A/N : Um.. a-ano... apa masih ada yang nunggu fic ini?

Err... aku nggak tahu harus bilang apa pas liat review yang lebih dari dua puluh T^T minna sa~n arigatou reviewnya~~~

Kukira fic ini nggak bakal ada yang review hiksu... *ngelap ingus*

Ternyata masih ada yang mau baca fic abal buatanku ini

Oh, iya.. maaf nggak balas review ya^^.. nanti ku PM deh yang log in , tapi nggak janji #plaaaak!

Yang guest aja deh ^^

Guest 1 :

Nggak apa-apa,, makasih udah mau baca ya ^^

Koukei :

Makasi~h... kamu ini bikin aku tersipu -/- #plakkk!

Aku lanjut nih! Baca ya ^^

Guest 2 :

Oy.. Kalo nggak jahat nggak sero dong!

Aku lanjut kok! Tapi yang menderita bukan Naru doang kok! ^^

Makasih reviewnya ^^

Guest 3 :

Aku sih suka dua-duanya, jadi nggak masalah buatku ^^ Makasih reviewnya XD

0nyxVsSapphireSky :

Kamu jahat bangt sama Naru.. uhhh... dia udah banyak menderita tau -3-

Pokoknya request dikabulkan! XD #plakkk! Makasih reviewnya ^^

aphro :

Sankyuu~ T^T

I just newbie author,,, n my fiksi can't be so good as u say T^T

Thank to review ^^

kirika no karin :

Wokeh! ^,~d

And, untuk readers yang log in juga :

Dee chan - tik, AAind88 , miszshanty05, NaughtyStrom , hanazawa kay, devilojoshi,

Armelle Aquamar Eira, kinana, LadySaphireBlue, nasusay, Hinan Dyan , Princess Love Naru Is Nay,

devilluke ryu shin, Gunchan CacuNalu Polepel, uchikaze nisa, & tsunzoro.

So, silahkan baca~

Let's enjoyed!

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei

Fiction : Uzumaki Kagari

Genre : Romance(?), Drama

Rate : M but T+ for this chapter

Pairing : SasuNaru, little NaruSasu.

Slight : ShikaKiba, ShikaMenma, MenmaNaru, SasuMenma, NaruGaa,Itachi nggak tau sama siapa(?), atc.

.

Warning : Yaoi, Sho-Ai, Boys Love, BoyxBoy, incest, Brother complex, OOC kelas berat untuk Sasuke, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.

!DON'T LIKE DON'T READ!

But,

You can try to read and don't flame!

Uzumaki Kagari present... My X-Uke is My Seme

.

Chapter 2, Brothers

##*###*####*####*####*###*###*###*###*###*###*###* ###*####*####*###*####*##

O. Kagari Hate The Real World .O

.

Malam ini sunyi, namun ketenangannya begitu menentramkan hati. Malam yang indah dengan ribuan bintang yang yang bertebaran dilangit hitam. Begitu bersinar, meski tak secerah sinar bulan yang tampak malu-malu berselimut awan kelabu.

Netra biru itu menatap ke langit, menengadah. Merasa terselamatkan oleh kerlap-kerlipnya bintang malam. Setidaknya, malam ini ia tak melihat langit kelam tanpa cahaya. Membuatnya sedikit lega karena tak harus menatap hamparan kegelapan yang sama seperti matanya. Entah... apa ia bisa bertahan setelah ini, satu kampus dengannya, sering melihatnya.

Seseorang yang ia kecewakan dulu...

Sungguh... ia tidak tahu.

"Melamun, atau... lagi mikirin gue?"

Biru musim panas itu beralih menatap sosok yang tengah berjalan kearahnya, "Dua-duanya... kurasa." Ia sedikit tertawa.

Reflika yang begitu kontras dengannya itu menyeringai, menampakkan gigi-gigi putihnya yang berbaris rapi. Naruto menggeser sedikit duduknya agar pemuda beriris serupa dengannya itu duduk di sampingnya.

"Rasanya gue cemburu sama lamunan loe yang satu lagi." Ini lagi, adiknya ini memang suka sekali menggodanya.

"Aku lebih cemburu pada Shikamaru yang selalu mendapat perhatian lebih darimu." Naruto mengembalikan tatapannya ke atas, menatap hamparan langit malam yang menaungi mereka. Ia mendengar adiknya itu tertawa kecil dan menyandarkan kepalanya pada bahunya.

"Loe sama Shika senpai itu beda."

"Bedanya?" Tanya Naruto.

"Cinta sama suka itu beda."

Senyum terukir dibibir tipisnya, ia memilih untuk mengakhiri pembicaraan mereka dengan keheningan yang perlahan masuk. Menyeruak diantara hembusan angin malam yang menerpa tubuh mereka. Tak perlu untuk berucap, diam saja sudah cukup bagi keduanya untuk mengetahui pikiran masing-masing. Menyelam dalam setiap hembusan napas mereka yang hampir bersamaan.

'Cinta dan sayang juga berbeda.' Iris biru Menma perlahan menutup saat hembusan napas hangat menerpa keningnya. Diikuti dengan belaian lembut pada rambut hitamnya.

"Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan, tapi jangan sampai 'dia' tahu." Menma merasakan gerakan jari pada rambutnya terhenti untuk sesaat sebelum kembali mengelusnya lembut. Dugaannya benar, Naruto memang menyembunyikan sesuatu.

