Batas cinta...
.
.
.
"Hen... hentikan... apa salahku?" Lirih kepala keluarga Haruno yang sedang merangkak menjauhinya. Sasuke hanya memandang datar pria yang tengah sekarat itu. Sasuke tak begitu tahu dan peduli pada salah dan dosa seseorang. Dia hanya menjalankan pekerjaannya. Seorang pembunuh dari organisasi Eraser.
"Kyaaaaa!" Sasuke dan kepala keluarga Haruno terkejut saat mendengar teriakan dari arah depan. Siapapun itu pasti sudah melihat korban pembantaian oleh Sasuke. Ya Sasuke menghabisi seluruh penghuni rumah ini. Dari tuan rumah sampai para pelayan dan security. Pembantaian seluruh penghuni rumah adalah permintaan klien. Eraser selalu melakukan pembunuhan sesuai cara yang di minta klien mereka.
Jleb. Sasuke menikam jantung kepala keluarga Haruno. Setelah memastikan pria di depannya tak bernyawa, dengan tenang Sasuke berjalan ke arah depan. Dari tangga dia bisa melihat seorang gadis yang terduduk dengan raut shock. Gadis itu dengan gemetar berusaha meredam tangisnya.
Tep. Sasuke berhenti tepat di depan gadis yang sekarang mendongak menatapnya. Sakura Haruno. Anak dari wanita simpanan kepala keluarga Haruno. Juniornya di kampus. Sasuke sudah meminta pengecualian untuk gadis ini. Gadis yang selalu menjadi pusat perhatiannya sejak setahun yang lalu. Dan kenapa Sakura harus berada di sini saat ini?
"Siapa... Kau?" Ucap Sakura dengan suaranya yang serak dan gemetar setelah mereka cukup lama hanya saling tatap.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Sasuke yang mengenakan pakaian tertutup berwarna hitam dan penutup wajah melangkah meninggalkan Sakura. Dia tak ingin melihat Sakura yang terlihat menyedihkan seperti ini. Tak ada yang bisa di lakukannya untuk gadis itu. Tanpa di duganya Sakura berdiri dan menariknya hingga berputar menghadap gadis itu.
"Kau... siapapun kenapa melakukan ini? Apa salah kami? Kau... jahat... kenapa... ini keluargaku... hiks.." Sasuke hanya diam menatap Sakura yang merosot jatuh terduduk setelah lelah memukul-mukul dadanya. Pukulan Sakura bahkan tak sakit, tapi Sasuke merasakan sakit saat melihat Sakura yang menyedihkan seperti ini. Gadis itu meraung menggenggam erat kain bajunya yang mencapai lutut.
Perlahan Sasuke menarik diri meninggalkan Sakura yang masih meraung di sana. Sekali lagi dia menoleh menatap Sakura sebelum benar-benar meninggalkan gadis itu. Yang terpenting Sakura baik-baik saja. Maksud Sasuke tak terluka secara kasat mata. Apapun yang di alami gadis itu hanya akan menjadi kenangan. Sasuke hanya harus memastikan gadis itu masih dalam jangkauannya.
Sebulan setelah kejadian itu Sakura baru bisa masuk kuliah lagi. Tanpa Sasuke sadari senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat Sakura bisa tersenyum lagi, meski tak seceria dulu. Sasuke mengikuti langkah gadis itu menuju perpustakaan. Pria raven itu duduk tenang di salah satu meja dan mengamati Sakura yang sedang sibuk mencari bahan tugasnya.
Hanya seperti itu. Sasuke tak pernah memiliki niat menyapa Sakura. Melihat Sakura dari jauh sudah cukup baginya. Setidaknya sebelum kejadian naas yang membuatnya merasa hampir mati terjadi. Saat itu Sasuke baru keluar dari kelas. Dia tak bisa menemukan Sakura di manapun. Saat mendengar jika Sakura sudah pulang, Sasuke bergegas kerumah Sakura untuk memastikan jika Sakura benar-benar sudah pulang.
Sayangnya emosi Sasuke tak bisa terkendali saat melihat Sakura setengah telanjang di atas ranjangnya bersama kekasihnya. Ya, Sasuke tahu jika Sakura berpacaran dengan pria itu. Tapi Sasuke membiarkannya selagi tak ada sentuhan berlebihan yang terjadi. Dan keadaan ini membuatnya ingin membunuh pria itu sekarang juga. Sasuke melakukannya.
