Dan pagi pun menjelang, Chanyeol menggeliatkan tubuhnya setelah semalaman bergelung di alam mimpi.

"Jam berapa ini?"

Lelaki bertubuh kekar itu menatap kearah jam yang menggantung di dinding. Pukul 6 pagi, ini adalah sebuah rekor bagi Chanyeol, selama ini ia selalu kesulitan untuk membuka matanya sebelum pukul 12 siang.

Pria itu pun lantas berdiri, dengan langkah santai ia berjalan kearah pintu kamar.

CKLEK

Langkah kaki Chanyeol tiba2 saja terhenti, ia menundukan kepalanya dan baru tersadar jika ia tidak menggunakan pakaian sama sekali. Kejantanan panjangnya bahkan tampang menjuntai dengan indahnya tanpa penutup apapun. Ia lantas mengumpat, dengan segera ia menutup kembali pintu kamar dengan keras. Chanyeol itu punya kebiasaan tidur tanpa menggunakan pakaian, rasanya sangat panas jika tidur dengan menggunakan pakaian lengkap. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, ia sudah menikah dan akan lebih baik jika ia menghilangkan kebiasaan tersebut.

..

Chanyeol kembali berjalan keluar kamar setelah selesai menggunakan pakaian lengkap, ia berjalan kearah sofa ruang tamu dimana sang 'istri' Byun/Park Baekhyun tengah terlelap disana.

Chanyeol memperhatikan gadis cantik itu dengan seksama, sampai saat ini ia masih sulit mempercayai jika gadis yang tengah terlelap ini adalah Baekhyun yang dulu punya bobot lebih dari 80 kilo. Jika benar gadis ini adalah Baekhyun, ia pasti telah bekerja sangat keras untuk menurunkan berat badannya.

Chanyeol masih ingat, dulu ia pernah dipukuli oleh ayahnya dengan menggunakan gagang sapu karena terlalu sering menjahili Baekhyun. Entah kenapa Chanyeol senang sekali menjahili Baekhyun dulu, rasanya begitu menyenangkan ketika ia melihat Baekhyun yang marah-marah akibat kejahilan yang ia lakukan. Terkadang ia menempelkan permen karet bekas di tempat duduk Baekhyun hingga permen karet itu menempel di rok atau celananya. Chanyeol juga sering memasukan kodok ataupun serangga kedalam tas yang digunakan Baekhyun hingga gadis itu menangis, jika sudah begitu Baekhyun pasti akan mengadu pada orangtuanya dan orangtua Baekhyun akan megadu pada orangtua Chanyeol sampai Chanyeol dimarahi dan dipukuli dengan menggunakan gagang sapu.

Tapi, meskipun Chanyeol sangat suka menjahili Baekhyun, Chanyeol tidak begitu suka jika ada orang lain yang membuat Baekhyun menangis. Chanyeol akan sangat marah jika sampai itu terjadi. Seperti halnya ketika Baekhyun masih duduk dibangku kelas 2 SMP, Chanyeol pernah mengancam akan membunuh 5 laki-laki teman sekelas Baekhyun karena mengatai Baekhyun seperti gentong berjalan.

Akibat dikatai seperti itu Baekhyun jadi enggan untuk bersekolah dan hal itu benar-benar membuat Chanyeol emosi, ia sampai mencegat anak-anak itu di depan gang sekolah dan terang-terangan akan membunuh mereka jika masih berani mengatai Baekhyun. Nyatanya, ancaman itu berhasil membuat mereka ketakutan dan tidak berani mengatai Baekhyun lagi, Baekhyun pun bisa kembali bersekolah seperti biasa.

"Eungghh.."

Baekhyun melenguh pelan, ia tampak mengeratkan pelukan dalam tidurnya. Tampaknya ia kedingingan, Baekhyun tidur hanya dengan sebuah cardigan tipis, ditambah lagi ia tidur diatas sofa yang pastinya sangat tidak nyaman.

