Chapter kedua is up! Lama banget ya, updatenya. Apa boleh buat, akhir tahun berarti ujian sialan menanti duluan. Gara-gara itu, kemampuan menulisku berkurang drastis! Aku harap cerita ini sedikit lebih baik. Bakal ada persaingan cinta sedikit. Ya! Aku memang suka dengan hal-hal itu. Nah, selamat menikmati! XD

Warning : Bakal OOC di awal, namun setelahnya tidak. Kujamin. (mungkin tidak juga -.-')

Disclaimer : Aku bukanlah ahli membuat cerita misteri, dan aku bukanlah pembuat Meitantei Conan.


xxxxxxxxxxxx Preparation xxxxxxxxxxxx

Pagi yang indah, burung berkicau dan matahari mulai bersinar.

Ai membuka matanya, awalnya matanya agak silau dengan cahaya matahari namun segera dibiasakannya. Dia ingin bangun sebelum dia segera sadar bagaimana posisi tidurnya. Dia tidur berdekatan dengan Conan, kepalanya bersandar di dadanya, tangan kirinya melingkari kepalanya. Mukanya langsung merah padam begitu sadar. Pikiran pertama yang muncul, Conan agak 'gila' karena mau tidur seperti ini, pikiran kedua semoga dia tidak berbuat 'macam-macam' meskipun pikiran itu dibuangnya. Pikiran ketiga, tentu rasa senang sekaligus malu.

Dia mengangkat kepalanya, lalu melihat wajah Conan yang tertidur pulas. 'Dia sangat lucu dan tampan kalau tidur dan melepas kacamatanya.' batinnya sambil menyibakkan rambutnya. Entah kenapa dia mendekatkan mukanya, mungkin agar bisa melihat lebih jelas wajah imut Holmes jaman Heisei ini.

Namun segera dia sadar apa maksud semua ini.

Ketika wajah mereka saling dekat, Ai yakin melihat bibir dan muka Conan bergerak sedikit, dan dia tahu apa artinya. Dia mendorong Conan jatuh dari tempat tidur, yang disusul dengan teriakan.

"KUDO! KAU BENAR-BENAR ORANG SESAT!"

Conan berdiri, tangannya memegang bagian kepalanya yang terbentur, namun dia tertawa keras dengan sangat senangnya. Jelas dia bangga berhasil mengerjai Ai dengan pura-pura tidur, yang mukanya masih memerah malu bercampur marah.

"Kau seharusnya melihat wajahmu tadi. Sangat bagus." godanya dengan nada sarcasm.

"Dan kau kira sudah hebat, bisa tidur berdua denganku, menggodaku seperti itu!?" teriak Ai, jelas masih jengkel.

"Ohh, tenang honey," kata Conan lagi, kali ini tersenyum menyeringai, "jangan marah seperti itu. Jadi apa yang selanjutnya!? Bagaimana kalau kita…"

Ai melemparkan bantalnya tepat ke muka Conan, membuatnya mundur sedikit. Tapi itu bukan satu-satunya. Ketika Conan melepaskan bantalnya, dilihatnya Ai mulai turun dari tempat tidur, berlari ke arah Conan, Segera dia berlari kabur, mereka saling kejar-kejaran di basement itu.

"Diam di tempat dan aku akan membunuhmu dengan tenang," ancam Ai.

"Kalau kau bisa," ejek Conan.


"Mereka kenapa, ya?" tanya Agasa-hakase, menyeruput teh panasnya. Pikiran tadi malam masih di kepalanya. "Sepertinya mereka bertengkar."

"Jangan khawatir Agasa-kun. Mereka mungkin sekarang sedang senang-senang" kata Yukiko, senyum kecil terpampang di wajahnya.


"Ohayu(slamat pagi) Conan-kun, Ai-chan."

"Hai Conan-kun, Haibara-san."

"Ohayu Conan-kun, Ha–Haibara-san" (tiga tebakan siapa aja yang ngomong ^^)

"Ohayu" jawab Conan dan Ai bersamaan. Mereka agak kelelahan, nafas terengah-engah, muka terlihat capek, terutama Ai yang memang staminanya tidak sebanyak Conan. Kemudian Ayumi menyadari ada sesuatu di pelipis Conan.

"Conan-kun, kenapa pelipismu berwarna ungu?" tanyanya penasaran.

Mendadak Conan menyentuh lebam di tempat yang dimaksud Ayumi. "Oh, cuma lebam sedikit, tidak apa-apa. Tadi aku," melirik sedikit ke Ai, "dikejar oleh nenek sihir yang kejam dan kau tahu apa selanjutnya."

Muka Ai memerah sedikit karena malu, dia menghadap ke arah lain. Ayumi tidak terlalu mendengar, rupanya terpana dengan wajah tampan Conan tanpa kacamata (tampaknya dia lupa memakainya). Genta yang sudah lapar menghadap ke arah meja makan, hanya mengeluh kecil ketika tahu tidak ada apa-apa di sana. Namun Mitsuhiko lain lagi. Dengan kecerdasan otaknya yang terhebat ketiga di bawah Conan dan Ai, dia langsung tahu ada sesuatu antara kedua orang itu. Dia memegang pergelangan Conan dan menariknya ke dapur.

