Title: { Chaptered} MAMA's Legends
Genre: Yaoi, Fantasy, Romantic, Drama, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!)
Rating: Teen, PG-13
Cast:
EXO
Other cast:
SM's Member
Cari sendiri
Ps:
Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!
Contact me on:
1. fb: athiya almas
2. wp: .com
Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON'T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^
Happy reading
Kris duduk di sebuah padang rumput, ia meluruskan kakinya dan menatap ke atas. Ia melihat Yingma datang, well ia memang mengundang Yingma agar keluar dari tempat ia tinggal dan menghampirinya. Naga besar berwarna cokelat pohon itu mendarat dan mengistirahatkan kepalanya di paha Kris, Kris mengusap kulit kasar naganya.
"Hai Yingma, lama kita tidak bertemu dan kau tidak berhenti tumbuh. Lihat, karena kau telah sebesar ini aku jadi tak bisa membawamu masuk ke dalam mansion." Kris terkekeh, ia menatap mata Yingma. "Maaf tuan, aku baru berhenti tumbuh lima tahun lagi." Kris mengangguk.
Begitulah cara Kris dan Yingma berkomunikasi, Kris membaca pikiran Yingma. Tidak, tidak, Kris bukan seorang mind reader bukankah aku telah menjelaskan kekuatan itu hanya dimiliki Luhan? Yang Kris dan Yingma lakukan hanya bertelepati atau kontak batin.
"Tuan, aku khawatir dengan anda." Kris menatap Yingma, mata merah Yingma terlihat sendu. "Memang aku akan kenapa?" Yingma menggoyangkan ekornya. "Dunia telah berubah sepenuhnya tuan."
"Aku tahu Yingma, aku akan segera menemukan pohon kehidupan itu. Tak mau tahu bagaimana caranya, aku juga ingin segera keluar dari lingkaran takdir ini. Namun ketika MAMA menunjukku sebagai ketua dari kesebelas anak itu, bukankah itu artinya aku juga harus menjaga dan memastikan mereka baik-baik saja? Menurut buku itu, dunia akan kembali jika pohon kehidupan ditemukan dan legenda bersatu selamanya."
"Tuan, aku tahu sesuatu tentang pohon kehidupan." Kris melebarkan mata elangnya, "Benarkah? Dan tunggu Yingma bagaimana kau tahu?" Kris mencoba menyelami pikiran Yingma, namun tak menemukan apapun. "Pohon kehidupan itu, ada di Korea ini. Ada di masa lalu dari beberapa legenda, dan pohon kehidupan itu sudah pasti tidak ada di masa lalu tuan yang di Kanada, masa lalu Lay, masa lalu Tao, masa lalu Luhan, yang ada di China. Kemudian tidak ada juga di masa lalu Xiumin yang di Rusia, masa lalu Chanyeol di Amerika, masa lalu Kai di Jepang. Jadi pohon kehidupan kemungkinan ada di masa lalu Suho, Baekhyun, Kyungsoo, Sehun, Chen. Tapi tuan harus menyimak segala penjelasan dari Kyungsoo, karena biarpun begitu, di antara dua belas masa lalu kalian ada petunjuk yang akan mengarahkan ke pohon kehidupan."
"Aku yakin MAMA pasti tahu dimana pohon kehidupan itu, tapi kalau MAMA tahu mengapa ia tak mengambilnya sendiri? Tinggal mengambilnya maka selesai kan?" Yingma kembali menggoyangkan ekornya. "Tidak semudah itu tuan, hanya para legenda yang bisa mengambilnya. Dan MAMA tidak pernah mau merubah takdir."
"Kau tahu Yingma, aku mulai muak dengan kata takdir." Yingma menggeram kecil, begitulah cara Yingma tertawa. "Tuan, anda harus berusaha menemukan masa lalu Kyungsoo. Karena begitu ia bisa mengerti masa lalunya, masalah kalian akan terpecahkan."
"Tapi bagaimana Yingma? Ia saja tak tahu caranya," gumam Kris. "Ada yang akan melatih anda, dan kesebelas legenda lain." Kris menaikkan sebelah alisnya, "Siapa?" namun Yingma memilih tak menjawab. Kris sudah paham itu artinya, Yingma tak tahu.
"Nagamu itu benar, aku jadi sedikit curiga pada Kyungsoo." Kris terlonjak, ia mendengus begitu tahu si pembaca pikiran itu datang, Luhan mengusap rambut merahnya dan duduk di samping Kris. "Kau tahu rahasia dalam tim yang kompak? Jangan mencurigai sesama timmu, karena perpecahan yang ada di dalam jauh lebih berbahaya daripada seribu musuh yang akan datang." Balas Kris.
"Bukan, bukan seperti itu. Aku curiga, MAMA atau siapapun itu merusak kemampuan Kyungsoo maupun Lay. Kau tahu, aku mencurigai MAMA hanya memperbudak kita. Sekarang kau pikir, Kyungsoo tak bisa membaca masa lalunya dan masa lalu kita yang berhubungan dengannya. Bukankah kalau ia tahu, kita bisa segera menemukan MAMA dan tahu mengapa dan dengan cara apa kita dikumpulkan dalam kapsul tidur itu? Dan kalau ia bisa membaca masa depannya dan masa depan kita yang berhubungan dengannya bukankah Kyungsoo bisa mencari tahu bagaimana cara keluar? Lalu ia bisa tahu dimana pohon kehidupan itu? Lalu siapa musuh kita dan seberapa kuat mereka?"
'Benar juga, aku tak heran ia adalah seorang mind reader. Pikirannya sangat tajam,' batin Kris. "Ya, ya, aku tahu kok. Kata Kyungsoo dulu IQ-ku mencapai superior atau genius gitu, pokoknya tingkatan paling atas. Dan sekarang kau pikir Lay, Lay bisa menyerang dan menyembuhkan orang lain tapi bukan dirinya sendiri. Bukankah itu sebuah bahaya? Bagaimana kalau musuh tahu, dan mereka menyerang Lay terlebih dahulu? Lay adalah jantung EXO dan bila ia diserang maka takkan ada yang bisa menyelamatkan kami lagi. Dan kemudian, misalnya Lay akan selamat dari pertempuran. Bagaimana kalau MAMA menghentikan takdirnya lebih awal? Dan Kyungsoo masih belum bisa menemukan cara agar kita keluar dari ini? Bukankah itu sama saja kita menggadaikan nyawa kita dengan kekuatan ini pada MAMA. Aku memikirkannya semalam suntuk Kris, kita ada disini bukan karena kemauan kita dan kita tidak bisa keluar. Dan kita akan mati di tangannya.."