"Kyaaaaa!" Kedua kalinya Sasuke mendengar jeritan ngeri Sakura saat melihatnya menghilangkan nyawa kekasih gadis itu.
Tanpa sadar Sasuke sudah mendobrak jendela kamar Sakura dan memuntahkan timah panas yang mengenai kepala jantung dan perut pria yang tak sempat melakukan apapun. Sasuke menatap datar Sakura yang gemetaran. Lagi-lagi Sasuke melihat gadis itu dalam keadaan yang menyedihkan. Kali ini Sakurapun melihatnya. Mengenalinya.
"Hah... senpai... ap... apa yang..."
"Kau milikku Sakura. Tak akan ku biarkan siapapun menyentuhmu." Sasuke melangkah pelan mendekati Sakura yang meringkuk menutupi tubuhnya dengan selimut di sudut ranjang.
"Sen... senpai..." Sasuke membelai lembut wajah Sakura yang basah karna air mata.
"Dengan begini kau akan menjadi satu-satunya tersangka pembunuhan. Kau tak memiliki pilihan lain selain bersamaku Sakura." Sasuke meraih tubuh Sakura dan membawanya pergi meninggalkan rumah gadis itu. Seberapapun Sakura menjerit dan memberontak, Sasuke bukan seseorang yang bisa di hadapinya.
Sakura terkulai lelah. Membiarkan dirinya di bawa ke apartemen pria mengerikan di matanya. Pria yang merenggut nyawa kekasihnya. Pikiran gadis itu seolah tak waras setelah menyaksikan dua pembunuhan sadis secara live.
"Aku mencintaimu." Sasuke mengecup pipi Sakura yang meringkuk di ranjangnya. Ini hari ke sepuluh gadis itu berada di tempatnya. Sangat sulit membuat Sakura bergerak dari ranjang. Sasuke bahkan memandikan gadis itu dan menyuapinya makan dengan paksa. Sakura selalu menjadi pemberontak yang membuat Sasuke tersenyum geli. Dia senang memiliki kegiatan lain selain membunuh.
Sasuke menikmati waktunya bersama Sakuranya. Entah saat gadis itu sedang menjadi patung cantik, atau gadis itu meraung histeris. Sasuke menikmati saat Sakura terisak lelah dalam pelukannya. Sasuke dengan keegoisannya memaksa Sakura menerima kondisinya sekarang. Hidup bersama seorang pembunuh uang begitu mencintainya.
Bagian favorit pria itu adalah kini dia selalu tidur dengan memeluk tubuh Sakura. Gadis yang di pujanya bak dewi. Gadis yang di jadikannya buronan polisi dengan tuduhan pembunuhan. Sasuke senang Sakura tak memiliki pilihan lain karna tahu situasinya.
"Senpai..." Ini pertama kalinya Sakura mengeluarkan suara selain berteriak dan memaki dirinya setelah nyaris tiga bulan mereka tinggal bersama.
"Hm?" Sahut Sasuke dengan senyuman. Dia membuatkan Sakura steak untuk makan malam ini. Gadis itu tak bisa kemanapun. Setidaknya Sasuke harus membuatkannya makanan ala restoran sesekali.
"Senpai tidak bosan?" Ucap Sakura sembari mengunyah daging di mulutnya dengan lesu.
"Tidak."
"Apa?" Sakura meletakkan garpunya dengan kasar di meja. Membuat Sasuke mengernyit. "Aku nyaris mati bosan selalu berada di rumah ini. Kau tau, warna kulitku nyaris seperti mayat karna tak pernah keluar. Ini sama saja seperti di penjara." Jerit Sakura kesal.
"Tak ada penjara yang begitu memanjakanmu Sakura." Ucap Sasuke kalem menatap tepat ke emerald yang selalu menatap nyalang ke arahnya. "Baiklah. Apa yang kau inginkan?" Tanya Sasuke lembut.
"Aku ingin keluar. Jalan-jalan." Sahut Sakura mantap. Sasuke hanya tersenyum menatap Sakura. Gadis itu mungkin mulai lelah menjadi pemberontak. Karna beberapa minggu ini dia mulai bersikap lebih baik. Dan Sasuke menunggu kabar baik saat Sakura benar-benar menyerahkan hatinya. Mencintai Sasuke.