Tidak ada kata-kata kasar dalam ucapan Menma barusan, adiknya hanya begitu jika ia sedang benar-benar serius. Ia terkejut hingga jemarinya sempat terdiam sepersekian detik saat mengelus rambut adiknya itu. Naruto tahu Menma menyadarinya, tapi ia lebih memilih diam dan memandangi indahnya bintang-bintang dimalam ini.

'Cinta itu sendiri juga berbeda...'


.

##*###*####*####*####*###*###*###*###*##*###*###*# ##*####*####*###*####*##

O. Kagari Hate The Real World .O

.


Langkah kaki itu begitu ragu saat berjalan mendekati seorang pemuda di sana. Seorang pemuda bersurai pirang yang tengah bercengkrama dengan adiknya. Ia ragu, apa Naruto akan memaafkannya? Apa dia akan marah? Tidak ingin bertemu lagi dengannya?

"Kiba? Kenapa kau berdiri di situ?" Pemuda bersurai coklat itu terkejut saat Naruto memanggil namanya.

"A –aku..." Kiba memalingkan wajahnya, ia akan menghadapi ini. Jika Naruto marah. maka ia memang seharusnya menerima kemarahan itu. Ia memang salah.

"Naruto," Mata itu melihat iris biru yang memandangnya datar. "Aku salah, aku tidak memberitahumu. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Aku... aku –"

"Kiba." Panggilan itu menghentikan ucapannya. "Tidak perlu, ini bukan salahmu." Senyuman lebar itu, cengiran yang selalu membuat pemuda itu secerah matahari.

"Naruto... terima kasih." Naruto tidak menyalahkannya, Naruto memaafkannya. Ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Naruto.

"Sudahlah, kau itu kenapa sih? Tak perlu berkaca-kaca seperti ingin menangis begitu kan?" Naruto berjalan mendekati Kiba, merangkul teman semasa SMPnya itu.

"Siapa yang mau menangis?!" Ucap Kiba, ia mendelik kesal saat Naruto mencolek-colek pipinya.

"Matamu mera~h..." Ucap Naruto dengan nada menggoda.

"Apa sih!"

"Hahaha! Tuh, kau marah karena aku benar!"

"Naruto!"

Ia melihat kedua pemuda itu tertawa, bercanda dengan kakaknya yang terus menggoda Kiba dengan ucapannya. Membuat pemuda berambut coklat itu nampak kesal namun tak jarang juga tertawa. Terlihat lucu, eh?

Kakaknya tertawa, dengan parasnya yang seakan-akan juga menikmati candaan mereka. Seakan-akan semua gurauan itu menyenangkan hatinya. Ia tidak bisa dibohongi. Wajah itu tidak tertawa, wajah itu tidak terlihat senang dimatanya. Wajah itu mengguratkan ekspresi lain, begitu jelas dimatanya. Sama dengan ekspresi yang dilihatnya dulu. Naruto tidak bisa membohonginya, tidak akan pernah meski ia tutupi dibalik kain gelap yang tebal. Ia tetap bisa melihatnya dengan jelas, apa yang ada dibaliknya.

"Che!" Lebih baik ia pergi dari tempat ini dari pada harus melihat kepalsuan kakaknya itu. Ia mengenyahkan beban tubuhnya dari kursi. Berjalan melewati kedua pemuda yang belum selesai-selesai juga bercanda ria.

"Menma, kau mau kemana?" Pertanyaan Naruto hanya ia jawab dengan lambaian tangannya.

.

.

.

.

Membosankan, sungguh membosankan. Ia bukan orang yang bisa duduk diam dan memperhatikan pelajaran, bukan pula orang yang datang ketempat seperti ini untuk bercengkrama dengan teman-teman baru. Ia itu tipe orang yang lebih menyukai kesendirian, jangan salah. Ia bukan anti sosial, kesendirian itu artinya ia tidak perlu harus mendapatkan tatapan-tatapan 'lapar' dari orang-orang yang melewatinya.

Seperti sekarang, ia keluar dari kelasnya karena tidak ingin melihat sosok palsu kakaknya. Tapi, karena itu pula ia harus menerima tatapan lapar itu.

Ia akui dirinya ini menarik, sangat malahan. Kulitnya yang putih tanpa cacat meski ia ini sering berkelahi dan mendapat luka di sana-sini. Ajaibnya, semua luka itu mudah sekali pulih. Tubuhnya yang termasuk dalam kategori bagus, tidak gemuk, tidak kurus, ramping dan sedikit otot yang membentuk. Perfect.

Penampilannya yang tidak buta mode juga mendukungnya, sangat enak untuk dipandang. Oh, ayolah... ia sangat sempurna dengan semua yang dimilikinya.

Karena itu juga ia benci dirinya sendiri, selalu menarik perhatian dimana pun ia berada. Layaknya satu iklan yang pernah ia lihat di televisi, semua mata tertuju padanya. Haha.

Gadis-gadis, ia benci sekali. Mereka cerewet –yang satu ini pengecualian untuk sang kakak. Dandanan mereka yang mencolok mata dengan berbagai pernak-pernik kalung, cincin, gelang, kunciran dengan berbagai warna. Juga bedak mereka yang tebalnya lebih dari dua senti.

Ia benci gadis-gadis.

Bruuk!