"Ada apa, Mitsuhiko-kun!?" tanya Conan, tampak kesal dengan apa yang dilakukannya.

"Aku yang seharusnya bertanya begitu." suara Mitsuhiko tampak serius. "Kau dan Haibara-san…apa yang kalian lakukan tadi pagi di basement!?"

"Tidak ada," jawab Conan simpel. Dia sudah mulai jengkel dan ingin segera pergi. Namun tampaknya tidak. Kali ini Mitsuhiko memegang kerah Conan, sama seperti kemarin di jalan. Mukanya kali ini lebih serius, seolah ada pertanyaan lagi yang Conan tahu tidaklah menyenangkan.

"Dan aku ingin tahu, tadi malam kau tidur di mana?" tanyanya dalam dan dingin.

"Apa urusanmu?" Conan memutuskan menantang balik.

Muka Mitsuhiko mendekat, matanya menatap tajam ke arah Conan. "Jangan pura-pura. Tadi saat aku bangun hanya ada aku, Genta-kun dan Ayumi-chan di sana. Lalu aku mendengar suara kau dan Haibara-san dari basement. Aku ingin ke sana, tapi okaasan-mu melarang…"

"Jika kau lupa, Yukiko-obaasan(tante) bukan okaasan-ku," potong Conan memperbaiki kalimat Mitsuhiko, tapi diabaikan.

"…dan aku juga tahu bahwa hakase memasang tempat tidur di basement. Aku tahu kau tidak mungkin berbagi tempat tidur di hakase, jadi kau tahu apa maksudku."

"Kesimpulan bagus, Mitsuhiko-kun, tampaknya otakmu ada kemajuan pesat ya." cemooh Conan, sudah sangat kesal.

"Jangan abaikan maksudku. Katakan : apa kau tidur dengan Haibara-san tadi malam?" tanyanya serius.

Diam sesaat, lalu Conan menjawab, "Jadi kau mau jawaban jujur, ne? Jawabanku ya. Aku berbagi tempat tidur dengannya tadi malam. Kau puas?"

Jawaban itu cukup bagi Mitsuhiko untuk berbuat kasar ke Conan. Dia mengeratkan genggamannya, mendorong Conan ke dinding dengan brutal, membuat bunyi keras bergema di dapur. Conan bisa melihat kemarahan besar dan kedengkian di mata Mitsuhiko.

"Beraninya kau…" kata terakhir diberi tekanan dengan suara kebencian. Kalimatnya dipotong oleh suara di belakangnya.

"Jika kalian ingin berkelahi, lakukan di luar. Aku ingin memasak."

Suara sarcasm yang sangat khas yang dikenal membuat Conan dan Mitsuhiko berpaling. Ai berdiri di belakang, memakai celemek merah, tangan kanannya memegang panci kecil, sedangkan tangan kiri di pinggangnya, tampak sedikit kesal namun juga tertarik dengan pertengkaran kecil ini.

"Ha-haibara…" bisik Mitsuhiko pelan, genggamannya mengendur. Conan menggangapnya sebagai kesempatan. Dia segera meloloskan diri dan pergi dari dapur, meninggalkan Mitushiko dan Ai yang sekarang saling menatap.

"Kalau kau tidak keberatan, Tsuburaya-kun, bisakah kau pergi juga?" pinta Ai dengan nada sarcasm seperti biasa.

"Oh yah…" jawabnya gugup, lalu mulai jalan. Ketika di pintu dapur, dia berpaling sebentar ke Ai.

"Haibara…" gumamnya.

"Hmm?" tanggap Ai, agak jengkel.

"Hati-hati dengan…" dia mau mengatakan mengenai Conan, namun dipotong oleh Ai sebelum dia selesaikan kalimatnya.

