LOVE
Disclaimer: Kamichama Karin and Kamichama Karin chu! Belong to Koge Donbo-sensei, and this unexplainable fiction belongs to me, Hayashi Hana-chan
Inspired by Kuch kuch hota hai film belongs to Karan Johar and My heart belongs to Armantono
Rated: T
Warning: OC (maybe); OOC; abal; gaje; perubahan marga; miss-typo; etc.
Summary:
Menurutku, seorang sahabat tidak mungkin mempunyai perasaan pada sahabatnya sendiri. Namun, yang terjadi pada diriku itu sebaliknya. Aku menyukai, ah! Bahkan mencintainya. Akankah sahabatku menerima diriku? (Bad summary) Request fiction from Kanagawa Hikari. Mind to RnR?
.
.
.
I hope you enjoy this, minna-san~
.
.
.
Mata emerald itu tampak kosong melompong. Tangan lembut itu hanya mengaduk makanan yang ada di hadapannya. Dadanya bergemuruh hebat – mengingat kejadian semalam. Ahhh, sebenarnya akhir-akhir ini.
Ingatan demi ingatan terus mengitari kepalanya.
Flashback
"Hanazono-san." Terdengar suara lembut dari sampingnya. Mata hazel itu menatapnya dengan pandangan khawatir. Jujur saja, ia heran dengan gadis ini yang enggan bangkit dari bangkunya.
"A-ahh, ada apa, Nakamura-san?" Tanya Karin yang terkejut. Ahh, salahnya kenapa ia melamun saat ini. Seharusnya ia tidak boleh melamun.
"Anoo, anda sepertinya dekat dengan pemuda yang ada di samping anda tadi." Ucap gadis itu dengan nada malu. Ia bisa melihatnya dari rona merah yang menjalar di pipinya.
"Ya, begitulah. Kami berteman sejak kecil. Doushite?" Tanya Karin dengan nada heran.
"Sou ka. Demo, sepertinya anda sedang mempunyai masalah. Kalau boleh tahu, apakah itu tentang sahabat anda sendiri?" Tanya gadis bersurai indigo itu.
Gadis bersurai brunette itu terdiam mematung. Ia cukup terkejut dengan pernyataan dari gadis manis nan lembut itu. Perlahan, ia menganggukkan kepalanya. Sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan aneh. Miris.
"Ya, begitulah. Kenapa?" Tanya Karin yang semakin heran.
"Anda menyukai Kujyou-san, ya?" Tebak gadis bersurai indigo itu lagi.
Ia menghela nafas berat. "Ya, begitulah." Jawab gadis bersurai brunette itu dengan lesu. Mata emerald itu menatap benda persegi empat itu dengan tatapan kosong.
"Tapi, tak seharusnya aku mempunyai perasaan ini. Tidak mungkin aku menyukai sahabatku sendiri." Ucap gadis itu. Mata emerald itu mulai berkaca-kaca.
Gadis bersurai indigo itu hanya bisa terdiam melihat tingkah sang lawan bicara.
End of Flashback
"..Rin. Karin."
"KYAAAA~!" Gadis itu langsung terjatuh dari bangku yang ia tempati.
"Karin, kau kenapa?" Terdengar suara dari sosok pemuda bersurai blonde dengan mata sapphire yang tak lain dan tak bukan adalah sang sahabat.
"A-ahh, daijobu." Air mata itu lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Bohong. Ia sangat mengetahui bahwa ia membohongi sahabatnya. Dan sahabatnya menyadari itu.
"Kenapa kau menutupi semuanya dariku, Karin?" Lirih Kazune pelan. Entah kenapa, dadanya bergemuruh melihat air mata yang jatuh bebas itu.
"A-aku tidak menutupinya darimu, Kazune-kun." Ucap gadis itu gelagapan. Jangan-jangan, pemuda yang bernotabene sahabatnya ini tahu bahwa ia menaruh perasaan padanya?
"Kau harus cerita padaku, siapa yang membuatmu seperti ini! Jangan merahasiakan apapun dariku!" Titah Kazune. Mata sapphire itu menatap tajam pada sang sahabat.
Gadis itu menghela nafas berat. Jika pemuda itu dalam mode seperti saat ini, berarti ia berada dalam mode serius dan tak menerima penolakan.
