"Uzumaki Naruto belum meninggal!" Sebuah suara dingin mengintrufsi apa yang Senju Tsunade sampaikan, semuanya sontak melihat keasal suara. Disana terlihat seorang pemuda bersurai darkblue mencuat ke belakang, pakaian rumah sakit masih ia kenakan, di tambah sebuah tongkat yang membantunya untuk berjalan.

"Uchiha Sasuke?.." Senju Tsunade bahkan seluruh pasang mata terkejut dengan kedatangan pemuda tersebut, di tambah dengan pernyataannya yang mengatakan bahwa sosok Uzumaki Naruto belumlah meninggal. "...Apa maksudmu? Kau tidak di perkenankan untuk menghadiri acara ini, KAU PASTI TAKKAN LUPA BAHWA KAU SENDIRI YANG TELAH MEMBUNUHNYA UCHIHA!"

"KUBILANG NARUTO BELUM MENINGGAL!" Sasuke balas berteriak lantang menentang prasangka Senju Tsunade yang menyebutkan Naruto sudah meninggal, kedua tangannya terkepal erat dengan buliran airmata yang terlihat sudah nampak menuruni kedua pipi putihnya.

"KAU MAU MENYANGKALNYA BAGAIMANA LAGI, HAH?..." Sasuke tersentak dengan teriakan paling keras yang Tsunade berikan untuknya, ia menundukan kepalanya tak mampu melihat ekspresi keras yang Tsunade perlihatkan saat ini. "...Sekarang kau pergi, Uchiha! Kau tidak di butuhkan disini, dan bersiaplah mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu." Tsunade berkata lirih, ia terduduk lemas menangis sesenggukan. Ia tak ingin menetapkan suatu pengharapannya dari pernyataan Sasuke tadi, ia tak ingin terlalu berharap bahwa pernyataan Sasuke tadi benar adanya bahwa Naruto memang belum meninggal.

"Sebelum ledakan terjadi, aku merasakan Chakra Naruto menghilang begitu saja. Aku yakin ia belum meninggal, ia sempat untuk mampu menghindar dari ledakan tersebut Senju Tsunade." Setelah berkata seperti itu, Sasuke berbalik membelakangi Tsunade dan yang lainnya. "Aku juga tak ingin memberikan penghormatan terakhir untuknya, karena belum saatnya untuk Naruto menerima penghormatan tersebut." Sasuke mulai beranjak melangkahkan kedua kakinya, mengusap jejak airmatanya dan seketika menundukan kepala menyembunyikan segala ekspresi yang mampu terlihat dari raut wajahnya.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto
NaruSaku: Finally
© Esya27BC

.

.

.

.

Kediaman Haruno

Terlihat di salah-satu ruangan, seorang gadis bersurai merah-muda tengah bergelung dengan peralatan masaknya. Kedua tangannya dengan cekatan memotong beberapa sayuran, serta sesekali ia melirik ke sebuah panci dan Kwali yang tengah di letakan di dua kompor yang berada di sebelah kirinya.

"Untung saja Okaa-San menyimpan buku resep ini di lemari itu, aku kan jadi bisa memasak Ramen kesukaan Naruto-Kun." Ia terkikik geli membayangkan bagaimana reaksi Naruto ketika mengetahui dirinya memasak Ramen untuk sarapan kali ini, ia mengacuhkan beberapa makanan yang telah tersaji di meja makan yang sempat di sediakan Ibunya, ia hanya ingin memasakan Ramen untuk Naruto karena ia tahu bahwa lelaki itu gemar akan makanan yang bernama Ramen.

"Saku sedang apa?" Sakura berbalik ketika mendengar sebuah seruan dari belakangnya, ia tersenyum manis melihat seorang wanita bersurai kuning dengan pakaiannya serba hitam yang menimbulkan suatu tanda tanya.

"Saku lagi memasak Ramen, Okaa-San! Okaa-San sendiri dari mana? Tumbennya memakai baju seperti itu, apakah Okaa-San sehabis menghadiri pemakaman?" Mebuki mendengar pertanyaan tersebut langsung melangkah menghampiri tempat Putrinya berada, ia merengkuh tubuh Putrinya yang membuat Sakura sedikit berontak karena mengingat masakannya yang mungkin bisa gosong kapan saja.

"Okaa-San baru saja kembali dari pemakaman." Ungkapnya, sesekali ia menghapus buliran airmata yang sempat menuruni kedua pipinya. "Kita semua baru saja menghadiri penghormatan terakhir untuk Shinobi Konoha yang telah gugur." Tambahnya kemudian.

