Viscaria: "Yeah! Met dateng lagi!!"

Author: "Lho? Kok elo yang muncul? Quinsi mana?"

Viscaria: *nyembunyiin lakban n tali tambang di balik punggung* "Au deh..."

Author: "Terserahlah. Btw, foto siapa tuh yang lo jadiin avatar?"

Viscaria: "Pacar gue chibi version!!" *senyum gaje*

Author: *swt* "Ya sudahlah... Nah, RnR please!! Saiia sangat membutuhkan feedback dari Anda sekalian berupa review agar saiia bisa meningkatkan kualitas fic saia..."

Dear, Diary

(Nanao with her diary named Nabatame Hitomi)

Disclaimer: "Sumpaah..! Saiia cuma minjem!!" *dikejar polisi en Bang Tite Kubo*

A/n. Based on true story. AU, OOC sangat, gajhe, pendek, ancur, dll. Klo nggak suka, silakan tinggalkan halaman ini...

Thanks buat yang udah RnR chapter 1. Hope you enjoy this chapter!

***

16 Oktober 2009

Dear, Hitomi...

Hitomi, aku ingin berbagi cerita lagi denganmu. Boleh kan?

Tadi pagi, aku telat bangun dan...

---

Sekaiichi taisetsu na hito wo omoi nagara.. Sakura-iro no michi wo hitori de aruita...

Lagu 'Shabondama Days' yang dinyanyikan oleh Aqua Timez itu terdengar cukup keras di dekat telingaku, sangat lebih dari cukup untuk membuat Hisagi yang kebetulan mampir ke mimpiku berganti wajah menjadi Futoshi. Dan karena alarm yang sangat tidak ampuh itu juga, mataku sangat sulit untuk terbuka, walaupun hanya sebatas 5 watt.

Sakura no hanabira ga... Sora wo mau goro...

Dengan kedua mata masih terpejam, tangan kananku meraba raba samping bantal untuk mencari hp-ku yang masih saja berkicau riang. Setelah beberapa saat menjadi seperti orang yang tidak memiliki penglihatan, kutemukan juga benda hitam kecil itu dan mematikan alarm-nya. Lalu mendadak kamarku menjadi sunyi, tidak terdengar suara apapun di dalam kamar kecuali suara detak jam dinding. Kamarku juga masih gelap karena belum ada secercah cahaya matahari yang sanggup menembus gorden kamarku.

Masih dengan meraba raba, kucari kacamataku yang semalam kutaruh tak jauh dari bantal. Tapi tak ayal, mata yang sepenuhnya masih terpejam ini membuat kesadaranku timbul-tenggelam. Tak lama, sensor di jari jariku merasa menyentuh gagang benda yang menjadi tumpuan penglihatanku dan secara refleks langsung menggenggamnya, tak peduli apakah perilaku itu akan membuat lensanya tergores.

Aku berguling kesana-kemari dan merenggangkan tubuh, bermaksud membuatku tersadar 100%. Tapi kantukku tidak bisa berkompromi lagi. Dalam hitungan detik, aku sudah kembali berada di alam mimpi...

***

"Nanao-chan..." Suara Hisagi yang lembut menyejukkan hati terus memanggil namaku dari jauh. Dengan gerak refleks, mataku mencari cari sosoknya di tengah kabut yang tebal ini.

"Nanao-chan..." Suaranya terus terdengar, namun aku tetap tidak bisa melihat sosoknya.

Dengan perasaan yang meluap luap, aku berlari di tengah tebalnya kabut yang menyelimutiku dan berteriak memanggil namanya, berharap ia akan datang dan menuntunku keluar dari kabut ini. Tapi tetap saja. Seberapa lama aku berlari, seberapa keras aku berteriak, dan seberapa jauh kakiku melangkah, ia tak kunjung muncul dalam dunia putih ini.

"NANAO!"

Suara siapa itu? Mengapa ia membentakku?

"NANAO!"

