Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
.
.
.
Sasuke baru saja pulang dari kantornya malam ini dengan membawa tumpukan berkas kasus dan laporan yang harus segera dia selesaikan malam ini. Tubuhnya terasa penat sekali dan dia sudah membayangkan akan segera membenamkan tubuhnya di dalam air panas saat dia membuka kunci rumahnya.
Dia sudah berpesan pada gadis berambut merah muda tadi untuk mengunci pintunya saat dia pulang sore ini. Sasuke sudah mengamati gadis itu pagi ini sebelum dia benar-benar meninggalkan rumahnya di tangan gadis itu, dan setelah melihat cara kerjanya dan juga sikapnya yang sepertinya bisa dipercaya, akhirnya Sasuke berangkat ke kantornya dengan perasaan yang lebih ringan.
Setelah kakinya sampai di dalam rumahnya, Sasuke kembali mengunci pintu rumahnya dan melepas sepatunya begitu saja tanpa menatanya di rak dan langsung melangkah ke tatami.
Matanya melihat ada sesuatu yang janggal di dekat rak sepatu yang dia lewati baru saja. Maka Sasuke kembali memutar tubuhnya dan melihat ke rak sepatu. Ada sebuah papan tulisan besar yang ditempelkan di dinding dekat rak sepatu dengan tanda seru banyak di belakang kalimatnya.
"RAPIKAN LAGI SEPATU DAN SANDALMU, SASUKE-KUN!"
Dahi Sasuke berkerut menatap tulisan itu. Itu bukan tulisannya dan jelas-jelas bukan dia yang menulis tulisan itu. Pagi tadi juga tidak ada tulisan itu di sana.
Sasuke lalu menggeleng dan mengabaikannya sambil melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumahnya.
Rumah itu masih segelap biasanya, karena tidak semua lampu dinyalakan di sana. Sasuke langsung berjalan menuju ruang makan. Setibanya di sana, dia mengedarkan pandang berkeliling dan mendapati ruang makan itu jauh lebih rapi dari pagi tadi. Tidak ada tumpukan piring kotor. Dan keranjang sampah pun sudah bersih tanpa ada gundukan sampah seperti hari-hari sebelumnya.
Sasuke tersenyum simpul.
Dia lalu berjalan menuju lemari es. Ada sebuah memo kecil yang ditempelkan pada pintu lemari es itu. Sebuah tulisan tangan rapi yang sama dengan tulisan yang dekat rak tadi, tertempel di sana.
"Aku sudah membuatkan makan malam untukmu. Kau tinggal menghangatkannya.. Kakakmu bilang padaku kalau kau sangat menyukai tomat, jadi aku memberi banyak tomat di sayurnya. Selamat makan, Sasuke-kun!"
Sasuke angkat bahu seraya membuka lemari esnya. Lemari es itu bahkan sedikit berisi dibanding pagi tadi. Ada beberapa sayuran segar di sana, dan juga beberapa susu botol di sana.
"Itachi membayar gadis itu berapa, sih? Kerjanya benar-benar sempurna.." batin Sasuke seraya mencomot salah satu tomat yang paling besar dan warnanya paling cerah. Lalu dia menutup lagi pintu lemari es itu. Sasuke berdiri di dapur itu untuk beberapa saat sambil menggigit tomatnya. Ini adalah pertama kalinya dia tidak merasa frustasi ketika sampai di rumah karena tidak ada makanan. Seminggu setelah kematian Itachi, rumahnya seperti rumah hantu yang tidak pernah terjamah karena Sasuke hanya pulang dan melakukan apa saja sebatas kebutuhannya, tanpa menyentuh hal lainnya.
Sasuke berjalan keluar dari ruang makan menuju kamarnya. Dia ingin merebahkan dirinya sejenak di atas ranjangnya yang empuk sebelum berendam di kamar mandi.
