Yoshh! Ini Rika sama Hakumei mau lanjut lagi. Di part ini mungkin bakal bikin bingung. Jadi disarankan untuk siapin obat kejang. Mueheheheh.

Dah itu aja sih. Yang lain mungkin bisa di nalar sendiri '-')/

"Aku Bokuto Kotaro. Pangeran dari Kerajaan Fukurodani, tentu saja aku berasal dari dimensi yang berbeda dengan kalian. Alasan aku bisa sampai ke dimensi ini, aku tidak akan menceritakannya. Tapi aku akan menceritakan tentang diriku dan lainnya agar kalian bisa mempercayai kami."

"Pffttt HAHAHAHA," sontak semua orang yang ada di sana tertawa lepas. Bahkan ada yang sampai berguling-guling sambil menunjuk muka Bokuto.

"KENAPA MALAH TERTAWA! AKU INI SERIUS TAHU!" Teriakan kesal Bokuto malah disambut tawa yang lebih kencang lagi. Nekomata-sensei sudah memukul-mukul meja sambil terus tertawa dan sesekali tersedak ludahnya sendiri. Maklum, ia sudah tua.

"Pfftt, su-sudah aku bilang pfftt. Kau itu benar-benar meragukan untuk jadi pangeran pfftt Hahahha!" dan katakan halo pada tawa si maniak kucing hitam yang sangat legend di tempatnya.

"Kalian mau mendengarkan penjelasan lebih lanjut atau tidak?" Akaashi bertanya lelah. Mungkin karena pangeran yang mati-matian ia jaga dari kecil itu kini tidak diakui. Ironisnya lagi malah ditertawai alih-alih disambut.

Setelah berusaha menenangkan diri serta kembali bersikap serius, mereka memandang balik si burung hantu yang kini sibuk merajuk pada si kucing hitam yang masih saja cekikikan.

"Ohh Tetsuroku yang kusayang, tolong berhentilah!"

Bukannya diam, Kuroo malah semakin menjadi-jadi. Buktinya kini wajahnya dipalingkan dari Bokuto. Mau tak mau membuat orang lain yang ada di sana memperhatikan dua orang nyentrik itu. Dan karena tidak sabar –karena sabar itu bukan keahlian dari seorang Bokuto Kotaro—ia menarik dagu Kuroo yang langsung diarahkan ke hadapan wajahnya. Selanjutnya tanpa ada peringatan apapun, Bokuto mencium bibir Kuroo. Cara paling efektif untuk mendiamkan kucing hitam nakal semacam Kuroo.

Tapi sebuah tindakan pasti akan melahirkan respon. Dan respon baik dapat kita dapatkan dari dua tim kebanggaan Tokyo. Semua melongo. Terdiam. Membeku. Seakan ada kontes langka dadakan yang digelar. Kontes menjadi manusia yang paling mirip dengan patung.

Selagi yang lainnya masih diam, Bokuto mulai menggerakkan bibirnya, berusaha menjangkau bibir manis Kuroo. Namun sebelum lidah Bokuto berhasil menyentuh bibir lawan mainnya, Kenma sudah terlebih dahulu menarik paksa Kuroo ke belakang. Menjauh dari jangkauan Bokuto.

"Apa yang coba kau lakukan pada Kuroo? Kuso Fukuro!" Kenma menggunakan nada mengancam. Lengkap dengan mata dan senyuman mirip seringai berjuta makna yang jarang ditemui di wajah Kenma. Namun sering mampir di wajah Kuroo.

"Oh ayolah Kenma. Mau aku apakan juga, Tetsuro itu mate ku. Jadi tindakan tadi tidak bisa dikategorikan melanggar 'Undang-Undang Perlindungan Kuroo Tetsuro' milikmu, 'kan?" Bokuto mulai menyanggah, salahkan sifatnya yang tak mau kalah maupun mengalah.

"Bokuto-sama benar, Kenma-san. Lagipula, bukankah kau itu overprotektif? Sahabat kecilmu itu sudah bonding asal kau tahu." Akaashi ikut menambahi sambil sesekali menyeruput teh panas.

"Itu tidak bisa dijadikan alasan! Lagipula bagian mana dari Kuroo yang kecil?" entah kenapa Kenma termotivasi untuk mengatakan hal itu.

