[REMAKE] Imperfect Angel by Nureesh Vhalega

.

.

Main Cast: Min Yoongi (GS), Park Jimin.

Other Cast: Kim Seokjin, etc.

Genre: Romance, Drama.

Rated: T

.

.

Warning: Genderswitch, OOC, and No Bash!

Disclaimer: Saya me-remake dengan judul yang sama karya Nureesh Vhalega, so jangan anggap ini plagiasi karna saya tekankan sekali lagi ini adalah REMAKE.

.

.

Don't Like, Don't Read

Sorry for Typo.

Happy Reading~

.

.


Chapter 1

.

.

1. Min Yoongi

.

.

Seoul, Desember 2007

.

.

Yoongi menghentikan mobilnya, lalu melangkah keluar menuju rumahnya yang bercat putih sempurna. Rumah yang baru enam bulan menjadi tempatnya untuk pulang. Setelah melalui negosiasi yang panjang, akhirnya ibunya bersedia menetap di negara asal ayahnya ini. Bukan berarti Yoongi lebih memilih Seoul dibanding New York; Yoongi suka keduanya karena itu adalah bagian tak terelakkan darinya. Yoongi hanya menyukai perubahan dan rumah baru, juga lingkungan hidup baru merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang disukainya.

Masih dengan langkah ringan juga bibir yang bersenandung, Yoongi memasuki rumah. Segalanya tertata rapi juga harmonis. Sebuah foto keluarga berbingkai indah berisi dirinya juga kedua orangtuanya –Min Seunghyun dan Tiffany- menjadi titik sentral dari tema ruang tamu itu. Yoongi tersenyum ketika melihatnya. Foto itu juga baru diambil beberapa minggu yang lalu. Ia nampak begitu bahagia, diimbangi dengan senyum orangtuanya yang terlihat amat menenangkan. Mengisyaratkan bahwa kehidupan mereka akan terus seperti itu; bahagia dan tenang.

Yoongi mengerutkan kening ketika melihat pintu ruang keluarga terbuka lebar. Mengikuti bisikkan hatinya, Yoongi mengubah arahnya dan berdiri di depan pintu.

Segalanya tampak aneh di mata Yoongi; ayahnya berdiri kaku, sementara ibunya duduk dengan wajah pucat juga tangan terkepal di dada. Kemudian ada Paman Min Siwon -kakak ayahnya- yang berdiri menghalangi pintu.

Yoongi tidak mengerti apa yang menjadi penyebab keganjilan itu, hingga Paman Siwon bergeser dan memberi Yoongi pandangan yang lebih luas. Ada seorang gadis berdiri di tengah ruangan itu. Seorang gadis yang mungkin seusianya, dengan tubuh tinggi juga rambut merah gelap.

Dengan perasaan familiar yang aneh, Yoongi terus mengamati gadis itu bersama suasana tegang yang mewarnai ruang keluarganya. Seakan-akan mereka semua sedang berada di tengah medan pertempuran. Yoongi tersentak ketika gadis itu berbalik menatapnya, dengan mata berwarna hitam kelam yang merefleksikan warna mata Yoongi sendiri.

Perlahan, seulas senyum tersungging di wajah gadis itu. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Yoongi merasa tidak tenang. Pertanyaan demi pertanyaan datang memenuhi benak Yoongi. Dan seluruh pertanyaan Yoongi terjawab dengan satu sapaan ramah dari gadis itu.

"Halo, Adik."

Seluruh mata di ruangan itu beralih pada Yoongi dengan ekspresi syok dan panik menjadi satu. Yoongi membeku sepenuhnya, tak memercayai pendengarannya. Tiba-tiba segalanya nampak kabur. Ibunya berseru memanggilnya, sementara Paman Siwon berusaha meraihnya ke dalam pelukan.

Namun Yoongi menolaknya. Ia melangkah mendekat dan terus menatap gadis itu, yang kini senyumnya berubah menjadi lebih dingin.

