Ehem! Oke sekilas intro dulu.
Banyak review kmarin yang tanya ini ff kak Julie. Dan memang ini ffnya kak Julie. Aku udah ijin dan di ijinkan. aku seorang athor juga, meskipun abal2 tapi tau buat sebuah karya itu gak gampang, jadi say no to bajak membajak oke..
Aku suka meanie, dan aku remake ini khusus untuk kalian yang suka meanie juga. Maaf atas kesalahan sumary yang hasil kopipaste itu hehe, aku udah edit. Jadi... selamat membaca!
Setelah Tiga Kali, Berarti Jodoh
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
© Julie Khoyul
Happy reading!
-Hampir Saja-
Mingyu keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Dia belum mandi, sudah telanjang di kamar mandi tapi tiba-tiba ingat kalau sore tadi sekertarisnya bilang, GM-nya STproperty mengirim e-mail padanya. Email itu harus segera dikonfirmasi agar hubungan bisnis dua perusahaan segera terlaksana.
Baru saja keluar kamar mandi, mengedarkan pandangan mencari letak tas dan leptop kerjanya, Mingyu mendapati Wonwoo duduk bersila di ranjangnya. Mingyu jelas terkejut apalagi saat Wonwoo menyapanya dengan remeh. Wonwoo si iblis berpaha mulus itu datang untuk menghantui Mingyu rupanya.
"Sedang apa kau disini?"
"Menawarkan kebebasan!" Mingyu mendekat ke arah Wonwoo. Dia berdiri di dekat ranjang tepat di depan Wonwoo duduk. "Kupikir waktu itu kita sama-sama mabuk. Jadi letak kesalahannya cuma pada keadaan kita saat melakukannya"
"Jadi kau baru sadar itu. Aku mabuk, kau mabuk, tidak ada unsur paksaan disini. Kau lapor polisipun tak ada gunanya"
"Ada. Tentu ada. Kau menganggapku gigolo, Tuan Kim. Meniduriku, meninggalkan uang dan pergi tanpa penjelasan. Itu termasuk tindak pidana", terang Wonwoo enteng. "Begini, aku tak mau basa basi sekarang. Aku datang menawarkan kebebasan untukmu, jadi kau boleh pilih masuk penjara atau terima tawaranku"
"Katakan penawaranmu. Kalau banyak merugikanku, aku tak sudi memilih apapun"
"Tidur dengaku secara sadar, apa itu merugikanmu?"
Apa maksud iblis ini? Mau menjebak Mingyu agar tuduhannya makin berat? Kalau sampai dua kali Mingyu tidur dengan Wonwoo, bisa makin lama dia dipenjara nantinya. Mingyu tak akan tertipu penawaran macam itu. Dia kira Mingyu bodoh sampai harus tak sadar jebakan iblis.
"Ini bukan jebakan. Kalau aku yang meminta secara sadar, berarti tak ada unsur paksaan. Tuduhan pelecehan yang ku layangkan juga akan gugur"
Benar juga, kalau Wonwoo yang meminta berarti tak ada unsur paksaan saat berhubungan. Tuduhan sebelumnyapun tak akan berlaku kalau mereka melakukannya lagi atas dasar permintaan Wonwoo. Bisa dianggap simbiosis mutualisme kalau mereka sama-sama menikmatinya nanti.
Tapi kenapa tiba-tiba sekali, tiba-tiba Wonwoo datang padanya dan minta ditiduri ulang? Bukankah itu janggal. Atau Wonwoo ketagihan dengan service memuaskan dari Mingyu kemarin malam, kalau itu boleh dibilang sebuah service? Dan jika benar, Wonwoo patut berbangga diri karena bukan hanya yeoja yang rindu sentuhannya, namja-pun juga.
Tidur dengan Wonwoo? Terdengar sedikit extrem, tapi Mingyu sudah menidurinya sebelum ini, bukankah tak akan jadi masalah kalau tidur dengannya sekali lagi. Toh yang kemarin semuanya masih samar-samar. Kalau bisa diulang secara sadar Mingyu bisa menilai apakah tidur dengan namja bisa dimasukkan dalam agenda hubungan seksualitasnya dihari-hari berikutnya. Atau kalaupun tak layak, tinggal coret kata namja sebagai partner tidurnya.
"Kau bisa menjamin tak ada acara lapor polisi?", tanya Mingyu memastikan dulu. Siapa tahu setelah tidur bersama lagi, Wonwoo masih berkeras melaporkannya ke polisi. Mingyu kan tak bisa membaca jalan pikiran Wonwoo, sekedar jaga-jaga kalau namja langsing itu berbohong jadi harus dipastikan.
Wonwoo merangkak mendekati tepi ranjang. Dia menyeringai kecil kearah Mingyu kemudian mengulurkan tangannya ke handuk Mingyu. Iblis itu menarik handuknya agar Mingyu ikut mendekat padanya. Lalu dia mengeluarkan simpul handuknya dan menyingkirkan kain itu dari sana.
Wonwoo bersiul kecil saat menatapi tubuh telanjang Mingyu.
"Jaminannya, kau bebas kalau aku puas!", katanya yang langsung ditanggapi Mingyu dengan tindakan.
Lagi pula, Mingyu ingin menyentuh paha putih mulus itu lagi.
Mingyu menyusul Wonwoo di ranjang, berbaring tak melakukan apapun seperti instruksi Wonwoo. Iblis itu memereteli bajunya sendiri, mempertontonkan paha putih yang ingin disentuh Mingyu. Kemudian dia duduk diperut Mingyu. Sesaat terdiam, saling memandang, saling menyeringai dan saling mengumpulkan nafsu agar hubungan kali ini bisa lebih hebat. Mingyu memandang keseluruhan tubuh Wonwoo, mulai dari bawah, paha itu, melewatkan bagian inti karena mereka sama-sama punya dan Mingyu tak tertarik melihat milik orang lain, lalu perutnya, kemudian dada. Damn it! Dada Wonwoo sama mulusnya dengan pahanya.