"Sialan kau Luhan, bagaimana kau memiliki pemikiran secermelang itu?" Kris baru sadar hal penting yang mungkin harusnya ia sadari jauh-jauh hari. "Kita harus temukan masa lalu Kyungsoo, dan mencari cara agar ia bisa menemukan masa depan." Kata Luhan dengan yakin.
. . .
Kyungsoo memencet beberapa tombol, itu adalah mesin pencuci piring yang bisa dilipat di dalam tembok sehingga tak mempersempit ruangan. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, kentara sekali kalau ia sedang berpikir. Tangannya memang bergerak cekatan, memotong bahan masakan dan membuat masakan dalam sebuah panci besar, namun pikirannya tak mengarah kesana. Tapi untuk urusan rasa member EXO tak perlu khawatir, Kyungsoo telah memasak untuk waktu yang lama dan ia sudah menghafal bumbu serta langkah-langkah membuat suatu masakan.
Kyungsoo memotong wortel dengan pisaunya, -meskipun ia ada di masa yang benar-benar maju saat ini ia lebih terbiasa melakukannya dengan cara manual- ia memotong wortel itu, namun ia membandingkan ukuran ketebalan wortel yang tidak sama. Ia tersenyum kecil dan mengambil pisau bergerigi untuk membuat wortelnya berbentuk bunga.
"Ibu, ibu.. bagaimana cara membentuk bunga yang cantik dari wortel ini?" seorang anak kecil dalam pikiran Kyungsoo membawa peralatan masak yang lucu. "Aigoo, sayang kau ini lelaki. Tapi tidak apa-apa, ayo sini ibu ajari. Jadi begini caranya.."
"Wah, bagus sekali bu. Aku jadi ingin membuat masakan yang lezat dan indah seperti yang ibu buat. Apa aku bisa ya?" wanita muda yang umurnya ditaksir baru mencapai awal empat puluh itu mengelus rambut anak kecil di sampingnya. "Tentu saja bisa."
BRUKKKKKKKK! BRAAAKKK!
"KYUNGSOO! CHAGI!" anak kecil itu dan ibunya menoleh, mereka terlonjak karena tiba-tiba saja tanah yang mereka pijak bergetar hebat. "APPA! HYUNG!" teriak anak kecil itu. Tiba-tiba wajah anak itu pucat, ia menggeleng-geleng. "T-Tidak mungkin!" ia memukul kepalanya sendiri.
"Kyungsoo sedang apa kau diam? Ayo lari Kyungsoo!" anak kecil itu menoleh, "T-Tidak ibu jangan berjalan keluar rumah." Cegahnya namun ibunya telah ditarik ayahnya. "Tidak ibu jangan! Ibuuuuuu!"
KRAAAKKKKKKKKKK!
"IBUUUU!"
. . .
"Hyung, astaga Kyungsoo hyung kenapa kau memotong jarimu sendiri?" seseorang menggoncang tubuh Kyungsoo, Kyungsoo menoleh, itu adalah teman sekamarnya Kai. "Kai! D-dimana Kris?!" Kyungsoo balik menggoncang tubuh Kai.
"Kris? Sepertinya di halaman belakang bersama naga dan Luhan hyung. Memang ada apa hyung?" tanya Kai bingung. "Aku ingat sesuatu tentang masa laluku!" Kai melebarkan matanya. "Benarkah? Baguslah ayo kita ke Kris ge, pegangan padaku hyung aku akan menarikmu berteleportasi. Eh tapi ngomong-ngomong, bau tidak sedap apa ini hyung?"
Kyungsoo melirik pancinya, kuah sup dalam panci itu surut dan Kyungsoo tak menyadarinya. Ia menggeram kesal, masakan yang akan ia hidangkan gagal seketika. "H-Hyung.." panggil Kai takut.
KRAAAAAAKKKK!
"Huh, sudah kuduga." Gumam Kai. Kyungsoo selalu kesal setiap kali hal yang ia lakukan gagal, dan lantai mansion mereka sudah berulang kali menjadi korban. "Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Baekhyun, disusul Xiumin di belakangnya. "Nah hyungdeul, lebih baik kalian bikin masakan baru." Kai tersenyum dipaksakan, sambil menatap Baekhyun dan Xiumin dengan tatapan you-know-what-i-mean-right? Baekhyun dan Xiumin mengangguk.
Kai langsung memegang lengan Kyungsoo dan membawa lelaki mungil itu berteleportasi ke halaman belakang.
EXO's Living Room
Friday, 05th November 2067
04:45 p.m
Mereka duduk di sofa yang diletakkan secara melingkar, Kris membuka buku itu lagi. "Di buku ini dijelaskan kau lahir pada tahun 2003, well kau cukup muda jika dibandingkan dengan kami semua. Lalu kau bilang satu-satunya hal yang kau ingat adalah kau mendapat kekuatan di umurmu yang ke tujuh belas? Jadi tahun 2020, baiklah aku akan mencari apa ada gempa yang terjadi di tahun itu."
Kris mengetik beberapa kata di tablet PC miliknya, ia tidak ingat apa yang terjadi pada tahun 2020. Karena kata Kyungsoo ia lahir di akhir abad ke 18, dan itu berarti ia masuk ke kapsul tidur di awal abad ke 19. Jadi ia tidak tahu apa yang terjadi di tahun 2020 maupun tahun lainnya. Ia menelusuri '2020 South Korean earthquake'
Dan hasil yang ia dapat cukup mengejutkan, Luhan menggerakkan tablet Kris dengan telekinesisnya dan menyambungkannya dengan layar LCD sehingga mereka bisa melihatnya bersamaan. Ternyata terjadi gempa yang cukup dahsyat, berkekuatan 10-11 SR. Dan meluluhlantakkan daratan Korea sampai Jepang, "Apa benar aku hidup di jaman itu?" batin Kyungsoo.
Gempa itu juga memicu tsunami, sehingga keadaaan di Korea benar-benar parah. Hampir sebagian daratan terendam gelombang air laut setinggi hampir delapan meter, dikabarkan hampir 500 orang meninggal, 750 orang hilang serta ribuan orang lain tak ditemukan.
"Bagaimana kita bertahan dalam kapsul tidur bila ada bencana sebesar itu?" gumam Suho. "Tunggu, bukankah yang paling akhir bergabung adalah Sehun. Sehun, apa orangtuamu pernah menceritakan hal ini?" tanya Chanyeol, Sehun mengangkat bahu. "Aku lahir di tahun 2034 bagaimana aku tahu kejadian itu?"