"Apa maksudmu?" tanya Yoongi dengan suara yang dipaksakan datar. Lalu penjelasan itu mengalir dengan lancar. Selayaknya cerita pengantar tidur lengkap dengan nada yang terkontrol. Yoongi tetap mendengarkan dengan seksama, tak peduli pada rasa sakit yang terus menggerus hatinya seiring berjalannya cerita itu. Cerita yang terasa seperti mimpi buruk, namun memberi fakta tak terbantahkan; segalanya masuk akal.

Gadis berambut merah gelap itu bernama Seokjin dan mengaku sebagai anak dari Min Seunghyun. Usianya genap delapan belas tahun tiga bulan yang lalu. Hanya tiga bulan lebih tua dari Yoongi yang akan berulang tahun besok. Sekarang Yoongi mengerti perasaan familiar yang dirasakannya, karena ternyata mereka berbagi darah yang sama.

Seakan fakta itu belum cukup menghancurkan, Seokjin mengatakan fakta lainnya. Bahwa ibu kandungnya adalah Jessica -adik kandung dari Tiffany, ibu Yoongi- yang menghilang bahkan sejak sebelum Yoongi lahir. Jessica pergi untuk menyembunyikan fakta bahwa dirinya mengandung anak dari suami kakaknya. Kini, semua benar-benar masuk akal.

Setelah Seokjin menyelesaikan ceritanya, yang ditutup dengan kesediaannya untuk menjalani tes DNA, keheningan membalut dengan sempurna. Keheningan yang menyimpan duka, sesak, juga jeritan. Keheningan yang menggambarkan satu realita tanpa bantahan bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai harapan. Keheningan yang sekali lagi, membuat mereka semua membeku tak berdaya sementara luka menganga jauh di lubuk hati terdalam.

.

.

.

Suara pecahan barang yang diikuti jeritan penuh amarah kembali memenuhi rumah itu. Tak ada lagi bahagia, apalagi ketenangan. Semuanya terbakar habis bersama perdebatan demi perdebatan yang seakan tak menemukan titik akhir. Selembar kertas berisi pernyataan bahwa ayahnya benar-benar memiliki anak selain dirinya menjadi inti dari segala perdebatan itu. Sudah hampir dua minggu dan tetap tak ada harapan bahwa badai yang kini sedang menerjang keluarga mereka akan berlalu.

Yoongi memeluk lututnya erat-erat sementara air mata mengaliri wajahnya. Kalimat-kalimat yang diucapkan kedua orangtuanya terasa bagaikan sayatan pisau di dadanya. Mereka saling menyalahkan dan mengucapkan sumpah serapah. Seumur hidupnya, Yoongi tidak pernah mendengar ayahnya berteriak apalagi mendengar ibunya menyumpah. Seburuk apa pun masalahnya, mereka selalu bisa menyelesaikannya dengan tenang. Yoongi tidak percaya, dua orang dengan cinta yang begitu pekat bisa bertengkar hingga saling menyakiti dengan begitu dalam. Kemana perginya semua cinta itu?

Kembali terdengar suara barang yang pecah dan Yoongi berjengit. Terlebih ketika didengarnya jeritan histeris ibunya, Yoongi menggigit bibir kuat-kuat demi mengalihkan rasa sakit dari dadanya.

Ini semua tidak mungkin terjadi. Yoongi pasti bermimpi.

Hanya saja mimpi itu telah berlangsung selama dua minggu dan menerakan luka tak tertanggung di hatinya.

Yoongi mencoba menulikan pendengarannya, namun pertengkaran itu justru semakin jelas terdengar. Sekali lagi ibunya mengutuk ayahnya, lalu tak terdengar apa pun. Yoongi tersentak. Secepat kilat ia berlari keluar dari kamarnya. Tak lagi dipedulikannya segala barang yang menghalangi langkah. Yoongi hanya tahu ia harus segera melihat orangtuanya.

