Apa rahimmu sehat?" Pisau di tangan Hani terhenti dan wajahnya menunjukan sebuah rasa kecewa yang besar. Baekhyun memperhatikannya dan lagi-lagi perasaan iba itu muncul.

"I-iya Bu." Helaan nafas Nyonya Park terdengar dan Baekhyun yakin itu membunuh mental Hani secara tak langsung.

"Seberapa sering kalian melakukannya?"

"Huh?" lagi wajah terkejut Hani tertangkap oleh mata Baekhyun yang masih mengintip di balik dinding. Gadis itu mengeratkan jemarinya di celemek yang ia kenakan dan wajahnya semakin tertunduk.

"Aku tak yakin, mungkin dua bulan sekali?"

"Apa?" Nyonya Park memekik menatap tak percaya pada gadis di depannya. Hani menundukan wajahnya dalam dan lagi Nyonya Park menggeleng.

"Itu namanya tidak sering, setidaknya seminggu tiga kali atau mungkin setiap hari. Hah, ini pasti karena kalian berdua sama-sama sibuk, Jika begini mungkin hingga seluruh rambutku memutih aku tak akan memiliki cucu. Hani-ah, rayulah Chanyeol agar kalian lebih rutin melakukannya." Hani mengangguk ragu dan kembali tertuju pada pisau di tangannya.

Baekhyun merasakan kesedihan itu, dan ia tahu apa yang Hani pikirkan. Pastilah berat untuknya harus menanggung amanat sang mertua sementara suaminya sendiri tidak ingin memilikinya, bahkan Chanyeol tak pernah mau mengeluarkan spermanya di dalam rahim Hani, itu mengapa hingga saat ini mereka tak juga memiliki anak.

Suasana begitu sunyi, Baekhyun merasa sudah saatnya ia keluar dari persembunyian, namun tiba-tiba Hani kembali mengeluarkan suaranya membuat langkah Baekhyun terhenti.

"Ibu, seberapa dekat Baekhyun oppa dan Chanyeol oppa?" Tawa Nyonya Park mencairkan suasana yang sempat tegang tadi.

"Mereka itu sudah seperti kembar, hingga aku berpikir mungkin sebenarnya anakku kembar, tapi melihat Baekhyun begitu imut yang berbanding terbalik dengan Chanyeol, aku mengurungkan angan itu." Hani mengangguk pelan.

"Mereka sangat dekat, Chanyeol bahkan menangis ketika Baekhyun terserang demam dulu. Chanyeol itu anak tunggal, ia terbiasa mendapatkan semua kemauannya dan tak pernah tahu caranya berbagi, namun ketika Baekhyun datang dia mampu memposisikan dirinya sebagai seorang kakak. Meski usia mereka sebaya , tapi kau jangan salah, Chanyeol begitu menyukai perannya sebagai seorang kakak. Kau bisa melihatnya bukan?" Hani mengangguk lagi, namun kini tatapanya menunjukan sebuah keraguan, entah apa yang berada dalam benaknya Baekhyun tak tahu.

"Aku senang dengan kehadiran Baekhyun dikeluarga kami, meski kami tak memiliki ikatan darah namun aku merasa ikatan kami begitu kuat. Mungkin dia adalah anak yang Tuhan kirimkan untukku, anak perempuan yang selalu aku nanti."

"Anak perempuan?"

"Ya, dulu saat Chanyeol berusia tiga tahun aku hamil anak kedua dan Dokter mendiagnosanya adalah perempuan, aku sangat senang sekali namun Tuhan berkata lain, ia diambil bahkan ketika ia masih berbentuk gumpalan darah dan setelah itu rahimku harus diangkat." Hani tersentak begitu juga dengan Baekhyun, namun keduanya memilih terdiam.

"Untuk itu kehadiran Baekhyun aku anggap sebagai hadiah dari Tuhan dalam keluarga kami. Tidakkah dia cantik dan menggemaskan seperti perempuan? Dia Baekhyunie kami." Hani terkekeh pelan dan Nyonya Park ikut tertawa sambil memasukan cucian berasnya ke dalam rice cooker.

"Nah, disini kau rupanya hah? Ingin kabur?" Baekhyun terlonjak ketika kemunculan Chanyeol dibelakangnya secara tiba-tiba.

"Isssh! Diam!"

"Apa yang kau lak_ hmpppttt…" Baekhyun menutup mulut Chanyeol dan membawa keduanya keluar dari persembunyian dimana kedua wanita yang lain menatap mereka dengan mata membulat.

"Kau ini, sudah mau kabur dari tanggung jawab sekarang_aaakhh!" Chanyeol memegang kakinya yang diinjak oleh Baekhyun, sementara sang pelaku telah berlari kearah Nyonya Park dan bersembunyi dibaliknya sambil memeluk tubuh wanita yang ia sayangi itu.

"Ibu~ Chanyeol nakal!"

"Kalian ini, memangnya berapa umur kalian? Dan kau Chanyeol, apa tidak malu pada istrimu?" Chanyeol menoleh kearah Hani sejenak namun kembali mencoba menangkap tubuh Baekhyun yang terus menghindar.