"Se-sebenarnya, a-aku, ehmm.. menyukai seseorang." Ucap Karin dengan nada sendu. Emerald itu menghindari tatapan menyelidik dari pemilik sapphire itu.
Ia menggigit bibirnya pelan. "De-demo, dia menyukai orang lain. Yah, itu yang ku tahu." Ucap gadis itu. Helaan nafas berat itu mulai terdengar.
GREP!
Mata emerald itu membola ketika mendapat pelukan dari pemuda itu.
"Jangan menangis hanya karena pemuda bodoh yang menolakmu itu, baka! Masih banyak lelaki lain yang ada di dunia ini. Bukan hanya dia!" Ucap pemuda itu tepat di telinganya - membuat air mata itu mengalir semakin banyak.
Seandainya saja dia tahusiapa pemuda yang dimaksud, apakah ia akan berucap dengan ucapan yang sama?
Hahh..
Ini benar-benar.. Membingungkan.
~LOVE~
Mata sapphire itu menatap sebuah bangunan megah yang berdiri dengan gagahnya. Hahh, entah kenapa pemuda bermarga Kujyou itu merasa gugup saat ini.
"Ku-Kujyou-san." Terdengar suara lembut nan gemulai dari belakangnya.
Pemuda itupun membalikkan badannya. Tampaklah sosok gadis dengan surai indigo yang diikat asal dengan mata hazel yang menatap sang pemuda dengan tatapan polos. Kulit porselen itu, ingin sekali ia menyentuhnya. Bibir kecil nan kissable itu, ahh.. Ingin sekali ia mengecap bagaimana rasanya bibir itu.
"Kujyou-san, doushite no?" Tanya gadis bersurai indigo itu dengan tatapan heran. Iapun memiringkan kepalanya— membuat sang pemuda ingin sekali mencubit pipinya gemas.
"Daijobu. Aku tidak sengaja melewati rumah ini. Ini rumahmu?" Tanya pemuda itu dengan nada polos.
Gadis itu mengangguk. "Mari masuk." Ajak gadis bersurai indigo itu dengan nada ramah.
"A-ah, tidak usah! Sebaiknya aku pergi dulu, jaa!" Seru pemuda bersurai blonde dengan mata sapphire itu. Meninggalkan sosok gadis bersurai indigo itu yang masih menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Iapun menyentuh dadanya - lebih tepatnya tempat organ yang tengah berdegup dengan kencang saat ini.
'Apakah aku.. Benar-benar jatuh cinta padanya?'
~LOVE~
"Karin, kau tahu! Aku mendapat berita bagus!" Pemilik surai kuning pucat itu muncul sambil menggebrak pintu kamar pemilik gadis bermata hijau yang bernotabene sang sahabat.
"O-ow." Iapun menutup mulutnya sambil mengerjapkan matanya ketika melihat sang sahabat yang baru saja hendak pakaian dan err – n*ked.
"BAKAZUNE! APA YANG KAU LIHAT, HAH?!" Dan tampaklah barang-barang yang berada di kamar itu melayang di udara - of course untuk melempari Kujyou Kazune seorang.
Sebuah gunung kecil dengan lebam biru tercetak jelas di wajah tampannya.
Ahh, sepertinya kau harus mengetuk pintu dulu sebelum memasuki kamar anak gadis, hei Kazune?
~LOVE~
Pemuda itu meringis pelan ketika melihat sang sahabat menatapnya dengan tatapan sinis.
"Ada apa kau datang kemari, hm?" Tanya gadis itu dengan nada sinis. Jujur saja, ia masih kesal dengan kebiasaan pemuda yang ber-notabene sahabatnya yang selalu seenak jidatnya melakukan sesuatu yang berhubungan dengan privasi orang lain.
"Aku.. Yeah. Aku mau bilang kalau aku sudah mendapatkan alamat Himeka-san! Aahh.. Dia sangat cantik!" Seru Kazune. Wajah pemuda itu bersemu merah.
Gadis bersurai brunette itu memutar bola matanya bosan. Aahh. Always her.
Namun, ia merasakan seperti ada duri yang menancap di ulu hatinya. Dadanya bergemuruh. Perlahan, sudut bibir itu membentuk lekukan aneh.
Mendengar pujian itu, apa sebegitu cantiknya murid baru itu?