Mingyu mengulurkan tangannya sekedar memastikan benarnya dada yang mulus juga berarti halus dan lembut. Dia menyentuhkan jarinya dibawah leher Wonwoo, lalu menyeretnya turun perlahan setelah telapak tangannya menempel dikulit putih itu. Iya, ini mulus, halus dan lembut. Sekali lagi Mingyu mengulang sentuhannya dari atas ke bawah, bawah lagi hingga terhenti saat Wonwoo menunduk terpuruk menempelkan badan mereka. Wonwoo mengecup singkap bibir Mingyu. Mingyu mau lagi, tapi Wonwoo menyodorkan perpotongan lehernya sebagai ganti. Mingyu menyesap aroma leher Wonwoo, bersamaan iblis itu mendesah didekat telinganya.
"Setelah ini, kau akan lebih lama mendekam di penjara!", kata Wonwoo disela desahannya.
"Sialan!", umpat Mingyu yang barusan mengigiti kulit leher Wonwoo.
Iblis tetap iblis. Wonwoo berbohong tadi, dia meminta ini agar Mingyu dapat hukuman lebih berat. Sebenarnya apa salah Mingyu pada Wonwoo? Apa sekali saja salah tak bisa dimaafkan? Kenapa Wonwoo ngotot sekali ingin memenjarakan Mingyu lebih lama? Kenapa?.
"Menyingkir dariku!", perintah Mingyu geram.
"Tidak sebelum ini selesai"
"Aku tidak sudi tidur denganmu!", bentak Mingyu mulai kalang kabut.
"Begitu ya? Tapi kita sudah terlanjur begini. Teruskan sajalah, konsekuensi kita tanggung nanti". Wonwoo menunduk lagi setelah tadi didorong oleh Mingyu. "Setelah ini kau boleh menuntutku juga. Atas tuduhan memaksa untuk ditiduri", katanya sambil tersenyum lalu memonyongkan bibir hendak mencium Mingyu.
Polisi akan tertawa kalau Mingyu melapor sedemikian. Mana ada orang menawarkan diri untuk ditiduri?
"Jangan mendekat!", perintah Mingyu sambil mendorong Wonwoo dengan kedua telapak tangannya.
Wonwoo mendesah. Geli dan gelisah saat tangan Mingyu menempel di dadanya. Sialan kedua untuk Mingyu, Mingyu ikut terangsang karena desahannya. Mingyu buru-buru menarik tangannya kemudian memantapkan diri lagi. Kalau dia kalap kali ini, penjara menunggunya kemudian. Satu satunya jalan adalah mengenyahkan Wonwoo dari hadapannya. Saat Wonwoo memajukan bibirnya, Mingyu berpaling muka. Jangan sampai mereka saling menyentuh lebih dari ini.
"Jangan mendekat kataku!", perintah Mingyu lagi. "Enyah dari tubuhku!"
Mata Wonwoo sudah sayu, bagian bawahnya menegang. Mingyu bisa merasakannya karena kulit mereka saling menyentuh. Tapi ini keadaan buruk, benar-benar tak baik. Mingyu harus segera menjauhkan iblis itu dari tubuhnya karena dia juga ikut tegang. Dalam keadaan seperti ini, kalau Wonwoo tak segera dihentikan, dia pasti kalah. Berikutnya Wonwoo mengangkat dirinya sendiri. Mingyu tahu apa yang akan dilakukan Wonwoo hingga dia terpaksa bangkit dan bersiap mencegah.
"Berhenti! Jangan lakukan!", tapi Wonwoo sibuk mengatur posisi. "BERHENTI. MENYINGKIR DARIKU!", bentak Mingyu sambil mendorong Wonwoo sekuatnya. Wonwoo jatuh dari ranjang menimbulkan bunyi gedebuk keras yang seketika melegakan hati Mingyu.
"Aduh Aduh!", rintih Taemin sambil tertatih bangkit dari lantai. Si kecil menggosok bokongnya dengan tangan kiri, dan kepalanya dengan tangan kanan. "Daddy, kau kenapa?"
Tadi ceritanya pagi-pagi Taemin bangun langsung masuk kamar Daddy-nya. Dia ingin membangunkan Minyu dan meminta ucapan selamat ulang tahun langsung dari Daddy-nya. Saat masuk dan naik ke ranjang dia melihat Mingyu yang tidurnya gelisah. Taemin dilema, dibangunkan sekarang atau nanti? Saat Taemin memutuskan membangunkan Daddy-nya, baru tangannya akan menyentuh Mingyu dia dilarang mendekat. Taemin mundur sekali, dia mundur lagi saat Mingyu memperingatinya agar tak mendekat lagi. Baru saat Mingyu berteriak, Taemin kaget. Dia sampai berjingkat hingga terjatuh ke bawah ranjang. Malang niat bokong dan kepalanya membentur lantai kamar.
Mingyu tersadar mendengar Taemin mengaduh. Dia mendapati dirinya terduduk di ranjangnya, banjir keringat di sekujur tubuhnya dan nafasnya memburu. Tangannya bahkan masih menghalau ke depan. Sedangkan Taemin berdiri di luar ranjang sambil mengusap kepala dan bokongnya.
"Sedang apa kau disini?" Mingyu ditanya balik nanya.
"Dad, kau baru saja mimpi burung. Iya kan?"
Mimpi burung? Mingyu baru saja memimpikan Wonwoo, bukan memimpikan burung.
"Sedang apa kau disini?", tanya Mingyu lagi mengindahkan mimpi burung-nya Taemin. "Keluar!", usir Mingyu.
"Daddy, hari ini aku ulang tahun. Ucapkan selamat padaku!"
"Siapa yang mengijinkamu masuk kemari?", tanya Mingyu kasar. "Keluar!"