"Aku menyuruhnya mengambil pematik api tapi ia tak kunjung datang."

"Perutku sakit, jadi aku_"

"Alasan, kau pasti sengaja kan?"

"Sudah-sudah hentikan!" Baekhyun mengambil pematik dibelakangnya lalu berlari meninggalkan ruang dapur membuat Chanyeol mengejarnya.

"Ckckck! Lihat sendiri kan Hani-ah?" Hani hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.

..

.

Pukul enam sore, Baekhyun telah bersiap di depan cerminnya dengan pakaian semi formal yang ia kenakan. Sebuah sweater merah mudah bergaris coklat dan jeans hitam panjang yang membalut kaki rampingnya.

"Fyyuuhh" Baekhyun menoleh untuk mendapati Chanyeol bersandar diambang pintu dengan kedua tangan terlipat dan mata yang menatap lekat kearahnya. Baekhyun akui Chanyeol terlihat tampan dengan hanya mengenakan kemeja hitam yang dimasukan dan lengan yang digulung keatas, serta celana hitam kain yang begitu pas dengan kaki panjangnya.

Chanyeol melangkah mendekat setelah menutup pintu dan memeluk tubuh Baekhyun dari belakang.

"Kenapa kekasihku ini selalu cantik hah?"

"Koreksi, aku tampan Sir." Ucap Baekhyun yang menghiraukan tangan Chanyeol yang mengelus perutnya sementara ia sendiri sedang sibuk menata rambutnya.

"Turunkan, kau lebih cantik berponi."

"Tidak mauuuuhhh…." Baekhyun menggeliat ketika Chanyeol menjilat lehernya dengan begitu seduktif. Baekhyun kembali menata rambutnya ketika bibir-bibir Chanyeol mengecup sepanjang permukaan lehernya.

"Turunkan atau aku akan meninggalkan gigitan disini." Baekhyun menghela nafas dan akhirnya menyisir rambutnya turun dengan bibir dimajukan ke depan.

"Nah, begitu lebih baik."

"Baekhyunie, Chanyeolie?" Keduanya menoleh ketika mendengar suara panggilan sang ibu. Baekhyun mendorong Chanyeol dan segera melenggang meninggalkan kamar remaja Chanyeol.

Ketika mereka menuruni anak tangga, beberapa tamu undangan telah datang dan Baekhyun memekik ketika melihat sepupu Chanyeol disana serta Paman dan Bibi Kim.

"Ah, Paman, bibi." Ucap Baekhyun sambil memeluk dua sosok paruh baya yang berdiri di ruang tengah.

"Aigoo, Baekhyun kesayangan kita." Ucap Bibi Kim yang langsung memeluk Baekhyun dengan sayang. Baekhyun tersenyum dan segera menyiku sepupu Chanyeol, Kim Minseok yang nampak menggeleng melihat sifat kekanakan Baekhyun.

"Apa kabar hyung?"

"Cukup baik. Kau terlihat lebih tinggi dari terakhir kuingat." Baekhyun menepuk dadanya dengan bangga, namun senggolan Chanyeol membuat ia meringis.

"Itu karena hak di dalam sepatunya." Baekhyun menggeram kesal dan Paman Kim nampak menyukai interaksi mereka. Tawa terdengar dari keluarga Kim dan Park, hingga Paman Kim mengernyit.

"Chanyeol, dimana menantuku?" seketika Chanyeol teringat, ia menoleh kearah tangga dan ia tersenyum menemukan Hani dengan gaun merah selututnya yang berjalan menuruni tangga.

"Itu!" tunjuk Chanyeol sambil berjalan menghampiri istrinya dan memberikan tangannya. Keduanya mendapat tepukan yang meriah dan memuji betapa serasinya kedua pasangan itu.

Baekhyun yang awalnya ikut tersenyum mendadak senyumannya lenyap, tergantikan oleh tatapan menerawang pada dua sosok di depannya. Baekhyun menerka, jika itu dirinya yang berjalan bersama Chanyeol dengan saling bergandengan mesra apa mereka masih akan mendapat tepukan meriah dan pujian-pujian indah, atau malah mendapat hinaan dan cacian?

Dan pikiran-pikiran itu membawanya pada suasana hati yang buruk, terutama ketika mengingat ucapan Ibu Chanyeol pada Hani didapur siang tadi.

Minseok yang menoleh dan menyadari perubahan wajah Baekhyun menghela nafas sejenak lalu memeluk lengan Baekhyun membuat yang lebih muda tersentak.

"Apa kau sempat menghubungi Luhan dan Kris?" tanya Minseok sambil membawa Baekhyun menjauh dari sepasang suami istri itu. Baekhyun tersenyum dan segera menggeleng pelan.

"Aku bahkan tak sempat melakukannya. Mungkin mereka datang, aku yakin sekali." Ucap Baekhyun lagi sambil mengambil sebuah kue dari atas meja. Tak lama suara pintu kembali terdengar dan beberapa kerabat dan tetangga mereka berdatangan.

