From white to Dark

(Chapter 2)

.

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning: typo(s), boring, etc!

.

.

Enjoy

.

.


Saat itu adalah satu malam di musim semi yang hangat, dimana angin bertiup dengan santai, menepuk rambut setiap orang dengan lembut dan menebar bau harum bunga plum yang baru saja memperlihatkan kelopaknya, mengembang penuh sukacita; tentu saja hal ini adalah kesempatan baik bagi siapapun untuk menikmati jalan-jalan keluar rumah tanpa terganggu dengan pekerjaan. Begitu pula yang Sakura dan Ino lakukan, meski malam telah tiba dan kehidupan jalanan yang lain telah dimulai, mereka masih saja menikmatinya: belanja, makan, nonton bioskop, dan lain sebagainya. Ayolah, kau tahu apa yang biasa dilakukan perempuan yang baru menginjak usia dua puluh empat tahun di saat-saat santai mereka.

Sebodoh sekali dengan kehidupan apalah itu yang bagi orang lain merupakan sebuah kecemasan tersendiri. Ingat, mereka para perempuan kuat yang terpilih menjadi ANBU, dan tak mungkin ada laki-laki—apalagi dari kelompok hitam dan geng jalanan yang sering berurusan dengan tinju (andalan Sakura) dan pistol mereka—yang mau mengganggu mereka. Well, jika ada cara-cara jitu bunuh diri bagi penjahat yang sudah kehilangan semangat hidup, mungkin menggoda mereka sudah menjadi cara manjur untuk mati.

"Maksudmu aku berada di level yang sama mengerikannya dengan dewa kematian, huh?"

Ino tertawa terbahak-bahak mendengar nada sewot dalam protes Sakura, segera setelah ia melontarkan candaan itu. Candaan basi dan konyol yang dibuat oleh orang-orang unit rahasia tersebut yang mengetahui bagaimana skill dan dedikasi mereka dalam pekerjaan. Bahkan senior sekelas Kakashi dan Asuma yang berpangkat tinggi sekalipun angkat tangan melihat amukan salah satu dari mereka—jika nama bisa memperlihatkan sebuah hint, maka nama itu adalah Ino—kala seorang pria mabuk random menggodanya di tengah jalan menuju misi dan berakhir dengan pingsannya si pria beserta bonyok memenuhi wajahnya.

Oh, jangan ingatkan Kakashi tentang hal itu dan biarkanlah dia tidur dengan tenang di meja kerjanya karena malam ini tokoh utama ada pada Sakura dan Ino. Dan bicara soal Ino, gadis yang kadang kala jalan pikirnya agak kacau dan 'ngawur' itu tiba-tiba mencetuskan sebuah ide, "bagaimana kalau kita sesekali menyusup ke tempat BAGUS, Sakura?"

Kernyitan menyambut ide tersebut. Sakura paham benar tempat bagus yang dimaksud Ino biasanya ada dua jenis: salon atau restoran mewah yang membuatnya meneteskan air mata karena melihat jumlah uang di dalam rekeningnya berkurang setengah, atau tempat yang biasa dijadikan pertukaran informasi para kelompok hitam—mulai dari geng kecil-kecilan, mafia, triad, yakuza, politikus yang bertugas mengontrol 'dunia bawah' Konoha seperti halnya Uchiha Itachi dan Shimura Danzo—ayah tiri Sai, serta pejabat kelas atas kepolisian dan militer yang entah apa tujuannya. Dan entah bagaimana, Sakura berharap kali ini yang dimaksud Ino adalah pilihan terakhir, karena pikirannya yang masih saja berkutat dengan kasus penembakan yang ditanggungnya. Oh, mau bagaimanapun rupanya sebuah refreshing tidak dapat mengalihkan pikiranmu dari pekerjaan, Sakura?

Namun rupanya Sakura beruntung kali ini; tebakannya benar adanya, dilihat dari cengiran lebar Ino. "Ada sebuah club disana," bisiknya sembari menunjuk ke gedung pencakar langit yang terlihat seperti sebuah hotel bintang lima, "para anggotanya, mulai dari pejabat pemerintahan hingga bos mafia sekalipun sering menggunakannya untuk bertukar informasi—tenang saja! Ruangannya dibuat temaram dan bahkan kita tidak bisa melihat wajah orang yang berkomunikasi dengan kita. Hanya dengan memakai wig saja, mengorek keterangan sedetil apapun mudah dilakukan!"

"Sungguh?"

"Tentu saja, aku dan Sai sering mengunjungi untuk mempermudah pekerjaan kami!" Ino mendorong bahu Sakura pelan, gemas dengan keraguan temannya pada informasinya, "dan di club itu juga ada Uchiha Sasuke."

Kernyitan tidak mengerti kali ini lagi-lagi menghampiri wajah imut Sakura, membuat Ino kembali mendorong pelan bahu perempuan bersurai pink itu. "Sebenarnya kau bekerja dengan Kakashi tidak, sih? Masa kau tidak kenal dengan kriminal yang memiliki catatan sekelam Sasuke!" diturunkannya lagi volume suaranya, kemudian gadis pirang itu kembali berbisik, seolah ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka.

