Suara alarm adalah suara paling menyebalkan dalam 65 juta tahun sejarah umat manusia di muka bumi.
Getar, dering, dentum—entah bagaimana bentuknya, bunyi berisik yang membangkitkanmu dari tidur itu, nyanyian tak bernada yang tak mau berhenti hingga kau memukulnya itu, tetap saja menyebalkan.
Mirisnya, 80%—dugaan acak tanpa survei, jangan percaya—dari makhluk bijak bernama manusia yang tinggal kolong semesta ini malah memulai hari dengan suara tersebut.
"Selamat pagi, Tuan Muda."
Ngomong-ngomong, dengan bangga dan dada terangkat, aku akan mengatakan bahwa aku termasuk ke dalam golongan 20% sisanya.
Tak seperti mayoritas yang harus mendengar suara dering laknat sebagai penyambut kembalinya kesadaran dari mati sesaat untuk satu malam, yang menyambutku adalah suara lembut seorang perempuan.
"Bangun, Tuan Muda. Langit sudah berubah warna."
—bahkan aku merasa menyebutnya sebagai suara malaikat pun sama sekali bukanlah contoh penggunaan majas hiperbolik.
Aku membuka mata, melepas segel yang sudah mengurung bola mata biru indah—maaf, aku memang agak narsis—di dalam kelopak selama nyaris delapan jam tanpa henti.
Hal pertama dideteksi oleh indera yang baru saja terlepas dari tidur panjang itu adalah pelayan berseragam hitam-putih standar di samping ranjang raksasa yang aku tiduri, berdiri dengan handuk putih terlipat rapi di tangan.
Entah untuk keberapa kalinya—aku tahu jumlah pastinya, aku hanya bilang begitu biar terkesan lebih romantis—senyum gadis manis dengan rambut toska terurai rapi sepinggang tersebut adalah hal pertama yang aku lihat untuk memulai hari.
"Ini hari Minggu, Miku. Biarkan aku tidur untuk... hmm... sekitar tiga koma enam kali sepuluh pangkat tiga detik lagi."
Dengan cepat dan penuh kesengajaan, aku menyembunyikan wajah—lebih tepatnya kepala di balik barikade empuk nan hangat (baca: selimut), melarikan diri secepat mungkin dari gadis pelayan yang mencoba menarikku keluar dari kerajaan surgawi bernama ranjang.
"Anda tidak bisa menipu saya dengan angka-angka detik yang terdengar pendek itu untuk kedua kalinya, Tuan Muda. Saya sudah tahu kalau yang Anda maksud adalah satu jam lagi."
Aku mendengus dari balik selimut bermotif bunga—bukan aku yang memilih—dan menghembus napas berat tanda sebal. Seharusnya aku tahu jebakan konyol khusus orang bodoh itu hanya bisa digunakan satu kali kepada orang yang sama.
"Hari ini keluarga Nyonya Lenka, juga Tuan Leon, akan datang ke sini untuk mendengar surat wasiat Tuan Besar. Nyonya Lily menyuruh Anda untuk segera bersiap-siap."
"Kenapa mereka harus datang hari Minggu, sih? apa mereka tidak tahu kalau susunan acara Minggu pagi itu adalah salah satu kenikmatan terbesar umat manusia?"
"Jika Anda menganggap kartun pagi sebagai kebahagiaan umat manusia, saya yakin Nyonya akan kecewa mendengarnya. Atau Anda memang ingin saya memberitahukan hal ini pada beliau?"
Gerutu tanpa arti itu dibalas dengan nada serius oleh Miku, si pelayan rupawan—atau rupawati?—yang sepertinya tak mengerti betapa pentingnya memiliki selera humor bagi seorang manusia.
"Jangan, tolong. Kau mau aku dilarang menonton TV lagi? Di vila puncak gunung seperti ini, televisi itu satu-satunya hiburan yang bisa aku nikmati selain baca buku, tahu."
Walaupun acaranya banyak yang tak berkualitas, sih.
"—lagipula mereka akan tiba sekitar tengah hari, jadi Anda seharusnya masih punya waktu untuk nonton kartun pagi."
"Hore," aku menjawab datar. Ngomong-ngomong, walau aku berkata dengan nada begitu, di lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar senang, lho. Serius. Silakan intip hatiku bila tak percaya.
Mungkin aku cuma kecewa karena belakangan acara kartun makin berkurang dan digantikan sinetron romansa atau infotainment yang jelas, bukan ditujukan untuk pemuda berintelektual tinggi sepertiku.
—aku sudah minta maaf atas atas sikap narsisku, 'kan?
Haah, seharusnya studio televisi lebih mementingkan kualitas mental anak bangsa—dengan anggapan kartun bisa digunakan untuk itu—daripada mengincar rating setinggi-tingginya dengan acara kurang jelas.
Menyingkirkan selimut yang aku gunakan sebagai barikade sesaat yang mampu ditembus Miku hanya dengan kata-kata (semua laki-laki lemah terhadap suara perempuan, tahu), satu kali lagi, aku menarik napas yang dalam sebelum bangkit dari kasur.
Kali ini, aku memastikan untuk melihat sosok gadis yang terlalu cantik untuk ukuran pelayan itu dengan lebih saksama, memerhatikannya dengan mata yang memiliki tingkat kejernihan tembus sembilan ribu piksel, dan bukan hanya mengintip dari balik bantal atau selimut.
Manis. Madu campur gula campur glukosa campur fruktosa saja mungkin masih kalah manis.
Mau berapa kali pun aku melihatnya, meski ia sudah bertugas membangunkan dan membawakan handuk untukku selama enam bulan belakangan—silahkan hitung sendiri sudah berapa kali ia melakukannya—kesan yang aku miliki tiap kali melihatnya di awal hari selalu sama.