Sesampainya di kamarnya, Sasuke kembali mengedarkan pandangnya berkeliling seperti yang dilakukan saat di ruang makan tadi. Kamarnya benar-benar rapi sekarang. Tidak ada selimut dan sprei yang tergeletak begitu saja di lantai. Dan keranjang pakaiannya sudah kosong. Matanya menangkap setumpuk pakaian yang sudah rapi tertata di meja yang berada dekat lemari pakaiannya dengan tatapan bahagia.
Jiwa Sasuke bersorak gembira.
Kami-sama.. Kau benar-benar mendengar doaku.. Akhirnya ada malaikat baik hati yang datang untuk menyelesaikan segala kekacauan di rumah ini.. batinnya senang.
"Ahhhhh! Aku bisa tidur dengan nyenyak setelah ini.." desahnya lega seraya membaringkan tubuh atletisnya di atas ranjangnya yang kini benar-benar terasa lebih nyaman dibanding sebelumnya.
Kepalanya mendongak menatap langit-langit kamarnya yang ada di atasnya. Langit-langit itu terbuat dari kayu terbaik, sama dengan semua kayu yang ada di rumah ini. Keluarga Uchiha pernah menjadi keluarga paling kaya di kota Konoha ini. Dulu. Beberapa tahun yang lalu. Sebelum ayahnya terlibat dengan lilitan hutan banyak dan membuat Itachi terpaksa bekerja keras sejak saat itu untuk menutupi semua hutang ayahnya.
Sasuke tidak pernah memandang jelek ayahnya karena kasus hutang itu. Dia justru merasa bangga pada ayahnya karena ayahnya melakukan itu demi perusahaannya. Dia meminjam banyak uang agar bisa menafkahi para pekerja yang bekerja di perusahaannya sebelum perusahaan itu benar-benar tutup pada akhirnya.
Sasuke memejamkan matanya.
Dia tidak ingin mengingat hal itu lagi.
Semuanya sudah berlalu sekarang. Yang menjadi tujuan utamanya saat ini adalah mengungkap para pelaku perampokan yang sampai sekarang masih menjadi buronan itu. Para pelaku perampokan yang sudah menyebabkan kakaknya tewas.
Meskipun Sasuke tidak membantah kalau semua ini sudah diatur oleh Sang Penguasa. Semua kehidupan ini. Bahkan kematian kakaknya.
Tapi dia tidak terima dengan cara kematian yang seperti itu.
Setidaknya, pelaku itu muncul di depannya dan dia bisa memukul wajahnya berkali-kali sampai lega atas balasan telah menghilangkan nyawa kakaknya.
Sasuke memejamkan matanya.
Rasa lelah dan kantuk mulai menguasainya.
Dia ingin sekali berendam air panas.
Tapi badannya sama sekali tidak bisa diajak berkompromi.
Akhirnya dia menyerah dan langsung memejamkan matanya tanpa melepas sepatunya dan mengganti bajunya dengan piyama.
.
.
.
"Di sebelah sana! Jangan sampai lengah!"
Suara desingan peluru yang memenuhi udara, suara jerit ketakutan yang bersatu dengan suara sirene polisi yang saling bersahutan di jalanan itu, membuat suasana siang di pusat kota Konoha tampak kacau. Beberapa mobil polisi tampak sudah terparkir di depan bank paling besar di kota itu.
"Jangan langsung tembak. Mereka mulai menyandera orang-orang di dalam sana!" teriak salah satu petugas kepolisian yang sudah berpakaian lengkap dengan rompi anti peluru.
Sasuke mengamati bank itu dari kejauhan.
Dia mengikuti gerakan beberapa seniornya yang sudah berjalan mendendap di depannya dengan perlahan. Dia harus hati-hati sekali agar gerak geriknya tidak mengundang perhatian banyak orang di sana termasuk para perampok itu.
"Sial.. Sudah aku bilang jangan tembak!"
Suara baku tembak mulai kedengaran lagi.
Sasuke mulai menarik pelatuknya dan bersiap untuk menembak kalau memang dibutuhkan.
Suara desingan peluru kembali terdengar.