Tentu saja!
Bahkan, ia memiliki sifat feminin yang sangat kuat. Berbeda dengan dirinya yang memiliki sifat gadis abal-abalan yang kuat. Tidak mungkin pemuda yang sudah ia taksir ini akan menyukai dia.
"..Rin! Karin! Kau melamun lagi!" Celetuk Kazune kesal melihat sang sahabat yang selalu melamun setiap saat itu.
"A-ahh! Maaf, Kazune-kun. Aku harus mengerjakan tugas yang dikasih Kirio-sensei! Jaa!" Seru Karin lalu pergi meninggalkan pemuda itu di dalam kesendirian.
'Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja? Ahh! Dia pasti baik-baik saja!' Batin pemuda itu.
Perlahan ia menghela nafas berat. Senyuman simpul itu terpatri di wajah tampannya.
'Yeah, dia pasti baik-baik saja!'
Apakah kau yakin bahwa gadis itu baik-baik saja, Kujyou Kazune?
~LOVE~
"Karin, kau tidak apa-apa?" Tanya pemuda itu ketika melihat sosok di sampingnya tertidur dengan lesu. Bahkan, mata gadis itu tampak sembab.
"Daijobu. Aku hanya ingin istirahat, Kazune." Ucap gadis bersurai brunette itu lesu. Perlahan, air mata itu mulai keluar lagi. Kuso! Kenapa ia harus menangis lagi!
"Ck! Jangan berbohong padaku, baka!" Pemuda itu berdecak kesal dengan perilaku gadis bersurai brunette itu. Iapun menarik pergelangan tangan sosok gadis bersurai brunette itu dan membawanya ke suatu tempat.
"Kazune-kun, chotto!" Seru gadis itu yang kehilangan keseimbangannya. Ahh.. Kenapa pemuda ini terus menerus memperlakukannya seperti ini? Ahh, bukannya pemuda itu adalah sahabatnya sedari kecil?
Hahh.. Entah ke berapa kalinya ia menghela nafas berat selama beberapa hari ini.
Sahabat?
Status itulah yang membuat dinding tak kasat mata di antara mereka.
"Kazune-kun." Terdengar lirihan dari sosok gadis bersurai brunette yang ditarik Kazune. Kepala itu tertunduk ke bawah.
"Hm? Kau kenapa?" Tanya Kazune heran. Tak biasanya sang sahabat seperti ini.
"Aku berharap terlalu banyak berharap padamu, ya. Padahal kenyataannya, kau menyukai orang lain." Lirih Karin yang sukses membuat mata Kazune membulat – tanda tak percaya.
"Ara, kenapa wajahmu seperti itu? Aku 'kan cuma becanda." Ucap Karin sambil mengembangkan seringai jahil miliknya.
"Aahh, kau ini suka sekali menjahili aku, nona Hanazono. Kupikir kau benar-benar menyukaiku." Celetuk pemuda itu pelan.
"Lain kali jangan kepedean dulu, tuan Kujyou. Hahahahaha." Terdengar tawa membahana dari gadis bermarga Hanazono itu.
Pemuda bermarga Kujyou itupun tertawa kekeh akibat ulah konyol sahabatnya.
Yeah, walaupun pada kenyataannya, apa yang dibilang sang sahabat memanglah sebuah fakta yang tak bisa diabaikan oleh gadis bermarga Hanazono itu sendiri.
~LOVE~
"Karin, aku ingin mencoba sesuatu." Terdengar suara baritone dari samping sosok gadis bersurai brunette itu. Mata sapphire itu menatap gadis bersurai brunette yang diikat ponytail itu dengan asal.
"Ada apa, Kazune-kun? Kau ingin mencoba apa?" Tanya Karin mengerutkan dahinya heran.
Pemuda bersurai blonde itu mengeluarkan sebuah kotak beludru merah. Tampaklah sebuah cincin dengan batu amethyst indah yang berhasil membuat gadis bersurai brunette itu takjub.
"Maukah kau menikah denganku, Himeka?" Perasaan yang awalnya sangat senang itu berubah menjadi muram ketika mendengar nama yang disebut oleh pemuda bersurai blonde itu.