Sebuah pesta taman telah siap saat waktu menunjukan pukul 08.30 malam, dimana rumah keluarga Park mendadak menjadi ramai oleh berbagai kalangan usia. Baekhyun sibuk berbincang dengan sepupu-sepupu Chanyeol dan juga kerabat lamanya dengan mata yang sesekali melirik pada Chanyeol dan Hani yang nampak sibuk dengan pujian dari para tamu.

Baekhyun merendahkan arah pandangnya ketika sebuah sensasi dingin mengenai permukaan pipinya membuat ia tersentak dan menoleh kesal. Disana sosok tinggi menjulang tersenyum lebar.

"Kejutan." Baekhyun berdecih dan hendak mencubit perut kakak sepupu Chanyeol itu.

"Kris hyung, kau sungguh keterlaluan." Kesal Baekhyun sambil berpura-pura marah. Kris tertawa terpingkal dan kemudian mengusak rambut Baekhyun.

"Lama tidak melihatmu, kau ternyata tak juga tumbuh."

"Sialan! Sekali lagi kau mengatakan itu aku akan membunuhmu, oh..dimana Jessica noona?" tanya Baekhyun dan Kris hanya mencibikan bibirnya pelan.

"Kau tahu sendiri betapa sibuknya dia, design baru akan meluncur segera." Baekhyun mengangguk paham akan kesibukan kakak iparnya itu, lalu kemudian kembali menoleh pada sosok yang lebih tinggi.

" Lalu bagaimana dengan Luhan?" tanya Baekhyun sambil mengedarkan pandangannya.

"Kau akan segera mengetahuinya."

"PAMAN! BIBIIII!" suara nyaring itu membuat semua orang menoleh, di depan sana seorang pria berkemeja putih dengan celana kain coklat berdiri di pintu masuk dan membawa sebuah kotak hadiah yang begitu besar.

"SELAMAT ULANGTAHUN PERNIKAHAN KALIAN." Teriaknya lagi dengan heboh membuat beberapa tamu undangan terpingkal.

"Oh, Luhan ku." Nyonya Park mendekat dan memeluk Luhan dengan begitu penuh kerinduan. Setelahnya keadaan kembali membaik.

Baekhyun tersenyum melihat sosok periang itu, Wu Luhan adalah adik kandung dari Wu Kris saudara sepupu Chanyeol yang berasal dari pihak ibu, dimana kakak perempuan ibu Chanyeol itu menikahi seorang pengusaha keturunan China.

"Baekhyuniiieee~" Baekhyun menutup matanya ketika mendengar teriakan Luhan, dan belum sempat ia berbalik tubuhnya telah dipeluk dengan erat.

"Aku merindukanmu, merindukanmu." Ucap sosok itu riang sambil menggerak-gerakan tubuh keduanya.

"Iuuh, hentikan! Kalian terlihat seperti pasangan lesbi!" keduanya mendelik dan Kris terpingkal atas ekspresi lucu kedua adik laki-lakinya.

"Kalian datang." Itu suara Chanyeol yang segera bergabung ke dalam forum kecil yang mereka buat. Baekhyun membalik tubuhnya dan tanpa sengaja matanya tertuju pada tangan Hani yang melingkar di lengan Chanyeol.

Baekhyun tak mengerti, biasanya ia tidak seperti ini. Ia adalah tipikal yang tidak suka cemburu, namun malam ini terasa begitu aneh untuknya.

"Wow..woow.. ini dia si pengantin baru kita." Ucap Kris sambil bertingkah heboh, Chanyeol terkekeh pelan sambil menarik tangan Hani dan membuat gadis yang memalu itu berbaur. Baekhyun mundur perlahan, semakin lama semakin mundur ketika merasa bahwa ia tersisihkan oleh yang lain.

"Baekhyun?" Baekhyun tersentak mendapat sebuah tepukan halus di pundaknya.

"Ada apa, Bu?"

"Kemari!" Baekhyun mengikuti sang ibu yang membawanya pada sebuah forum kecil para orangtua dan juga seorang gadis yang berada disana dengan gaun silver selutut miliknya dan rambut hitam panjang yang digerai dengan indah.

"Baekhyun-ah, perkenalkan ini Paman Kim Donghwan dan ini Bibi Song Hyena dan ini putri mereka Kim Hyorin." Baekhyun tersenyum dan memberikan hormat sambil menjabat tangan ketiga orang di depannya.

" Aku Byun Baekhyun." Ucap Baekhyun sopan sambil melirik gadis bertubuh sintal di depannya.

"Baekhyun-ah, Hyorin ini memiliki usaha yang bergerak di bidang merangkai bunga. Sepertinya pekerjaan kalian berdua terlihat cocok." Baekhyun tidak bodoh untuk mengetahui arah pembicaraan ini, hingga tarikan Nyonya Park dan bisikan wanita itu membuat ia mendelik.

"Cobalah saling mengenal, dia gadis yang baik." Baekhyun kemudian tersenyum dan memberikan tangannya pada Hyorin yang hanya terkekeh dengan suara tawanya yang nyaring.