Luhan yang penasaran membuka internet dan menuliskan keyword yang sama, ia lebih tertarik pada keajaiban-keajaiban yang terjadi di musibah sebesar itu. Jujur ia penasaran apa yang terjadi selama ia ditidurkan? Ia lahir pada tahun 1990 dan di tahun 2008 ia sudah masuk ke kapsul tidur itu.
Seorang anak indigo tidak ditemukan dalam musibah itu. Anak itu adalah salah satu anak indigo atau anak ajaib yang diberkahi beberapa kelebihan, anak itu sempat dikucilkan oleh penduduk sekitarnya karena mereka pikir di jaman semaju ini bagaimana mungkin mereka mempercayai anak indigo yang tak ada bedanya dengan dukun?
Namun, anak indigo itu akhirnya dipercaya karena hampir seratus persen hal yang keluar dari mulutnya tak pernah meleset. Ketika musibah itu terjadi, keluarga anak itu menyelamatkan diri. Ibu dan ayahnya meninggal sementara kakaknya ditemukan terluka berat, namun sayang akibat tertimpa bahan bangunan kakaknya mengalami amnesia.
Anak itu hidup di komplek pemukiman yang tak terlalu padat, dan lima puluh persen penduduknya menjadi korban jiwa dalam gempa tersebut. Salah satu orang kepercayaan di pemukiman itu mencari anak itu, namun tak ditemukannya. Kabarnya anak itu hanyut dibawa tsunami bersama puluhan orang lain. Namun sampai sekarang anak itu tetap tak ditemukan, ketua pemukiman bilang anak itu pernah bercerita tentang bencana ini sekitar dua tahun sebelumnya namun tak ada yang mempercayai. Ketua itu selamat karena sedang berlibur di luar negeri, dan kembali setelah keadaan membaik. Ia ingat anak indigo itu berkata 'Akan terjadi gempa terbesar di dekade itu ketika ada hujan salju selama sepuluh hari dan air laut tak pernah surut. Menurut badan BMKG setempat memang sepuluh hari sebelum musibah itu salju turun selama sepuluh hari berturut-turut dan air laut tak pernah surut bahkan hampir melebihi batas yang seharusnya sehingga banyak aktifitas pelayaran yang dihentikan karena tingginya ombak.
Menurut informasi, anak itu adalah anak berumur sekitar tujuh belas tahun dan hidup di keluarga yang berkecukupan. Namun pihak kerabat melarang untuk mempublikasikan nama anak itu, sehingga kami tak mendapat data yang cukup signifikan.
Luhan tercengang membaca tulisan di salah satu situs itu, "Ada apa ge?" tanya Tao, tiba-tiba hadir di samping Luhan. "Bukankah ini mencurigakan?" kata Luhan lirih, Tao melongok ke arah ponsel Luhan. Luhan menyuruhnya tak banyak berbicara, "Coba kau baca baik-baik."
Tao membaca itu dan tak berapa lama mata pandanya melebar, "Mungkin ini Kyungsoo!" kata Luhan tegas, sontak kesepuluh orang di ruangan itu menoleh. "Ada apa Luhan hyung?" tanya Chen. "Kyungsoo tidakkah kau curiga, kau dapat kekuatanmu untuk membaca masa lalu dan masa depan itu tak secara tiba-tiba seperti kau mendapat kekuatan mengendalikan tanahmu bukan? Aku curiga kau sepertiku, aku dulu menjadi lebih peka terhadap orang di sekitarku dan kau bilang pikiranku tajam serta IQ-ku di atas rata-rata. Dan kau adalah pembaca masa lalu dan masa depan, bukankah yang bisa melakukannya hanyalah anak indigo?"
"Luhan hyung benar, apa dulu kau adalah anak indigo Kyungsoo?" Baekhyun bertanya, Kyungsoo diam. "Lihat apa yang Luhan gege temukan." Tao menyerahkan ponsel Luhan, ponsel itu ditangkap oleh Lay karena Luhan mencari artikel dalam bahasa China. Lay menerjemahkan artikel itu pada member lain.
"Apa disana diterangkan dimana tempat tinggal anak indigo itu?" tanya Kai, Luhan menggeleng. "Menurut informasi seluruh data anak indigo itu dilindungi keluarganya, dan ini sudah empat puluh tahun lebih semenjak kejadian itu mustahil melacak keberadaan keluarganya." Jawab Luhan.
Kyungsoo merasa pikirannya berkecamuk, tiba-tiba kepalanya terasa pening dan pandangannya berputar-putar hebat.
"Sebaiknya kita usir anak ini keluar dari pemukiman! Ia harus disingkirkan karena pemikiran gilanya itu. Bagaimana mungkin ia bilang presiden akan mati sebentar lagi lalu keadaan administrasi negara tak seimbang!"
"Apa anak itu penyihir? Kemarin ia bersentuhan tangan dengan anakku, ia bilang anakku akan sakit parah dan sekarang anakku sakit keras dan masuk rumah sakit!"
"Usir saja dia! Usir!"
"Tunggu, kalian tidak boleh seperti itu. Bagaimana bila yang ia katakan benar? Dan terakhir kali dia bilang kalau akan ada bencana besar bukan? Ia memperingatkan kita!"
"Tidak akan ada bencana yang akan terjadi, aku akan pindah. Aku takut satu pemukiman dengan orang gila sepertinya, aku takut ia akan menyihir keluargaku."
"Hei! Dia hanya anak enam belas tahun yang tidak tahu apa-apa, kau lihat wajah polosnya ia bahkan terlihat seperti anak SMP. Sudahlah, pemikiran kalian terlalu jauh."
"Ibu, mereka membenciku bu.. ibu aku ini kenapa? Kenapa aku selalu melihat hal-hal aneh bu?"
"Sudahlah sayang, mereka hanya berburuk sangka padamu. Mereka tidak mengenalmu, kau dirumah saja ya bersama ibu. Ibu tidak mau mereka melukaimu lagi sayang.."
. . .