Air mata itu mulai terkumpul di pelupuk matanya – menahan kesedihan dan perih yang ada di dalam dada. Sudut bibirnya mulai terangkat ke atas – membentuk senyuman aneh. Senyuman manis bagi Kazune, namun menyedihkan bagi Karin.
"Semoga berhasil, Kazune." Ucap Karin pelan.
Gadis itupun berjalan – menjauhi pemuda ber – notabene sahabat kecilnya yang tengah menatap dirinya heran. Apakah salah ia latihan untuk hal seperti ini sebelum pastinya?
Pemuda itupun menggelengkan kepalanya pelan. Ia memang tidak salah. Lagipula, belum tentu si gadis yang dilamar mau menerima dirinya. Kenapa sahabatnya – hei, kenapa ia berfikir bahwa Karin Hanazono menyukainya? Tidak mungkin seorang Hanazono Karin mau menyukai dirinya! Orang itu pasti bukan dirinya!
Ia menghela nafas frustasi. Jujur saja, ia benar-benar heran dengan sahabatnya akhir-akhir ini.
Satu pertanyaan yang berputar di kepalanya.
Ada apa dengan sahabatnya ?
~LOVE~
Di sisi lain, Tampaklah sosok gadis bersurai brunette yang tengah mengetik sesuatu. Sebuah pesan teks untuk Nakamura Himeka.
'Anoo, Himeka-san. Bisakah kau ke koridor kampus sekarang? Kazune mau bicara sesuatu padamu.
Hanazono karin'
Helaan nafas berat terdengar dari bibirnya. Sebenarnya ia benar-benar tidak rela dengan semua ini. Namun, mau bagaimana lagi. Sebagai sahabat, ia harus menolong sahabatnya.
Iapun memutuskan untuk menekan tombol send.
Mata emerald miliknya menatap ke langit-langit dengan tatapan sendu. Jujur saja, ia benar-benar tak rela kehilangan diri pemuda, mau bagaimanapun sifatnya.
Iapun membuka kunci smart phone miliknya. Membuka galeri dan melihat foto yang berisikan wajah polos dari sosok Kujyou Kazune yang tengah tertidur di jam pelajaran Kirio-sensei yang membosankan. Iapun mengelus layar itu. Sesekali, air mata itu lolos dari pelupuk matanya – menumpahkan kesedihan yang tak dapat ia bendung lagi.
Ingatannya berputar pada saat ayahnya meminta dirinya untuk pindah ke Amerika dan melanjutkan kuliahnya disana. Lagipula, itu merupakan pilihan yang bagus untuk menenangkan dirinya dan ia takkan mengganggu kehidupan sahabatnya lagi.
Sepertinya ia harus mempertimbangkan permintaan ayahnya saat ini.
~LOVE~
Iris emerald itu menatap tas koper yang dibawanya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Perlahan, sudut bibirnya terangkat ke atas – membentuk senyuman tipis yang bahkan tak bisa dilihat oleh siapapun.
Yeah, inilah pilihannya. Menerima permintaan ayahnya untuk pindah ke Amerika.
Disinilah ia sekarang. Disebuah gedung yang dipenuhi oleh banyak orang yang berlalu lalang dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Dimana tempat lepas landas dan mendaratnya pesawat.
Kaki jenjang itu mulai melangkah ke depan. Memasuki tempat dimana ia akan menunggu pesawat yang akan membawa dirinya menuju negeri paman Sam.
"Karin, chotto matte!" Terdengar sebuah seruan dari belakangnya. Suara baritone yang sangat ia kenal.
Karin membalikkan badannya. Matanya membola melihat sosok pemuda yang ber – notabene sahabatnya dengan sosok tunangannya berlari mengejarnya. Dari mana mereka tahu bahwa ia akan pergi meninggalkan Jepang saat ini?
"Baka! Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa kau akan pindah ke Amerika?!" Bentak Kazune kesal. Ia benar-benar kesal dengan perlakuan sahabatnya ini.
Beribu pertanyaan berputar di kepalanya. Jujur saja, ia ingin sekali menumpahkan semua pertanyaan itu pada sahabatnya.
"Jangan pergi, baka! Siapa yang akan melihat upacara pernikahanku nanti? Siapa yang akan melihat anakku nanti, hah?! Siapa!" Bentak Kazune.
