Dragon Knight: The Birth of the New Successor

Disclaimer: Semua karakter milik penciptanya masing-masing. Saya hanya meminjam untuk kepentingan cerita tanpa mengharapkan imbalan materi sedikitpun.

Genre: Fantasy, Adventure, Martial Arts, Magic Romance.

Warning: Typo, Alternative Universe, Bahasa tidak baku, alur berantakan

Rating: M

Summary: Lihatlah, sang pahlawan telah bangkit. Dragon Knight dengan segala hal luar biasa yang ia lakukan dimasa lalu. Akankah legenda itu benar adanya? Atau hanya dongeng belaka? Akan tetapi, Setiap manusia yang masih menghirup udara tenang saat ini, berhutang nyawa kehidupan padanya.

-o0o-

Chapter 1

Bicara mengenai keadaan dunia sekarang, bisa dikatakan sebagai dunia yang buruk. Buruk dalam artian segalanya. Banyak peperangan antar manusia disana sini, ada pula peperangan antara manusia dan kaum monster yang dipimpin oleh kaum iblis.

Hal ini sudah sejak lama terjadi, bahkan antara kaum Manusia dan kaum Iblis masing-masing memiliki wilayah kekuasaan tersendiri.

Jika kau berpikir iblis adalah makhluk supranatural yang menggoda manusia untuk terjebak kedalam lumuran dosa, maka buang jauh-jauh pemikiran itu.

Di dunia ini, iblis memiliki bentuk fisik sama seperti manusia, hanya saja ada sebagian yang benar-benar berbentuk seperti monster. Katakanlah iblis yang memiliki bentuk buruk rupa merupakan iblis yang terkontaminasi oleh kekuatannya sendiri, sehingga tubuhnya bermutasi menjadi besar dan bahkan mengerikan. Itu adalah kekuatan dan kelebihan terbesar yang dimiliki bangsa iblis sehingga hampir memusnahkan seluruh manusia.

Di dunia ini sendiri dibagi menjadi beberapa benua. Ada benua Zestiria yang dihuni oleh sebagian besar ras manusia, benua ini juga dikatakan sebagai west ground atau benua barat karena letaknya berada di paling barat bumi.

Kemudian Berseria yang berada di selatan, yang merupakan rumahnya para monster dan iblis. Dikatakan ada sejumlah kerajaan iblis di wilayah ini, yang masing-masing di pimpin oleh Demon Lord [Maou] beserta para pengikutnya.

Sedangkan wilayah yang lain seperti Valinor, Eldamar di utara dan timur serta Eregion di pusat tengahnya merupakan benua yang ikut mengelilingi dunia ini.

Struktur Bumi masih sangat di dominasi oleh air yang luas, oleh karena itu sebagian benua ini dipisahkan oleh Samudra-samudra sehingga letaknya sedikit berjauhan. Hanya saja benua Zestiria, Berseria dan Valinor tidak dipisahkan oleh samudra, bisa dibilang ketiga benua itu menyatu di sebuah hamparan tanah raksasa yang disebut Land of Celestia.

Berbagai ras hidup bersampingan, seperti Elf dan Dwarf. Elf yang konon merupakan keturunan para peri [Seraphim] lebih memilih untuk menyembunyikan keberadaannya dan hidup secara berkolompok. Sedangkan Dwarf yang terkenal akan kerajinan tangannya seringkali bekerja sama dengan manusia, bahkan kedua pemimpin dari kerajaan manusia dan kerajaan Dwarf bekerja sama dalam berbagai hal seperti kemiliteran, ekonomi dan struktur tatanan perkotaan yang hampir sama.

Bicara mengenai manusia, kebanyakan dari mereka menghindari sekitaran hutan Gaulia yang berada di wilayah kerajaan Eternia. Mungkin pengaruh bangsa monster yang banyak mendominasi wilayah ini menjadi tolak ukur mereka. Meski begitu, kadang-kadang hanya ada sedikit dari para Adventurers yang kemari ketika sedang dalam masa menyelesaikan Quest dari Guild.

Alasannya mudah, hutan Gaulia memang merupakan hutan para monster yang berada di luar gerbang kota perbatasan yang bernama kota Dahlia. Meskipun penghasilan dari para Adventurers meyakinkan di wilayah ini, tetapi wilayahnya yang diluar gerbang itulah yang menjadikannya sedikit terlarang. Kalaupun masih ada yang berkeliaran di sini, kebanyakan dari mereka merupakan Adventurers tingkat Platinum dan Diamond yang mendapatkan Quest langsung dari para bangsawan atau bisa juga para Ksatria sihir yang mendapat misi dari pemerintahan.

Berada jauh dibarat hutan Gaulia, tepatnya sekitar kurang lebih 1 Li dari gerbang kota Dahlia terdapat rumah kayu yang terlihat bersih dan juga asri.

Rumahnya tergolong sederhana, dengan sebuah cerobong asap diatas dan tumpukan potongan kayu di halaman depannya. Figur rumah ini terlihat cocok untuk wilayah pedesaan meski pada kenyataannya hanya ada satu rumah saja di tempat yang sebagian besar terdiri atas hamparan rumput luas yang hijau. Ternak-ternak domba berlarian ria seraya menggigit sedikit rumput untuk makanan mereka— menambah kesan sederhana yang kemungkinan besar pemiliknya merupakan seorang gembala domba.

Sang pemilik rumah terlihat sedang membelah beberapa kayu berukuran lumayan menjadi kecil untuk bisa digunakan dalam perapian di tungku.

Meski dia sudah terlihat sangat tua dengan jenggot putih dan rambut panjang botak atasnya. Tapi ia masih memiliki stamina yang luar biasa, terbuktinya hal ini dapat dilihat dari jumlah kayu yang sudah dibelah dan dibiarkan berantakkan tak tersusun.

Awan berwarna kelabu menggantung di langit mendung.3Meskipun cuacanya sedang dingin, pria tua mengeluarkan keringatnya dan memainkan bagian kerah depan bajunya seperti kepanasan.

"Ah, ternyata ini cukup melelahkan, bahkan untuk pria tua sepertiku."

Selepas pria tua itu bermonolog, pintu rumah yang sebelumnya tertutup kini terbuka sambil memperdengarkan suara engselnya yang saling bergesekan kemudian.

