Last Chapter
Hijikata melepas jaketnya kasar dan memarkirkan motornya diparkiran sekolah yang luas dan sepi itu.
Ia melangkahkan kakinya tergesa-gesa mencari sosok pria yang membuatnya menahan emosinya sedari tadi.
Tangan kekarnya mendobrak sebuah ruangan dan tanpa aba-aba ia mencengkram kerah baju seorang pria yang sedikit kaget karena perlakuannya.
"maa..maa... Sudah aku duga pria ini akan datang melabrakku" tutur pria itu santai.
"kau!!!!" pekik Hijikata dengan nafas memburu dan mendorongnya terjengkang kebelakang.
Gintoki bangkit berdiri tanpa melawan dan menepuk pundak Hijikata dengan wajah innocentnya "sudahlah akui saja kalau kau dan Tsukuyo memiliki perasaan satu sama lain, aku akan mengikhlaskannya untukmu kalian pasangan yang serasi dan saling membutuhkan, kan? Gajimu lebih besar daripada pria seperti aku dan Tsukuyo lebih nyaman denganmu dan mungkin kau adalah pria idamannya... Aku serahkan dia padamu" ucapnya menyeringai sembari menjauh dari pandangan Hijikata.
Pria bersurai hitam itu menarik kerah kemeja Gintoki dari belakang dan langsung mendaratkan pukulan ke wajah Gintoki.
Hijikata mendengus "kau kira Tsukuyo itu barang, HAH!!! Tidak kusangka kau pengajar tapi cara berpikirmu rendahan seperti itu!! Brengsek!!!" Hijikata mencengkeram erat kemeja Gintoki yang terduduk akibat pukulannya, Matanya berapi-api menatap wajah malas Gintoki yang meneteskan darah di sudut bibirnya.
"aku sudah bilang dari awal kalau kau membuat air mata Tsukuyo menetes setetes pun aku tidak akan segan-segan menghajar pria sepertimu!! Tsukuyo itu sahabatku, hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan, brengsek!!"
Seiring dengan teriakannya Hijikata melayangkan pukulan ke wajah pria didepannya itu.
Gintoki menyeringai "lihat, itulah bukti kalau kalian saling mencintai, kau bahkan lebih bisa melindunginya daripada aku!" lirihnya walaupun wajahnya mulai lebam, Gintoki pasrah saat pria itu memukulinya.
"satu hal lagi jangan pernah menganggap Tsukuyo seperti wanita lain yang hanya mengejar materi, dia itu wanita dengan hati yang suci, kau tau!!!" dengus Hijikata sambil mengangkat kepalannya mengarah ke arah Gintoki, emosinya benar-benar tidak bisa ia kendalikan.
"TOUSHI!!!!" suara lembut seorang wanita membuat kepalan Hijikata tertahan, dan menoleh ke arah suara itu.
"Mitsuba!!!?" pekiknya kaget, matanya melebar melihat sosok wanita bersurai pasir itu.
"Toushi hentikan aku mohon!!" pintanya.
Hijikata memalingkan wajahnya dari Mitsuba dan menatap garang Gintoki dengan kepalannya yang terlihat bergetar dan bersiap melayangkan pukulannya lagi sebelum suara wanita lain menegurnya.
"Toushi sudahlah.. Lepaskan dia" ucapnya lirih disamping Hijikata.
Pria itu menatap kesal berniat tidak mendengarkan Tsukuyo yang menahannya untuk memukul Gintoki lagi.
"kau masih membelanya??" kata Hijikata geram.
Tsukuyo menunduk.
"dia tidak pantas kau bela lagi Tsukuyo!! Tch..!!" pria tegap itu bersiap untuk mendaratkan pukulannya sebelum Mitsuba menahannya dengan memeluknya dari belakang.
"Toushi cukup!! Kau memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah!!" ucap Mitsuba memeluknya erat agar menahan Hijikata untuk tidak menghajar Gintoki lagi.
Hijikata terdiam, ia memutuskan untuk melepaskan Gintoki dari cengkramannya dan mendorongnya kasar.
"kau beruntung kali ini!!" bentaknya.