"Daddy, ucapkan selamat dulu baru aku keluar!"
"Keluar!", usir Mingyu lebih tegas.
"Dad,"
"Keluar!", perintahnya sambil memelototi Taemin.
"Iya, iya, aku akan keluar. Tapi ucapkan selamat dulu, Dad!", masih pintanya.
"Keluar!"
"Baiklah aku keluar", kata Taemin takut-takut sekaligus menyerah. "Dad,"
"Apa lagi?"
"Lain kali biarkan aku menemanimu tidur biar tidak mimpi burung lagi".
Taemin berjalan gontai ke arah pintu kamar. Pagi ini dia gagal meminta ucapan selamat ulang tahun dari Daddy-nya, tapi dia belum menyerah. Taemin akan coba lagi tahun depan.
MIngyu menghembuskan nafas lega. Syukur kejadian tadi cuma mimpi yang artinya perkaranya dengan Wonwoo masih sebatas tuduhan pelecehan dan pencemaran nama baik secara tak sadar. Mingyu bisa meminta solusi dari Soonyoung atau teman-temannya yang lain soal ini. Pokoknya masalah ini jangan sampai diketahui publik apa lagi sampai Mingyu masuk penjara.
Membahas mimpi yang tadi, bagaimana bisa Mingyu jadi tak berdaya di depan Wonwoo. Padahal biasanya dia sangat tegas dan keras seperti saat dia mengusir Taemin kali ini, tapi kenapa tak mempan terhadap Wonwoo? Apa karena dalam mimpi?
"Taemin!" Taemin berbalik menatap Mingyu sebelum menutup pintu. "Selamat ulang tahun!", katanya yang langsung diikuti senyum kegembiraan dari Taemin. Tidak ada waktu untuk terkejut, Taemin harus segera berterima kasih karena hal langka barusan sebelum Daddy-nya kembali jadi Mingyu yang acuh seperti sebelumnya.
"Daddy.."
"Keluar!" Tu kan apa Taemin bilang. Daddy-nya Taemin baiknya musiman saja. Tapi tidak apa-apa, yang penting dia sudah dapat ucapan selamat dari Daddy-nya.
Taemin menutup pintu kamar Mingyu sambil tersenyum lebar. Tapi beda dengan Mingyu yang sekarang harus memasang wajah muram. Kalau Wonwoo tak bisa dihandle, Mingyu akan berakhir di penjara. Nah ucapan selamat ulang tahun tadi mungkin jadi penutup sebelum Mingyu berurusan dengan polisi. Kalau beruntung, Tuhan akan mengagalkan rencana pelaporan Wonwoo atas dirinya karena dia memulai berbuat baik pada anaknya sendiri. Semoga saja.
MEANIE
Taemin minta ijin pulang sekolah lebih awal. Hari ini pesta ulang tahunnya jadi dia harus berdandan yang rapi agar saat teman-temannya datang nanti dia sudah sangat tampan. Tapi semenjak pulang sampai saat ini Taemin belum juga selesai bersiap, padahal teman-temannya sudah ada yang datang.
Taemin sedang membenahi dasinya di depan kaca saat Kangin masuk. Dia sibuk berkaca, memastikan dirinya tampan dan mempesona saat berada disekitaran teman-temannya.
"Min, kau lama sekali" Kangin meraih jas hitam kecil milik Taemin saat menghampiri cucunya itu di depan cermin. "Cepat pakai jas dan temui teman-temanmu"
"Sebentar Appa". Taemin membenahi jambulnya sebagai sentuhan akhir.
"Sepertinya Daddy-mu tak hadir lagi kali ini"
"Aku tahu"
"Tapi dia pasti sudah menyiapkan kado untukmu"
"Aku juga tahu"
"Daddy-mu sangat sibuk, mungkin tahun depan dia akan hadir di ulang tahunmu", kata Kangin menyemangati cucunya. Kangin tak mau kalau Taemin murung, karena tahun berulang dan Mingyu masih belum mau hadir di pesta ulang tahun anaknya.
"Tidak masahalah, Appa"
"Masalah!", tutur Kangin membenahi ucapan Taemin.
"Iya, masalah. Tidak masalah, Daddy sudah mengucapkan selamat ulang tahun padaku". Kangin mengernyit. Apa iya? "Eh, eh Appa. Tadi pagi saat aku masuk kamar Daddy, Daddy sedang mimpi burung"
Wah ternyata Mingyu sudah mulai mengakrabkan diri dengan Taemin. Selain mengucapkan selamat ulang tahun, dia juga menceritakan perihal mimpinya pada Taemin. Mungkin Mingyu mulai sadar kalau keberadaan Taemin bisa mengubah hidupnya yang datar jadi lebih berwarna.
"Mimpi burung?", Taemin mengangguk. "Daddy-mu menceritakan mimpinya padamu?", Taemin menggeleng. "Lalu dari mana kau tahu kalau dia memimpikan burung?"
"Jelas tahu Appa. Saat aku masuk, Daddy tidurnya sangat tidak bagus. Ckckckck!", terangnya sambil geleng-geleng. "Daddy keringatan banyak. Daddy bilang 'jangan mendekat'", cerita Taemin sambil menirukan gaya Mingyu tadi pagi. "Jangan mendekat!", ulangnya juga dengan kedua tangan menghalau ke arah Kangin. "Aku jadi kaget dan jatuh ke lantai", tuturnya sambil manyun.
Kangin mengangguk angguk paham. Itu bukan mimpi burung, tapi mimpi buruk. Bahasa Korea Taemin masih berantakan. Bahkan kosa kata yang dikuasainya terbolak balik. Taemin lebih suka belajar alphabet, dari pada hangul. Bahasa Inggrisnya bahkan lebih bagus dari pada bahasa Korea. Katanya juga hangul itu sulit, kenapa huruf cuma ada garis-garis, kotak dan bulat tapi susah dipelajari? Bahkan saat dia disuruh gurunya membuka halaman penuh hangul, dia bilang itu lebih mirip anyaman bambu dari pada sebuah teks. Dan Kangin sering dipanggil ke sekolah karena sampai sekarang Taemin belum lancar membaca.