Mereka cukup menjauhkan diri, Baekhyun bungkam sementara Hyorin lebih menyukai melihat orang-orang di dalam pesta.

"Tidak usah dipaksakan!"

"Huh?" Baekhyun menoleh dan mata keduanya bertemu, gadis itu terkikik membuat Baekhyun ikut tersenyum.

"Aku bukan bocah lagi Baekhyun-sshi, jadi aku tahu apa tujuan mereka melakukan ini. Aku tidak sedang terburu-buru untuk menikah, aku lebih mencintai pekerjaanku dan aku lihat kau pun." Baekhyun mengangguk dan perlahan suasana canggung diantara keduanya memudar.

"Ya, kurasa." Sahut Baekhyun sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Aku bukanlah seorang peramal, tapi percaya atau tidak ramalanku tak pernah meleset."

"Huh?" lagi Baekhyun dibuat kebingungan, Hyorin kembali terkekeh melihat ekspresi Baekhyun.

"Mau mencoba?" Baekhyun hanya mengangguk dengan ragu dan Hyorin mendekatkan wajahnya untuk melihat ke dalam mata Baekhyun.

"Kau memiliki sebuah rahasia besar. Rahasia yang membuat dirimu tersakiti. Bukan begitu?" seketika Baekhyun membulatkan matanya dan Hyorin kembali tertawa.

"Nah, aku benar kan?"

"Ba-bagaimana bisa?" Hyorin memutar telunjuknya di depan wajah Baekhyun.

"Semua terbaca dari sini. Dan aku tebak, kau baru saja mengalami patah hati." Lagi Baekhyun dibuat terkejut oleh gadis itu.

"Hahahaha… wajahmu sungguh lucu, aku yakin ramalanku benar." Baekhyun berdeham pelan dan mengalihkan pandangannya.

"Satu lagi dan aku yakin kau akan terkejut."

"Kau sedang menjalin sebuah hubungan, kau sudah memiliki kekasih kan?" Kali ini Baekhyun yang menundukan wajahnya, mengangkatnya sedetik kemudian dan menggeleng dengan sebuah senyuman.

"Tidak, aku belum."

"Benarkah? Apa aku salah? Tapi wajahmu berkata seperti itu." Baekhyun terkekeh dan meminum minumannya.

"Berarti kau bukan peramal yang handal."

"Setidaknya aku menebak benar dua. Berarti sebuah cinta bertepuk sebelah tangan?" kali ini Baekhyun terdiam, ia kembali menatap kearah Hyorin.

"Tepatnya cinta yang tak bisa dimiliki." sahut Baekhyun pelan dengan nada yang terdengar lirih berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang tenang.

"Howaaa, benarkah? Itu terdengar sedikit…errr…"

"Menyedihkan? Ah tidak-tidak sangat menyedihkan." Hyorin menggeleng kepalanya pelan, lalu menepuk pundak Baekhyun.

"Sepertinya itu setara dengan cinta yang tidak direstui." Keduanya saling memandang dalam diam, hingga akhirnya tertawa tanpa mereka tahu apa yang membuat mereka tertawa.

"Para hadirin sekalian." Baekhyun dan Hyorin menatap kearah sebuah podium kecil di sisi halaman, dimana Tuan dan Nyonya Park telah berdiri mesra.

"Terima kasih untuk kedatangan kalian, aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk_" Baekhyun mengalihkan pandangannya dan matanya jatuh pada Chanyeol yang menatap kearah orangtuanya dengan Hani yang masih memeluk lengan Chanyeol.

Baekhyun merasa begitu menyedihkan, bahkan Chanyeol tak mencari keberadaannya. Ia tahu ia tak seharusnya mempermasalahkan hal tersebut, namun melihat bagaimana sepasang suami istri itu membuat hatinya teriris dalam.

Suara keributan kecil terdengar diatas panggung dan disana semua tamu dibuat bingung, ternyata sang pengisi acara berhalangan hadir, dimana seharusnya ada penyanyi lawas yang akan menyanyikan beberapa lagu, namun sang penyanyi terkena sembelit dan tidak bisa menghadiri acara tersebut.

"Baekhyun?" Baekhyun menoleh mendapati Chanyeol mendekat kearahnya dengan wajah panik.

"Ayo kita berduet untuk mengganti si penyanyi! Aku akan bermain gitar, bagaimana jika lagu_"

"Maaf." Tolakan Baekhyun membuat Chanyeol terkejut. Baekhyun memundurkan langkahnya, suasana hatinya sedang tak baik dan ia takut akan merusak malam indah orangtuanya dan Chanyeol.

"Aku akan bicara denganmu nanti, aku harus menyiapkan perlatan lainnya." Ucap Chanyeol dengan wajah seriusnya. Hyorin yang menatap punggung Chanyeol yang menjauh langsung menoleh kearah Baekhyun yang nampak tidak bersinar seperti tadi, gadis itu mendekat dan berbisik pada Baekhyun.