"KENMA! KAU PERNAH MELIHAT TETSURO?!" di luar dugaan, Bokuto malah ikut salah fokus seperti Kenma.

"Hmph! Tentu saja! Aku bahkan pernah mengintipnya mandi di bawah air terjun! Kau sangat rugi karena tidak menyaksikan pemandangan itu, Bokuto-san! Air terjun, Kuroo yang telanjang, suara harmoni alam, serta sinar mentari pagi yang seakan-akan membuat tubuh Kuroo bercahaya." Kenma mendengus bangga.

Bokuto membulatkan matanya dan melongo, hampir saja air liurnya menetes. Ia tidak tahu perasaan mana yang lebih mendominasi dirinya saat ini. marah karena mate tercintanya pernah diintip orang. Atau, mungkin karena ia tidak bisa menyaksikan pemandangan indah tersebut. Akaashi menghela napas lelah. Muka Kuroo sudah memanas, seperti ketumpahan cat merah. Dan orang-orang (rekan setim dan pelatih mereka) yang secara terpaksa menjadi penonton drama picisan tadi semakin mirip dengan batu kerikil di pinggir jalan, kecil dan terabaikan.

"O-OY! Kalian membicarakanku dengan keadaan diriku yang masih berada di sini? Apa kalian waras? Dan Kenma, aku tidak perlu kau jaga seperti bayi baru lahir. Da-d-dan aku tidak tahu kalau kau pernah mengintipku! Kotaro! Apa-apaan kau asal serang tadi! Dan untuk Akaashi, aku ini tidak kecil tahu!" semua ocehan Kuroo terdengar benar, ya kecuali bagian terakhir. Sepertinya Kuroo juga ikut salah paham. "Bukan itu maksudku. Kenapa tiga orang ini tidak mengerti sih arti kata kecil yang kumaksud?" Akaashi lelah. Ia ingin berhenti secepatnya. Ingin dia kembali dan menuliskan proposal pensiun dini. Ia tidak kuat kalau harus mengurus orang-orang yang sepertinya masa kecilnya terlalu senang hingga terbawa sampai dewasa.

"Daripada itu, kenapa tidak kau sadarkan saja mereka? Dua tim itu sudah jadi batu kerikil sejak beberapa waktu lalu. Mungkin kau perlu menyiramnya dengan air panas agar mereka sadar kembali." Kuroo kembali menambahkan. Ia sudah lepas dari cengkeraman sahabat overprotektifnya.

"Hei! Apa kalian OK? Masih hidup? Apa perlu aku siram air panas seperti perkataaTetsuro? Dasar! Kalian sampai melongo seperti itu. Tidak pernah meliat orang mesra, apa?" Bokuto sudah kembali normal.

Dan yang pertama kali pulih dari acara mematungnya adalah Inuoka. "Yang tadi itu... apa?"

"Haah? Apanya yang apa?" Bokuto menimpali.

"Kau dan Kuroo-san tadi... ?"

"Aku menciumnya. Apa lagi? Apa di sini tidak ada istilah ciuman? Dan kenapa kalian sampai kaget begitu? Yang kami lakukan itu biasa, tahu. Yah, walau banyak orang yang bilang kalau aku dan Tetsuro itu pasangan paling romantis seantero dimensi."

"YANG BEGITU MANA BISA DIKATAKAN NORMAL!" kini ganti Yamiji Takeyuki –pelatih Fukurodani- yang berteriak.

"ITU TADI NORMAL! DASAR KAM—" Sebelum Bokuto menyelesaikan kalimatnya, Kenma sudah memotongnya, "Memang, bagaimana yang normal di sini? Lebih tepatnya bagaimana sistem seksual yang dikatakan normal di dimensi ini?"

"yang normal itu tentu saja laki-laki berpasangan dengan perempuan. Yang kalian lakukan tadi termasuk homoseksual! Masa' jeruk makan jeruk!" Yamiji-sensei memberi penjelasan yang langsung disambut dengan anggukan penuh persetujuan hakiki oleh anak didiknya.

"Hah? Aneh sekali, ya, pandangan seksual di sini?" Kuroo memberi tanggapan, sambil menyender pada bahu Bokuto yang langsung diberi deathglare oleh mata Kenma. Sontak kucing hitam itu kembali dalam posisi duduk tegaknya.