Dan ketika pintu itu terbuka sepenuhnya, terlihat figur seorang anak remaja berusia sekitar pertengahan 13 tahun yang memiliki rambut pirang jabrik dengan mata biru menawan. Dengan berjalan perlahan, dia membawa secangkir teh hangat dengan aroma menyeruak bermaksud memberikannya kepada pria tua yang sedang membelah kayu.

Kulit tannya, terlihat menghitam yang disebabkan kayu arang yang ia buang sesudah menumpuk di perapian. Cuaca di bulan desember memang mengkhawatirkan, untung saja musim ini salju tidak turun sehingga mereka masih mudah mencari kayu bakar.

"Sarutobi-jiji, ini tehnya sudah kubuat. Minumlah, Jiji terlihat kedinginan."

Pemuda itu menghampiri pria tua yang ia panggil kakek. Bersamaan dengan meletakan nampan kayu berisi cangkir teh di tepian, dia ikut duduk dan sesekali menyusun rapi potongan kayu yang telah terpotong.

"Haha, candaan mu boleh juga, Naruto-chan. Meski sebenarnya dibandingkan dingin kakek sangat kepanasan saat ini."

Naruto, nama yang simple tetapi juga unik. Jika dikhalayak umum, mungkin orang-orang akan menertawainya dan mengejeknya dengan sebutan Toping Ramen atau kue ikan— bersyukurlah dirinya karena disini tidak ada ramainya sama sekali.

Naruto membalasnya dengan senyuman ringan. Menoleh kearah langit yang kelabu membuat dirinya teringat sesuatu. Dia lalu menggapai tangan Sarutobi dengan tangan kecil miliknya, dan mengatakan.

"Oh ya, aku baru ingat. Jiji pernah mengatakan kalau aku ditemukan oleh jiji terhanyut di sungai. Apa itu benar, atau hanya candaan saja?" tanya Naruto penasaran, sedangkan Sarutobi yang diberi pertanyaan seperti itu memberikan senyum hangat dan mengelus rambut pirang Naruto yang diresponnya dengan wajah cemberut.

"Di usia mu yang sekarang sepertinya kakek akan menceritakannya padamu, Naruto-chan." Ungkap Sarutobi hangat, seraya meletakan kapaknya agak jauh, kakek itu mengambil posisi duduk senyaman mungkin sambil merilekskan pergelangan tangannya yang terlampau pegal.

"Jadi memang benar ya, baiklah jiji ... Ceritakan semuanya padaku yang sudah sangat dewasa ini." Kata Naruto dengan suara mengecil diawalnya. Akan tetapi di kalimat terakhir dia memukul dadanya menggunakan kepalan tangan dengan semangat, seperti apa yang gorila biasa lakukan sebagai tanda bahwa dia sudah dewasa.

Tertawa dengan gigi ompongnya, Sarutobi tak dapat menahan tawanya dengan tingkah Naruto. Sambil sesekali menyeruput secangkir teh yang tersedia di nampan, kakek tua itu lalu mulai bercerita.

"Ah baiklah, kakek mulai dari bagian mana ya. Benar juga, bagian itu saja, ini terjadi sekitar tiga belas tahun yang lalu ... Saat itu kakek masihlah sangat muda dan juga tampan ..."

Tak terasa sudah dua jam pak tua itu bercerita tentang bagaimana dia menemukan Naruto yang terhanyut bersama arus sungai. Respon yang diberikan Naruto cukup negatif awalnya, hanya saja dengan sedikit kata-kata dari Sarutobi membuat anak pirang itu tak jadi membenci orang tuanya.

Sarutobi mengatakan kalau tidak ada orang tua yang membenci anaknya, setiap orang tua selalu mencintai anak mereka sepenuh hati. Tapi dalam kasus Naruto, kemungkinan besar ada suatu hal yang membuat Naruto terasingkan dengan cara tak wajar. Meskipun begitu, Sarutobi tetap menekankan kepada Naruto untuk tidak membenci siapapun.

Dan mengenai penamaan yang ia berikan untuknya adalah Naruto, itu karena sang kakek mengakui sangat menyukai ramen sehingga menggunakan toping ramen sebagai nama untuknya.

Sempat bingung dengan alasan sang kakek membuat Naruto bertanya. "Apa Jiji mengenali Tou-san dan Kaa-san Naru?"

Dengan senyum dan suara hangat Sarutobi menjawab. "Tentu saja tidak, tapi kakek yakin untuk itu."

Mengangguk keras dengan ciri khas anak remaja, Naruto yang memiliki tinggi 159 cm ini lalu memandang kearah langit yang semakin kelabu. Bahkan gumpalan awan yang menggantung dilangit seakan seperti gugusan buah anggur yang siap dipetik kapan saja. Suasanya pun semakin dingin sehingga membuat bulu kuduk terasa merinding.

"Jiji, cuacanya dingin— lebih baik jiji masuk kedalam rumah dan menghangatkan diri di perapian. Naru ingin menyusun tumpukan kayu ini di sebelah rumah."

Kata Naruto dengan nada khawatir, sebenarnya dia tak ingin kakeknya ini jatuh sakit, terlebih kakeknya sudah sangat tua tetapi masih saja tetap memaksakan diri untuk mengerjakan pekerjaan berat seperti ini. Padahal sudah berulang kali dirinya menyarankan agar ia saja yang melakukannya, tapi kakeknya selalu menolak dengan senyuman sambil mengatakan Tak apa, kakek masih kuat.

"Baiklah, Naruto-chan. Silahkan kau susun kayunya seperti biasa. Kakek lelah sekali."

"Siap! Serahkan padaku."

"Jangan lupa untuk memasukan domba-domba ke dalam kandang, para Dire Wolf biasanya sangat banyak di musim dingin seperti ini."

"Ha'i ha'i ... Sarutobi-jiji."

Selepas itu, Sarutobi kembali memberikan senyuman miliknya menjadikan dirinya seorang figur kakek yang sangat baik menurut Naruto. Dirinya lalu bangkit dari tempat duduknya dengan pinggang yang terasa sakit seperti baru saja dikarate, dia baru sadar kalau dirinya terlalu bekerja keras. Lalu berjalan menuju kedalam rumah dengan tangan kiri yang memegang pinggang belakang, meninggalkan Naruto yang mulai menyusun berbagai potongan kayu pada tangannya.