"KYUNGSOO! KYUNGSOO KAU KENAPA?" jerit Xiumin, Suho yang berada di samping Kyungsoo langsung menangkap tubuh Kyungsoo yang limbung dan pingsan secara tiba-tiba. "Kalau menurutku, kita jangan terlalu banyak bertanya pada Kyungsoo, ia mungkin sedikit mengalami amnesia. Bisa juga anak indigo itu bukanlah Kyungsoo, jangan terlalu banyak bertanya karena ia memiliki ingatan yang tak sedikit. Kau tahukan seluruh kisah kita juga tersimpan di dalam memorinya, kita bisa menyiksa pemikirannya." Chanyeol berkata bijak, yang lain hanya menurut.
"Tumben Chanyeol hyung bisa berkata bijak." Celetuk Sehun.
Two days later
07.20 a.m
"Kyungsoo belum sadar Kai?" Kai menggeleng menjawab pertanyaan Chen. "Ini aneh, aku sudah mengarahkan kekuatan untuk menyembuhkannya tapi ia tak kunjung sadar." Gumam Lay. "Karena sepertinya Kyungsoo hyung memang tak sakit, ia hanya butuh istirahat dan ia akan bangun sesuai kemauannya sendiri." Jawab Kai.
Cklek!
"Kau mau kemana Kris?" tanya Suho, ia melihat Kris sudah dengan pakaian rapinya. "Aku akan pergi bersama Tao, dan tolong siapapun aku titip Yingma ya? Ia belum diberi makan." Jawab Kris, ia terlihat sangat terburu-buru.
"Aku tidak mau memberi Yingma makan!" jerit Baekhyun. "Aku juga! Terakhir kali aku mendekatinya, naga itu secara tak sadar mengeluarkan apinya sehingga aku harus membekukannya sementara." Protes Xiumin, Kris terkekeh, Yingma memang suka menjahili teman-temannya.
"Kalian tenang saja, aku sudah pesan delivery makanan Yingma. Dan biar Luhan hyung yang memberinya makan, ia kan bisa membaca pikiran Yingma." Luhan mendengus, "Memang aku setuju apa?" sementara yang lain berpikir 'Memang sejak kapan makanan naga bisa di delivery?'
"Tapi kau mau kemana?" tanya Chanyeol, "Ekspedisi rahasia." Sehun melirik Kris, "Ekspedisi rahasia atau kencan rahasia dengan Tao?" protes Sehun, Kris menautkan alis tebalnya. "Tau apa kau bocah, sudahlah ini ada kaitannya dengan misi kita. Aku pergi dulu.."
"Byebye semuanya~" Tao melambaikan tangannya.
Chanyeol's room
02.39 p.m
CHANYEOL
Chanyeol mengeluarkan liontin dari dalam laci kamarnya, ia membuka liontin itu. Seorang gadis dengan rambut panjang tersenyum, sementara di sampingnya ada gadis lain dengan rambut pendek. Gadis berambut panjang di bagian kiri liontin adalah Kim Yejin, mantan kekasihnya. Ya setidaknya mereka pasti masih jadi kekasih kalau saja gadis itu tidak menjadi korban dalam kebakaran hebat. Sementara gadis berambut sebahu di bagian kanan liontin adalah Park Yura, kakak perempuan tercintanya. Kakak perempuan yang meski cerewet padanya tapi tetap mencintainya lebih dari siapapun, karena Chanyeol tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang orangtua.
Semenjak kecil, ia dan kakaknya tinggal bersama neneknya. Ia dan kakaknya diabaikan begitu saja oleh orangtuanya, sang ibu adalah wanita karir yang selalu bepergian ke luar negeri, juga seorang model dan perancang busana. Chanyeol dan Yura tahu kalau ibunya terlalu sering terlibat affair dengan lelaki-lelaki kaya di luar sana, ia sudah tak ingat berapa lelaki yang ibunya pernah kenalkan padanya. Sementara ayahnya adalah pemilik beberapa perusahaan besar di Korea kala itu, dan memilih menceraikan ibunya lalu menikah lagi dengan wanita yang hanya menguasai hartanya. Wanita itulah yang mengusir Chanyeol dan Yura sehingga mereka harus hidup bersama neneknya, menurut wanita itu dengan adanya Chanyeol dan Yura maka warisan keluarga Park akan jatuh ke tangan mereka. Tentu wanita itu melakukan berbagai trik kotor untuk membuat Chanyeol dan Yura seolah-olah pihak antagonisnya, dan ketika Chanyeol dan Yura telah pergi. Wanita itu mencampurkan racun dalam makanan ayahnya sehingga ayahnya meninggal dan seluruh hartanya beralih tangan ke wanita itu.
Setidaknya itu kata Kyungsoo, tapi itu memang benar adanya. Karena Chanyeol yang telah mengingat masa lalunya tak pernah tahu alasan dibalik kematian ayahnya, dan ia bahkan tak pernah menganggap ayahnya itu lagi. Namun menurut salah satu pengawal keluarga Park yang bekerja di rumah neneknya ayah Chanyeol terkena penyakit jantung, dan Yura serta Chanyeol yakin itu hanyalah akal-akalan ibu tirinya. Yura adalah seorang dokter dan ia rutin memeriksa kondisi ayahnya, ia yakin kalau ayahnya tak pernah punya riwayat penyakit jantung sebelumnya.
Lalu lupakan, kemudian ketika berumur lima belas tahun Chanyeol memutuskan pindah ke sebuah apartemen mewah milik keluarganya. Dan ia mengenal sosok Kim Yejin, gadis itu membuatnya jatuh cinta dan nyaman. Ia menjalin hubungan dengan Yejin dan tinggal berdua bersama Yejin tanpa status yang jelas, tapi meski begitu ia dan Yejin tak pernah melakukan hal-hal yang terlarang bagi mereka.
Park Yura tinggal di kamar sebelah Chanyeol bersama dengan suaminya, mereka baru menikah ketika pindah ke apartemen itu.
Suatu hari, tepatnya pada tanggal 30 june 2018, Chanyeol yang berumur tujuh belas tahun pergi ke luar dan bilang pada Yejin kalau ia akan pulang terlambat. Ia mengikuti jam tambahan akibat ia absen beberapa hari karena pergi ke luar negeri bersama Yura, Yejin dan suami Yura.
Ketika ia pulang, ia terbelalak gedung apartemennya telah luluh lantak dimakan si jago merah. Api itu menjalar dari lantai teratas, dan itu adalah tempat ia tinggal bersama keluarganya! Pemadam kebakaran kesusahan karena tangga mereka tidak bisa sampai di lantai paling atas dan trampolin untuk penduduk apartemen jumlahnya tak memadai, api semakin membesar.
