Untitled
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: M
Pair: SasuHina & GaaHina
Don't Like, Don't Read
Revised
Chapter 2
Kamis
Kamis merupakan hari yang sangat disukai Hinata sepanjang tujuh hari dalam seminggu, selain hari Jumat, Sabtu dan Minggu tentunya. Well, pada intinya Hinata menyukai week end. Sebab, pada hari itu Hinata hanya perlu menghadiri satu kelas yang berdurasi sekitar 2,5 jam dan setelah itu dia bebas berakhir pekan. Tentu saja beberapa tugas dari dosen dapat diabaikan sejenak. Sama seperti mahasiswa lainnya, Hinata cukup menyukai mengerjakan tugas pada last minute. Tak ada yang bisa menggantikan sensasi adrenalin yang terpacu saat mengerjakan tugas pada detik-detik terakhir. Cukup efektif memang.
Hyuuga Hinata salah satu mahasiswa jurusan bisnis di Tokyo University, universitas nomor satu di Jepang. Meskipun keluarga Hinata kaya raya, bukan berarti dia adalah orang yang bodoh dan hanya bisa bersenang-senang. Bukan rahasia lagi kalau keluarga Hyuuga adalah keluarga jenius. Hinata mampu masuk ke universitas ini murni dengan kemampuannya sendiri, membuktikan bahwa dia adalah seorang Hyuuga. Hinata merupakan mahasiswa tingkat akhir, tepatnya sekarang ia berada di semester 7. Tidak banyak mata kuliah yang harus diambil pada tingkat ini. Hinata hanya perlu mengambil 5 mata kuliah yang tersisa, sehingga semester ini cukup santai bagi Hinata.
Kelas pagi ini dimulai pada pukul 8 dan diisi oleh Mr Asuma. Mr Asuma bukanlah dosen yang galak, dia cukup santai dalam mengajar. Dia tidak peduli tentang catatan absensi mahasiswa, yang penting nilai ujian mahasiswanya memuaskan. Gaara dan Hinata berada pada jurusan dan tingkat yang sama. Mereka sama-sama mengambil kelas Mr Asuma. Namun, sepertinya pria Sabaku tersebut sangat memanfaatkan kemurahan hati Mr Asuma yang tidak peduli dengan absensi. Intinya, Gaara tidak masuk.
'Sepertinya dia ketiduran dan tidak sanggup bangun setelah berpesta di clubsemalaman.' Pikir Hinata.
Sabaku Gaara, anak ketiga dari Sabaku Rei, pengusaha terkenal yang memiliki perusahaan di bidang property, Sabaku Enterprise. Gaara adalah pemuda seumuran Hinata dan merupakan sahabat dekat Hinata. Sebagai orang terdekat Hinata, tentu saja dia cukup memahami kepribadian Hinata. Titel sahabat yang diberikan Hinata membuktikan bahwa Hinata nyaman berada di sekitar Gaara. Gaara merupakan pemuda yang cukup pendiam dan tidak peduli dengan sekitarnya. Sifat Gaara yang seperti ini entah mengapa bisa membuat Hinata menjadi pribadi yang jujur dengan emosinya. Hinata bebas mengekspresikan emosinya di depan Gaara. Begitupun sebaliknya, Gaara yang di luar cukup dingin ternyata bisa berlaku hangat di depan Hinata. Gaara adalah orang terdekat yang dimiliki Hinata setelah Neji.
Persahabatan Gaara dan Hinata telah terjalin semenjak awal perkuliahan. Awalnya, Gaara dan Hinata dipertemukan dalam satu kelompok yang sama pada tugas yang mereka kerjakan. Tugas yang membuat Hinata kalang kabut sendiri karena tak ada satupun anggota kelompoknya yang peduli dengan tugas mereka. Entahlah, kebanyakan orang tidak peduli dengan tugas kelompok.