"Bad dream?", tanya Kangin memastikan.
"Bad dream", ulang Taemin. "Daddy pasti mimpi ada hantu mengejarnya. Nanti malam aku akan menemaninya tidur, biar hantunya tak datang lagi", katanya sambil memakai jas yang disodorkan Kangin. "Kasihan Daddy ya Appa?"
Taemin membenahi jambulnya sekali lagi sebagai sentuhan paling akhir dari yang akhir. Kemudian dia bersiap menemui tamu-tamunya.
"Appa, aku akan temui teman-temanku. Nanti kado darimu taruh disitu ya!", pintanya sambil menujuk ranjang dan bersiap keluar.
"Min!"
"Ha?"
"Mimpi buruk, bukan mimpi burung" Taemin menggurungkan niat untuk keluar kamar. Dia berfikir sejenak, apa bedanya buruk dan burung? "Burung!", Kangin memperagakan gerakan burung terbang dengan kedua tangannya. "Buruk!", kemudian dia menunjukkan wajah ketakutan pada Taemin.
"Mimpi buruk?" Kangin sumringah akhirnya cucunya mengerti. "Iya itu maksudku tadi!", katanya sambil meringis sejenak dan keluar secepatnya. Taemin kan tak mau disalahkan.
MEANIE
"Sedang apa kalian disini?", tanya Wonwoo pada segerombolan kanak-kanak yang bergurau dekat peralatan pesta.
"Sedang menunggu Taemin, hyung"
"Pestanya disebelah sana!", tunjuk Wonwoo pada arah lain. "Disini banyak barang berbahaya, mau kejatuhan barang-barang ini?", mereka menggeleng serempak. "Jatuh di kepala kalian lalu kepala kalian bocor, mau?", mereka menggeleng lagi. "Sana pergi!", usir Wonwoo dengan jijiknya. Wonwoo tidak benci anak-anak, dia cuma tak begitu suka. Lagi pula ditempat ini memang berbahaya. Disitu diletakkan banyak besi peralatan bongkar pasang properti pesta.
"Hyung, nanti Taemin keluar lewat sini kan?", tanya seseorang dari mereka.
"Mau lewat sini atau lewat manapun, kalian tetap tak boleh menunggu disini. Sana kembali ke tempat pesta!", usirnya lagi lebih digalakkan suaranya.
"Kalau Taemin keluar, bilang Minho menunggunya ya Hyung"
"Jonghyun juga", sahut seorang anak lain.
"Onew. Onew!", sahut seorang anak lagi mendata dirinya sendiri.
"Kau?", tanya Wonwoo pada anak terakhir.
"Key imnida!", jawabnya sambil menunduk hormat pada Wonwoo. "Aku menunggu Taemin juga, Hyung!", katanya sambil tersenyum manis. Sepertinya Key suka pada Wonwoo. Dia memandangi Wonwoo bak pangeran saja.
"Ya sudah, sana pergi!"
"Kau akan katakan pada Taemin kalau kita menunggunya kan, Hyung?"
"Yang penting kalian cepat pergi dari sini!".
Taemin yang mana? Wonwoo tak tahu dan tak mau tahu bocah yang namanya Taemin itu. Dia cuma mau anak-anak ini menyingkir dari properti pesta miliknya.
"Ok, Hyung. Kita pergi. Ayo!", komando Minho pada kawanannya.
"Hyung, terima kasih!", kata Key sebelum Onew menariknya mengikuti yang lain.
Wonwoo mendecih pada empat anak kecil barusan. Dia tak begitu suka anak-anak, bahkan untuk masa depan nanti dia tak berangan untuk punya anak. Kalaupun dia punya, biar anaknya diasuh baby siter saja. Dan baru boleh tinggal dengannya setelah besar. Anak kecil itu, berisik dan merepotkan. Yah kalau sekarang dia bekerja untuk party organizer yang kadang disewa untuk pesta ulang tahun anak kecil, bukan berarti dia harus mendekati anak-anak kan? Lagi pula semua pekerjaan dilakukan anak buahnya. Dia ada itu sebagai tukang perintah. Wonwoo itu bos.
Minho, Jonghyun, Onew dan Key serempak meninggalkan tempat barusan. Lama lama berada dekat Wonwoo membuat mereka ngeri. Memang lebih baik menunggu Taemin di halaman belakang dari pada di tempat tadi. Ada Hyung galak disana.
Mereka berhenti dan mangkal kembali di depan stan makanan. Ada kue besar disitu. Saat Jonghyun mau mencolek merasakan krimnya, Noona cantik yang lewat situ sambil membawa nampan, berhenti seketika. Dia menggerak gerakkan telunjuknya sambil bilang 'No No No', sampai Jonghyun menarik kembali tangannya dan menunduk minta maaf.
"Itu Taemin!", tunjuk Key ke arah mereka menunggu tadi.
"Taem!", teriak Minho kearah Taemin. "Disini!", katanya pula saat Taemin celingukan mencari arah datangnya suara.
"Wah kalian datang paling awal. Mana yang lain?", tanya Taemin setelah mendekat pada keempatnya.
"Belum datang", jawab Onew. "Taem, Taem, kado dariku ku taruh di meja sana. Nanti kalau kau buka dalamnya ada kotak pensil gambar ayam, itu dariku ya!", tuturnya diangguki Taemin. "Ayo, berterima kasih padaku Taem!"
"Terima kasih!", kata Taemin sambil menyalami Onew. "Kado darimu apa, Hyung!"
Minho meringis dulu kemudian mendekatkan mukanya pada Taemin. Dia celingak celinguk ke kanan ke kiri lalu berbisik pada Taemin saat tak ada orang lain selain mereka di dekat situ.
