HEUKSANDO STORY

Pairing: Park Jimin , Min Yoongi

And the other cast...

Genre: Romance, Family,Hurt, M-preg

Warning: BOY x BOY, TYPO BERTEBARAN, BTS SEVENTEEN CAST

Sebelum membaca, tolong perhatikan tahunnya ya...

Jeonukim's present

Chapter 2

Min Yoongi 26th

Park Jimin 30th

Jeon Jungkook 5th

Kim Mingyu 21th

Jeon Wonwoo 17th

.

.

[1997]

Setelah liburan musim panas nya bersama sang kakek di Mokpo, Yoongi kembali ke Seoul. Tidak ada yang lebih menggembirakan hatinya selain kepulangan sang ibu ke rumah. Ibu Yoongi, Lee Nara, bekerja di Jepang. Dan Yoongi hanya bisa bertemu ibunya hanya beberapa kali saja.

Pagi pagi sekali Yoongi kecil sudah membersihkan diri juga tempat tidur miliknya, meskipun hidup dengan banyak maid tak membuat Yoongi kecil menjadi manja. Bocah enam tahun itu bahkan bersemangat untuk membuat sandwich yang dibantu oleh seorang maid, menatanya sedemikian rupa di atas nampan dengan segelas jus jeruk tak lupa bunga mawar cantik yang ia petik di halaman belakang.

Paman Kim, kepala pelayan di rumah itu, mengatakan pada Yoongi jika ibunya akan datang pada pukul delapan nanti. Dan sekarang Yoongi sedang duduk manis di depan TV sembari menunggu kedatangan sang ibu. Yoongi sangat merindukan ibunya, sudah hampir satu tahun ibunya belum kembali, bahkan surat yang di kirimkan Yoongi tidak pernah di balas. Paman Kim membantu Yoongi menulis suratnya, anak itu bahkan menambahkan hasil karya mewarnai miliknya bersamaan dengan surat yang ia kirimkan.

Yoongi yakin ibunya sangat sibuk, jadi suratnya hanya dibaca lalu di simpan. Yoongi adalah anak yang penurut, tidak pernah sekali pun ia protes tentang pekerjaan ibunya. Apalagi bertanya kemana ayahnya pergi. Dulu saat usianya masih tiga tahun ia pernah bertanya pada ibunya perihal sang ayah, tapi hal itu hanya membuat ibunya marah, dan melekat di ingatan Yoongi kecil. Sejak saat itu ia berjanji untuk tidak bertanya tentang ayahnya, meskipun saat ini ia tau jika ayahnya pergi meninggalkan dirinya dan ibunya dan mungkin tidak akan kembali.

Sejak lahir hingga usianya tiga tahun, Yoongi tinggal bersama nenek dan kakek nya di Mokpo. Setelah neneknya meninggal, Nara membawa Yoongi untuk tinggal di Seoul hingga saat ini. Yoongi tentu saja mau, ia masih terlalu kecil hingga ajakan sang ibu ia terima dengan senang hati tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya.

.

Pukul delapan lewat, sebuah mobil terparkir di halaman rumah mewah yang di tinggali oleh Yoongi. Mendengar deru mesin mobil membuat Yoongi meloncat senang dari sofa dan berlari menuju pintu depan, membuat para maid tersenyum maklum dengan tingkah tuan muda kecil mereka itu. Benar saja dugaan Yoongi, ibu nya sudah datang.

"EOMMA! YOONGI KANGEN!" dengan semangat ia berlari untuk memeluk sang ibu yang baru saja keluar dari mobil.

BRUGH...

PLAK...

Namun, yang terjadi selanjutnya membuat siapa saja yang ada disana terkejut. Setelah di hempaskan ke tanah, Nara dengan teganya menampar buah hati nya sendiri.

"TUAN MUDA! YA TUHAN!" bibi Jung dengan sigap langsung berlari kearah Yoongi.

"ENYAH SAJA KAU DASAR ANAK NAKAL! AKU LELAH JADI PERGI SAJA SANA!" Nara langsung melenggang masuk tanpa peduli dengan anaknya yang terkejut dan menangis.

"Hiks... eomma...

hiks sakit...

sakit bibi Jung, hiks pipi Yoongi sakit hiks..."

Bibi Jung hanya bisa memeluk Yoongi dan menenangkannya, ia sungguh tak mengira Nara akan setega itu dengan anaknya sendiri.

"Bawa tuan muda masuk ke kamarnya, temani dia sampai keadaan membaik!" paman Kim mengatakan hal itu pada bibi Jung dengan nada sangat halus dan prihatin melihat sudut bibir Yoongi yang berdarah karena kerasnya tamparan sang ibu.

"Sudah ya sayang,jangan menangis lagi. Bibi akan obati bibirmu di kamar ya!"

Yoongi hanya mengangguk dan terdiam saat di gendong oleh bibi Jung, kepalanya terkulai lemas di pundak pengasuhnya itu.

.

"Bibi, kenapa eomma pukul Yoongi?" tanya anak itu setelah bibi Jung mengobati luka di bibir nya.

Bibi Jung agak bingung mau menjawab apa, namun setelahnya ia tersenyum dan mengelus kepala Yoongi sayang.

"Eomma sangat lelah setelah perjalanan jauh, mungkin saja eomma terkejut saat tadi Yoongi memeluk eomma. Jadi eomma tidak sengaja mendorong dan memukul Yoongi, Yoongi tidak marah sama eomma kan?" Yoongi terlihat berpikir.

"Tidak marah kok bi...

Yoongi nakal ya bi? Hiks Yoongi hanya rindu eomma! Hiks Yoongi nakal karena membuat eomma terkejut! Hiks Yoongi nakal!"

"Tidak, Yoongi tidak nakal sayang! Sudah ya jangan menangis lagi, nanti luka di bibir Yoongi tidak sembuh!"

Bukan ini yang bibi Jung inginkan, sungguh, jika Yoongi dewasa nanti bibi Jung ingin menjelaskan semuanya pada Yoongi. Tentang kenapa sang ibu seperti itu padanya. Namun Yoongi masih belum cukup dewasa untuk mengerti.