"Tenang saja Mitsuhiko-kun, aku pasti berhati-hati." jawab Ai, menyangka yang dimaksud soal memasak. Setelah itu Mitsuhiko yang lega dengan jawaban itu, keluar. Namun matanya kemudian terpaku ke Conan. Mata keduanya saling tatap. Conan, seperti biasa, berwajah tenang namun tidak bisa menyembunyikan kekesalan atas perlakuan Mitsuhiko tadi. Sedangkan Mitsuhiko terlihat sangat marah sekaligus sedikit iri. Melihat hal ini, Yukiko hanya tersenyum sedikit. 'Perang sudah dimulai." batinnya.

~~~~~ 20 menit kemudian, meja makan ~~~~~

"Itadakimasu!" teriak Ayumi, Genta, Agasa-hajase dan Yukiko bersamaan. Mereka mulai sarapan. Namun Mitsuhiko dan Conan tampak tidak bernafsu makan. Jika tidak menatap makanannya, mereka makan dengan lambat.

"Conan-kun, daijobu desu ka(kamu baik-baik saja)?" tanya Ayumi khawatir. "Kamu sakit, ya?"

Mendengar hal ini, Conan buru-buru menjawab, "Iie(tidak), Ayumi-chan. Daijobu desu(tidak apa-apa)."

"Yah, dia selalu baik-baik saja kapanpun dia mau," ejek Ai. Conan melemparkan pandangan marah, namun Ai melirik ke arah lain. Dia melanjutkan makannya dengan diam, namun kemudian berhenti. Hal sama juga dilakukan Mitsuhiko.

"Gouchisousama deshita." kata Conan dan Mitsuhiko sambil berdiri bersamaan. Mereka dua saling heran dan melirik, begitu pula dengan yang lain.

A/N : 'Itadakimasu' dipakai kalau mau makan, sedangkan 'gouchisousama deshita' dipakai kalau kita sehabis makan.

"Kenapa kau ikuti aku?" tanya Conan kesal. Baru kali ini dia benar-benar dibuat jengkel oleh anak yang beda usia 10 tahun darinya.

"Bukannya kau yang ikuti aku?" tantang Mitsuhiko balik. Mereka saling tatap balik dengan ganas, lalu pergi dari meja makan.

"Bisakah kalian berdua lebih sopan sedikit?" teriak Ai marah melihat kelakuan mereka berdua.

"Tidak!" teriak Conan.

"Kalian berdua kenapa sih?" tanya Ai keras. "Sejak dari dapur kalian seperti ada masalah…"

"Ya, kami ada masalah, dan itu semua dimulai oleh orang berbintik sialan itu!" Conan menunjuk ke arah Mitsuhiko, yang terkejut dan berbalik, terlihat sangat tersinggung dengan perkataan Conan.

"Jadi apa maksudmu, penggila bola sinting!?" kata Mitsuhiko, sedikit ada nada mengejek dalam suaranya.

"Oh, bisakah kalian berdua diam?" teriak Ai, menutup telinganya hanya agar tidak mendengar pertengkaran mereka berdua. "Kalian ingin memulai Perang Dunia 3 atau apa?" Lalu dia berdiri dari kursinya dan pergi dari meja.

Agasa-hakase yang keheranan melihat tingkah Ai bertanya, "Ai-kun, mau ke mana? Makananmu kan belum habis."

"Makan bersama orang-orang yang bertengkar hanya menurunkan nafsu makan." jawab Ai simpel. Lalu dia pergi ke basement. Conan dan Mitsuhiko kemudian juga pergi. Conan menuju ke basement, ingin berbaring hanya untuk menghilangkan bete. Mitsuhiko berbaring di sofa, menatap ke langit-langit dengan hampa.

Yukiko hanya tersenyum melihat hal ini. 'Shin-chan, kau benar-benar memainkan peranmu dengan baik.' batinnya.

~~~~~ basement ~~~~~

Conan membuka pintu basement, melihat Ai membaca majalah model di kursi. Dia tidak menyapanya, begitu pula Ai, tahu bahwa ini bukan saatnya untuk memulai pembicaraan. Conan berbaring dengan keras di tempat tidur, membuat Ai melirik sedikit, terganggu dengan suaranya.

"Kau tahu kan, ada yang namanya etika bahkan kalau mau berbaring." katanya kesal. Conan tidak menjawab.

Sunyi sesaat, lalu Conan mulai berbicara, "Hei, Haibara…"

"Hmm?" tanggap Ai.

"Gomen, karena sudah membentakmu di ruang makan tadi." katanya pelan.

"Tidak apa-apa, aku tidak ada masalah kok." jawab Ai lembut, membuat Conan kaget, seolah yang berbicara bukanlah Ai yang dikenalnya.

Ai heran melihat Conan terus menatap wajahnya, dan dia merasa tidak nyaman. Pipinya agak memerah. "Er, Kudo-kun, ada apa di wajahku?" tanyanya.

Conan langsung sadar bahwa dia menatap terlalu lama. Mukanya memerah sedikit. Dia segera mengalihkan pendangannya ke arah lain. "Er, tidak, tidak apa-apa…" jawabnya gugup. Mereka diam lagi untuk waktu yang lama. Kemudian Ai melihat jam dinding. Jam 7.20. Sedikit lagi waktu yang dijanjikan dengan Kobayashi-sensei.

"Hei, sebentar lagi jam 8. Lebih baik kita bersiap." kata Ai.

"Hngh..." tanggap Conan dengan malas. Ai tambah jengkel sedikit melihat kelakuannya.

Mendadak dia dapat ide mempermainkan Conan sedikit.

Dia bangkit berdiri, Conan melirik sedikit ke arahnya. Lalu dia mulai melepas bajunya. Conan terkejut dan segera bangkit berdiri, mukanya memerah lagi.

"He-hei Haibara, apa yang kau mau lakukan?" tanyanya gugup.

"Jika kau buta, aku mau ganti baju. Kenapa?" tanyanya, kemudian mulai mengeluarkan nada seductive, "kau juga mau ganti baju denganku?"

