"Sepertinya dia tersesat, karena begitu sampai dia langsung mencari kakaknya" tambah Jellal sembari meletakkan gadis itu di sofa yang terletak di pojok guild.
"Ne.. tadi juga ada anak mencurigakan yang datang. Katanya dia kehilangan adiknya" kata Lucy, yang langsung disambung oleh Mirajane "dia adalah anggota Fairy Tail, mengejutkan bukan?"
"Apa?" sentak Erza bersamaan dengan Jellal. Si kecil yang tertidur itu hanya menggeliat.
Chapter 2
Fairy tail milik mas Hiro Mashima di jepang sana
Tapi jalan cerita ini milik saya
Rated T
Erza S x Jellal F
.
Happy Reading
.
Anak laki-laki berambut biru itu mendengus bosan setelah yang kesekian kalinya memperkenalkan diri seadanya kepada Erza dan Jellal yang masih tidak mempercayainya. Apalagi setelah diperlihatkannya lambang guild Fairy Tail di dadanya, semakin curiga saja sang Titania pada anak itu. Darimana pula anak itu mendapatkan lambang itu sedangkan selama dia disini –diiyakan oleh Mirajane dan Master Makarov yang ogah-ogahan- tidak ada anggota yang bernama Nipha.
"Sudahlah Nee-san, aku bosan terus memperkenalkan diri."
"Tapi kau sama sekali tidak menyebutkan nama belakangmu, Nipha" kata Jellal sembari menepuk pelan pundak anak laki-laki yang mirip dengannya, kalau diteliti. Anak yang tadi dipanggil Nipha itu langsung diam dan bermuka masam, jelas sekali anak itu enggan menyebutkan nama belakangnya. Atau memang sengaja. Tiba-tiba si gadis kecil berambut scarlet terbangun gara-gara keributan itu.
"Nipha onii-chan?"tanya anak itu polos, dengan dua tangan yang mengucek-ngucek matanya. Semua mata langsung tertuju pada anak itu, tanpa peduli lagi dengan anak laki-laki yang dari tadi sedang diintrogasi bersama-sama. Gadis itu mengedarkan pandangannya yang kebingungan. Dia lalu turun dan berlari kecil menghampiri wanita yang memakai armour heartqeurz dan berambut merah sepertinya.
"Mama... mama..." panggilnya yang langsung membuat orang-orang yang menyaksikannya cengo seketika. Anak itu sekarang menarik-narik rok biru pendek Erza dengan manja.
"Mou, Rose-chan kenapa kau manja sekali? Padahal kau sudah punya adik!" kata Nipha sembari menggeret adiknya. Bermaksud hendak menutupi kesalahan, namun dia harus meruntuki perkataannya sendiri yang telah terlanjur terucap. "Bakka! Kau bisa merusak sejarah tahu."
"Bukankah kakak sendiri yang bilang begitu?"
"Kau duluan yang bilang begitu, bakka!"
"Kita tidak boleh mengatakan yang tidak boleh dikatakan, Nipha nii-chan!"
Kedua anak itu bertengkar, beradu mulut sembari saling mencubit dan mencibir. Perlahan, Jellal mendekati Erza dan berbisik "Melihat mereka, aku jadi teringat masalalu."
Erza menoleh, disampingnya sekarang Jellal tengah tersenyum-senyum sendiri sembari menyaksikan aksi konyol kedua anak itu. pipinya sedikit memerah, entah mengapa Erza merasa ketularan Jellal karena pipinya juga mulai memanas saat ini. Tiba-tiba saja tangan yang kekar dan hangat menariknya menyusup pergi dari tempat itu.
.
.
.
Jellal Fernandez dan Erza Scarlet sekarang berada di belakang guild. Pemandangan disana lumayan untuk berduaan mengingat guild Fairy Tail berada di tepi pantai. Lagipula angin sore sudah mulai berhembus sejuk dan matahari sudah agak condong ke barat, menyisakan semburat-semburat jingga di langit yang mempermanis suasana. Tiba-tiba Erza merasakan deja-vu akan hal ini.