"Shit!" Menma mengumpat kesal saat tubuhnya terdorong ke belakang, ia menatap tajam orang yang baru saja menabraknya. Matanya sedikit menyipit menyadari jika ia pernah melihat orang ini sebelumnya. Rambut donkernya yang 'menjulang' ke atas, mata hitam tajam, orang ini yang masuk sembarangan ke kelasnya kemarin kan?

"Tidak mengatakan apa pun?" Alisnya terangkat, tidak mengerti dengan pertanyaan barusan.

"Hah? Memangnya apa yang harus gue bilang?" Tanya Menma, ia melihat orang di depannya itu tersenyum. Menyebalkan dalam penglihatannya.

Plak!

Menma menampik keras tangan orang itu saat tiba-tiba saja menyentuh dagunya, "Ngapain loe pegang-pegang gue?" Tanya Menma, ia tak menyembunyikan rasa tak suka atas perlakuan orang itu.

"Kau menabrakku, sekarang berkata kasar padaku. Satu maaf tidak akan menghapus kesalahanmu."

"Che! Siapa juga yang mau minta maaf sama loe. Minggir, gue mau jalan." Ucap Menma, ia melangkah maju dan berjalan melewati pemuda di depannya. Ia sedikit menyenggol bahu pemuda itu saat melewatinya.

Grep

Namun, satu tarikan pada tangan kirinya sukses membuat Menma menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap tak suka orang yang sudah menarik tangannya. "Apa sih mau loe? Lepasin tangan gue!" Ucapnya kesal.

"Satu malam mungkin bisa menghapus kesalahanmu padaku." Ucapan itu selesai, hanya sepersekian detik bibir itu sudah menyatu dengan bibirnya. Shock. Perlu beberapa detik lamanya untuk ia menyadari apa yang terjadi. Bibirnya dibungkam. Ia... dicium.

Buagh!

"Brengsek!" Teriak Menma, refleks ia langsung memukul kuat rahang orang yang telah berani-beraninya menyentuh bibirnya. Menciumnya. Ia menatap tajam orang yang kini tengah berusaha bangkit berdiri dari lantai. Napasnya memburu, ia marah, kesal, dan masih banyak lagi yang ia rasakan. Ia menggosok kasar permukaan bibirnya dengan punggung tangan, menghapus jejak liur yang berada dibibirnya.

"Loe!" Ia menarik kaos depan pemuda itu. "Fuck! Berani banget loe nyium gue brengsek!" Teriaknya tepat di depan wajah pemuda itu.

Mata hitam itu menatap wajah dengan tiga pasang garis horizon Menma, ia menyeka darah yang berada di sudut bibirnya. Ia menggerakkan wajahnya ke samping dan mengatakan sesuatu tepat di telinga Menma. "Dua malam, dengan bondage. Baru aku bisa menghapus kesalahanmu."

Ucapan yang sukses membuat gunung api dikepalanya meletus, kepalan tangan Menma kembali melayang ke wajah orang itu, bersiap untuk menghantam keras wajah menyebalkannya. Namun dengan sangat mudahnya dihentikan. Ia menatap penuh amarah, penghinaan ini benar-benar membuatnya merasa marah.

"Tidak untuk kedua kalinya kau memukulku, manis." Menma menyipitkan matanya saat tangan yang menahan pukulannya itu meremas kencang kepalan tangannya. Gigi-giginya bergemeletuk menahan amarah yang sudah sampai keubun-ubunnya. Orang ini benar-benar berengsek.

"Sasuke!" Perhatian Menma dan orang itu sedikit teralih saat seorang wanita dengan rambut merah menyala berkacamata berlari mendekati mereka.

"Heh! Lepaskan tanganmu dari Sasukeku!" Teriak wanita itu, ia menyentakan tangan Menma yang mencengkram kaos orang itu dan langsung menatap cemas pemuda yang ia panggil dengan nama 'Sasuke' itu. "Sasuke, kau baik-baik saja? Bibirmu berdarah!" Ucap wanita itu, ia menyentuh sisian bibir Sasuke.

"Aku tidak apa-apa Karin." Ucap Sasuke seraya menjauhkan wajahnya dari tangan wanita itu.

"Apanya yang tidak apa-apa! Bi –bibirmu berdarah!" Ucap wanita itu cemas.

"Loe, Karin?" Wanita itu berbalik saat mendengar namanya disebut, ia menatap tajam pemuda berambut hitam acak-acakan yang telah memukul Sasuke'nya' itu. Namun matanya langsung mengerjap dan menunjukkan ekspresi penuh keterkejutan.

"Menma? Kau benar Menma?" Tanyanya memastikan. Wanita itu menatap tak percaya saat pemuda di depannya menganggukkan kepalanya.

"Menma, ya Tuhan! Aku benar-benar tidak percaya kalau rumor kau tinggal bersama ayahmu itu benar!" Ucap Karin, mata beriris merahnya menatap Menma tidak percaya. "Eh, tapi kenapa kau memukul Sasuke?" Tanyanya, pandangannya berubah tajam .

"Che! Tanyakan saja sendiri pada orang di belakang loe itu, dan... bisa loe lepasin tangan gue sekarang. Sas'uke'." Ucap Menma dengan sedikit penekanan.