Karin hanya terdiam membisu – begitu juga dengan Himeka, tunangan sahabatnya. Iris emerald itu menatap ke lantai marmer yang ada di bawahnya – menghindari tatapan tajam nan menuntut itu dan menahan emosi yang semakin lama akan menumpuk.
"Apa karena pria sialan yang kau sukai itu yang membuatmu pergi – "
"Cukup Kazune! Kau tahu apa tentangku! Kau tidak tahu apa – apa tentangku! Dan tentang kepindahanku itu bukan urusanmu!" Great! Akhirnya ia berhasil membentak sang sahabat yang termangu akibat emosi yang tak bisa ia tahan.
"Hahh.." Karin menghela nafas berat. Iapun menatap manik sapphire itu dengan tatapan lembut.
"Maafkan aku, Kazune. Aku pindah bukan karena siapapun, tetapi karena permintaan ayahku. Aku tidak ingin mengecewakan ayahku." Jelas Karin lembut.
"Memang, aku takkan bisa melihat hari pernikahan kalian berdua. Jadi, aku memintamu untuk menjaga Himeka-san baik-baik. Aku akan menghajarmu jika aku mendengar ada apa – apa dengan Himeka-san!" Gadis menggenggam erat pegangan koper miliknya dan mulai menahan air matanya yang hendak jatuh.
Kazune menggeram pelan dan menarik paksa koper milik sahabatnya. "Ayo kita pulang! Aku takkan mengizinkanmu pergi meninggalkanku sendirian!" Titah Kazune.
"Demo, bagaimana dengan ayahku? Kau tahu 'kan bagaimana sifat ayahku itu? Bisa-bisa dia kembali ke Jepang dan menghajarmu!" Ucap Karin sambil menarik tas koper miliknya.
"Persetan dengan ayahmu! Aku tidak peduli! Pokoknya kau tidak boleh pergi meninggalkanku!" Seru Kazune sambil menarik koper milik sahabatnya itu.
"Biarkan aku pergi, Kazune. Onegai." Lirih Karin. Iapun menarik kopernya. Menatap lantai marmer yang dipijaknya.
Kazune menatap Karin tajam. Iapun menghempaskan tas koper milik Karin kasar. "Okay, kita berhenti sampai saat ini!" Geram Kazune.
Perlahan, air mata mulai meleleh dari pelupuk mata Kazune. Mengeluarkan semua emosi yang ia tahan. Jujur saja, ia benar-benar tidak rela kehilangan sosok sahabatnya itu. Entah mengapa, hati kecilnya memberontak ketika mendengar sang sahabat pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Pemuda itupun berjalan – meninggalkan sosok Karin yang mulai mengeluarkan air matanya.
"Maafkan aku, Kazune-kun. Hiks. Arigatou, to.. Sayonara." Karin mulai berjalan menjauhi mereka – meninggalkan semua kenangannya yang ada di Jepang.
Sedangkan Himeka, gadis itu termangu di tempat. Ia menyadari satu hal. Kazune memang menyukainya, tetapi Kazune hanya mencintai Karin seorang. Yeah, hanya gadis itulah sebenarnya yang ada di hati pemuda itu, tanpa disadarinya.
Dan yang lebih menyedihkannya, hubungan mereka harus pupus karena dirinya berdiri di antara mereka berdua.
'Kami-sama, mengapa ini harus terjadi padaku? Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki semua ini?'
~LOVE~
Gadis bersurai indigo itu berdiri di depan bangunan yang berdiri kokoh nan suci baginya. Disinilah ia akan berjanji pada Tuhan untuk bersatu dengan pemuda yang ia kasihi.
"Himeka-chan, ayo." Himeka mengangguk ketika ayahnya mengiringi dirinya untuk memasuki ruangan suci itu.
Iris hazel itu menatap pemilik mata blue sapphire yang tak jauh darinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan dan pendeta yang akan mempersatukan mereka di dalam ikatan pernikahan.
Iapun menggamit tangan pemuda yang akan menjadi suaminya itu dan berdiri di hadapan sang pendeta.
"Kujyou Kazune, maukah kau berjanji, mencintai istrimu Nakamura Himeka selamanya. Dalam suka maupun duka. Dalam sehat maupun sakit. Sampai ajal menjemput?" Tanya sang pendeta pada sang calon suami.
"Ya, saya bersedia." Jawab Kazune mantap.
