NB :

Na-chan : Natsu Dragion a.k.a Kakak.

Tsu-chan : Natsu Dragneel a.k.a Adik.

Gegegegee selamat membaca ^_^

.

.

1 detik

2 detik

3 detik berlalu. Mereka terdiam. Hening.

Tanpa diduga tiba-tiba mereka terduduk di kasur pada saat yang bersamaan. Lalu mereka saling menatap satu sama lain dengan eskpresi yang sulit diartikan. Na-chan dan Tsu-chan mencoba melihat lebih dalam ke iris hitam masing-masing.

"Kau tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Tsu-chan sambil mengangkat satu alisnya.

"Jangan-jangan..." jawab Na-chan kaget.

LOVE STORY OF TWIN

Disclaimer : Hiro Mashima.

Genre : Romance, Friendship.

Rate : T

Warning : AU, OOC, Typo.

Newbie here.

"Bagaimana kalau kita bertukar pasangan?" ucap mereka kompak.

"Tapi, apa itu hal yang baik? Maksudku, tidakkah kau takut akan resiko yang akan diterima nanti?" tanya Na-chan ragu. Sebenarnya ia cukup tertarik dengan ide ini tapi resiko yang akan terjadi membuatnya harus berpikir ulang.

"Sudah tenang saja, lagipula kita kan hanya bertukar posisi untuk sementara waktu." Jawab Tsu-chan enteng. Toh tidak akan ada yang tahu jika mereka bertukar posisi, pacar mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.

"Eh, kau tidak menceritakannya pada Lucy kan?" tanya Tsu-chan dengan tatapan serius.

"Tidak. Bagaimana denganmu?" jawab Na-chan.

"Tidak juga. Teman-teman SMA juga sudah ku suruh tutup mulut."

"Baguslah," balasnya cepat, ia lelah menjadi bahan sasaran kemarahan teman-temannya karena kejahilan Tsu-chan. Baginya masa SMA nya dulu adalah salah satu masa yang cukup merepotkan dalam hidupnya, terutama karena ia punya kembaran jahil seperti Tsu-chan.

Sebelum mereka melanjutkan ke jenjang perkuliahan, mereka sudah berjanji untuk tidak membongkar identitas kalau ternyata mereka punya saudara kembar. Mereka sudah lelah selalu dibandingkan satu sama lain ketika SMA, apa lagi beberapa orang kadang salah mengenali mereka. Saat valentine di SMA dulu bahkan ada gadis yang salah memberi coklat pada Na-chan padahal ia ingin memberikannya pada Tsu-chan.

"Yoshaaa! Jadi, apa hal pertama akan kita lakukan?" Jawab Tsu-chan bersemangat.

"Tidur. Kita lanjutkan besok. Oke?"

"Ah kau menghancurkan semangatku saja. Ya sudah aku mau tidur dulu." Jawab Tsu-chan kesal lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya.

.

.

.

Rencana mereka pun dimulai. Mereka mulai bertukar informasi tentang Lucy dan Lisanna. Mulai dari ciri - ciri fisik, sifat, latar belakang keluarga, sampai hal - hal yang sepele seperti makanan dan warna favoritnya. Tidak lucu jika nanti semuanya akan terbongkar hanya karena mereka salah menyebutkan warna favorit Lisanna atau Lucy.

"Lucy Heartfilia, sekolah modelling. Wah pastinya sangat cantik." terlihat mata Tsu-chan yang berbinar - binar.

"Heh jangan genit ke pacarku ya." Na-chan menjitak kepala adiknya.

"Iya iya." ucap Tsu-chan.

"Lisanna Strauss, pandai memasak. Hm sepertinya aku akan meminta padanya untuk memasakkan makanan kesukaanku." ucap Na-chan.

"Tidak boleh! Cuma aku pria yang boleh meminta dimasakkan olehnya!" ucap Tsu-chan kesal.