.

Setelah kejadian tempo hari, Yoongi menjadi pendiam dan bersikap agak takut pada ibunya. Bukan karena ia takut di pukul atau di marahi, ia hanya takut menjadi nakal seperti waktu itu. Bahkan saat makan bersama ibunya ia hanya diam saja, Yoongi sangat hati hati, bahkan untuk menatap ibunya saja ia takut. Takut ibu nya merasa terganggu.

Namun melihat ibunya membawa banyak koper dan memasukannya kedalam mobil membuat Yoongi tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Ibunya baru pulang kerumah selama tiga hari, kenapa sudah mau pergi lagi.

Dalam hati Yoongi memilih di acuh kan oleh ibunya di rumah, dari pada harus di tinggal pergi.

"Eomma mau kemana?" tanya Yoongi kecil takut takut.

Melihat hal itu Nara menghela nafas berat, ia tak ingin emosinya meluap seperti waktu itu. Perlahan Nara mensejajar kan tingginya dengan Yoongi dan memegang halus kepala anaknya itu. Dari jauh beberapa maid dan juga bibi Jung mengawasi, takut jika Nara melakukan hal kasar pada tuan muda mereka.

"Eomma harus bekerja lagi Yoongi, agar Yoongi tidak kekurangan apa pun. Eomma bekerja agar Yoongi bahagia, jadi Yoongi harus menjadi anak baik ya selama eomma tidak ada!"

Kedua mata Yoongi sudah berkaca kaca, hati nya sakit, dan yang lebih parah lagi anak itu benar benar takut jika ibunya pergi meninggalkannya.

"Hiks eomma jangan pergi... hiks eomma di sini saja hiks temani Yoongi hiks..."

"Kalau eomma tidak bekerja nanti Yoongi tidak bisa beli mainan yang bagus bagaimana?" Yoongi pun menggeleng.

"Yoongi tidak mau mainan! Yoongi mau eomma!"

Nara tertegun, hatinya sakit.

Yoongi adalah anaknya, darah dagingnya. Dan dia adalah seorang ibu yang buruk, Nara merasa sangat bersalah akan hal itu. Tapi sesuatu yang tiba tiba menyeruak dalam ingatannya membuat Nara membuang jauh rasa bersalahnya itu.

Dan dalam sekali sentakan yang lumayan kuat, Nara melepas tangan mungil Yoongi yang berada di lengannya.

"Maaf Yoongi, eomma harus pergi!" ucap Nara datar.

Nara pun berjalan masuk kedalam rumah untuk mengambil sisa barang barangnya, mengabaikan Yoongi yang kini menangis dalam diam dan masih berdiri di depan mobilnya.

Tanpa mengucap salam atau sekedar mengecup pipi Yoongi, Nara masuk kedalam mobilnya dan pergi begitu saja.

Meninggalkan Yoongi yang menangis karena terluka, hati Yoongi terluka. Bocah enam tahun itu perlahan mulai mengerti jika ibunya kini membencinya, melihat sorot mata sang ibu yang sama sekali tidak menyiratkan rasa sayang padanya.

Disana, jauh di dalam lubuk hati Yoongi, anak itu terluka sangat dalam. Detik itu juga, rasa benci dan marah kepada ayahnya yang entah berada dimana mulai tumbuh. Dan akan terus tumbuh seiring dengan rasa sakit yang ia rasakan.

.

.

[2017]

Pagi itu Jimin terbangun bukan karena alarm di meja nakas nya, melainkan kegaduhan yang di buat oleh tuan rumah dan 'anaknya' di tempat tinggal barunya itu. Masih pukul enam, tapi ia sudah mendengar suara tanda tanda kehidupan yang cukup mengganggu. Jimin pun menghembuskan nafas dan terkekeh pelan, sungguh ia harus mulai terbiasa dengan semua ini.

Karena merasa tidak bisa memejamkan mata lagi, Jimin pun memutuskan untuk mandi. Dan pria itu hanya butuh waktu sepuluh menit hingga ia siap untuk keluar dari kamarnya dan bertemu dengan si pemilik rumah.

Jimin berjalan menuju ruang makan saat melihat Yoongi dan Jungkook disana.

"Selamat pagi Kookie~"

Jungkook yang sedang memainkan sereal nya mendongak dan tersenyum melihat kehadiran Jimin, meskipun baru dua hari tinggal disana Jungkook menjadi sangat akrab dengan Jimin.

"Pagi chim chim ahjusi~" Jimin terkekeh dan duduk di sebelah Jungkook.

"Chim chim? Jadi kau punya nama lain lagi selain 'ahjusi rambut es krim'?" kali ini Yoongi yang bersuara.

"Jujur saja panggilan 'ahjusi rambut es krim' itu menggangguku, jadi ku sarankan Jungkook untuk memanggilku Chim Chim. Ku rasa itu lebih baik, ya kan Kookie!"

"Ayyay kapten!" jawab Jungkook girang.

"Ku rasa tidak ada yang lebih baik, itu sangat menggelikan kau tau. Baiklah kau mau sarapan apa?"

"Apakah biaya sewa yang aku bayar juga termasuk dengan apa yang bisa aku makan?"

"Tidak, maaf aku tidak sebaik itu. Kau harus memenuhi kulkas, bergantian dengan ku! Minggu depan adalah tugas mu dan minggu depannya lagi aku, adil kan?"

Diam diam Jimin tersenyum mengagumi Yoongi yang kini dalam balutan apron biru muda nya.

"Baiklah setuju, tapi aku tidak bisa masak! Apakah aku harus membayar lagi jika aku memintamu untuk memasak untukku?"

Yoongi berbalik menatap ke arah Jimin dan memicingkan matanya tidak suka, namun setelahnya ia hanya menghela nafas kasar.

"Aku bukan maid, ingat itu. Karena aku masih memiliki hati nurani dan menghindari jika saja kau mencoba memasak dan menghancurkan dapurku, aku akan memasak untukmu dan tidak perlu membayar. Jadi anggap saja itu sebagai kebaikan hatiku, kau hanya perlu mengisi kulkas dengan bahan makanan!"