Sasuke menatap pemuda beriris biru langit itu, ia melepaskan kepalan tangan yang ditahannya sejak tadi. Bibirnya sedikit terangkat saat tangan itu langsung ditarik dengan kasarnya. Mengatai ia uke, eh? Menarik.

"Loe! Nggak akan lolos dari gue!" Menma manatap pemuda itu dengan pandangan mengancam segarang-garangnya singa dan melangkahkan kakinya ke depan. "Minggir." Ucapnya dingin, tak mengindahkan tatapan bingung dari Karin yang ia senggol dengan sengaja. Ia berdecak kesal saat pemuda bernama Sasuke itu tersenyum dan memberi ia jalan dengan memiringkan tubuhnya.

Tatapan mereka bertemu, hanya sesaat sebelum Menma mengalihkan pandangannya. Ini hari yang sial. Ia mencatat kata-kata itu dalam buku memori diotaknya.

.

.

Tidak ada yang seperti dia, sudah bertahun-tahun ia tak pernah mendapatkan tatapan seperti tadi lagi. Seseorang yang menantangnya, tidak takut padanya. Selama ini hanya dia seorang. Tapi, ia menemukannya. Begitu mirip, wajahnya, juga sikapnya.

"Dia itu, dasar aneh."

Sasuke melirik wanita di sampingnya, "Kau kenal pemuda tadi?" Tanyanya.

"Iya, dia Menma. Semacam saudara sepupuku." Jawab Karin, "Dia itu memang sedikit aneh, dari kecil sampai sekarang selalu saja sifatnya seperti itu. Sangat berbeda dari Naruto, padahal wajah mereka mirip."

"Naruto?" Ulang Sasuke, kenapa nama Naruto dibawa-bawa?

"Kakaknya, wajahnya mirip sekali dengan Menma. Ah, tapi aku lebih suka Naruto. Sifatnya sih sama, tapi Naruto lebih sopan dan baik."

Menma adalah adik Naruto, tidak mengherankan. Karena itu mereka mirip, karena itu juga ia merasakan perasaan sakit ini saat melihat pemuda itu.

Seringai nampak menghiasi wajah Sasuke. Ia sangat beruntung, eh? Menemukan seseorang yang hampir sama dan ternyata dia adik dari seseorang yang memberikannya rasa sakit ini dulu, hingga sekarang. Apa ini takdir, ia ingin sekali bersorak ria karena Tuhan yang telah sangat baik hati sekali memberikan takdir ini padanya. Ini yang ditunggu-tunggunya. Pembalasan. Atas apa yang dilakukan dia dulu.

Semburat merah menjalar dikedua pipi Karin melihat senyum –serinngai memukau yang diperlihatkan Sasuke. Ia merasakan debaran jantungnya yang berdetak sangat cepat saat melihat senyum itu.

"Karin."

"Ha –hai!" Ia terlihat begitu gugup saat sepasang mata onyx itu terarah padanya.

"Aku ingin bermain." Wajah Karin semakin memerah, ia merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang diperutnya. Ia begitu senang mendengar ucapan Sasuke. Akhirnya, Sasuke menginginkannya. Ia telah menunggu ini lama dan Sasuke akhirnya melirik ia.

Karin mengangguk dengan malu-malu, ia pasrah saat Sasuke menarik tangannya dan membawa ia pergi dari tempat itu.

Biarlah seperti ini dulu, kejantanannya yang berdenyut tak sabar saat pikirannya melantunkan nama itu. Biarlah ia puaskan dengan yang lain. Hanya sebentar lagi ia harus menunggu. Beberapa laki-laki dan wanita ini akan ia jadikan peredam sementara gejolak hasratnya. Sebelum santapan utama ia dapatkan.

Benar... sedikit camilan, sebelum yang utama dihidangkan.

Sasuke menjilat bibir bawahnya, ia tidak sabar menunggu saat itu tiba. Akan sangat menyenangkan saat akhirnya... yang ia nantikan, akan ia dapatkan.


.

##*###*####*####*####*###*###*###*###*##*###*###*# ##*####*####*###*####*##

O. Kagari Hate The Real World .O

.


Prak!

Kaca itu retak dengan satu kepalan tangan yang menjadi pusatnya. Mengalirkan darah segar dari buku-buku jari yang sedikit tergores retakan kaca itu. Beberapa refleksi pantulan seseorang terlihat pada bagian-bagian kaca yang terpisah. Menampakkan seseorang dengan tatapan berkilat penuh amarah. Tetesan-tetesan air mengalir menyusuri garis wajahnya hingga leher sebelum hilang, terserap kain kemeja hijau bergaris hitamnya.

Marah.

Kesal.

Ia ingin sekali membuat orang itu babak belur oleh tangannya sendiri, sampai mati kalau perlu karena telah dengan beraninya mencium bibirnya. Pemuda bernama Sasuke itu akan benar-benar mati ditangannya.

Menma mengambil ponsel hitam dikantung depan jeansnya saat ponsel itu bergetar beberapa kali. Ia melihat layar itu menampakkan sebuah nama.

"Naruto."

"Menma, kau dimana? Kelas akan dimulai sebentar lagi!" Suara itu terdengar kesal.

"Naruto, bisa loe ke sini?" Tanya Menma, mengacuhkan pertanyaan kakaknya itu.

"Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Suara Naruto terdengar khawatir ditelinganya.