—sekali lagi, aku terpesona.
Sekali lagi, semangat untuk menjalani hari langsung bangkit seketika.
Seperti itulah efek yang muncul hanya karena kehadiran sosok gadis pelayan yang usianya dua tahun lebih muda dariku itu—cukup dengan berdiri di sana saja, ia sudah menjadi penghilang kantuk paling efesien yang pernah aku miliki.
Apalagi—
"Kau sudah berjanji untuk memanggilku 'Len' saat kita cuma berdua, 'kan? Kau juga harus berhenti berbicara dengan formal seperti itu—rasanya aneh bila pacarku sendiri memanggilku 'Tuan Muda'."
"Maaf, saya—ehm, aku belum terbiasa, L-Len."
Miku segera memalingkan wajahnya dariku, mencoba menyembunyikan apa yang sebenarnya tak perlu lagi disembunyikan. Dasar cundele. Tipe heroine seperti itu sudah kelewat pasaran, tahu.
Yah, meski begitu, wajah memerah perempuan tetap saja merupakan wajah termanis yang bisa mereka tunjukkan—sayangnya itu bukan sesuatu yang mereka rasa pantas perlihatkan. Perempuan memang sulit dimengerti. Atau mungkin akunya yang memang malas untuk mencoba mengerti?
"... maaf. Ini memalukan. Anda—kamu tahu sendiri, saya—ugh, aku... tidak pernah... memiliki hubungan khusus dengan seseorang seperti ini sebelumnya."
—dan orang pertama yang kau pacari adalah majikanmu sendiri, aku melanjutkan, menyindirnya (sekaligus diriku sendiri) di dalam pikiran.
Sungguh prestasi yang mengagumkan untuk gadis perawan yang bahkan belum pernah merasakan cinta sebelumnya.
Seandainya ia adalah gadis tak tahu malu yang membangunkan aku dengan ciuman pagi, mungkin ia akan jadi gadis paling sempurna yang pernah aku pacari. Tapi, yah, mau bagaimana pun juga, Miku tetap Miku—ia tetap manis apa adanya.
Ah, sebagai catatan, aku memacari perempuan ini bukan karena aku punya fetish dengan pakaian maid. Pemuda terhormat sepertiku tidak mungkin memiliki hal konyol seperti itu... mungkin.
Aku bersumpah atas kehormatan nama Kagamine, aku belum pernah memintanya melakukan hal-hal aneh menggunakan seragam itu. Setidaknya untuk saat ini.
Menanggapi wajahnya yang semakin memerah, aku hanya tersenyum tipis sambil tertawa kecil.
Mengambil handuk putih berbahan halus yang Miku serahkan dengan wajahnya yang masih tak henti-hentinya merona malu, aku segera berjalan menuju kamar mandi pribadi yang berada di pojok kamar.
Tentu, aku tak lupa memberikan godaan terakhir sebelum pergi.
"Kau mau ikut?"
"T-t-tidak! S-saya—uuh. Tolong jangan goda aku saat bekerja, Len."
— (Rin) —
[Rin, hari ini kau mau pergi ke Vila Boneka yang ada di puncak Gunung Vokayama itu, 'kan? Kalau pulang bawakan oleh-oleh, ya. Boneka apa aja, deh. Asal bukan yang rambutnya bisa tumbuh sendiri. Wkwkwk.]
Di dalam mobil, bangku belakang.
Aku bersandar dengan lesu di sandaran kursi mobil yang terlalu empuk untuk dibilang keras dan terlalu keras untuk dibilang empuk—aku malas mendeskripsikan, tapi pokoknya sesuatu semacam itu.
Earphone yang menempel pada kedua lubang telingaku memutar playlist berisi lagu-lagu populer yang bercampur dengan deretan musik klasik disana-sini, entah sudah untuk keberapa kalinya dalam perjalanan lima hari lima malam ini.
Rasa manis yang terasa di dalam mulutku berasal dari permen Poppelin terakhir yang aku miliki. Padahal aku sudah bawa tiga bungkus ukuran besar... entah apa karena itu tak cukup, atau aku yang memang terlalu banyak memakannya dalam sehari.
... 20 permen perhari itu bukan jumlah yang berlebihan, 'kan?
Pesan yang aku baca barusan dikirim oleh salah satu temanku di sekolah. Ah, sebagai catatan, aku saat ini kelas 3 SMA. Seperti yang kau duga, ia adalah gadis remaja yang tergila-gila akan hal-hal yang berhubungan dengan cinta atau yang imut-imut.
Aku mengerti perasaannya. Aku juga seperti itu, kok. Mungkin.
Kagamine's Dolls adalah merek dari produsen, desainer,pengerajin, dan segala hal yang berhubungan dengan boneka terbesar di seluruh negeri ini. Detail silakan tanya ke orangtuaku karena aku tidak tertarik melakukan promosi di pikiranku sendiri.
Coba ambil satu saja boneka di crane machine secara random. Aku berani taruhan kalau di belakang boneka tersebut terjahit simbol dari merek kebanggaan dari keluarga Kagamine.
Ah, tapi kalau bukan, tolong jangan tagih uang taruhannya. Judi itu dosa, dan aku bahkan belum cukup umur untuk diizinkan masuk ke kasino.
Sebagai keturunan dari sang pendiri sekaligus direktur utama perusahaan boneka tersebut—maaf mengecewakanmu, adalah seorang kakek tua bangka—bisa dibilang, aku cukup terkenal di kalangan para siswi di sekolah.
