Terima kasih buat yang sudah ripiu maupun yang baca fic ini diam-diam. Kalian memberiku semangat untuk terus menulis
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Pairing : KakaSaku
Gara-gara Hujan
Chapter 2
"Apa sih isinya, aku jadi penasaran " kata Ino ikut melihat.
Saat bungkusan itu kami buka wajahku yang semula pucat kurasa berubah merah karena sangat malu. Ternyata isinya adalah celana dalam.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Apakah Ino sudah tahu semuanya. Ku harap dia tidak mengejekku dan malah setidaknya menghiburku.
"Bagaimana barang ini ada pada Kakashi?" tanya Ino.
"Apa yang dia katakan padamu?" aku balik bertanya.
"Dia bilang tanya saja padamu langsung"
Dalam hati aku sedikit lega. Walau pun orang tersebut tidak bisa mengontrol tangannya, setidaknya ia masih bisa mengontrol mulutnya. Hmm, tapi bukankah mulutnya juga tidak bisa dikendalikan walau ada masker. Akh… lupakan kejadian itu.
"Jadi bagaimana?" Ino kembali bertanya.
"Emm, waktu itu aku sedang belanja di supermarket dan tanpa sengaja barangku ada yang jatuh. Mungkin ia memungutnya. Tapi bagaimana ia bisa tahu aku kuliah di sini?" kataku pada Ino sambil bertanya-tanya pada diri sendiri.
"Oh, mungkin karena kamu adalah temanku." kata Ino yang membuatku semakin bingung.
"Maksudmu?"
"Dia adalah sepupu jauhku. Waktu kecil aku sering mengganggunya dan memperlihatkan foto-foto temanku. Mungkin rambutmu yang berwarna pink dan jidat lebarmu itu membuatnya langsung teringat akan salah satu temanku, dan ternyata tidak salah kan?" Ino menjelaskan panjang lebar.
Berarti kemungkinan besar dia sudah mengenaliku lebih dulu. Tapi mengapa dia berbuat seperti itu. Apakah ia seorang maniak? Tapi aku tidak bisa menanyakannya pada Ino. Hal itu hanya akan membuatnya curiga. Lebih baik aku pendam saja dan semoga kami tidak akan pernah bertemu lagi.
"Ayo, Ino. Bukankah kamu ingin belanja?" kataku sambil menarik tangan Ino.
"Ino, berapa banyak pakaian yang akan kamu beli? Bukankah kamu hanya akan kencan dengan Sai?" keluhku saat Ino mencoba pakaian yang ke sepuluh.
"Hei, jidat. Jangan bilang kamu lupa dengan acara reuni yang akan diadakan pekan depan. Kita sebagai wanita harus tampil mempesona. Apalagi kita yang baru saja lulus. Jangan sampai kalah pamor dengan para senior. Sini, kamu juga harus mencoba pakaian ini" Ino memperlihatkan gaun panjang berwarna pink. Sayangnya dan memang biasanya begitu, gaun tersebut tanpa lengan. Dan parahnya belahan bawahnya sampai ke paha. Biar diupah, aku tak mau mengenakannya. Setelah memilih berbagai gaun, akhirnya ketemu juga gun yang bisa ku terima dan memuaskan perasaan Ino.
Hari yang dinanti akhirnya tiba juga. Bukannya apa-apa atau ingin bertemu seseorang, tapi sebagai salah satu panitia aku berharap acara reuni ini berlangsung sukses. Acara reuni alumnus SMA Konoha selalu diadakan setiap tahun. Dan sebagai alumnus yang baru saja lulus tahun ini, kami bertugas sebagai panitia. Undangannya adalah semua alumnus yang dari angkatan 2010 sampai lulusan pertama. Tentu saja jumlah peserta yang hadir diperhitungkan sama seperti tahun sebelumnya ditambah sepuluh persen sebagai jaga-jaga. Undangan yang disebar tidak hanya berupa kertas. Telpon dan email kami gunakan. Dalam jejaring sosialpun acara ini kami sebarkan.
Aku datang bersama Ino. Dia menghabiskan hampir 1 jam untuk dandan. Padahal kami panitia dan kami hampir saja terlambat. Ino mengenakan gaun hitam tanpa lengan sepanjang lutut. Aku mengenakan gaun panjang berwarna merah ati. Kainnya yang berjuntai bercorak bunga-bunga di bagian bawah sampai mata kaki. Bagian lengannya panjang namun transparan. Lehernya terbuka cukup lebar namun tidak kubiarkan sampai memperlihatkan belahan dadaku.
Kami mengisi daftar saat masuk dengan menuliskan nama dan tahun lulus. Kulihat bahkan ada nama Tn. Jiraya yang lulus tahun 1975, sama dengan Ny. Sunade. Setelah waktu yang dinantikan, akhirnya Ny. Sunade yang kini menjabat sebagai kepala sekolah memberi sambutan serta secara resmi membuka acara ini.
Setiap undangan langsung terbagi menjadi beberapa kelompok. Rata-rata bergabung dengan angkatannya masing-masing. Saling berbagi kisah setelah berpisah di SMA. Aku dan Ino tidak ngobrol lama karena Sai langsung datang menghampiri. Ia mengajak Ino untuk berdansa sejak musik mulai diganti. Dengan wajah memelasnya, aku pun mempersilahkan ia pergi. Aku ingin menghampiri Hinata, tapi ia tampak berbicara dengan wajah kemerahan bersama Naruto. Tenten tampak mulai berdansa dengan Neji. Bahkan Ny. Sunade tampak berdansa dengan seorang kakek yang tampak masih gagah, mungkin itu adalah Tn. Jiraya. Aku pun memutuskan duduk sambil menikmati minumanku.