Pemandangan yang menyambut Yoongi sama sekali tidak diduganya; ibunya tergeletak pucat di lantai bersama genangan darah. Kedua mata ibunya tertutup rapat dan pergelangan tangannya tersayat begitu dalam hingga darah terus mengalir keluar tanpa henti.

Yoongi jatuh berlutut. Dengan tangan gemetar Yoongi menyentuh wajah ibunya.

"Ibu... baik-baik saja? Buka matamu. I-ibu..."

Bulir-bulir air mata semakin deras melintasi wajahnya dan Yoongi berusaha sekuat tenaga menelan isaknya. Yoongi mendongak untuk menatap ayahnya, tak percaya ketika ia melihat ayahnya hanya berdiri membeku tanpa ekspresi apa pun di wajahnya. Tak ada kecemasan, apalagi air mata. Seakan-akan ayahnya telah menyerah.

Betapa Yoongi berharap semua ini hanya mimpi.

Namun cairan merah gelap yang kini ikut menggenanginya memberitahu Yoongi bahwa semua ini bukan mimpi.

Dan detik itu juga Yoongi tahu, ia benar-benar telah kehilangan hidupnya.

.

.

.

Yoongi memandang ibunya yang duduk tak bergerak dengan nanar. Sudah satu bulan berlalu sejak insiden percobaan bunuh diri yang dilakukan ibunya dan kini keadaannya semakin memburuk. Dokter bahkan tidak memperbolehkan siapapun masuk ke kamar rawat ibunya selain petugas medis. Depresi yang dialami ibunya begitu parah hingga dorongan untuk menyakiti diri sendiri sangat besar. Dan karena itu, dalam waktu beberapa hari ibunya akan dipindahkan ke panti rehabilitasi.

"Ia pantas mendapatkannya," ucap seseorang di sisi Yoongi.

Yoongi menoleh dan matanya segera memancarkan amarah yang menyala pada orang di sisinya itu. Seokjin, tentu saja. Gadis itu tak henti menghantui Yoongi.

Seokjin tersenyum manis, tak memedulikan ekspresi Yoongi yang seperti ingin mencabiknya.

"Setelah semua hal yang ia lakukan padaku -delapanbelas tahun hidup penuh penderitaan- pembalasan semacam ini tidak ada apa-apanya. Kau akan melihat bahwa semua ini hanyalah awal, karena aku baru saja mulai. Aku akan mengambil segala hal yang kau renggut dan aku tidak akan berhenti hingga aku mendapatkan semuanya. Aku tidak akan berhenti hingga kau merasakan rasa sakit yang sama dengan yang kurasakan. Hidupmu yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bersiaplah, Adik," lanjut Jill tenang.

.

.

.

Yoongi baru saja melewati pintu utama rumahnya ketika ia mendengar suara tawa dari ruang makan. Mengabaikan rasa lelahnya setelah satu hari penuh mengurusi kepindahan ibunya ke panti rehabilitasi, Yoongi melangkah menuju ruang makan.

Yoongi berdiri diam selama beberapa saat, terpana melihat ayahnya tertawa bersama Seokjin di tengah kegiatan makan malam. Yoongi tidak menyangka ayahnya bisa menerima Seokjin semudah itu setelah segala hal yang terjadi. Tidakkah ayahnya tahu seperti apa Seokjin sebenarnya? Bagaimana bisa ayahnya duduk dan menikmati makanan, sementara ibunya kini terkurung di rumah sakit jiwa?

Tanpa berpikir Yoongi menghampiri Seokjin dan menarik tangannya hingga gadis itu berdiri. Yoongi tidak mempedulikan teguran ayahnya, ia tetap hanya melihat Seokjin.

"Cepat pergi sebelum aku mengusirmu," ucap Yoongi penuh amarah. Seokjin mengangkat alisnya, lalu kembali duduk.

"Apa kau tuli? Pergi sekarang juga!" Seru Yoongi, kembali menarik tangan Seokjin.

Menarik kembali tangannya, Seokjin bersikeras tetap duduk. Yoongi segera meraih gelas berisi air di dekatnya kemudian menyiram Seokjin tanpa ragu.