"Toilet 5*. Sekarang." Menma menutup sambungan telepon itu setelah mengatakan dimana ia berada. Ia menaruh ponsel hitam itu di samping keran washtafel dan memejamkan matanya. Ia sangat kesal. Bibir orang brengsek itu menciumnya. Bahkan menjilat bibir bawahnya.

"AARGH! BRENGSEK!"

"MENMA!"

Dengan cepat ia merasakan tubuhnya dibalik, ia melihat kakaknya yang menatap ia dengan penuh kekhawatiran. "Menma, apa yang kau lakukan! Apa yang terjadi!" Menma mendengar suara Naruto yang sedikit bergetar disela teriakannya. Ia tak mendengarkan apa isi teriakan itu, tangannya bergerak ke belakang tubuh kakaknya tanpa sepengetahuan Naruto. "Menma! Kau mendengar –Mmmph!"

Sangat terkejut, mata bermanik biru itu membulat dengan sempurnanya saat dengan tiba-tiba pemuda di depannya menyatukan bibir mereka. Merengkuhnya dalam pelukan erat. Naruto meremas bahu Menma keras karena terkejut. Ia tidak menyangka adiknya akan menciumnya tiba-tiba.

Mata Naruto melirik Menma yang tengah memejamkan matanya, menikmati ciumannya. Ia sedikit mengernyit saat bibir bawahnya digigit dengan keras, ia memberi celah lidah yang terus menerus menjilati bibirnya itu untuk masuk ke dalam mulutnya.

Tubuh Naruto semakin tertarik mendekat, Menma membalik posisi mereka hingga Naruto membelakangi kaca yang sudah retak dimana-mana. Tubuhnya semakin terhimpit oleh tubuh adiknya itu. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Menma bersikap seperti ini?

Perlahan, tangannya yang meremas kedua bahu Menma beralih ke belakang leher adiknya itu. Ia memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman adiknya. Lidah mereka bersentuhan dan saling melilit, terkadang Naruto membiarkan lidahnya ditarik dan kembali saling mengecap.

Naruto melenguh saat helaian pirangnya diremas kencang dan semakin menekan kepalanya untuk memperdalam cumbuan mereka. Kedua tangannya yang melingkar dileher Menma juga semakin erat. Lidah Menma menjilat luka dibibirnya, ia kembali melenguh merasakan bibirnya yang ditarik dan diemut kencang.

Kepala Menma bergerak ke kanan dan ke kiri, mencium Naruto semakin panas. Berkali-kali ia mengigit bibir bawah kakaknya dan kembali memasuki rongga mulut Naruto, ia menyesap setiap rasa dalam mulut sang kakak. Mengirimkan liur miliknya ke dalam mulut Naruto. Ia semakin berani saat Naruto meneguk ludah mereka yang bercampur dan ikut bermain dengan lidahnya.

"Nnnh..." Desahan itu meluncur mulus dari Naruto, menambah liar ciuman diantara mereka. Bibir Naruto yang begitu lembut dilidahnya. Rasa manis yang selalu dicecapnya saat melumat bibir ini selalu membuatnya menginginkan lebih.

Dengan cepat Menma melepaskan bibir itu, mengakhiri ciuman panasnya yang telah berlangsung dalam hitungan menit itu. Ia menangkup wajahnya dengan satu tangan dan menundukkan kepalanya. Ini berbahaya.

"Maaf." Ucapnya hampir tak terdengar.

Naruto melihat adiknya itu menunduk, napas mereka masih terlihat sama-sama tak beraturan. Tersengal-sengal, berusaha sebanyak mungkin mentransfer oksigen keparu-paru mereka.

"Menma..." Panggil Naruto, namun si empunya nama masih menundukkan wajahnya. Tak mau menatapnya.

Dengan perlahan, tangan Naruto menyentuh wajah tertunduk itu dan menariknya agar ia dapat melihatnya. Ia tersenyum lembut mendapati wajah penuh rasa bersalah yang ditunjukan Menma. "Apa sekarang sudah tidak kesal?" Tanyanya lembut. Naruto tahu apa yang dipikirkan adiknya sekarang.

"Sedikit." Jawab Menma.

Naruto tertawa kecil mendengar jawaban adiknya itu. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Menma. "Kalau sekarang?" Tanyanya lagi.

Menma tersenyum mendapati sikap biasa Naruto, ia menyandarkan kepalanya dipundak kakaknya itu dan merengkuh tubuh rampingnya. "Tidak lagi." Ucapnya seraya menghirup aroma citrus yang menguar diceruk leher Naruto.

"Baguslah, karena bibirku sedikit sakit kau gigit." Naruto tertawa saat mendengar dengusan pelan adiknya. Ia mengelus punggung Menma dan memejamkan matanya, menikmati rengkuhan hangat dari adiknya.

.

.

.

Punggung berbalut kemeja merah yang sejak tadi bersandar diri disisi luar pintu toilet perlahan kembali menegakkan tubuhnya. Iris seindah batu emerald itu melirik pintu di sampingnya, ia tak melihat apa yang terjadi di dalam sana. Tapi ia tak perlu melihat karena ia tahu yang terjadi. Matanya beralih menatap dinding putih keabu-abuan di depannya. Koridor ini cukup sepi karena sebagian mahasiswa telah masuk dalam kelasnya. Tidak akan ada yang mengganggu kedua pemuda itu seandainya pun ia pergi.

