Part 2 : Tersenyum
"Aku Roland," ujar anak lelaki berambut coklat yang baru saja menolong seorang anak perempuan yang sedang dikejar oleh anjing saat dia sedang berpatroli sendirian. Mereka berada di salah satu sudut kota yang sangat dekat dengan salah satu toko permen, meskipun Roland sama sekali tidak sadar akan keberadaan toko permen karena terlalu sibuk mencari siapapun yang sedang atau akan dalam masalah.
"Ah, aku Grisia salam kenal," ujar anak perempuan itu sambil menepuk-nepuk bajunya yang kotor oleh debu. "Terima kasih sudah menolongku, apa kamu mau permen?" tanyanya sambil merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah lollipop padanya. Roland menggelengkan kepala. "Eh, tapi aku cuma punya lollipop blueberry. Karena aku kebanyakan makan gula jadi untuk sementara uang jajanku dipotong," curhatnya sedih.
"Aku tidak butuh apa-apa," jawab Roland yang memang berjiwa ksatria. "Kamu bisa makan permenmu," ujarnya. Grisia mengangguk dan mulai membuka bungkus permen lolipopnya dan menjilatnya perlahan.
"Lalu kamu disini sedang apa?" tanya Grisia penasaran. "Aku tidak pernah melihatmu di sekitar sini."
"Aku sedang berpatroli sendirian sebagai salah satu pelajaran menjadi Sun Knight," jawabnya bangga.
"Eh? Kamu Sun Knight? Keren! Aku juga ingin jadi Sun Knight!" serunya.
"Lalu kenapa kamu tidak ikut seleksinya?" bingung Roland lebih kepada karena anak perempuan itu tidak mendaftar daripada pada kenyataan bahwa dia adalah perempuan sementara Sun Knight seharusnya adalah lelaki. Lagipula bukankah seleksi untuk menjadi 12 Captain Holy Knight termasuk salah satu peristiwa besar?
"Hehe Saat itu kakakku mengajakku ke Moon City. Aku ditraktir makan sepuasnya!" ujar Grisia sambil tersenyum lebar yang membuat mata Roland tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Grisia, boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?" tanya Grisia dengan polosnya.
"Bagaimana kamu bisa tersenyum?" Grisia mengedip-kedipkan matanya.
"Karena aku bahagia," ujarnya sambil memiringkan kepalanya agak bingung dengan pertanyaan yang diajukan anak lelaki di depannya.
"Kenapa kamu tersenyum kalau bahagia?" tanyanya lagi.
"Karena aku senang, jadi aku ingin orang lain bisa merasakan kalau aku bahagia dan ikut senang juga. Kakak bilang aku punya senyuman yang bisa membuat orang senang melihatnya. Jadi aku juga akan tersenyum supaya kamu bisa tersenyum juga!" ujar Grisia yang masih tetap tersenyum dengan lebar.
"Tapi aku tidak bisa tersenyum," curhatnya. "Kata guruku senyumku menakutkan," lanjutnya.
"Kalau begitu, ayo kita latihan tersenyum! Kita perlihatkan bahwa Roland juga bisa tersenyum dan tidak menakutkan!" ajaknya yang membuat Roland mengangguk perlahan.
A/N : Karena Grisia kecil begitu cantik Roland menganggapnya perempuan