"Apa kau masih tidak mau pergi? Kau lihat, aku masih memiliki banyak air di sini."

"Yoongi, hentikan!"

Yoongi menoleh pada ayahnya dengan pandangan tidak percaya.

"Mulai saat ini Seokjin akan tinggal di sini. Rumah ini adalah rumah Seokjin juga. Kau harus bisa menerimanya, suka tidak suka. Sekarang, minta maaf pada Seokjin," lanjut Seunghyun dengan nada tak terbantahkan.

Ketika Yoongi tidak juga meminta maaf, Seunghyun mengulangi perintahnya.

"Apa yang terjadi padamu, Ayah?" tanya Yoongi dengan nada terluka. Yoongi menolak untuk menangis meski gumpalan di tenggorokannya terasa amat menyakitkan. Baginya, semua itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang kini menggerogoti hatinya.

Yoongi menatap ayahnya, yang selama delapanbelas tahun ini selalu melindunginya, juga membuatnya merasa sebagai anak paling bahagia di dunia. Yoongi pikir ia telah mengenal ayahnya sebaik ia mengenal dirinya sendiri, namun jawaban yang ia dengar selanjutnya membuat Yoongi sadar bahwa ia sudah salah besar.

"Aku menjadi realistis. Seokjin adalah anakku. Ia bagian dari keluarga Min dan kau harus memperlakukannya seperti itu. Seokjin akan mendapatkan haknya, sama sepertimu," jawab Seunghyun.

"Aku tidak percaya kau lebih memilih anak yang sama sekali tidak kau kenal dibandingkan dengan anak yang telah bersamamu selama ini," balas Yoongi.

"Jika kau tetap ingin menjadi pewarisku, kau harus menerima keputusanku," sahut Seunghyun.

Mengepalkan tangan, Yoongi berseru, "Aku tidak peduli pada hartamu, Ayah!"

"Maka kau bisa keluar dari rumah ini sekarang juga!"

"Apa?" tanya Yoongi syok.

"Kau mendengarku. Jika kau tidak peduli pada hartaku, maka kau bisa keluar dari rumah ini sekarang juga. Tinggalkan semua fasilitas yang kau dapatkan dariku. Aku tidak membutuhkan pewaris yang bahkan tidak berminat sejak awal. Kini kau bukan satu-satunya anakku. Aku bisa memberikannya pada anakku yang lain," jawab Seunghyun tanpa ragu.

Yoongi membeku seutuhnya.

"Semua keputusan ada di tanganmu. Kau hanya harus mengingat satu hal; sekali kau pergi dari rumah ini, kau tidak akan pernah bisa kembali. Dan jangan harap kau bisa bertemu dengan ibumu. Begitu kau pergi, kau bukan bagian dari keluarga Min lagi," ucap Seunghyun sebelum melangkah keluar dari ruang makan.

Suara tawa pelan mengisi keheningan ruangan itu sesudahnya. Yoongi tetap diam, membiarkan Seokjin terus tertawa. Bahkan ketika Seokjin menghampirinya dan membisikkan kata-kata itu, Yoongi tetap diam.

"Terima kasih. Kau baru saja mempermudah jalanku. Tidak kukira mengalahkanmu akan semudah ini. Kau lihat, aku bisa merebut segala hal yang kau miliki dengan mudah. Berhenti meremehkanku atau kau akan menyesal."

Yoongi mengepalkan tangannya erat-erat. Tanpa mengatakan apa pun, bahkan tanpa melihat Seokjin sedikit pun, Yoongi melangkah pergi menuju kamarnya. Begitu masuk ke dalam kegelapan dan mengunci pintunya, Yoongi jatuh terduduk. Namun kali ini, tak ada lagi air mata. Yoongi hanya terus duduk. Memandangi kegelapan di sekitarnya seraya menerima tanpa perlawanan rasa sakit yang berkecamuk di hatinya.