"Erza, sebenarnya aku ingin membicarakan hal ini dari tadi. Tapi yah, kau tahu sendiri disana terlalu ramai." Kata Jellal sembari menatap –apapun itu selain kedua mata Erza.
"Y-yah, sepertinya begitu.."entah mengapa kini Erza juga jadi salah tingkah. Hening. Suara burung camar terdengar berkoar-koar menyebrangi lautan. Tak jarang, satu atau dua ikan bersayap (ingat episode 74?) yang kebetulan melintas disana.
"Sebenarnya.. aku benar-benar penasaran dengan kedua anak itu." kata Erza berusaha mencairkan suasana. "Mereka berdua, maksudku Nipha dan Rose itu. Apa kau tidak curiga?" imbuhnya sembari menatap Jellal dengan serius.
"Yah, aku tidak yakin tapi... jika mereka berdua bukan dari edolas, ada kemungkinan mereka dari masa depan."Jellal mengemukakan pendapatnya, Erza hanya mengangguk tanda mengerti.
"Tapi apa kau tahu sihir lain yang bisa memindahkan seseorang dari ruang dan waktu yang berbeda selain Eclipse?"
"Hm... tapi Erza, bukankah Eclipse sudah hancur lama sekali?"Jellal bertanya balik.
Sekarang giliran Erza yang bingung, memangnya ada sihir yang bisa memindahkan orang-orang dari masa depan ke masalalu? Mungkin dia harus bergadang di perpustakaan sihir atau bertanya pada Levi McGarden secepatnya.
"Ne.. Erza, sepertinya kita tidak akan tahu sebelum kita bertanya langsung pada salah satu dari mereka."akhirnya Jellal memilih jalan pintas. Erza mengangguk setuju. Saat mereka berdua hendak kembali ke guild, seorang anak kecil berambut scarlet yang dikepang dua memakai dress ungu berenda yang sangat lucu berlari kecil menghampiri mereka berdua.
"Rose-chan, kenapa kau kesini?" tanya Jellal dengan nada selembut mungkin, Erza tersenyum sembari ikut berjongkok juga.
"Aku mencium aroma papa dan mama dari arah sini, ternyata yang kutemukan Erza nee dan Jellal nii saja."jawabnya polos. Jellal hanya tersenyum dan Erza memblushing. Rupanya sang titania masih memikirkan pembicaraannya tadi, entahlah.
"Ja, nii-chan tebak pasti kau menginginkan sesuatu."kata Jellal dengan nada menggoda, Rose mengangguk dengan cepatnya. "Apa yang kau inginkan, gadis manis?"
"Itu..." jawab sikecil singkat sembari menunjuk sesuatu yang melesat di angkasa. Erza dan Jellal ikut mendongkak dan langsung sweardop seketika menyaksikan apa yang diminta Rose. Tiba-tiba, entah darimana ikan-ikan bersayap itu datang bergerombol dan beterbangan di langit Magnolia. Mungkin hanya lewat, tapi rasanya ini janggal sekali mengingat ikan-ikan aneh itu hanya ada di langit yang sepi saja.
"Ambilkan ya, Rose mau ikan-ikan terbang itu!"pintanya lagi dengan jurus puppy eyes yang benar-benar menggemaskan.
"T-tapi ikan-ikan itu benar-benar tidak enak dimakan."kata Erza menjelaskan, pasalnya sang titania pernah memakannya sekali. Rasanya yang 'menakutkan' itu membuatnya bersumpah tidak akan makan ikan aneh itu lagi.
"Tidak! Rose tidak mau memakannya kok, mama pernah bilang kalau ikan itu tidak bisa dimakan."kata anak itu sembari menggembungkan pipinya yang chubby dan berwarna pink. "Rose hanya ingin pelihara."
"Baiklah, akan kutangkapkan."kata Jellal sembari memungut batu kerikil disekitarnya dengan asal. Dilemparnya tiga kali, lalu seekor ikan bersayap yang lumayan besar jatuh dan langsung ditangkap anak itu dengan gesitnya. Erza bertepuk tangan mengagumi ketangkasan anak berambut scarlet itu.