"Baiklah, aku setuju lagi, dan aku akan memakan apapun yang kau masak!"

Yoongi mendengus, ia merasa Jimin sedang membual padanya. Dan satu hal lagi yang membuat Yoongi semakin kesal adalah, Jungkook tak henti hentinya tersenyum lebar.

Setelah meletakan masakannya di piring, Yoongi berjalan ke meja makan meletakan masakannya juga menyiapkan peralatan makan. Tak lupa menyiapkan nasi untuk dirinya dan Jimin. Jungkook sendiri tidak pernah suka jika harus sarapan dengan nasi, mirip sekali dengan dirinya saat masih kecil.

"Baiklah, kita sarapan dengan sup ayam. Suka tidak suka itu urusanmu!"

"Aku suka, aromanya enak, terimakasih!" jawab Jimin dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajah tampannya itu, membuat Yoongi gemas ingin melemparnya dengan piring.

"Dan kau kelinci kecil, berhenti memainkan sarapanmu, cepat habiskan jika kau tidak mau terlambat sekolah!" yang di tegur hanya tersenyum semakin lebar.

"Kookie, berhenti tersenyum, itu sangat menakutkan!"

Jujur Yoongi heran, Jungkook tak pernah seceria ini di pagi hari. Anak itu selalu saja mengeluh tidak mau berangkat ke sekolah, tetapi pagi ini berbeda. Jungkook bahkan bangun sangat pagi dan membuat kegaduhan, anak itu mengatakan jika ia ingin berangkat sekolah.

"Kookie sekolah dimana?" tanya Jimin setelah menelan makanannya.

"TK Bangtan!" seru Jungkook dengan mengangkat sendoknya membuat beberapa tetes susu jatuh ke meja makan.

"Apa itu jauh? Aku tidak tau jika di sekitar sini ada sekolah!" tanya Jimin pada Yoongi.

"Lumayan jauh, biasanya Jungkook akan di jemput oleh Jeonghan karena anak nya juga bersekolah di tempat yang sama. Kebetulan sekali Jeonghan tinggal beberapa blok dari sini!"

Jimin tampak sedang berpikir, bahkan pria itu belum menyentuh makanannya lagi.

"Bagaimana kalau ku antar? Aku ingin ke Mokpo untuk membeli beberapa barang, mungkin aku bisa menjemput Kookie juga ketika pulang!"

"Mau mau! Kookie mau ahjusi!"

"Eh, tidak kah itu merepotkan?"

"Tentu saja tidak! Ya kan Kookie?"

"Tidak Tidak! Itu tidak merepotkan! Boleh ya Mommy!"

Yoongi bisa apa, Jimin tau bagaimana cara mendapatkan persetujuannya. Lewat Jungkook tentu saja, Yoongi terlalu lemah jika itu mengenai Jungkook.

"Baiklah, selama kau tidak keberatan!"

Kedua orang itu, Jimin dan Jungkook ber-high five ria. Yoongi merasa agak takut melihat Jungkook yang semakin akrab dan menempel dengan Jimin, ia hanya takut jika nantinya Jungkook tak mau menuruti ucapannya dan hanya menurut pada Jimin.

.

Setelah sarapan selesai, Jungkook dengan semangat menarik Jimin menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya. Setelah mobil Jimin keluar, anak itu bergegas naik dengan ransel di punggung mungilnya.

"Kookie jangan lupa habiskan bekal mu!" ucap Yoongi di depan pagar.

"Da Mommy! Kajja ahjusi!" teriak Jungkook pada Jimin yang masih menutup pintu garasi.

"Huh, sekarang kau lupa padaku ya setelah ada Jimin! Sedih sekali!" Yoongi pura pura sedih.

Jungkook terkikik geli lalu membuka pintu mobil dan turun untuk memeluk Yoongi, Yoongi sendir mensejajarkan tubuhnya di depan 'anaknya' itu.

"Cium cium dulu Mommy! Muah! Jangan marah ya Mommy sayang! Kookie berangkat dulu, bye bye!"

"Hati hati!" setelah mencium pipi Jungkook, Yoongi melepaskan pelukannya dan bocah kecil itu berlari lalu masuk kedalam mobil Jimin.

Jimin yang melihat nya dari belakang tersenyum hangat, andai saja ini adalah keluarganya, maka hidupnya pasti sangat bahagia. Lalu terlintas sebuah ide dalam otaknya, menggoda Yoongi terdengar menyenangkan.

"Manis sekali, aku jadi iri.

Apa aku juga dapat cium?" goda Jimin yang baru saja selesai menutup garasi.

"Kau mau mati ya!" sinis Yoongi.

"Kita ini terlihat seperti keluarga kan, ah, mungkin mulai saat ini aku harus memanggilmu 'yeobo'!"

Gyut~

"Yak! Appo!" satu cubitan mendarat mulus di lengan Jimin membuat pria itu meringis.

"Kau benar benar mau mati ya? Sungguh jika kau macam macam lagi akan ku bakar semua barang barangmu di rumahku!"

"Tidak, maaf aku hanya bercanda Yoongi! Aku berangkat ya, jangan merindukanku!"

"YAK PARK JIMIN!"

Yang di teriaki dengan santainya masuk kedalam mobil dan melambai sebelum menjalankan mobilnya, tak lupa memasangkan seatbelt pada Jungkook yang kini tengah tersenyum tidak jelas.

Setelah mobil Jimin pergi Yoongi masih saja berdiri disana, mengumpati Jimin tentu saja. Meskipun mengumpat, wajah dan jantungnya tidak bisa di ajak berkompromi. Wajahnya memerah dan jantungnya berdegup cepat Yoongi tidak suka ini. Baru saja Jimin menggodanya dan ia bisa bisanya merona seperti seorang gadis, sungguh menyebalkan.

Tak lama setelah Yoongi menutup pagar, mobil Jeonghan datang.

"Lho, mana Kookie?" tanya Jeonghan setelah membuka kaca mobil nya.

"Sudah berangkat, maaf ya Hannie aku tidak mengabarimu dulu!"

Jeonghan mengerutkan dahinya, sementara putranya, Seungkwan, terlihat acuh dan sibuk dengan game di kursi penumpang.