Tak terasa hitungan waktu berlalu. Hanya tinggal sedikit potongan sisa kayu yang berceceran di tanah berumput tempat Sarutobi membelah kayu. Naruto dengan bersemangat mengangkat potongan-potongan kayu kecil itu kedalam tangannya lalu berlarian kecil menuju samping rumah dan meletakannya ada wadah kayu yang terbuat dari bambu yang disusun dan dipaku rapi.

Setelah selesai, dirinya lalu menarik napas lega. Rasanya sedikit melelahkan tapi dia yakin apa yang dirasakan oleh Sarutobi-jiji jauh lebih melelahkan daripada ini— maka dengan begitu dirinya tidak boleh mengeluh.

"Fiuhh—" Cuaca awalnya hanya awan kelabu perlahan berubah menjadi awan hitam yang menakutkan. Awan dengan nama Nimbostratus terlihat bagaikan kapas abu-abu hitam yang tebal sehingga menutup cahaya matahari sepenuhnya. Jika dilihat dari kemunculan awan ini, kemungkinan salju turun atau hujan lebat sudah dapat dipastikan dan jika itu terjadi maka Naruto harus cepat-cepat memasukan para domba kedalam kandang sebelum terlambat.

Menyimpan nampan berisi cangkir milik Sarutobi-jiji tadi ke meja kayu di teras rumah, dengan bergegas Naruto berlari menuju hamparan rumput luas dibelakang rumah kemudian. Ada lima ekor domba di sana, sebelum memasukan para kawanan domba itu dia mengambil sebuah tongkat khusus yang biasa ia gunakan ketika menggembala domba di dalam kandang yang sebenarnya merupakan bangunan layaknya rumah namun hanya terbuat dari bahan kayu-kayu panjang yang dipaku dan disusun sedemikian rupa.

Ketika dirinya mengambil tongkat kayu dipojokan kandang, ada suatu hal menarik yang membuatnya terhenti. Itu terlihat seperti susunan papan yang menutupi tanah berlobang dibawah meja kayu tempat tongkatnya disimpan. Dengan rasa penasaran yang dilandasi oleh perasaan ingin tahu, dirinya mendorong meja itu kedepan menyingkirkan susunan papan yang tersusun itu dan menemukan sebuah lobang cukup besar disana.

Panjangnya hampir mendekati dua meter dengan lebar setengah meter— ukuran yang sama dengan meja yang menjadi penghalangnya tadi.

"Apa?! Sebuah peti kayu?"

Rasa terkejut yang mencubit hatinya ketika melihat sebuah peti kayu usang yang terbuat dari pepohonan oak terpampang jelas dihadapannya. Peti itu berbentuk segi empat dan mirip seperti peti mati.

Selintas pikiran negatif hinggap di pikiran Naruto.

Apa kakeknya berencana untuk meninggalkan dirinya, dan peti ini dibuat untuk sewaktu-waktu jika kematiannya tiba menjadi peti mati dari kakeknya itu?

Tidak tidak! Dia tidak ingin itu terjadi. Dirinya masih ingin bersama kakeknya lebih lama lagi, setidaknya sampai ia menjadi seorang pedagang ternak yang mapan dan membiayai kehidupan kakeknya agar serba tercukupi.

Tidak! Sudah! Lupakan saja mengenai hal tidak berguna seperti itu!

Lebih baik dirinya segera melihat apa isi dari peti tersebut karena ia merasa semacam ada tarikan magis dari peti itu yang mengajak dirinya untuk segera membuka dan melihat isi dari peti tersebut.

Rasa penasaran sudah diambang batasnya, Naruto mengangkat peti itu kemudian dan meletakannya di samping dirinya. Setelah cukup lama untuk bisa berkompromi dengan pemikirannya, ia membuka tutup peti itu kemudian dan betapa terkejutnya dia karena—

"Sebilah pedang?"

Sebilah pedang hitam yang kemungkinan terbuat dari lempengan perak Zirkonium hitam adalah logam langka yang kabarnya lebih kuat dari titanium dan punya sifat tahan panas. Tak heran jika zirkonium juga kerap digunakan di bidang industri persenjataan, namun harganya yang terlampau tinggi membuat pedang seperti ini hanya dimiliki sebagai koleksi oleh para bangsawan ataupun para Ksatria sihir yang keluarganya tergolong kalangan atas.

Uniknya pedang yang hampir keseluruhan bagian tubuhnya memiliki warna hitam yang pekat ini terdapat kristal merah di bagian pembatas antara bilah dan gagangnya, sehingga jika dijual pasti harganya sangat tinggi.

Tetapi, untuk Naruto yang tak terlalu mengerti dengan jenis bebatuan logam seperti hal ini hanya menganggap bahwa ini hal yang luar biasa. Pedang yang luar biasa. Rasanya, dirinya ingin segera memegang pedang tersebut, lagipula selama ini dia tak pernah memegang pedang kalaupun ada itu hanya sebilah pisau biasa yang digunakan orang pedesaan.

Merasa tertarik membuat Naruto tak sadar ingin menyentuh gagang pedang yang berbaring di permukaan peti tersebut. Ketika sedikit lagi jemari tangannya menyentuh gagang itu, sebuah suara yang tak asing mengejutkan Naruto sehingga ginjalnya terasa seperti dicubit—

"Apa kau tertarik dengan pedang itu, Naruto-chan."

Suara hangat dari Sarutobi-jiji yang sejak kapan berada di ambang pintu kandang menyapa indra pendengaranya dan membuat remaja pirang itu menggeleng cepat.

"Tidak-tidak! Ku sama sekali tidak tertarik." Balas Naruto lugas, tangannya ditarik kembali dan ia membalikkan tubuhnya menghadap pada Sarutobi-jiji yang menggunakan tangan kirinya untuk bersandar di pintu kandang sambil menatap dirinya dengan mata yang tak bisa Naruto mengerti.

Sarutobi-jiji menarik sudut bibirnya menyeringai. "Tapi kakek baru saja melihat tanganmu yang hampir menyentuh gagang pedang itu. Apa itu bisa dibilang sebagai kata tidak tertarik?"

Membalas tajam tatapan Sarutobi-jiji, dirinya memberikan tatapan seakan meyakinkan bahwa dirinya sama sekali tida tertarik. "Itu tadi, karena— ah ya, itu karena aku baru melihat sebilah pedang dari jarak sedekat ini, jadi um ya, hal itu membuat Naru menjadi penasaran." Dengan kata-kata yang belibet dan terbelit-belit Naruto membalas ucapan kakeknya.