Baekhyun mengernyit dan menggeleng pelan, namun tarikan tangan Hyorin membuat Baekhyun hanya bisa pasrah mengikutinya.

"Hei, pinjamkan aku gitarmu!" ucap Hyorin pada Chanyeol yang sedang menyetel gitar akustiknya. Chanyeol melirik Baekhyun dengan wajah datar, lalu kemudian memberikannya pada Hyorin.

"Selamat malam para undangan, sebelumnya mari kita ucapkan selamat pada Paman dan Bibi Park yang terlihat begitu mesra bahkan diusia pernikahan mereka yang menginjak 30 tahun." Suara tepuk tangan memenuhi halaman belakang keluarga Park.

"Kami tidak menyiapkan banyak, namun kami akan mempersembahkan lagu yang begitu menggambarkan perasaan kami berdua malam ini, bukan begitu Baekhyun shi?" Baekhyun tersentak dan hanya tersenyum pelan, matanya tak sengaja bertemu dengan Chanyeol yang nampak tidak menyukai penampilan yang akan ia persembahkan.

Jreeng.

Petikan gitar terdengar sebagai pembuka, Hyorin yang duduk disebuah kursi berfokus pada kunci gitarnya sementara Baekhyun yang semula berdiri segera mengambil duduk dikursi yang disediakan.

Jantungnya berdetak begitu kencang, mereka melakukannya secara spontan dan tanpa latihan sebelumnya, hanya sebuah harmonisasi diawal tadi dan itu sangatlah tidak cukup.

Jreeng

Kembali suara petikan gitar terdengar dan Hyorin melirik Baekhyun.

So they say that time, takes away the pain

( Jadi mereka berkata bahwa waktu akan menghilangkan rasa sakit )

Hyorin sempat terkejut dengan suara merdu Baekhyun, meskipun sedikit bergetar namun suara itu begitu indah. Beberapa tamu terpukau mendengarnya dan para sepupu Chanyeol merendahkan arah pandang mereka. Menatap iba pada rerumputan dibawah kaki mereka.

But I'm still the same…

( Tapi aku masihlah sama )

And they say that I, will find another you

( Dan mereka pun berkata bahwa aku akan menemukan kau yang lain )

That can't be true

( Itu tidaklah benar )

Chanyeol tersentak mendengar bait per bait yang Baekhyun nyanyikan, ia tahu bahwa Baekhyun menyanyikannya dengan penuh perasaan, lagu itu adalah sebuah lagu kenangan untuk keduanya.

Why didn't I realize?

( Mengapa tak kusadari? )

Why did I tell lies?

( Mengapa aku berbohong? )

I wish that I could do it again

(Aku harap bahwa aku bisa melakukannya lagi )

Turnin' back the time

( Memutar kembali waktu )

Back when you were mine…all mine

( Kembali pada saat dimana kau menjadi milikku, seluruhnya adalah milikku )

Kini mata Baekhyun terangkat dan jatuh tepat kearah Chanyeol, seolah ada sebuah penghubung kedua pasang manik itu, tak ingin melepas kontak satu sama lain. Chanyeol dapat melihat mata Baekhyun yang berkaca-kaca, namun berusaha sosok itu tahan. Chanyeol tak tahu apa yang membuat Baekhyun mendadak menjadi seperti ini, namun ia tahu bahwa Baekhyun-nya sedang berusaha sok tegar.

So this is heartache

( Jadi inilah sakit hati?)

Hiroi atsume koukai wa, Namida e to kawari baby

( Penyesalan yang berubah menjadi air mata, sayang )

Beberapa tamu saling pandang ketika menyadari arti lirik dari lagu tersebut, sementara Nyonya dan Tuan Park saling memeluk dan menatap Baekhyun iba. Hyorin tersenyum miris melihat betapa menghayati Baekhyun akan lagu yang ia bawakan. Jemari lentik itu setia memetik senar gitar mengiringi suara merdua lelaki yang duduk disampingnya sambil menatap lurus ke depan, Baekhyun yakin itu adalah sebuah objek salah satu dari para tamu yang hadir.

So this is heartache

( Jadi inilah sakit hati?)

Ano hi no kimi no eiga wa, Omoide ni kawaru

(Senyumanmu pada saat itu kini berubah, hanya menjadi sebuah kenangan)

I miss you

( Aku merindukanmu )

Mata keduanya masih saling menatap satu sama lain, Baekhyun tahu ia terlihat begitu cengeng malam ini, tidak seperti dirinya yang berkedok tegar di depan semua orang. Tapi Baekhyun tak bisa mengelak, ia sungguh-sungguh hanya ingin melepaskan seluruh bebannya malam ini.

Boku no kokoro o Yuitsu mitashite satte yuku Okimi ga

( Hanya dirimu yang dapat mengisi hatiku namun kau tak lagi disisiku )

Boku no kokoro ni Yuitsu furerareru koto ga dekita kimi wa

( Hanya dirimu satu-satunya yang bisa menyentuh hatiku yang terdalam )

Oh baby

( Oh sayang )

Luhan terdiam di tempat, bukan terpukau namun lebih kepada merasakan sakit hati yang dirasakan Baekhyun. Minseok pun sama, ia sangat mengerti tentang apa yang sedang terjadi namun ia memilih untuk bungkam, sementara Kris meski tak tahu masalah yang terjadi, namun ia tahu bahwa Baekhyun begitu mendalami lagu yang sedang ia bawakan.

