# IT'S YOU? #

Chapter 2:

Meet with Sebastian

Disclaimer:

Kuroshitsuji © Yana Toboso

It's you? © Fans Kuroshitsuji

Genre:

Romance, Tragedy, Angst

Rating: T

.

.

.

Don't Like? Don't Read!

.

.

.

A/N: Hello everyone! *pletak* hehehehe di chapter 2 ini saya Ayumi Phantomhive yang buat. Ehm semoga saja para readers suka ya~ ini berasal dari imajinasi saya dan maaf kalo alurnya kecepetan. Oke happy reading!


Summary: Ciel bertemu dengan Sebastian karena ketidaksengajaan. Mengetahui ia bertemu dengan pemuda paling terkenal di kampus, mereka berdua menjadi akrab dan sepertinya Ciel tidak tahu bahwa pertemuannya dengan Sebastian ini merupakan awal dari segalanya...


.

.

"Sebastian-san!"

Kata-kata itu keluar dari bibir mungil Ciel. Ia terkejut ketika berpapasan dengan pemuda tampan dan paling terkenal sekampus. Melihat Sebastian yang mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri, dengan cepat Ciel menggenggam tangan pemuda berambut hitam itu dan berdiri.

"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Sebastian yang melihat Ciel.

"I-iya… terima kasih," ujar Ciel sambil membersihkan pakaiannya.

Sebastian hanya berdiri di sana sambil memperhatikan Ciel. Karena merasa tidak enak telah menabraknya dan membuatnya terjatuh, akhirnya Sebastian mengajak Ciel untuk ikur bersamanya.

"Hey, sebagai permintaan maaf. Maukah kau ikut bersamaku?" Tanya Sebastian sambil tersenyum.

"Ngg? Kemana?"ujar pemuda bersurai biru kelabu itu.

"Yaa... jalan-jalan saja mungkin sambil makan-makan," ujar Sebastian masih dengan senyumnya.

Mendengar ajakan dari Sebastian, Ciel berpikir sejenak. Sekarang ia sedang bersama dengan Sebastian— pemuda paling terkenal di kampus dan mungkin ini bisa menjadi kesempatan emas bagi Ciel untuk bisa akrab dengannya ketika ia teringat taruhannya dengan Alois.

"Baiklah," ujar Ciel dengan lembut sambil tersenyum halus pada pemuda tampan itu.

Akhirnya Ciel dan Sebastian memutuskan untuk jalan-jalan bersama di tengah kota. Mereka mengunjugi banyak tempat yang menarik. Ciel juga sepertinya sangan menikmati waktunya dengan Sebastian.

Tak lama setelah mengunjungi banyak tempat, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat dan langit sudah berubah menjadi warna merah bercampur oranye yang terlihat indah di musim gugur.

Tapi tentu saja sebelum mereka pulang, mereka mengunjungi suatu kafe untuk mengisi perut mereka yang sedari tadi sudah lapar.

"Kudengar kafe ini punya kue yang enak lho," ujar Sebastian yang menawarkan Ciel.

"Benarkah?" jawab Ciel dengan alis yang terangkat sebelah.

"Iya."

"Tapi aku tidak bawa uang tahu," ujar Ciel sambil melihat saku celananya.

"Tak usah khawatir, aku yang traktir," Sebastian tersenyum dan menggenggam tangan mungil Ciel lalu mengajaknya masuk ke dalam kafe.

"Permisi, anda mau pesan apa?" Tanya salah seorang pelayan kafe tersebut.

"Umm… saya mau pesan milk tea dengan blueberry cheesecake," ujar Sebastian yang sambil melihat menu.

"Bagaimana dengan anda tuan?" ujar pelayan itu yagng sekarang bertanya kepada Ciel.

"Aku pesan gateau chocolate dengan earl grey tea saja," ujar Ciel.

"Baiklah pesanan anda akan datang 15 menit," ujar playan itu lalu pergi.

Sementara itu sambil menunggu pesanan mereka datang, Sebastian mengajak Ciel untuk berbicara.

