SAVE THE RINGS

A SasuHina fanfiction

By AceLu007_SH

.

Main Cast :

Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata

Supporting cast :

Uchiha Sarada, Haruno Sakura, Uchiha Mikoto, Hyuuga Hiash, etc.

(cr Masashi Kishimoto)

.

Genre :

Marriage life, drama, family, hurt-comfort, romance

Warnings :

Typo, crack pair, weird plot, mature content, NC.

At least you must be 18 years old and above for reading this.

Note : Bagi para penganut official pair yang close minded, silahkan close tab.

.

Chapter 2

.

.

Disinilah Hinata sekarang, duduk berseberangan dengan Sarada di ruang tamu apartemennya. Hinata terus memperhatikan Sarada yang terlihat canggung ketika obsidiannya melirik kepada Hinata.

Semakin Hinata lihat, ia serasa melihat wajah Sasuke pada Sarada. Hidung dan matanya benar-benar menurun dari Sasuke. Secara bersamaan ada rasa nyeri yang bergelanyar dalam dadanya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu apartemen yang terbuka kemudian Hinata menemukan sosok Sasuke yang baru saja muncul. Amethysnya bersirobok dengan obsidian Sasuke. Tidak ada kata yang keluar dan pria itu berjalan mendekat.

"Papa."

Sasuke menoleh dan mendapati seorang anak perempuan mungil yang menatapnya dengan binar kegembiraan. Gurauan macam apa ini? Pikir Sasuke.

Sasuke melirik ke arah Hinata kemudian bergegas berjalan menuju kamarnya. Hinata agaknya paham dengan maksud pria itu yang ingin bicara empat mata dengannya. Tanpa pikir panjang, Hinata segera mengikuti Sasuke menuju kamar.

"Siapa yang membawanya kemari?" tanya Sasuke langsung pada Hinata yang baru saja menutup pintu kamar mereka.

"Kepala keamanan Mariott yang mengantarnya. Dia bilang seseorang menyuruhnya untuk membawanya padamu." Jawab Hinata.

"Dia pasti bergurau. Aku akan membuat perhitungan dengannya."

"Tidak Sasuke!" sergah Hinata. "Dia benar-benar putrimu dan kau bahkan tak mengatakannya padaku sebelumnya."

"Bagaimana aku bisa mengatakannya padamu, disaat aku benar-benar tidak tahu siapa anak itu?!" Sasuke mulai meninggikan suaranya. Jelas sekali bahwa ia mulai tertekan dengan situasi ini.

Hinata hanya terdiam, wanita itu juga tidak memiliki ide tentang apa yang terjadi. Kepalanya tengah berputar memikirkan teori bagaimana bisa Sasuke terlibat hal semacam ini di tengah-tengah pernikahan mereka.

Sasuke mendegus kesal, merasa tak puas dengan situasi ini. "Aku akan mengembalikan dia pada siapapun orang yang sudah mengirimnya. Atau aku akan membawanya ke panti asuhan!"

Hinata segera mendongakkan wajahnya dengan manik matanya yang menyiratkan ketidakpercayaan. Panti asuhan?

"Kau tidak boleh melakukan itu." Ujar Hinata.

"Kenapa tidak?" sungut Sasuke.

"Dia putrimu Sasuke."

Sasuke memasang ekspresi terganggu dengan Hinata yang seolah begitu yakin bahwa anak perempuan tersebut memang anaknya. Lalu dirinya disodorkan sebuah surat oleh Hinata.

"Dia membawa ini untukmu." Sasuke dengan enggan meraihnya. Dan berniat meremasnya.

Hinata memperhatikan Sasuke yang melonggarkan dasinya dan ketika ia hendak membuka button di pergelangan tangannya.

"Ini adalah lelucon!" gumamnya.

"Aku rasa tidak Sasuke." Sahut Hinata pelan. Lagi-lagi Sasuke memasang ekspresi terganggu mendengar ucapan Hinata. Namun kalimat selanjutnya yang terlontar dari mulut Hinata mampu membuat ekspresinya berubah pias.