It's so hard to forget, Kataku musunda sono musubime wa

( Sangat sulit untuk dilupakan, kenangan itu mengikatku dengan begitu erat )

It's so hard to forget, Tsuyoku hikeba hiku hodo ni

( Sangat sulit untuk dilupakan, ketika semakin kuat kuingin melenyapkannya )

Chanyeol meremas tangannya kuat dan rahangnya mengeras melihat wajah terluka Baekhyun di depan sana, ia paling benci ketika Baekhyun harus berpura-pura kuat dan bersembunyi dibalik senyum 'baik-baik saja' nya.

So this is heartache

( Jadi inilah sakit hati?)

Ano hi no kimi no eiga wa, Omoide ni kawaru ?

(Senyumanmu pada saat itu kini telah berubah menjadi sebuah kenangan, bisakah kita menjadi kita yang dulu? )

Because I miss you

( Karena aku begitu merindukanmu )

Dan petikan gitar itu menjadi penutup lagu yang Baekhyun nyanyikan. Baekhyun menurunkan mikrofon yang ia pegang, dan keadaan cukup sepi hingga akhirnya tepukan penonton menjadi ramai.

Hyorin bangkit dan membungkukan tubuhnya, sambil menyiku Baekhyun agar segera tersadar.

"Ah, Ibu, Ayah aku menyanyikan lagu ini bukan karena aku ingin malam ini menjadi malam sendu, lagu ini menceritakan seseorang yang merasa sakit hati dan ingin mengulang kembali waktu." Ucap Baekhyun sambil tersenyum.

"Aku ingin memutar kembali waktu ketika kalian benar-benar menjadi milikku dan aku pun menjadi milik kalian seutuhnya. Di hari ini aku menyadari jika waktu terus berjalan, jika pada saatnya semua akan memiliki kehidupan mereka masing-masing, mungkin…" Baekhyun menahan air matanya dan ia kembali tersenyum lebar.

"mungkin aku pun, dan karena itu aku ingin waktu diulang dimasa dimana kita masih memiliki satu sama lain." Bohong Baekhyun. Hyorin terkekeh pelan melihat betapa hebatnya sosok mungil disampingnya untuk bersandiwara.

"Selamat ulangtahun pernikahan. Maaf tidak bisa menjadi anak yang baik untuk kalian." Baekhyun pada akhirnya mengusap air matanya yang terjatuh dan berlari kearah kedua orangtuanya yang segera memeluknya erat.

"Baekhyunie, kau membuat Ibu menangis." Baekhyun memeluk kedua sosok itu semakin erat dan suasana itu menjadi pemandangan haru dari yang lainnya. Hingga suara dengung mikrofon membuat ketiganya menoleh.

Di depan sana Chanyeol duduk dengan gitarnya dan sedang mengatur standing mic untuk dirinya. Baekhyun mengernyit dan merasakan wajah kesal Chanyeol, ia tahu bahwa Chanyeolnya sedang marah karena lagu yang ia bawakan tadi.

"Aku harap lagu ini bisa menggambarkan perasaanku saat ini. I love you." Ucap Chanyeol seolah pada tamu undangan namun matanya jatuh pada sosok Baekhyun yang terpaku ditempatnya.

I'm telling you, I'm softly whisper… tonight…tonight

( Ku katakan padamu, kubisikan dengan lembut…malam ini )

Suara berat Chanyeol begitu menghipnotis pendengaran para tamu undangan, suara berat yang begitu serasi dengan petikan gitar miliknya.

You are my angel

( Kaulah malaikatku )

Aishiteru yo, Futari wa hitotsu ni…tonight…tonight

( Aku mencintaimu, kau dan aku, kita berdua menjadi satu… malam ini )

I just to say…

( Aku hanya ingin mengatakan…)

Chanyeol mengunci pandangannya dengan Baekhyun, alih-alih menatap kearah orangtuanya, mata itu senantiasa menatap penuh pada sosok mungil dengan hidung memerah yang berdiri diantara kedua orangtuanya.

Wherever you are, I'll always make you smile

( Dimanapun kau berada, aku akan selalu membuatmu tersenyum )

Wherever you are, I'm always by your side

( Dimanapun kau berada, aku akan selalu disisimu )

Whatever you say, kimi wo omou kimochi

( Apapun yang kau katakan, aku selalu merasakan yang sama sepertimu )

I promise you "forever" right now

( Aku berjanji padamu "selamanya" mulai saat ini )

Sebuah tusukan tak kasat mata seolah menusuk dada Baekhyun, ia ingin menangis, ingin sekali berlari pada sosok di depannya dan memeluk tubuh tinggi itu dengan erat, namun sayang suasana tak mendukung mereka.