"Uchiha Sasuke berasal dari klan Uchiha, klan yang—"

"Klan yang menjadi salah satu pendiri negara Konohagakure itu?! Yang isinya orang-orang pemerintah dan politikus itu?!"

Ino mengangguk walau tatapan matanya mulai berubah sewot akibat pemotongan kata Sakura. Meski begitu, ia kembali melanjutkan kalimatnya, "Dan ngomong-ngomong soal Sasuke ini, dia sebenarnya juga memiliki harapan besar untuk menjadi politikus handal; tapi dia mengkhianati harapan klannya dan menjadi ketua dari geng yakuza terbesar di Konohagakure, bahkan namanya sudah terdengar hingga Suna, Iwa, Ame, Getsu, dan bahkan di negara-negara besar! Yah, intinya dia adalah penjahat kelas kakap yang sudah terlibat dengan banyak sekali usaha ilegal dan merupakan cikal bakal berjayanya kelompok hitam di Konoha—Sarutobi-sama sudah memasukkannya dalam nama pertama di blacklist ANBU, meski begitu bukti yang menyatakan bahwa dia adalah penjahat terlalu sedikit, bahkan nyaris tidak ada.

"Kadang aku berpikir, seberapa jenius orang itu dan seberapa kejamnya dia mengingat tidak adanya saksi mata—karena mati atau sudah pindah keluar negeri—yang mau bersaksi di depan hakim atas kejahatannya dalam banyak hal...dan silakan kau pilih kejahatan mana saja yang sudah dia lakukan yang kau sukai: pembunuhan, perdagangan gelap, penjualan obat terlarang, pencucian uang, senjata ilegal, bahkan dia memiliki banyak usaha kecil seperti tempat perjudian dan prostitusi—aah! Aku merasa menjadi fansnya saking hafalnya dengan profil manusia setengah iblis satu itu!"

"...Ino, kupikir kau sudah menjadi fans sejatinya."

"Bilang sekali lagi, jidatmu adalah sasaran tinjuku, Sakura."

"Tapi, hei," Sakura tertawa kecil setelah terbengong-bengong dengan penjelasan Ino, tangannya menepuk-nepuk bahu kawannya yang cemberut mendengar candaannya, "jika dia sebegitu kejamnya, bukannya dia seharusnya diusir keluar dari klannya? Kelihatannya dia mempunyai hubungan yang baik dengan Uchiha Fugaku dan Uchiha Itachi yang mendedikasikan diri di dunia politik?"

"Entahlah," Ino mengedikkan bahunya masa bodoh dan mulai berjalan menuju sebuah toko, "yang penting sekarang kita menyamar terlebih dahulu dan menyusup, dan jangan telepon Kakashi karena nantinya dia akan membuat kita repot saja! Kau lihat masker dan bekas lukanya? Mana mungkin kan, kita menyamar bersama orang yang menjadi musuh bebuyutan para bos mafia dan pejabat korup itu yang bahkan trademark lukanya dihafal seantero 'dunia bawah' Konoha!"

.

.

Ruang club itu mewah, bertuliskan latin yang mungkin tak akan dibaca orang karena letaknya di atas pintu kaca gelap tebal yang kelihatannya sangat mahal. Dekor interiornya dipenuhi dengan barang mewah yang diletakkan di lobi dan pintu masuk, bahkan terletak di lantai dua sebuah hotel bintang lima yang berada di tengah kota. Sesuai kata Ino, penerangannya sangat minim hingga wajah waitress pun sama sekali tak terlihat. Hanya ruang milik bos pengelola club dan bartender saja yang memiliki penerangan cukup baik. Namun begitu, cukuplah bagi orang untuk melihat minuman apa dan milik siapa yang tersaji di depannya.

Dan disitulah pada akhirnya Sasuke melewatkan waktunya setelah seharian penuh mencari Ibu dan Bibinya, yang ternyata melewatkan waktu di spa. Sasuke memang menyukai perawatan diri, tapi setidaknya dia cukup tahu kemana dia akan pergi ketika para wanita memutuskan pergi ke spa. Dia tidak mau berubah jadi batu saking lamanya menunggu mereka berendam di kolam mawar, bukan?

Sembari menyeruput alkohol mahal yang dituangkan waitress padanya, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Matanya awas, terbiasa dengan keadaan malam hari sehingga dengan mudah mengenali siapapun orang yang barusan masuk ke dalam. Sudut bibirnya tertarik tipis, mengenali siapa-siapa saja. Barusan ia melihat Pain, orang yang selama ini menjadi partner in crime-nya, kemudian diikuti Sasori dan Kisame yang merupakan politikus 'hitam' seperti kakak kandungnya. Hei, ternyata Danzo si tua itu pun datang malam ini, batin Sasuke kembali menyeruput minumannya. Sudut matanya sesekali memandang kembali ke pintu masuk yang terlihat dari tempat duduknya, berjaga kalau-kalau terdapat seorang pejabat pemerintahan atau polisi yang sering berkunjung kemari dan bisa saja mengenalinya, karena hari itu ia sama sekali tidak berminat melakukan perbincangan 'bisnis' dan negosiasi tetek bengek yang merepotkan itu. Atau mungkin juga menemukan...