Kebanyakan berharap bisa dapat boneka gratis atau semacamnya.
Yah, terkadang, seperti gadis yang mengirimiku pesan ini, aku akan berbaik hati dan memberikan salah satu koleksi boneka yang menumpuk di rumahku pada mereka.
[Oke, oke. Kalau begitu aku akan membawa boneka yang bisa gerak sendiri saat malam. (lol)]
Apalagi saat tahu bahwa hari ini, aku akan berkunjung—atau lebih tepatnya 'pulang'—ke Vila Boneka, rumah keluarga Kagamine yang sebenarnya, yang terletak di puncak gunung Vokayama.
Jadi tolong pengertiannya dengan tidak menanyakan berapa jumlah pesan di inbox-ku yang isinya serupa. Kekuatan gadis SMA memang mengerikan.
Jelas, pesan yang aku kirimkan sebelumnya, dan juga pesan-pesan yang aku balas lainnya, adalah jawaban bohong yang penuh dusta.
Vila Boneka, 'rumah asli' dari keluarga Kagamine, tidak semanis seperti yang mereka bayangkan. Daripada boneka binatang manis berbulu halus seperti yang mereka harapkan, vila satu itu malah dipenuhi oleh boneka-boneka tali yang terbuat dari kayu.
—dan aku beritahukan padamu, kata manis adalah kata yang paling tidak cocok untuk menggambarkan boneka-boneka tersebut.
"Rin, kamu bakal ketemu sama Len setelah sekian lama, lho."
"Iya, ya. Aku tidak sabar lagi."
Aku kecewa pada diriku sendiri yang bisa berbohong pada Mama dengan begitu mudahnya. Aku juga kecewa pada diriku sendiri karena dengan mudahnya mengeluarkan senyum palsu.
"Kalian terakhir kali ketemu nyaris enam tahun yang lalu, 'kan?"
"Iya."
—sebenarnya, aku sama sekali tidak ingat.
Kagamine Len. Sepupu yang lahir dari istri kedua kakak ibuku.
Suami dan sang istri pertama meninggal akibat kecelakaan tujuh belas tahun yang lalu, meninggalkan istri kedua dan anak laki-laki yang bahkan belum bisa berbicara.
Sebagai keluarga dari anak tertua, sudah sepantasnya—setidaknya menurut standar keluarga Kagamine—mereka tetap berada di vila, bertugas mengurus rumah asli keluarga beserta kakek kami yang usianya sudah melewati empat perlima abad.
Kalau ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan pemuda yang posisinya dalam keluarga sangat canggung itu, mungkin adalah 'bagaimana rasanya tinggal di tempat yang jauh seperti puncak gunung? Apa kamu tiap hari harus naik-turun gunung untuk sekolah?'.
Yah, lagipula ia baru saja lulus dari SMA kemarin, jadi sepertinya satu-satunya yang ia lakukan saat ini hanyalah mengurung diri di vila dan menunggu warisan, mengingat Mama sama sekali tak membicarakan tentang universitas yang ia masuki atau semacamnya.
... itu bodoh.
Walau ia adalah satu-satunya cucu yang lahir dari putra pertama keluarga Kagamine, bagaimana bisa ia berharap mendapatkan warisan bila ia hanyalah anak dari istri kedua?—kecuali dia merasa cukup dekat dengan Kakek dan merasa pantas mendapatkannya atas dasar kasih sayang.
"..."
... permen di dalam mulutku sudah habis. Tak peduli berapa kali aku membuka dan menutup bungkus besar permen yang teronggok di sampingku, tetap tak ada permen lain yang muncul secara ajaib.
Aaah, aku ingin tidur.
Aku ingin segera sampai di sana, menyelesaikan masalah warisan yang tak penting ini, dan menumpang tidur sepuasnya di kasur empuk setelah empat malam berturut-turut terpaksa tidur di dalam mobil.
Aku harap tidak terjadi hal-hal aneh di sana nanti.
... semoga.
Vocaloid © Yamaha, Crypton.
Serial cerita permainan misteri yang kedua setelah Saat Bel Berbunyi.
Kali ini pun masih menggunakan konsep bold kebenaran dan italic kemungkinan, cuma dengan format seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya.
Catatan:
Kali ini, selain pure mystery kayak SBB, kayak yang saya bilang, saya bakal nyelipin unsur-unsur genre lain.
Dan, yah. Len dan Miku udah saling cinta dari awal. Tebusan buat ending mengenaskan di SBB. Maaf buat yang gak ngeship mereka.
Misteri, drama, suspense, romance (dikit, jangan ngarep), komedi (lawak serius yang mungkin enggak terlalu lucu, jadi jangan ngarep).
— Saat Boneka Menari —
EPISODE 01
11 Desember 2012, 07.00 – 12.00
— Names of the Marionettes —
— (Len) —
Sejujurnya, aku tidak terlalu akrab dengan Kakek.
Bahkan saat ia meninggal pun, jangankan meneteskan air mata, merasakan secuil rasa kesedihan pun aku ragu.
Saat sosok pria gagah dengan rambut putih tersebut 'kembali' ke tanah, satu-satunya yang ada di benakku mungkin bukanlah perasaan sedih atau sakit—kebalikannya, aku mungkin malah merasa sedikit senang.
"Kau harus menjadi manusia yang sempurna bila ingin mewarisi Perusahaan Boneka Kagamine, Len."
Kakek selalu memaksaku, sebagai satu-satunya cucu yang 'terpaksa' tinggal di Vila Boneka, agar menjadi sosok manusia yang sempurna dan ideal. Walau berkat itu juga, aku bisa merasakan manfaatnya sendiri dalam kehidupan bermasyarakat (baca: sekolah).