Mereka pun tertawa karena komentar mereka sendiri, lucu rasanya cemburu pada kembaran mereka sendiri. Hari-hari berikutnya mereka juga mulai menyelesaikan urusan masing - masing untuk satu minggu ke depan agar tidak mengacaukan rencana yang sudah disusun sejak awal, mulai dari menghafal jadwal pacar masing-masing sampai jadwal kencan mereka. Tsu-chan bahkan mulai mempelajari istilah-istilah kedokteran yang sebelumnya membuatnya pusing, sementara Na-chan mulai berkutat dengan berbagai diktat hukum yang tebalnya hampir sama dengan buku Anatomi Fisiologi miliknya. Ternyata hukum tidak semudah yang Na-chan bayangkan, ia bahkan bisa dibuat pusing dengan berbagai undang-undang yang ada dalam diktat milik kembarannya.

"Tsu-chan ayo berangkat! Kau ada ujian kan pagi ini!" panggil Kaa-san dari ruang makan.

Tsu-chan segera berlari dan langsung menyambar roti yang ada di meja makan.

"Aku berangkat dulu!" teriak Tsu-chan sambil berlari ke arah pintu dengan roti yang masih berada dalam gigitannya.

'Dasar Tsu-chan.' gumam Na-chan sembari menikmati kare buatan Kaa-san yang sudah terkenal enak.

"Tou-san juga mau berangkat dulu." Na-chan menyerahkan tas milik sang ayah.

"Hati - hati di jalan." ucap mereka berdua sambil melambaikan tangan pada Tou-san.

"Na-chan, setelah ini bantu Kaa-san mencuci piring ya." ajak Kaa-san.

"Nee, Kaa-san."

Selesai makan, Na-chan dan Kaa-san pun mencuci piring bersama. Dengan sigap Na-chan membersihkan sisa - sisa kotoran yang tersisa di peralatan makan. sementara Kaa-san mengelap peralatan makan yang telah dicuci agar tidak ada air yang masih menetes.

"Na-chan, setelah ini apa yang akan kau lakukan?" tanya Kaa-san.

"Mungkin mengerjakan tugas." jawab Na-chan singkat.

"Apa kau tidak bosan? Sudah 3 hari ini yang kau lakukan hanya berdiam diri di rumah dan mengerjakan tugas. Pergilah bermain." ucap Kaa-san. Memang anaknya yang satu ini sudah dikenal rajin sejak ia masih kecil. Na-chan bukanlah orang yang hobi bermain, ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah sambil menyelesaikan tugas dan berkumpul bersama keluarga. Tapi hal tersebut tidak membuatnya menjadi sosok anak yang kurang bisa bergaul di masyarakat, karena Na-chan juga terkenal ramah di kalangan teman dan tetangga sekitarnya. Kadangkala ia juga menghabiskan waktu untuk pergi bersama teman - temannya dan menikmati kesenangan bersama.

"Hm, akan ku pertimbangkan." jawab Na-chan. "Aku ke kamar dulu." Ia pun segera melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.

.

.

.

Na-chan POV

Memang benar apa yang dikatakan Kaa-san. Sejujurnya, aku juga tidak betah kalau seharian hanya di rumah, sementara Tsu-chan dapat pergi dengan bebas. Tapi mau bagaimana lagi, agar rencana ini berjalan dengan lancar, teman - teman terutama pacar Tsu-chan tidak boleh tahu kalau ternyata dia punya kembaran. Hm, tapi aku sangat bosan hanya berdiam diri dan hanya berkutat dengan tugas - tugas ini. Apa lebih baik kalau aku berjalan - jalan saja ya di sekitar sini? Lagipula, kalau hanya sebentar tidak apa - apa kan? Tidak mungkin kalau Lisanna dan teman - temannya ada di sekitar sini. Baiklah, yang penting jangan sampai ketahuan.

Na-chan POV End

.

.

.

Na-chan segera bersiap - siap. Ia mengenakan jaket hitam dan topi, itu dilakukan agar identitasnya tidak diketahui oleh Lisanna dan teman - teman Tsu-chan.

"Kaa-san, aku mau jalan - jalan dulu." teriak Na-chan.

"Hati - hati di jalan, pulangnya Kaa-san titip minyak goreng ya." jawab Kaa-san.

"Nee."

Na-chan mulai menyusuri jalanan di sekitar rumahnya, terlihat matahari bersinar dengan teriknya, rasa hangat mulai menjalari pipinya. Angin berhembus sepoi - sepoi. Dengan langit biru yang memayunginya. Beberapa anak kecil berlarian di pinggir jalan, sepertinya mereka baru saja pulang sekolah. Sesekali ia tersenyum pada beberapa tetangga yang dikenalinya. Bunga sakura yang berguguran mengiri langkah kakinya hari ini, ia benar-benar sudah lama tidak merasakan suasana semacam ini.