"kenapa kau bisa ada disini Mitsuba?" tanyanya lagi, nada suaranya sudah berubah pelan dan berbalik menghadap Mitsuba.
"Tsukuyo-san memanggilku, aku khawatir dengamu... Kau tidak apa-apa kan?" tanyanya lembut menyentuh dada Hijikata.
Hijikata menghela nafas panjang dan mengusap kepala Mitsuba pelan dan berpaling ke arah Tsukuyo "Tsukki berhentilah membawa kelemahanku saat aku membelamu dari pria brengsek ini!!!"
Tsukuyo tersenyum kaku "kalian berdua pergilah biar aku bicara dengannya sebentar.." sahutnya pelan takut Hijikata ikut marah karena keputusannya.
"kau!!!!" seru Hijikata mendekat.
"ada urusan yang belum ku selesaikan dengannya Toushi.."
Hijikata mendengus, ia kehabisan kata-kata dan memutuskan pergi dengan Mitsuba setelah mengancam Gintoki lagi.
Gintoki yang terdiam dengan wajah lebam dan darah di sudut bibirnya menatap Tsukuyo salah tingkah dan bangun dari tempatnya melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
"diamlah disitu.." ucap Tsukuyo sambil mencari kotak P3K di sekitaran ruang itu.
Entah kenapa pria itu diam saja sambil menatap wanita itu yang mendekat dengan kotak p3K ditangannya.
Tsukuyo mengeluarkan beberapa perban dan mengoles luka yang ada di wajah Gintoki.
Tidak ada satu katapun kata keluar dari mulut mereka masing-masing, Gintoki yang teringat dengan keputusan untuk berpisah membuatnya tidak mampu untuk bersuara, Tsukuyo yang diam dengan beberapa pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
Pria itu meringis disaat Tsukuyo mulai mengolesi lukanya.
"kenapa kau membantuku? Harusnya kau membiarkannya untuk memukulku" ujarnya memecah kesunyian diantara mereka berdua seraya menahan perih di mulutnya.
Gintoki menatap wajah Tsukuyo yang fokus mengobati lukanya.
"diamlah, anggap saja aku seoramg teman yang sedang mengobatimu..." Tsukuyo memberi jeda ucapannya "kau bilang kau tidak mencintaiku kan?" lanjutnya menyembunyikan perasaan pahit yang ia rasakan.
Gintoki kembali terdiam, mata sayunya kembali menatap lekat wajah sembab Tsukuyo, ucapan dari wanita itu membuatnya bersalah karena ucapan itu hanyalah sebuah kebohongannya saja.
"aku tidak pantas untukmu Tsukuyo... Aku bukan pria yang baik untukmu aku tidak bisa melindungimu seperti Hijikata lakukan kepadamu, aku tidak bisa menjamin masa depanmu denganku dan aku tidak bisa memberikan kebahagiaan..." ucapnya melirik lebam yang ada ditangan Tsukuyo.
"aku bahkan tidak tau tanganmu terluka"
Tsukuyo tidak menjawab perkataan Gintoki.
"apa kau tidak mencintai pria yang kau panggil Toushi itu?? Dia pria yang Pantas untukmu, lagipula kau terlihat bahagia dengannya" ungkapnya lagi.
Ia masih fokus dengan luka Gintoki dan menghela nafas "kau tidak melihat cincin yang melingkar di jari manis mereka berdua Gintoki?"
Pria berambut perak itu mengangkat alis matanya kaget.
"aku sudah bilang padamu dia itu sahabatku tidak lebih, kami sudah terbiasa berjuang bersama dari kecil.. Dan aku selalu bergantung padanya dan begitu juga sebaliknya.. Tidak ada perasaan seperti sepasang kekasih sama sekali, aku bahagia dia sudah menemukan cintanya, Okita Mitsuba adalah wanita yang pantas untuknya.. Dia sudah ku anggap seperti kakak lelakiku jadi wajar dia marah padamu.." ucap Tsukuyo sambil merapikan kotak P3K itu.
Gintoki terdiam mematung, Tsukuyo duduk didepannya canggung dan gelisah mereka duduk berhadapan diruang guru itu.