Chanyeol akui ia egois, sebagai laki-laki harusnya ia mengalah dan membiarkan Baekhyun tidur dikamar. Apa yang dilakukan Chanyeol semalam memang keterlaluan dan tidak gentle sama sekali.

KRIUKK

Chanyeol menyentuh perutnya sendiri, Chanyeol lapar, ia butuh makanan. Tapi mereka baru saja pindah, mereka belum sempat membeli bahan makanan apapun. Apa sebaiknya Chanyeol membeli sarapan diluar? Sekalian untuk Baekhyun?

Chanyeol kembali menatap istrinya itu, ada baiknya jika ia juga membelikan sarapan untuk Baekhyun. Itung-itung sebagai penebus rasa bersalah karena telah membiarkan Baekhyun tidur di sofa.

.

.

.

Baekhyun mengerjapkan matanya pelan, ia menguap lalu menggeliat pelan. Gadis itu pun lantas terduduk dan menatap kearah jam yang menggantung di dinding dimana waktu telah menunjukan pukul 9 pagi.

Ia menatap kesekeliling rumah, sepi sekali, apa Chanyeol belum bangun?

Perempuan berusia 21 tahun itu pun lantas berdiri dan berjalan menuju kamar satu-satunya dirumah ini.

TOK TOK TOK TOK

"Oppa, kau sudah bangun?"

Tidak ada jawaban, suasananya benar-benar hening. Chanyeol masih tidur atau sudah mati? Apa jangan-jangan dia sudah berangkat bekerja?

Baekhyun menyentuh kenop pintu kamar dan mendorongnya pelan.

CKLEK

Pintunya tidak terkunci dan terbuka sedikit, haruskah Baekhyun masuk? Tapi bagaimana jika Chanyeol sedang ganti baju? Bagaimana jika ia melihat 'belut listrik' yang menggantung diselangkangannya lagi? Uh, membayangkannya saja sudah membuat Baekhyun merinding.

Tapi Baekhyun harus tetap masuk, setidaknya ia harus memastikan suaminya itu masih hidup atau sudah mati.

"Oppa.." Baekhyun memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar.

"Chanyeol oppa?"

Baekhyun mengernyit ketika tidak menemukan siapapun di dalam kamar. Kemana perginya pria mesum itu? Apa mungkin ia memang sudah berangkat bekerja?

Baekhyun menggedikan bahu, terserah lah, memang lebih baik jika pria mesum itu tidak ada dirumah. Baekhyun tidak bisa menjamin keperawanannya akan terjaga jika si pemilik 'belut listrik' itu masih berkeliaran dirumah.

Drrt.. drrt.. drrt..

Atensi Baekhyun seketika teralihkan ketika melihat sebuah benda berwarna merah muda yang bergetar diatas meja nakas.

"Ponselku.."

Baekhyun dengan segera mengambil ponsel miliknya sembari tersenyum lebar, semalam ia lupa membawa ponselnya keluar karena terlalu panik melihat si 'belut listrik' milik suaminya.

"Oh? Ada 2 pesan dari ibu."

KLIK

'Selamat pagi sayang, bagaimana malam pertama kalian? Pasti menyenangkan bukan?"

'Sayang kau sudah bangun kan? Jangan bangun terlalu siang, ingat kau sudah menikah. Ada baiknya kau bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk suamimu.'

Baekhyun merotasikan bola matanya malas, bisa-bisanya ibunya itu menanyakan soal malam pertama. Malam pertama apanya? Semalam ia dan Chanyeol bahkan tidur terpisah. Dan lagi, bagaimana mungkin ia menyiapkan sarapan jika ia saja tidak bisa memasak?

Baekhyun dengan cepat mengetik pesan balasan untuk sang ibu.

'Aku sudah bangun ibu, tapi Chanyeol oppa sudah pergi, aku tidak sempat membuatkannya sarapan.'