Chanyeol berlari dan berusaha memasuki apartemennya, "Maaf tuan.. api sedang membesar biarkan kami memadamkannya." Seorang pemadam kebakaran mencegahnya. "Persetan! Keluargaku ada di lantai paling atas dan aku yakin mereka belum turun!" geram Chanyeol, petugas itu menahan lengannya. "Tapi tuan, lantai paling atas adalah sumber api. Anda tidak boleh kesana."
"AKU ADALAH CUCU DARI PEMILIK APARTEMEN INI BODOH!" bentak Chanyeol, ia mendorong petugas itu dan berlari kedalam apartemen. Meski ia harus bertabrakan dengan hiruk pikuk manusia yang berusaha keluar, ia tidak perduli dan melangkahkan kakinya dengan cepat menaiki tangga darurat.
Ia tahu api mulai menjalar dan membakar tiga lantai teratas, ia melihat sebuah kamar terbuka dan ia langsung memasukinya, menuju toilet dan mengguyur tubuhnya sampai basah kuyup dengan air shower. Kemudian ia berlari lagi dengan tubuh yang basah, ia sudah sampai di lantai ke dua puluh tujuh dari tiga puluh lantai dan api sudah menjalar. Ia merasa panas mulai menghampiri dirinya, ia melangkah lagi dan benar-benar sampai di lantai teratas. Dinding-dinding menghitam akibat kobaran api, kemudian tangga yang ia naiki sudah bergoyang karena dimakan api di sisinya. Ia memasuki lorong apartemennya, pilar, plafon, maupun atap apartemen terlepas dan jatuh. Chanyeol harus melangkah dan melompat dengan hati-hati agar tak menginjak api atau kejatuhan atap.
Ia membuka pintu kamarnya dengan mendobrak, untungnya sumber api berada di sisi kiri lantai tiga puluh sementara kamarnya berada di sisi kanan. "KIM YEJIN! KIM YEJIN! KIM YEJIN DIMANA KAU?" teriaknya. Ia melihat asap yang mengepul di kamarnya, jarak pandang benar-benar terbatas dan Chanyeol merasa matanya berair karena tak kuat akibat tebalnya asap. Ia membuka kamar mandi dan menemukan Yejin yang tak sadarkan diri. "Yejinna bangunlah, ayo sayang kita keluar dari sini."
"Mmm.. C-Chanyeol?" gumam Yejin, "Ayo sayang kita keluar!" ajak Chanyeol. "T-Tidak Yeol.. selamatkan kakakmu dan tinggalkan aku. Kakakmu terkunci di dalam kamarnya, ia menghubungiku tadi. Ketika aku menyelamatkannya aku malah tak kuat dengan asapnya, asmaku sempat kumat tadi. Pergilah.."
"Tidak Yejin, kita selamatkan Yura nuna bersama-sama. Ayo, aku akan menggendongmu." Chanyeol mengangkat tubuh Yejin, Yejin menggeleng. "Tidak Yeol, kalau kau menyelamatkanku siapa yang akan menyelamatkan kakakmu?"
"Baiklah kau tunggu disini aku akan menyelamatkan Yura nuna lalu menyelamatkanmu lagi. Bertahanlah Yejin, kumohon.." Chanyeol membaringkan Yejin di dalam bathub, dan menyalakan air agar memenuhi bathub tersebut dan bisa melindungi Yejin. Chanyeol keluar dari kamar itu dan mendobrak kamar kakaknya, ia menemukan Yura pingsan di dekat tempat tidurnya. Chanyeol menggendong kakaknya dan membuka jendela balkon kamar kakaknya.
"SIAPAPUN YANG DISANA TOLONG AKU!" ia berteriak dengan suara besarnya, beberapa petugas bergerak. "LEMPARKAN SAJA!" Chanyeol mengangguk, petugas pemadam kebakaran di bawahnya telah siap dengan sebuah trampolin. Dalam hitungan yang ketiga Chanyeol melebarkan kakaknya dan kakaknya telah terjatuh ke trampolin itu sehingga aman.
"TUAN! AYO IKUT MELOMPAT!" Chanyeol menggeleng, "MASIH ADA YANG HARUS AKU SELAMATKAN!" balas Chanyeol, ia melangkah keluar kamar kakaknya.
BLAAARRR!
Chanyeol terlonjak, ia mendengar suara ledakan dan secara tiba-tiba api mendatanginya. Chanyeol memejamkan mata, ia meremas liontin yang ia pakai. Namun ajaibnya, ia tak merasakan panas. Chanyeol membuka matanya sedikit dan ia terkejut dengan cahaya merah yang mengelilinginya, ia berada dalam kobaran api namun ia tak terbakar. 'Tidak aku terbakar, lihat lengan, jari, kaki, bahkan kepalaku mengeluarkan api! Namun aku tak merasakan panas!' batin Chanyeol, ia mengira ia pasti telah mati. Dan di depan matanya.. ia melihat api itu menghabiskan kamarnya dan kamar kakaknya. 'Maafkan aku Yejin...' ia membatin, Yejin pasti dilalap api meskipun Yejin berendam dalam bathub.
Kraaakkkk!
Lantai yang Chanyeol injak pecah dan runtuh, tiba-tiba dalam keadaan tubuh yang menyala karena api, Chanyeol mendongak dan atap di atasnya menimpanya. Chanyeol tahu meski tak terbakar tapi ia akan mati, ia memejamkan mata, namun samar-samar ia mendengar suara langkah kaki mendekat..
. . .
"Chanyeol kau kenapa? Uhuk! Hei matikan apimu! Kau membuat kamar kita berasap!" Chanyeol menoleh, ada Baekhyun, dan ia baru menyadari kalau tubuhnya 'berapi-api' dalam makna sebenarnya. "Hei idiot matikan apimu! Kau hampir membakar kamar kita!"
"EEYYYYY!" jerit Chanyeol panik, tirai di depannya terbakar dan liontinnya juga terbakar. Tapi liontin itu tidak bakal habis, entah mengapa mungkin karena sejak pertama kali Chanyeol terbakar liontin itu juga masih baik-baik saja. Chanyeol menenangkan dirinya dan perlahan api-api di sekitarnya padam, termasuk api yang membakar tirai kamarnya.
"Huh kau ini, sedang melamun apa? Kalau kau tak kusadarkan aku yakin mansion ini akan habis dilalap api." Gerutu Baekhyun, ia menutup hidung lalu cepat-cepat membuka jendela agar asap yang ditimbulkan Chanyeol bisa tergantikan oleh udara sejuk.