" Dan siapa itu Haruno Sakura?"

Seperti tersambar petir, tubuh Sasuke mendadak membeku bahkan ia berhenti dari kegiatannya membuka kancing di lengan kemejanya.

Melihat bagaimana reaksi Sasuke, menyadarkan Hinata bahwa pukulan telak itu benar-benar nyata. Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengetahui siapa wanita yang bernama Haruno Sakura, karena Sasuke jelas mengenal wanita itu.

Dengan segera Sasuke membuka kancing di lengannya dan menarik kemejanya hingga ke siku, sementara Hinata masih berdiri mematung di tempatnya.

"Apa ada orang lain lagi yang tahu tentang hal ini?" Sasuke bertanya.

Hinata hanya menggeleng sebagai jawaban. Sasuke menghela napas dan ia memutuskan untuk kembali keluar kamarnya. Ketika ia keluar tiba-tiba suara mungil itu kembali memanggilnya.

"Papa..." panggil Sarada dengan ragu dan obsidiannya yang menatap Sasuke dengan takut.

Sasuke hanya menatap sekilas lalu ia melangkah begitu saja menuju ruang kerjanya dan bersembunyi seperti seorang pecundang.

Melihat sikap Sasuke pada Sarada membuat Hinata merasa iba. Bagaimana bisa Sasuke brsikap dingin seperti itu pada gadis mungil yang lucu seperti Sarada? Apalagi sudah jelas bahwa Sarada benar-benar anaknya.

Walapun kepalanya tengah berputar oleh berbagai kemungkinan rumit yang akan terjadi, tapi bukan berarti Hinata mengabaikan keberadaan gadis lucu ini.

"Sara," panggil Hinata dengan lembut.

"Papa..." gumamnya dengan lemah.

"Papamu mungkin agak lelah, jadi dia butuh waktu sebentar untuk istirahat." Ujar Hinata dengan pelan agar Sarada mengerti.

"Tapi Sarada ingin Papa," rajuknya.

Hinata tersenyum kecil dan mengusap puncak kepala Sarada. Dan secara kebetulan suara gaduh terdengar dari perut mungil Sarada, dan anak itu seketika memegangi perutnya yang meraung.

"Kau lapar?" tanya Hinata dengan senyuman tertahan di bibirnya.

Sarada kecil mengangguk lemah tanpa suara. Lalu Hinata meraih lengan kecil anak itu dan menariknya pelan agar berjalan menuju dapur bersamanya.

Hinata agak merasa bersalah pada anak itu karena tak memberikannya barang minum sedikitpun. Dirinya terlalu terkejut untuk berpikir secara logis dan melupakan bahwa si kecil ini mungkin kehausan dan lapar.

Hinata membantu Sarada untuk duduk di kursi makan, lalu Hinata berjalan mengitari counter untuk mengambil gelas. "Bagaimana dengan susu strawberry?" tawar Hinata dan di angguki antusias oleh Sarada. "Baiklah tunggu sebentar." Ujar Hinata.

Sarada memperhatikan Hinata yang tengah menyiapkan susu strawberry untuknya, lalu ia melihat sebuah toples kecil berisi cookies yang menggugah selera di tengah meja makan. Ia ingin cookies itu tapi Sarada terlalu malu untuk mengatakannya pada Hinata.

"Ini susumu, Sara." Kata Hinata seraya menyodorkan gelas berisi susu strawberry dingin yang menyegarkan.

Tangan mungil Sarada dengan pelan meraih gelas itu dan Hinata membantu menahan gelasnya saat Sarada meminumnya. Nampaknya Sarada memang kehausan, karena ia menenggak nyaris setengah isi gelas susunya sekaligus. Setelah selelsai, Sarada hendak mengelap bekas susu di bibirnya, namun Hinata menahannya dengan mengambilkan selembar tissue dan membantu mengelap sisa susu di bibir Sarada.

"Nah, Sara, apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan membuatkannya untukmu."

Sarada hanya terdiam, ia mengalihkan tatapannya pada gelas susu.