Saat sedang asik melihat sekeliling, ia melihat ada spanduk bertuliskan Tokyo Park, seingatnya ia tidak pernah tahu ada tempat semacam itu disekitar sini. Tertarik, ia mulai melangkahkan kakinya ke arah Tokyo Park. Mungkin tempat itu bisa membuat kepalanya menjadi lebih segar.

Sampai di Tokyo Park, Na-chan memilih membeli minuman ringan sebelum melanjutkan berkeliling di tempat itu. Kedai jus tepat di samping gerbang Tokyo Park akhirnya menarik perhatiannya. Kedai dengan konsep kafe terbuka itu tampak ramai dengan pengunjung yang mungkin ingin menghilangkan rasa haus mereka atau sekedar beristirahat setelah berjalan-jalan di Tokyo Park

"Aku pesan jus alpukat satu." ucap Na-chan pada pelayan.

"Anoo, bukankah tadi Anda sudah membeli jus alpukat di sini?" tanya pelayan yang tampak bingung, pelayan itu memperhatikan Na-chan dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti melihat alien yang baru mendarat di bumi.

Na-chan mengernyitkan alisnya, sepertinya ia baru saja sampai di tempat ini. Lagi pula pelayan dihadapannya ini mengamatinya dengan tatapan penuh selidik seperti itu. Jangan-jangan...

Pemuda berambut pink itu segera mengedarkan pandangannya, berusaha mencari-cari sosok berambut pink yang sama seperti dirinya. Sepasang mata beriris hitam itu melebar ketika mendapati sosok berambut pink seperti dirinya tengah tertawa bersama sesosok gadis berambut putih pendek, sepertinya mereka sedang kencan.

"Bagaimana ini? Kenapa harus ada mereka disini?" gumam Na-chan yang mulai terihat panik.

"Bukannya itu, Natsu?" Batin Lisanna yang tanpa sengaja melihat Na-chan dari kejauhan. Na-chan yang mengetahui hal itu segera menutupi wajahnya dengan topi dan berbalik arah menghindari tatapan mata Lisanna.

"Tapi yang di sebelahku ini juga Natsu kan? Ah mungkin aku hanya salah lihat." Ia mencoba menyangkal apa yang telah dilihatnya.

"Lisanna, ayo kita naik bianglala itu." Tsu-chan menggandeng Lisanna untuk menuju bianglala tanpa ia sadari bahwa kakaknya juga ada disitu.

"Syukurlah, hampir saja ketahuan." Ucap Na-chan yang menarik nafas lega. Segera ia pergi dari Tokyo Park dan menuju ke rumah tidak lupa dengan membawa pesanan Kaa-san.

.

.

.

"Aku pulang!" Ucap Tsu-chan.

"Selamat datang." Sambut Kaa-san.

"Dimana onii-chan?"

"Di kamar, sedang mengerjakan tugasnya."

Tsu-chan segera menuju kamar sang kakak, kebiasannya menemui Na-chan tidak pernah berubah sekalipun sebenarnya mereka tidak terlalu lama berpisah. Entahlah, mungkin ini efek berbagi rahim Kaa-san mereka. Kalau diingat-ingat, meskipun sifat mereka berdua selalu berbeda tapi mereka selalu bersama.

"Onii-chan!," teriak Tsu-chan ketika memasuki kamar, sang kakak rupanya tengah serius menekuni buku tebal dihadapannya. Aneh, biasanya Na-chan akan memarahinya jika membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu tapi sekarang kakaknya itu justru tampak kaget.

"Eh, kau. Darimana saja? Bagaimana ujiannya?"

"Ah, tenang. aku baru kencan dengan Lisanna," jawab Tsu-chan sambil melemparkan tasnya ke arah tempat tidur. Sebenarnya ia tidak terlalu memikirkan masalah ujiannya tadi, ia hanya ingin cepat menyelesaikan ujiannya dan segera berkencan dengan Lisanna.