"Eh memangnya siapa itu, Okaa-San? Saku baru mendengar bahwa ada Shinobi Konoha yang telah gugur." Mebuki tersenyum miris mendengar pertanyaan polos dari Putrinya, ia tak tahu harus menjawabnya seperti apa, sebagai gantinya ia hanya mengeratkan pelukannya seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Tiba-tiba tercium bau tak sedap membuat Sakura menyadari sesuatu, ia segera melepaskan pelukan dari sang Ibu dan segera memeriksa masakannya tersebut.

"Woaaaa.. Masakanku!.." Sakura berteriak hysteris melihat masakannya menjadi gosong menyebabkan bau menyengat di ruangan tersebut, ia segera mematikan kompor dan seketika melayangkan beberapa gerutuan akibat masakan yang gagal tersebut. "...Okaa-San sih! Lihat sekarang masakan Saku jadi begini, Saku sudah meminta Okaa-San melepaskan pelukannya karena Saku lagi memasak."

Mebuki terkikik geli melihat tingkah Putrinya yang tampak menggemaskan untuknya, ia melangkah mendekati counter untuk melihat hasil masakan Sakura.

"Hihihi.. Lihatlah bentuknya jadi tidak karuan!" Sakura mendengus sekilas, kemudian ia mengerucutkan kedua bibirnya sebal mendapat ledekan seperti itu dari Ibunya. "Okaa-San kan sudah memasak untuk sarapan kita, kenapa Saku masak lagi?"

"Naruto-Kun sangat suka sekali dengan Ramen, makanya Saku ingin memasakannya Ramen Okaa-San." Sakura berujar seraya mengepalkan kedua tangannya keatas, Mebuki ingin menyangkalnya akan tetapi tidak jadi karena ia melihat sinar kebahagiaan dari kedua mata Sakura. Hal itu membuatnya tak bisa untuk menghancurkan kebahagiaan itu, biarlah Sakura berbuat apa yang ia inginkan untuk sekarang ini.

"Mau Okaa-San bantu?" Sakura seketika langsung mengalihkan perhatiannya pada Mebuki, kedua matanya menyiratkan keantusiasan yang sangat seraya menganggukan kepalanya beberapa kali menerima tawaran tersebut.

.

.

.

Training Ground 21

Seluruh anggota Rokie 12 yang tersisa tengah berkumpul di Training Ground ini, di sana tak terlihat 4 anggota yang memang tak bisa di harapkan untuk dapat bergabung. Naruto dan Neiji yang sudah mereka anggap meninggal, serta Sasuke dan Sakura yang mereka anggap tengah dalam keadaan sakit.

Seorang gadis bersurai pirang pucat ekor kuda tak henti-hentinya menangis, di sebelahnya seorang pemuda bersurai hitam Nanas juga terus berusaha untuk menenangkan si gadis tersebut.

"Ino-Chan, tenangkan dirimu terlebih dahulu! Aku yakin prasangkamu mengenai Sakura belum begitu pasti, dan juga kau ak-"

"Menurutmu prasangka yang kumilikki salah, hiks begitu? Aku melihatnya, aku merasakannya Shika... Di- Dia jadi seperti itu, alasannya hanya satu hiks yaitu Naruto." Ino semakin meraung menyatakan perihal tersebut, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali mencoba untuk kuat namun nyatanya memang tak bisa.

Bagaimana tanggapanmu mengenai kondisi sahabatmu saat ini?

MIRIS

Hal itulah yang kini tengah di rasakan oleh Ino. Melihat sahabatnya yang terus menyangkal, serta menganggap seseorang selalu berada di dekatnya dengan kenyataan behwa seseorang itu telah di nyatakan memang sudah tiada.

"I- Ino-Chan, ka- kami mengerti dengan perasaanmu saat ini. Sa- Sakura-Chan mungkin saja be- belum mampu menerima bahwa..." Hyuga Hinata tak sanggup menyelesaikan perkataannya, ia menangis tersedu mengingat hal paling menyakitkan untuknya. "...Hiks Na- Naruto-Kun hiks"

"Ssstt.. Hinata juga harus kuat ne, kami semua juga merasa sangat kehilangannya." Tenten langsung memeluk dan membenamkan kepala Hinata, mengusap punggungnya berulang kali menenangkan gadis tersebut.