"Maaf soal yang tadi ya," ujar Sebastian yang menatap wajah imut sang pemuda bersurai biru kelabu tersebut.

"Tidak apa-apa kok," jawab Ciel yang ikut menatap ke arah Sebastian. Biru sapphire bertemu dengan merah crimson, entah kenapa Ciel jadi sedikit terpana melihat mata merah Sebastian. Sekarang Ciel tahu mengapa banyak sekali fansnya Sebastian, dia itu sempurna— tidak malah kelewat sempurna.

"Oh iya ngomong-ngomong namamu siapa?" Tanya Sebastian pada pemuda mungil ini.

Ciel kaget ketika mendengar Sebastian yang menanyakan namanya tapi lalu Ciel langsung berpikir, tentu saja mana mungkin Sebastian kenal dengan dia! Anak yang tidak terlalu suka menonjol di depan orang lain.

"Ciel, Ciel Phantomhive," Ciel hanya menundukkan kepalanya sedikit karena ia tidak terlalu ingin dilihat oleh pemuda bersurai hitam ini.

"Oh Ciel Phantomhive!" Sebastian kemudian teringat. Kalau tidak salah sekitar 3 hari yang lalu, ia pernah mendengar temannya membicarakan anak bersurai biru kelabu yang tidak terlalu suka menonjol di depan orang.

"Eh?" Ciel hanya bisa menatap Sebastian dengan tatapan bingung ketika ia mendengar Sebastian menyebutkan namanya seolah-olah ia sudah mengenalnya.

"Aku pernah dengar soal dirimu dari temanku, katanya kau itu anak yang tidak terlalu suka menonjol di hadapan oranng," ujar Sebastian sambil menatap Ciel.

Ciel tidak percaya ternyata para senior di kampus ada yang mengenal dirinya dan itu sampai ke telinga Sebastian! Ciel benar-benar tidak percaya. Setelah mengetahui tentang hal itu, Ciel hanya bisa facepalm.

"Ngomong-ngomong kau lumayan imut juga ya, untuk seorang pemuda sepertimu," Sebastian hanya tersenyum dan melihat senyum Sebastian dari tadi membuat wajah Ciel sedikit memanas.

"A-apa maksudmu?!" jawab Ciel dengan semburat merah di pipinya yang menurut Sebastian justru semakin lucu.

"Tidak apa-apa. sepertinya aku mulai tertarik padamu Ciel."

"Tertarik padaku? Kita kan baru saja bertemu," Ciel hanya bisa tertawa hambar.

"Memang, tapi melihatmu sekarang aku jadi tertarik padamu," balas Sebastian yang sekarang menunjukkan seringai khasnya pada Ciel.

"A-apa maksudmu Sebastian-san?!" balas Ciel yang kini mengalihkan pandangannya dari tatapan Sebastian.

"Sebastian saja."

"Eh?"

"Kau cukup panggil aku Sebastian saja," ujar Sebastian sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Ci-cih…"

Mendengar jawaban dari Ciel, Sebastian hanya bisa tertawa kecil. Tak berapa lama kemudian pesanan mereka sudah datang dan mereka memakan makanan mereka dalam diam, tak ada satupun dari mereka yang berbicara hingga akhirnya makanan mereka habis dan mereka berniat pulang.

"Ingin kuantar?" tawar Sebastian pada Ciel.

"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," ujar Ciel dengan sifat angkuhnya.

"Benarkah? Tapi bahaya lho jika seorang pemuda sepertimu jalan-jalan sendirian," jawab Sebastian sambil menaruh ibu jarinya di depan dagunya dan memperlihatkan seringai khasnya.

"Memangnya aku ini perempuan apa!" bentak Ciel yang kesal dengan kalimat Sebastian barusan.

"Habis kau kan imut jadi bisa saja terjadi sesuatu padamu."

"Cih…" Ciel hanya bisa berdecih mendengar kalimat Sebastian.