"Rahasia!", katanya lirih tapi masih didengar yang lainnya. "Aku tulis 'Rahasia Minho' di kadonya". Taemin manggut manggut. Jonghyun, Onew dan Key ikutan manggut manggut juga. "Dalamnya ada sepatu yang dulu kita lihat di toko eomma-ku. Kau ingat?"
"Yang warna ungu itu?". Minho gantian mengangguk. "Aku suka hyung. Terima kasih". Minho tersenyum puas kalau Taemin suka dengan pemberiannya. Tapi letak rahasianya dimana kalau Minho menyebutkan isi kadonya?
Sekarang giliran Jonghyun dimintai kado oleh Taemin. Jonghyun juga meletakkan kadonya di meja depan. Kalau isinya dia tak tahu. Kemarin dia bilang pada eomma-nya kalau Taemin ulang tahun hari ini. Jonghyun minta dibuatkan kado untuk Taemin nanti, jadi dia tak tahu apa isinya. Yang penting dia bawa kado kan.
Key menurunkan tas punggungnya. Dia mengeluarkan semua baramg yang ada di dalamnya. Ada buku gambar, pensil warna, kotak bekal, air minum dan beberapa snack. Tiba terakhir dia mengeluarkan sebuah kertas gambar yang sudah digulungnya.
"Ini kado dariku, Taem!". Key menyerahkan gulungan itu lalu menyuruh Taemin membukannya.
Dalam kertas itu ada gambar buatan Key. Gunung kembar, ada jalan panjang menuju tengahnya. Ada sebuah rumah ditepi kanan jalan dan sawah-sawah ditepi kirinya. Di samping rumah kecil itu, Key menggambarkan tiga orang bergandengan. Mirip orang-oranga sawah, tapi Key menulisinya dengam nama Taemin disana. Dua orang dewasa diberi nama 'Daddy-nya Taemin dan Mommy-nya Taemin'. Gambar orang yang kecil ditengah-tengah diberi nama Taemin. Di atas kertas gambar itu, Key memberinya judul 'Taem's Family'
Taemin mengangguk angguk memberi reaksi.
"Bagus. Bagus", katanya sambil menggulung kembali kertas itu.
"Ulang tahunmu yang kemarin, kita tidak lihat Daddy dan Mommy-mu, Taem. Kalau hari ini, mereka ikut kan?"
Tahun lalu ulang tahun Taemin tidak dirayakan di rumah. Taemin dan tentunya dengan Kangin, mengajak keempat temannya ini makan di restoran. Kalau untuk kali ini, Taemin mau semua teman di sekolah datang ke rumahnya. Biar di rumahnya ramai. Tapi kalau ditanya tentang Daddy dan Mommy-nya, Taemin tak punya jawaban. Tiap kali ulang tahun, Daddy-nya kan selalu sibuk kerja. Kalau Mommy, dia belum punya.
"Daddy kerja, cari duit untuk membayar tagihan listrik"
"Oooooo!", koor keempatnya.
"Tagihan listrik itu apa, Taem?", tanya Onew kepingin tahu. Sebenarnya semunya juga tidak tahu. Taemin sendiri dengar kalimat itu dari pembantunya yang biasanya menyortir surat-surat tagihan.
"Ya pokoknya tagihan listrik", jawab Taemin tak mau repot2 berfikir. "Kalau Mommy, ada di dalam. Mommy sibuk!"
"Membayar tagihan listrik juga, Taem?", tanya Onew lagi.
"Iya. Mommy juga membayar tagihan listrik"
"Oooooo!", koor keempatnya lagi.
"Kalian tidak usah ketemu Mommy. Mommyku galak sekali!", tutur Taemin bermaksud agar teman-temannya tidak berminat melanjutkan pembicaraan soal Mommy ataupun ingin menemui Mommy-nya.
"Apa Mommy-mu tampan?", tanya Minho.
"Tampan"
"Apa Mommy-mu manis sekali?", tanya Jonghyun.
"Iya, Mommy manis sekali"
"Mommy-mu galak?", tanya Onew.
"Seperti yang kubilang tadi, Onew"
"Berarti Hyung tampan yang tadi marah dengan kita itu Mommy-mu ya Taem", kata Key menyimpulkan kriteria Mommy-nya Taemin yang mirip dengan Hyung tampan tapi galak yang mengusir mereka barusan.
"Iya, itu Mommy-ku. Galak kan?" Sebodoh yang mana orangnya, yang penting teman-temannya berhenti membicarakan soal Mommy-nya. Taemin cuma tidak mau kalau taman-temannya tahu dia tak punya Mommy, nanti dia bisa dikira lahir dari batu atau dari pohon. "Kalian tidak usah bertemu Mommy lagi. Nanti dia marahi kalian lo!", kata Taemin mencoba menakut nakuti.
Keempatnya cuma mengangguk saja sih. Lagi pula tak ada alasan mereka mau menemui Mommy-nya Taemin lagi. Kecuali Key mungkin.
Kemudian teman-teman Taemin yang lain mulai berdatangan. Yang membuat Taemin sumringah, semua yang datang membawa kado. Bisa dibilang hari ini rumah Taemin banjir kado. Tahu kalau ulang tahun di rumah bisa semenyenangkan ini, Taemin sudah pasti dari dulu-dulu mau pesta yang seperti ini. Dia dapat banyak kado, rumahnya ramai, banyak makanan dan bermain-main sampai puas tidak ada yang memarahi. Tidak seperti ramai disekolah dimarahi guru, ramai di rumah di marahi Daddy-nya. Tapi saat ulang tahun begini Taemin dibebaskan bermain.
MEANIE
Pesta ulang tahun Taemin berakhir sukses. Teman-temannya sudah pulang, sisa Minho dan Key saja disini. Key memang dijemput agak lambat karena orang tuanya kerja. Kalau Minho sengaja mau numpang makan malam dulu baru telpon appa-nya biar dijemput.