Sarutobi tertawa pelan dan mulai mendekati Naruto dan mengelus surai kuning jabrik itu kemudian.

"Naruto-chan, penasaran sama artinya dengan tertarik. Tapi untuk saat ini lebih baik kau jangan menyentuh pedang itu, masih terlalu cepat tiga tahun bagimu untuk memegang pedang seperti itu." Ucap Sarutobi lembut dan dibalas anggukan kecil dari Naruto.

"Tapi, kenapa harus tiga tahun lagi? Bukan kah Naru sudah bisa dibilang dewasa kalau sudah berumur lima belas tahun? Sepertinya waktu yang benar itu dua tahun lagi, jiji."

Di Kerajaan manusia termasuk Eternia, kau sudah dapat dikatakan sebagai orang dewasa ketika menginjak umur lima belas tahun, ini bukan hal yang aneh tetapi merupakan hal yang umum karena peperangan dengan para monster dan iblis kerap terjadi sehingga kebanyakan para remaja dewasa direkrut oleh kemiliteran ataupun masuk kedalam Guild.

"Ahahaha— kau memang cucu kakek yang pintar, tapi untuk dirimu kau masih perlu tiga tahun lagi." Tukas Sarutobi-jiji yang menepuk pelan kepala Naruto kemudian.

"Tapi kenapa harus begitu!"

"Karena memang begitu seharusnya!"

Mendengar jawaban Sarutobi-jiji atas protes miliknya lagi-lagi membuat Naruto kesal. Baiklah! Jika memang itu yang kakeknya inginkan maka dia memerlukan tiga tahun lagi untuk memegang pedang itu— tepatnya pada saat usianya mencapai enam belas tahun.

Angin terasa menjadi semakin kencang dari biasanya. Cuaca ini buruk untuk ternak, untuk itu Sarutobi-jiji mengatakan pada Naruto untuk meninggalkan peti berisi pedang hitam disitu dan segera memandu para domba untuk masuk kedalam kandang. Sebagai anak yang didik dengan baik, Naruto tidak pernah mengelak atapun melawan perintah dari kakeknya jadi dengan demikian dirinya dengan segera menuruti perkataan Sarutobi-jiji dan bergegas menuju kawanan domba dipadang rumput.

Tak lupa, sepotong tongkat kayu dari dahan kuat pohon pinus yang ia jadikan alat pandu yang ia genggam sembari berlarian kesana.

Setelah Naruto berada cukup jauh, pak tua Sarutobi menghampiri pada peti terbuka berisi pedang hitam dengan kristal merah sebagai pelengkapnya. Dirinya menghela napas pelan dan berbisik.

"Untuk dirimu yang sekarang, kau tidak seharusnya memegang pedang ini. Naruto-chan, seperti yang dijanjikan untukmu dan untukku, tunggulah tiga tahun lagi."

-o0o-

Tadi malam, hujan mengguyur deras dan itu tak luput menghujani tempat dimana hanya ada satu rumah dan satu kandang peternakan di tempat ini.

Meski begitu, ini merupakan karunia karena dengan begitu di musim dingin yang tak bersalju ini rumput dapat tumbuh bebas dimana-mana sehingga tidak perlu mencari ditempat yang jauh atau bahkan membelinya di kota.

Karena bagi seorang peternak domba, rumput segar seperti surga dunia bagi mereka— dengan begitu domba-domba yang dihasilkan akan cepat gemuk dan kalau dijual harganya cukup tinggi bahkan mencapai harga 400 koin perak atau setara dengan 4 koin emas. Dengan jumlah ini sudah cukup untuk biaya hidup lebih dari tiga minggu.

Sistem keuangan umumnya hanya terdiri atas koin perunggu, perak dan emas. Seratus koin perunggu sama dengan satu koin perak, dan seratus koin perak sama artinya dengan satu koin emas. Sistem keuangan ini berlaku secara universal sehingga kau tak perlu menukarkan mata uang untuk berpergian di kerajaan lain.

Bicara mengenai uang dan kebutuhan pangan, saat ini Naruto sedang bersiap diri pergi ke kota Dahlia yang jaraknya tak cukup jauh, bahkan benteng kotanya yang tinggi dapat terlihat dari bukit dekat tempat dirinya tinggal.

Lagipula hari ini hari minggu, hari libur dan santai para pekerja dan hari belanja bahan sandang dan pangan, lagipula Sarutobi-jiji meminta Naruto untuk menjual daging domba sekaligus bulunya yang baru saja mereka panen pagi tadi.

Dengan bermodalkan kereta karavan yang ditarik oleh kuda jantan coklat, dirinya mengenakan celana kulit dengan sepatu bot dibawah jubah coklatnya—pakaian yang umum dipakai oleh para pengemudi karavan pada umumnya—dirinya bersiap dan naik ke dalam area kemudi kereta sambil melambaikan tangannya pada Sarutobi-jiji yang memberikannya senyuman hangat sebagai balasan.

"Aku berangkat, jiji." Ucap Naruto yang lalu menarik tali kemudi kuda kemudian.

"Hati-hati Naruto-chan, ingat pesan kakek seperti biasanya!" tukas pak tua itu dengan cukup nyaring dikarenakan karavan yang dikemudian oleh cucu angkatnya kini mulai bergerak menjauh.

Mendengar teriakan pelan dari Sarutobi-jiji membuat Naruto membalik dan menoleh ke sang kakek dan kembali melambaikan tangannya. "Ya, jika ada kesempatan untuk melihat celana dalam wanita cantik, maka lihatlah!" Teriak Naruto nyaring kemudian.

Sedangkan pak tua Sarutobi menggeleng kecil seraya terkekeh. "Kau memang cucuku!" Kemudian Sarutobi memandang kearah langit selatan, dimana awan-awan di sana terlihat tak lazim dan sangat berbeda dari biasanya.

"Jadi sudah dimulai 'kah? Ah, padahal aku menyukai peran ini."

-o0o-

Bahkan langit siang ini berawarna kelabu, ini masih langit yang sama seperti kemarin.