Suara itu terdengar semakin keras. Aku menutup kedua telingaku dengan telapak tanganku.

"Siapa kau? Mau apa kau denganku?" aku berteriak. Dalam segala kepanikanku, tiba tiba kakiku tidak lagi berpijak pada bumi. Sebuah jurang besar menganga di bawah kakiku.

"KYAAAAA...!!!"

***

GUBRAK!

"Uuh.." aku meringis sambil mengelus elus kepala dan punggungku yang membentur lantai. Kini aku duduk di lantai yang dingin dan keras karena terjatuh dari tempat tidur.

"NANAO! Sampai kapan kau mau tidur terus?!" Ibu tiba tiba berteriak dari depan pintu kamarku.

Memangnya sekarang jam berapa? tanyaku dalam hati. Aku mengucek ngucek mata dan melihat jam biru yang menggantung di dinding di depanku.

5.50

"HAAH??!!" aku berteriak histeris. Langsung saja kusambar handuk mandiku yang tergantung di balik pintu kamar dan ngacir ke kamar mandi. "Kenapa nggak dibangunin dari tadi? Telat deh!" teriakku pada ibu dari dalam kamar mandi.

"Salah sendiri!" ibu berseru, "Kamu harusnya memasang alarm!"

Alarm!

Ya! Benda itu! Benda yang tadi kumatikan!

Dalam hati, aku meringis. Kenapa tadi kumatikan??

Dengan kecepatan cahaya 4,2 detik punya Kobayakawa Sena dari Eyeshield 21, aku mandi, berpakaian, dan sarapan. Saking terburu burunya, aku tidak memasukkan kemeja putihku ke rok dan menjepit rambut hitam panjangku seperti biasa.

"Sudah ya, Nanao berangkat!" seruku dari ambang pintu depan dan berlari ke tempat biasa menunggu angkot. Sepatuku tidak sempat kupakai, makanya kuinjak saja seperti sedang memakai sepatu sendal.

Gyaa!! Jam 6.15! Telat!! Aku menambah kecepatan lariku dan berusaha agar kakiku tidak menginjak rok abu abu panjang yang kupakai ini.

Untungnya, saat aku sampai di tempat biasa menunggu angkot, ada 1 angkot yang kebetulan sedang berhenti di sana. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke dalam angkot. Tapi malangnya, Dewi Fortuna tidak selamanya berpihak padaku. Angkot sudah penuh, dan kebanyakan penumpangnya adalah siswi SMP dan SMA. Terpaksa aku keluar.

"Hei," aku menegur satu satunya penumpang yang bergender laki laki. Ia kebetulan duduk di bangku kecil di samping pintu. Ia memakai seragam SMP Karakura, sekolahku sampai 3 bulan yang lalu. Dilihat dari jumlah garis bordir-an di dasinya, ia sepertinya masih kelas 7. Ia juga memakai kacamata dan potongan rambutnya aneh.

"Hei, bisa gandul sebentar nggak?" tanyaku padanya, melihat ia sepertinya tidak menunjukkan sedikitpun niat untuk tidak mengacuhkanku.

Tak disangka, ia mendelikkan matanya padaku dari balik kacamata persegi panjangnya. "Kalau tidak mau naik, ya sudah. Jangan menyuruh orang pergi.." katanya dingin.

SIALAN!! Ni anak kecil kecil belagu banget! Gue kan cuma minta elo gandul bentar! Kan ada banyak anak SMP 8 di angkot ini. Gandul 8-10 menit aja kenapa, sih? Kalo Hisagi, dia pasti dengan sangat gentle-nya mempersilakanku duduk dan membiarkan dirinya gandul! Aku merutuk dalam hati.

"Ya udah!" dengan kesal aku langsung duduk di pintu karena waktu sudah semakin menunjukkan pukul 6.20. Tidak ada waktu lagi untuk menunggu kedatangan angkot lain.