Properti pesta sudah hampir selesai dilepas. Pembersihan halaman belakang juga hampir selesai. Sebagai party organizer profesional, Wonwoo dan anak buahnya punya tugas hingga tempat pesta kembali bersih.
"Won!", sapa Kangin pada Wonwoo yang tengah mencopoti hiasan meja.
"Ya"
"Masih lama selesainya?"
"Sedikit lagi, ahjussi. Kenapa, kau mau pakai halaman sini lagi?"
"Tidak, tidak. Aku mau menawarkanmu makan malam bersama. Setelah semuanya selesai tentunya"
"Kedengarannya bagus, tapi kalau anak buahku pulang duluan aku kesusahan pulangnya"
"Aku bisa mengantarmu pulang. Disini juga ada sopir". Memang Kangin bisa mengantarkannya pulang, tapi Wonwoo tak begitu tertarik tawaran makan malam ini. Sudah pasti akan ribut karena ada anak-anak. Cucunya Kangin itu. "Kalau Mingyu pulang cepat dan ikut kita makan malam, dia bisa mengantarmu pulang juga!"
Mingyu? Manusia keparat itu? Namja yang telah menidurinya lalu meyangkanya sebagai gigolo? Tidak sudi Wonwoo harus makan malam dengannya, apa lagi diantarnya pulang. Wonwoo mau menyelesaikan pekerjaannya disini itu karena Kangin mengenal orang tuanya. Memang tidak begitu akrab, tapi eomma-nya dan istri Kangin adalah sahabat jaman mereka masih muda dulu. Bisa dibilang Wonwoo menyelesaikan pekerjaannya dan mengesampingkan dendamnya pada Mingyu, itu karena hubungan eomma-nya dengan eomma Mingyu sebelumnya.
Tunggu. Kalau Wonwoo ikut makan malam disini, kesempatannya untuk balas dendam makin lebar. Dia iyakan saja, sekalian nanti dia mau meneror Mingyu.
"Benar ya ahjussi, aku diantar pulang?"
"Pasti", kata Kangin sambil bergerak membatu Wonwoo mencopoti hiasan meja. "Eomma-mu sering cerita soal istriku tidak?"
"Tidak begitu sering, tapi sesekali dia cerita jaman mudanya dulu". Sebenarnya eomma-nya Wonwoo tak pernah sekalipun cerita masa mudanya. Selain sudah begitu lama, Wonwoo-pun tak akan sudi mendengarkan cerita yang bertajuk masa lampau. "Tentang Leeteuk ahjumma, kurasa aku pernah mendengar ceritanya dari eomma"
"Baguslah. Aku ingin dengar saja, katanya sebelum menikah denganku mereka berdua itu primadona di sekolah"
Heechul dan Leeteuk primadona sekolah? Mereka kan namja. Kalau melihat sekarang ini Heechul sadisnya minta ampun, jaman dulu pasti tak jauh beda. Lalu sisi primadonanya dimana? Eommanya Wonwoo cantik mungkin iya, tapi kan namanya primadona tidak dilihat dari segi cantiknya saja. Kelakuannya cantik juga, baru itu the real primadona. Wonwoo rasa appa-nya tertipu penampilan Heechul saat jatuh cinta lalu menikahi eomma-nya. Wonwoo sendiri melihat namja cantik berasa geli. Dia bahkan tak pernah berharap punya istri seorang namja. Kalau menjadi istri? Apa lagi itu, dia sangat tidak menginginkannya.
Berberes halaman belakang selesai. Anak buah Wonwoo sudah pulang sedari tadi. Wonwoo berpindah ke ruang tamu, berbincang dengan Kangin soal masa lalu eomma-nya dan almarhum istri Kangin. Taemin berada di kamarnya, membawa Minho dan Key sembunyi di sana dengan dalih membantunya membuka kado. Sesaat setelah Taemin tahu bahwa namja yang diketahui Minho dan Key sebagai Mommy-nya itu berada di rumahnya, segera dia menjauhkan teman-temannya dari hadapan Wonwoo. Takut Taemin ketahuan bohong karena mengaku punya Mommy.
Makan malam segera siap, Wonwoo digiring Kangin ke ruang makan. Taemin dan teman-temannya juga dipanggil untuk makan bersama. Taemin menolak awalnya, tapi Minho berkeras ingin makan. Dan akhrinya Taemin menyanggupi juga dengan syarat Minho dan Key tak menanyakan apapun soal Mommy-nya.
Saat Taemin dan gerombolannya menuju ruang makan, suara kedatangan Mingyu terdengar dari berbicara di telepon dengan seseorang saat Taemin memutuskan menghampirinya dulu.
"Daddy!". Mingyu melirik Taemin sejenak kemudian segera berpamitan dengan seseorang yang ditelponnya lalu mematikan Hp-nya. "UOoooo!", koor Taemin bersamaan teman-temannya saat melihat sopir keluarga membawa boneka beruang besar, sebesar Mingyu. "Itu kado untukku, Dad?", tanya Taemin yang sebelum dapat jawaban dari Mingyu langsung mengambil alih boneka beruangnya.
Taemin kesulitan menopang boneka beruang barunya. Tinggi dan besar boneka hampir tiga kali besar Taemin, tapi Taemin berkeras membawamya sendiri. Sopir keluarga itu melepaskan bonekanya atas permintaan Taemin. Baru dua langkah Taemin membawa bonekanya, dia terguling ke lantai ditimpa boneka berungnya sendiri.
"Aduh aduh, tolong aku! Daddy!", Mingyu cuma berdecak saja tanpa mau repot menolong anaknya. "Aduh, Minho hyung, Key, bantu aku!"