Sepertinya IQ tinggi adalah salah satu gen mendasar dari keluarga Kagamine. Walau tak setinggi Kakek yang kabarnya melebihi 180, memiliki IQ yang menembus kategori jenius adalah kebanggaan tersendiri untukku.
Berkat itu juga, aku jadi sedikit terbantu dalam memenuhi hasratnya untuk menjadikanku sebagai seorang ahli waris yang sempurna.
Ketua OSIS, peringkat 10 besar nilai nasional tertinggi, menang di berbagai perlombaan ekstrakurikuler—ditambah dengan berasal dari keluarga sekaya Kagamine, bila saja tinggi tubuhku di atas rata-rata, aku yakin orang-orang akan melihatku sebagai gary stu.
—dan sosok yang sempurna itu, sosok yang walau dilahirkan dari rahim pengganti 'ibu pertama' yang tak bisa mengandung, sosok yang diharapkan menjadi pewaris Perusahaan Kagamine selanjutnya itu, malah berpacaran dengan seorang pelayan.
"..."
Mari tidak bicara tentang hal itu.
Pisau dan garpu di kedua tanganku membantu dalam memakan sarapan yang 'sederhana' namun padat energi di atas piring. Walau tak selevel masakan koki restoran bintang lima, masakan dari kedua pelayan kami yang sekarang sedang berdiri di dekat pintu ruang makan besar ini benar-benar mengagumkan.
Jelas, aku tidak bisa mengungkapkannya begitu saja. Aku bukan seorang kritikus makanan bodoh yang tidak mensyukuri bisa makan gratis, dan entah apa yang akan diucapkan oleh Ibu bila aku berbicara saat makan.
Meja panjang di ruang makan besar ini adalah meja yang dipersiapkan untuk sepuluh orang sekaligus—empat kiri, empat kanan, satu depan dan satu belakang.
Saat Kakek masih hidup, ia akan duduk di bangku paling depan, sedangkan aku dan Ibu, sebagai satu-satunya anggota keluarga yang tinggal di vila ini, akan duduk di bangku kiri-kanan yang paling dekat dengan beliau.
Jamuan sunyi antara tiga orang di meja sepuluh orang tersebut sudah menjadi kegiatan rutin yang mendarah daging sejak kematian 'Ayah' dan 'Bunda' (mereka mati tak lama setelah aku dilahirkan, tapi Ibu menyuruhku untuk tetap memanggil mereka begitu).
Namun semenjak Kakek meninggal satu bulan yang lalu, otomatis, makan malam sepi tersebut menjadi semakin sepi hanya dengan keberadaan aku dan Ibu sendiri. Sekarang aku mengerti kenapa mereka bilang makanan akan terasa makin lezat apabila dimakan bersama-sama.
Jika saja Ibu sedang tidak ada, mungkin aku sudah menyuruh Miku dan Yuuma—pelayan yang satunya lagi—untuk duduk dan ikut makan bersama. Sayangnya, Ibu adalah seorang 'bangsawan' yang mengataskan manner di atas segalanya, jadi... yah, begitulah.
Sebagai catatan, Ibu juga seorang perfeksionis kelas atas. Yang mana berkombinasi dengan kecintaannya pada kebersihan, membuatnya menjadi pribadi yang... lumayan mengerikan bila belum terbiasa. Bahkan aku yang terlahir dari rahimnya saja terkadang merasa repot.
"Len, apa kau sudah memutuskan apa yang akan kau lakukan mulai dari sekarang? Perusahaan untuk sementara akan dipegang oleh wakil direktur hingga kau menginjak 21 tahun, jadi sebaiknya kau melakukan sesuatu selama tiga tahun kekosongan ini."
Tiga tahun itu terlalu pendek untuk kuliah. Dan aku terlalu malas untuk melakukannya. Dan lagi, kenapa Ibu berbicara seolah-olah aku pasti terpilih jadi ahli waris, sih?
Jika bisa, aku ingin menjawab bahwa aku ingin menganggur. Sudah cukup bersekolah asrama yang jam belajarnya nyaris 12 jam sehari. Aku ingin bermalas-malasan dan bermesraan dengan Mik—maksudku menikmati hidup dan melakukan apa yang tak sempat aku lakukan dulu.
Tapi rasanya mustahil. Setelah memikirkan alasan untuk sejenak, aku berbicara dengan nada fiktif yang dibuat sehormat dan setegas mungkin,
"Untuk sementara aku akan mencoba mendalami ilmu kepemimpinan, kerja sama, etos kerja, dan beberapa hal lainnya yang mungkin akan berguna saat bergabung dengan Perusahaan Kagamine secara otodidak."
—jelas, pelajaran seperti itu tidak ada.
Aku hanya sembarang mengarang saja. Kemampuanku dalam menciptakan kalimat konyol yang terdengar masuk akal selalu membuat aku bangga pada diri sendiri semenjak dulu. Jangan tanya berapa besar nilaiku semasa sekolah dulu dalam pelajaran semacam Sosiologi atau Budi Pekerti.
"... begitu. Teruskan belajarmu."
"Iya."
Karena hari ini adalah hari di mana surat wasiat Kakek akan dibacakan, Paman Leon, adik dari ayahku, anak kedua Kakek yang sampai saat ini belum menikah, dan juga Bibi Lenka—beserta suami dan putrinya—akan datang ke sini.
Oleh karena itu, pakaian yang aku—dan Ibu—gunakan adalah pakaian formal yang rasanya sangat aneh karena harus aku gunakan di rumah sendiri.
Keluarga macam apa yang memakai satu set jas lengkap—sampai dasi segala—hanya untuk menyambut anggota keluarga lain yang datang kembali ke rumah utama?