Kelopak mata itu tertutup sejenak sebelum kembali terbuka, kaki berbalut sepatu kets hitamnya melangkah menjauhi tempatnya bersandar tadi. Memilih pergi dan berpura-pura tidak melihat atau pun mendengar apapun. Sama seperti sebelum-sebelumnya.

.

.

.

.

.


##*###*####*####*####*###*###*###*###*###*###*###* ###*####*####*###*####*##

O. Kagari Hate The Real World .O

.


Sejak tadi, mata onyxnya terus saja melihat senyum lebar dari seseorang yang duduk pada sofa marun diruangannya. Sesekali ia melihat orang itu tertawa dengan mata yang menatap lurus pada televisi di depannya. Tidak ada yang lucu pada acara televisi itu, malah kini televisi itu tengah menayangkan sebuah ftv dengan pemainnya yang tengah menangis ria dicampakan kekasihnya.

"Kau sedang senang?" Pertanyaannya sukses membuat mata serupa langit malam itu beralih menatapnya.

"Sangat Ani." Jawaban itu disertai senyuman lebar adiknya.

"Pergi ke klinik, aku tidak ingin Tou san melihat luka diwajahmu itu."

Sasuke tertawa pelan mendengar ucapan kakaknya, ia mengenyahkan beban tubuhnya dari sofa dan berjalan mendekatinya. Ia melangkah memutari meja penuh tumpukan buku yang menghalanginya dan sang kakak. Menggerakkan tangannya untuk memutar kursi dimana kakaknya itu duduk. "Luka ini tidak sakit." Ucap Sasuke, ia menumpukan kedua tangannya pada masing-masing sisian kursi.

"Kau tahu kan, hatiku ini lebih sakit." Lanjutnya seraya tersenyum pada kakaknya.

Mata kelam itu saling beradu, dengan tatapan yang sama. Begitu datar namun berbeda arti. Itachi menghela napasnya dan menyingkirkan sebelah tangan Sasuke yang menahan kursi tempatnya duduk. "Jika kau menjadi seperti 'ini', aku tidak akan melakukan itu padamu dulu."

Sasuke tersenyum dan menyandarkan kedua tangannya pada meja di belakangnya, "Jadi kau menyesal? Tidak Uchiha sekali." Ucap Sasuke.

Ucapan itu sindiran, ia tahu meski Sasuke tak mengatakannya. Menyesal, tidak pernah dalam hidupnya seorang Uchiha Itachi menyesal. Sasuke hanya tidak tahu. Itu saja.

"Pergilah jika urusanmu di sini sudah selesai." Ucap Itachi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku-buku di atas mejanya. Tangannya dengan cekatan menulis ulang deretan huruf pada buku lain di meja itu.

"Dia kembali Aniki." Tangan Itachi terhenti untuk sesaat.

"Lalu?" Tanyanya acuh.

Mata onyx Sasuke memperhatikan sang kakak yang terus berpura-pura tidak peduli. Ia menyeringai dan menundukan tubuhnya mendekat pada Itachi. "Kau tahu apa yang akan kulakukan." Ucapnya di samping telinga Itachi. Sasuke kembali menegakan tubuhnya dan mengangkat bahunya saat kakaknya itu tak juga berkata sedikitpun. Ini akan membosankan kalau saja Itachi tidak bisa dipengaruhi. Sasuke memutuskan untuk pergi dari ruangan itu, melangkah mendekati pintu ruangan itu. Tidak asik jika Itachi diam saja.

.

.

.

Tangan yang sejak tadi menuliskan deretan kata itu berhenti saat Sasuke menutup pintu ruangannya. Ia terdiam dengan pandangan yang tertuju pada kertas putih di atas meja. Ia mendengarnya, begitu jelas.

Dia kembali.

Terk!

Bolpoin itu patah menjadi dua karena tekanan keras pada jari-jari yang menggenggamnya. Menumpahkan sedikit tinta cair berwarna hitam di atas kertas, memberikan noda tak terhapus pada putihnya kertas itu. Seperti noda dalam kehidupan yang takkan pernah bisa dihapus, karena waktu itu telah berlalu. Kehidupannya.

.

.

.

.

.

##*###*####*####*####*###*###*###*###*###*###*###* ###*####*####*###*####*##

O. Kagari Hate The Real World .O

.

Lukisan, goresan cat dengan berbagai warna yang berpadu di atas kanvas putih. Suatu cara menyampaikan keindahan dalam benak, dalam kehidupan. Menuntut imaginasi tinggi yang terus menerus bervariasi. Bebas, namun mengikat. Indah, namun terkekang. Sebatas... khayalan belaka. Suatu bentuk impian yang tak sanggup dicapainya.

"Indah, tapi tetap aku tak bisa menyentuhnya." Ucapan itu begitu lirih, hanya ia yang mendengar. Netra birunya memandang lembut goresan cat yang didominasi warna hitam di hadapannya. Memang indah, namun menyimpan banyak makna tak terartikan oleh pandangannya.

"Black rose, not bad."

Sapphire itu beralih menatap pemuda di sampingnya, "Aku tidak tahu, arti lukisan ini." Ucapnya seraya kembali menatap lukisan di hadapannya.

"Apa yang kau rasakan saat melukisnya?"