SEND

Baekhyun menscroll isi kotak masuk diponselnya yang kebanyakan pesan dari operator, tapi alisnya sedikit mengernyit ketika melihat sebuah pesan masuk yang dikirimkan oleh nomor asing yang tak ia kenal.

"Nomor siapa ini?"

KLIK

'Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu di meja makan, aku juga menyimpan sejumlah uang untuk peganganmu di laci meja nakas. Aku akan pulang larut, jadi kau tidak perlu menungguku. Dari suamimu, Park Chanyeol..'

Baekhyun membuka laci meja nakas dan menemukan beberapa lembar uang sejumlah 16.000 Won.

Baekhyun terdiam, Chanyeol masih tetaplah Chanyeol yang dulu. Chanyeol yang selalu perhatian dibalik sikap cueknya itu.

Tapi.. darimana Chanyeol tau nomor ponselnya? Seingatnya Baekhyun belum pernah memberikan nomor ponselnya pada suaminya itu. Apa mungkin dari ibunya?

Baekhyun mengedikan bahunya acuh, ia tidak peduli Chanyeol dapat nomor ponselnya darimana. Yang terpenting sekarang ia harus menyimpan nomor suaminya ini jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.

Baekhyun dengan cepat menyimpan nomor ponsel suaminya, tangan lentiknya dengan lincah mengetikan nama 'Park Chanyeol.' sebagai nama di phonebooknya. Baekhyun tiba2 saja terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menggeleng pelan, dengan cepat ia mengubah nama 'Park Chanyeol.' menjadi 'Belut Listrik.'

SAVED

Baekhyun tersenyum puas, ia lantas berjalan santai keluar kamar menuju meja makan.

.

.

.

"PARK CHANYEOL!"

Chanyeol berjengit keget ketika teman-teman satu profesinya berteriak tepat di depan wajahnya. Ia baru saja sampai ditempat kerja dan langsung di interogasi seolah-olah ia ini penjahat kelas kakap.

"Wae? Aku tidak tuli, kalian tidak perlu berteriak seperti itu di depan wajahku." Ucap Chanyeol sembari mengusap kupingnya yang terasa berdengung.

"Bagaimana kami tidak berteriak? Kau baru saja menikah dengan Byun Baekhyun Chanyeol ah, kau baru saja menikahi wanita seksi yang diidolakan oleh laki-laki diseluruh kampung!" Ucap Kasper menggebu-gebu.

"Memangnya kenapa jika aku menikahi Baekhyun?"

"Kau masih bertanya? Jelas saja itu sangat menjengkelkan karena kami semua disini justru berharap bisa mempersuntingnya."

Para supir dan kenek truk itu mengangguk setuju, sekarang harapan mereka untuk bisa menikmati vagina Baekhyun telah pupus karena Park Chanyeol.

"Kalian ini benar-benar aneh, dulu kalian selalu menejekku karena aku belum menikah. Sekarang ketika aku sudah menikah, kalian malah memarahiku."

"Kau boleh menikah, tapi kenapa harus Baekhyun? Pupus sudah harapan kami semua."

Chanyeol merotasikan bola matanya malas, ia benar-benar tidak berminat menceritakan perihal perjodohan yang dilakukan ayahnya dan ibunya Baekhyun.

"Sudah-sudah, tidak perlu diributkan. Sekarang Baekhyun sudah menjadi milik Chanyeol, kita hanya perlu mengikhlaskannya saja." Ucap Junho mencoba menengahi.

Para supir dan kenek truk itu mendengus sebal karenanya.

"Begini saja, agar lebih adil. Bagaimana jika Chanyeol menceritakan tentang malam pertamanya dengan Baekhyun?"

Chanyeol membulatkan kedua matanya, Junho ini apa-apaan..

"SETUJU!" Mereka semua berteriak kompak.

"Apakah vagina Baekhyun enak?"

"Apakah ia masih perawan?"

"Payudaranya juga terlihat besar, pasti kenyal dan empuk bukan?"