"Jalan, Bang!" seruku. Tadinya, aku berniat gandul. Tapi segera kubatalkan niat itu. Apa jadinya kalau seorang siswi SMA gandul di angkot dengan memakai seragam sekolah lengkap? Pasti akan menimbulkan berbagai pemikiran negatif terhadapku. Nekat, lah.. Preman, lah... Tomboy, lah...

Angkot baru berjalan sekitar 25 meter ketika ada serombongan anak anak SMA Karakura –SMA yang letaknya tak jauh dari SMA-ku– datang dan menghentikan angkot.

"Tunggu!!!" seru seseorang yang berambut merah menyala. Si supir angkot langsung menghentikan laju angkot.

"Yaah... Udah nggak muat.." keluh cowok berambut pirang. "Gimana dong?"

"Kok gimana, sih? Kita kan, bisa gandul!" seru cowok berambut coklat yang terlihat mesum.

"Bener tuh kata Keigo! Kalian kan bisa gandul!" si cowok berambut oren membenarkan perkataan si cowok muka mesum. Tapi tak disangka, ia langsung naik ke atas angkot dan duduk di sana!

"Oi, Ichigo! Lo nggak apa duduk di atas?" tanya si cowok rambut merah.

"Nggak apa! Lo gandul aja di pintu klo nggak di belakang!" seru Ichigo.

"Ya udah. Oi, Kira! Lo gandul di mana?" tanya si rambut merah pada cowok rambut pirang.

"Di belakang aja," jawab Kira.

"Kurosaki! Bantuin gue naik, dong!!" seru si cowok terakhir. Rambutnya putih dan tubuhnya mungil sekali. Mungkin hanya sebatas bahuku.

"Ah, elo Toshiro! Makanya, jadi orang jangan cebol!" seru Ichigo sambil mengulurkan tangannya pada si cebol yang dipanggil Toshiro.

"Sialan lo!"

"Udah.. Ayo, naik!"

"Keigo! Lo gandul di mana?"

"Di belakang!"

"Ya udah, gue gandul di pintu!"

"Woi! Apa nggak kelebihan muatan, nih?"

"Udah biarin!"

"Iya! Mau didamprat Pak Sajin?!"

"Toshiro, mendingan lo masuk aja ke angkot! Ntar lo kebawa angin klo di sini!"

"Nggak! Gue mendingan di sini!"

"Udahlah Ichigo...Biarin aja!"

"Jalan, Bang!!"

Bukannya menjalankan angkot, si supir malah turun dan berceramah!

"Kalian ini! Turun! Masa sampai naik ke atas segala! Turun! Ntar... (bla bla bla)"

"Udahlah, bang! Jalan aja!" seruku dan semua penumpang angkot kecuali si cowok sialan bermata empat.

"Ya sudah. Tapi saya nggak tanggung akibatnya!"

"Jalan, baaaang...!" Aku berteriak frustasi. 5 menit lagi bel masuk!

Angkot kembali berjalan, tapi dengan lambat! Makin frustasilah aku.

Ketika angkot akhirnya sampai di depan SMP 8, penumpang yang turun banyak sekali. Setelahnya, aku bisa duduk di bangku. Cowok cowok nekat tadi juga bisa duduk di dalam. Si supir pun juga mulai ngebut karena sudah tidak ada anak anak yang gandul lagi. Tapi tetap saja...

Setibanya di depan sekolahku, pintu gerbang sudah tertutup berhiaskan tampang setan Bu Lxxx. Piiis, bu...

---

Nah, itulah yang terjadi tadi. Sungguh hari yang menyebalkan. Gara gara telat, aku jadi lari keliling lapangan 5 kali. Semoga besok aku tidak telat dan tidak bertemu lagi dengan si cowok brengsek itu...

Sudah dulu ya, Hitomi. Aku sudah mengantuk.

Bye-bye...

Tamat

Gomen jelek!!! Bisa kasih kritik n saran?

Review?