Sakura pov

Ponselku terus berdering menampilkan satu nama yang akhir-akhir ini membuatku muak.

Sasuke-kun

Nama itu kembali mengingatkanku pada kejadian dua hari yang lalu. Katakan aku egois, tapi gadis mana yang akan diam saja kalau melihat lelaki yang berstatus sebagai pacarmu dikerubungi oleh gadis-gadis, ya meskipun ada setengah gadis jadi-jadian, dan mengabaikanmu di hari pertama kuliah?

Well, bilang saja kalau aku terlalu terbawa perasaan, atau istilah lainnya baper.

Aku tahu Sasuke-kun itu tampan! Tapi dia juga harusnya sadar diri kalau dia sudah punya pacar. Jangan tebar pesona sana-sini mengobral ketampanannya begitu!

Kemana Sasuke-kun yang dulu?

TID TID TID

Suara klakson membuyarkan lamunanku. Kenapa orang itu berisik sekali? Bisa 'kan dia tidak usah membunyikan klaksonnya seperti itu?

Aku mengangkat kepalaku. Tepat dua meter di mana aku sedang duduk, lelaki dewasa dengan rambut silvernya yang melawan gravitasi itu menyembul dari arah jendela dan menggerakan tangannya seolah memberikan isyarat padaku untuk mendekat.

Aku mengernyitkan alis, kok sepertinya...

Tidak asing?

Beberapa detik otakku berputar. Mengingat memori yang barangkali aku lupakan.

Ah, dia kan...

Aku membelalakan mataku, kakiku telah berdiri, bersiap untuk kabur.

Tapi kabur kemana? Halte bis terdekat menuju kampusku hanya di sini.

Ah pokoknya kabur saja dulu!

Baru beberapa langkah, tangan kananku dicekal cukup kuat. Aku berontak dengan cara menghentakan tangannya, tapi orang ini malah menyeretku dan menghempaskan bokongku di kursi sebelah kemudi mobil sportnya tepat ketika dia membuka pintu mobilnya.

"HEI KAU TIDAK BISA SEPERTI INI!" Teriakku. Lelaki di sampingku menatapku tajam, dia membuka mulutnya dan berkata, "diam!"

Aku merinding. Sumpah, suaranya sangat berat dan, menyeramkan. Apa aku akan diculik?

Aku menahan napasku beberapa detik. Oh Tuhan kenapa aku berada di posisi seperti ini?

Dia melajukan kemudinya di atas kecepatan rata-rata. Jalanan kota Tokyo di pagi hari yang biasanya macet entah kenapa sekarang lancar-lancar saja.

Aku memegang seat belt yang dipakaikan olehnya tadi. Aku menghela napasku. Suasana kami begitu hening, dia tidak mengeluarkan suaranya. Hanya umpatan-umpatan kasar keluar dari mulutnya saat pengemudi mobil lain berkendara lebih cepat dari mobilnya.

"Tck sialan!" Umpatnya lagi ketika sebuah mobil Porsche Carrera GT keluaran terbaru dengan flat nomor 001 US menyelip mobilnya.

Aku membelalakan mataku, itu kan mobil Sasuke-kun! Sialan, aku benar-benar melihat ada gadis berambut merah duduk di sampingnya.

"Ano pak, kurasa si mobil porsche itu kurang ajar telah mendahuluimu."

Aku mencoba memancing bapak SBA yang ketumpahan jus tomat tempo hari.

Agak segan sebenarnya tapi aku juga benar-benar penasaran, jadi Sasuke-kun selingkuh? Padahal pas tadi aku duduk di halte dia menelepon beberapa kali.

Tch dasar pantat ayam!

"Pak? Cih setelah ini kau harus menghadap ke ruanganku." Ucap si bapak SBA, kenapa suaranya ini terkesan marah?

Glek.

Aku mencoba menelan salvia-ku dengan susah payah, apa aku melakukan kesalahan lagi?

Tapi setelah mengucapkan itu, bapak SBA ini menggas mobilnya dan menaikan kecepatan kemudi di atas 270 km/H. Aku semakin mengeratkan pegangan seat belt-ku.

"Ano pak, mobil itu sepertinya menaikan kecepatan di atas 290 km/H karena yang ku tahu mobil Sasuke-kun kecepatan maksimalnya 308 km/H dan dia bisa menaikannya menjadi 310 km/H." Terangku. Jelas saja bapak SBA ini tidak akan mampu mengejar mobil Sasuke-kun yang hobinya kebut-kebutan.