"Hey, apakah vagina Baekhyun berbulu lebat, tipis atau tidak berbulu sama sekali?"

"Baekhyun itu seorang penyanyi, apakah ia mendesah dengan menggunakan vibra?"

Chanyeol menggeram kesal, bisa-bisanya mereka menanyakan hal seperti itu.

PLETAK

PLETAK

PLETAK

PLETAK

"Awwww."

Chanyeol memukul kepala mereka satu persatu.

"Dasar otak mesum! Berhentilah bicara omong kosong dan segeralah bekerja, kita harus segera mengantar semua bahan bangunan itu ke Distrik Jeongwu."

Chanyeol dengan segera berjalan meninggalkan teman-temannya dan masuk kedalam truk tronton yang akan dikendarainya dengan cara memanjat.

Teman-teman Chanyeol tampak mendengus kecewa, mereka jadi kehilangan bahan untuk bermasturbasi ria dikamar mandi.

.

.

.

Makan, tidur dan menonton televisi. Hal itulah yang terus dilakukan Baekhyun sedaritadi. Sungguh ia merasa begitu bosan, tidak ada yang bisa ia lakukan dirumah ini selain makan, tidur dan menonton televisi.

Baekhyun melirik jam di dinding, sudah jam 1 siang, apa sebaiknya ia membantu ibunya di kedai? Setidaknya itu lebih baik daripada ia terus berdiam diri dirumah seperti ini.

..

Baekhyun sudah sampai di depan rumah ibunya, tadi ia sudah ke kedai namun tidak menemukan ibunya sama sekali disana. Pemilik kedai bilang ibunya tidak masuk kerja karena sedang sakit, maka dari itu ia datang kerumah sembari menenteng kantung plastik berisi bubur kerang abalon untuk ibunya.

Baekhyun sedikit mengernyit ketika melihat sepasang sepatu laki-laki di rak sepatu depan rumah. Sepatu siapa? Seingatnya, semua sepatu milik sang ayah sudah dijual ke tukang loak.

TOK TOK TOK TOK

"Ibu, ini aku Baekhyun, buka pintunya."

TOK TOK TOK TOK

CKLEK

"Baekhyun?"

Sungmin tampak terkejut melihat putrinya berdiri di depan rumah. Baekhyun pun sama terkejutnya, ia terkejut karena ibunya keluar dengan kondisi baju dan rambut yang acak-acakan, kancing baju ibunya bahkan terbuka sampai memperlihatkan belahan dadanya yang sangat seksi.

"Ibu, apa yang-"

"Apa yang kau lakukan disini Baekhyun? Kenapa tidak memberitahu ibu dulu?"

"Aku dengar ibu sakit, jadi aku datang kemari untuk membawakan ibu bubur."

Sungmin melihat bungkusan yang dibawa Baekhyun dan dengan segera mengambilnya. "Terimakasih banyak sayang, kau memang anak yang perhatian."

"Ini sepatu siapa ibu? Kenapa bisa ada sepatu laki-laki disini? Bukankah sepatu ayah sudah kita jual semua?" Baekhyun menunjuk sepatu pria di rak sepatu.

"O-oh, itu sepatu untuk Chanyeol. Ibu sengaja membelinya sebagai kado pernikahan." Sungmin terlihat gugup, dan hal itu sama sekali tidak luput dari pandangan Baekhyun.

"Sepatu ini terlihat kumal, ini pasti sepatu lama."

"Ini memang sepatu bekas, ibu tidak punya uang untuk membeli sepatu baru." Sungmin semakin berkilah.

Baekhyun semakin merasa curiga, ia kemudian bersedekap dan menatap sang ibu dengan tatapan penuh selidik.

"Ibu membawa laki-laki masuk kerumah ya?"

Sungmin terbelalak. "Bicara apa kau ini? Jangan bicara sembarangan Baekhyun ah."

"Aku tidak percaya, pasti ada laki-laki di dalam kan?" Baekhyun mencoba untuk masuk kedalam rumah, tapi langsung ditahan oleh Sungmin.

