Title:

4 Life in 1 Life

Disclaimer Death Note © Tsugumi Ohba and Takeshi Obata

Rate:

T

Genre:

Humor, Drama, Family (?)

Warning! Gaje~ AU~ OOC~ Typos~ hints BL dikit kok, tapi nggak ke BL banget~ De el el...

If you don't like it, it's okay you can click 'back' button. Okay? Because If you don't like don't read.

Summary : Light Yagami, L, Near, Mello, dan Matt adalah 5 sekawan yang tinggal di dalam satu apartemen. Semua tanggung jawab diserahkan pada Light Yagami, mulai dari mencari uang, urusan rumah tangga, dan yang lain. Bagaimana cerita kehidupan Light yang berat itu?

.

.

.

.

Dulu waktu aku masih kecil, saat ayahku pulang kerja, aku pasti langsung menghampirinya dan berteriak 'ayah pulang!' lalu memeluknya erat, ayah akan tertawa sambil mengusap kepalaku. Bahagianya saat itu, masih jadi anak polos nan tampan. Dan ketika aku mulai masuk SMP, saat ayahku pulang aku akan menghampirinya dan berkata 'sudah pulang yah? Mau kubuatkan teh atau kopi?' lalu ayah akan memesan sake hangat sambil tertawa. Maklumlah, saat itu aku anak yang penurut nan tampan. Saat aku mau masuk kuliah, kalau ayahku pulang, aku menghampirinya dan berkata 'nilaiku bagus semua, Yah.' Ayahku akan tersenyum dan berkata, "memang harus begitu anakku, nilainya bagus. Aku bangga padamu." Aku membalas pujian ayah dengan tersenyum sinis. Tentu saja nilaiku bagus semua, aku 'kan pintar.

Ingin sekali aku menjadi seorang ayah yang disambut dengan suka cita oleh keluarganya. Berbeda denganku ketika aku pulang kerja. Biasanya keempat temanku itu tidak akan membukakan pintu sebelum aku membelikan sesuatu sesuai pesanan mereka sebelum aku berangkat kerja. Pernah suatu hari aku tidak membelikan apapun untuk mereka. Hasilnya? Aku terpaksa tidur di rumah pacarku karena mereka SAMA SEKALI tidak mau membukakan pintu. Kejam bukan? Yah, itulah mereka, menyebalkan. Contoh saja saat kemarin saat aku pulang kerja.

Flashback mode : on

"Tadaima," ucapku saat di depan pintu kamar apartemen. Di kedua tanganku terdapat kantung belanja dari beberapa toko mainan dan makanan.

"Okaeri. Kau bawa pesanannya 'kan, Light?" tanya suara dari microphone. Dan aku tau kalau itu adalah suara Mello. Seperti biasa, ia selalu yang pertama kali bertanya.

"Tentu saja," jawabku ringan.

"Cokelat?"

"Ada."

"Kue camilan keluaran terbaru dari toko kue dekat stasiun?" Nah, yang ini pasti L, tak usah tau dari suara nya pun aku tau dari pertanyaannya.

"Ada. Aku beli 15 buah."

"PSP keluaran terbar, dan juga game boy advance?" Ini Matt. L, Mello, maupun Near takkan mungkin menginginkan kedua benda tersebut.

"Iya. Sesuai pesananmu."

"Robot Gundam dengan laser dan juga suaranya sudah kau beli? Tadi sudah kubilang 'kan aku mau buat piramid dari dadu setinggi 70 cm? Kau sudah bawa 'kan dadu-dadunya?" kalian pasti sudah tau 'kan siapa yang bertanya? Near.

"Iya. Aku bawa semua dadunya. Sekarang bisakah aku masuk?" kataku.

Cklek! Pintu apartemen pun terbuka. Mereka berempat langsung menghampiriku dan mengambil semua kantung belanja yang ada di tanganku tampa peduli kepadaku yang lelh dan letih mencari nafkah dan membelikan semua keperluan mereka. Tanpa menoleh padaku, mereka asyik dengan semua barang yang telah kubelikan. Ah, kecuali L dan Near, mereka hanya mengatakan 'sankyuu' lalu asyik dengan 'dunia' mereka sendiri.

Flashback mode : off

Sering sekali mereka membuatku ingin menangis karena tingkah laku mereka. Mau tau apa yang akan mereka lakukan jika aku tidak membelikan pesanan mereka? Akan kuceritakan saat dimana aku terpaksa menginap di rumah pacarku karena mereka tidak mau membukakan pintu.