"Haruno Sakura."

.

.

Sakura merasa percaya diri melihat penampilannya saat ini yang mengenakan rambut palsu hitam dan gaun selutut, tak lupa menambahkan dandanan sehingga kesan 'tua' didapatnya. Dengan ini, tak mungkin ada orang lain yang mengenali penyamarannya—bahkan Ibunya sendiri, apalagi jika dia memakai kacamata.

"Sakura, kau mau pesan apa?"

Lamunannya buyar ketika Ino (yang juga dalam penyamaran) bertanya padanya. Kegiatannya mengagumi isi club pun ikut buyar. "A-ah, terserah kau saja," tak mengerti dengan minuman alkohol, Sakura hanya tersenyum dan membiarkan Ino mengatur pesanannya. Toh, memang dia tak pernah datang ke tempat macam ini dan minuman yang diketahuinya selama ini hanya kopi dan teh—sake, jika ia menghitungnya dengan minuman yang sering ia lihat tengah dikonsumsi Kakashi.

Menyaksikan 'orang-yang-kelihatannya-adalah-waitress' itu pergi, Sakura baru berani bertanya pada Ino, "aku sama sekali tidak bisa melihat isi ruangan ini, Ino. Kau benar-benar percaya kalau akan ada seseorang yang mau menghampiri kita untuk bertukar informasi?"

"Percayalah padaku, Saki! Pasti akan ada orang yang menemui kita dan menawarkan sesuatu. Aku sudah biasa—"

"Kalian sedang luang?"

Sakura dan Ino segera terlonjak. Sebuah suara mengagetkan mereka, berasal dari seorang laki-laki—dinilai dari suaranya, seperti seorang pemuda seumuran mereka, atau lebih tua beberapa tahun. Terdengar tenang dan dalam, pemilik suara itu duduk seolah mereka adalah teman lama yang saling berjanji satu sama lain di tempat itu. Keheningan cukup lama menghinggapi mereka sebelum kemudian Ino berdehem.

"Ya, kami sedang luang," jawabnya pendek, sebelum kemudian mencondongkan tubuhnya untuk mengambil minuman yang barusan disajikan oleh sang waitress, sekaligus melihat lebih dekat pemuda yang kelihatannya tengah menyeringai pada mereka.

"Hm, bagus. Aku punya penawaran untuk kalian, bagaimana?"

"Penawaran?" kali ini Sakura yang menjawab.

"Hn, penawaran pertukaran informasi yang cukup bagus."

Hening kembali, kali ini seolah mereka tengah saling mempertimbangkan pemikiran masing-masing. Ketidakpercayaan terhadap seseorang sama sekali tak berlaku dalam club tersebut. Setiap orang adalah benar, begitu aturan tak tertulis yang entah sejak kapan berlaku. Karenanya kedua perempuan berbeda watak itu terdiam, berlaku cukup lama untuk kemudian dipecah kembali oleh sambungan kalimat si pemuda.

"Aku menawarkan informasi mengenai sebuah senjata yang bagus, yang baru saja disempurnakan oleh Tsunade Senju, si ilmuwan yang menjadi perebutan berbagai negara akibat kejeniusannya itu. Senjata itu, menurutku adalah senjata paling sempurna, yang jika didapat oleh sebuah pihak, maka seluruh dunia akan bertekuk lutut di hadapan pihak itu."

"Se-senjata apa? Tu-tunggu! Bayaran apa yang kau inginkan untuk informasi ini?"

Ino. Dengan mudah perempuan itu segera menyahut kalimat pembukaan yang dilontarkan pemuda itu, meinggalkan Sakura yang masih terbengong-bengong di ujung lain pembicaraan. Seperti mengerti dengan ketertarikan Ino, sang pemuda bertubuh tegap menjentikkan jarinya. "Mudah, aku ingin bicara dengan lady yang sedari tadi diam itu, dan dengan empat mata. Lalu, di chip ini sudah tertulis data lengkap senjata yang kumaksud—oh, kumohon jangan curiga tentang mengapa aku memberitahukan ini pada kalian karena informasi ini bahkan sudah diketahui seluruh anggota club ini..." artinya, bahkan negara pun mengetahui perihal senjata ini, "nah. Bagaimana, nona?"

"Baiklah!"

Sakura segera mengerti bahwa ia mau tidak mau bersiap untuk menjalani penyamaran pertamanya, sekaligus pertukaran informasi pertamanya semenjak dia terpilih sebagai ANBU segera setelah Ino menjawab kilat tawaran aneh pemuda tersebut.

Siapa...pemuda itu?

Dan yang lebih penting, mengapa dia dengan sukarela menawarkan informasi yang terlalu lengkap hanya untuk bicara empat mata dengan 'orang baru' semacamnya?

Apa dia sebenarnya...sudah mengenali Sakura?


.

.

"ini mengenai pertemuan pertama mereka"

.

.


TBC...