"Aigoo kau ini, sudahlah. Sebaiknya kau pergi, terimakasih untuk buburnya."

"Ibu mengusirku?"

"Ibu tidak mengusirmu, tapi ibu sedang sibuk. Ibu sedang membuat kue di dalam, sudah ya, sekali lagi terimaksih untuk buburnya."

BRAAAKK

"YA! Ibu."

Baekhyun berdecak sebal, ibunya langsung masuk kerumah begitu saja. Baekhyun jadi semakin yakin jika ibunya membawa laki-laki masuk kedalam rumah.

CKLEK

Sungmin kembali membuka pintu..

"Sebaiknya kau segera pulang, tunggu suamimu pulang kerumah. Pengantin baru seperti kalian seharusnya banyak mengurung diri dikamar supaya bisa segera memberikan ibu cucu"

BRAAAKK

Sungmin kembali menutup pintu dengan kencang.

Baekhyun langsung terperangah dibuatnya, apa itu tadi? Ibunya itu benar-benar..

.

.

.

Chanyeol keluar dari kamar mandi sembari mengusap air yang mengucur dari rambut kesekujur tubuhnya dengan menggunakan handuk kecil.

Chanyeol bekerja disebuah perusahaan penyedia truk sebagai supir, perusahaan ini memang mempunyai tempat semacam base camp sebagai tempat berkumpul para supir dan kenek sebelum dan sesudah bekerja. Tempatnya cukup lengkap karena ada ruangan untuk tidur, menonton televisi, ruangan untuk sekedar merokok dan juga kantin. Untuk makan, para supir dan kenek biasanya diberikan jatah makan gratis untuk dua kali makan setiap harinya.

"Chanyeol, kemari.."

Kasper melambaikan tangan ketika melihat sahabatnya masuk ke area kantin, Chanyeol yang hanya mengenakan celana pendek itu pun langsung mendudukan pantatnya tepat disamping Kesper.

"Aku sudah memesankan makanan untukmu."

Chanyeol menatap sepiring nasi putih dan telur puyuh diatas meja. "Terimakasih."

Chanyeol dengan segera menyantap makanan yang telah tersedia sembari mengangkat kaki kanannya keatas kursi, satu lagi kebiasaan Chanyeol sejak dulu, ia sering mengangkat satu kakinya keatas kursi jika ia sedang makan, ia juga lebih senang makan dengan menggunakan tangan langsung jika makanan yang ia makan tidak berkuah. Ia tau makan dengan menggunakan tangan langsung di Korea dianggap sebagai perbuatan yang tidak sopan, tapi Chanyeol tidak peduli, selama ia merasa nyaman, maka ia akan melakukannya.

"Aku sudah mengikhlaskanmu menikah dengan Baekhyun."

Chanyeol menoleh kesamping. "Wae?"

"Aku sadar tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan sahabatku."

"Kenapa kau bisa seyakin itu jika aku merasa bahagia?"

"Ya! Laki-laki mana yang tidak merasa bahagia menikah dengan perempuan secantik dan seseksi Baekhyun?"

Chanyeol merotasikan bola matanya malas, menyesal sekali rasanya ia mendengarkan celotehan sahabatnya ini.

"Kenapa? Apakah Baekhyun kurang bisa memuaskanmu diranjang?"

Chanyeol mengambil sendok makan Kasper dan langsung memukulkannya ke kepala sahabatnya itu.

PLETAKK

"Awwww." Kasper mengusap kepalanya pelan sembari menatap sahabatnya itu kesal.

"Berhentilah berpikiran kotor."

"Dasar menyebalkan, kau bisa diam jika tidak mau menjawab, tidak perlu memukul kepalaku dengan menggunakan sendok." Kasper menggerutu kesal.

Chanyeol lantas terdiam, ia menelan makanannya lalu kemudian meneguk segelas air putih sampai habis.