Lalu terdengar ledakan pelan dari dalam bank. Dan ada sesuatu yang dilemparkan ke arah para polisi. Bom asap.
Bom itu meledak dan menimbalkan asap tebal yang membuat beberapa orang langsung tersedak dan terbatuk-batuk.
Sasuke mengabaikannya dan terus melihat dalam kegelapan kabut itu dengan matanya yang tajam.
Itachi ada di dalam sana.. batinnya.
DOR!
"Para komplotan perampok itu benar-benar nekat. Mereka sudah mendapat peringatan untuk tidak menembak, malah menembak terus menerus.. Kita harus mencari siasat lain.." Shikamaru, kolega Sasuke yang berdiri di depannya, berbicara dengan raut wajah serius.
Sasuke hanya mengangguk tanpa suara.
"Ada yang tertembak. Ada salah satu nasabah yang tertembak!" terdengar seseorang berbicara di dekat Shikamaru.
"Apa? Sial!" desis Shikamaru.
"Ayo, cepat.. Mana petugas medis? Panggilkan petugas medis!" teriak salah seorang petugas lagi, yang berada di dekat bangunan.
Sasuke bergerak cepat, mengikuti instruksi seniornya dari radio pemancar yang ditempelkan di telinganya.
"Tunggu! Jangan gegabah.."
"..Itachi.. Itu Itachi Uchiha.."
"..Pria yang tertembak itu.. Itachi Uchiha.."
"Cepat bawa ke rumah sakit!"
DOR! DOR! DOR!
"SASUKE!"
Sasuke membuka matanya dengan dada yang berdegup cepat sekali. Dia mengerjap beberapa kali dan langit-langit kamarnya tampak dengan jelas, tepat di atasnya. Sasuke tidak beranjak dari tempatnya berbaring saat ini, masih terlalu shock dengan apa yang baru saja dia lihat di mimpinya.
Ingatan itu lagi..
"Sasuke-kun?"
Sasuke kembali terkesiap di tempatnya. Matanya kembali mengerjap beberapa kali.
Sebuah suara lembut terdengar di dekatnya sebelum akhirnya beberapa saat kemudian sepasang mata hijau emerald muncul di hadapannya, sedang menatapnya dengan tatapan bingung. Wajah berbingkai rambut merah muda sebahu itu sedang menunduk melihatnya.
Sasuke langsung sadar apa yang terjadi dan segera terduduk di atas ranjangnya dengan kaget.
"Kau.. Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya setengah kesal.
Dia meraih kepalanya dan mengusap wajahnya dengan lelah. Dia lalu menatap Sakura yang sudah berdiri di samping ranjangnya sambil melihatnya dengan dahi berkerut.
"Karena.. Ini sudah pagi.." jawab Sakura dengan suara ragu-ragu.
Sasuke terkesiap dan mengerjapkan matanya kaget.
"Ap-apa?" tanyanya dengan nada terkejut.
Dia lalu menatap jendela kamarnya dan tampaklah cahaya matahari yang menyusup ke kamarnya melalui celah korden yang menutupi jendela kamarnya.
Sasuke kembali menoleh ke Sakura dan menatapnya tajam.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamarku?" tanyanya dengan nada dingin.
"Eh? Tidak. Mm, karena aku mendengar suaramu.. Kau terdengar seperti.. memanggil-manggil seseorang berkali-kali.. Sasuke-kun.." jawab Sakura takut-takut.
Sasuke mengerutkan dahi menatap gadis itu dengan penuh selidik.
"Aku? Apa yang kau dengar?" tanyanya.
"Kau memanggil nama Itachi-san berulangkali.. Aku pikir ada sesuatu yang terjadi, jadi aku langsung naik dan masuk ke kamarmu. Maafkan aku.." ujar Sakura seraya membungkukkan badannya.
Sasuke berdehem pelan.
"Sudahlah.. Kau boleh keluar.." ujarnya kemudian.
"Terimakasih, Sasuke-kun.." kata Sakura seraya berjalan cepat-cepat keluar dari kamar itu.
