Ampunilah segala dosaku, semoga karakter yang ternistakan disini masih mau pulang. Amiiin.
Warning : Recehan tanpa makna. Tata bahasa tidak beraturan. Penggambaran karakter sembarangan. Ada Anzu karena Anzu bagian dari Yumenosaki~
Ensemble Stars (c) Happy Elements
.
.
.
4. Permainan Asique
Saat ini para penghuni kelas 3-A sedang berkumpul membentuk lingkaran untuk mencoba permainan yang sedang trend di kalangan anak kekinian. Tadi pagi Kaoru heboh usaha setengah mampus mengajak teman-teman sekelasnya supaya mau mencoba permainan ini.
"Ayo dong main ini, mau pamer cerita ke grup Nax Hitz ni gue!" kata Kaoru. "Ayolah main!"
Eichi yang jarang sekali berkesempatan untuk mencoba permainan masyarakat jelata sangat semangat untuk mencoba. Keito pun ikut sekalian mengawasi, khawatir permainannya macam jelangkung nanti setan di kelasnya nambah jadi empat. Empat kan angka sial, nanti nasib kelasnya makin tidak tertolong.
"Mager, lagi sibuk."
"Halah, cuma stalk line Makoto Yuuki aja bilang sibuk. Di facebook aja lo udah di blokir."
"Bacod ni anoa, " Izumi misuh. "Yaudah gue ikutan tapi kalo gue kalah lo gue santet jomblo selamanya."
"Nah gitu kek daritadi, disantet jomblo ama orang jomblo mah ga ngefek. Chiaki lo ikutan kan?"
Chiaki mengangguk mantap dengan penuh semangat perjuangan, "So pasti la."
"Shu, lo ikutan juga ya. Cuma lo doang soalnya," Kaoru melihat ke arah pemuda berambut gulali. Yang dilihat mengerutkan keningnya, merasa tidak senang harus ikut bermain dengan manusia level bawah.
"Kalo lo main katanya nanti Eichi mau traktirin baksonya Bang Ucup," Chiaki ngasal tapi Eichi mengangguk-angguk saja. Cuma bakso sih dia bisa beliin bareng abangnya sekalian jadi tidak masalah.
"Lo kira bisa nyuap gue pake bakso? Cuih, tidak akan. Bermain bersama kalian itu seperti menyentuh lumut di jalanan, lebih baik aku jauh-jauh." Shu bergidik jijik, "Kecuali yang abu-abu kunyuk itu, dia rumput laut. Rumput laut tidak lurus, dia juga tidak lurus."
Izumi merasa tersinggung, Kaoru gantian memberi tawaran.
"Kalo lo mau ikut nanti Eichi bakal beliin kain sutra terbaik buat baju Mademoiselle."
Shu langsung ikut duduk di antara mereka.
"Jelaskan aturan mainnya."
Gampangan.
Dengan begini semua sudah berhasil dipancing, barulah Kaoru menjelaskan aturan permainannya. Permainan itu bernama "Werewolf". Menjelaskan aturan permainan itu tidaklah mudah terutama karena Kaoru harus meyakinkan Chiaki berkali-kali kalau dia tidak boleh terus-terusan menjadi bodyguard. "Tapi aku harus selalu menjadi orang yang melindungi kalian!" katanya ngotot. Kaoru sih bodo amat.
Setelah hom pim pa ternyata Izumi yang mendapat giliran pertama menjadi moderator, kartu peran pun sudah dibagikan.
"Malam telah tiba, semua warga tidur."
Setelah semua menutup mata, Izumi menyuruh werewolf untuk bangun dan memakan satu orang. Ternyata yang mendapat peran werewolf adalah Shu dan dia memilih untuk makan Keito. Gamau Eichi kemungkinan karena takut makanan haram. Ular kan haram—ini kata Shu.
Werewolf kembali menutup mata, kini giliran seer untuk membuka mata dan memilih satu orang yang dicurigai sebagai werewolf. Jika benar werewolf maka Izumi akan membentuk W dan jika ternyata villager maka dia akan membentuk V dengan jari.
Chiaki bangun sebagai seer, setelah berkeluh kesah karena bukan bodyguard dan berpikir sejenak dia menunjuk Kaoru. Terlintas kenangan komen Kaoru di facebook yang jadi alasan Makoto memblokir akunnya, Izumi mendadak kesal.
Izumi mengacungkan jari tengah.
"WOI JUM, ISYARATNYA SALAH."
"Oiya lupa. Khilaf, mukanya nyebelin sih. Chooooou uzai."
"YAELAH, ULANG-ULANG PERMAINANNYA."
Akhirnya setelah mengulang dari awal sampailah pada tahap mereka harus mengadakan diskusi untuk mencari tau siapa werewolf yang sudah memakan korban jiwa untuk dibakar.
Shu bersikeras kalau Eichi werewolfnya padahal gobloknya jelas-jelas Eichi villager pertama yang dimakan werewolf, "Semua perbuatan jahat pasti dia pelakunya, udahla bakar aja."