Hyuuga Hinata yang dituntut selalu menjadi yang terbaik oleh ayahnya, tentu tidak akan melewatkan tugas apapun, termasuk tugas ini. Meskipun anggota kelompoknya tidak peduli, Hinata tetap berjuang mengerjakannya walaupun dia sendiri. Gaara yang ternyata cukup memiliki belas kasih, mencoba membantu Hinata. Meskipun tidak terlalu berarti karena Gaara hanya menemaninya mengerjakan tugas serta membelikan makanan dan minuman saat Hinata lapar dan haus. Setidaknya Gaara cukup "membantu" dalam pengerjaan tugas mereka. Semenjak saat itu, mereka jadi sering bersama. Karena status Gaara yang tinggal sendiri hampir sama seperti dirinya, mereka jadi sering bertemu hanya untuk sekedar makan bersama ataupun hang out di saat week end. Tak jarang mereka berdua pergi ke club yang biasa dikunjungi Gaara. Bisa dikatakan bahwa Hinata mengenal dunia malam dari Gaara.
Hari ini Hinata hanya mengenakan celana jeans dan kaos berwarna putih berlengan pendek yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Untuk melengkapinya Hinata mengenakan sepatu Adidas superstar berwarna putih. Rambutnya diikat ponytail dengan poni rata yang menutupi dahinya. Setelah selesai dengan kelasnya, Hinata langsung menuju tempat parkir universitasnya. Hinata mengemudikan Land Rover Discovery Sport putihnya menuju ke apartemen Gaara. Pemuda Sabaku tersebut memang tinggal sendiri di Tokyo. Gaara berasal dari Osaka dan semua keluarganya tinggal di Osaka. Jarak apartemen Gaara tidak begitu jauh dari kampus, hanya memakan waktu sekitar 10 menit jika menggunakan mobil. Di sepanjang perjalanan gadis itu bersenandung kecil mengikuti alunan musik yang mengalun. Beberapa kali ia terlihat menyalip mobil yang ada di depannya. Hinata sangat menyukai berkendara, apalagi jika berkendara dengan kecepatan tinggi. Menurutnya berkendara bisa menenangkan pikiran. Dari luar Hinata terlihat seperti perempuan yang lemah lembut dan anggun, tipe yang akan diantar kemana-mana oleh supir pribadi, ataupun apabila berkendara akan memilih mobil city. Tapi anggapan itu salah. Dari kecil Hinata sudah menyukai mobil-mobil SUVdan sangat senang apabila ayahnya mengajaknya berkendara.
Segera setelah sampai di gedung yang dituju dan memarkir mobilnya, gadis itu keluar dari mobilnya. Hinata memastikan mobilnya telah terkunci dan kemudian masuk ke dalam lift dan menekan tombol 27, yaitu lantai tempat apartemen Gaara berada. Di dalam lift ada dua orang wanita dan seorang lelaki paruh baya. Hinata sama sekali tidak mengenali mereka, mungkin salah satu penghuni di sini. Dia sempat tersenyum kecil kepada mereka saat akan masuk, menunjukkan keramahannya. Selama beberapa saat menunggu, gadis itu memainkan smartphonekeluaran terbarunya. Dia hanya mengecek notifikasi dari social messenger-nya dan memastikan tidak ada berita mendadak mengenai perkuliahan hari ini. Kejadian dosen yang tiba-tiba masuk kelas tidak sesuai jadwal cukup sering terjadi, sehingga Hinata harus selalu mengecek informasi terbaru dari kelasnya.
Ting!
Suara dentingan lift menyadarkan Hinata dari kegiatannya memainkan smartphonenya. Hinata sedikit mendongak ke atas memastikan bahwa lantai tersebut adalah lantai 27. Hinata keluar dari lift dan langsung menuju ke ujung lorong, menuju kamar dengan nomor 2709. Senyum tak lepas dari wajahnya mengingat ia akan segera bertemu dengan Gaara. Seharian kemarin Hinata tidak sempat bertemu dengan Gaara. Semua itu gara-gara si bungsu Uchiha dan makan malamnya. Sekilas ide jahil keluar dari pikirannya.
Ting tong ting tong ting tong...
Ting tong ting tong ting tong...