"Baiklah. Pakai baju hangatmu." Lagi-lagi Sasuke tersenyum lembut saat Sakura berlari senang ke kamarnya. Kamar mereka. Sedikitnya Sasuke berpikir kapan saatnya dia bisa melakukan hal yang lebih intim pada Sakuranya. Ya Sakuranya. Sasuke selalu mendapatkan apapun yang di inginkannya.
Jam di tangan Sasuke menunjukkan pukul sebelas malam saat mereka sampai di tengah pusat perbelanjaan. Sebagian besar toko-toko yang berderet di pinggir jalan sudah tutup. Tapi wajah Sakura tetap terlihat senang karna akhirnya bisa melihat pemandangan kota lagi setelah dua bulan lebih berdiam di rumah Sasuke.
Sedangkan Sasuke menikmati momen ini. Di mana mereka bergandengan tangan menyusuri kota. Jangan berpikir Sakura akan kabur darinya. Karna gadis itu menyadari apa yang akan di hadapinya saat memutuskan berlari dari Sasuke.
"Senpai..." Sasuke menoleh kearah gadisnya yang mengkerut dan mengeratkan pegangan di lengannya. Lima bocah mabuk sedang terkikik sembari mengawasi mereka. Sasuke senang saat merasa sangat di butuhkan oleh Sakura seperti ini. Dia akan menjadi apapun yang di butuhkana gadis kesayangannya ini.
"Hei sob, jalan-jalan?" Lima bocah -sebenarnya mereka terlihat seumuran dengan Sasuke- mulai menghalangi langkah Sakura dan Sasuke.
"Minggir." Ucap Sasuke datar sembari sebelah tangannya mendekap Sakura.
"Jangan begitu, kau bisa berbagi kesenangan dengan kami kan?" mereka tertawa sembari menjilat bibir saat menatap Sakura. Tentu saja gadis itu mulai gemetar, jemarinya menggenggam erat pakaian Sasuke. Sementara Sasuke makin mengeratkan pelukannya menenangkan gadis itu. Mana mungkin dia membiarkan hal buruk terjadi pada Sakura.
"Minggir atau ku ledakkan kepala kalian." Sasuke menodongkan desert eagle yang membuat lima orang mabuk itu mundur beberapa langkah.
"Wow... wow... kami hanya bercanda sob. Kau bisa simpan benda itu."
"Sayangnya aku tidak." Dor. Sasuke menembak satu kepala membuat Sakura berteriak histeris dan empat orang lainnya berusaha berlari. Sayangnya Sasuke tak pernah meninggalkan saksi hidup dalam setiap pekerjaannya. Yah, meski ini bukan pekerjaan tapi sama saja. Saksi tak di perlukan. Setelah itu terdengar empat kali suara letusan peluru yang menembus tengkorak kepala empat orang lainnya.
"Hiks.. kenapa senpai melakukannya?" Sasuke menatap emerald basah Sakura.
"Aku tak suka pengganggu Sakura." jemari Sasuke menghapus airmata gadisnya dan mengecup lembut bibirnya lalu membawanya pergi dari tempat itu.
Setelah memastikan Sakura tenang dan tertidur Sasuke bergegas pergi menemui orang itu, pimpinan Eraser yang sejak tadi membuat ponselnya bergetar tanpa henti. Dengan malas Sasuke melangkahkan kakinya memasuki gedung utama milik Eraser.
"Tumben kemari saat dini hari Teme." Sasuke hanya mengedikkan bahu saja menanggapi ucapan Naruto. Temannya sesama alat pembunuh milik Eraser. Seperti biasa, pria itu selalu bersama kekasihnya. Pembunuh yang tak sinkron antara penampilan dan sikap. Siapapun akan melihatnya sebagai wanita anggun nan lembut saat biasa seperti ini. Siapa sangka dialah yang tersadis di antara seluruh pembunuh milik eraser. Hinata Hyuuga.
"Ah kau harus lebih hati-hati menggunakan senjatamu Sasuke-kun. Bertemu pimpinan terdengar sangat menyebalkan."
"Hime-chan. Jangan bicara seperti itu. Kau bisa di mutilasi olehnya." Tegur Naruto.
"Tapi pimpinan memang menyebalkan Naruto-kun. Dia melirikku dengan genit." Sungut Hinata.
"Aku pergi." Ucap Sasuke malas mendengarkan dua orang itu lebih lanjut.