"Sa- Sakit rasanya hiks Ten-Chan, le- lebih baik merelakan Na- Naruto-Kun untuknya hiks daripada... Daripada a- aku hiks tak bisa lagi me- melihatnya, hatiku juga hiks sangat sakit hiks menerima kenyataan seperti ini." Hyuga Hinata akhirnya menumpahkan keluh kesah yang di rasakannya saat ini, ia tak mampu untuk menyimpan rasa sakit akan kenyataan bahwa sosok yang ia Cintai berakhir seperti itu. "Na- Naruto-Kun hiks pernah berkata bahwa setelah hiks ia menyelesaikan janjinya, ia.. ia akan hiks menjawab pernyataan Cintaku hiks Ten-Chan."

"Sakura berniat hiks akan membalas perasaannya, namun.. hiks namun apa yang hiks dia peroleh saat ini? Kabar duka yang membuatnya jadi seperti ini, dia terus hiks menyangkal akan kematiannya Shika." Shikamaru mengeratkan pelukannya ketika dirasa Ino yang tengah menangis semakin menjadi, Ino sendiri langsung membenamkan dirinya pada dada bidang Shikamaru. "Apa yang hiks harus kulakukan untuknya, Shika? ~Hwaaa"

"Pernyataan dari Sasuke-San, yang menyebutkan Naruto-San belum meninggal." Semuanya langsung memicingkan matany menatap Sai yang tengah sibuk dengan lukisannya. "Menurut saya itu bukan bualan semata." Tambahnya seraya menunjukan hasil lukisannya.

Sai tersenyum miris ketika menunjukan lukisannya tersebut. Ia melukis seorang Uzumaki Naruto yang tengah berdiri dengan memakai Jubah dan topi Hokage di genggamannya, ia tersenyum lebar seraya mengacungkan jempol kirinya yang tidak menggenggam topi Hokage.

"Mungkin saya hanya orang baru dalam lingkup Shinobi Konoha, namun saya sangat meyakini segala pernyataan dari Naruto-San..." Semua menunduk mendengar penuturan tersebut, Sai kembali melanjutkan penuturannya untuk memperkuat keyakinannya. "...Aku tidak akan mati sebelum menjadi Hokage! ~Dattebayou" Sai mengulang pernyataan dari Naruto yang masih di ingatnya.

"Aku sangat meyakininya, karena memang Naruto-San selalu benar akan segala pernyataan yang ia buat." Semua tersenyum mendengar Sai berkata seperti itu, apa salahnya jika mereka ikut yakin dengan keyakinan yang Sai milikki?

"Mungkin kalian akan menganggap saya bodoh atau pun gila seperti Sakura-San, namun saya yakin dengan apa yang saya yakini bahwa Naruto-San belumlah meninggal. Saya akan mencoba menelusuri area pertarungan Naruto-San dan Sasuke-San, saya berharap bisa menemukan suatu petunjuk mengenai kebenaran yang sesungguhnya." Sai mulai beranjak bangun dari dudukannya, ia pun meletakan hasil lukisannya tepat di hadapan semua anggota Rokie. "Sebagai anggota Team 7, mungkin hanya ini yang bisa saya lakukan." Setelah mengucapkan hal itu, Sai menghilang via Sunshin meninggalkan Training Ground 21.

"Apa kita juga memiliki keyakinan sama seperti yang dimiliki oleh Sai?"

.

.

.

Haruno Sakura kini tengah berjalan-jalan menyusuri jalanan Konohagakure, senyuman manis tak pernah luntur menghiasi wajah cantiknya.

'Sakura-Chan, kita mau kemana lagi?'

"Ssstt.. Kau harus ikut ke Taman, kita akan kencan disana Naruto-Kun!" Sakura berlari seraya menggandeng udara kosong di sebelah kirinya, ia tertawa geli melihat Narutonya seakan kesulitan dalam mengimbangi langkah kedua kakinya yang lincah ingin segera sampai di tempat tujuan.

Sakura terus berlari, sampai tidak menyadari bahwa dari arah berlawanan seorang gadis bersurai Indigo juga tengah berlari.

BRUK

"Ma- Ma'afkan aku, Sa- Sakura-Chan!" Sakura yang jatuh terduduk membelakak mendengar suara yang familiar untuknya, ia mendongkak dan melihat Hyuga Hinata yang tengah membungkuk meminta ma'af akibat insiden yang sempat mereka alami.

Sakura menepis uluran tangan Hinata yang berniat akan membantunya berdiri, berdiri sendiri dan segera menatap nyalang seakan melihat gadis Hyuga itu sebagai suatu ancaman untuknya.

"Naruto-Kun, lihatlah siku ku berdarah!" Sakura menunjukan sebelah sikunya yang sedikit mengeluarkan darah kearah udara kosong di sebelah kirinya.