Bunyi bell berkali-kali menunjukkan bahwa si tamu sama sekali tidak sabaran menunggu pemilik rumah membukakan pintu. Gaara yang merasa sangat terganggu dengan suara bell sialan itu, bangkit dari pulau kapuknya dengan wajah kesal. Terlihat sekali pemuda itu baru bangun tidur, padahal jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul 10.50. Dengan mata beratnya, Gaara berjalan gontai menuju pintu depan sambil menggerutu betapa menyebalkannya tamunya. Dia tidak perlu repot-repot mencuci muka atau menyikat giginya karena dia tahu siapa orang yang datang. Tidak banyak orang yang tahu kediaman si bungsu Sabaku.
Hinata tersenyum menampakkan gigi putihnya melihat pintu depan apartemen Gaara akhirnya terbuka. Senyum yang menunjukkan bahwa dia sukses mengganggu si pemilik apartemen. Wajah kesal Gaara menjadi hiburan tersendiri bagi Hinata. "Sialan kau Hinata. Padahal kau tahu passcode-nya." Semprot Gaara langsung di hadapan Hinata. Wajahnya terlihat amat sangat tidak bersahabat. Jika Gaara berada dalam mode seperti ini, hanya satu hal yang bisa dilakukan Hinata.
Hinata langsung menghambur memeluk Gaara dan membuat pemuda tersebut agak terdorong ke belakang karena tidak siap menahan beban tambahan pada tubuhnya.
"Aku merindukanmu, Gaara-kun." Ujar Hinata manja. Kelakuan manis Hinata yang seperti ini tidak dapat ditolak oleh Gaara.
"Ya ya ya." Ujar Gaara malas sambil mengusap kepala gadis tersebut. Gaara hanya tersenyum melihat kelakuan Hinata. Dari dulu Hinata selalu suka memeluk dirinya. Tak peduli dimana pun mereka berada, jika dia ingin maka dia akan langsung memeluk Gaara. Menurut Hinata, pelukan Gaara sangat menenangkan. Tak jarang orang-orang menganggap mereka berdua berpacaran. Hinata dan Gaara tidak pernah repot-repot menanggapi gosip tersebut, toh gosip tersebut tidaklah benar.
"Kau bau, Gaara-kun." Hinata tiba-tiba melepaskan pelukannya pada Gaara. Tentu saja hal yang dikatakan oleh Hinata tidaklah benar. Tak ada bau lain yang tercium oleh Hinata pada tubuh pria itu selain bau white musk khas Gaara. Tangan kirinya menjepit hidungnya seperti orang yang mencium bau busuk dan tangan kanannya digerakkan membuat gestur mengusir. Gerakannya terlihat sangat lucu.
"Salah siapa yang suka peluk-peluk." Ujar Gaara berlalu meninggalkan Hinata. Gaara memang membutuhkan mandi mengingat terakhir kali ia mandi sekitar 24 jam yang lalu. Hinata hanya cekikian menanggapi perkataan Gaara. Gaara kembali ke kamarnya untuk melakukan ritual mandinya, sedangkan Hinata segera menyamankan diri pada sofa dan menonton televisi LED layar lebar milik Gaara.
Apartemen Gaara cukup besar untuk dihuni oleh satu orang. Terdiri atas ruang tamu, tempat Hinata menonton sekarang, di sisi kiri ada dapur yang menghadap ke ruang tamu dan dilengkapi dengan mini bar, sedangkan di sisi kanan terdapat dua kamar tidur dengan masing-masing kamar mandi. Satu kamar mandi lagi terdapat di sebelah dapur. Apartemen ini juga dilengkapi dengan balkon yang menyajikan pemandangan kota Tokyo.