Conan mendadak mimisan, langsung buru-buru menahannya dengan tangan dan keluar dari kamar. Ai hanya tertawa senang melihat hal ini. 'Kau mengerjaiku tadi pagi, sekarang kita seri.' batinnya.

~~~~~ 25 menit kemudian ~~~~~

"Wow Ai-chan, kau cantik sekali!" puji Ayumi.

"Arigatou, kau juga Yoshida-chan." balas Ai, tersenyum kecil. Pagi itu memang Ai dan Ayumi didandani 'gila-gilaan' oleh Yukiko sebelum pergi. Semua segala kosmetik yang mahal, pita merah dan anting-anting dipakaikan, meskipun Ai melepaskan pita di rambutnya karena ingin memakai topi kesayangannya – atau setidaknya begitu – yaitu…

"Haibara-san, kau memakai topi Liverpool?" tanya Mitsuhiko dari belakang, tampak kagum.

"Yah, begitulah." jawab Ai singkat. Lalu dia melihat Mitsuhiko juga, rupanya, memakai topi yang sama.

"Sepertinya kita sama ya saat ini," katanya dengan sedikit ceria.

"Aku tidak pernah tahu kau juga punya topi seperti itu." tanggap Ai dengan takjub.

"Sebenarnya aku punya banyak koleksi merchandise Liverpool di rumah, tapi kalau kau mau tahu bisa kuceritakan…" kata Mitsuhiko, dan Ai mulai mendengarkan dengan seksama.

Sementara itu, Conan hanya menatap ke arah Mitsuhiko dan Ai yang tampak menikmati pembicaraan antar mereka berdua. Dia mendadak merasa tidak nyaman melihatnya. Rasanya seperti tidak senang melihat Ai bisa bercakap-cakap dengan Mitsuhiko begitu akrab. Tentu dia tahu mereka hanya membicarakan soal sepakbola, namun ada yang aneh. Begitu lama bersama dengan Ai, berbicara dengan cara yang lain, dan melihat Mitsuhiko juga melakukan hal yang sama membuatnya…cemburu?

'Aah, apa yang kupikirkan? Memang ada masalah apa kalau Mitsuhiko berdekatan dengan Ai…tunggu! Kenapa aku memakai kata 'berdekatan'? Apa aku memang cemburu? Argh…'

Yukiko muncul dari belakang Conan, tentu saja untuk menggoda anak kesayangannya itu. "Shin-chan," bisiknya dengan nada menggoda, "bagaimana menurutmu? Haibara tampak cantik, kan? Jangan malu-malu, bilang saja…hei Shin-chan, kau dengar?" Yukiko heran melihat Conan tidak menanggapi, hanya tetap memandang ke arah Mitsuhiko dan Ai. Yukiko melirik sebentar, dan akhirnya tahu apa masalahnya.

"Mitsuhiko-kun dan Haibara tampak serasi, ya…?" goda Yukiko. Dia tidak heran, melihat kepala Conan sedikit mengangguk.

"Dan kau tidak senang kan melihat mereka berdua begitu…" bisiknya lagi.

"Dan kau…cemburu, kan, Shin-chan?" senyum kecil terpampang di wajah Yukiko ketika dia melihat Conan menganggukkan kepala lagi.

"Itu berarti…kau suka Haibara-san, 'kan?"

"Eh?" Conan terkejut mendengar perkataan okaasan-nya. Namun bagi Yukiko, tanggapannya itu berarti 'ya'.

"Oh Shin-chan, kau benar-benar mirip Yusaku; kalian sama-sama clueless dalam soal hubungan dengan wanita. Kenapa kalian tidak pernah mau mengakui kalau kalian suka dengan seseorang?" kata Yukiko, senyum jahat muncul di wajahnya. Muka Conan tambah memerah. Untungnya, Agasa-hakase berteriak, "Hei, kita siap berangkat."

"Oke!" Ayumi, Genta dan Mitsuhiko berlari ke mobil VW hakase. Mitsuhiko menggenggam tangan Ai, mengajaknya ke mobil. Sesaat Conan merasa marah melihat adegan ini. "Shin-chan," bisik Yukiko dari belakang lagi, "kurasa kau harus bergerak cepat, atau Ai-chan(dia memakai 'Ai-chan' hanya untuk melebih-lebihkan efek saja) akan direbut oleh Mitsu-kun." Jelas Yukiko mau memanas-manasi Conan. Dan mau tidak mau Conan sendiri setuju dengan okaasan-nya, meskipun segera dibuangnya pikiran itu.

"Ittekimasu!(kami berangkat)" teriak yang lain dari mobil.

"Itterasshai(hati-hati di jalan)" balas Yukiko. Dia berpikir dalam hati, 'Kita lihat saja, bagaimana mereka sepulang nantinya. Aku bertaruh novel Yusaku pasti kalah seru daripada yang ini.'


"Jadi, semuanya sudah siap?" kata Kobayashi-sensei dengan riang.

"Yay!" teriak yang lain kecuali Conan dan Ai. Mereka terlihat cukup bosan, yah seperti biasa. Ai hanya menguap, mengibaskan topinya, berharap semoga mereka cepat pulang. Yang diinginkannya sekarang hanyalah membaca majalah lagi, nonton TV ataupun menyelesaikan proyek penawar APTX yang belum kelar juga. Dalam hati dia mengutuk dirinya yang mau menerima tawaran Kobayashi-sensei.