Kini Yoongi mengerti. Inilah hidupnya sekarang. Ibunya berada di rumah sakit jiwa, ayahnya berubah menjadi kejam, dan ia memiliki seorang kakak yang mengerikan. Dengan segala sesuatu yang berubah, Yoongi berusaha menyerapnya menjadi satu pemahaman.

Dan ketika pemahaman itu datang, Yoongi memutuskan bahwa ia akan bertahan. Ia akan tetap berdiri, memperjuangkan seluruh haknya. Ia tidak akan pergi hanya karena seseorang datang dan menghancurkan hidupnya.

Min Yoongi akan mengajarkan Kim Seokjin arti kehancuran yang sesungguhnya.

.

.

.

Jeju, Januari 2012

.

.

Yoongi menatap pantai yang terbentang luas di hadapannya dengan pandangan kosong. Jemari kakinya yang menyatu dengan pasir hampir tidak merasakan apa pun kecuali tekstur uniknya; lembut sekaligus kasar. Matahari telah lama terbenam di langit barat, namun Yoongi masih enggan untuk beranjak. Yoongi bahkan tidak peduli pada pesta -pesta ulang tahunnya yang ke-22- yang saat ini berlangsung di belakangnya.

Yoongi suka sendiri, karena dengan begitu ia tidak perlu berpura-pura bahagia.

Sudah empat tahun berlalu sejak perubahan besar dalam hidupnya dan Yoongi menemukan dirinya kehilangan segala hal yang ia percayai dalam hidup.

Sejak saat itu, Yoongi belajar lebih banyak juga berusaha lebih keras. Ia bahkan merelakan pendidikan seni rupa yang selalu menjadi impiannya dan pindah ke jurusan arsitektur. Yoongi menata dirinya kembali dari awal.

"Aku benci penyihir itu. Ia benar-benar menyerupai Bellatrix Lestrange dari film Harry Potter. Hanya warna rambut saja yang membedakan mereka. Rasanya aku ingin memukulnya dengan sepatuku. Bagaimana mungkin gadis mengerikan itu adalah kakakmu? Pasti terjadi kesalahan bencana di sini."

Yoongi tersenyum bahkan sebelum melihat orang yang menyapanya dengan rentetan kalimat itu. Ketika Yoongi berbalik, sebuah pelukan hangat menyambutnya. Yoongi mengurai pelukan dan tertawa ketika melihat ekspresi kesal yang ditampilkan sahabatnya itu.

"Berhenti melucu, Hayoung. Cepat berikan hadiahku," ucap Yoongi.

"Kau bercanda, bukan? Kau lebih tua tiga tahun dariku -sudah bekerja pula- maka kau yang harus memberiku hadiah," balas Hayoung tak mau kalah.

"Aku rasa aku melupakan hadiahmu. Kau tahu, dengan semua kesibukan mengurus pesta ini, bagaimana mungkin aku sempat memikirkan hal lain?" sahut Yoongi dengan wajah polos.

Mereka terus menggoda satu sama lain hingga Hayoung kembali memeluk Yoongi dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan tulus. Yoongi mengatakan hal serupa, dalam hati menambahkan ribuan terima kasih atas kesabaran Hayoung untuk terus menemaninya selama masa-masa terburuk dari perubahan hidupnya.

Yoongi telah mengenal Hayoung seumur hidupnya. Dulu, ibu mereka merupakan sahabat karib. Diikuti oleh ayah mereka yang kemudian mendapat banyak keuntungan dengan menjalin kerjasama; ayah Hayoung menjalankan perusahaan konstruksi sementara ayah Yoongi memiliki perusahaan desain arsitektur. Ketika ibu Hayoung meninggal saat melahirkannya, ibu Yoongi bersikeras untuk merawat Hayoung hingga ia cukup besar untuk bisa dipercayakan pada pengasuh. Sejak itu, ibu Yoongi menganggap Hayoung juga Sehun -kakaknya- sebagai anaknya sendiri dan mereka hampir tak terpisahkan.