"Bukan aneh, Kuroo. Di sini memang seperti itu. Jadi begini, dimensi ini –dalam hal seksual—hanya mengandalkan gender. Dan aku berani bertaruh kalau di sini hanya perempuanlah yang bisa menghasilkan keturunan. Sedangkan pasangan sejenis tidak bisa menghasilkan keturunan. Makanya, hubungan seperti itu dianggap tabu." Kenma yang memang seorang jenius dan ahli strategi pun menjelaskan.

"Memang, bagaimana sistem seksual di dimensi kalian?" Haiba Lev bertanya penasaran.

"Ehmm, cukup rumit. Apalagi istilah yang kami gunakan untuk seksual juga kami gunakan untuk status sosial." Suara Bokuto ajaibnya sudah bisa berwibawa kembali.

"Singkatnya, secara seksual kami menganut sistem yang bila di dimensi kami ini disebut omegaverse." Terima kasih pada Akaashi yang sudah menerangkan pikiran.

"Omegaverse?"

"Kalau tidak salah kakakku pernah mengatakan tentang hal seperti itu." Yaku terlihat menerawang.

"Kakakmu? Yang bekerja meneliti kehidupan serigala?" yang lain bertanya.

"Iya. Menurutnya, kaum serigala hidup dalam kelompok-kelompok tertentu yang disebut pack. Dalam sebuah pack, sepasang serigala yang memimpin kawanan disebut alpha. Yang lain adalah beta. Dan ada beberapa serigala yang entah anggota entah bukan dalam pack tersebut yang disebut omega. Karena status omega ini tidak jelas, maka ia sering ditindas oleh serigala lain –beta dan alpha. Apa aku benar? Errr Bokuto-san?"

"Separuh benar separuh salah. Yang kau ucapkan tadi pembagian sosial, kan? Pembagian sosial kaum kami sedikit lebih rumit. Lagi pula yang akan kita bahas itu konteks seksual, kan? Akaashi atau Kenma saja yang jelaskan. Aku lapar dan mau makan. Tetsuro, bisa suapi aku tidak?"

"Hahh... jadi begini. Kaum kami juga sama seperti kalian. Ada dua jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan. Dalam seksual, kami digolongkan menjadi tiga. Alpha, beta, dan omega. Alpha adalah seorang yang hanya membuahi, tidak bisa dibuahi. Mereka rata-rata merupakan laki-laki dan kebanyakan dari alpha adalah orang yang mampu menarik perhatian. Dia selalu menjadi pusat dalam segala hal dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Ada suatu siklus yang disebut rut, pada saat ini terjadi maka para alpha akan menjadi lebih liar dan bernafsu dari biasanya. Tapi sekarang sudah ada obat yang mampu menekan gejolak itu, sih. Dan alpha memiliki insting alami untuk memimpin dan mengambil keputusan. Selain itu, mereka juga yang memegang kendali utama dalam naik turunnya jumlah penduduk kami. Yah, tipikal para penguasa atau selebritis, jika dianalogikan seperti di sini. Karena itulah, kebanyakan alpha di dimensi kami didaulat menjadi penguasa atau pemimpin suatu kerajaan. Namun, para alpha tidak bisa memiliki selir karena mereka hanya mempunyai satu pasangan omega seumur hidupnya. Bila salah satu mati, maka yang lain akan hidup sendirian selamanya. Koreksi aku kalau salah, seperti anak hits mudahnya. Aku menemukan istilah ini di kepala Akaashi Keiji dimensi ini. Apa kalian sudah jelas dengan ini?"

Para pendengar masih setia menyimak sambil sesekali mengangguk.

"Kalau iya, akan aku lanjutkan. Pasangan dari alpha adalah omega. Para omega ini bahasa kasarnya adalah penghasil keturunan." Akaashi melirik sedikit ke arah Kuroo. Kuroo menoleh dan tersenyum lalu kembali fokus menyuapi Bokuto yang kini bermain-main dengan Xul.