Namun Conan lain lagi. Pikirannya masih terbayang ke arah Ai dan Mitsuhiko. Bayangan ketika mereka berdua saling bicara muncul di kepalanya. Dia bisa melihat keduanya tampak senang. Mendadak dia merasa tidak nyaman lagi. Dia tidak mengerti kenapa dia 'menentang' kalau mereka berdua saling berdekatan. 'Bukankah tidak ada masalah, mereka teman, kan? Dan begitu juga aku, kan? Atau ada yang lebih lagi?'

Dia tidak bisa menyangkal bahwa Ai yang sekarang sudah berubah banyak sejak pertama mereka bertemu dulu 5 tahun lalu. Mungkin hidup damai bersama hakase dan yang lain telah mengubahnya. Conan melirik sebentar ke arah Ai, yang hanya menatap ke jalan dengan bosan. Dia mengingat kembali bagaimana Ai yang sekarang. Gadis yang masih saja pendiam, suka menyendiri, cepat bosan, suka menyindir dan sebagainya, namun sudah mulai bisa bergaul dengan yang lain, nada bicara yang mulai halus, dan mulai tampak girlie, atau setidaknya begitu.

Banyak orang yang memang agak jengkel dengan sindirannya ataupun nada sarcasm yang muncul, namun entah kenapa, Conan menyukai hal itu. Kalau berbicara dengan Ai, dia selalu bisa bicara sebebasnya, baik itu ejekan, godaan, sindiran ataupun yang lain, dan dia juga menyukai nada sarcasmnya. Memang aneh, tapi dia tidak peduli hal itu. Mereka berdua cukup mirip jika mau dibilang. Sama-sama cerdas, berpikiran dewasa, tidak mudah menyenangi hal tertentu, dan juga kalau mau dibilang…mempunyai 'charm' yang sangat bagus.

"Hei, Shira-kun sudah datang!" teriak Kobayashi-sensei, kelepasan ngomong. (Ha ha…di sini Kobayashi-sensei memang memanggil Shiratori dengan nama itu, nggak tahu ya gimana nantinya yang sebenarnya)

"Shira-kun?" tanya Ayumi bingung, begitu pula dengan yang lain. Muka Kobayashi-sensei mendadak merah.

"E-er, anu…itu…" kata Kobayashi-sensei gugup. Dan tiba-tiba sebuah limosin mewah berwarna hitam berhenti di depan mereka. Orang di dalamnya keluar, dan mereka semua terkejut melihat orang yang sangat dikenalnya.

"Halo, Sumiko," kata Shiratori dengan lembut dan penuh sayang. Kobayashi-sensei hanya bisa tertunduk malu melihat pacarnya. Yang lain hanya bisa mangap melihat mewahnya mobil Shiratori.

"Hummer H2 Limousine," Conan mulai berbicara duluan. "Jenis SUV, 4WD, panjang hampir 9 meter, mesin 6200 cc, V8, tenaga 325 PS tiap 5,200 rpm, transmisi otomatis, 2 penumpang depan dan 13 penumpang belakang, dan…" Conan terhenti ketika semua mata menatap ke arahnya, tampak heran dan takjub. Mendadak dia menundukkan kepalanya, malu karena ditatap terus.

"Aku tidak tahu kau ada hobi dengan mobil juga, Edogawa-kun," kata Ai dengan mimik jahat.

"Oh diamlah," tanggap Conan segera.

"Ngomong-ngomong, kalian ingin nonton apa duluan?" tanya Shiratori.

"New Moon!" jawab Ayumi cepat. Mitsuhiko mengangguk setuju.

"Tidak! Kita nonton Kamen Yaiba Movie 11!" sela Genta. Conan hanya menggelengkan kepala. 12 tahun, dan masih nonton film kartun? Dia benar-benar tidak berubah.

"Tapi, bukankah kita sudah pernah nonton film itu?" sanggah Mitsuhiko.

"Ya Genta-kun, lagian kita bukan anak kecil, kan?" kata Ayumi. Genta hanya menggerutu kecil. Ayumi berpaling ke Conan dan Ai. "Kalian ingin nonton apa?" tanyanya.

"Terserah," jawab Conan dengan enggan. Ayumi balik bertanya ke Ai. "Kalau kau, Ai-chan?"

"Hmm…" pikir Ai sesaat, "bagaimana kalau '2012'? Tidakkah itu bagus? Akhir dunia yang menegangkan, banyak orang yang mati, dan segala kekacauan…"

'Oi oi,' tanggap Conan dalam hati, sweatdrop. Dia juga tampaknya belum berubah. Shiratori hanya melirik ke arah Ai dengan heran. Dia berbisik ke Conan. "Anak perempuan itu aneh ya," bisiknya.

"Dia memang selalu begitu," jawab Conan singkat. Shiratori hanya menghela nafas, lalu berkata, "Baiklah, kita segera naik!"

Mereka lalu naik ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Genta dan Mitsuhiko bermain game di dalam, Ayumi terus duduk mendekat ke Conan, membuatnya merasa tak nyaman. Ai tersenyum kecil melihat kelakuan Conan. 'Sepertinya Holmes jaman Heisei ini kalah melawan godaan anak usia 12 tahun. Tunjukkan bagaimana kau melewatinya, Kudo-kun.' batinnya.

Mereka memutuskan (melalui debat panjang tentunya) bahwa mereka akan menonton film 'New Moon', '2012' dan 'Kamen Yaiba Movie 11' kemudian. Sesampainya di Beika Mall mendadak Conan menyadari sesuatu.

"Hei, bagaimana dengan tiketnya? Antriannya pasti rame." tanyanya sedikit ragu.