Sasuke langsung mendesah panjang sepeninggal Sakura. Dia kembali memegang kepalanya dan meremas rambutnya dengan gemas.
Mimpi itu lagi..
Sudah beberapa kali semenjak meninggalnya Itachi, Sasuke sering bermimpi tentang peristiwa itu. Jujur saja, itu adalah peristiwa paling menyakitkan untuknya, di mana dia harus mengalami kehidupan di titik paling rendah. Itu adalah saat di mana dia benar-benar merasa seorang diri, tanpa seorang keluarga pun di dekatnya. Kakaknya yang paling dia banggakan dan dia sayangi sekaligus yang selalu dia andalkan akhirnya pergi begitu saja dengan cara tragis.
Sasuke belum merelakan kepergiannya sebelum dia bisa menemukan komplotan perampok yang menembak kakaknya dan membuat kakaknya akhirnya meregang nyawa.
Sasuke kembali menghela napas panjang sebelum akhirnya dia bangkit dari ranjangnya. Saat dia berdiri dari ranjangnya, bayangan dirinya langsung memantul di cermin yang ada di lemari pakaiannya. Dia masih memakai pakaian dinasnya sejak semalam. Dengan kaki yang masih terbalut kaos kaki yang belum sempat dia lepaskan. Penampilannya benar-benar berantakan untuk ukuran seorang pemuda berumur 26 tahun saat ini.
"Sasuke-kun! Cepat turun.. Sarapanmu sudah siap!"
Sasuke tersenyum kecut.
Kata-kata Itachi yang seperti itu yang selalu dirindukan Sasuke begitu dia membuka matanya setiap pagi.
Tapi sekarang, dia selalu disambut dengan ruang kosong di rumahnya yang luas ini begitu dia membuka matanya di pagi hari.
"Sasuke-kun! Sarapanmu sudah siap!" suara Sakura terdengar nyaring dari lantai bawah.
Sasuka hanya terdiam di tempatnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya bibirnya membentuk sebuah senyum tipis.
Paling tidak, pagi ini bukan ruang kosong yang menyambut paginya.
.
.
.
Setelah mengeringkan tubuhnya dan mengenakan yukata berwarna biru muda dengan gambar lambang keluarganya, Sasuke turun dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan.
Hari ini dia sedang bebas tugas dan sebagai gantinya harus menuliskan laporan tentang kasus yang baru saja dia selesaikan kemarin. Sebenarnya Sasuke diberi cuti berkabung oleh Kepala Polisi selama satu minggu, tapi dia merasa kalau berkabung satu minggu dan hanya berdiam diri di rumah itu sama saja dengan membuatnya seperti laki-laki putus asa yang tidak berguna. Jadi dia tetap menjalankan tugas dinasnya sehari setelah hari berkabung.
Sasuke tiba di ruang makan dan hidungnya langsung mencium aroma nasi yang baru saja matang dicampur dengan bau masakan lain yang membuat perutnya langsung bereaksi.
"Kau sudah bangun, Sasuke-kun?" tanya Sakura seraya meletakkan piring berisi lauk di atas meja persegi yang ada di tengah ruangan itu.
Sasuke mengamati beberapa makanan yang sudah tersedia di sana dan mau tidak mau dia langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Terakhir kali dia melihat ada banyak makanan sebanyak ini di meja makan ini adalah saat Itachi akhirnya naik jabatan dan mereka mengadakan pesta kecil sampai larut malam. Itu beberapa tahun lalu, saat Sasuke baru saja duduk di bangku SMA.
"Selamat makan.." kata Sakura, masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
Sasuke akhirnya duduk di atas tatami dan menatap makanan di meja itu satu per satu.
Semua adalah makanan kesukaannya.
Untuk beberapa saat Sasuke mengerutkan dahi dengan curiga.
Gadis itu bahkan tahu masakan kesukaannya. Apakah Itachi mengatakan hal-hal sedetail itu padanya?
Sasuke lalu angkat bahu.