Minho dan Key masih sibuk berfikir, kalau Taemin saja tak bisa bergerak saat tertimpa bonekanya, berarti mereka juga tak bisa menolong. Dan merekapun sama sama tak mengambil tindakan. Ahjussi sopir keluarga menolong Taemin, segera diberdirikan bonekanya dan Taemin baru bisa bangkit dari lantai.
"Papa Bear besar sekali. Aku tak bisa membawanya sendiri. Ahjussi baik hati, bawa Papa Bear ke kamarku ya!", perintahnya menyerah dengan boneka beruang yang dinamainya Papa Bear.
Itu memang kado dari Mingyu, tapi Sekertarisnya yang menyiapkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi ya itu, kalau masalah hadiah diserahkan pada sekertarisnya, selalu ada barang-barang berlebihan dibelikannya. Dua tahun lalu Taemin dapat tujuh pasang sepatu, disuratnya ditulis agar Taemin bisa ganti sepatu tiap hari dalam seminggu. Tahun lalu sekertarisnya membelikan lukisan mahal yang didapat dari lelang. Bergambar merak yang kata Taemin meraknya sangat tampan, lalu dinamainya Mr. Peacock. Sekarang lukisannya dipajang di kamarnya. Kali ini dia dapat boneka beruang segede Mingyu. Tadi Mingyu sudah menolak membawanya pulang, namun sekertarisnya berkeras kalau dia ada janji hingga tak bisa mengatarkannya saat pesta tadi.
"Pesta sudah bubar kenapa kalian masih ada disini?", tanya Mingyu pada dua teman Taemim yang tersisa.
"Ini Minho Hyung, Dad. Yang ini Key. Mereka mau makan dulu baru pulang" terang Taemin memperjelas maksud Minho dan Key.
"Bukankah makanannya sudah siap, ayo kita makan!", ajak Minho yang memang tujuannya bertahan dirumah Taemin untuk numpang makan. "Daddy-nya Taemin, ayo kita makan!"
"Hyung tampan pasti sudah menunggu disana", sela Key yang langsung disuruh diam oleh Taemin.
"Aku tidak lapar!", kata Mingyu sambil meninggalkan anak-anak itu.
Taemin menggedikkan bahu. Kan memang seperti itu sifat Daddy-nya. Taemin yang sudah terlanjur kebal perlakuan dari Mingyu memilih mengkomandoni teman-temannya ke ruang makan. Saat sampai di sana Kangin dan Wonwoo sudah duduk dan bersiap makan. Kangin menanyakan Mingyu pada cucunya itu, dia tahu kalau Mingyu sudah pulang tadi.
"Daddy tak lapar, Appa!", jawab Taemin sambil mengambil tempat duduk disamping Wonwoo, biar Minho dan Key paham kalau Wonwoo memang Mommy-nya Taemin.
Daddy? Jadi yang namanya Taemin ini anaknya Mingyu? Berarti Mingyu sudah berkeluarga. Kebetulan kalau begitu, Wonwoo bisa meneror Mingyu, merusak rumah tangganya sampai Mingyu berlutut minta ampun padanya.
"Daddymu tak mau makan dengan kita?", tanya Wonwoo
sok. Dan kebetulan Taemin butuh diakrabi Wonwoo. Taemin mengangguk saja.
"Biar aku paksa Daddy ikut makan!"
"Tidak usah, Min", cegah Kangin karena tahu Taemin tak akan berhasil membawa Mingyu.
"Bilang saja aku ikut makan dan menunggunya disini. Kalau tak mau, aku bisa datang ke kamarnya dan mengajaknya sendiri"
Dan benar apa yang dipikirkan Wonwoo, lima menit setelah seorang pembantu disuruh Kangin untuk memanggil Mingyu, sekarang orangnya sudah bergabung di ruang makan. Mingyu duduk bersebrangan dengan Wonwoo, memasamg wajah acuh seperti biasanya padahal otaknya dalam keadaan waspada. Mingyu sedang berpikir keras, bagaimana bisa Wonwoo masih disini sedangkan pekerjaannya harusnya selesai dari tadi sore? Percuma Mingyu keluar rumah pagi-pagi dan pulang lebih lambat untuk menghindari iblis ini, tapi akhirnya bertemu juga.
Acara makan dimulai setelah perut Minho berbunyi, Minho juga yang memimpin doa. Selain itu, Minho juga memimpin yang lain untuk mengambil makanan. Maklum Minho lapar sekali.
Key yang duduk disebelah kiri Wonwoo bergeming sedari tadi. Dia cuma memandangi Wonwoo sambil senyum senyum senang. Pikirannya begini, kenapa Mommy-nya Taemin sekeren ini? Tampan lagi. Coba dia juga punya Mommy yang sama tampannya, pasti Key akan sangat senang. Bukan dia tak suka eomma-nya sendiri, hanya saja eomma-nya Key tak sekeren Mommy-nya Taemin.
"Kenapa kau diam saja?", tanya Wonwoo menyadari Key tak bergerak mengambil makanan. "Mau kuambilkan?". Wonwoo mengambil piring Key, kemudian mengisinya dengan makanan lalu dikembalikan kehadapan teman Taemin itu. Wonwoo cuma mau menunjukkan pada Mingyu kalau dia bisa segalanya termasuk mengambil hati anak-anak.
"Terima kasih hyung tampan!".
Key tiba-tiba memeluk Wonwoo. Mendapati reaksi diluar pemikiran, Wonwoo segera mengenyahkan Key darinya. Dipeluk anak kecil, najis bagi Wonwoo. Lain Key yang gembira ria, Taemin manyun seketika. Dia baru tahu kalau punya Mommy itu sangat menyenangkan. Ada yang mengambilkan makanan kalau tak segera mengambil. Ada yang bisa dipeluk kalau sedang senang. Kalau Key saja bisa, Taemin juga harus bisa.