Ibu yang sudah terbiasa mengenakan pakaian kerjanya—kemeja putih, blazer kuning tua, dan rok sewarna sepanjang lutut—adalah lain cerita. Aku masih belum terbiasa dengan betapa pengapnya jas yang aku kenakan ini.
—dan memikirkan aku harus menggunakan ini seharian sudah membuatku lelah duluan.
Aah, aku ingin cepat menyelesaikan sarapan ini dan menghidupkan televisi. Hari Minggu tidak akan lengkap kalau aku belum menonton kartun robot kucing dari masa depan itu.
— (i) —
Jam setengah dua belas siang.
Yang pertama datang ke Vila Boneka adalah Pak Shirafuji Tonio, dokter pribadi sekaligus 'pengacara' Kakek yang dipercayakan untuk memegang surat wasiat peninggalan beliau.
Ah, aku mengutip kata 'pengacara' karena pada nyatanya, Pak Shirafuji bukanlah pengacara asli. Kuliah kedokteran saja menguras waktu dan uang, apalagi ditambah kuliah hukum sekaligus?
Aku menyebutnya begitu karena pria yang sepertinya berusia sekitar 40-50 tahunan itu—kau tahu sendiri betapa sulitnya bertanya masalah usia kepada orang yang jauh lebih tua—bertugas menjadi semacam pengacara bagi Kakek dalam kepengurusan surat wasiatnya.
Dari namanya, seharusnya kalian sudah tahu bahwa ia keturunan luar. Mungkin Amerika, mungkin saja Inggris. Entah. Walau aku seorang smooth talker, pria dewasa jelas di luar area kemampuanku.
"Selamat datang di Vila Boneka."
Ibu, Miku, dan Yuuma, mengucapkan hal tersebut sambil menundukkan kepala sedikit. Aku mau tak mau ikut-ikutan saja, demi menghindari cubitan yang tak diperlukan.
"Walau sudah musim dingin, tanaman di kebun vila ini masih menakjubkan seperti biasa. Ini pasti berkat perawatan rutin dari Anda, Nyonya Lily."
"Tidak, Anda terlalu memuji."
—enak saja.
Walau di atas kertas, Ibu—Kagamine Lily, adalah yang bertanggungjawab dalam mengurus vila ini, pada kenyataannya yang ia lakukan hanya memberi perintah kepada para pelayan.
Kalau ada yang harus dipuji, itu adalah Miku dan Yuuma yang rela bekerja siang-malam dan bahkan tinggal di vila ini, tidak seperti pelayan lain yang hanya datang di siang hari dan berpura-pura sakit di hari penting seperti ini karena takut akan tekanan, atau Ibu yang duduk meminum teh di depan teras menyaksikan Miku menyirami kembang.
Tapi satu kali lagi, demi kedamaian dunia—alias menghindari amarah sang ibunda tercinta, aku hanya bisa diam saja.
Miku sendiri juga tidak terlihat keberatan.
"Jadi... di mana surat wasiatnya, Pak Shirafuji?"
Pak Shirafuji mengangkat koper perak yang ia tenteng di tangan kanannya. Ia menggunakan jari telunjuk tangan kirinya untuk mengetuk pelan koper tersebut, menunjukkan bahwa 'wasiat' Kakek aman berada di dalam.
"Aah, oh."
Ibu hanya tersenyum kecil, agak sedikit bingung dengan sikap Pak Shirafuji yang, mungkin, terlihat sedikit tidak sopan menurut standar santun Ibu yang terlalu tinggi. Apa ini yang mereka sebut culture gap?
"Kapan Anda akan membacakannya?"
Ibu bertanya satu kali lagi. Pak Shirafuji mengeluarkan sedikit senyum sebelum menjawab, "Pak Kagahiko menyuruh saya untuk 'membacakannya' setelah semua anggota keluarga terkumpul."
"... begitu..."
Sayang sekali kau tidak bisa membacanya lebih dulu dibanding Paman Leon, ya, Ibu. Ya, sebenarnya aku sendiri juga merasa lebih aman apabila posisi pewaris diberikan kepada Paman Leon daripada langsung ke diriku.
Maksudku... aku bahkan baru lulus SMA kemarin. Bahkan bila aku harus menunggu tiga tahun, seperti perkataan Ibu, itu masih terlalu cepat.
Jauh lebih baik memberikan posisi pimpinan pada Paman Leon, yang menjadi anak tertua setelah kematian Ayah, 'kan? Lagipula Paman Leon sendiri sudah biasa dalam dunia bisnis.
Dibandingkan dengan aku yang kerjaannya hanya belajar dan bertingkah sok cerdas, Paman Leon yang sudah merasakan asam garam dunia jelas merupakan pilihan yang lebih baik.
Namun, jelas, satu kali lagi harus aku katakan, aku tak mungkin mengatakan hal tersebut pada Ibu. Bisa-bisa ia memarahiku habis-habisan dan memberikan hukuman yang aneh-aneh lagi.
Ibu sendiri juga sebenarnya masih agak canggung dengan statusnya sebagai istri kedua. Namun berkat aku yang 'lumayan akrab' dengan Kakek, ia, dengan harapan terlalu tinggi, mengharapkan aku akan segera diangkat menjadi ahli waris.
Yah... kita akan tahu setelah mendengar isi dari wasiatnya.
"Silahkan masuk, Pak Shirafuji."
Ibu mempersilahkan tamu pertama untuk masuk ke dalam koridor vila yang dipenuhi dengan patung boneka tali realis di dalam kotak kaca yang terjejer di dinding-dinding koridor.