"Sebenarnya aku menikah dengan Baekhyun karena dijodohkan."

Kasper langsung menatap sahabatnya itu dengan ekspresi terkejut. "Benarkah? Bagaimana bisa?"

"Ayahku kalut sekali melihatku yang sudah berusia 30 tahun ini belum menikah juga, maka dari itu ia menjodohkanku dengan putri dari mantan kekasihnya."

"Putri dari mantan kekasihnya? Maksudmu, ayahmu dan ibunya Baekhyun pernah berpacaran?"

Chanyeol mengangguk. "Iya, dulu mereka adalah sepasang kekasih."

"Heol, daebak. Orangtuanya pernah berpacaran dan anak-anaknya menjadi suami istri, benar-benar keluarga yang unik."

"Aku menikah dengan Baekhyun hanya supaya ayahku merasa bahagia, dan nyatanya ayahku sangat bahagia ketika melihatku bersanding dengan Baekhyun di altar pernikahan."

Kasper menyimpan sendok makannya dengan rapi, ia lebih tertarik mendengar cerita Chanyeol tentang pernikahannya bersama Baekhyun.

"Selama ini aku tidak pernah bisa memberikan apapun untuk ayahku, sedari kecil aku selalu menyusahkannya, aku tidak pernah bisa membalas semua kebaikannya. Jika dengan menikahi Baekhyun bisa membuatnya senang, tentu aku akan dengan senang hati melakukannya."

"Aku benar-benar tidak mengerti Chanyeol ah, sebenarnya apa yang membuatmu tidak menyukai Baekhyun? Maksudku, semua laki-laki normal pasti menyukai Baekhyun. Dia cantik, kulitnya putih, bibirnya ranum, buah dadanya besar, pantatnya juga besar. Kurang apalagi? Membayangkannya saja sudah membuatku ereksi."

Chanyeol berdecak sebal. "Bisakah sekali saja kau tidak berpikiran mesum? Kau bahkan sudah punya anak."

"Hey, setiap laki-laki normal pasti berpikiran mesum."

"Tapi yang kau jadikan objek fantasi mesum mu itu adalah istri orang."

Kasper tertawa kecil mendengarnya. "Baiklah maafkan aku, tapi aku masih belum mengerti kenapa kau tidak menyukai Baekhyun.."

Chanyeol menghela nafas. "Aku mencintai wanita lain."

"Mwo?" Kasper cukup terkejut mendengarnya.

"Ada seorang wanita yang aku cintai, dan sampai sekarang aku masih belum bisa melupakannya."

"Siapa wanita itu?"

"Namanya Kyungsoo, tapi dia sudah menikah dan punya anak."

"Kalau begitu untuk apa kau masih mengharapkannya? Kau bilang aku tidak boleh berfantasi mesum tentang Baekhyun karena dia itu istrimu. Tapi kau sendiri? Kau sendiri masih mengharapkan wanita yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain."

"Aku tau itu, aku berusaha untuk melupakannya tapi rasanya masih begitu sulit. Aku terlalu mencintainya."

"Sesulit apapun itu kau harus bisa melupakannya, kau lihat aku Chanyeol ah. Aku sering menggoda wanita lain tapi aku hanya setia pada satu wanita, yaitu istriku. Sekarang kau bukan pria lajang lagi Chanyeol ah, kau sudah punya istri dan sudah sepantasnya kau memusatkan seluruh perasaanmu hanya kepada Baekhyun."

Chanyeol tersenyum kecil mendengarnya, ia tidak menyangka jika Kasper mampu berpikir sedewasa ini.

"Tapi aku masih penasaran, Baekhyun itu seorang penyanyi, apakah jika ia mendesah suaranya akan mengeluarkan vibra?"

Senyuman Chanyeol langsung menghilang seketika, ia kembali mengambil sendok makan dan mendaratkannya di kepala Kasper.

PLETAKK

"Awwww sakit idiot!"