"Aku memikirkan masa laluku Baek.." gumam Chanyeol, ia memilih duduk di lantai kamarnya yang dilapisi karpet bulu tebal. "Kau memikirkan Kim Yejin-mu itu?" tanya Chanyeol, Chanyeol menggeleng. "Sedikit, tapi aku yakin ia telah berada di surga. Aku hanya memikirkan kakakku, aku berumur tujuh belas tahun di tahun 2018, dan nuna berumur dua puluh tujuh tahun. Aku yakin nuna berumur panjang. Mungkin umurnya sekarang tujuh puluh tujuh tahun, dan aku berharap ia masih hidup."
"Aku harap begitu, tapi umur siapa yang tahu Yeol?" tanya Baekhyun. "Aku hanya ingin bertemu dengannya, itu saja." Gumam Chanyeol. "Aku berharap waktu akan mempertemukanmu dengan nunamu itu. Berdoa saja, dan lain kali jangan melamun sendiri. Aku khawatir dengan kamar kita.."
"Haha, kau tenang saja Byun Baek. Yang tadi itu aku terlalu terbawa suasana." Chanyeol berdiri lalu mengacak rambut merah marun Baekhyun, Baekhyun hanya diam karena ia merasa pipinya merona. "Kita main yuk." Ajak Chanyeol, Baekhyun mengangguk menyetujui.
KaiSoo room
08:20 p.m
Kai mendesah nafas berat, Kyungsoo tak juga bangun. Keadaan mansion begitu sepi, KrisTao dan BaekYeol keluar entah kemana. SuLay –Kai yakin mereka berpacaran- sedang menonton film romantis berdua, dan mereka adalah dua orang tenang jadi membuat suasana semakin sepi. HunHan sedang melakukan 'kegiatan malam' yang you-know-what-is-that lah. Diantara mereka, HunHan yang biarpun terlihat tenang dari luar, sedikit innocent, ternyata merupakan pasangan yang cukup agresif di dalam kamar =_=
Kai ingat betapa senangnya ia berada dalam satu kamar bersama si pembaca masa lalu dan masa depan ini, Kai tak henti-hentinya bertanya bagaimana masa lalunya dan bagaimana masa depannya. Ia akan menikah dengan siapa? Punya anak berapa? Ia memiliki nasib bagaimana? Dan Kyungsoo merasa ia adalah peramal pribadi Jongin =_=
Tapi Kai ingat, Kyungsoo menggeleng frustasi ketika Jongin bertanya ia akan menikah dengan siapa. Awalnya Jongin memaksa karena ia kira Kyungsoo mengerjainya, namun Kyungsoo benar-benar jujur mengatakannya. Sekarang Kai tersenyum dan tahu alasannya, 'Bukankah itu berarti takdirku berhubungan denganmu hyung? Bukankah itu berarti kemungkinan aku menikah denganmu hm?'
Kai tahu, menikah dengan Kyungsoo adalah hal yang benar-benar indah. Menikah dengan orang yang lemah lembut, cantik, menggemaskan dan serba bisa seperti Kyungsoo adalah anugerah. Dan Jongin berharap hal itu cepat terjadi. Kalau ia menikah dengan Kyungsoo ia berjanji akan mengajak Kyungsoo kemanapun dengan kemampuan teleportasinya itu. Ah ngomong-ngomong soal kekuatan, ia jadi ingat dengan masa lalunya.
. . .
KAI
04 August 2042
A forest
"Hei, aku yakin ini jalan yang benar tapi mengapa aku tak bisa keluar ya?" gumam Kai. Ia sejatinya mengikuti klub pecinta alam bersama teman-temannya, namun ia malah berakhir tersesat di hutan itu sendirian tanpa teman-temannya dan ia yakin sedari tadi ia menemukan jalan yang benar namun ia tak bisa keluar.
"Duh, bagaimana ini. Kalau begitu aku tidak akan bisa pulang." Kai diam, memilih untuk duduk di bawah pohon rindang. Setidaknya ia butuh tempat untuk berteduh kalau-kalau akan hujan. "Ibu aku ingin pulang.." gumamnya.
Zrasssshhhh!
Kai membenturkan kepalanya ke batang pohon di belakangnya, malang pula nasibnya. Sudah tersesat, kehujanan pula. Ia benar-benar ingin pulang, ia pun melangkah dan membawa tas ransel beratnya. Mencoba di arah yang berlawanan siapa tahu ia menemukan jalan pulang.
Ia melangkahkan kakinya, dan menemukan sebuah telaga kecil yang indah. Kai duduk di tepi telaga itu, "Jernih sekali." Gumamnya. Ia jadi ingat di rumah bibinya di daerah pegunungan, disana juga ada telaga yang jernih seperti ini. Sudah lama Kai ingin kesana, tapi karena kesibukan ia tidak pernah lagi kesana. Kai memejamkan mata, seandainya ia bisa berada di tempat itu lagi.
ZRAASSHHHH!
"Kenapa hujannya tambah deras sih?" gerutu Kai, ia membuka mata. "Lho, kenapa aku ada di sini? Ini dimana? Kok telaganya berubah?" Kai menoleh, dan di sekelilingnya bukanlah hutan melainkan ladang bunga dan kabut tebal menunjukkan bahwa ia berada di daerah dataran tinggi.
"Eh tunggu, bukannya ini dekat rumah bibi? Kenapa aku bisa disini? Ah yasudahlah masa bodoh, lebih baik aku ke rumah bibi daripada aku sakit seperti ini." Kai berjalan dengan langkah kaki lemah, kakinya terlalu lama dipakai berjalan dan mendaki sehingga rasanya sedikit kebas.
Ia berjalan terseok-seok, dan mendekati rumah bibinya di kaki gunung. Kai mengetuk pintu dengan lemah, "Iya sebentarr!" teriak seseorang dari dalam. Kai merasakan dirinya makin lemah, ia menyandarkan tubuhnya di dinding. "Siapa? Loh Kai? Bagaimana bisa ada di sini? Eh.. Kai?"
Brukk
Kai tak sadarkan diri setelahnya.
. . . . . . .
05 August 2042
'Kau adalah seorang pengendali jarak, kau bisa berpindah semaumu. Selamat teleporter, kau akan bergabung bersama kami sebentar lagi.'
Kai memikirkan arti mimpinya, dan ia tidak tahu kalau ia bisa mengendalikan tubuhnya untuk berpindah-pindah semaunya. Bibinya bilang ia hepotermia gara-gara kehujanan dalam waktu yang lama, dan ia mendapatkan mimpi itu.