"kenapa kau tidak membalas pukulannya?" tanya Tsukuyo.
Gintoki tersenyum hambar "aku tidak mau masuk penjara karena memukul seorang polisi!"
"tapi aku memang layak menerima pukulannya" lanjutnya pelan seraya tersenyum getir.
"oh.." Tsukuyo manggut-manggut.
Keheningan kembali menyertai mereka. Tsukuyo merogoh sesuatu dari tasnya dan menyerahkannya kepada Gintoki.
"itu undangan pernikahan mereka..." ucapnya.
"kau juga diundang, jadi kau harus datang .." lanjutnya tersenyum dan bangkit dari posisi duduknya bergegas meninggalkan pria itu.
Tsukuyo melangkah pergi tapi ia merasakan tangannya ditahan Gintoki, ia mengerutkan keningnya menatap tangannya yang dipegang.
Beberapa detik berikutnya ia sudah berada dalam pelukan pria itu, tangan kokoh pria itu dengan erat mendekapnya seolah takut wanita itu akan pergi darinya. Ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Tsukuyo.
Gintoki merasakan tubuh kaku Tsukuyo karena dia memeluknya secara mendadak. Tsukuyo kaget dengan perlakuan pria itu, ia merasakan detak jantung Gintoki yang cepat di saat ia berada di pelukannya.
"maafkan aku Tsukuyo... Ini semua kesalahanku, aku tidak tau harus melakukan apa agar kau bahagia denganku.."
Ia diam sebentar menunggu reaksi dari Tsukuyo, ia merasakan tangan wanita itu mengusap punggungnya dan menepuknya pelan.
"aku cemburu Tsukuyo..aku cemburu" ucapnya di telinga wanita bersurai pirang itu.
"aku.. Aku terlalu mencintaimu hingga cemburuku membuatku hilang kendali, aku tidak sanggup mendengar kau menyebut nama pria lain dari mulutmu, aku tidak tahan mendengar kau memuji pria lain seperti Hijikata meskipun aku tau dia adalah sahabatmu... Maafkan aku, aku hanya ingin kau jadi milikku sepenuhnya.."ungkapnya menumpahkan semua isi hatinya.
Tsukuyo merenggangkan pelukannya dan menatap wajah tampan pria itu yang terlihat merasa bersalah dan gugup. Ia menanggkupkan kedua tangannya di kedua sisi wajah Gintoki dan mencium bibir pria itu dengan kecupan lembut.
"kau terlalu banyak bicara Gintoki" kata Tsukuyo meskipun dia sendiri gelagapan dengan apa yang barusan dia lakukan tapi ia gemas sendiri mendengar pengakuan pria tegap didepannya ini.
Gintoki memegang tangan Tsukuyo yang ada di wajahnya meskipun ia menahan perih akibat luka pukulan dari Hijikata tapi lukanya tidak seberapa dengan luka yang ditorehkannya kepada Tsukuyo, ia tersenyum tipis menatap wajah merona wanita cantik itu.
"aku juga meminta maaf padamu, tidak seharusnya aku membicarakan pria lain saat aku berada didekatmu, aku memang bodoh Gintoki aku terlambat menyadarinya...
kau tidak perlu berusaha keras membahagiakanku cukup kau selalu berada disampingku sudah membuatku bahagia " ucap Tsukuyo menunduk malu-malu.
Gintoki tersenyum dan mencium punggung tangan Tsukuyo, ia merasa bahagia sekarang, semua ini hanyalah kesalahpahaman mereka berdua saja. Mereka berdua harus saling terbuka satu sama lain meskipun dengan sibuknya pekerjaan masing-masing.
Pria itu kembali memeluk erat Tsukuyo dan tersenyum bahagia, ia mengecup mesra pucuk kepala wanita itu.
"maukah kau menjadikanku pasanganmu disaat pernikahan Hijikata nanti??" tanya Gintoki.
Tsukuyo mengangguk didalam pelukan pria itu menandakan bahwa ia menyetujui ajakannya.
Senyum Gintoki merekah.
"aku mencintaimu Tsukuyo.." ucapnya tulus.
"aku juga.."
End