"Nakamura Himeka, maukah kau berjanji, mencintai Suamimu Kujyou Kazune selamanya. Dalam suka maupun duka. Dalam sehat maupun sakit. Sampai ajal menjemput?" Tanya sang pendeta pada sang calon istri.
Gadis itu terdiam mematung. Jujur saja, ia tak sanggup dengan semua ini. Ingatannya masih terpaku pada sosok Hanazono Karin yang merupakan orang yang dicintai Kazune.
"Nakamura Himeka-san?" Tanya sang pendeta memastikan.
"Ha-haik, saya bersedia." Ucap Himeka gelagapan.
DEG!
Tiba-tiba saja, organ yang berada di dada kirinya berdenyut perih. Ada apa ini? Kenapa jantungnya berdenyut abnormal seperti ini?
Apakah ini hukuman untuknya karena telah mengambil sahabat yang ber – notabene orang yang dicintai oleh gadis bersurai brunette itu?
Ia memegangi tempat dimana organ yang sangat penting untuk kehidupannya itu.
"Da-daijobu ka, Himeka?" Tanya Kazune. Tersirat nada khawatir dari bibir pemuda itu.
Gadis itu mengangguk lemah. Perlahan, sudut bibir gadis itu terangkat ke atas. Membentuk sebuah senyuman manis namun di mata Kazune itu merupakan senyuman perih yang tak tertahankan. Jujur saja, ia benar-benar tak ingin membuat pemuda di hadapannya , namun usahanya gagal total.
"Te-mu-i-lah di-a, Ka-zu-ne-san. Sa-yo-na-ra." Perlahan pandangan mata itu mulai mengabur. Dan ia tenggelam dalam alam bawah sadarnya.
"Himeka! Apa maksudmu! Hei, bangunlah!" Pemuda itu terus menepuk pipi gadis yang menjadi tambatan hatinya.
Tidak! Gadis itu tidak boleh pergi meninggalkannya!
"Nishikiori, panggil ambulans!" Seru Kazune pada pemuda yang dipanggil Nishikiori – lebih tepatnya Nishikiori Michiru itu. Iapun dengan cepat memanggil ambulans dari rumah sakit terdekat.
Sedangkan Kazune, ia memperhatikan wajah gadis yang mulai memucat itu dengan tatapan sendu. "Bertahanlah, Himeka." Lirih pemuda bersurai blonde itu.
~LOVE~
"Keadaan nona Himeka semakin memburuk saat ini."
.
"Te-mu-i-lah di-a, Ka-zu-ne-san. Sa-yo-na-ra."
.
"Maafkan saya, tuan Kujyou. Nona Himeka tidak bisa diselamatkan."
"Kenapa semua ini terjadi?! Apa salahku, kami-sama! Kenapa engkau mengambil Himeka?!" Terdengar erangan frustasi dari bibir tipis milik pemuda bersurai blonde itu. Pemuda itu mengacak rambutnya frustasi.
Mata biru laut itu menatap ke arah taman dengan tatapan kosong. Tak ada kehidupan. Yang ada hanyalah kegersangan hati dan duka yang terlalu dalam.
Flashback
"Kazune-chan, mitte! Boneka teddy bear milikmu ada di tanganku!" Terdengar suara cempreng khas anak kecil dari bibir mungil Karin kecil yang tengah memegang boneka Teddybear milik Kazune. Seringai jahil terpatri di wajah imut si gadis imut tersebut.
"Huwaaa! Okaachan, Karin-chan mengambil bonekaku!" Kazune merengek pada sang ibunda dan air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya ketika melihat sang boneka tersayang dipeluk erat oleh Karin. Sedangkan sang ibunda hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Kazune kecilnya itu. "Karin-chan, kembalikan dong bonekanya."
"Habisnya dia mengambil roti belut milikku, sih! Kau, harus mengembalikan roti belutku, tahu!" Gadis itu menunjuk ke arah Kazune yang masih menangis karena tak terima bonekanya dipeluk oleh orang lain.
"Iya, iya. Aku akan mengembalikannya! Tetapi, kembalikan dulu bonekaku." Seru Kazune.
"Ganti dulu roti belutku, baru akan ku kasih bonekamu." Seru Karin. Ia memeluk boneka teddybear itu lebih erat.