"Kau mau pancake?" tanya Hinata mencoba menawarkan, mungkin Sarada terlalu segan untuk menyuarakan keinginannya.

Sarada menggeleng.

"Sushi? Pudding? Chicken nugget?" ujar Hinata beruntun menyebutkan menu yang sekiranya Sarada inginkan. Sebenarnya Hinata hanya menyebutkan makanan yang tersedia di lemari pendinginnya.

Sarada kembali menggeleng.

Hinata berpikir sejenak, kira-kira makanan apa yang disukai oleh anak-anak. Tapi ia kemudian meyadari tatapan Sarada yang terus terarah pada toples cookies yang berada di tengah meja. "Kau ingin itu?" Hinata menunjuk toples berisi cookies cokelat. Sarada menangguk dan Hinata tersenyum kemudian mengambilkan toples itu.

Setelah membukanya, Hinata menyodorkannya pada Sarada dan gadis kecil itu mengambil satu buah cookies lalu segera melahapnya dengan senyuman kecil tersemat pada bibirnya saat menatap pada Hinata.

Bukankah dia sangat lucu? Batin Hinata. Dan saat itu sebuah perasaan lain muncul dalam sanubarinya. Perasaan yang membuatnya terkejut ketika ia tak berpikir untuk membenci gadis mungil ini. Walau kehadirannya sekarang mengiringi sebuah masalah.

Hinata mengusap puncak kepala anak kecil yang begitu polos dan tanpa dosa ini. Dia merasa bahwa Sarada membutuhkan perlindungan.

Hinata melirik jam dinding di dapur dan ia sadar, dua jam lagi waktunya makan malam. Karena Sarada tengah asik dengan cookiesnya, Hinata berpikir untuk sekalian memasak makan malam untuk mereka bertiga.

Omong-omong soal Sasuke... Hinata menghela napas saat mengingat sikap pria itu tadi.

...

Sementara di ruang kerjanya, Sasuke tengah menumpukan dagunya dengan tangannya dan sedang berpikir.

Kemudian ia mengambil surat yang tadi diberikan Hinata padanya dan membukanya.

Dear Sasuke.

Aku tahu kau mungkin sangat terkejut sekarang dan aku yakin kau akan menyangkal ini. Aku baru sadar bahwa aku memiliki Sarada saat seminggu setelah perpisahan kita.

Yang perlu kau tahu adalah aku tak akan membuat kekonyolan semacam ini hanya untuk mengganggumu, Sasuke.

Aku hanya ingin kau tahu, bahwa Sarada memang anakmu. Dia milikmu.

Haruno Sakura.

Obsidian Sasuke melebar ketika ia membaca setiap kata dari tulisan tangan yang masih terasa familiar diingatannya.

Jadi, waktu itu Sakura tengah mengandung anaknya? Tapi kenapa Sakura tak pernah mengatakan apapun sebelumnya?

Nyeri di kepala Sasuke terasa semakin sakit saat memikirkannya ditambah saat ia membayangkan jika seandainya Ibunya tahu masalah ini. Wanita itu akan menjadi sangat menyebalkan dan berusaha menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.

Dan yang paling buruk adalah jika Hiashi tahu tentang skandalnya, pria tua itu mungkin akan langsung memenggal kepalanya dan ekspansi bisnisnya akan gagal total.

Pokoknya jangan sampai siapapun tahu masalah ini sampai Sasuke sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini. Begitu pikir Sasuke.

Tapi sebelum itu, apa yang harus ia katakan pada Hinata?

.

Sasuke keluar dari ruang kerjanya dan ia hendak menuju kamarnya, namun aroma sedap dari arah dapur mengurungkan niatnya dan segera membawa langkahnya ke bagian dapur.

Setibanya di dapur, Sasuke melihat Hinata yang tengah duduk di samping Sarada dan sedang menyuapi Sarada?!

Sasuke pikir obsidiannya tengah mengelabuinya, namun apa yang ia lihat cukup membuatnya tertegun dan sangat di luar ekspektasinya.