Shiratori berbalik dan tersenyum. "Tenang saja, aku pemegang kartu member di bioskop ini, jadi mereka akan memberikan thru-pass buat kita," katanya, sambil menarik selembar kartu dari dompetnya. Mereka segera masuk ke bioskop, memesan tiket, menunggu sebentar di café lalu kemudian masuk ke dalam teater. Mereka dapat bangku belakang.

"Kita beruntung sekali dapat bangku belakang." kata Kobayashi-sensei ceria. "Arigatou, Shira-kun."

Muka Shiratori memerah sedikit. Mereka sudah duduk di bangku masing-masing. Beberapa saat kemudian, filmnya dimulai. Genta sudah mulai cari masalah dengan mencuri popcorn Kobayashi-sensei sedikit di sampingnya. Setelah beberapa lama, Ayumi mulai berbisik sedikit ke sebelah kirinya.

"Conan-kun," katanya dengan nada innocent, "menurutmu kalau kau adalah Edward di film, lalu Bella-nya siapa?"

Conan berbalik ke arah Ayumi dengan pandangan kaget. Ai hanya melihat ke arah mereka dengan tertarik. 'Tampaknya Kudo-kun bakal dalam masalah besar. Coba tangani kalau kau bisa.' Mitsuhiko mulai mencuri perhatian ke arah mereka berdua.

"I..itu…er…" Conan tergagap, tentunya harusnya dia bilang Ayumi hanya untuk menyenangkan hatinya, namun ketika bayangan Bella dalam film muncul dalam kepalanya, entah kenapa wanita yang muncul dalam pikirannya pertama adalah, "tentu saja," dia melirik sedikit ke gadis pirang di sampingnya, "Ha–"

Mata Ayumi melebar, dia tidak percaya dengan apa yang ingin dikatakan Conan. Ai mengangkat alisnya. Mitsuhiko mendadak menatap Conan dengan tajam. Genta dan Kobayashi-sensei tampak mulai mendengarkan pembicaraan mereka, hanya Shiratori yang tidak, mungkin karena jaraknya yang jauh. Conan buru-buru mengganti apa yang mau diucapkannya, "Ha-Hayumi-chan tentu saja." Dia berusaha mengesankan bahwa huruf 'ha' terdengar seperti 'a'.

"Yeay!" teriak Ayumi, membuat semua mata tertuju ke arahnya. Mukanya memerah malu sekaligus senang, bersenandung kecil dengan riang. Genta tersenyum senang melihat gadis di sebelahnya senang, sekaligus iri dengan Conan. Beberapa saat kemudian, seseorang bertubuh besar lewat di depan mereka. Saking lebar badannya, dia menyenggol softdrink Mitsuhiko, dan tutupnya terbuka, isinya tumpah ke arah Ai. Pria itu tidak menanggap, hanya jalan terus.

Melihat baju Ai basah sedikit karena softdrink, dia segera mencari saputangan, namun Mitsuhiko lebih cepat.

"I-ini, Haibara-san," katanya, menyerahkan saputangannya," keringkan bajumu…"

"Arigatou, Tsuburaya-kun." kata Ai, tersenyum sedikit. Pipi Mitsuhiko memerah, beruntung teater yang remang menyembunyikannya. Mereka tidak sadar ada yang memperhatikan mereka dengan tatapan marah.

'Kenapa Mitsuhiko mengalahkanku lagi? Dia benar-benar…tunggu! Apa maksudnya dengan 'mengalahkan'? Apa aku memang iri dengannya, apa iya? Hanya gara-gara dia bersikap baik ke Haibara, kenapa aku…' Sontak Conan mengingat kembali perkataan okaasan-nya sebelum pergi, terutama yang terakhir.

'Apa aku memang…suka dengannya? Argh!' Dia menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan pikirannya.


"Akhirnya selesai juga." gumam Conan dengan lega sekaligus capek. Mereka habis menonton 'Kamen Yaiba Movie 11' dan sekarang sedang makan siang di restoran. Sekarang sudah jam 2 siang. Mendadak ada yang menyapa dari belakang.

"Hai Shiratori!" teriak Miwako dari belakang. Di sebelahnya ada Takagi dan Yumi. Semua hanya melongo melihat mereka bertiga. Shiratori yang menanggapi duluan.

"Kalian kenapa ada di sini?" tanyanya.

"Kami sedang selesai tugas. Shiratori, kau sendiri sedang apa?" tanggap Takagi.

"Aku dan Sumiko dengan anak-anak ini baru saja selesai nonton film." jawab Shiratori singkat. "Untuk menghabiskan hari bebas tugas, kau tahu."

"Ooh…" tanggap Yumi. "Hei, bagaimana kalau Minggu malam kita ke karaoke? Tentu saja dengan…" Yumi melirik ke arah Kobayashi-sensei, "dengan pacarmu juga boleh ikut."

Shiratori dan Kobayashi-sensei memerah malu. "Boleh. Bagaimana dengan kau?" kata Shiratori.

"Er…aku," Kobayashi-sensei gugup. Tentu hari Minggu malam dia ada acara tersendiri di rumah hakase. "Aku ada sedikit urusan di rumah hakase, itu…"

"Nonton bola bersama!" teriak Ayumi, Genta dan Mitsuhiko bersamaan. Semua jadi kaget, terlebih tiga polisi yang habis tugas ini. Shiratori bertanya ke Kobayashi-sensei dengan heran. "Apa itu benar?"