"Ooh, boneka buatan tangan Pak Kagahiko, tak peduli berapa kali saya melihatnya, selalu terlihat indah."
... itu indah?
Boneka mengerikan semacam itu terlihat indah di matanya? Aku benar-benar tidak bisa mengerti selera orang dewasa. Nikmatnya pahit kopi adalah satu hal, tapi indahnya boneka menyeramkan buatan Kakek itu... bahkan setelah tinggal di sini selama 18 tahun, aku masih belum mengerti.
"Tuan Besar juga pasti akan senang mendengarnya."
Yuuma, sang pelayan berambut merah muda—serius—yang memiliki tinggi badan yang membuatku dendam kesumat itu berbicara dengan nada yang penuh rasa hormat.
Sama seperti Miku, Yuuma adalah pelayan tetap yang tinggal di dalam vila sejak beberapa tahun yang lalu, dan satu-satunya yang tidak melarikan diri di hari penting ini selain Miku.
Aku pernah dengar kalau ia adalah pelayan yang diangkat sendiri oleh Kakek, sama seperti Miku, jadi aku rasa ia memiliki perasaan khusus pada sang kepala keluarga. Jelas, 'perasaan' yang dimaksud di sini bukanlah cinta. Kecuali otakmu cukup miring untuk menggemari pasangan pemuda 24 tahun dengan kakek 80 tahunan.
"Miku, tolong bawakan teh. Yuuma, kau panaskan kue kering yang ada di kulkas dan bawa ke ruang tamu. Aku dan Pak Shirafuji akan menunggu di sana, jadi jangan lama-lama."
Aku menunjuk wajahku sendiri, bertanya pada Ibu apa yang seharusnya aku lakukan.
"Tentu saja kau ikut bersama kami, Len."
— (Rin) —
Gluduk gluduk gluduk.
"Aaah, mobil VW-ku berubah menjadi mobil rally dalam sekejap. Untung aku sudah mengganti bannya untuk jaga-jaga."
Papa terus menggerutu sepanjang perjalanan ke puncak Gunung Vokayama—yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai perjalanan ke Vila Boneka, 'rumah asli' kami.
"Lagian, kenapa kita malah bawa mobil jelek ini, sih? Padahal yang bagus masih ada di rumah."
"Kita mau naik gunung, Sayang," Papa menjawab gerutu Mama tanpa mengalihkan pandangan. "Daripada mengotori Ferrari-tan yang baru selesai aku cuci, aku lebih suka menggunakan mobil antik pemberian Ayahmu ini."
Daripada vila yang ada di puncak gunung, mungkin lebih tepat apabila aku katakan jika Gunung Vokayama itu sendiri adalah kediaman Kagamine yang sesungguhnya.
Dengan kekayaan keluarga Kagamine yang melimpah, bukan hal yang aneh bila Kakek membeli satu gunung hanya untuk membuat rumah besarnya yang ada di puncak menjadi lebih aman, 'kan?
"Sayang, kenapa kau tidak jalan lebih pelan saja?"
"Melewati jalan buruk itu berbeda dengan belajar sebelum ulangan!" Papa mulai dengan analogi bodohnya, "Di sini, sepuluh kali satu lebih baik daripada satu kali sepuluh!"
Greeeng!
"Aduh!"
Berkat injakan gas tiba-tiba pada gigi tertinggi—atau lebih tepatnya berkat teori gila ciptaan Papa, mobil kodok antik yang terpaksa melewati medan bergelombang ini melompat hanya karena sedikit perbedaan kontur tanah.
Untung korbannya hanya kepala tiga orang yang terpaksa memberikan ciuman kasar pada atap mobil.
"Sekarang mobil ini benar-benar jadi mobil kodok, ya."
Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Mama bisa mengeluarkan komentar setenang itu sambil tersenyum. Apa mungkin itu sebenarnya majas ironi? Tapi dari tawa ringan yang keluar dari celah bibir Papa, sepertinya bukan.
"Ahahaha, kau benar, Say—adududuh! Jangan cubit putingku saat menyetir! Kalau aku tidak bisa menahan nafsu untuk membalasnya dan kita menabrak pohon bagaimana?!"
"Jalan. Lebih. Pelan."
—aku tarik kata-kataku. Itu benar-benar, seratus persen, contoh penggunaan majas ironi yang baik.
Begitu aku sampai di jalan yang lebih tenang, aku harus memasukkan ke dalam catatan harian bahwa cubitan ke puting Papa adalah serangan yang efektif. Walau aku sendiri ragu aku berani melakukannya.
"Hei," suara Papa terdengar, "Yang di depan itu... Kak Leon, 'kan?"
Papa, sebagai mantan keluarga biasa yang masuk ke keluarga Mama yang memiliki strata sosial yang jauuuh lebih tinggi (saking jauhnya jumlah huruf u-nya menjadi tiga kali lipat), sadar diri dan menyebut Paman Leon dengan sebutan 'kakak', walau usia mereka yang sebenarnya hanya terpaut satu tahun.
Daripada itu—
"Oh! Kakak bodoh itu... Padahal dari minggu lalu sudah aku bilang kalau tidak punya kendaraan, ikut dengan kami saja! Kenapa aku harus punya kakak sebodoh ini?!"
—harusnya kau katakan itu di depan Paman Leon, Mama. Kenapa semua perempuan (kecuali aku, mungkin) sangat suka menghina orang dari belakang?
Lagipula, keputusan Kakek untuk membuat rumah di puncak gunung itu sendiri yang aneh.
Jangan salahkan Paman Leon yang harus mendaki dua jam hanya demi sampai di rumahnya sendiri. Kalau ada yang harus disalahkan, itu jelas adalah mantan kepala keluarga kita yang sekarang sudah di dalam tanah, 'kan?