Naruto tersenyum, ia mengangkat tangannya sebahu dan memperlihatkan telapak tangannya. "Kemarikan tanganmu." Ucapnya. Ia tersenyum saat pemuda di sampingnya menuruti permintaannya. "Aku memulainya dari sini." Tangan itu menuntun jari-jari dalam genggamannya menyusuri goresan hitam di atas kanvas.

"Lalu bunga kedua." Goresan cat itu tidak rata, bertekstur dan sedikit kasar ditangannya. Ia menekuk jarinya saat tangan yang menggenggamnya menuntun ia untuk menyentuh bunga ketiga dalam lukisan itu. Bunga itu layu, hanya tersisa beberapa kelopak hitam dengan kelopak lain yang berjatuhan di atas tanah.

"Itu menyedihkan."

Kening Naruto berkerut saat mendengar ucapan pemuda berambut merah di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati wajah datar tanpa ekspresi pemuda itu.

"Menyedihkan? Maksudmu ini lukisan yang menyedihkan Gaara?" Tanya Naruto, ia melihat pemuda itu meliriknya dan melepaskan tangan yang digenggamnya.

"Tiga mawar, kau sedang melukis perasaanmu Naruto nii." Ucap Gaara, melihat reaksi Naruto yang biasa-biasa saja setelah mendengar ucapannya. Gaara tahu jika ia benar.

"Begitu..." Naruto memejamkan matanya, kursi yang didudukinya sedikit tergeser ke belakang saat ia bangun. "Lalu... menurutmu, siapa mawar ketiga itu Gaara?" Ia menatap emerald Gaara.

"Kau." Jawab Gaara. Ia melihat senior semasa SMAnya itu tersenyum, senyum yang sering dilihatnya. Palsu.

"Bukan." Naruto menepuk bahu Gaara dan melangkah melewati pemuda itu. "Aku selalu berharap mawar itu aku Gaara, tapi kenyataannya aku hanya si pemilik dari tiga mawar itu." Ucap Naruto.

"Tidak ada dalam lukisan itu yang menggambarkan diriku."

Gaara memang tak bisa melihatnya, apa dan bagaimana ekspresi Naruto dibalik punggungnya sekarang. Tapi ada satu perasaan yang pasti dirasakan pemuda pirang itu sekarang, sejak dulu.

"Jaa Gaara."

.

.

.

.

.

'Tidak ada dalam lukisan itu yang menggambarkan diriku.'

Haha. Rasanya ingin sekali ia tertawa mendengar apa yang ia ucapkan tadi. Apa yang ia lakukan? Berpura-pura lagi? Atau membuat sandiwara baru dalam suatu drama. Ucapan yang buruk untuk menghadapi seorang yang pintar seperti Gaara.

Karena itu ia memilih untuk menghindar, pergi meninggalkan ruangan itu. Sampai ia bisa mempunyai alasan yang bagus mungkin, untuk ia jawab saat Gaara bertanya hal itu lagi.

Naruto menghela napasnya saat menyadari satu hal di tengah lamunannya. Penyakit 'jalan tanpa arah'nya kambuh lagi. Ia menoleh ke kanan dan kirinya saat tidak ada seorang pun yang ia kenal di wilayah kampus ini. Ia pasti berjalan cukup jauh hingga ia telah melewati area seni*. Alisnya berkerut melihat papan bertuliskan sosial politik pada beberapa pintu di koridor yang ia lewati.

Oh, bagus sekali. Sekarang ia tersesat di kampusnya sendiri. Lengkaplah sudah penderitaannya. Apakah tidak bisa lebih buruk dari ini, eh?

Grep

"Hei! –"

"Apa yang kau lakukan di sini, dobe."

Protesan itu lenyap entah kemana, ia yang terkejut saat tangannya tiba-tiba ditarik dari belakang hingga tubuhnya hampir saja kehilangan keseimbangan, kini hanya bisa terdiam. Membungkam mulutnya saat mendengar suara yang begitu dikenalnya, dulu. Panggilan yang sangat akrab ditelinganya, dulu. Mata yang telah begitu lama menenggelamkan ia dalam kelamnya malam. Wajah yang sangat familiar untuknya.

"Sa –suke..."

.

.

.

.

Langit malam, begitu gelap. Akankah ia tersesat lagi dalam gelapnya malam itu. Kembali terperosok dalam jurang, terperangkap dalam pandangan datar yang menyimpan sejuta pengertian. Ia sudah lepas, salah. Ia sudah melepaskannya, langit malam itu bukan lagi miliknya.

Tapi, bagaimana jika langit malam itu sendiri yang mendatanginya. Batu Onyx itu sendiri yang terus melihatnya. Akankah ia tetap pada pendiriannya.

"Kau, tidak berubah dari terakhir kali aku melihatmu." Mata kelam itu terus menatap pemuda yang duduk di sampingnya sejak... sejak mata itu melihat sang pemuda pirang. Mata itu masih sebiru yang diingatnya, wajah dengan tiga pasang garis horizon itu masih setampan dalam ingatannya. Rambut pirangnya, mungkinkah sehalus yang ia ingat dulu. Tubuhnya juga hanya sedikit bertambah tinggi. Tidak banyak dari diri Naruto yang berubah.