"Iya. Tapi minta dulu!" Karinpun mengembalikan boneka teddybear Kazune. Iapun menaruh telapak tangannya di atas – pertanda meminta roti belut kesukaannya itu diganti.
"Bweekk! Aku takkan mengembalikan roti belutmu."
"Kazune-kun, kau licik! Kita musuhan! Hmph!"
.
"Baka! Kau itu pria! Kenapa kau menangis! Itu sangat tidak jantan sekali tahu!"
"Jika kau ada di posisiku, bagaimana hah!"
"Baka, kau itu laki-laki. Tekankan itu sekali lagi! Cewek di dunia ini bukan hanya dia tahu, masih banyak lagi!"
"Hahh, terserahmu sajalah."
"KUSOOO!" Pemuda itu meninju batang pohon sakura yang ada di hadapannya. Air matanya keluar dengan derasnya – tak bisa lagi menahan kesedihan yang ia rasakan. Kenangan manis itu mulai berputar di kepalanya – membuat hatinya semakin terluka.
"Karin, dulu kau selalu menemaniku di saat aku bersedih, kau selalu berada di sampingku, menghiburku dan membuatku nyaman di saat yang bersamaan. Kau dimana, Karin?! Aku merindukanmu!" Teriak Kazune mengeluarkan amarahnya.
Kazune jatuh terduduk di depan pohon sakura. "Kembalilah Karin, kumohon." Lirihnya pelan.
Hanya suara anginlah yang menyapa indera pendengarannya. Seolah-olah menjawab semua keluh kesah yang berada di dalam hatinya. Menyampaikan duka cita yang terlalu dalam.
Ia menyadari satu hal.
Ia bukan mencintai Nakamura Himeka, tetapi Hanazono Karin yang telah meluangkan sebagian hidupnya hanya untuk dirinya selama ini.
Sepertinya, cintamu mulai terbalas ne, nona Hanazono?
~To Be Continued~
A.N:
What the –? Apaan nih?! #sweatdropditempat
Mellow banget gak? Hana buatnya sampai gereget dan menangis. Hana ga kebayang kalau Hana berada di posisi Karin, tetapi ga kalah menyakitkan jika Hana berada di posisi Himeka maupun Kazune. Posisi mereka sama-sama menyakitkan. Bagaimana dengan kalian yang membaca fict ini? Kalau sampai nangis, Hana udah sediakan tissue untuk menyeka air mata kalian.. :"D *nebar tissue* #oi!
Kazune: Kau sentimentil kali Hana, padahal biasa ajapun -_-"
Karin: Iya.. *kembali dari Amerika*
Kazune: Sejak kapan kau muncul disini? Bagaimana caranya kau bisa kembali dari sana?
Karin: aku terbang pakai burung terbang yang disana *nunjuk pesawat*
Kazune: (inner: tetap bodoh, ya? Bisa ga bedain mana pesawat dan mana burung? -_-")
Kazusa: mana oleh-oleh untukku, Karin-chan?*puppyeyes*
Karin: anoo.. oleh-olehmu ketinggalan disana. Aku lupa membawanya, hehehe.. #cengirgaje
Kazusa: -_-"
Hana: Sudah2! Ayo kita baca review dari minna-san! :v ayo mulai, Kazune-nyan~ :'v
Kazune: untuk Ryuuka Mikan, arigatou sudah review fict hana-no-baka, yeah, Hana udah balas review-mu lewat pm, kan? Intinya arigatou, dan berminat review lagi? (Hana: *muka memerah* inner: sabar.. Sabar, ane 'kan lagi puasa!)
Karin: untuk Mimi Auziry, ini udah dilanjut, maaf kelamaan, soalnya si Hana-no-baka lagi buntu ide dengan semua fanfic-nya. Belum lagi masalah di sekolah. -.-" dan kemungkinan dia bakal hiatus lebih lama lagi dari sekarang, karena sekarang dia udah kelas 3, dan wajib fokus belajar. Malah laptop bakal ditahan dan ga boleh dimainkan saat di hari sekolah.