I don't need a reason, I just want you baby

( Aku tak membutuhkan alasan, Aku hanya menginginkan dirimu )

Alright? … alright? Day after day

(Mengerti? , Hari demi hari)

Kono saki nagai koto zutto, Douka konna boku to zutto

( Dari sekarang, itulah jalan panjang untuk kita berdua, Tetaplah mencintaiku seperti ini )

Shinu made… Stay with me… We carry on…

( Sampai kita mati…Tetap bersamakuakan kita lakukan )

Kenangan demi kenangan mulai berputar diingatan keduanya, hari-hari yang mereka lalui dulu dengan begitu indah dan hanya dipenuhi oleh cinta, hanya dipenuhi oleh dua insan yang saling jatuh cinta.

Wherever you are, I'll never make you cry again

( Dimanapun kau berada, Aku tidak akan membuatmu menangis lagi )

Wherever you are, I'll never say goodbye

( Dimanapun kau berada, Aku tidak akan pernah mengatakan selamat tinggal)

Whatever you say, kimi wo omou kimochi (i always feel the same to you)

( Apapun yang kau katakan, aku selalu merasakan yang sama sepertimu )

I promise you "forever" right now

( Aku berjanji padamu "selamanya" mulai saat ini )

Chanyeol pernah berjanji dulu, bahwa ia tak akan pernah membuat Baekhyun menangis dan sosok itu menepatinya, hanya saja Baekhyun yang terlalu cengeng untuk menangis tapi siapa yang bisa disalahkan atas posisi dan kondisi mereka sekarang? Pikiran itu membuat Baekhyun terisak.

Bokura ga deatta hi wa futari

( Hari saat kita pertama bertemu )

ni totte ichiban me no kinen no subeki hi da ne

( adalah hari paling berkesan dalam hidupku, meski tak seromantis kisah dongeng )

Soshite kyou to iu hi wa

(Hari ini adalah saat berharga bagi kita)

futari ni totte niban me no kinen no subeki hi da ne

( Meski bukan hari peringatan yang special untuk kita )

Chanyeol tersenyum lembut kearah kedua orangtuanya, membuat semuanya terlihat samar namun setelahnya kembali mengunci tatapan Baekhyun. Sosok mungil itu terlihat begitu rapuh, ingin sekali Chanyeol berlari untuk memeluknya, mencium setiap inci tubuhnya dan membawa keduanya dalam sebuah kehangatan.

Kokoro kara aiseru hito, Kokoro kara itoshii hito

(Kau satu-satunya orang yang membuatku tergila-gila, Satu-satunya yang sangat aku cintai)

Kono boku no ai no mannaka ni wa itsumo, kimi ga iru kara

( Di dalam pusat cintaku, Ini semua hanya tentangmu )

Wherever you are, I'll always make you smile

( Dimanapun kau berada, aku akan selalu membuatmu tersenyum)

Wherever you are, I'm always by your side

( Dimanapun kau berada, aku akan selalu disisimu )

Whatever you say, kimi wo omou kimochi

( Apapun yang kau katakan, aku selalu merasakan yang sama sepertimu )

I promise you "forever" right now…. Please don't go

(Aku berjanji padamu "selamanya" mulai saat ini… tolong jangan pergi )

Kontak mata itu terputus dan Baekhyun mengelap air matanya dengan cepat, Chanyeol menghela nafas dan tersenyum atas tepuk tangan dari para undangan. Ia bangkit, meletakkan gitarnya dan berjalan menghampiri tiga orang di depannya.

Baekhyun menegang karena mata Chanyeol tertuju kearahnya, dan sebelum Baekhyun tersadar tubuh Chanyeol telah memeluk dan memerangkap tubuhnya. Tangan Chanyeol memeluk tubuh kedua orangtuanya, namun tubuhnya melekat pada tubuh Baekhyun.

Baekhyun tersenyum kecil dan memeluk pinggang Chanyeol membuat sosok tinggi itu tersenyum.

"Aku mencintai kalian." Ucap Chanyeol, lalu kemudian merendahkan kepalanya mencari telinga Baekhyun.

"Dan akan selalu mencintaimu." Sebuah kecupan kilat tahunya telah mendarat dipipi Baekhyun, dan Chanyeol begitu hebat untuk tak membuat orang lain menyadarinya bahkan orangtuanya.

Suara tepuk tangan kembali terdengar dan setelahnya Luhan berdiri di podium sambil mengusap matanya yang memerah.

"Kita hentikan acara menangis ini karena demi apapun ini membuat riasanku rusak." Tawa para undangan terdengar begitu keras atas kelucuan Luhan.

"Baiklah, kita keacara inti, paman, bibi mari potong kue kalian!" Ucap Luhan. Tuan dan Nyonya Park terkekeh, melepas pelukan mereka dan berjalan kearah Luhan dimana sebuah kue bertingkat telah dibawa masuk oleh Kris.

Para undangan merapat untuk melihat acara semakin jelas. Hani hendak menghampiri Chanyeol namun tubuhnya terdorong oleh para undangan membuatnya terperangkap pada posisi paling depan.