Hinata yang melihat Sakura terluka seperti itu dengan segera ia melangkah menghampiri Sakura, dan berniat untuk mengobatinya.

"Jangan mendekat, Hyuga!" Hinata tersentak dengan nada dingin yang di keluarkan oleh Sakura terhadapnya, ia juga dapat melihat sikap waspada yang di tunjukan oleh gadis musim semi tersebut seakan ia adalah suatu ancaman untuknya.

"Ta- Tapikan Sakura-Chan berdarah, ki- kita harus mengobatinya!" Hinata kembali melangkahkan kakinya, namun sedetik kemudian berhenti karena melihat Sakura yang mundur beberapa langksh menghindarinya.

"Tak akan aku biarkan kau mendekati Naruto-Kun, Hyuga!" Sakura melirik kesana-kemari gelisah mencoba untuk berlari menghindari Hinata.

Kedua mata Hinata nampak berkaca-kaca, ia merasa prihatin dengan keadaan Sakura yang seperti ini. Ditambah dengan responnya kali ini yang seakan menghindarinya, menganggapnya suatu ancaman.

"Sa- Sakura-Chan?!.." Sakura memicing nyalang melihat Hinata yang melangkah semakin mendekat kearahnya.

"BEHENTI DISANA!.." Sakura berteriak seraya menengadahkan tangan kanannya kedepan mengisyaratkan agar Hinata agar berhenti. "..NARUTO-KUN MILIKKU, KAU JANGAN BERUSAHA MENGAMBILNYA DARIKU HYUGA!"

"A- Aku tidak akan me- mengambilnya, Sa- Sakura-Chan." Hinata menunduk mengatakan pernyataan seperti itu, hatinya sakit melihat salah-satu temannya seperti ini.

"Bohong.. Kau pasti berbohong! Aku tahu kau sangat mencintai Naruto-Kun, kau pasti akan mengambilnya dariku. Namun aku takkan membiarkan itu semua terjadi, aku akan menjauhkanmu dari Naruto-Kun karena aku sangat mencintainya." Sakura terus menggelengkan kepalanya beberapa kali menanggapi pernyataan Hinata yang menyebutkan bahwa ia takkan mengambil Naruto, akan tetapi ia masih terus waspada karena Hinata adalah salah-satu ancamannya untuk bersama dengan Naruto. "Kau pasti berpikir aku adalah wanita yang Egois, kan? Ya aku mengakuinya, aku sangat Egois karena menginginkan Naruto-Kun selalu disisiku."

"A- Aku hiks memang mencintainya Sa- Sakura-Chan, aku ba- bahkan sangat hiks mencintainya." Ujar Hinata menangis tersedu. "Jika Na- Naruto-Kun masih hidup dan dia memilihmu, itulah saatnya aku akan menyerah dan membiarkannya berbahagia bersamamu."

"Apa maksudmu dengan jika Naruto-Kun masih hidup, Hyuga?" Sakura dapat menangkap pernyataan yang menurutnya bertentangan dengan pikirannya, ia semakin nyalang menatap Hinata yang tengah terisak di hadpannya.

"Tidak perlu bertanya lagi Sakura-Chan, kau sendiri pun sudah tahu jawabannya. Sakura-Chan tidak harus terus menyangkalnya!" Kali ini Hinata bahkan tak berbicara sambil tergagap, pernyataan yang ia berikan harus membuat Sakura yakin.

"A- Apa maksudmu?" Nada suara Sakura bergetar ketika kembali bertanya seperti itu, Hinata tak ingin tinggal diam dan segera menggenggam sebelah tangan Sakura dan menyerednya untuk segera mengikutinya.

.

.

.

"Lepas! Lepaskan tanganmu dariku, Hyuga! Kau hanya iri karena Naruto-Kun lebih memilihku, jangan jauhkan aku dari Naruto-Kun!" Sakura terus berontak berusaha melepaskan cengkraman Hinata terhadap pergelangan tangannya, ia meracau tak jelas membuat Hinata berjalan semakin cepat dengan bulir air mata yang terus keluar dari kelopak matanya.

"Sejujurnya aku tak ingin melakukan hal seperti ini, namun aku tak sanggup jika terus melihatmu seperti ini Sakura-Chan." Hinata berseru lirih sehingga Sakura yang masih sibuk memberontak tak mampu untuk mendengarnya.

Hinata berhenti tepat di depan sebuah tanah lapang yang sewaktu pagi semuanya berkumpul disini, ia melepaskan cengkraman tangannya dan segera melangkahkan kedua kakinya menuju lebih dekat lagi kearah sebuah Monumen berwarna biru.