Bapak SBA menatapku sekilas, rahangnya mengeras. Astaga! Kenapa bapak ini? Ayolah hanya ketumpahan jus bukan ketumpahan air raksa yang membuat kulit putih mulusnya itu melepuh 'kan?

Aku menggigit bibir bawahku.

"Mobilku kecepatan maksimalnya 360 km/H" ucapnya tiba-tiba. Aku menatapnya tidak percaya.

"Jangan bercanda! Mana ada mobil dengan kemampuan berkendara secepat itu! Berapa tenaga kuda yang dibutuhkannya coba?" Jawabku. Lagian si bapak ini ada ada saja.

"Tsk tahu apa kau tentang mobilku?" Aku membulatkan mulutku, "Anda sombong sekali, pak."

Tapi detik berikutnya aku berteriak dan hampir saja menabrak dashboard kalau tidak memakai seat belt. Sialan! Aku melihat dia menaikan kecepatannya menjadi 290 km/h dan ini sudah sangat di atas rata-rata.

"Pak aku masih berusia 19 tahun, masih mahasiswa baru, cita-citaku masih jauh untuk kucapai. Aku tidak mau mati karena kecelakaan mobil." Kataku dengan suara bergetar. Persetan dengan rasa penasaranku terhadap gadis yang di sebelah Sasuke-kun!

Kalau dia selingkuhan, di kampus pasti akan nempel terus tuh.

Terdengar suara kekehan di sampingku, aku mendelik kesal. "Jangan menertawakanku!" Ucapku, dia semakin tertawa keras.

"Kau bodoh sekali! Aku heran kenapa Tōdai menerimamu saat seleksi mahasiswa baru." HAH!

Aku menyipitkan mataku, "mulut Anda pedas sekali pak." Kataku. Dia melirikku, "apa peduliku?" Astaga! Ini benar-benar keterlaluan! Apa sebegitu marahnya orang ini karena ketumpahan jus tomat?

Ayolah dia terlalu berlebihan. Lihat saja nanti aku akan melaporkannya ke KaProdi!

.

.

oOo

"Keluar!" Ucap si bapak SBA. Aku mengerucutkan bibirku sebal, baru juga jadi SBA kelakuannya sudah menyebalkan begini! Apalagi kalau dia seorang dosen atau jabatan yang jauh lebih tinggi?

Tuhan memang benar-benar adil.

Aku keluar dari dalam mobil sport bermerk ferari miliknya. Aku mendengus, ternyata dia seorang SBA kaya raya. Siapapun tahu kalau harga mobil ferari itu selangit.

Ketika aku keluar dari malam mobilnya, seolah terjadi slow motion di mana orang-orang memperhatikanku yang kini di seret oleh bapak SBA. Bisik-bisik mulai terdengar dan beberapa dari mereka menatapku sinis.

Hey, kenapa dengan mereka?

"Sakura!" Aku memutar bola mataku, dan memilih mengabaikan lelaki emo yang kini berlari menghampiriku dan tiba-tiba mengerem langkahnya ketika tahu tanganku dicekal oleh bapak SBA.

Sasuke-kun mengangguk hormat, "selamat pagi Mr. Hatake." Ucapnya. Aku menarik sudut bibirku saat tahu kalau bapak SBA hanya menganggukan kepalanya tanpa merespon ucapan selamat paginya sama sekali.

Ah bapak SBA ini sombong sekali. Biasanya kan SBA itu begitu ramah dengan para mahasiswa tapi berbeda dengan bapak SBA yang dipanggil oleh Sasuke-kun Mr. Hatake ini. Dia sama sekali tidak ramah apalagi saat dia terus menyeretku entah kemana.

Tunggu, tadi Sasuke-kun memanggilnya Mr. Hatake?

Eh?

Bukannya nama itu adalah...

DOSEN PENGANTAR ILMU HUKUM KELASKU?!

"Kami-sama" kataku pelan.

"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya pak SBA—Mr. Hatake maksudku.

Aku menggigit bibir bawahku seraya menggeleng.

Mr. Hatake bergeming. Dia merongoh saku celana bahannya dan mengambil kunci serta membuka pintu ruangannya.

Ceklek, dia menatapku.

"Masuk!" Titahnya.

.

.

.

Next?

a/n : Ah akhirnya bisa update hahaha xD at least, REVIEW-nya ya jangan sungkan