Kaoru berpendapat kalau Keito werewolfnya, "Ga ada alasan sih. Pengen aja hehe." Hehe gundulmu.
Sementara Chiaki bersikeras memegang pendapat kalau mereka harus hidup tenang bersama werewolf, jangan ada bakar-bakaran. Seiring waktu si werewolf pasti akan merasakan kehangatan desa sehingga dia bertobat dan tidak akan makan villager lagi. Seorang Chiaki Morisawa percaya pada kekuatan cinta.
"Kebanyakan baca komik lo ah!" moderator geram mendengar alasan para pemain. "Bodo amatlah kalian tentuin aja werewolfnya siapa kek. Kaoru yang ngajak main kok gue yang empet. Gue udahan, mau ngeliat anak kelas 2-A olahraga dulu, bye."
"Ehh belom, gue mau ceritain apa dong ke anak-anak grup."
Keito melihat jam tangannya, "Eichi 5 menit lagi ada rapat OSIS, ayo cepetan."
"Oh iya, kalau begitu kami juga udahan ya." Mereka pun berlalu.
"EHH TUNGGU DULU DONG," Kaoru putus asa. "INI GIMANAA!? PERMAINAN YANG TADI MANA BISA GUE CERITAIN. NGACO SEMUA."
"Jangan lupa kirimin kain-kain sutra terbaik besok," Shu pun ikut pergi. Hanya tinggal Chiaki menepuk-nepuk punggungnya.
"Emang lo sohib gue deh, Chiaki."
"Kalo nanti main lagi gue mau terus jadi boyguardnya ya."
Kaoru nangis, gabakal mau dia ajak temen sekelasnya lagi buat main.
.
.
.
.
.
5. Tragedi Bungkus Lemper
Tsukasa Suou, member termuda Knights baru saja masuk ke studio tempat unitnya latihan dan melihat senior-seniornya sudah lebih dulu berada di sana. Mereka melakukan aktivitasnya masing-masing, memang anggota Knights lebih terpaku pada diri mereka masing-masing walaupun kegiatan yang dilakukan tidak penting. Seperti si gemulai disana yang sedang membetulkan alis contohnya.
Matanya berbinar saat melihat satu-satunya gadis di sekolah mereka juga sudah ada disana sebagai penyegar mata.
"Wahaha, kau terlambat Suou!" Makhluk yang kemarin hampir tewas karena terkena sambit bola kini sedang tengkurap di lantai, mencoret-coret lantai dengan spidolnya sampai Anzu harus menghapusnya berkali-kali.
"Leader, tolong jangan bertingkah seperti bocah. Kasihan onee-sama!"
"Hmm hmm~ Bawel kamu nanti cepet ubanan loh kayak Sena! Wahahah!"
Leo tertawa nyebelin seperti biasa, Izumi yang sedang latihan sendirian merasa tersinggung.
"Tentu saja tidak, aku akan selalu awet muda seperti ini!" Tsukasa sombong. "Penglihatanku juga masih bagus, ya kan onee-sama~? Keluarga Suou sudah diajarkan untuk tidak pernah pilih-pilih makanan. Setiap hari selalu ada wortel di menu makanku supaya mataku sehat."
Anzu hanya balas tersenyum, Izumi masih sensi karena dibilang ubanan.
"Heh," panggil Izumi. "Tau engga? Menurut penelitian terbaru katanya wortel juga bisa menyebabkan kebutaan."
Tsukasa panik, "HAH BENERAN!? EH AKU GATAU, KOK BISA—"
"Iya, kalo dicolok ke mata."
Tsukasa mingkem.
Ritsu yang tadi setengah tidur, sekarang bangun karena merasa kesal sempat mendengarkan.
"Tabok tidak tabok tidak."
"Tampol bego entar kebiasaan," Arashi yang daritadi cuma diam jadi ikut kesal.
Sebagai member termuda dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, meratapi nasib kenapa punya senior seperti ini. Tidak kuat, dia sudah tidak kuat. Di tengah ratapan dia melihat sepiring makanan berwarna hijau yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Rasa penasaran untuk kehidupan kalangan bawah muncul lagi dalam dirinya.
"Wahh, ini apa?"
"Oh, itu lemper," jawab Anzu. "Tadi dapat dari Sagami-sensei. Kiriman kampung katanya."
Tsukasa sempat bertanya-tanya sendiri dimana kampung gurunya itu sampai ada makanan unik seperti ini. Sebagai kaum elit yang menu makan selalu diatur oleh juru masak dan penikmat cemilan rakyat, Tsukasa merasa tergiur untuk mencobanya.
"Aku boleh minta satu?"
"Iya, makan aja gapapa. Emang sengaja dibawa kesini kok."
"Kalau begitu aku makaan~" Tsukasa langsung mengambil satu gigitan tapi kemudian wajahnya berubah getir. "Kok..."
"Loh, kenapa?"
"... Kok pait, " Tsukasa kecewa. "Rasanya kayak makan daun. Ini sejenis salad kah?"