Baekhyun hendak melangkah, namun Chanyeol menahan tangannya, perlahan sosok tinggi itu menariknya dan menyelinap diantara para tamu yang mulai merapat.

Mereka masuk ke dalam gudang kayu di sudut halaman, Chanyeol menguncinya dan mendorong tubuh keduanya semakin merapat.

"Chanyeol…"

"Ssstt!" Chanyeol meletakkan telunjuknya di bibir Baekhyun.

"Aku ingin marah, sangat ingin marah padamu. Kenapa kau kembali meragukan perasaanku?" ucap Chanyeol berbisik dengan suara beratnya.

"Aku…" suara Baekhyun tercekat, ia menunduk dalam dan Chanyeol tak tega melihatnya, jemari besarnya menarik dagu Baekhyun lalu menyatukan bibir mereka. Lumatan itu perlahan semakin menuntut hingga libido keduanya meningkat dengan sangat drastis.

Gesekan-gesekan dari tubuh keduanya menciptakan sensasi yang membakar hasrat mereka, Baekhyun meremas rambut Chanyeol, sementara Chanyeol menahan tengkuk Baekhyun dan menyedot bibir itu dengan begitu keras.

Baekhyun menggeliat dan hanya bisa membalas ciuman maut Chanyeol dengan tenaga tersisa.

Cppkhh..

Pemisahan bibir keduanya menciptakan suara yang begitu sensual, benang saliva menjadi jembatan antara kedua bibir membengkak itu. Chanyeol menyatukan kedua dahi mereka, dengan tangan meremas pipi Baekhyun dan nafas terengah.

"Jangan pernah, jangan pernah berkata kau akan meninggalkanku, sayang!" ucap Chanyeol dan menghujani bibir Baekhyun dengan kecupan mesra.

"Jangan pernah berpikir bahwa aku bisa melepaskanmu, bahwa aku bisa hidup tanpamu." Baekhyun menangguk dan air matanya kembali jatuh.

"Baekhyunie, selamanya…selamanya hanya kau yang ada dihatiku. Jika pun saat ini kau memintaku untuk mengatakan pada semua orang tentang hubungan kita akan kulakukan.." Baekhyun menggeleng berulang kali, namun suaranya masih sulit keluar karena deru nafas mereka.

"Jangan…jangan lakukan itu Chanyeol, Ibu, Ayah_"

"Aku tak peduli jika aku harus menjadi anak durhaka untuk bisa menjadikanmu milikku seutuhnya."

PROK PROK PROK

Tepukan tangan terdengar begitu ramai diluar sana, dan disusul dengan suara kembang api yang begitu meriah. Baekhyun hendak bicara namun Chanyeol mendorong tubuh itu semakin menghimpit dinding dan menyesap bibir membengkak itu lagi, lebih dalam.

Keduanya terhanyut dalam sebuah nafsu dan cinta yang melebur menjadi satu, Baekhyun membiarkan lehernya dijamah oleh bibir Chanyeol, sementara tangannya sendiri telah berada pada kejantanan milik Chanyeol.

Mereka gila, mereka tahu itu dan mereka tak peduli. Rasa itu begitu kuat, rasa yang sangat mendominasi perasaan keduanya, rasa ingin memiliki dan tak ingin terpisah. Chanyeol mengangkat sweater Baekhyun, dan menyesap puting menengang itu membuat Baekhyun mendesah, ia hanya pasrah dan membantu dengan pijatan-pijatan kecil pada milik Chanyeol.

"Chanyeolll…" Baekhyun melenguh dan Chanyeol kembali menyerang bibir itu dengan ganas.

Suara keributan dari kembang api dan hasrat menggebu keduanya membuat mereka tidak menyadari jika perlahan sebuah sepatu berhak menapak semakin dekat, begitu dekat dan perlahan dengan sedikit ragu mendorong pintu kayu itu untuk terbuka.

Cukup gelap namun cahaya bulan yang menjadi satu-satunya penerang mampu menerangi wajah dua lelaki yang sedang bercumbu itu membuat si sosok wanita terdiam di tempat.

"Kalian_"

Chanyeol dan Baekhyun menoleh dan membulatkan matanya pada sosok yang kini menatap mereka dengan wajah terkejut.

..

.

TBC

..

.

Recommended song :

Baekhyun's part : One Ok Rock _ Heartache

Chanyeol's part : One Ok Rock _ Wherever you are

.

Siapakah sosok itu?

Hani

Minseok dengan high heels

Luhan dengan high heels

Kris dengan sepatunya karena high heels 'it's not my style'

Sooman numpang lewat

Yang jawab bener dapet kecupan dari Om Sooman yang jawab salah berjodoh sama Lee Sooman, wkwkkwkwk...

Terima kasih untuk semua readers yang udah membaca, memfolow dan memfavorit kan ff ini, aku cuma gak nyangka ternyata ada juga yang berminat sama ff abal-abal ini. Sekali lagi terima kasih banyak ya.. Jaga kesehatan selalu dan Salam Chanbaek is real, see you in the next chapter.