"Naruto-Kun, hiks ma'afkan aku! A- ku telah menyakiti hiks Sakura-Chan, namun ini langkah terbaik untuk membuatnya hiks kembali." Hinata terduduk bersimpuh di depan Monumen tersebut, tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap sebuah nama yang tercetak di sana. "Sejujurnya hiks aku ingin meyakini bahwa Naruto-Kun hiks masih hidup, akan tetapi... a- aku tak ingin hiks terlalu berharap sehingga nanti hiks itu akan lebih menyakitiku jika kenyataannya memang hiks tak sesuai dengan yang aku... harapkan."

"Hi- Hinata?!.." Hinata menoleh kearah Sakura yang masih tetap mematung di belakangnya, ia mengusap jejak airmatanya dan segera mengajak Sakura untuk lebih mendekat. Kemudian ia mendudukan dirinya di sebelah Sakura, menemaninya duduk di depan Monumen tersebut.

"Sa- Sakura-Chan pasti tahu apa artinya ini, kan?" Hinata dengan nada bergetar menahan tangis menanyakan hal tersebut, Sakura hanya terdiam dengan pandangan tak lepas dari sebuah nama yang tercetak disana.

Jelas Sakura tak terlalu bodoh untuk mengerti maksud Hinata mengajaknya ketempat ini, ditambah dengan sebuah Monumen tempat para pahlawan yang telah gugur berada dan juga nama Naruto berada di deretan nama para pahlawan disana.

Dengan tangan yang bergetar, Sakura berusaha menjangkau salah-satu nama yang tercetak disana. Airmatanya mengalir begitu saja ketika ia telah sampai di nama tersebut, mengelusnya perlahan seakan itu adalah wajah seseorang yang sangat ia cintai.

"Hiks I- Ini bohong, kan? Na- Naruto-Kun hiks tak mungkin, kan?" Sakura meracau sesenggukan seraya tak membiarkan telapak tangannya meninggalkan barisan huruf tersebut.

"Sa- Sakura-Chan?!.." Sakura dengan segera membalas pelukan Hinata yang tiba-tiba membungkus tubuh rampingnya, di pelukan gadis itu Sakura menumpahkan segala kesedihan akan kenyataan yang ia alami saat ini. "..A- Aku hiks tak meminta Sakura-Chan untuk hiks mempercayainya, jika Sakura-Chan memang hiks tak percaya dan masih yakin bahwa hiks Naruto-Kun masih hiks hidup... Maka peganglah keyakinan itu!" Sakura menganggukan kepalanya sekilas mendengar apa yang Hinata sampaikan terhadapnya.

"Ji- Jika Sakura-Chan hiks masih berpegang teguh de- dengan hiks kepercayaan itu, hal itu menandakan bahwa hiks Sa- Sakura-Chan memang lebih hiks me- mencintainya daripada aku. A- Aku memang terlalu hiks pe- pengecut untuk tidak mempercayainya, a- aku hiks tak ingin terlalu berharap lebih." Hinata semakin mengeratkan pelukannya, ia berusaha menenangkan Sakura dan dirinya sendiri dalam rasa kesedihan yang sangat menyakitkan ini.

"Seperti yang telah aku janjikan, aku akan menunggumu untuk bisa mengecup keningku yang menurutmu sangat manis ini Naruto-Kun!" Setelah melepaskan pelukan Hinata, Sakura mencondongkan tubuhnya untuk mengecup nama Naruto yang tercetak di Monumen tersebut.

'Sakura-Chan, terimakasih!'

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

A/N: Huhuhu... Dasar Author LEBAY! Chapter ini sangat banyak adegan menangisnya, hal itu membuat mungkin beberapa dari Reader menyebutnya LEBAY atau So Drama. #Mungkin?

Chapter ini Esya membuat CITRA Sakura menjadi buruk di pandangan Reader? Masalah Konfrontasinya dengan Hinata, yang seakan Sakura terlalu AGRESIF jika berhubungan dengan masalah kepemilikannya. Esya ma'af sekali membuatnya seperti ini, namun beginilah kelakuan seseorang yang Mentalnya rada Down. m(-_-)m

Dan untuk Chapter depan Esya akan menyudahi acara gila-gilaan Sakura di penghujung Chapter terakhir, karena memang rencananya Esya membuat 3 Shot dalam FF Storie ini. #Yeay!

.

.

Review?
TIDAK MENERIMA FLAME DALAM BENTUK APAPUN!