Kozume Kenma tidak ingat seperti apa pertama kali Kuroo memperkenalkan seorang perempuan di hari tanpa angin di penghujung musim gugur dengan udara lembab yang kering. Gadis itu tampak polos dengan setelan seragam olahraga SMA Nekoma dan rambut yang diikat ekor kuda rapi.
Kenma juga tidak ingat alasan kenapa gadis itu memilih menjadi manejer dari sebuah klub yang anak laki-lakinya suram semua seperti extrakulikuler voli. Teman-temannya ini hanya tahu satu hal, voli. Kalau dirinya pengecualian, ia adalah hamba sejati game. Bahkan kalau ia masuk ke dalam klasifikasi makluk hidup yang menyerahkan hidup pada game, pasti Kenma menduduki puncak.
Sebelum satu kalimat tunggal merobohkan semua dindingnya. Satu kalimat yang diucapkan sang manejer baru di hari-hari awal ia ikut bergabung; Satu kalimat, yang satu-satunya tidak pernah Kenma lupakan—sampai kapanpun,
"Kenma-senpai, tidakkah berpikiran kalau senpai orang yang kelihatan keren saat main game?"
Disclaimer : ハイキュー! punya Hairuichi Furudate-sensei, kuhanya pinjam tokohnya sebentar untuk memuaskan hasrat (?) fangirling-an.
MANEJER
Nopembermu, 2019
Gadis itu sama sekali tidak banyak tingkah, tidak centil seperti anak perempuan lain seusia mereka yang sering sekali Kenma temui dikelas, disekolah, atau dimanapun. Ia serius, sekaligus ulet, tapi lebih banyak payahnya.
Ia lucu.
Semenjak pertanyaan sederhana itu, sebuah sifat alamiah Kenma secara tak sadar mengikuti gadis itu kemanapun dengan pandangannya.
Ia seperti sebuah ornamen kesepian yang tidak pernah sepi, layaknya sekumpulan rasa bahagia yang tidak bisa diukur dengan tumpukan kata-kata. Manajer adalah orang yang pertama kali membuat Kenma merasakan hal-hal demikian. Perasaan yang indah, perasaan yang tidak sanggup Kenma terjemahkan dalam bahasa-bahasa. Entah kenapa.
"Kenma-senpai memikirkan apa?" seperti yang sudah dikatakan, gadis ini cekatan ia sudah dihadapan Kenma mengulurkan sebotol minuman, entah bagaimana bisa secepat itu sampai disekitar Kenma.
'memikirkanmu', hanya sanggup terucapkan dalam hati.
Kadang Kenma memang sepengecut itu.
"Aku kepikiran game yang belum kutamatkan." Suara Kenma sepelan biasanya, tapi debaran jantungnya tidak seperti biasanya.
Si manejer tertawa, ia duduk disampingmu, "Kenma-senpai sekali ya."
"Memangnya aku seperti apa?" Kenma bertanya, seberusaha mungkin tidak terdengar seperti sangat ingin tahu. Tapi mengetahui ia diperhatikan begitu banyak, diam-diam hatinya merasa senang. Kerumunan waktu seakan dihancurkan dan menyisakan kesunyian menyenangkan yang tidak berakhir.
"Senpai selalu serius."
"Kau juga, manejer."
"Aku?"
"Iya, kau." Kenma mengangguk, "Kau selalu serius, manejer."
Ia tertawa takjub, "Wah aku baru tahu dua hal sekarang. Ini benar-benar penting."
"Apa itu?"
"Tentang Kenma-senpai!"
"Tentangku?"
Gadis itu menggangguk antusias, "Pertama senpai ternyata bisa mengobrol. Aku pikir sebelumnya senpai orang yang sulit diajak bicara. Dan anti sosial."
"Memang benar sih," Kenma mengangguk.
"EEEEEH? Kenma-senpai anti sosial?"
Cowok kepala mangga itu tak menggubrisnya, bukannya itu terlihat sangat nyata kalau Kenma memang anti sosial? "terus yang kedua?"
Gadis itu tersenyum cerah, lalu menunjuk Kenma dengan jari, tapi bagi Kenma ia seperti sedang ditembak dengan senapan cinta yang membuatnya gelagapan, ia harus tetap terlihat keren didepan manejernya, harus. "Kenma senpai memperhatikanku dengan baik."
Kerumunan waktu itu, sekali lagi berhenti. Mengerangkeng Kenma dalam euforia yang tidak bisa dihentikan. Sama sekali. Tidak bekerja. Sama sekali.
"Kenma tahu betul kalau aku orangnya serius." Dengan sekali senyum yang membuat Kenma tidak bisa mendefinisikan apa-apa lagi.
.a
"Kuroo, aku boleh cerita?"
"Wow, apa sebentar lagi monster Ultraman akan keluar dari dalam laut?"
"Berisik."
"Kenapa? Cerita saja. Cerita~"
"Kalau aku bertanya dulu, bagaimana?"
"Oke. Bertanyalah sesukamu."
"Apa yang dilakukan orang-orang saat mereka menyukai orang lain?"
"Hmm, sepertinya kau menyukai seseorang ya?"
"Ya. Aku suka seseorang."
"Wah, aku juga kayaknya lagi suka seseorang deh."
"Paling kau habis jadian sama anak-anak cewek berisik itu kan?"
"Bukan kok, ini beda."