Ah, ngomong-ngomong, Paman Leon benar-benar sedang berjalan kaki. Dengan sepatu pantofel.
Entah karena ia benar bodoh seperti kata Mama atau punya semangat muda yang menggebu-gebu, tapi ia benar-benar sedang mendaki dengan kakinya sendiri, membopong tas besar yang aku yakin tidaklah ringan.
"Rin, tolong panggil pamanmu itu," Mama berbicara sambil mengurut dahinya yang mengkerut. "Ajak dia untuk ikut dengan kita."
... kenapa harus aku...
Menghela napas ringan, aku memutar tuas kaca yang menempel pada pintu kendaraan tua ini, membuat pembatas setengah transparan tersebut turun tiga perempatnya, sebelum mengeluarkan kepala seiring dengan kecepatan yang diturunkan,
"Paman Leon!"
Pria dewasa yang memakai tuksedo lengkap—mendaki dengan tuksedo, apa tidak ada orang normal di keluarga ini?—itu menoleh ke belakang sembari mengelap keringat di dahinya.
"Ooh! Rin! Lama tak bersua!"
—'bersua'...
Mobil terhenti, tepat di samping Paman yang berdiri, menaikkan kacamatanya dengan jari telunjuk seolah-olah sedang memasang pose agar terlihat keren di hadapan gadis keponakannya beserta adik perempuan dan adik iparnya.
"Lenka dan Rinto juga. Lama tak bersua."
Apa kata 'bersua' itu adalah ciri khasnya?
"... serius, Kak Leon. Kalau kau tidak punya kendaraan, kenapa kau tidak menghubungiku?" Ibu langsung mengeluarkan unek-uneknya sekaligus, "Apa kau terlalu malu untuk minta tolong kepada adik perempuanmu ini?"
"Bukan begitu," Paman Leon pamer cengir, "Tadinya aku mau pulang dengan motor. Tapi tangki bensinnya bocor di kaki gunung. Akhirnya aku terpaksa jalan kaki."
"... tunggu dulu. Motornya?"
"Eh? Aku tinggal," ia menggaruk rambutnya sambil tertawa kecil, "Yah, itu cuma motor bekas Ayah, sih. Hilang juga tidak ada harganya."
... uwah. Mindset orang kaya memang beda—meskipun aku juga bagian dari keluarga kaya itu sendiri, aku masih tetap kagum dengan betapa ringannya orang dewasa di sekitarku dalam memandang uang.
Apakah Len juga sama seperti mereka?
—yah, ia tinggal di vila mewah sejak kecil, sih. Tidak seperti aku dan orangtuaku yang pergi dari rumah dan bekerja di bidang mereka sendiri, ia pasti sudah terbiasa dimanja sejak kanak-kanak.
"... ehm, Rin."
Dehaman yang terdengar lumayan dalam keluar dari mulut Mama, membuatku segera sadar akan perintah yang ia berikan beberapa saat sebelumnya. Dengan cepat, aku segera mengajak Paman masuk ke dalam,
"Paman, mau ikut dengan kami?"
"Eh? Boleh?" manik biru di balik kacamatanya beralih dari Mama ke putri tunggalnya yang duduk di belakang ini, "Kalau Rin yang minta, Paman dengan senang hati mau."
Singkat cerita, jumlah orang yang mengisi mobil VW butut—maksudku, antik ini bertambah satu. Paman tanpa malu duduk di sampingku, dengan tas besar yang berada di antara kami.
Jelas, aku segera menyembunyikan bungkus besar permen Poppelin-ku yang sudah kosong melompong. Aku tak bisa membuat Mama malu karena putrinya yang rakus ini telah menghabiskan tiga bungkus besar permen sendirian.
"Ini isinya apa?"
Aku berkata sambil menepuk tas punggung besarnya secara perlahan, mengeluarkan pertanyaan untuk memulai pembicaraan.
"Bom."
"Eh?"
"Bercanda," Paman Leon pamer cengir sekali lagi, "Cuma perlengkapan masak, kok."
— (i) —
"Uwaah."
Aku terperangah dengan nada datar.
Aku benar-benar terkagum, sebetulnya. Aku hanya melakukan hal barusan untuk menyindir Mama yang membentangkan tangannya dan menarik napas dalam-dalam sambil berteriak, "Aku pulang!"
Sudah satu bulan berlalu semenjak Kakek, Kagamine Kagahiko, kepala keluarga Kagamine sekaligus pendiri dan direktur utama Perusahaan Kagamine meninggalkan dunia ini.
Dikarenakan lokasi rumah keluargaku yang berjarak satu kali naik pesawat atau lima hari lima malam dengan mobil dari Vila Boneka, serta kesibukan kedua orangtuaku, kami tak datang pada hari pemakaman.
Ya, sungguh anak, menantu, dan cucu yang durhaka.
Kembali ke masalah. Hal yang membuatku, atau lebih tepatnya Mama terperangah seperti orang bodoh barusan adalah betapa indahnya kebun raksasa yang didominasi oleh bunga bermahkota putih salju—lili, sepertinya—di hadapan kami.
Empat petak kebun raksasa, membentuk jalan antara gerbang pagar raksasa hingga pintu masuk vila, memberikan sensasi keagungan dan ketenagan bagi siapa saja yang berjalan melewatinya.
"Setidaknya Lily berhasil merawat kebun Kakek dengan baik."
... Lily... ah, jadi dominasi bunga lili di kebun ini adalah perwujudan dari narsisme orang yang bertanggungjawab? Di luar dugaan bibi yang sudah tak aku temui selama enam tahun itu berani—dan narsis—sekali.