"Ha-hai…" jawab Kobayashi-sensei malu. Dia menyangka Shiratori akan sedikit tidak setuju. Namun dia terkejut ketika Shiratori berkata, "Itu bagus sekali! Bagaimana kalau aku ikut? Boleh?"

Kobayashi-sensei hanya memandang heran ke arah Shiratori, mengangguk kecil. Shiratori berpaling ke arah Takagi dan yang lain, "Bagaimana kalau kalian ikut juga? Kita bisa tunda acara karaokenya kapan-kapan." Takagi dan Miwako langsung setuju, namun tidak dengan Yumi. Dia langsung membalas, "Oh, tidak…" namun Miwako memotongnya. "Ayolah, Yumi, kita bisa tunda kapan-kapan, tapi acara seperti ini kan tidak selalu ada. Tampaknya mengasyikkan." Terpaksa Yumi setuju saja.

Setelah mereka selesai makan, Takagi dan lain berpisah, karena harus kembali ke kantor kepolisian. Ai menggerutu kesal. Conan bingung dan bertanya, "Kau kenapa?"

"Jika kau tidak perhatikan, berarti akan ada banyak orang yang akan datang. Aku tidak nyaman saja," jawab Ai.

"Naze(kenapa)? Bukankah itu bagus?" kata Conan.

Ai tidak menjawab, hanya memandang kesal ke arah Conan dengan kesal. Dia segera mengganti topik, "Jangan lupa kita beli sleeping bag nanti."

"Eh? Untuk apa?" tanya Conan keheranan.

"Jika kau tidak perhatikan lagi, aku tidak mau tidur sekamar dengan kau lagi atau…" Mendadak Ai terdiam, kepalanya tertunduk, mukanya memerah namun disembunyikan dengan poninya. Begitu pula Conan, meski dia paling parah.


"Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan?" tanya Yukiko dengan nakal sehabis mereka pulang.

"Diamlah." jawab Conan, tidak ingin diganggu dengan okaasan-nya yang super cerewet. Mendadak Agasa-hakase muncul dari belakang. "Ah Shinichi-kun, kau harus melihat penemuan baruku. Kurasa berguna untuk Minggu malam nanti. Sebuah proyektor hebat dengan layar yang canggih, tapi kau harus melihatnya sendiri." kata Agasa panjang lebar.

'Penemuan konyol lagi,' batin Conan. "Bagus hakase, besok saja aku lihat."

Tiba-tiba ada suara yang sangat dikenal Conan menyapanya dari pintu dapur, suara yang sangat akrab, yang membuatnya mendadak kaget pucat, karena suara itu tampaknya membawa hal buruk. Suara pemuda yang kira-kira seusia dengannya – sebagai Shinichi – dan yang terkenal adalah…

"Hei Kudo!" kata suara itu.

Logat Kansai.

"He-Heiji?" Conan kaget, matanya terbelalak, mukanya sedikit pucat.

"Yo!" jawab Heiji dengan ceria. "Aku baru saja datang ke sini tadi pas kalian pergi. Kazuha ada di dapur, sedang memasak makan malam. Oh ya, katanya kalian ada acara nonton bola besok malam, ya?"

"Iya, lalu kenapa?" tanggap Conan dengan nada sinis yang tegas.

"Kalau begitu kebetulan sekali. Jadi kita bisa nonton bersama. Aku boleh kan, ikut? Mumpung Senin nanti libur nasional. Jadi aku dan Kazuha nanti menginap di rumahmu. Okaasan-mu sudah mengizinkan." kata Heiji.

Sekarang Conan yang menggerutu kesal.


Conan terbangun malam hari dari tidurnya. Dia duduk sebentar, memandang ke sekelilingnya. Genta dan Mitsuhiko tidur dengan pulas di sleeping bag mereka. Namun yang mengejutkan, posisi Ayumi tertidur sangat dekat dengannya, sudah hanya beberapa senti. Conan memberengut, membayangkan bahwa dalam tidur pun Ayumi tetap mau dekat dengannya, dan agak sedikit merinding ketika dia mendengan sayup-sayup Ayumi menggigau, memanggil namanya. Segera dia bangun, ke arah dapur, mengambil air dari kulkas dan meminumnya, dan kembali ketika dia melihat seseorang berdiri di lantai dua, menatap ke arah jendela yang luas.

Dia langsung naik ke lantai dua, berjalan pelan agar langkah kakinya tidak terdengar, beruntung orang itu tidak merasakan kehadirannya. Conan makin dekat, dia berdiri dei belakangnya, menepuk pundak orang itu dan berkata, "Apa yang kau lakukan, Haibara?"

Ai kaget, memandang ke belakang, melihat orang yang menyapanya. "Oh, kau Kudo-kun. Aku sedang menatap ke langit, jika kau buta."

Meski ada nada sarcasm yang biasa, namun entah kenapa Conan malah tersenyum mendengarnya. Mungkin karena itu tanda bahwa Ai sedang normal, jadi tidak terjadi sesuatu kepadanya. Dia lanjut bertanya, "Kalau boleh tahu, kenapa kau belum tidur, dan malah menatap ke arah langit?"

"Kau terlalu banyak mau tau." ejek Ai.

"Itulah tugas seorang meitantei." balas Conan dengan nada kebanggaan di dalamnya. Ai hanya membalas menyeringai. Dia lalu menjawab pertanyaan Conan.