Melihat kebenaran bagaimana cara seorang Suou Tsukasa memakan lemper, Anzu dan seluruh anggota Knights yang lain menahan tawa—kecuali Leo yang tertawa membahana nista tidak tau diri.
"Aku ga akan mau makan ini lagi. Huh, penipuan!"
Di tengah kekecewaan yang menggebu-gebu, Izumi mengambil satu lemper lalu menunjukkan sesuatu di depan Tsukasa sampai membuat mata tuan muda itu terbuka lebar penuh kagum.
Sebuah perbuatan yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya tadi.
Izumi Sena membuka bungkus lempernya.
"Buka dulu bungkusnya goblo."
Mulai sekarang Suou Tsukasa berjanji akan selalu mendahulukan bertanya sebelum memakan makanan rakyat jelata.
.
.
.
.
.
6. Perjalanan Pulang Yang Menyenangkan
Tiga anak berdasi merah yang menandakan kalau mereka masih kelas satu berjalan kaki bersama sepulang sekolah. Diketahui ketiganya adalah member junior di unit Ryuseitai. Menjaga tali silaturahmi sesama manusia itu sangat penting, berkali-kali leader unit mereka memperingati, karena itu Tetora berinisiatif mengajak teman-teman satu angkatannya pulang bersama.
Tapi sumpah demi semua figur power renjer Chiaki, Tetora rasanya ingin lari saja ke ketua eskulnya untuk mensucikan ion-ion negatif dari aura pemuda jangkung di sebelahnya.
"Midori-ssu, "panggilnya mencoba mencari topik. "Kok kamu murung banget sih sepanjang jalan? Madesu gitu mukanya, nanti jadi GGM loh-ssu. Ganteng Ganteng Made-ssu."
Midori menghela napas, "Biarin memang hidupku suram. Masa depanku suram, gelap tanpa cahaya. Uh, aku ingin mati sebelum melihat masa depanku. Bagaimana rupa istriku nanti? Apa aku bahkan bisa menikah? Hidup ini mengerikan sekali, merepotkan. Kenapa aku harus melanjutkan hidup? Jawab aku Tor!"
Tetora yang tadinya cuma niat basa-basi langsung mingkem setelah jadi tempat ratapan nyasar.
Gini loh Midori, anda tau yang namanya jamban? Konon katanya member coretpeliharaancoret unit sebelah meratapi kenajisan leader-nya sambil menerima panggilan alam lalu mendapat wejangan untuk percobaan pembunuhan dengan sinar matahari. Mungkin boleh dicoba.
"Tapi Midori, Tetora cuma nanya kenapa kamu daritadi murung de gozaru," jelas Shinobu. Tetora ingin menangis berterima kasih pada Shinobu.
"Itu... Karena aku merasa seperti raksasa disini. Aku jadi merasa seperti tokoh jahat yang dilawan momotaro, seperti titan yang dilawan meren jeger. Mereka tidak lucu, mereka mengerikan sampai itu membuatku depresi. Kenapa badanku setinggi ini? Haahh... berjalan dengan kalian membuatku serasa lebih tinggi dua kali lipat dan depresiku meningkat 8 kali lipat."
Mendengar penjelasan Midori, Shinobu dan Tetora mendecih jengkel. Belagu dia mentang-mentang tinggi.
"Midori, orang sombong matinya kejang-kejang-ssu," Tetora ngancem.
Midori bernapas lega.
"Asal mati yaudah gpp."
"Orang sombong nanti matinya lama de gozaru."
Midori terkesiap.
"Aku, Takamine Midori, berjanji tidak akan pernah menjadi orang yang sombong."
Udahlah jangan ngomong nih si kipli.
Setelah itu mereka lanjut berjalan dengan tenang tanpa bicara lagi karena selalu ngaco tapi setelah beberapa menit, Tetora yang memang sangat suka ngerocos—mungkin karena ibunya dulu ngidam mercon—mencoba untuk mencari topik lain.
"Sepertinya dari sini aku harus pergi ke rumah sakit-ssu."
"Eh, kamu sakit kah Tor?"
"Mataku..." jawabnya lirih. "Semuanya gelap setiap kali aku menutup mata-ssu!"
"Buka lagi lah bego." Shinobu mendadak keluar dari karakter karena emosi.
Midori mengangguk-angguk, "Kalau aku sih akan berharap supaya mataku tidak bisa terbuka lagi. Kegelapan yang tenang pasti lebih menyenangkan dibanding kehidupan dunia."
Elah onta arab, mulai lagi dia.
"Hmm, mungkin pakai lem super bisa berguna de gozaru!"
"JANGAN MALAH DIKASIH SARAN-SSU."
"Oh benar juga ya, kalau begitu akan segera kucari lem di rumah."
"CUKUP."
Perjalanan pulang bersama rekan satu unitnya ini benar-benar perjalanan pulang yang menyenangkan, begitu banyak hikmah yang bisa dipetik. Terutama jangan coba-coba mengelem kedua kelopak mata dengan lem super untuk percobaan menutup mata selamanya, begitulah.
.
.
.
kuharus tidur adios amigo