Tatapan mereka bertabrakan, namun Sasuke segera memutusnya kemudian duduk di kursi utama. Mata Sasuke masih tak teralih dari Hinata yang begitu telaten menyuapi Sarada. Walaupun Sasuke berani bertaruh bahwa anak itu pasti sudah mampu untuk menyendok makanannya sendiri.

"Kau mau aku ambilkan, Sasuke?" ujar Hinata tiba-tiba.

"Ya." Sumpah itu keluar begitu saja, karena biasanya Hinata tak pernah bertanya. Wanita itu akan selalu mengambilkan makanan untuknya.

"Sara, tunggu sebentar ya." Ujar Hinata dengan lembut.

Saat Hinata tengah mengambilkan makanan untuk Sasuke, tanpa sengaja obsidian Sasuke bertemu dengan obisidian Sarada yang nampak serupa dengan miliknya. Bocah kecil itu menatapnya dengan tatapan lugu dan ada sebuah pengharapan di dalamnya yang Sasuke abaikan.

Sasuke segera memutus kontak matanya dengan si gadis kecil ketika Hinata meletakkan piring makannya di depannya.

"Kau ingin yang lain Sasuke?" tanya Hinata lagi.

"Tidak." Jawab Sasuke. Lalu ia makan dengan tenang walau sesekali mencuri pandang pada Hinata yang kembali memperhatikan Sarada.

Sarada menggelengkan kepalanya saat Hinata ingin menyuapinya lagi.

"Apa kau sudah kenyang?" tanya Hinata yang menarik obisidian Sasuke untuk menatapnya.

Sarada mengangguk. Gadis ini memang agak irit bicara. Apakah murni keturunan atau Sarada hanya masih terlalu canggung dengan sitausi barunya?

"Baiklah, Sara." Kata Hinata. Dan ia merapihkan pakaian Sarada jika sekiranya ada bekas remahan sisa makanan yang tadi dia santap. Lalu menjauhkan piringnya agak ke tengah.

"Cookies." Gumam Sarada dengan sangat pelan dan ia begitu canggung ketika Sasuke menatap ke arahnya. Lalu Sarada menatap Hinata.

"Kau mau cookies lagi?" tanya Hinata dan di jawab dengan anggukan oleh Sarada kecil.

Hinata mengambilkan toples cookies untuk Sarada. "Setelah ini kau harus mencuci mulutmu sebelum tidur, Sara." Kata Hinata dan Sarada kembali mengangguk.

"Kau bahkan tidak makan?" ujar Sasuke.

Hinata menyampirkan anak rambutnya ke telinga sebelum menjawab. "Aku tidak lapar."

Benarkah? Sasuke menerka. Tumben sekali Hinata melewatkan makan malamnya.

Sasuke meminum air putihnya dengan sekali teguk lalu segera beranjak meninggalkan dapur. Obsidian Sarada mengiringi kepergian Sasuke.

Di tempatnya, Hinata hanya terdiam dan berusaha tak menghiraukan sikap Sasuke yang terlampau dingin dan susah di tebak.

"Kau ingin istirahat di kamar, Sara? Sementara aku akan membersihkan piring-piring ini." tanya Hinata membuat fokus Sarada teralihkan.

Sarada menggeleng. "Sara ingin disini saja." Ujarnya.

"Baiklah." Hinata mengangguk. "Duduk disini dengan manis, okay?" Hinata ikut tersenyum ketika Sarada mengangguk dengan seyuman kecil di bibirnya.

.

Setelah selesai mencuci piring dan mengurus Sarada sebelum tidur di kamarnya. Hinata masuk ke dalam kamarnya dan Sasuke. Hinata melihat Sasuke yang tengah berbaring di ranjang dan sedang asik dengan tabletnya. Hinata menahan helaan napas kesal melihat tingkah Sasuke yang tak acuh pada Sarada.

"Sarada tidur di sebelah kamar kita. Tidakkah kau ingin melihatnya, Sasuke?" tanya Hinata.

"Untuk apa?" jawabnya tak acuh.