"Dulu waktu aku kecil, sebelum aku dipindah ke Amerika, neechan mengajakku ke atas atap apartemennya. Dia menunjukkan bintang di langit malam, berkata bahwa otousan dan okaasan ada di atas, bersama salah satu bintang, menatap kami berdua, bahwa mereka akan selalu menjaga dan memperhatikan kami walaupun mereka sudah tidak ada. Aku waktu itu sangat senang ketika neechan menyebut nama kedua orangtuaku, mengatakan bahwa mereka terus menjagaku membuatku merasa nyaman. Aku belum pernah melihat otousan dan okaasan, foto dan barang mereka semua sudah dimusnahkan Organisasi. Satu-satunya yang tersisa hanyalah neechan, itupun kami jarang bertemu, dan…dan…"

Mendadak air mata jatuh dari kedua mata biru aqua milik Ai. Conan merasa tidak enak melihatnya.

"…neechan sudah menyusul mereka, bergabung bersama mereka di langit malam dan bintang lainnya, meninggalkan aku. Mereka sudah bersama, dan aku belum. Aku selalu berpikir, kenapa aku tidak pernah bisa menyusul mereka? Kenapa aku tidak mati saja di ruang gas waktu itu, agar aku bisa bersama mereka? Apa aku tidak boleh bersama keluargaku, sekali saja?"

Dia menangis pelan, kedua tangannya menutup wajahnya, seraya berkata lagi, "Aku…tidak ada lagi keluarga…tidak ada lagi orang untukku…"

"Siapa bilang?"

Lalu Ai terkejut ketika Conan memeluknya dengan erat, pelukan yang hangat, tangan kanannya membelai punggungnya dengan lembut, dan berbisik pelan, "Jika kau mati, kedua orang tuamu dan Akemi akan lebih sedih. Memang mereka pasti ingin bersama denganmu, namun bukamn berarti kau harus mati. Jika kau tetap hidup, mereka pasti lebih senang, tahu bahwa ada anggota keluarga mereka yang tetap ada di dunia ini. Dan bukankah kau tetap punya keluarga dan teman? Hakase, mereka bertiga, dan aku. Kita akan selalu bersama."

Setelah diam sesaat, Conan melepaskan diri. Ai menyeka air mata di pipinya, dan dia menundukkan kepalanya, mukanya tertutup poninya. Entah apa ini karena efek cahaya bulan atau tidak, namun wajah Ai, di mata Conan, walaupun masih agak pucat, sangatlah menawan. Mendadak dia memegang dagu Ai, mengangkatnya sedikit sehingga mereka saling menatap. Mendadak mereka langsung mersakan suasana, yang sama seperti tadi malam, suasana yang…

"Ha-Haibara, aku…" kata Conan terbata-bata, namun kedua tangan Ai memegang pipi Conan, menariknya mendekat, matanya terpejam, dia berjinjit sedikit. Conan langsung tahu apa maksudnya. Memerah sedikit, dia membalas dengan mendekatkan wajahnya, matanya juga mulai tertutup. Sedikit lagi bibir mereka bertemu. Dia bisa merasakan nafas dari Ai yang keluar dari mulutnya. Ketika mereka hampir berciuman…

"Ehm."

Mendengar suara itu, Conan dan Ai mendadak menjauhkan diri, melihat ke arah penganggu. Agasa-hakase berdiri, dengan baju piyamanya, tampak terkejut dan sangat kaget, terlihat dari mulutnya yang menganga dan matanya yang melebar.

"Shninchi-kun…Ai-kun…apa yang…"

"Tidak apa-apa, hakase," jawab Ai segera sebelum Conan sempat melakukan hal yang sama, "kami hanya sedang menatap ke arah langit itu saja." Dan sebelum Agasa bertanya lebih jauh lagi, Ai sudah pergi, dan berkata, "Konbanwa(selamat malam)," lalu kembali ke kamarnya.

Agasa-hakase balik bertanya ke arah Conan, kali ini agak marah, "Shinichi-kun, jelaskan apa maksudmu tadi, kau tidak…"

"Tidak hakase, tidak apa-apa." Lalu dia segera juga balik ke sleeping bagnya, meninggalkan hakase yang sibuk berkutat dengan pikiranya.

Namun Conan tidak dapat tidur. Pikirannya masih tertuju ke apa yang hampir saja dilakukannya kepada Ai, bagaimana hakase, sekali lagi, mengganggu mereka. Dia merasa dua perasaan. Satu agak lega karena kehadiran hakase jadi dia tidak sempat melakukannya karena tentu dia akan bingung menjelaskan maksudnya nanti, satu lagi kecewa tentu saja.

xxxxxxxxxxxx to be continued xxxxxxxxxxxxxx


Hakase lagi!? Waduh! Pengganggu aja. Padahal aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, termasuk suasananya, tapi lagi-lagi *hik*. Nah, malam pertama mereka gagal, malam kedua juga, jadi menurutmu malam ketiga bagaimana? Berikan pendapat kalian di review nanti.

Dan soal Conan ama Mitsuhiko…mereka tentu masih agak bertengkar, dan aku butuhkan itu. Klimaksnya akan ada di chapter selanjutnya.

Kayaknya chapter ini agak gaje n aneh, maapin aja ya….silakan ngeflame kalau kalian mau.

Jangan lupa review dan selamat menunggu lagi!