Batin Naruto berbicara. Jarak menuju gerbang kota Dahlia tinggal sedikit lagi, bahkan gerbang menuju kota sudah terlihat di depan sana, ini membuat dirinya tersenyum sumringah dan memacu kudanya agar tiba lebih cepat lagi.

Setelah memakan waktu yang tak cukup lama, Naruto sampai di depan gerbang kota bertajuk kota bunga ini—mungkin hal ini dikarenakan namanya yang berasal dari nama bunga Dahlia termasuk ordo Areales dan famili Ateraceae yang mana saat musim panas dan musim gugur tiba, bunga ini bertebaran di kota dengan luasnya cukup besar ini.

Pada saat Naruto bersiap memasuki kedalam gerbang kota yang saat ini dijaga oleh dua orang prajurit dengan bendera putih dengan lambang bunga dahlia di tengahnya, dia dihadang dengan kedua bendera itu disilangkan dihadapannya.

Si penjaga satu merupakan figur penjaga gerbang yang cukup sangar dengan mata tajam miliknya sedangkan penjaga yang lainnya memiliki bobot tubuh sedikit berlebih dengan lehernya yang teramat pendek. Masing-masing keduanya mengenakan peralatan Armour lengkap yang terbuat dari logam titanium yang terkenal keras.

"Biarkan kami periksa dulu." Pinta si penjaga sangar dengan suara keras dan serak khas seorang prajurit.

Naruto memberikan senyuman ramah miliknya, kakek mengatakan kalau ia harus selalu tersenyum pada orang lain.

"Silahkan." Ucap Naruto memperkenankan kepada kedua penjaga tersebut yang lalu memeriksa tubuh beserta isi karavan Naruto kemudian.

Setelah merasa aman, si prajurit sangar memperbolehkan Naruto untuk lewat dan Naruto pun mulai memasuki perkotaan yang sangat ramai ini. Meskipun berada di sekitar benteng perbatasan dengan benua Berseria—benua para iblis—Dahlia bisa digolongkan sebagai kota yang cukup makmur.

Rumah-rumahnya sudah didominasi oleh bangunan beton dan batu bata meski ada banyak juga perumahan yang berbahan dasar kayu, bahkan struktur kota tertata rapi dengan adanya—

Holy Knight District yang berada di Timur; merupakan wilayah kekuasaan dan manufaktur pemerintahan kota serta kediaman keluarga dari Holy Knight tersebut.

House District yang berada di Barat; merupakan wilayah para warga biasa tinggal.

Comercil District yang berada di Selatan; merupakan wilayah para warga untuk mencari kebutuhan hidupnya. Banyak toko, restoran, toko armour, bahkan toko perhiasan yang bertebaran di wilayah ini. Kota Dahlia terkenal berkat penjualan perhiasan dan makanannya yang enak, ini salah satu alasan mengapa District Comercil di kota Dahlia sangatlah ramai pengunjung, bahkan dari luar kota.

Di utara kau dapat menemukan gedung kemiliteran besar dan para prajurit serta, ini wajar karena wilayah ini merupakan District Millitary markas para Ksatria sihir dan prajurit kerajaan yang ditugaskan dikota.

Wilayah lain seperti tenggara dan barat daya diisi oleh hiburan-hiburan kota, Guild, bahkan sebagian wilayah pertanian.

Terdapat 11 kota di kerajaan Eternia, juga terdapat sepuluh Holy Knight yang masing-masing memimpin pemerintahan pada sepuluh kota lainnya yang mengelilingi ibukota kerajaan. Mereka disebut The Ten Strongers Chivalric Families.

Meski begitu, mereka tidak sepanjang waktu berada di wilayah kota mereka karena seringnya tugas yang datang dari pemerintahan membuat para Holy Knight lebih sering berada di Ibukota kerajaan. Jika dalam kondisi seperti ini, biasanya kota akan dipimpin sementara oleh anggota keluarga ataupun anggota kemiliteran terpercaya.

Bel siang berdering di Kuil ketika karavan yang Naruto gunakan berhenti di wilayah distrik komersial— tepatnya di tempat pemberhentian kereta kuda yang telah disediakan oleh pemerintah kota.

Dirinya menghela napas lelah, lalu menatap pada langit kemudian. Tak terasa sudah hampir tengah hari, di saat seperti ini kemungkinan pasar daging masihlah sangat ramai mengingat hari ini adalah hari libur.

"Baiklah, sekarang waktunya menjual hasil panen." gumam remaja pirang itu sejenak lalu berbicara pada penjaga kereta di situ dan mengambil kantong daging di karavannya kemudian berjalan pergi menuju tempat pasar berada.

Suasana terasa ramai, mayoritasnya para warga dengan status ekonomi tinggi, meskipun begitu mereka tak memandang rendah penduduk biasa atau yang berekonomi lemah, ini adalah salah satu keunggulan kota Dahlia yang mana kebanyakan penduduknya merupakan warga yang cinta damai dan dermawan.

Setelah berjalan cukup lama sambil membawa kantong besar berisi daging dan bulu wol dari domba, Naruto akhirnya sampai pada tempat pasar yang ia tuju meski disana terlihat sangat ramai. Bahkan dirinya harus mengantri untuk menjual daging dan bulu wol miliknya kepada pemilik pasar itu karena ada sebagian para peternak yang ikut menjual hasil ternak mereka.

Setelah cukup lama, Naruto selesai menjual hasil ternaknya kepada pemilik pasar daging tempat biasa ia menjualnya. Mendapatkan sepuluh koin emas membuat ia girang tak terkira, ini karena sang pemilik pasar menganggap Naruto sebagai partner bisnis terbaiknya dan dirinya tak ragu untuk membeli daging apapun yang Naruto jual padanya.

Setelah selesai dengan penjualan daging sekaligus wolnya perut Naruto terasa lapar—mungkin ini efek karena dirinya belum sempat sarapan pagi tadi. Karena rasa lapar yang menyerang ini membuat Naruto mencari kedai tempat biasa dirinya makan saat berada di kota ini.

Selepas makan, Naruto lalu ingin membeli kebutuhan pangan kemudian. Tapi ketika melihat sebuah toko buku membuat dirinya tertarik dan berniat kesana.

Dibalik jendela depannya terlihat deretan rak buku yang terisi berbagai buku dengan ketebalan dan kriteria masing-masing. Bau kertas dan tinta menyebar di udara menyapa sukma.