Hinata terus saja memencet tombol pada remote control televisi. Tidak ada acara televisi yang benar-benar menarik perhatiannya. Dia merasa amat sangat bosan menunggu Gaara selesai mandi. Dia memainkan smartphone-nya, kemudian berbalik lagi menonton televisi. Kemudian tiba-tiba dia melihat wajah Uchiha Sasuke pada sebuah acara infotainment. Hinata segera menghentikan kegiatannya, merasa sedikit tertarik pada berita yang disampaikan acara tersebut. Di dalam video yang ditayangkan terlihat Sasuke teburu-buru meninggalkan sebuah hotel sambil menggenggam tangan seorang gadis berambut merah muda. Tak diragukan lagi, wanita itu merupakan seorang aktris yang sedang naik daun, Haruno Sakura. Hinata cukup mengetahui aktris-aktris yang sedang naik daun karena dia lumayan sering menonton televisi. Tapi tak disangka ternyata si calon tunangannya mempunyai hubungan khusus dengan sang aktris. Hinata mencoba tidak peduli dan mematikan televisi. Suasana hatinya tiba-tiba menjadi tidak baik.
"Uchiha brengsek!" Maki Hinata. Kemana perginya Hinata yang sopan dan lemah lembut? Hinata merasa kesal, marah, sedih, entahlah, dia tidak mengerti.
Hinata yang merasa kesal, memilih untuk memasuki kamar Gaara. Secara keseluruhan kamar Gaara didominasi oleh warna Hitam. Hanya terdapat sedikit warna merah pada beberapa perabotan. Interior kamar itu sungguh sangat 'Gaara'. Hinata menaiki ranjang king size milik Gaara dan membaringkan tubuhnya secara horizontal. Hinata memeluk boneka tanuki yang berukuran cukup besar yang berada di tengah-tengah ranjang itu. Gaara bukanlah seorang pria yang menyukai hal yang imut-imut. Hell no. Boneka tanuki imut tersebut merupakan pemberian Hinata saat ulang tahun Gaara dua tahun yang lalu. Tentu saja saat pertama kali melihatnya Gaara langsung menolaknya mentah-mentah. Namun, melihat wajah Hinata yang terlihat sedih karena Gaara tidak menyukai hadiahnya membuat Gaara mengurungkan niatnya tersebut. Gaara tak akan pernah menang melawan Hinata.
Gaara yang baru selesai mandi dengan rambut basahnya hanya mengenakan celana pendek berwarna abu-abu dan terlihat sedang mencari kaos di lemari besarnya. Sekilas dia melihat Hinata yang sedang berbaring menghadap ke arahnya sambil memeluk boneka tanuki Gaara.
"Ada apa dengan raut mukamu?" Tanya Gaara santai sambil mengeluarkan salah satu kaos dari lemarinya. Kaos merah dengan gambar tanuki, lagi. Sepertinya terlalu banyak barang Gaara yang berhubungan dengan tanuki. Salahkan Hinata dengan segala hadiah bodohnya. Setiap kali dia bertanya kenapa, Hinata hanya menjawab kalau tanuki itu mirip Gaara. What the-.
Hinata menatap Gaara yang sedang mengenakan kaos oblong imutnya. Hinata sedikit tersenyum melihat kaos pilihan Gaara.
"Tak ada. Si Uchiha brengsek itu sungguh menyebalkan." Gerutu Hinata. Matanya masih tetap mengamati pergerakan Gaara. Otot-otot perut Gaara yang terlihat sangat sexy sungguh menggoda iman Hinata.
"Khe, si Uchiha brengsek itu calon suamimu, nona" Ujar Gaara jenaka mengingatkan Hinata.
"Calon tunangan, tuan Sabaku." Hinata mengoreksi ejekan Gaara.
Gaara mengikuti Hinata naik ke atas ranjangnya. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih. Melihat hal tersebut Hinata segera bangun dan membantu mengeringkan rambutmerah maroon milik Gaara. Hinata berlutut dihadapan Gaara yang sedang duduk. "Bagaimana makan malammu dengan keluarga calon suamimu?" tanya Gaara.
"Calon tunangan, brengsek." Seru Hinata kesal memutar bola matanya. Kelakuan Gaara yang terus saja menggodanya membuatnya kesal. Lagi-lagi Gaara terkekeh melihat amukan Hinata. "Jadi bagaimana?" Lanjutnya bertanya kembali.