"Ah, jadi benar gosip para tetangga tentang kekasih baru mu hyung. Baguslah, aku turut senang!"

Yoongi membolakan matanya terkejut, gosip? Kekasih baru?

"Gosip apa? Dan siapa yang kau sebut kekasih baruku?" Jeonghan terkekeh melihat ekspresi Yoongi.

"Para tetangga membicarakanmu hyung! Mereka bilang ada yang baru pindah ke rumah mu dan orang itu adalah seorang laki laki yang tampan, jangan salah kan mereka jika menganggap dia itu adalah kekasihmu!"

Yoongi benar benar tak menyangka akan menjadi seperti ini, dan lagi lagi Jeonghan tergelak melihat wajah Yoongi.

"Itu tidak benar Jeonghan! Dia hanya teman yang sementara tinggal di rumahku sebelum menemukan tempatnya sendiri!"

"Jadi begitu, baiklah, aku senang setidaknya kau punya teman selain Kookie saat di rumah. Dan tidak sabar ingin melihat wajahnya, menurut orang orang dia sangat tampan!"

"Seungcheol akan kecewa mendengar hal itu dari mulut cantik mu Hannie! Sudah sana, Seungkwan bisa terlambat!"

"Okke, bye hyung! Salam untuk teman tampan mu ya!" Jeonghan pun menjalankan mobilnya menjauh dari rumah Yoongi.

"Ya tuhan anak itu! Kenapa dia jadi genit seperti itu sih, dia kan sudah punya suami untuk apa menanyakan Jimin."

Setelah apa yang ia ucapkan Yoongi merona dengan sendirinya, ia terdengar seperti seorang istri yang sedang cemburu karena teman nya menanyakan suaminya.

Damn, ini tidak boleh terjadi. Seharusnya ia tidak peduli kan jika ada yang menanyakan Jimin, Yoongi merasa ia harus hati hati mulai sekarang.

Dan dengan pikirannya yang carut marut itu, Yoongi melangkah masuk kedalam rumahnya.

.

.

.

Pintu gerbang di sebuah sekolah SMA elit itu terlihat sangata ramai karena kini waktunya untuk pulang, sebagian besar dari mereka akan pulang dengan mobil yang mereka bawa atau pun menunggu supir mereka datang. Namun tak sedikit juga yang membawa sepeda, dan itu di lakukan oleh para siswa yang tempat tinggalnya tak terlalu jauh dari sana.

Pemuda berkacamata itu, Jeon Wonwoo, seorang siswa kelas tiga yang cukup pintar. Wonwoo berjalan menuju pintu gerbang dengan membawa beberapa buku yang cukup besar, membuatnya tak begitu memperhatikan sekitar karena sibuk dengan buku buku itu.

Sesekali Wonwoo melihat kesana kemari untuk mencari mobil ayahnya, namun tak terlihat tanda tanda kehadiran mobil itu disana. Saat Wonwoo melihat kearah jam tangan milik nya yang menunjukan pukul empat sore, pemuda berkacamata itu mengernyit bingung. Kenapa ayahnya belum juga datang,tidak biasanya ia terlambat dan absen untuk menjemput Wonwoo di sekolah. Ya, kecuali saat ayahnya harus bekerja di luar kota ataupun luar negri. Maka supirnya yang akan menjemput, tapi kali ini Wonwoo benar benar tidak menemukan mobil yang ia kenal.

Tanpa Wonwoo sadari seseorang dengan masker hitam dan topi yang menutupi wajahnya terus mengawasi dirinya. Dan dengan gerak cepat, orang itu menarik Wonwoo untuk menjauh saat suasana sudah lumayan sepi.

"YA! BERHENTI! YA KAU MAU MEMBAWAKU KEMANA! YA! DASAR PENCULIK LEPASKAN AKU! TOLONG!" tentu saja Wonwoo panik, orang yang tidak ia kenal itu menarik dirinya entah kemana.

Cengkraman di tangan kiri Wonwoo sangat lah kuat, membuat siswa kelas tiga itu terpaksa ikut berlari jika tak ingin jatuh ke tanah.

Setelah lari ketempat yang cukup jauh dan Wonwoo yang mulai kehabisan nafas, orang itu berhenti dan membawa Wonwoo untuk duduk di sebuah bangunan tua yang hanya tinggal puing puing saja. Setelahnya orang itu membuka snap back yang ia kenakan tak lupa masker hitam yang menutup setengah dari wajahnya. Wonwoo di buat terkejut dengan wajah orang itu, wajah yang ia kenal.

"Mi-Mingyu hyung!" ucap Wonwoo sembari mengatur nafasnya.

Mingyu tersenyum dan berjongkok di depan Wonwoo yang terduduk.

"Maaf mengejutkanmu! Aku tidak melihat mobil tuan Jeon, jadi aku harus bergerak cepat sebelum mereka datang!" senyuman tulus Mingyu membuat pipi Wonwoo merona.

"Ah ya, benar, sepertinya Appa sedikit terlambat! Ada apa hyung?"

Mingyu tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaket yang ia kenakan.

"Jimin hyung ingin aku memberikan ini pada mu!"

Sebuah amplop coklat berukuran sedang yang sedikit tebal karena pengaruh isi di dalamya.

"Apa ini?" Mingyu hanya menggeleng.

"Aku tidak tau Wonu~ah, Jimin hyung hanya mengatakan jika ini milikmu dan menyuruhku untuk memberikannya padamu!"

Wonwoo hanya terdiam memandang amplop itu, dan sejenak pikirannya mengingat sosok Jimin.

"Hyung! Apa sudah saatnya aku bertemu dengan Kookie?" tanya Wonwoo dengan wajah sendu mengingat sang adik.

Mingyu menghela nafasnya pelan, lalu perlahan ia meraih tangan kiri Wonwoo dan menggenggamnya erat.

"Belum sayang, bersabarlah sedikit lagi. Kita harus melakukannya perlahan, karena jika kita gegabah maka ayahmu akan mengetahui semuanya. Dan kau pasti tau apa yang akan terjadi kan?" Wonwoo mengangguk pelan dan membalas genggaman Mingyu pada tangannya.