"Sakura, maukah kau berdansa denganku?" tiba-tiba Naruto berada di hadapanku. Bukankah terakhir ku lihat dia bersama Hinata. Belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba terdengar suara yang lain.
"Maaf ya, dia sudah berjanji untuk dansa denganku. Ayo Sakura!" sebuah tangan yang kokoh menarikku. Aku hanya melihat ekspresi Naruto yang kebingungan.
Saat pikiranku mulai jernih aku sudah berada di lantai dansa. Dan hal pertama yang kulihat adalah sepasang mata itu. Mata yang berlainan warna. Agak sedikit menyipit, menggambarkan kalau pemiliknya sedang tersenyum padaku.
"Kau?" kataku tertahan. Aku sadar kedua tangannya sedang berada di pinggangku dan entah kenapa aku membiarkan tanganku bertaut di lehernya.
"Aku senang kamu masih mengingatku dan kita masih diberi kesempatan untuk bertemu." kata Kakashi.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya setelah perbuatannya yang kurang ajar. Dan aku tidak senang sama sekali untuk bertemu dengannya.
"Apa maumu?" tanyaku sinis.
"Apakah kalau ku jawab kamu akan memberikannya?" ia balik bertanya.
"Mungkin saja. Kalau hal itu bisa membuatmu hilang dari hidupku." jawabku mantap tak mau kalah dengannya.
Kakashi mendekatkan mulutnya yang masih tetutup masker ke arah telingaku. Walau aku tidak bisa merasakan hembusan nafasnya, namun aku bisa mendengar desahannya.
"Aku menginginkan dirimu." kata-katanya lembut, namun tegas dan penuh keyakinan.
Aku terpaku, kata-katanya lurus menembus hatiku. Aku merasa jantungku berdetak lebih kencang. Jujur aku memang belum pernah pacaran, tapi bukan berarti tak ada satupun yang pernah menyatakan cinta padaku. Namun entah kenapa, kata-katanya terasa beda. Aku merasa wajahku memanas.
"Bagaimana? Apakah kau sudi memberikannya?" tanyanya.
"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku menyerahkan diriku pada seorang pria yang langsung bertindak kurang ajar pada orang yang baru ditemuinya. Dan dengar ya, aku belum memaafkanmu. Atau mungkin aku tidak akan pernah memaafkanmu." kataku.
"Benarkah? Aku pikir kau menginginkannya. Mana mungkin cewe baik-baik jalan-jalan di mall tanpa mengunakan ce…" sebelum Kakashi menyelesaikan kalimatnya, aku menutup mulutnya dengan tangan kiriku. Aku tak ingin ada orang lain yang tahu tentang apa yang terjadi diantara kami.
Kakashi meraih tanganku dan mulai mengecupnya. Aku bersyukur aku mengenakan gaun lengan panjang. Sehingga ia tidak bisa meneruskannya lebih ke atas lagi. Aku segera menarik tanganku dan meninggalkannya.
Kebetulan lagu yang diputar itu adalah lagu yang terakhir. Ino yang baru selesai dansa mengahampiriku yang sedang mencoba menghabiskan air dalam gelasku.
"Sakura…" kata Ino ragu-ragu.
"Ada apa?" tanyaku.
"Sai akan mengantarkan aku pulang, jadi kamu pulangnya…"
"Tidak apa-apa kok. Aku bisa pulang sendiri." kataku sambil tersenyum.
"Jangan! Justru itu membuatku makin tidak enak. Kamu diantar sepupuku aja ya, Kakashi. Lagi pula kalian sudah pernah bertemu." kata Ino. Aku baru menyadari kalau orang itu berada didekat Sai.
Aku ingin membantah kata-kata Ino. Tapi pandangan memohonnya membuatku tidak tega. Aku juga tidak mau saat ia berdua dengan Sai malah memikirkanku. Akhirnya aku cuma berdoa agar makhluk bernama Kakashi ini tidak berbuat macam-macam padaku.
Sebenarnya arah ke kosan Ino dan rumahku hampir sama, tapi nanti di depan tikungan berbelok dan beda arah. Kakashi tampak diam sepanjang perjalanan, mungkin lebih tepatnya tampangku yang tidak bersahabat membuatnya enggan memulai percakapan.
"Apa kau tidak berniat minta maaf?" kataku membuka percakapan.
"Aku tidak menyesalinya." jawabnya santai. Berani sekali dia mangatakannya.
"Apakah kau melakukannya pada semua cewe yang kau temui?"
"Hanya pada gadis nakal"
"Dengar ya, aku bukan gadis nakal" kataku merasa tersinggung dengan kata-katanya. Tapi ia hanya tersenyum sinis.
Aku merasa sebal sendiri jadinya. Tanpa berpikir panjang, aku pun minta agar ia menurunkanku di tempat itu saja.
"Kita memang sudah sampai di depan rumahmu." katanya yang membuatku terkejut. Ia bahkan menyetir tanpa bertanya sedikitpun padaku. Bagaimana ia tahu letak rumahku.
Ia langsung keluar dan membukakan pintu mobil untukku. Aku ingin langsung berlalu saja dari hadapannya, namun tangan kekarnya menahan lenganku.
"Ucapan terima kasihnya mana?" katanya.
"Baiklah, te…." Aku tidak bisa meneruskan kalimatku karena bibirku terkunci bibirnya walau terhalang masker.
To be continue
Maaf ya, chapter 2 terkesan biasa sekali. Walau begitu, mohon ripiunya. Saya akan berusaha di chapter berikutnya