"Tidak ada yang spesial. Keluarga Uchiha menerimaku dengan baik, terutama Mikoto Baa-san. Itachi si sulung Uchiha juga terlihat ramah. Secara keseluruhan mereka baik. Jika boleh memilih, aku lebih memilih Itachi. Dia terlihat sangat lebih hangat dan lebih gentle dibandingkan Sasuke." Hinata kembali teringat dengan Uchiha Itachi. Sepanjang acara makan malam Itachi cukup sering menanggapin obrolan ibunya dan Hinata. Tidak seperti Sasuke.
"Jadi, kau menyukai si Uchiha sulung itu?" Tanya Gaara penasaran.
"Dia lebih baik daripada Sasuke. Tentu saja aku menyukai orang baik seperti itu. Apalagi dia seperti Neji-nii. Tapi bukan suka yang seperti itu. Kau mengerti, em, mungkin semacam kagum." Jelas Hinata sambil sedikit berpikir.
"Aku jadi penasaran, kenapa bukan Itachi yang dijodohkan denganmu?" Gaara menatap Hinata penasaran. Wajah Hinata terlihat serius saat mengeringkan rambutnya.
"Entahlah. Mungkin karena Sasuke yang menjadi CEO Uchiha Company, so.." Hinata mengangkat bahunya acuh.
"Sepertinya begitu." Gaara menyetujui pendapat Hinata.
"Uchiha Sasuke brengsek itu sungguh arogan. Sungguh menyebalkan." Hinata kembali teringat kejadian tadi. Sepertinya Sasuke berdampak buruk terhadap mood Hinata.
Gaara tersenyum melihat ekspresi Hinata yang cemberut saat mengingat Sasuke. Sebuah ide jahil muncul di benak sang Sabaku muda. Dia mulai meraba-raba perut rata Hinata. Posisi mereka sangat menguntungkan Gaara untuk melakukan hal tersebut. Hinata yang kesal langsung memukul kepala Gaara.
"Sakit Hime sialan". Ujar Gaara sambil mengusap kepalanya yang dipukul Hinata. Wajahnya sedikit cemberut akibat perlakuan Hinata. Hinata tertawa melihat kelucuan raut wajah Gaara. Gaara yang kesal langsung mendorong tubuh Hinata dan menghimpitnya dengan tubuhnya. Tidak sepenuhnya menghimpit karena Gaara masih menahan tubuhnya dengan lengannya di samping kepala Hinata. Gaara menatap iris pucat keunguan tersebut. Sangat cantik dan unik. Tangan kanannya mengelus pipi chubby Hinata perlahan, kemudian menyingkap poni rata yang menutupi dahinya. Hinata seperti terhipnotis menatap iris jade Gaara yang memabukkan.
"Anak manis." Ujar Gaara sambil mengecup dahi Hinata lembut. Hinata yang diperlakukan seperti itu hanya bisa memejamkan mata. Pipinya merona karena aksi Gaara. Gaara menjatuhkan dirinya ke samping Hinata dan memeluk Hinata seperti memeluk guling. Selama beberapa saat mereka hanya terdiam.
"Gaara..." Hinata mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Gaara. Dia mengelus tato kanji di dahi pemuda yang sedang menutup matanya tersebut.
"Aku menyayangimu Gaara-kun." Hinata mencubit gemas pipi Gaara.
"Hn" Gaara hanya menanggapi sekenanya. Matanya terasa sangat mengantuk. Semalam dia baru sempat tidur pukul 5. Itu bukan malam, tapi pagi. Dan terima kasih kepada Hinata, tidur paginya yang seharusnya menyenangkan menjadi terganggu. 'Terima kasih banyak, Hyuuga Hinata' Gaara mengejek Hinata di dalam hatinya.
Hinata sedikit menghela napas mengamati wajah tenang Gaara yang mulai terlelap. Membayangkan betapa dia mencintai lelaki yang sedang memeluknya ini. Memang benar kata orang-orang, tak ada persahabatan yang murni antara pria dan wanita. Semuanya akan berakhir dengan salah satu yang jatuh cinta. Pada kasus ini, Hinatalah orang yang 'jatuh' itu.
TBC
Mind to review?
Terima kasih juga buat yang udah Fav dan Follow. Aku sangat menghargai semuanya. Semua itu bakalan menambah semangat aku buat nulis.
(_ _)