Untuk apa? Hinata merasa heran. Masih perlukah ia mencari alasan untuk menemui putrinya sendiri?

"Dia putrimu, Sasuke."

"Aku tahu! Kau sudah mengatakannya lebih dari dua kali, Hinata. Dan apa yang kau harapkan, hm?"

Hinata sadar, berdebat dengan Sasuke sekarang tak akan menemukan sebuah penyelesaian. Biarlah pria itu menikmati keegoisannya sementara Hinata telah berbalik dan keluar dari kamar.

Hinata memilih untuk masuk ke kamar dimana Sarada berada dan menemukan gadis kecil itu tengah duduk di tengah ranjang. Dengan seprai yang telah ia ganti sebelumnya dengan warna pink.

"Kau belum tidur, Sara?" Hinata mendekat dan duduk di sisi ranjang lalu tangannya mengusap puncak kepala Sarada dengan lembut.

Sarada kecil menggeleng, lalu wajahnya berubah agak murung. "Papa..." gumamnya.

Hinata tahu bahwa anak ini ingin sekali bertemu Sasuke. Ia mungkin ingin sekali melompat di gendongan sasuke dan memeluknya erat. Tapi sifat dingin Sasuke membuat Sarada agaknya sedikit takut pada sosok lelaki stoic itu.

Papamu itu sangat menyebalkan. Hinata ingin sekali mengadu pada Sarada.

"Sebaiknya kau tidur, Sara. Apa kau ingin aku temani?" tawar Hinata.

Sarada mengangguk lalu Hinata mengarahkan Sarada untuk berbaring dengan nyaman dan ia menyusul mengatur posisinya di samping Sarada.

Hinata mengusap-usap puncak kepala Sarada dengan begitu lembut. Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang ingin Sarada utarakan, seperti kenapa Papanya bersikap seperti itu padanya. Namun, usapan Hinata mampu memanggil rasa kantuknya dan ia memejamkan matanya.

Rasa lelah juga mulai menghampiri Hinata yang membuatnya juga ikut memejamkan matanya.

...

Tingtong!

Suara bel terdengar saat Hinata tengah bermain dengan si kecil Sarada di ruang tengah apartemen mereka. Dan saat itu Hinata juga baru sempat membongkar isi tas kecil yang dibawa olehnya.

"Tunggu sebentar." Ucap Hinata pada Sarada. Dan Hinata segera bangkit untuk membukakan pintu.

"Nona Hinata." Sapa Bibi Yukari dengan sebuah senyuman kecil.

Hinata hanya membeku melihat wajah Bibi Yukari. Di dalam ada Sarada. Bagaimana ia menjelaskannya pada wanita tua ini? Dan apa yang ia pikirkan jika ia tahu Sarada adalah anak Sasuke? Sedangkan ia tak mungkin untuk mengusir wanita itu dan memecatnya.

"Bibi Yukari," gumam Hinata dengan kikuk.

Hinata mempersilahkan wanita itu masuk dan Bibi Yukari dalam keadaan mood yang bagus untuk mengerjakan tugasnya namun langkahnya terhenti ketika ia mendapati seorang anak kecil tengah bermain di atas karpet yang ada di ruang tengah.

Ia membalikkan badan dan menatap Hinata dengan pandangan tak mengerti.

Hinata berjalan mendahului Bibi Yukari dan menghampiri Sarada. "Namanya Sarada." Ujar Hinata dengan senyuman kecilnya.

.

.

Saat ini Sasuke baru saja selesai melakukan rapatnya dengan para petinggi Nation Empire yang mana merupakan perusahaan utama milik ayah mertuanya, Hiashi Hyuuga sekaligus perusahaan yang dipercayakan pada Sasuke untuk di ambil alih setelah ia resmi menikahi putrinya.

Semua jajaran direksi telah meninggalkan ruangan rapat yang megah itu kecuali Hiashi. Pria dengan ekspresi tegasnya yang khas itu melirik ke arah menantunya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Hiashi.

Sudah pasti yang dia maksud adalah putrinya. Hinata.