"Mungkin jiji tidak akan marah kalau aku menggunakan sedikit uang untuk membeli buku." Katanya sambil berjalan pelan menuju kesana.

Memasuki toko buku yang dimaksud—toko buku ini tidak terlalu besar akan tetapi jumlah buku yang berada didalamnya lumayan banyak, bahkan setiap rak batu selalu di tempati oleh kumpulan buku yang penuh.

Naruto terkadang juga membaca untuk menambah wawasannya, menurut Sarutobi-jiji dirinya perlu mempelajari dunia ini lebih dalam agar kelaknya tak tersesat di dalam kehidupan yang kelam. Oleh karena demikian Naruto beranggapan bahwa kemungkinan besar kakeknya tersebut tidak akan marah padanya— bahkan sampai saat ini pak tua itu tak pernah memarahi dirinya.

Di ujung ruang dari toko buku tadi terdapat pria berusia sekitar tiga puluhan yang merupakan pemilik toko ini. Menyapa dengan ramah pada pengunjungnya yang sedikit tak asing di matanya.

"Selamat datang, tuan."

"Ya, apa aku bisa melihat beberapa buku disini, meski aku tak yakin akan membelinya kemudian."

Naruto membalas sapaan itu dengan ramah, ini bukan pertama kali dirinya disini. Dia sudah kenal dengan pemilik toko berorot dengan bekas luka diwajahnya yang membuatnya lebih mirip dengan instruktur militer dibandingkan pemilik toko.

Pemilik toko mempersilahkan Naruto untuk hal tersebut dan dengan demikian Naruto mulai berjalan menelusuri rak-rak dengan aroma kertas dan tinta yang tak asing.

Berhenti pada rak dengan label dongeng dirinya dibuat tertarik oleh buku bergambar sesosok manusia dan seekor naga yang saling beradu kepalan tangan. Rasa penasaran tumbuh dan ingin mengetahui lebih lanjut lagi membuat ia membalik halaman tersebut mencoba mengobati perasaan yang menekan dirinya ini.

"Naga adalah sahabat, bukan monster." Gumamnya membaca kutipan di buku tersebut. "Ini buku yang bagus, aku akan membelinya." Lanjutnya bergembira.

Ketika ia ingin berjalan ke arah meja tempat sang pemilik berada lonceng pintu berdering tanda ada seseorang yang memasuki toko buku itu, meski tak begitu peduli Naruto tetap melihat kearah pintu sebagai refleks.

Pintu terbuka dan memperlihatkan seseorang gadis yang berstatus sosial tinggi jika dilihat dari pakaian mewah yang ia kenakan. Meski begitu, wajahnya terlihat ramah dan bersahabat membuat sesiapapun yang melihatnya akan beranggapan bahwa dia bangsawan yang baik— terlebih rambut pirang yang diikat kuncir kebelakang dengan poni yang tak begitu panjang membuat kesan cantik tak telekan lagi.

Rok putihnya yang pendek diatas lutut berkibar ketika masuk kedalam toko buku membuat Naruto yang berada di posisi menguntungkan dapat melihat sedikit celana dalam putih miliknya.

Putih dengan pola durian di tengahnya, ah ... Aku sudah menjalankan amanah darimu tanpa usaha berlebih, jiji.

Pikir Naruto bangga, dengan begitu dia menyudahi memandang gadis pirang itu dan lebih memilih melanjutkan perjalanannya menuju meja pemilik toko, namun entah kebetulan ataupun tidak gadis pirang tadi juga melakukan hal yang sama, yakni berjalan menuju meja pemilik toko yang berada di pojokan ruang toko buku ini.

Dari sudut pandang pemilik toko, dirinya dibuat terkejut karena siapa figur yang mendatangi tokonya ini. Dengan sedikit bergetar dirinya berkata. "G-Gabriel-sama, ah— saya merasa terhormat jika toko ini dikunjungi oleh anggota bangsawan seperti anda."

Gabriel von Eutuxia, siapa yang tak mengenal sang gadis pirang ini yang merupakan adik dari Lord Michael von Eutuxia— salah satu anggota Holy Knights Kerajaan Eternia yang memimpin kota bertajuk kota bunga, Dahlia.

Menjadi adik seorang pemimpin kota membuat Gabriel banyak dihormati dari berbagai kalangan, terlebih dirinya yang dikenal baik dan suka menolong kaum bawah dengan cuma-cuma menjadikan dirinya ingin di persunting oleh para bangsawan kerajaan lainnya.

Akan tetapi, Naruto tidak mengenalnya! Dia tak mengenal siapa itu Gabriel dan karena ketidaktahuannya itulah dari sudut pandang Naruto, Gabriel adalah wanita cantik dengan celana dalam putih bergambar durian yang unik.

Dengan sedikit tersenyum ramah pada gadis berusia dua tahun lebih tua darinya itu, Naruto membayar buku yang ia beli kemudian. Harganya tidaklah mahal, hanya dengan sepuluh koin perak ia sudah mampu membeli buku bergambar itu.

Tetapi, ketika dirinya ingin mengambil sejumlah koin perak yang tersisa bekas penjualan dua minggu yang lalu di kantong bajunya— ia dikejutkan dengan sentuhan lembut dipundak dan ketika ia menoleh gadis bernama Gabriel tadi yang menyentuhnya memasang wajah tersenyum.

"Ada apa nona?" tanya Naruto penasaran dan langsung di jawab Gabriel dengan suara lembut miliknya.

"Tidak ada, hanya saja biarkan aku yang membayarnya untukmu. Lagipula buku yang kau pilih itu bagus, aku sudah membacanya sampai ke bagian terakhir." Kata gadis berusia lima belas tahun itu ramah.

Naruto diam, tidak mengenakan membuat orang lain membayar apa yang ia beli, terlebih jika itu orang asing karena kakek pernah berpesan jangan terlalu percaya omongan orang asing terlebih jika mereka berasal dari golongan bangsawan kelas atas.

"Tidak, terima kasih. Tidak nyaman rasanya jika saya dibayar olehmu nona, jika begitu saya merasa akan sangat berutang pada anda." Ucap Naruto dengan gelengan.

Meninggalkan Gabriel yang sedikit terkejut karena ada seseorang yang menolak kebaikannya, Naruto lalu membayar buku dengan sepuluh koin perak yang ada sambil melihat ke arah paman pemilik toko yang entah kenapa berkeringat dingin sambil menatap dirinya aneh.