"Arigato pa... maksudku, Jellal nii-chan!" kata Rose dengan ceria sembari memeluk ikan terbangnya yang berusaha memberontak.
"Kau boleh memanggilku papa kok!" kata Jellal sembari menepuk-nepuk kepala anak itu.
"Tapi kami juga mempunyai peraturan, Jellal nii-chan.."kata anak berambut biru –Nipha yang datang entah dari mana. "Jika sejarah berubah, kami akan menghilang."lanjutnya.
"Nii-chan, sudah berapakali kuingatkan agar tidak memakai proyeksi sembarangan!"oceh Rose dengan cerewetnya dengan pipi yang kembung-kempis karena marah.
"Aaah, hidungmu semakin hari semakin tajam saja imotou~"goda Nipha sembari mengacak-acak rambut scarlet adiknya. "Hei, itukan ikan bersayap! Mou, aku juga mau... darimana kau dapatkan?"
"Hehe, Jellal nii-chan menangkapkannya untukku. Yang paling besar, HANYA UNTUKKU!" balas Rose lalu menjelurkan lidahnya, mengejek.
"Aaa, kenapa aku tidak dikasih?" keluhnya dengan wajah manja.
"Hahahaha..."
Sementara kedua kakak-beradik itu sedang memperdebatkan masalah ikan aneh bersayap, Erza dan Jellal saling berbisik. "Dengar itu, Nipha bisa memakai sihir yang sama dengan sihirmu. Bukankah proyeksi juga bagian dari lost magic?"
"Kau benar. Hei Erza, jangan-jangan anak-anak lucu itu anak-anakku?..."bisik Jellal tepat ke telinga Erza. "Bisa kau cari tahu untukku Er-chan?"imbuh Jellal yang membuat Erza blushing. Selain untuk pengganti jurus puppy eyes dan sogokan strawberry cakes, suffix chan merupakan jalan 'terampuh' bagi Jellal untuk meluluhkan sang titania yang keras kepala.
Erza mengangguk, lalu berjalan mendekati kedua anak itu dengan santai. Rose dan Nipha, kakak-beradik itu langsung menghentikan pertengkaran mereka berdua melihat apa yang dipegang sang titania. "Kalian mau ini kan?" tanya Erza sembari mengacung-acungkan ikan-ikan bersayap yang didapatnya dari sihir pengambilan. Mata kedua anak itu berbinar-binar saking senangnya.
"Tapi ada syaratnya." Kata Erza lagi sembari mengacungkan ikan-ikan itu. "Kalian harus menceritakan secara lengkap asal-usul kalian, baru kuberikan ikan-ikan ini."
Anak bernama Nipha itu terdiam sebentar, lalu berdiskusi selama beberapa menit dengan adiknya, Rose.
"Baiklah, apapun yang ingin Erza nee-chan ketahui." Kata Rose setelah berdiskusi panjang dengan kakaknya. "Tapi hanya beberapa yang tidak membahayakan kami saja."lanjutnya.
Erza dan Jellal tersenyum penuh kemenangan.
.
.
.
^TBC^
Bacot Time!
Hallooo minna! Ketemu lagi dengan aku yang cute membahana... *ditimpuk readers*
Chapter 2 nih, semoga kalian suka yah minna! Sumimasen, review dibalesnya di chapter depan aja ya.. bukannya kurang sopan tapi, yah kalau yang login sih silahkan cek di PM ya!... (^o^)9
Selamat ya bwt yang nebak kedua anak itu dari masa depan! Tapi kalau anak-anaknya JerZa sih... tunggu chapter depan aja deh yee... itaaiii... #ditimpuk Readers pakek lemari
Minna-san, arigato bgt buat yg udah fave, follow dan Review cerita ini~
Tolong Review lagi yaa! (^_~)b
Caranya tinggal ketikan di kolom review dibawah, lalu klik send...
Hontouni arigato gozaimasu!...
...
~(^_^)~
\/
/||||\
/\
Cn_Scarlet