"Eh, begitu? Eng.. bagaimana kencannya? Menyenangkan?"

"Biasa saja, tidak ada yang istimewa."

Benar kan firasatnya, ada sesuatu yang tidak beres pada Na-chan. Tidak biasanya kakaknya itu terlalu kepo pada ujiannya, biasanya Na-chan hanya akan bertanya sekali kalau ia sudah menjawab dengan nada tak berminat pasti kakanya itu akan berhenti bertanya. Tapi sekarang kakak kembarnya itu justru seperti ingin tahu detail kegiatannya hari ini.

"Apa dia bertanya sesuatu padamu?"

"Tidak. Memang kenapa?," tanyanya sambil membolak-balik majalah milik sang kakak yang tergeletak di meja.

"Tidak apa-apa. Mungkin saja dia ingin tahu bagaimana ulanganmu hari ini," balas Na-chan dengan nada ragu, ia tahu pertanyaannya itu konyol. Tapi tidak salah kan jika ia khawatir Lisanna melihatnya saat di Tokyo Park tadi? Ia hanya tidak ingin rencana yang sudah mereka susun matang-matang malah berakhir berantakan bahkan sebelum sempat dimulai.

"Ah kau ini."

.

.

.

Satu minggu akhirnya berlalu. Dalam selang waktu tersebut tidak ada perkembangan yang berarti dengan hubungan Tsu-chan dan Na-chan, sampai akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Mereka sudah menyiapkan semua dengan matang dan siap untuk bertukar posisi. Mungkin saja setelah ini akan menjadi hari-hari yang berat sekaligus menyenangkan bagi mereka berdua dengan peran yang baru dan lingkungan yang masih asing bagi mereka.

"Hwaaaaaa aku akan merindukan Lisa-chaaan!"

"Hanya sebentar saja kan? Tenanglah." Na-chan berusaha menenangkan tangis sang adik yang hampir membanjiri kamarnya (?)

"Tap-tapi kan... hiks." rengek Na-chan. Tumpukan tisu berserakan di sekeliling kamar Na-chan. Sang kakak merasa kesal sekaligus khawatir dengan nasib adiknya di Amerika. Namun keputusan sudah dibuat dan tiket sudah dibeli. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali menyemangati Tsu-chan.

"Ayo segera berangkat, nanti kau ketinggalan pesawat lho."

"Yosh! Aku harus semangat. Lagipula sepertinya Lucy itu seksi. Hihihi.." ucap Tsu-chan sambil membayangkan Lucy, seolah lupa dengan perbuatannya yang sempat membuat Na-chan pusing tujuh keliling.

"Kau! Awas kalau sampai terjadi apa - apa pada Lucy ku. Akan ku habisi kau." ancam Na-chan. "Jadi, kau sudah siap?"

"Mari kita mulai."

TBC

Ariri : gegegee, arigatou gozaimasu! Ceritanya berlanjut! Tetap setia membaca fic ini yaa! ^^

Ggg : aamiin, terima kasih, maaf karena updatenya lama, tapi akan author lanjutkan sampai selesai ^O^

Ichirukilover30 : dijamin seru deh baca kisah mereka berdua, hehe iya terima kasih sudah mengingatkan, mohon bantuannya kalo ada typo lagi ^^

Doray-chan : gommen-ne ga bisa update kilat, tapi author usahakan tetap berlanjut ^^

R2A : sankyuuu, reviewnya sangat berguna dan semoga tetap tidak bosan membaca kelanjutan cerita ini, maaf kalo masih ada typo, author akan berusaha lebih teliti lagi ^^

HatsuneeCherry726 : yosh sudah lanjut! Review ditunggu ^^

Candy : oke semangaattt! :D iya terima kasih atas reviewnya, hehe typo membingungkan segalanya, selamat membaca ^^

Fuzon : gegegee sankyu, selamat membaca kisah berikutnya dan jangan bosan mereview yaa! ^^

Akhirnya chap 2 rilis! Bagaimana nasib Tsu-chan di Amerika? Apakah Lucy dan Lisanna sadar kalau pasangannya kali ini bukan "Natsu Dragneel" dan "Natsu Dragion" yang biasanya?

Maaf kemarin banyak typo dan acak-acakan, semoga readers tetap bisa menikmati story ini ^^