Sasuke mengetuk pintu berukiran katak besar dan masuk setelah mendengar sahutan dari dalam. Sebenarnya ucapan Hinata benar. Bertemu pria tua ini sangat menyebalkan. Sasuke lebih suka bertemu dengan pasangan pembunuh pensiunan nyentrik di ujung negeri daripada bertemu pria ini. Setidaknya dada wanitanya sangat besar.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu kali ini?" Tanya pria itu tanpa basa-basi. Pimpinan Eraser, Jiraiya.
"Tidak."
"Kau..." Jiraiya mengerang sebelum menghela nafas. Tatapan matanya tegas menusuk onix yang justru malas-malasan menatapnya. "Kau sudah melakukan banyak pelanggaran. Jadi katakan, kenapa kau membunuh lima orang mabuk tadi?"
"Kau sudah tahu alasannya."
"Aku ingin dengar dari mulutmu Sasuke Uchiha." Geram Jiraiya.
"Mereka menakuti Sakura." Jawab Sasuke tanpa ragu. Lagi-lagi Jiraiya menghela nafas panjang.
"Kau melakukan pelanggaran lagi. Kau tahu mengecualikan gadis itu dalam pekerjaan sudah merupakan pelanggaran. Jika tahu begini harusnya ku suruh orang lain melakukan tugas pembantaian keluarga Haruno."
"Meski begitu aku akan tetap meminta pengecualian untuk Sakura."
"Kau bukan meminta. Kau mengancam akan membantai keluarga klien bahkan menghancurkan Eraser. Kau gila." Sasuke hanya diam menatap Jiraiya yang terlihat frustasi. Jadi kenapa pimpinan Eraser menganggap ancaman Sasuke serius? Tentu saja karna sepasang pensiunan pembunuh yang kekuatannya tidak ikut pensiun, buronan internasional menjengkelkan, pasangan psikopat yang padahal anggota eraser dan kelompok si gigi runcing juga kelompok awan brengsek akan dengan senang hati mengikuti kemauan bungsu Uchiha ini. Entah apa yang di lakukannya hingga semua orang mengerikan itu menganggap keinginan Sasuke penting. "Jadi apa kau sudah menelanjanginya?"
"Jangan pikirkan apapun tentang Sakuraku." Ucap Sasuke dingin. Jangan pedulikan pisau yang menancap di dinding setelah sedikit menggores wajah Jiraiya. Itu hanya akan membuatmu bergidik. Jiraiya menahan keinginannya mencincang Sasuke. Pria raven itu hanya menurutinya saat di beri perintah membunuh. Di luar itu, nol. Dia tak pernah bisa di atur.
"Oke. Ini terdengar menyebalkan. Semua orang yang mencintaimu menganggap penting sesuatu yang kau anggap penting. Mereka menjaga apa yang kau cintai dan jaga. Jadi benarkah kau mencintainya mengingat kau membuatnya kehilangan semua yang di cintainya. Bahkan kehidupannya."
"Aku mencintainya. Dan dia hanya boleh mencintaiku. Dia hanya boleh bahagia karnaku. Dia hanya boleh membutuhkanku. Aku akan membuatnya seperti itu. Sebatas itulah cintaku."
Sasuke pergi setelah untuk kesekian kalinya Jiraiya mengingatkan agar Sasuke tak membunuh di luar pekerjaan. Atau sekarang bertambah di luar urusan Sakura. Sasuke terdiam menatap Sakura yang terlelap di ranjangnya. Ucapan Jiraiya terngiang kembali. Tapi Sasuke tetap Sasuke. Dia tak bisa lagi berbagi dengan hal yang di sukai Sakura. Sakura hanya boleh untuknya. Sasuke tak akan menyakiti gadis ini. Bahkan Sasuke tak pernah memaksa menelanjangi Sakura selama gadis itu tak menginginkannya. Dia hanya tak bisa berbagi Sakura dengan apapun. Dia tak suka melihat Sakura bahagia selain karna dirinya.
"Aku mengganggu?" Tanya Sasuke lembut saat Sakura membuka matanya. Gadis itu tak menjawab pertanyaannya namun justru merapatkan dirinya ke tubuh Sasuke yang berbaring di sampingnya dan kembali tidur. Dengan lembut pria raven itu mendekap tubuh mungil Sakura. Ini yang di inginkannya. Sakura tak memiliki pilihan lain selain dirinya. Hanya dirinya.
.
.
.
End...