"Sudah, sudah," Papa menepuk puncak kepala Mama pelan, "Walau cuma istri kedua, tapi 'kan sejak kematian Kak Ren dan Kak Lin, dia sudah berusaha seorang diri mengurus Ayah dan vila ini. Hargailah sedikit."
"... iya, iya."
Dari dialog barusan kentara sekali kalau Mama kurang menyukai satu-satunya majikan yang mengurus Vila Boneka saat ini. Entah itu karena orangnya sendiri secara pribadi atau karena ia masih tak puas dengan keberadaan istri kedua kakaknya itu.
"Paman, apa dari dulu hubungan Mama dan Bibi Lily kurang baik?"
"Yah," Paman Leon angkat bahu. "Soalnya Mama-mu itu orang yang paling menentang Kak Ren saat dia ingin menikahi istri kedua. Jadi wajar saja, sih. Apalagi sikap Lily yang terlalu disiplin dan perfeksionis itu seperti dua sisi piring dengan Lenka."
Dua sisi piring... kenapa tidak koin saja?
Aku mengabaikan analogi konyolnya dan bertanya lagi.
"Kalau Paman sendiri?"
"Aku juga menentang!" ia tiba-tiba berkata dengan semangat, "Maksudku, aku bahkan belum menikah, tapi tiba-tiba Kak Ren bilang dia mau menikah lagi! Apa-apaan itu?! It isn't fair, right?!"
"..."
Kenapa tiba-tiba di ujungnya pakai Bahasa Inggris? Mana pengucapannya berantakan lagi—jika saja Paman Leon adalah teman seumuran, mungkin aku akan berkata begitu.
Aku menarik napas.
Berbicara dengan Paman yang memiliki sikap kekanak-kanakan walau sudah tembus kepala empat itu benar-benar merepotkan. Aku memutuskan untuk tetap diam dan terus melangkah saja.
Tak perlu waktu lama hingga langkah kaki kami berempat sampai di depan pintu kayu mahoni raksasa penuh ukiran artistik berwarna coklat gelap.
Tanpa perlu mengetuk, pintu itu terbuka sendiri, tanpa decitan, menandakan bahwa pintu tersebut rajin dirawat. Dari dalam sana, terlihat empat orang yang berdiri, melangkah mendekat untuk memberi salam.
Satu orang pelayan laki-laki, satu orang pelayan perempuan. Wanita dewasa dengan pakaian kerja yang terkesan anggun itu sepertinya tak perlu diragukan lagi adalah Nyonya rumah ini, Bibi Lily.
Lalu, anak laki-laki yang memakai kemeja kuning tua di dalam jas hitam itu, pemuda yang membungkuk dalam diam dengan wajah kecut di sana—Kagamine... Len.
Bayangannya entah kenapa agak beda dengan yang ada di kepalaku. Tadinya aku pikir ia sedikit lebih tinggi setelah enam tahun tak berjumpa... meski tinggi tubuhku sendiri juga tak bertambah banyak.
Sambil membungkuk, terkecuali Len yang masih tetap tak bersuara dengan wajah yang juga masih tetap kecut, mereka mengucapkan kalimat yang rasanya tidak normal digunakan untuk menyambut anggota keluarga yang kembali ke rumah utama—
"Selamat datang di Vila Boneka."
— Bersambung —
Catatan Penulis:
... bosen, ya?
Yah, ini baru perkenalan, sih.
Soalnya saya mau kalian punya 'ikatan' dulu dengan para karakternya sebelum mereka saya bant—bunuh. Tapi kayaknya gak cukup waktu, deh. Takutnya pada bosen duluan sebelum permainannya dimulai. Tenang aja, episode depan udah ada yang mati, kok.
Dan... biar enggak bingung, biar saya kasih pohon keluarganya.
Kagamine Kagahiko (OC, meninggal) punya tiga anak. Ren (meninggal), Leon (44), dan Lenka (42).
Ren menikah dengan Lin (meninggal). Karena gak punya anak, dia kawin lagi dengan Lily (46), dan lahirlah Len (18). Di sini Len baru lulus SMA beberapa bulan sebelumnya.
Leon jomblo abadi AHAHAHAHAH /woi
Lenka menikah dengan Rinto (43), dan lalu melahirkan Rin (17). Rin masih kelas 3, lebih muda satu tahun daripada Len.
Selain enam orang anggota keluarga Kagamine, ada tiga orang lagi, Miku (16), Yuuma (25), dan Tonio (52).
... udah tua-tua banget, ya? Buat penggambaran saya serahkan pada pembaca aja, deh. Mau bayangin mereka punya keriput atau tetap muda kayak biasa, terserah.
Dan, yah, edit sedikit. Tadinya saya mau bikin Tonio jadi pelayan dan Yuuma jadi dokter, tapi setelah dipikir lagi, akhirnya posisi mereka saya balik. Soalnya rada enggak masuk akal kalo si Kakek mau dirawat sama dokter semuda Yuuma.
Terus, Tonio yang tadinya mau saya bikin jadi orang luar asli (dengan nama Tonio A. Smith (random emang)), saya ubah jadi setengah Jepang. Tolong jangan ngamuk kalo tiap kali nama 'Pak Shirafuji' muncul, kalian malah ngerasa ngeliat OC.
Dan, uh, jumlah karakternya banyak banget. Mari berdoa agar saya gak ngelupain salah satu dan ngebuat ada karakter yang enggak ngomong sepanjang cerita.
Hmm... karena belum ada yang mati, pojok vs. Pembaca juga belum dibuka. Jadi... sampai jumpa di episode selanjutnya.