Memang sih aneh, kalau tiba-tiba ia berada di hutan di daerah barat Korea Selatan dan sekarang ia ada jauh di bagian timur KorSel. 'Tapi bukankah hal yang semacam itu hanya ada di cerita fiksi?' batin Kai.
Lagipula ini sudah tahun 2042, bagaimana bisa ia percaya dengan hal tak nyata sementara di luaran sana sudah ada mobil yang bisa terbang. 'Tapi apa salahnya aku mencoba. Baiklah seperti kemarin, aku akan memikirkan bahwa aku ingin menuju ke suatu tempat. Aku ingin ke kamar mandi, benar-benar ingin karena aku ingin buang air kecil.. ugh..' batin Kai, ia memejamkan matanya dan ia merasakan tubuhnya begitu ringan.
"KAU! KIM JONGIN! KAU TAK LIHAT ADA AKU DISINI?" Kai membuka matanya, dan ia membelalakkan matanya. Itu pamannya sedang berada di bathub, "P-Paman?" panggil Kai canggung. "Kim Jongin.."
"KELUAARRR!" Kai menutup telinganya dan cepat-cepat keluar dari kamar mandi. "Paman sensitif sekali sih, mana aku tahu paman ada di kamar mandi. Huh, aku kan bukan gadis." Gerutu Kai. Tapi sejenak ia berpikir, 'Ternyata aku benar-benar teleporter!' batinnya girang.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang. Aku yakin teman-temanku sudah memasukkanku dalam daftar orang hilang. Bibi, bibi aku pulang ya!" teriak Kai, ia memakai ransel di punggungnya. "Eh, mau kemana kau Jongin?" tanya bibinya bingung, bibinya sedang memasak.
"Aku mau pulang bi, terima kasih atas tumpangan semalamnya ya." Kai membungkukkan badannya, "Kau pulang naik apa? Lagipula ini sudah sore." Bibinya mencegah karena khawatir, Kai tersenyum. "Bibi tenang saja, aku akan baik-baik saja kok. Sampai jumpa bi, aku akan main lagi kapan-kapan."
Ia keluar dari rumah bibinya, dan ketika sampai di halaman rumah bibinya ia memejamkan mata memikirkan rumahnya. "Aku ingin pulang, segera.." gumam Kai. Dan ia merasakan tubuhnya kembali menjadi ringan, Kai tak berani membuka matanya.
Dukk!
Kai tersadar, ia jatuh dan duduk. Ia menolehkan kepalanya dan memandang sekelilingnya, rumah yang sangat besar dan asing dimatanya. "Ini, dimana? Apa appa telah merenovasi rumah jadi sebesar ini? Tapi kenapa rumah begitu gelap?" Kai berkata bingung, ia benar-benar tak mengenal tempat ini.
. . .
Kai menghela nafas berat, sampai situ batasan ingatannya tentang masa lalunya. Dan kesemuanya adalah yang diceritakan Kyungsoo, sepertinya mereka mengalami penghapusan ingatan sebelumnya dan dengan Kyungsoo perlahan mereka mulai bisa mengingat masa lalunya lagi.
Tapi tunggu..
Penghapusan ingatan?
Kai menjentikkan jarinya, 'Itu dia! Penghapusan ingatan!' batin Kai, ia yakin MAMA atau siapapun itu pasti menghapus ingatan mereka. Ia tidak seperti Xiumin, Chanyeol yang hilang di kebakaran, ataupun Kyungsoo yang katanya hilang di reruntuhan gempa. Ia hanya berteleportasi ke tempat yang salah, mungkin MAMA yang mengarahkannya berteleportasi ke tempat besar itu dan seseorang tiba-tiba memaksanya masuk kapsul tidur.
Tapi Kai yakin, ada hal lain sebelum ia masuk kapsul tidur. Karena kapsul tidur tidak akan mungkin menghapus ingatan manusia, dan seandainya memang karena tidur terlalu lama dalam kapsul tidur setidaknya ada satu ingatan yang bisa ia dapat. Tapi ini, ia tak mengingat apapun! Dan tentu saja Kyungsoo tak bisa membaca masa lalunya, karena masa lalunya tak masuk dalam keahlian. Masa lalu Kyungsoo adalah ingatannya sendiri, sementara masa depan Kyungsoo adalah takdirnya sebagai seorang legenda.
'Ah benar! Pasti ingatan kami semua telah dihapus, sehingga Kyungsoo hyung tak pernah tahu apa yang terjadi di masa lalunya. Kecuali..'
"Kecuali kalau ia memaksa mengingatnya dan mengerahkan segenap kekuatannya untuk menyentuh benda-benda yang sama seperti yang pernah ia sentuh di masa lalunya. Begitu kan cara kerja kekuatan Kyungsoo?" Kai menoleh, itu Luhan di pintu kamarnya. Dan keadaan Luhan benar-benar 'Ew, apa yang Sehun lakukan dengannya?'
"Sehun menyerangku." Luhan menjawab pertanyaan yang berasal dari pikiran Kai, Kai hanya menampilkan wajah datar. "Setidaknya hyung bisa mandi dulu atau merapikan penampilanmu sebelum datang kesini." Protes Kai, Luhan tertawa. Tadi Sehun menarik kaosnya hingga robek, jadi sesudah melakukannya Luhan tak memperdulikan bajunya lagi. Namun ketika ia hampir terlelap ia mendengar pikiran Kai, dan ia tak menyangka pikiran Kai juga sejauh itu.
Ia buru-buru menyambar kemeja Sehun dan mengancingnya asal-asalan, lalu meninggalkan Sehun yang terlelap dan menghampiri kamar KaiSoo. "Aku tak menyangka kau bisa berpikir sejauh itu, setidaknya Kris dan Suho harus tahu hal ini. Kita harus menuju tempat sebelum kita tak sadar, maksudku seperti Xiumin yang pergi ke kasti atau kau yang pergi ke rumah besar itu."
"Tapi bagaimana dengan Chanyeol hyung? Ia hilang dalam kebakaran itu, lalu Kyungsoo hyung juga dikabarkan hilang dalam reruntuhan gempa. Suho hyung, ia hanyut dalam banjir besar. Lay gege, bahkan Kyungsoo hyung tak menjelaskan apa kabar Lay gege setelah mendapat mimpi petunjuk. Kris gege yang tetap di pedalaman Amerika dengan sukunya, oh ayolah hyung ia hidup di awal abad ke 19 dan sekarang tahun 2067, kita tidak mungkin melacaknya. Dan Baekhyun hyung, ia malah berakhir di rumah sakit saat operasi kan?"