"Kau sangat berubah dari terakhir kali aku melihatmu." Ucap Naruto membalikan kata-kata yang didengarnya, ia tersenyum. Tak tampak memang, tapi sejak tadi ia merasa risih terus dipandangi oleh pemuda di sampingnya. Melihatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Sasuke menggeser posisi duduknya menyamping, ia menyangga kepalanya dengan tangan yang bertumpu pada punggung kursi taman tempatnya duduk. Membuat tubuhnya menghadap kearah Naruto. "Aku memang berubah."

Mata Naruto sedikit melebar saat merasakan sentuhan lembuut pada rambutnya, "Sejak kau mencampakan aku." Tangannya terkepal mendengar ucapan Sasuke.

"Aku salah, kau sedikit berubah." Ucap Sasuke seraya menarik kembali tangannya dari helaian pirang rambut Naruto. "Rambutmu lebih halus."

Naruto menyentuh rambutnya, tepat dimana Sasuke menyentuhnya. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapan pemuda itu. Tidak tahu harus bicara apa, memulai dari mana, atau bersikap seperti apa. Ia tidak pernah sekalipun menyangka jika ia bisa bertemu dengan Sasuke lagi, duduk di sampingnya seperti sekarang.

"Itu pujian untukmu."

"Begitu?" Naruto beralih menatap Sasuke. "Artinya aku harus berterima kasih atas pujiannya. Terima kasih." Ucap Naruto.

"Pfft... hahaha, aku tidak tahan!... hahaha ka –kau lucu sekali... hahaha..." Alisnya berkerut, ia melihat pemuda di sampingnya tiba-tiba saja tertawa seraya memegangi perutnya.

"Wajahmu itu... hahaha.. dobe.. kau hahaha..." Wajah kebingungan Naruto semakin bertambah saat tawa itu tak juga berhenti. Jika saja ia tak mengenal siapa itu Uchiha Sasuke, ia akan mengira jika pemuda di sampingnya ini kesurupan.

"Sasuke, kau baik-baik saja?" Tanyanya sedikit ragu.

"Aku –haha... tunggu sebentar..." Ia melihat pemuda itu berusaha mengatur napas dan menahan tawanya.

"Maaf, ekspresi diwajahmu itu sangat lucu." Ucap Sasuke setelah berhasil menghentikan tawanya.

"Lucu?" Ulang Naruto, wajahnya masih terlihat bingung.

"Kau begitu tegang didekatku. Itu lucu, menurutku." Ucap Sasuke. "Apa aku terlihat seperti serigala yang akan menerkammu?" Tanya Sasuke, ia tertawa melihat raut kebingungan Naruto yang tak juga meluntur.

"Ha –hah? Apa? Aku tidak pernah berpikir seperti itu!" Ucap Naruto cepat.

"Aku tahu, aku hanya bercanda." Sasuke membenarkan posisi duduknya. "Jadi, bisa lupakan yang lalu dan... berteman?" Tanyanya dengan tangan yang menggantung diudara.

Naruto melihat tangan itu, menunggu sambutannya. Ia ragu, apa benar ucapan Sasuke berusan. Berteman. Dengan ia yang telah meninggalkannya. Sangat logis. Jika kau termasuk dalam karegori orang gila tentunya.

"Empat tahun, cukup untukku berubah Naruto." Naruto menatap manik hitam itu. "Cukup untuk kita kembali dari awal dan menjadi teman, bukan?"

Ia ragu, namun tetap ia sambut tangan itu. Menerima ajakannya, membawa kembali ia dalam ruang lingkup kehidupan sang Uchiha. Padahal ia sudah menjauh, sejauh mungkin yang ia bisa. Tapi, uluran tangan darinya bukan sesuatu yang muluk ia angankan. Menjadi teman.

Bibir itu melengkung, tersenyum lebar saat tangan itu menyambutnya. Menerima tawarannya, menjadi teman. Sesuatu yang bahkan tak pernah terpikir olehnya. Berteman, dengan seseorang yang menjadi bagian dari hancurnya hidupnya dulu. Ah...vsalah. Orang yang menghancurkan hidupnya dulu.

'Cukup membuatmu percaya pada bualanku.'

...

..

.

To be continue~

A/N : Thankz... yang udah review ya ^^

Pertamanya konflik dalam fiksi ini itu dangkal bangt pake banget lagi.. eh lalu semuanya berubah saat ngeliat review readers T^T.. uh... otakku ini jadi bekerja lebih keras dan mendapatkan satu konflik yang begitu beratnya... juga terinspirasi dari salah satu fiksi yang kubaca sih ;'3

Aku ngerombak abis-abisan ide awalku yang mau buat ga lebih dari fiveshoot jadi bershoot-shoot *apaan?!*

Tapi beda kok! Konflik yang sebenarnya itu beda dari fiksi inspirasiku! Jadi jangan bilang aku plagiat ya! #plakkk!

.

.

.

Chap ini nggak ada lemon... hehehe.. ratenya turun naek sih... abis nggak seru kalau lemonan terus, ntar malah bosen. Xda

Aku juga baru sadar kalo ternyata aku terlalu bergantung pada lemon untuk ceritaku... selalu saja, kalau mau buat fic baru atau buat chap berikutnya... yang ada dipikiranku adalah LEMON! Damn! Aku sudah berubah jadi seorang pervy sejati!

Wkwkwkwk... judge myself...

So, mind to review this chapter ^,~d

.

.

.

Oh... n see ya' in the next chapter!