Kini, sementara Yoongi sibuk mengurusi segala hal di perusahaan ayahnya bersama kakaknya yang mengerikan, Sehun sudah melakukan konser piano ke berbagai negara dan Hayoung direkrut langsung oleh penari hebat Julliard. Lebih hebatnya lagi, Oh Kyuhyun -ayah mereka- mendukung sepenuhnya. Terkadang Yoongi begitu iri melihat Hayoung dan Sehun yang meskipun tidak memiliki keluarga sempurna, namun selalu mampu untuk berbahagia.

"Kau akan bahagia, unnie. Suatu hari nanti, kau akan menemukannya. Seperti yang selalu dikatakan ayahku. Percayalah," ucap Hayoung lembut.

Meski dalam hati Yoongi tak memercayai ucapan Hayoung sedikit pun, Yoongi tidak mengatakannya. Yoongi telah berhenti percaya pada banyak hal sejak waktu yang lama. Yoongi bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia berkenalan dengan orang baru tanpa perasaan curiga di hatinya. Yoongi sudah menyerah pada kata percaya. Ada banyak kemungkinan untuk semakin terluka dalam satu kata sederhana itu. Dan Yoongi sudah memiliki cukup banyak luka untuk mampu ditanggungnya sendiri.

"Bagaimana kabar Bibi Tiffany?" tanya Hayoung.

Yoongi mengangkat bahu, "Seperti biasa," jawabnya datar.

"Aku tahu kau merindukannya. Aku juga merasakannya," balas Hayoung sedih.

Yoongi memeluk bahu Hayoung dengan satu tangannya, lalu berkata, "Aku selalu berharap memiliki saudara sepertimu. Mungkin hidupku tidak akan sekacau ini."

Hayoung menyikut Yoongi dengan main-main. "Dan membiarkan penyihir itu mengambil tempatku untuk memiliki oppa sehebat Sehun? Oh, tidak. Langkahi dulu mayatku."

Yoongi tertawa.

"Jadi, bagaimana pekerjaanmu? Jika kau membutuhkan bantuan dalam bentuk apa pun, kau bisa menghubungi ayahku. Kau tahu ia selalu berada di pihakmu. Begitu juga denganku dan Sehun oppa. Kami akan melakukan apa pun untuk membantumu mengalahkan penyihir itu," ucap Hayoung.

"Aku tahu. Terima kasih. Sejauh ini semuanya nampak lancar dan Seokjin tidak melakukan apa pun yang mengancam. Namun mengingat kepribadian Seokjin yang tidak bisa ditebak, aku tidak tahu berapa lama semua ini akan bertahan," sahut Yoongi.

Hening sesaat.

Hayoung menoleh untuk menatap Yoongi, mencoba mencari tanda-tanda kelelahan di wajahnya seperti yang ia dengar dalam nada suaranya. Namun Hayoung hanya menemukan kesungguhan. Hayoung dapat melihat dengan jelas tekad kuat Yoongi untuk tetap bertahan.

Hayoung tahu betapa sulit hidup Yoongi setelah kedatangan Seokjin. Jika saja bisa, Hayoung ingin menghapus Seokjin dari muka bumi agar hidup Yoongi menjadi lebih baik. Hayoung tidak suka melihat rangkaian penderitaan yang melekat pada Yoongi. Demi Tuhan, Yoongi adalah saudarinya. Meski tidak memiliki hubungan darah, Hayoung sudah menganggapnya seperti itu sejak ia bisa mulai mengingat segala hal tentang hidup. Namun sekali lagi, Hayoung hanya bisa berdiri dan memberi dukungan.

Juga berdoa, agar Min Yoongi akan kembali berbahagia suatu hari nanti.

.

.

.

TBC


Karna ada yang minta lanjut, jadi aku lanjutin~~

Maaf yaaaa karakter Jin disini kudu jahat T.T

Jangan pada marah pleaseee~~~

Dan Jimin belum muncul yaa, aku munculin di chap depan...

.

.

Okey, see you in next chap~~

Jangan lupa review~~