Luhan menggumam, 'Benar juga.' Ia diam sambil berpikir. "Tapi apa salahnya mencoba Kai, siapa tahu kita akan dapat petunjuk? Dan pikiran Kris bilang, pohon kehidupan tidak ada di luar negeri. Pohon itu ada di Korea, jadi kita tak perlu jauh-jauh ke Rusia, Amerika, dan bahkan.. Jepang."
"Tunggu, masa lalu siapa di Jepang?" tanya Kai, Luhan menatap Kai intense. "Masa lalumu Kai." Jawab Luhan singkat. "Tunggu! Aku orang Korea asli!" seru Kai, tapi kemudian ia ingat apa yang dikatakan Kyungsoo ketika ia bertanya, dimana lokasi rumah besar itu.
'Kau bilang aku salah berteleportasi dan sampai ke rumah besar? Dimana?' Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. 'Somewhere, out of Korean.'
"Jadi rumah itu di Jepang?" Luhan mengangkat bahu. "Darimana hyung tahu?" tanya Kai menyelidik. "Aku mendengar pikiran Yingma, dan kurasa Kris tak tahu masa lalumu dengan jelas Kai. Yingma juga bilang masa lalu Baekhyun di Korea, aku jadi bingung. Bukankah Kyungsoo bilang Baekhyun sempat menjalani operasi di Swiss?"
"Kalau begitu yang dimaksud Yingma bukanlah masa lalu kita, tapi tempat dimana kita dipindahkan. Karena seumur aku hidup aku tak pernah ke Jepang, aku yakin itu. Aku hanya pernah pergi ke Hunan China." Luhan mengangguk. "Tapi hyung, darimana Yingma tahu semua itu?"
"Entahlah, aku juga curiga. Karena Kris bahkan tak tahu apa-apa." Jawab Luhan. "Naga itu patut dicurigai, kita tak tahu apa yang dilakukan naga itu selama kita tertidur bukan? Bahkan aku baru tahu ada naga ketika kita terbangun." Jawab Kai. "Well, kau tahu jadi pembaca pikiran ternyata tak semenyenangkan yang orang pikir. Aku ikut menampung pikiran orang lain, masa lalunya, kekesalan mereka, dan berbagai ekspresi yang tak bisa mereka ungkapkan dengan lisan. Dan masa lalu kalian yang aku dengar dari Kyungsoo ternyata memiliki cerita yang menakutkan juga, aku masih bersyukur Kyungsoo tak stres karena menampung cerita kita semua."
"Aku yakin kalau Kyungsoo hyung dulunya adalah seorang anak indigo. Tingkahnya benar-benar tak diduga dan sedikit misterius." Luhan mengangguk, "Ehm.. err, Kai aku sebaiknya kembali ke kamar. Si pengendali angin itu sepertinya mencariku."
"Hahaha, kembalilah bersama si avatar itu hyung. Selamat malam!" Luhan meninggalkan Kai, Kai kembali menatap Kyungsoo yang juga tak kunjung sadar di tempat tidurnya. Kai mengelus punggung tangan Kyungsoo, "Hyung bangunlah.."
Kai mengelus pipi Kyungsoo lembut kemudian terkekeh kecil, "Sejujurnya hyung kalau saja kau bisa lebih membuka diri. Aku ingin memperlakukanmu seperti bagaimana Sehun memperlakukan Luhan hyung." Setelah itu Kai memilih menyelimuti Kyungsoo dan tertidur di tempat tidur sebelah Kyungsoo.
. . . . .
Kaisoo's Room
08 November 2067
04:50 a.m
"TIDAAKKKK!"
Kai terlonjak seketika, ia menoleh. Menatap Kyungsoo dalam keadaan yang sedikit memperihatinkan, Kyungsoo terbangun dengan peluh yang cukup banyak padahal pendingin ruangan tengah bekerja dengan suhu normal seperti biasanya. Mata Kyungsoo terpejam dan Kai tahu Kyungsoo sedang mencoba menormalkan nafasnya.
Tapi Kai bersyukur setidaknya Kyungsoo sadar, meski ia lebih berharap Kyungsoo akan sadar dengan cara yang baik-baik. "Hyung, wae geurae? Hyung mimpi buruk?" tanya Kai perhatian, ia duduk di samping Kyungsoo.
"Kai aku harus pergi!" Kai dengan mata yang masih sipit menengok ke arah jam dinding, dan itu bahkan masih belum jam lima pagi! "Kau mau kemana hyung? Setidaknya kita tunggu matahari terbit dulu, dan aku akan mengantarkanmu."
"Tidak Kai, aku tidak mau. Aku mau pergi sekarang." Kyungsoo bangun, ia langsung masuk ke toilet dengan membawa beberapa baju ganti. Mungkin Kyungsoo ingin mandi dan mengganti pakaiannya. Melihat Kyungsoo yang sepertinya serius, Kai pun buru-buru mengganti pakaiannya di depan lemari pakaian mereka yang besar dan memakan hampir 1/3 ruangan. Lemari itu terdiri dari empat bilik dan delapan rak, dibagi dua. Dibagian Kyungsoo, semua pakaian tertata rapi sesuai warna, urutan kapan akan dipakai, Kai masih heran mengapa ada orang yang rela-rela menata pakaiannya serapi itu kalau ujung-ujungnya akan dipakai lagi.
Sementara tatanan pakainnya? Heum ya kau tahu lah, di dunia ini selalu ada hal yang bertolak belakang kan?
"Kau sudah siap hyung? Ayo kita berangkat, setidaknya kita harus mencari tempat makan dulu. Kau belum makan selama tiga hari." Kai menggenggam tangan Kyungsoo, "Uhm Kai, lebih baik jangan menggunakan kemampuan teleportasimu. Kita naik mobil saja kalau kau mau ikut, ini sedikit penting."
"Baiklah.."
TBC._.
Responnya kurang bagus ya, apa gara-gara bulan puasa? Hehehe. Nah, kalau part ini banyak dapet review bakal aku lanjutin. Kalau ngga kayanya diakhiri aja wkwkwkw. Tapi tenang, ga bakal aku tinggalin gitu aja kok. Aku bakal ngasih chap final buat nyelesaiin ^^ tapi ya gitu agak maksa wkwk. Jadi menurut kalian ff ini pantas lanjut atau berenti di chap depan? Hehehe.
Last, review? :)