Chanyeol memutuskan untuk kembali melanjutkan makannya tanpa memperdulikan ocehan sahabatnya lagi.

.

.

.

Baekhyun baru saja mengoleskan krim malam ke wajah cantiknya, sekarang sudah jam 9 malam tapi si pemilik 'belut listrik' itu belum juga menunjukan batang hidungnya. Sepertinya ia memang benar-benar pulang larut malam ini.

Biarlah, Baekhyun merasa hidupnya lebih tenang tanpa kehadiran si 'belut listrik' itu yang sewaktu-waktu bisa saja merenggut keperawanannya.

"Bosan sekali, kira-kira apa yang bisa aku lakukan ya?"

Baekhyun mengutak-atik ponselnya, ia menyalakan paket data dan langsung berselancar di Youtube. Baekhyun langsung menonton tutorial make up dari youtuber terkenal di Korea.

Ya, selain bernyanyi, Baekhyun juga tertarik dengan dunia make up. Baekhyun memang belum terlalu mahir menggunakan make up, tapi ia selalu belajar make up setiap kali ada kesempatan.

Lampu kamar tiba-tiba mati, Baekhyun pun agak dibuat terkejut karenanya, ia langsung menyalakan senter diponselnya dan berjalan keluar kamar.

"Ternyata mati lampu.."

Baekhyun berdecak sebal, ia langsung berjalan kearah dapur dan mencari lilin dilemari dapur. Setelah dapat, ia langsung menyalakan kompor dan membakar ujung lilin tersebut.

Baekhyun langsung meletakan lilin itu dimeja ruang tamu, sebenernya Baekhyun tidak begitu suka keadaan gelap seperti. Rasanya seperti ia tengah berada ditempat yang mencekam seperti kuburan atau semacamnya.

Huh.. semoga saja lampunya cepat menyala supaya ia tidak merasa ketakutan lagi.

..

"Terimakasih."

"Sama-sama tuan."

Chanyeol menerima bungkusan kaki ayam yang ia beli di kedai pinggir jalan, ia sengaja membeli kaki ayam untuk Baekhyun, Chanyeol masih merasa bersalah karena tadi malam ia menyuruh Baekhyun untuk tidur di sofa.

BRUUMM

Chanyeol melajukan motornya untuk bisa segera sampai dirumah, hanya dalam waktu sekitar 15 menit ia sudah sampai di kawasan tempat ia tinggal. Alisnya sedikit mengernyit ketika melihat banyak orang yang berlari kearah rumahnya.

Chanyeol menggedikan bahunya pelan, mungkin hanya searah saja..

Tapi.. Chanyeol semakin dibuat bingung ketika melihat kumpulan asap hitam yang membumbung(?) Tinggi ke udara, asap itu berasal dari rumahnya.

Apa jangan-jangan..?

Chanyeol menelan ludahnya gugup, ia langsung melajukan motornya dengan kencang, perasaannya semakin tidak karuan melihat semakin banyaknya orang yang berlarian kerumahnya, asap hitam itu pun semakin tebal dan terlihat jelas berasal darimana.

"KEBAKARAN!"

"KEBAKARAN!"

Chanyeol memarkirkan motornya dengan asal, bungkus makanan yang tadi ia bawa pun langsung jatuh begitu saja. Ia menatap rumah yang baru ia tempati kemarin itu dengan tatapan nanar.

Benar dugaannya, rumahnya terbakar, terbakar entah karena apa..

"BAEKHYUN!"

Chanyeol langsung berlari kedalam rumah, tak peduli teriakan para warga yang memintanya untuk tidak masuk kedalam rumah. Chanyeol tidak peduli, yang ia pikirkan saat ini hanyalah keselamatan Baekhyun, keselamatan dari wanita yang telah sah menyandang status sebagai istrinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Makasih buat yang udah review dichapter kemarin, maaf kalo masih banyak kekurangan.

Sampai ketemu di chapter selanjutnya ya.

Jangan lupa review :v