Dia memutuskan untuk tidak memusingkan hal itu mengingat perutnya sudah protes sejak tadi dan dia sudah kelaparan karena semalam tidak makan apapun.
Sasuke langsung mengambil sumpitnya dan mengambil piring yang sudah terisi nasi di depannya.
Sakura sudah berdiri membelakanginya dan sedang mencuci sesuatu di wastafel.
"Kau tidak ikut makan?" tanya Sasuke.
Sakura menoleh ke belakang.
"Aku bisa makan nanti.." jawab Sakura seraya tersenyum.
Sasuke tidak menjawab. Dia melanjutkan makannya dan Sakura kembali melanjutkan cuciannya.
Sasuke mencomot sayuran yang ada di depannya dan memakannya.
Lumayan.. batinnya.
Ada teriyaki dan beberapa beberapa sayuran lain yang ditaruh di atasnya, Sasuke segera mencomotnya dan memakannya dengan lahap.
Dengan mulut penuh berisi makanan, Sasuke mengamati tubuh Sakura yang masih berdiri membelakanginya.
Siapa sebenarnya gadis ini? Batinnya penuh ingin tahu.
"Pantat gadis itu memang benar-benar seksi, ya?" sebuah suara terdengar di samping Sasuke.
Sasuke mendengus tanpa melepaskan pandangannya dari tubuh Sakura.
"Hentikan pikiran kotormu itu, Ita-" kata-katanya langsung terhenti.
Tubuh Sasuke membeku di tempat. Matanya terbelalak menatap ke depan tanpa berani melihat ke samping.
Apa tadi yang baru saja dia katakan? Apa dia memanggil nama Itachi?
Jantung Sasuke kini berdegup semakin kencang.
Apa aku sudah gila? Tapi itu tadi bukankah benar-benar suara Itachi?
Sasuke masih membeku dan terdiam di tempatnya.
Dia kenal betul dengan suara yang baru saja terdengar tepat di sampingnya itu.
Itu suara Itachi.
Lalu dengan penuh hati dan perlahan, Sasuke menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke samping.
Dan saat kepalanya benar-benar menoleh ke sampingnya, matanya kembali terbelalak kaget.
Pria itu di sana.
Itachi sedang duduk di sampingnya sambil tersenyum padanya. Senyum khas yang selalu ditampakkannya pada Sasuke.
"Akhirnya kau bisa makan enak lagi.. Sasuke-kun.." ujarnya.
Sasuke kembali membelalak dan langsung mundur ke belakang sambil melempar sumpitnya.
"AAARGH! SIAPA KAU?!" tanyanya kaget.
Jantungnya kini benar-benar terasa mau copot dari dadanya.
Teriakannya membuat Sakura menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Sasuke dengan tatapan bingung.
"Sasuke-kun? Ada apa?" tanyanya, dengan dahi berkerut.
Sasuke yang sekarang sudah duduk terpojok pada dinding di depannya, menunjuk jarinya ke tempat Itachi yang sedang duduk di depan meja makan.
"Si-siapa dia?" tanyanya, seraya menoleh ke arah Sakura. Dia lalu menoleh lagi ke arah Itachi.
Sakura tampak bingung dengan pertanyaan Sasuke.
"Siapa?" tanyanya.
"Hah?" Sasuke kini menatap Sakura dengan tatapan sama bingungnya.
"Apa yang sedang kau bicarakan, Sasuke-kun?" tanya Sakura lagi, masih dengan nada kebingungan di wajahnya.
"Kau.. tidak melihatnya?" Sasuke bertanya dengan nada heran sekaligus kaget.
Sakura menggeleng.
Kini tampak raut wajah Sasuke yang menampakkan sedikit ketakutan begitu dia kembali menatap tubuh kakaknya yang seharusnya sudah meninggal, duduk di sana, sambil menyunggingkan senyum khasnya ke arah Sasuke.
~~~~~~BERSAMBUNG~~~~~~~~
Hoho… Sudah lama ya saya gak update? Lagi banyak deadline.. Tapi saya sempatkan buat update.