"Ya hyung...

Hyung sebelum kau pergi, boleh aku minta sesuatu?" tanya Wonwoo dengan kepala tertunduk.

"Tentu!"

Wonwoo tidak mengatakan apapun, ia hanya langsung menarik Mingyu untuk berdiri dan memeluk laki laki yang lebih tinggi darinya itu.

"Aku merindukanmu hyung!"

Hati Mingyu menghangat, sebelah tangannya ia gunakan untuk mendekap Wonwoo lebih dekat dan yang lainnya mengelus sayang surai hitam milik Wonwoo.

"Aku juga sayang, aku sangat merindukanmu!"

Kesalahan,

Apa yang Mingyu lakukan adalah sebuah kesalahan. Bagaimana ia berakhir dengan menumbuhkan perasaannya kepada anak dari tuannya yang kejam. Mingyu di besarkan dan di didik untuk menjadi seorang pengawal, dan saat usianya menginjak empat belas tahun ia sudah bekerja untuk keluarga Jeon.

Dan Tuan Jeon bukanlah orang yang baik, beliau memanfaatkan para pengawal nya untuk melakukan hal hal kotor.

"Sebentar lagi Wonu~ah, hanya sebentar lagi. Aku janji setelah ini kau tidak akan menderita lagi! Aku janji!"

Wonwoo mengangguk samar dalam pelukan Mingyu, janji Mingyu sudah cukup memberinya kekuatan untuk bertahan dalam keluarganya yang kejam.

.

Setelah memastikan Wonwoo masuk kedalam mobil ayahnya dari kejauhan, Mingyu bergegas untuk pulang. Laki laki itu meninggalkan van nya tak jauh dari sana, dan perjalanan nya menuju Heuksando pastinya masih sangat jauh.

Mingyu terus saja meyakinkan hatinya jika apa yang telah ia lakukan selama ini merupakan suatu hal yang benar, dan ia yakin semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana yang telah Jimin buat. Meskipun hatinya berat meninggalkan Wonwoo yang bisa saja celaka setiap waktu, mengingat perilaku ayahnya yang bahkan tak segan untuk membuang putra kecilnya, Jungkook.

Jika mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Park Jimin, hal itu membuat Mingyu malu pada dirinya sendiri. Bisa di katakan pertemuan mereka merupakan suatu hal yang tidak pernah Mingyu bayangkan, disaat dirinya telah kehilangan hati nurani dan yang ada hanya dendam.

.

.

.

[2013]

Wajahnya terpatri datar dan dingin seperti biasanya, dia Kim Mingyu, berjalan dengan tegap menuju sebuah ruangan yang di depan pintu masuk nya di jaga oleh dua orang yang Mingyu kenal. Tak perlu meminta izin, karena dua orang itu juga mengenal Mingyu dan langsung memberikan akses jalan masuk untuknya.

Mingyu melangkah kan kakiknya perlahan menuju pusat di ruangan tersebut dan menemukan sang Tuan yang sedang membaca koran paginya ditemani secangkir teh yang berwadahkan cangkir porselen mahal nan mewah.

"Ah, Mingyu...

Masih sedingin biasanya,

dan ya sudah seharusnya pengawal terbaikku seperti ini...

Duduk lah, aku ingin memberikanmu sebuah pekerjaan!"

Tidak mengeluarkan pertanyaan apapun dan Mingyu hanya duduk menunggu Tuannya untuk memulai. Sebelum Tuannya memulai pembicaraan, sebuah map berwarna merah di letakan di hadapannya. Tanpa harus di perintahkan, Mingyu langsung membuka map tersebut dan membacanya.

"Aku selalu suka dengan kinerjamu selama ini Mingyu, karena kau selalu berhasil membuat perusahaan sainganku gulung tikar tanpa harus berurusan dengan polisi. Tapi kali ini aku ingin kau melenyapkan seseorang dengan tanganmu sendiri. Dia bukan lawan yang mengancam perusahaanku seperti yang biasa kau tangani, tapi dia adalah penghalang bagi orang terpenting dalam hidupku! Dia benalu yang harus kau musnahkan, bunuh dia! Kau bisa membawa teman, pilih saja siapa yang akan menemanimu, aku percaya padamu nak!"

Mingyu menatap pria di hadapannya sejenak sebelum bicara.

"Saya akan melakukannya tuan!"

"Bagus, bagus Mingyu! Aku selalu suka dengan persetujuan, kau memang mirip dengan ayahmu! Aku tau aku bisa mengandalkanmu seperti aku mengandalkan Kim Jongin!"

Mata Mingyu menyalang dan rahangnya mengeras setelah mendengar nama ayahnya keluar dari mulut tuan Jeon, namun ekspresi wajahnya tetap datar. Rasa sakit yang menggerogoti hatinya masih bisa ia rasakan dengan sangat jelas saat ia mengingat bagaimana rupa sang ayah.

Ayah Mingyu, Kim Jongin, merupakan seorang pengawal terbaik yang pernah tuan Jeon miliki. Dan kini putranya, Kim Mingyu juga telah ia miliki. Mingyu tumbuh dengan bayak dendam di dalam hatinya, namun itu semua ia pendam sendiri.

Katakan saja jika tuan Jeon adalah manusia paling biadab yang pernah ada, begitulah pemikiran Mingyu setelah kematian sang ayah. Ayahnya dengan segala rasa hormat dan kesetiaannya membela tuan Jeon, namun tuan Jeon bahkan tega menjadikannya sebagai umpan untuk di telan oleh binatang buas.

Untuk memperluas perusahaannya, tuan Jeon harus berurusan dengan sebuah geng mafia yang sangat kejam. Pria itu dengan segala keegoisannya memerintahkan Kim Jongin untuk melawan mereka, meskipun Jongin menolak karena ia tak akan sanggup melawan kelompok itu. Mereka terlalu kuat. Terlebih lagi, Jongin tak mungkin merelakan nyawanya. Ia memiliki keluarga, dan Jongin tidak pernah ingin meninggalkan mereka.