Setelah trasanksi selesai, Naruto berniat meninggalkan toko tersebut akan tetapi ketika dia berada tepat di depan pintu langkah kakinya tercekat ketika gadis itu memanggilnya kembali dengan panggilan.

"Hei kau! Boleh ku tahu siapa namamu?"

Mendengar suara bersahabat membuat ia membalik tubuhnya meski dengan sedikit terkejut. Akan tetapi melihat kebaikan yang dipancarkan oleh gadis pirang membuat Naruto tersenyum, dirinya berkata dengan lembut.

"Anda bisa memanggil saya dengan nama Naruto."

"Begitu, Naruto 'kah?" Gabriel menjulurkan pergelangan tangan putihnya kedepan, berniat memberi salam jabat tangan perkenalan yang sudah umum dilakukan. "Namaku Gabriel, semoga kita bisa berteman kedepannya, Naruto-san"

Uguuu— Naruto hampir dibuat kebingungan dengan sikap ramah Gabriel, karena jujur bagi dirinya ini pertama kalinya ia berkenalan secara resmi dengan seseorang. Dengan tangan yang entah kenapa menjadi sedikit berat, dirinya menggapai tangan putih itu dan membalas jabat tangan dari Gabriel dengan gugup.

"Semoga saja, nona Gabriel." Ucap Naruto tersenyum kaku.

Setelah selesai dengan hal yang membuat darahnya terpompa lebih banyak dari biasanya ini, dirinya berniat untuk kembali ke habitatnya atau katakanlah rumahnya langkah pertama yang harus ia ambil untuk itu adalah keluar dari situasi ini dan juga keluar dari toko ini.

Dirinya berpamit pada teman resmi pertamanya dan juga berterima kasih pada paman pemilik toko yang berotot tadi setelah itu ia keluar dari kota dengan kantong sedang berisi buku yang baru ia beli.

Lalu dirinya melihat langit, awan yang tadinya kelabu kini semakin menggantung tinggi warnanya putih seperti kapas pertanda tidak akan ada hujan untuk sore dan malam nanti.

"Yosh, aku jadi tak sabar untuk menceritakan teman pertamaku kepada jiji." Seru Naruto bersemangat hingga bergegas menuju tempat penampungan kereta kuda tempat dirinya menitip karavan kemudian.

-o0o-

Sudah lumayan lama semenjak dirinya meninggalkan gerbang kota. Naruto memacu kuda karavan dengan kecepatan tinggi, sungguh dirinya sudah tak sabar untuk menceritakan pengalaman barunya ini.

Seperti melihat celana dalam gadis yang merupakan teman pertamanya bahkan sampai kepada cerita dimana mereka berjabat tangan.

"Akan ku buat jiji menjadi iri! Ahahaha." Kata Naruto semangat.

Sebentar lagi ia akan sampai di kediamannya dia menjadi semakin bersemangat saja.

Setelah cukup lama memacu kuda, dirinya kini berada tepat di halaman pekarangan rumahnya. Terasa sepi, seperti tidak ada kehidupan sama sekali bahkan ia tak melihat asap dari cerobong yang biasanya api disana selalu menyala pada perapian di musim dingin seperti ini.

Naruto turun dari tempat kemudi, memandu kudanya pada tempat biasa di dekat pohon apel dan mengikatnya di sana. Selepas itu ia kemudian berjalan pelan berencana untuk masuk kedalam rumah.

"Suasanya benar-benar sunyi," entah mengapa timbul perasaan tak enak pada Naruto, namun dirinya berusaha untuk menepis pemikiran itu.

Berjalan dengan kantongan berisi buku dan beberapa keping uang di kantongnya, dirinya lalu menuju kedalam rumah melaui pintu kayu tua yang ada dihadapannya. Suara engsel pintu yang berderit menyapa pendengarannya sekilas dan saat itu ia telah berada masuk kedalam rumah kayunya.

Suara benda terjatuh menyapa ketika sebuah kantong kain terjatuh menimpa lantai.

"Apa-apan ini?!"

Matanya melebar kakinya bergetar suaranya terkejut samar dengan tegukan ludah yang hambar.

Suasana didalam rumahnya benar-benar berantakan, bahkan dikatakan tidaklah layak disebut seperti rumah lagi—di dalamnya benar-benar hancur dengan barang bertebaran berantakan dimana-mana— pecahan gelas keramik dan sendok kayu bertebaran menambah kejut rasa di dalam dada.

Tapi yang membuat jantung Naruto shock adalah karena adanya cipratan darah meraja lela dimana-mana. Di dinding, di lantai dimanapun mata memandang. Juga, perlahan pelan dan memelan seekor Dire Wolf yang ukurannya hampir menyamai seekor singa.

Dengan berat sekitar 250 kilogram dengan panjang tubuh 3,2 meter Dire Wolf mengaum dan memperlihatkan taring putih panjang yang masih berlumuran dengan darah merah segar. Bahkan Naruto dapat melihat masih ada sedikit bekas daging di sela gigi monster serigala itu.

Bulu-bulu kelabunya seakan berdiri ketika wajah seakan tersenyum buas menemukan mangsa baru yang merupakan remaja pirang dihadapannya.

Mundur secara perlahan, Naruto sudah mendengar dari kakeknya bahwa para Dire Wolf merupakan monster pemangsa yang buas, karnivora yang kejam bahkan akan memakan daging apapun yang ada dihadapannya.

Monster tingkat rendah yang tak memiliki akal tetapi merupakan pemangsa yang kejam.

"J-jiji."

Tidak! Tidak ada sesiapapun disini selain dirinya dan seekor monster serigala yang siap memangsanya kapan saja. Memanggil kakek adalah refleks akan dirinya yang memandang takut dan shock pada situasi saat ini. Meski dipikirannya dia masih berusaha meyakinkan bahwa kakeknya masih hidup tapi ceceran darah disana milik siapa lagi kalau bukan milik manusia yang tinggal di dalam rumah.

Mungkin kakeknya telah mati. Sekuat apapun dia menepis pemikiran itu tak bisa mengalahkan kenyataan pahit yang dihadapinya.