Hana: (inner: TT_TT ampuni aku..) Buat Al Bramasta a.k.a Kanagawa Hikari, daijobu ne.. :'D gomenne kelamaan ngelanjut. Yeah, biasa, kena wb.. -.-" yang lain aja belum hana lanjut2.. -.-". Disini, Kazune memang rada2 gimana gitu, tapi sebenarnya dia setia kok.. Dia kayak gitu kan karna seseorang.. *lirik Kazusa* mind ro RnR again? :D
Kazusa: -_- kau jahat Hana! Dan untuk darkknight, ini sudah dilanjutkan. Mind to read and review again? :D
Kazune: buat silent reader, aku ga peka? Aku peka banget kok.. :3 saking pekanya aku bisa dengar suara orang lain (Hana: itu beda kasus oi! -_-") arigatou sudah membaca, minat buat baca dan review lagi?
Karin: (inner: bodoh bilang bodoh -_-" :P) buat azahnurbandini, anoo.. Yang mana yang kurang dimengerti? Biar Hana ngejelasin, kan dia yang buat cerita ini, bukan kami. Maind tu er en er egein? #inggrishancur (Hana: *speechless*)
Kazusa: untuk SarahAmalia, arigatou gozaimasu buat review-nya desu. Dan, kalau seandainya nasib Karin, ada di tangan Hana #ngelirikHana (Hana: *evil smirk* muehehehe) Mind to RnR, again? :D
Kazune: -" kau mengerikan Hana.. Untuk Kazeko05, maafkan bakaHana karena ga bisa update kilat, karena Hana kena wb dan banyak pikiran, mulai hutang di kelas, hingga perasaannya sama si- #dilempari_Hana_pakai_kupu-kupu #teriak_dan_keliling_gaje
Hana: ahahaha.. Abaikan aja ucapan Kazu-nyan. *nekan kata terakhir* ya, sebenarnya Hana punya banyak pikiran, ya, ga bisa mikirin alur cerita, laptop selalu dimainkan adek dan dibawa ayah kerja, dan memory card yang diambil adek lantaran hana hilangin memory cardnya. -.- arigatou udah read dan review, mind to RnR, again? :D
Karin: *glek* untuk martinachristy54, arigatou udah read dan review fict ini, dan maafkan hana no baka karena ga bisa update kilat dengan alasan yang sama. :3 dan Kazune itu ga poor kok.. Cuma miskin aja. (All: sama aja kali! -_-) ehehehe.. Mind to RnR again?
Kazusa: untuk yumi hanaka, anoo.. Maafkan baka Hana ya ga bisa update kilat, ini udah dilanjut. Mind to RnR again?
Hana: untuk noviani, anoo.. Makasih atas informasinya, Hana kurang tahu sih, karena Hana jarang nonton film. Demo, sebenarnya endingnya ga sad kok. :D (kalau Hana baca sinopsisnya di internet, endingnya itu si cewek yang ber-notabene sahabat si cowok ngasih organ tubuhnya – kalau ga salah – ke cewek yang dia sukai. Setelah cowok itu sadar, baru si cowok nyadar kalau dia juga menyayangi cewek yang menjadi sahabatnya itu) arigatou udah baca dan review ff Hana. Mind to RnR again?
Karin: dan untuk Meydiana585, ini udah dilanjut, demo, jangan panggil Hana itu senpai, nanti telinganya naik 100 meter. *bisik-bisik* (Hana: -_-") mind to RnR again? :D
Kazusa: dan untuk seluruh silent readers dan minna-san, intinya Hana ucapin arigatou gozaimasu udah baca, dan apabila ada kesalahan atau apapun, silahkan komentar.. :D
Hana: dan karena sebentar lagi hari raya idul fitri, Hana ucapin selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan, mohon maaf lahir dan bathin ya.. :') Hana nyadar, Hana pasti banyak banget ngelakuin kesalahan ke kalian.. Hontou ni gomennasai.. *ojigi*
Karin: Hana, Kazune-kun cemana? Kan kasihan dia.. *muka sedih*
Hana: *cuek bebek* biarin aja ah! Toh ntar dia berhenti sendiri setelah dikejar *gone*
Kazusa & Karin: hahh.. *gone*
Kazune: hahh.. Hahh.. Hahh.. Hana sialan! Awas aja lu ya! Bakal kugorok lu nanti! -_- *nyadar ga ada orang* lho, mereka pada kemana? *celingukan* Hahh, baiklah, saya yang akan menjadi penutup talk show ini, Mind to RnR again minna-san?