"Para omega sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Banyak anggapan mengatakan bahwa omega ada hanya untuk memberikan keturunan bagi alpha. Karena omega adalah pasangan dari alpha, maka penampilan mereka pun menarik. Tetapi, mereka hanya akan benar-benar menarik perhatian bagi satu-satunya matenya. Meski begitu, omega sebenarnya adalah orang yang jenius. Pikiran mereka pun licik. tapi soal kelicikan, kebanyakan sudah pesimis duluan karena tekanan masyarakat. Hanya beberapa saja yang bermental kuat dan bisa memegang suatu posisi penting dalam packselain posisi permaisuri tentunya. Dan jika aku bilang omega itu bisa hamil, maka omega laki-laki pun bisa. Bahkan, omega laki-laki tiga kali lebih subur daripada yang perempuan. Tetapi, di dimensi kami pun jarang ada omega laki-laki. Omega juga mempunyai sebuah siklus heat. Siklus yang mirip dengan siklus rut milik alpha. Saat seorang omega masuk masa heat, secara otomatis si alpha pun akan memasuki siklus rut."

"Dan jenis yang ketiga adalah beta. Bisa dibilang, jenis ini adalah jenis yang paling normal dengan populasi terbanyak. Tidak seperti alpha dan omega yang mempunyai siklus rumit dan susunan tubuh yang seperti benang kusut, beta hampir sama seperti manusia di dimensi ini. tidak ada yang khusus, kecuali sikap kompetitif mereka. Mereka biasanya hanyalah rakyat jelata, bukan seseorang yang memegang kendali penuh akan jalannya hidup di dimensi kami. Tetapi, ada beberapa beta yang diberi tugas mendampingi alpha dan beta yang merupakan keluarga kerajaan. Termasuk aku dan Kenma. Kami para beta dibagi menjadi dua. Beta dominant dan beta submissive. Untuk membedakannya cukup mudah. Beta dominant terkesan seperti alpha. Dan beta submissive hampir mirip dengan omega. Namun, beta hanya bisa melakukan bonding dengan sesamanya. Seperti halnya alpha yang hanya bisa membuahi omega."

Akashi mengakhiri penjelasannya. Dia menarik napas panjang kemudian menyuruput teh yang masih tersisa separuh.

"Saat kami menemukan pasangan atau mate kami, maka akan dilakukan bonding. Di sini mungkin disebut pernikahan. Kalau di sana bonding lebih penting, sedang pernikahan hanyalah formalitas belaka. Kami melakukan bonding selain untuk memperbanyak keturunan, juga untuk menjelaskan status dan pangkat kami. Oleh karena itu, bonding sangat penting dilakukan, bahkan sudah menjadi sebuah keharusan bagi penduduk kami," Kenma menambahkan.

"Hmmm... aku memang sedikit bingung. Tapi sepertinya aku cukup paham. Akaashi-san dan Kenma tadi bilang kalian beta kan? Lalu, kalau kalian?" Yaku bertanya pada Bokuto yang masih mengunyah makanannya.

"Ya, aku dan Akaashi-san itu beta. Beta submissive tepatnya. Dan Bokuto seorang alpha. Dan dengan melihat interaksi mereka seharusmya kau bisa menebak Kuroo masuk golongan mana." Alih-alih Bokuto, Kenma lah yang menjawab pertanyaan Yaku barusan.

"Ka-kalau Bokuto-san itu alpha. Ja-jangan-jangan Kuroo-san itu... omega?"

Kuroo hanya tersenyum selebar lima jari sambil memeluk manja Bokuto. Yang dipeluk balas merangkul mesra pasangannya.

"Betul sekali. Dan kalian tahu, aku dan Tetsuro sudah bonding! Bahkan Tetsuro sedang mangandung anak pertama kami, lho... " Bokuto berkata bangga.

"APAAAA?!"

TBC

mate : pasangan hidup (hanya ada satu seumur hidup, tidak bisa diubah)

Selesai! Ya Lord, akhirnya selesai. Penjelasan tentang omegaverse nya bakal Rika-chan buat kayak cerita berbingkai (?) soalnya Rika lebih suka yang begitu. Nggak tahu kenapa/digaplok/

Uhhh dan sorry kalau malah jadi belibet begini. Pikirannya Rika kan emang nggak pernah lurus.

'-')/ mmmm buat yang nunggu sekali lagi sorry ya... kalau nggak sesuai ekspetasi kalian. coz, Rika buruk dalam menjelaskan sesuatu/digamparkhalayak/ and lebih suka sama percakapan langsung.

Dan buat Hakumei-chan aku makasih banget udah memperbaiki tata bahasa yang semrawut ini hehe.