Dirinya akan dimangsa sekarang, itu adalah yang terpenting. Berusaha mencoba melupakan sedikit apa yang terjadi pada kakeknya dan mencoba bertahan hidup bagaimana pun caranya. Lagipula Sarutobi-jiji selalu berkata pada dirinya untuk terus hidup apapun yang terjadi.

Tenang! Tenang! Dan ambil napas panjang! Pahami situasi dan kondisi, atau dirinya akan mati.

Sekilas Naruto menatap pada meja di dekatnya, ada sebilah kapak yang biasa digunakan untuk membelah kayu disana.

Berpikir! Berpikir! Berpikir! Jangan pernah berhenti berpikir, gunakan segala cara untuk tetap bertahan hidup.

Dengan tangan yang tak bisa berhenti bergetar Naruto menarik gagang kapak tersebut dan berlari keluar melalui pintu. Namun sang pemangsa tak akan membiarkan mangsanya pergi begitu saja, suara auman yang memekakkan telinga dan suara tapak kaki pada benda yang berceceran ketika Dire Wolf mengejar Naruto hingga menabrak pintu dan merusaknya pada tingkat kehancuran.

Naruto yang dikejar oleh seekor Dire Wolf mencoba berlari kearah halaman belakang rumah tempat dimana kandang domba berada namun itu malah memperburuk keadaan yang datang padanya.

"Sialan!"

Naruto merutuki kesialannya sendiri ketika melihat tidak hanya ada satu Dire Wolf yang ingin memangsanya tetapi ada lima ekor lagi yang masing-masing sudah memangsa kuda dan domba-dombanya. Totalnya ada enam Dire Wolf yang mengepung dirinya dari berbagai tempat.

Dibalik pohon apel, di sisi kandang, di hamparan rumput luas— yang mengelilinginya dengan liur menetes dari lidah terjulur. Melolong dengan nyaring hingga terasa memekakkan telinga.

Satu ekor Dire Wolf datang bersiap menerkam Naruto dari arah belakang. Dirinya yang tak pernah mempelajari seni bela diri dan memegang senjata bergerak dengan sembarangan serta mengayunkan kapak tanpa bisa mengenai targetnya membuat Naruto harus meneguk ludah pahit ketika monster tersebut menyeruduk dirinya hingga terjatuh tersungkur dengan terbatuk darah.

Tertunduk dengan bertumpu pada kedua tangannya yang menyentuh tanah, Naruto melihat ada dua Dire Wolf yang datang menyerangnya. Tak ingin cepat mati membuat dirinya bangkit dan berlari ke arah yang menurutnya aman.

Namun Dire Wolf bukanlah monster yang lamban! Mereka adalah ras monster yang satu familia dengan bangsa hewan Srigala yang tak hanya gesit namun juga lincah.

Karena kesalahannya itu sehingga kedua Dire Wolf tadi mampu mengejarnya bahkan menerkamnya sehingga ia kembali tersungkur ke tanah dengan bersimpuh darah ketika salah satu dari keduanya menggigit bahunya sehingga terasa sakit dan panas ketika taring itu mengoyak dagingnya.

Sang Dire Wolf melolong nyaring ketika berhasil menjatuhkan mangsanya membuat Dire Wolf yang lain datang untuk ikut menyantap anak remaja yang jatuh tak berdaya dengan mata yang hampir tertutup sepenuhnya.

Kilasan hidup sebelum kematian terasa berada di pelupuk mata ketika semakin lama semakin terpejam tak berdaya. Bahkan rasa sakit dan panas dari luka sudah tak dapat ia tahan lagi.

Sampai sini saja kah kehidupanku? Tuhan kau tidak adil, menjadikanku anak yang terbuang lalu mengambil jiji dariku dan bahkan mengambil nyawa ku ketika aku baru saja memiliki teman. Betapa lucunya.

Ketika ia hampir sepenuhnya menutup mata dan kesadarannya, telinganya masih dapat mendengar teriakan kesakitan dari Monster yang memangsanya, tidak hanya satu tetapi semuanya.

Awalnya ia hanya menganggap itu hanya imajinasi menjelang kematiannya, akan tetapi sebuah suara tak asing dapat ia dengar sebelum kehilangan kesadarannya sepenuhnya.

"Untuk seorang yang belum pernah bertarung, kau sudah berani melawan mereka meski kau tau akan kalah, sahabatku."

[ To be Continued ]

Catatan:

1. Li sama dengan kilometer. Artinya 1 Li sama dengan satu kilometer. Referensi ini kuambil dari salah satu Light Novel yang kubaca dan kusukai.

2. Kebanyakan nama benua dan kerajaannya ku ambil dari game dan film. Terutama Berseria dan Zestiria dari game Tales of Zestiria dan Tales of Berseria.

A/N:

Cuti setelah UN membuat ku dapat menyelesaikan chapter ini dengan cepat, ini membuatku merasa lega. Kau tahu?

Oh ya, selamat datang para pembacaku serta para senpai yang selalu mengajariku melalui karya mereka yang luar biasa. Ku merasa senang karena kalian masih mau membaca ceritaku yang acak-acakan ini.

Kali ini aku hadir dengan chapter 1 setelah prolog yang telah ku buat. Chapter ini masih berupa pengembangan karakter dan pengenalan tokoh dan sistem dunianya. Menurutku itu hal yang cocok untuk sebuah awalan cerita sebelum mencapai tahap konflik dan klimaksnya.

Juga terima kasih atas antusiasme yang pembacaku dan senpai berikan. Aku mengucapkan banyak terima kasih pada RiesA senpai yang bahkan meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini disela kesibukannya. Juga aku sangat berterima kasih pada Shiba Tatsuya yang selalu memberikan masukan dan saran di WA ku.

Ah sudahlah, awalnya aku ingin mempublihs chapter baru dari King's Incarnation tetapi kuputuskan untuk yang ini terlebih dahulu, kemungkinan besar besok atau lusa fic ku yang lainnya akan ku publish.

Yaudah, aku mau mengambil waktu istirahat untuk bermain game dan memikirkan apa yang terjadi berikutnya.. terima kasih karena sudah mau mampir bahkan memberikan kritik dan saran.

Jikalau ada Typo mohon katakan padaku biarku tahu dimana letaknya dan memperbaikinya.

Juga, jangan sungkan untuk memberikan kritik padaku atau sekedar menyemangati ku. Aku menghargai itu semua, kau tahu?

Ah sudahlah.. sampai sini dulu.

Mordred out..