Tuan Jeon dengan segala ambisi dan keegoisannya membutakan mata dari hal itu, dan mengancam keselamatan keluarga Jongin jika laki laki itu tak mau melaksanakan perintahnya. Tentu saja Jongin sudah tau jika ia benar menolak, maka anak dan istrinya akan direnggut darinya. Hal itu membuat dirinya menyetujui permintaan tuan Jeon, dan berusaha sekuat tenaga mengalahkan geng mafia itu.

Meskipun pada akhirnya Jongin dapat menghabisi para mafia itu, Jongin juga meregang nyawa karena terluka cukup parah. Dan tuan Jeon pun mendapatkan apa yang di inginkannya.

Setelah kepergian Jongin, tuan Jeon membawa Mingyu untuk di didik sebagai pengawal. Tentu saja Mingyu harus berpisah dengan ibunya, meskipun sempat menolak, apa daya tuan Jeon selalu menggunakan kuasanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tuan Jeon mengancam akan membunuh Kyungsoo, ibu Mingyu, jika Mingyu tidak mau ikut dengannya.

Namun, setelah satu tahun Mingyu ikut dengan tuan Jeon, ibunya meninggal karena sakit. Sakit yang disebabkan oleh kematian suaminya dan anak satu satunya yang ia miliki di bawa pergi oleh pria yang berkuasa itu. Sejak saat itu Mingyu telah kehilangan segalanya, bahkan semua perasaannya. Membuat nya tumbuh menjadi seseorang yang dingin dan sedikit kejam.

.

Dan disinilah Mingyu sekarang, berdiam diri mengawasi sebuah rumah tempat dimana target nya tinggal. Mingyu tidak sendiri, ia di temani dua orang rekan nya yang juga bekerja untuk tuan Jeon.

"Kapan kita habisi dia Gyu?" tanya salah seorang rekan Mingyu.

"Saat malam tiba, karena daerah ini sangat sepi saat malam hari. Aku sudah melakukan survey dua hari belakangan ini, dan itu akan sangat mudah karena dia tinggal sendirian."

Dua orang itu hanya mengangguk paham. Sebenarnya usia mereka lebih tua dari Mingyu, namun mereka sangat menghormati Mingyu karena kemampuannya yang hebat. Benar benar mirip dengan ayahnya, bahkan menjadi pengawal favorit tuan Jeon.

Mingyu berencana untuk membuat sebuah pembunuhan yang dimanipulasi menjadi bunuh diri, setidaknya polisi tidak akan langsung mengetahui jika hal itu adalah sebuah pembunuhan. Dan ketika mereka menyadarinya maka Mingyu sudah menang karena pergi tanpa meninggalkan jejak dan tak terlacak.

Mingyu memang membenci tuan Jeon, namun ia belum melakukan balas dendam karena menunggu waktu yang tepat. Bahkan, Mingyu sudah memiliki rencana yang sangat matang untuk membalaskan dendamnya pada tuan Jeon. Sementara, saat ini ia hanya mengikuti alur yang telah di buat oleh pria itu. Mingyu memang tidak begitu tau tentang siapa sebenarnya orang yang menjadi target nya kali ini, namun satu hal yang ia tau jika orang ini memiliki hubungan dengan kekasih gelap tuan Jeon.

.

Malam menjelang dan Mingyu sudah mempersiapkan segalanya, sisanya yang harus ia lakukan hanyalah sebuah eksekusi. Dua rekannya ia perintahkan untuk masuk terlebih dulu dan menyekap target mereka, baru setelah itu Mingyu yang akan mengurus sisanya. Tanpa Mingyu sadari, ada orang lain yang tengah memandang ke arahnya jengah.

Dua rekan Mingyu berpura pura datang untuk menanyakan sebuah alamat, lalu ketika targetnya lengah sebuah sapu tangan yang telah diberi obat bius menyekapnya. Setelah membawa targetnya masuk, Mingyu mendapatkan panggilan dari dua rekannya itu.

Dengan semua peralatan yang telah ia siapkan, Mingyu melangkah santai masuk kedalam rumah targetnya. Semuanya terjadi begitu cepat, dan Mingyu di buat terkejut dengan keadaan dua rekannya yang sudah terjerembab di lantai dengan bersimbah darah.

Mingyu mengedarkan pandang keseluruh penjuru rumah sederhana itu, yang ia temukan hanya calon korbannya yang tertidur di atas sofa juga dua rekannya yang mungkin sudah tak bernyawa. Merasakan ada sebuah pergerakan dari arah belakangnya, Mingyu dengan sigap menghindar saat orang itu dengan gesit mengarahkan sebuah pisau padanya.

Terjadilah sebuah pergulatan sengit antara keduanya, saat lengan nya berhasil tergores dengan pisau, Mingyu menjadi sangat marah dan dengan brutalnya berusaha membunuh orang itu. Namun Mingyu masih kalah dengan lawannya karena ia terbiasa menggunakan alat seperti pistol saat berkelahi. Saat di serang tanpa persiapan nyatanya Mingyu menyerah.

"Jangan pernah sekalipun tangan kotor mu menyentuh Yoongi ku, atau kau akan bernasib sama dengan dua teman bodohmu itu bocah!" Mingyu tersenyum sinis melihat lawan nya.

"Habisi aku tuan, kalau kau mau, kau juga harus menghabisi tuanku setelah ini!"

"Siapa yang sudah memerintahkanmu?"

"Tuan Jeon Woyoung!"

"Ck, bajingan tua itu mau main main rupanya..."

Mingyu tergeletak di lantai dengan luka tusukan di perutnya, darah mengalir dari bekas tusukan itu, bahkan mulutnya mulai mengeluarkan darah juga saat ia terbatuk. Mingyu sudah pasrah, jika memang takdirnya untuk mati sebelum membalaskan dendamnya, maka ia akan menerima. Hidup terlalu lama juga tak ada gunanya bagi Mingyu, ia hanya ingin cepat bertemu dengan ayah dan ibunya.