"Dia baik-baik saja. Dan kelihatan lebih sehat daripada sebelumnya." Sasuke menyeringai dengan kata 'sehat' yang memiliki makna lain di kepalanya. Disaat yang bersamaan ia tengah berusaha untuk tetap terlihat normal dan mengenyahkan berbagai kemungkinan buruk jika mertuanya tahu soal Sarada.

Dan dari gelagat pria itu, nampaknya Hinata masih belum mengadu apapun pada Ayahnya.

"Bagaimana aku tahu? Kau belum membawanya padaku."

"Ya tentu. Kami akan berkunjung ke tempatmu, nanti."

"Nanti itu bisa berarti, besok, lusa, minggu depan atau kapan-kapan, bukan?"

Sasuke mendengus pelan. Memiliki mertua yang keras dan tegas agaknya memang sedikit menyebalkan, Terlebih Hiashi memang terkenal dengan wataknya yang terlalu tradisional jika menyangkut tentang adat keluarga besarnya.

"Segera." Sasuke menambahkan. "Kami akan segera berkunjung ke tempatmu."

Padahal pria itu tinggal mengatakan 'Aku ingin menemui putriku'. Tapi apapun itu yang jelas jangan sampai Hiashi tiba-tiba menyambnagi apartemennya dan menemukan Sarada. Itu akan membuatnya tamat tak bersisa.

"Kau nampak sedikit gelisah." Ujar Hiashi walaupun pandangannya terarah pada layar ponselnya.

Sasuke sempat terkejut namun ia segera mengenyahkan segala kepanikan dalam dirinya. "Aku tidak gelisah. Aku hanya memikirkan, kapan aku bisa memasuki pasar Eropa dan Timur Tengah." Katanya. Pria itu tengah menagih janji pada Hiashi rupanya.

Alis Hiashi agak berkerut. "Kau memang tidak sabaran Uchiha. Aku perlu beberapa hal untuk meyakinkanku."

Oh, jadi kepiawaian Sasuke dalam berbisnis masih kurang cukup? Entah kenapa nada Hiashi seolah meremehkannya.

"Dan hal semacam apa itu? Ayah Mertua?" tanya Sasuke dengan nada sing a song.

Hiashi tidak langsung menjawab. Memantunya ini memang tidak memiliki sopan santun yang sesuai dengan standar Hyuuga.

"Sebaiknya kau melakukan tugasmu dengan benar, Uchiha." Baik sebagai seorang pebisnis dan suami putriku. Lanjutnya dalam hati. Hiashi mendorong kursinya ke belakang kemudian pria itu berdiri tegap dan langsung meninggalkan menantunya di ruang rapat.

Sasuke menatap dingin punggung ayah mertuanya ketika pria itu menarik tuas pintu dan keluar dari ruangan.

Lalu tiba-tiba bayangan Sarada muncul di susul oleh wanita yang pernah mengisi hatinya. Haruno Sakura.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Menemui Sakura dan bertanya langsung pada wanita itu?

...

Hinata saat itu tengah pergi ke sebuah supermarket yang tak begitu jauh dari Mariott dan meninggalkan Sarada bersama Bibi Yukari di apartemen.

Sarada kecil tengah asik bermain bersama boneka beruangnya sedangkan Bibi Yukari memperhatikan gadis cantik itu dengan sesekali ikut tersenyum melihat tingkah lucu Sarada.

"Namanya Sarada."

"Menurut Bibi, dia terlihat seperti Sasuke, kan?"

Ya, Bibi Yukari agaknya sedikit paham dengan situasi yang terjadi. Yang paling diingat Bibi Yukari adalah ekspresi Hinata saat memperkenalkan Sarada. Senyum tipisnya yang terlihat lembut dan tatapan teduhnya. Bibi Yukari bingung karena ekspresi Hinata tak banyak berubah dari biasanya. Dan ia sadar ada kilatan luka di dalam amethysnya.

Namun, ia cukup tahu diri untuk tidak terlalu ikut campur atau terlalu banyak tanya pada majikannya. Tugasnya hanyalah membersihkan apartemen Sasuke.