"Oh."
"Jadi siapa perempuan yang kena sial disukai olehmu?"
"Manejer kita."
"Kalau Kuroo, siapa perempuan sial yang kena sial disukai olehmu?"
"Bukan siapa-siapa."
"Bukan siapa-siapa? Maksudnya?"
"Kau nggak mengenalnya, Kenma. Nggak."
"Oh begitu."
"ya, begitulah."
"Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang."
"Mengatakan semua yang kau rasakan padanya."
"Mengatakannya?"
"Ya, bagaimana dia mengerti perasaanmu kalau kau nggak bilang?"
Hari itu manejer lebih ceria dari biasanya, namun raut wajahnya dipenuhi kebingungan, masih menjadi tanda tanya apa penyebabnya.
Kenma memaggilnya, ia ingin bicara.
Bicara sesuatu yang penting.
.
.
Mereka berhadapan bagai sepasang rasa bersalah yang bukan kesalahan. Seperti dua orang yang sudah lama saling mengerti tapi tidak mengatakan apapun, mereka terpenjara dalam perasaan yang saling berkesinambungan namun tidak tahu letak ke-tidak-selarasanya.
"Manejer, kupikir—" Kenma memberi ruang bernapas pada gadi itu; juga untuk dirinya sendiri. Ini adalah kali pertama ia berurusan dengan perempuan.
"Ya?" Manejer memiringkan kepala, memastikan Kenma baik-baik saja.
"—aku menyukaimu."
Gadis itu memundurkan kakinya sebanyak satu langkah, kemudian menunduk, kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran yang tidak bisa diam barang sebentar. Mereka berlari-lari, mengacau kerja otak dan memori, tidak tahu diri.
Sesaat uang hanya beberapa detik itu mennganggu daya ambil keputusan, tapi karena Kenma sudah paham betul gestur orang lain (ia jago dalam mengalisa pikiran orang-orang) dapat ia simpulkan perempuan ini tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Tapi sudah terlanjur bilang.
Diselesaikan saja, kan?
Kenma mengambil udara sebanyak mungkin untuk mengisi pernapasannya, menghirup semampu yang ia bisa, lalu setelahnya mencoba tersenyum di hadapan si manejer, "Sudah lama. Sejak hari keempat, atau kelima? Aku lupa. Pokoknya saat pertama kali kau mengajakku bicara—"
"Hari kelima. Jam 14.55. aku bilang, Kenma-senpai keren kalau bermain game." Setelah memotong percakapan Kenma, gadis itu kembali diam tanpa bahasa. Hening.
Berarti dia sangat mengingatnya ya?
"Sejak saat itu, aku pikir, kau orang yang tepat. Kau memenuhi pikiran—"
Mereka kembali terdiam, Kenma tak mampu melanjutkan kalimatnya yang menguap ke angkasa. Begitu saja.
"dan hatiku."
Mendengar kalimat super romantis yang sama sekali tidak terbayangkan bisa dikatakan seorang bernama Kozume Kenma, gadis itu tersenyum dan setengah mewek haru. Apa artinya? Manejer ingin tertawa atau menangis.
"Kau tidak perlu buru-buru menjawabnya, aku hanya ingin mengungkapkan supaya lega dan tidak keduluan orang..." Kenma menatap kebawah, tak mampu melawan mata cokelat si manejer yang sudah berkaca-kaca.
"Kenma senpai," gadis itu maju dua langkah lebih dekat kearah Kenma, "aku menyukaimu. Juga. Lebih dulu. Jauh sebelum sekarang."
Kenma hampir terpenjarat senang sebelumia benar-benar menyadari suara itu tidak terdengar seperti rasa syukur. Suara si manejer mengakuinya.
"Aku sangat menyukai klub voli. Aku bertemu denganmu yang sangat mirip denganku, aku bertemu semua orang yang mendukungku. Aku berada selangkah lebih dekat padamu, meski aku sudah diwanti-wanti dari awal kalau tidak boleh modusin anak voli, tapi aku suka Kenma senpai jauh sebelum hari ini."
Panjang sekali kalimatnya, Kenma hampir tak percaya kalimat sepanjang itu di ucapkan Manejer.
Berarti perasaannya terbalas, kan?
"Aku sangat menyukai Kenma-senpai, sebelum..."
Tunggu, sebelum? Berarti sekarang sudah tidak?
"Sebelum Kuroo-senpai menciumku."
Kenma membatu di tempatnya berdiri. Pijakannya seperti sudah tidak kuat menahan dirinya.
Manejer itu membungkukan badan, "Semenjak hari itu, aku tidak mengerti apa yang kurasakan. Hatiku sering berdebar debar."
Kenma diam, informasi seluruhnya terkait, ia berpikir sejenak, untuk kemudian ia sudah kalah telak, oleh sahabatnya sendiri.
"Wah, aku juga kayaknya lagi suka seseorang deh."
"Bukan siapa-siapa."
"Kau nggak mengenalnya, Kenma. Nggak."
"Mengatakan semua yang kau rasakan padanya."
"Ya, bagaimana dia mengerti perasaanmu kalau kau nggak bilang?"
"Aku sangat menyukai Kenma-senpai, sebelum..."
"Sebelum Kuroo-senpai menciumku."
Note :
HAYO MANEJER JADIANNYA SAMA KUROO APA KENMA?
Semoga suka.