Namun yang terjadi selanjutnya membuat Mingyu terkejut, orang yang tadi berusaha untuk membunuhnya kini menggendong diri nya dan memasukkannya kedalam sebuah mobil. Bahkan Mingyu sempat melihat ada beberapa orang yang memindahkan mayat dua rekannya serta membersihkan noda darah di lantai rumah itu. Sampai kesadarannya mulai menghilang.

.

Perlahan mata Mingyu terbuka dan netra itu menangkap keadaan yang asing. Dia berada di sebuah kamar dengan peralatan medis yang melingkupi dirinya.

Seseorang yang sedari tadi duduk di sofa tak juah dari tempat tidur Mingyu menurunkan koran yang sedang ia baca, tersenyum sinis melihat Mingyu yang masih belum menyadari keberadaannya.

"Jika kau bertanya dimana kau sekarang, aku akan menjawab jika tempat ini bukan lah rumah sakit!"

Sontak Mingyu mengalihkan pandangannya pada sosok yang duduk di sebuah sofa dengan tenang.

"S-siapa kau?"

"Park Jimin! Orang yang kemarin menusukmu di rumah seseorang yang akan kau bunuh!"

"Kenapa kau tidak membiarkan aku mati?"

Orang itu, Park Jimin, kini mulai beranjak dari sofa dengan seringai khas miliknya.

"Terlalu berharga untuk ku biar kan mati, bahkan kau belum sempat membalaskan dendam mu pada si tua bangka Jeon itu kan?"

Mingyu terkejut, dari mana laki laki ini tau tentang niat balas dendamnya pada Tuan Jeon.

"Aku tau semuanya Mingyu! Dirimu, bahkan keluargamu."

"Cepat katakan apa yang kau inginkan!"

"Jadilah temanku..."

Mingyu tertegun, sembari melihat lagi wajah orang yang kini tengah berdiri di samping nya.

"Apa untung nya jika aku menjadi temanmu? Dan bagaimana bisa aku percaya padamu, bisa saja kau hanya ingin memanfaatkanku seperti si bedebah Jeon itu!"

Bukannya marah atau merasa tersinggung, kini Jimin malah makin mendekat kearah Mingyu dan terkekeh pelan. Perlahan ia meletakan satu tangannya di atas surai kecoklatan milik Mingyu, dan pandangannya berubah menjadi teduh.

"Aku tau selama ini hidup mu sulit, tapi ku mohon sekali ini saja percaya lah padaku. Anggap saja aku ini hyung mu. Dan kita buat si tua bangka Jeon itu mengerti bagaimana rasanya menderita. Arrachi?"

Entah sadar atau tidak, Mingyu menganggukan kepala nya patuh. Bahkan ia tetap diam saat sosok itu mengacak surai nya pelan. Yang Mingyu tau, senyum laki laki itu sangat teduh dan menenangkan. Membuat Mingyu merasakan kembali rasanya di pedulikan.

Perlahan Mingyu membalas senyum Jimin, membuat Jimin lebih melebarkan senyumannya. Dan ini lah kali pertama Mingyu tersenyum tulus setelah kematian kedua orang tuanya.

.

.

[2017]

Hari hari yang Jimin lewati selama tinggal di rumah Yoongi berjalan dengan baik, bahkan Jungkook menerimanya dengan tangan terbuka. Anak itu jadi semakin menempel dengan dirinya, membuat Yoongi cemburu tentu saja. Dan Yoongi sendiri masih saja bersikap sok tidak peduli padanya, membuat Jimin setengah mati menahan diri untuk tidak 'menelan' Yoongi bulat bulat.

Sebuah hasrat yang sudah bertahun tahun Jimin pendam untuk Yoongi, yang kini menjadi semakin kuat setelah ia berhasil memasuki kehidupan namja cantik itu. Kenyataan jika Yoongi tak pernah sekalipun mengingat dirinya, sedikitnya membuat Jimin geram. Dan hal itu membuat Jimin ingin segera menjadikan Yoongi sebagai miliknya, seutuhnya. Sebelum itu, Jimin harus menyelesaikan dulu banyak kekacauan yang mungkin saja bisa merenggut Yoongi dari nya. Lagi...

.

Terlepas dari segala urusan yang membuat kepala Jimin pening, laki laki tampan itu kini tengah mendinginkan kepalanya dengan melakukan sebuah hobi yang Yoongi ketahui sebagai pekerjaannya.

Jimin membuat sketsa tipis di atas kanvas lukisnya, masih berupa goresan abstrak tanpa bentuk. Hingga ia menyadari keberadaan Yoongi yang kini tengah memperhatikannya dari samping, namja manis itu berdiri tak jauh dari tempat Jimin dan memperhatikan pola yang Jimin buat di atas kanvas.

"Merindukanku?" ucap Jimin tanpa menoleh ke arah Yoongi.

Yoongi sendiri agak terkejut dengan ucapan Jimin, namun ia mencoba untuk tetap terlihat biasa saja.

"Dalam mimpimu!"

"Lalu, untuk apa berdiri disana?"

"Hanya ingin tau seperti apa lukisanmu, apa itu salah?" Jimin pun menorehkan seringai tipis dibibirnya.

"Kau sepertinya meragukanku."

"Tidak juga, untuk apa aku meragukannya?"

Setelah Jimin memutar kursinya untuk menghadap Yoongi, laki laki itu bangkit mendekati Yoongi yang kini tengah menatapnya penuh selidik.

"Apa?" tanya Yoongi dengan nada sinis setelah Jimin berdiri tepat di hadapannya.

Yoongi sangat membenci saat saat dimana ia harus terkagum dengan fisik seorang Park Jimin, bahkan tak jarang ia menahan nafas nya saat berada di dekat Jimin. Dengan hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya di gulung sampai ke siku, dan celana selutut yang sangat pas di tubuh atletis nya. Park Jimin terlihat sangat sempurna, dan hal ini membuat Yoongi ingin lari dari sana sekarang juga.

Bukannya menjawab pertanyaan Yoongi, Jimin malah mendekatkan wajahnya mengamati sosok cantik di hadapannya itu.

"Ada yang salah dengan wajahku tuan Park?" Jimin menggeleng pelan dan tersenyum.

"Cantik..." seketika pipi Yoongi merona.