Tingtong!

Bibi Yukari otomatis langsung berdiri dan menghampiri pintu. Ia berpikir itu mungkin majikan cantiknya, Hinata. Tapi jika itu Hinata, bukankah ia bisa langsung memencet password?

Saat pintu dibuka, ia tidak menemukan sosok cantik yang ia pikirkan sebelumnya. Namun justru ia melihat figur seorang wanita dewasa yang berpenampilan super mewah ala sosialitanya. Dari rambut hitamnya yang disanggul dan obsidian yang terlihat familiar. Bibi Yukari mengenal wanita ini. Dia Uchiha Mikoto.

"Yukari, bisa aku masuk?" kata Mikoto dengan suara anggunnya.

Bibi Yukari agak gugup karena di dalam ada Sarada, tadi Hinata mengatakan untuk jangan membiarkan orang lain masuk dan melihat Sarada. Tapi sekarang yang ada di depannya adalah sebuah masalah baru. Dan mengusir Mikoto adalah masalah lain yang akan membuatnya tamat saat itu juga.

"Maaf, tapi Nyonya Muda Uchiha sedang tidak di tempat, Nyonya." Ujar Bibi Yukari dengan takut-takut.

Alis Mikoto mulai menukik. "Jadi kalau menantuku tidak dirumah, aku tidak boleh mengunjunginya, begitu?"

"Bu-bukan begitu Nyonya. Tapi—"

"Minggi Yukari!" Kata Mikoto dengan tajam dan tak terbantah. Yukari dengan lemah minggir dan membiarkan wanita dengan tampilan elegannya itu masuk ke dalam.

Mikoto masuk ke ruang tengah dan berniat untuk menunggu menantu cantiknya di sofa yang ada di dalam. Namun obsidiannya terkunci oleh sesosok makhluk mungil asing yang tak pernah dia lihat sebelumnya.

"Yukari, siapa dia?" tanya Mikoto tanpa mengalihkan tatapannya dari bocah kecil itu.

Suara Mikoto agaknya menarik perhatian Sarada dan obsidian mereka akhirnya bertemu. Alis Mikoto semakin mengerut ketika ia merasa anak ini mirip dengan seseorang.

"Yukari?" ujar Mikoto lagi saat wanita tua itu tak menyahuti pertanyaannya tadi.

"Di-dia..." Bibi Yukari hanya bisa tertunduk. Ia tidak sanggup mengatakannya karena ia akan mengkhianati majikannya namun, Mikoto adalah wanita yang tidak bisa di bantah.

"Yukari, bicara padaku atau aku akan memecatmu! Katakan yang sebenarnya! Sekarang!" Tuntut Mikoto.

Dengan gugup dan sedikit gemetar akhirnya Bibi Yukari mengatakannya.

...

Mikoto membuka pintu apartemen dengan kasar lalu meninggalkan kediaman putranya dengan emosi memuncak di kepalanya. Bagaimana mungkin Sasuke bisa terlibat dengan hal konyol seperti ini? Dan ia perlu tahu, siapa wanita yang ikut terlibat dengan putranya!

Perkara ini, Hiashi, Hinata, dan ancaman bisnisnya. Kepala Mikoto mulai nyeri memikirkannya.

Bersambung

Oh no, Mami Mikoto udah tau baby sara itu anaknya Sasuke T.T

Btw, perihal genre, kayaknya angst tuh berat banget ya wkwkwk saya juga takut gagal membawa ke-angst-an dalam cerita ini jadi saya ganti aja jadi hurt-comfort ya :v aku ketawa baca review kalian anyway :v

Dan soal happy/sad end, hm saya gak bisa kasih tau sekarang, tar gak seru dong kan sengaja biar kalian penasaran *author nakal*

Tapi satu yang bisa saya kasih tau, saya tuh tipikal shipper yang kalo udah nge-ship satu ya udah, satu itu aja dan gak bisa di ganggu gugat. Ngerti kan maksudnya? hehe