"Jadi… bagaimana? Ingin kuantar?" tawar Sebastian kembali.

"Tidak usah! Aku tidak perlu!" bentak Ciel sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Benarkah? Tapi bagaimana kalau aku memang mau mengantarmu?" ujar Sebastian sambil berjalan mendekati Ciel.

"Uhh… te-terserah kau saja!"


Akhirnya setelah keributan kecil antara mereka berdua, Ciel membiarkan Sebastian mengantarkan dirinya sampai ke kediaman Phantomhive.

"Jadi ini rumahmu ya Ciel?" ujar Sebastian yang sedikit terkagum-kagum ketika melihat mansion keluarga Phantomhive.

"Iya," jawab Ciel dengan singkat dan padat.

"Kau tinggal sendirian di sini?" Tanya Sebastian yang kini melirik ke arah pemuda kecil itu.

"Tidak, ada beberapa pelayan di sini dan juga aku tinggal bersama bibiku, Angelina Durless."

"Oh," Sebastian hanya ber-oh ria ketika mendengar jawaban yang keluar dari bibir mungil Ciel dan perlahan ia berjalan mendekati Ciel.

"Maaf soal yang tadi siang ya Ciel…" ujar Sebastian dan bisa terlihat sekarang air muka Sebastian berubah jadi sedikit menyesal.

"Harus berapa kali kau meminta maaf hah?" Tanya Ciel sambil menatap Sebastian dengan tatapan kepada orang aneh.

"Hahahaha… ya sudah lebih baik kau masuk nanti bisa kedinginan jika terus diluar sini," Sebastian hanya tertawa renyah.

Ciel agak terkejut ketika ia tahu Sebastian perhatian sekali dengannya. Jujur ini pertama kalinya Ciel mengetahui ada orang seperti Sebastian. Dengan suara yang malas Ciel hanya menjawab "Iya."

Saat Ciel mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam mansion langkahnya terhenti ketika ia merasakan tangan yang hangat menggenggam tangan miliknya.

"Tunggu Ciel, aku lupa satu hal," ujar Sebastian yang masih menggenggam tangan Ciel.

"Ada ap—" kalimat Ciel terputus ketika ia merasakan sebuah kecupan hangat mendarat di pipinya yang dingin karena angina malam musim gugur.

Setelah Sebastian melepaskan kecupan hangatnya dari pipi Ciel, ia hanya tersenyum pada pemuda bersurai biru kelabu itu dan Ciel hanya bisa memegang pipinya dengan semburat merah di pipinya.

"Ayo, lebih baik kau masuk. Udara semakin dingin," Sebastian tersenyum ramah pada juniornya ini lalu Ciel pun berjalan dengan cepat masuk ke dalam mansion. Setelah melihat Ciel masuk ke dalam mansionnya, Sebastian pun bejalan pergi dari kediaman Phantomhive menuju rumahnya yang hangat. Ia ingin segera menghangatkan tubuhnya di depan perapian.

Baik Sebastian maupun Ciel tidak tahu bahwa pertemuan ini merupakan awal dari segalanya dan Ciel sendiri pun tidak menyadari bahwa hatinya kini telah terjerat suatu benang laba-laba yang mungkin akan susah untuk dilepaskan.

.

.

.

TBC— tuberkolo— eh! Salah! Ralat! To Be Continue_ #dihajar

.

.

.


A/N: Wohohohohoho! Akhirnya chapter ke-2 jadi sudah~ hehehehe gimana? Baguskah? Maaf ya kalo kesannya jadi kecepetan. Pas pertama kali baca nih fic aku mikirnya Alois ama Ciel taruhan buat ngerebutin Sebas dengan cara-cara mereka. Apa bener ya? *dilempar sandal* baik~ untuk chap selanjutnya saya serahkan pada Voly Ichi Yama~ hehe ganbatte kak Voly! Kalo bingung mikirin Shou-chan aja. #ditabokShougo

Sekian dari saya dan met to REVIEW minna-san yang baik, yang cantik, yang ganteng? *dihajar readers*