Flashback mode : on (again)

Aku berjalan menyusuri lobby yang memang sudah sepi, karena ini sudah jam 9 lebih. Aku memperlambat langkahku. Aku hanya membawatas kerjaku, tidak membawa pesanan mereka berempat. Aku baru pulang jam setengah sembilan tadi dan uangku sudah habis untuk membeli makan siangku. Makanya, aku tidak bisa membeli pesanan mereka. Bagaimana kalau nanti saat aku bilang aku tidak membawa pesanan mereka aku akan dicabik-cabik menjadi serpihan? Ah, itu terlalu berlebihan.

Oh, mungkin kalau aku bilang aku tidak membeli pesanan mereka aku akan diikat dan dilemparkan ke jalanan? Itu juga berlebihan.

Atau mungkin... ini kemungkinan paling buruk, aku akan dijual ke suatu host club? Aku tidak mau! Eh, tapi ini sangat berlebihan, sejahat-jahatnya mereka tidak mungkin mereka melakukannya.

Yah, pokoknya aku coba dulu. Dengan kata 'sumimasen' mungkin cukup (atau tidak).

Aku memencet bel apartemen. Terdengar bunyi 'ting-tong' nyaring dari dalam kamar apartemen.

"Dare?" terdengar suara Mello bertanya.

"Ini aku, Light," jawabku.

"Kau bawa pesanan kami 'kan?" tanyanya langsung tanpa basa-basi.

"Err... sumimasen... uangku tidak cukup untuk membelikannya, tapi aku boleh masuk 'kan?" ucapku dengan nada memohon. Seharusnya mereka mengizinkanku masuk, karena aku sudah memakai nada memohon, itu sangat merendahkan harga diriku.

"Hah? Tidak bawa? Huh, L, Near, Matt, si Light tidak bawa pesanan kita nih, sesuai perjanjian kita 'kan?" teriak Mello kepada L, Near, dan Matt. Sungguh, apakah ia tidak takut kena komplain dari tetangga karena berteriak di jam segini? Ah, apa peduliku, yang penting aku bisa segera tidur karena aku sangat lelah.

"Ya."

"Baiklah, Light malam ini kau tak boleh tidur di sini. Konbanwa."

Nani? Tak boleh tidur di kamarku malam ini? Apa-apaan mereka! Tidak mau, pokoknya aku lelah dan ingin tidur sekarang juga!

"Tunggu dulu, Mello, bukakan pintunya sekarang juga! Mello, L, Near, Matt!" aku menggedor-gedor pintu berkali-kali berharap mereka mau membukakan pintunya. Tapi yang kudapat malah teguran dari tetangga, malah ada yang melempariku dengan panci. Berani sekali melemparku dengan panci, yang elit dong! Bunga, atau surat cinta saja sudah dibawah elit, apalagi panci!

Akhirnya aku memutuskan untuk menelpon pacarku meminta izin untuk tidur di rumahnya dan menjemputku di apartemen. Untung saja pacarku tipe pnurut dan bodoh, bisa kumanfaatkan sesukaku.

Flashback mode : off

Ingin sekali aku diperlakukan sebagai 'ayah' yang sebenarnya, namun itu hanya mimpi belaka.

Sedih sekali rasanya mengingat kejadian itu. Gara-gara kalian aku harus menceritakannya lagi. Ah, maaf, maaf, aku tentu saja rela menceritakannya kepada kalian walaupun cerita itu sangat suram (kalau saja author tidak mengancamku dengan tidak mendekskripsikan ku sebagai pria baik-baik, aku tentu saja tidak sudi!) sudahlah, mari kita akhiri chapter gaje ini sebelum kalian para readers menjadi gila.

.

.

.

.

A/N :

Gila, sumpah nih fict! Yang bikin pasti gila *readers bersorak gembira*

Light kelewat narsis di chapter ini, padahal awalnya saya nggak berniat bikin Light OOC loh, tapi kenapa jadi terjerumus begini ya?

Yah, i hope you enjoy read this fict. Entah karena nih fict ada L nya, Near nya, Mello nya, Matt nya, Light nya, atau mungkin karena saya yang buat? Entahlah. Bisa aja 'kan?

Last, jika ada kesalahan dalam typo(s), chara, cerita, de el el... review saja...