Taemin mengurungkan menyendoki makanan, dia juga mengembalikan ayam goreng dipiringnya ke tempat semula. Kangin tadinya heran melihat tingkah cucunya itu, tapi setelah mendapati Taemin pura-pura tak mau makan Kangin paham kalau cucunya itu sedang menarik perhatian Wonwoo. Pastinya Taemin iri dengan temannya.
"Mau kuambilkan juga?", tanya Wonwoo yang langsung diangguki Taemin. Nah ini baru Mommy-nya Taemin, tapi eh eh eh, kenapa sayur yang dimasukkan ke piringnya Taemin. Ayamnya dilewati oleh Wonwoo. Saat piring dikembalikan kehadapan Taemin, dia manyun lagi. Ada sedikit daging dan gerumbulan brokoli dan wortel di piringnya. "Kenapa dilihati saja, cepat dimakan. Atau mau kusuapi?". Taemin menggeleng kemudian segera mengambil sendok, menyendok makanannya dan memaksakan masuk mulutnya.
"Kau juga mau?", tawar Wonwoo saat Mingyu melirik ke arahnya. Mingyu buru-buru kembali fokus pada makanannya sendiri.
"Aku jadi ingat jaman dulu. Waktu Leeteuk masih ada, saat makan selalu terasa ramai"
"Sekarang juga ramai kan appa", Kangin mengangguk.
"Biar selalu ramai, aku akan sering datang kesini. Boleh kan Taem?", Taemin mengiyakan Minho.
"Aku juga akan sering ke sini. Ketemu hyung tampan lagi ya?", kata Key semangat. "Boleh kan Hyung tampan?"
"Siapa yang mau bertemu denganmu?", tanya balik Wonwoo dengan acuh. Memang benar, Wonwoo tak sudi bertemu anak-anak ini lagi.
"Keluargaku serasa utuh kembali, karena ada kalian!", tutur Kangin yang kemudian tertawa kecil.
Sehabis makan, Key dijemput orang tuanya. Sempat memeluk Wonwoo dua kali sebelum dia pulang, tapi berhasil disingkirkan Wonwoo. Minho, juga sudah pulang. Tadinya saat Taemin menyodorkan telepon padanya, Minho tak mau. Dia masih ingin ikut main dengan Taemin bersama boneka beruang. Kemudian karena dipaksa Minho menelepon appa-nya juga. Dan sekarang dia sudah pulang.
"Mingyu, antarkan Wonwoo pulang!", pinta Kangi
"Aku sibuk. Ada pekerjaan yang harus ku selesaikan saat ini"
"Tidak apa-apa ahjussi. Aku bisa pulang sendiri", Wonwoo sedang menuju pintu keluar diantar Kangin dan Taemin. "Kantor polisi kan tidak begitu jauh dari sini, aku bisa jalan kaki kesana!"
Wonwoo akan ke kantor polisi? Untuk melaporkannya kah? Jahat sekali iblis itu, Mingyu tak mau mengatarkannya pulang saja dia mau melaporkannya kepolisi secepat ini. Mingyu belum siap berurusan dengan polisi. Dia segera bangkit dari sofa, meletakkan laptopnya dan segera beranjak.
"Tunggu disitu, aku ambil kunci mobil!"
"Tidak perlu, kau sibuk kan. Aku bisa pergi sendiri"
"Aku tidak sibuk. Jangan bergerak, disitu saja!", perintah Mingyu lagi kemudian berlari lari kecil menuju kunci mobilnya.
"Mingyu itu sebenarnya baik, dia cuma terlalu banyak pekerjaan saja. Betul kan Taem?"
"Hm",. Baiknya musiman menurut Taemin.
"Memangnya kenapa kau mau ke kantor polisi?"
"Itu tadi kubilang aku tak bisa pulang tanpa anak buahku, mobilku ada di kantor polisi. Tadi pagi saat perjalanan ke sini, aku menyerempet pembatas jalan dan seorang polisi yang melihat menyarankanku menitipkan mobil di kantor polisi. Lalu dia mengantarkanku kemari"
"Tapi tidak ada urusan besar dengan polisi kan?"
"Tidak, aku cuma tak fokus menyetir tadi pagi. Tidak menimbulkan cedera, jadi tidak ada urusan juga dengan polisi"
"O, baguslah kalau begitu", kata Kangin lega. "Ngomong-ngomong, kapan aku bisa datang ke rumahmu?"
"Setiap akhir pekan, eomma dan appa di rumah"
"Ya nanti aku telpon mereka dulu kalau mau datang"
"Aku diajak kan, appa!"
"Tentu kalau kau mau"
Jelas Taemin mau, kan mulai saat makan tadi Taemin sudah bertekat mendekati Wonwoo. Teman-temannya terlanjur tahu, kalau Wonwoo itu Momny-nya, jadi Taemin harus berakraban dengan Wonwoo. Siapa tahu nanti Wonwoo bisa jadi Mommy-nya betulan.
Mingyu datang sedikit terengah, sempat tak menemukan kunci mobilnya di kamar tapi setelah itu dia baru ingat kalau dia selalu meletakkan kunci mobil di meja dekat telepon rumah.
"Ayo!", ajak Mingyu yang lebih dulu melenggang ke pelataran rumah.
"Daddy, aku boleh ikut?" Ide bagus, kalau Taemin ikut Wonwoo tak akan berbicara seenaknya saat diperjalanan nanti. Mingyu mengangguki permintaan Taemin.
Setelah acara berpamitan dengan Kangin, Wonwoo menyusul Mingyu dan Taemin masuk mobil. Dia duduk disebelah kemudi, di dekat Mingyu.
"Kalau kau tak berkenan, tak perlu mampir ke kantor polisi sekarang. Langsung saja ke rumahku". Wonwoo menarik sebelah sudut bibirnya saat Mingyu mencoba mengambil nafas untuk meredakan emosinya. Untuk saat ini, tujuan Wonwoo adalah membuat Mingyu berlutut minta ampun padanya.
To be continue