"S-siapa yang kau sebut cantik?"

"Kau!"

"Ck, kau mencoba merayu ku lagi ya? Kebiasaan buruk mu itu harus nya kau hilangkan jika tidak ingin ku tendang keluar dari rumah ini!"

"Apa aku terlihat seperti sedang merayu?"

"Ya, dan itu selalu kau lakukan!"

"Dan itu selalu membuatmu merona!"

Dan Yoongi tidak tau harus menjawab apa, menyangkalnya pun percuma. Wajahnya kini tak bisa berbohong, sudah semerah kepiting rebus. Dan yang ingin Yoongi lakukan sekarang hanyalah pergi dan menjauh dari Park Jimin.

"Kembali lah dengan pekerjaanmu, maaf sudah mengganggu, aku harus pergi!"

Sebelum Yoongi beranjak, satu tangannya sudah di tarik pelan oleh Jimin membuat jarak mereka menjadi sangat dekat. Bahkan dengan jarak sedekat ini, Yoongi bisa mencium aroma parfum Jimin.

Aroma yang memabukan...

"Aku serius saat mengatakan jika kau ini cantik Yoongi, jangan anggap itu sebagai rayuan. Dan..." satu tangan Jimin meraih pipi Yoongi mengusapnya pelan hingga membuat Yoongi menahan nafas.

"Aku ingin menjadikan kecantikanmu ini sebagai lukisanku!"

Sadar atau tidak, kini Yoongi memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan Jimin di pipinya. Membuat Jimin menyeringai penuh kemenangan dan mulai mengikis jarak di antara mereka.

Perlahan, bibir Jimin menyentuh manis dan lembutnya bibir plump Yoongi. Hanya sebuah kecupan hangat namun dalam, Jimin mempertahankan kehangatan itu sebelum melanjutkannya.

Merasa tidak mendapat penolakan, Jimin mulai memainkan lidah nya, mengetuk pintu yang masih tertutup dan meminta izin untuk masuk kedalam gua hangat itu. Yoongi melakukannya, bibir plump itu terbuka membuat sang tamu melesat masuk mengekspose seluruh ruangan yang ada.

Rasa gelenyar hangat merambat ke seluruh tubuh Yoongi, memberikan impuls pada kedua tangan nya untuk berpegangan pada pundak kokoh milik Jimin. Yoongi merasakan sebuah kehangatan yang tak asing, sebuah kehangatan yang selalu ia damba. Namun Yoongi sendiri sulit mendeskripsikan dari siapa kehangatan itu berasal, hanya sebulir ingatan tentang rasa nyaman dan kehangatan yang pernah melingkupinya.

Kedua tangan Jimin kini telah menyamankan posisi pada pinggang ramping milik Yoongi, memeberinya sedikit remasan dan membawa tubuh itu untuk lebih dekat dengannya.

Jimin tersenyum dalam ciuman mereka, merasa menang karena miliknya telah kembali. Dan bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak melepaskan Yoongi, sampai kapanpun.

Yoongi sendiri sudah kehilangan akal sehatnya, entah kemana perginya kewarasan itu. Ciuman Jimin melenakan dirinya, bahkan kini kedua tangan Yoongi sudah mengalungkan diri di leher tegas Jimin.

"Mom?"

Suara kecil Jungkook menyeret paksa keduanya menuju daratan, dan Yoongi langsung melepaskan diri dari Jimin dengan sekuat tenaga mendorong laki laki itu.

"Mommy dan Chim Chim ahjussi sedang apa?" tanya Jungkook tidak mengerti.

Baik Jimin maupun Yoongi terlihat bingung dengan pertanyaan Jungkook, hingga Yoongi memutuskan untuk membawa pergi Jungkook dari sana dan tentu saja mengalihkan pertanyaan bocah lima tahun itu.

"Ah, Kookie sudah pulang! Apa Jungkook pulang bersama Seungkwan?"

"Ne!"

"Kookie pasti lapar, ayo kita ke dapur. Aku baru saja membuat kue tart coklat kesukaanmu!"

Dan tawaran menggiurkan Yoongi membuat Jungkook lupa dengan pertanyaannya, selanjutnya bocah lima tahun itu meraih tangan Yoongi dan bertolak menuju dapur dimana kue tart kesukaannya berada.

Jimin yang di tinggalkan hanya tersenyum, berharap setelah ini Yoongi tak menjauhinya karena canggung. Terlebih setelah ciuman mereka tadi. Jimin mengakui jika dirinya tidak dapat menahan diri jika terlalu dekat dengan Yoongi, rasanya ia sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

TBC

.

.

.

.

.

FIRST OF ALL, HAPPY BIRTHDAY MIN YOONGI~~

LOVE YA, LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE~~~

Finally saya bisa update juga, maaf butuh waktu lama buat update,

Saya kadang suka gak sreg sama ff yang udah saya tulis, jadi suka rewrite

Makanya bikin update lama, but thanks to Minyoon moment yang lagi

ONFIRE, jadi moodboster banget buat nulis,

Pairing akan terus bertambah ya buat kedepannya,

And special thanks to:

Kyunie, Viyomi, sjhwmd, minyoon aegi, juliakie,

Hantu Just In, arMyJi, vip93,vtan368, Park RinHyun-Uchiha,

bittii,jimyoungi8895, amiodarxne,LittleDeviL94, Applepiee,

minshubble, Uozumi Han, Shim Chami, jenbwi, CrazyPrince,

taekookga, Jimsnoona, minyoonlovers...

Maaf gak bisa bales review nya satu satu, tapi saya baca review kalian ko,

Terimakasih untuk kritik dan sarannya, karena itu sangat membantu saya

Untuk memperbaiki ff saya kedepannya, dan saya akan coba lebih teliti lagi,

Sekali lagi terimakasih buat yang udah baca, review, ngefav, dan ngefollow,

Saya sangat menerima kritik atau pun saran, jadi bagi yang merasa ff ini banyak

Kurangnya bisa kasih kritik atau pun saran, sekali lagi terimakasih ya~~

Hope u enjoy to read this story, and see u on the next chapter,

Pay pay~~~~

...withloveJeonukim...