Yarai mau kasih tau dulu, bahwa fic ini serius hanya imajinasi Yarai doang yang muncul tiba-tiba waktu baca cerita Naruto 483. So, jadi ini g ada kaitannya sama sekali dengan cerita manga sebenarnya. Kalau dikait-kaitkan dengan manga aslinya, serius cerita ini pasti membingungkan sekali.

Anggap aja Sasuke itu akhirnya sadar setelah sempat bertarung dengan Naruto dan kemudian bersama-sama melawan Madara yang udah bener-bener ngotot pengen melakukan perang dunia ninja keempat. G peduli dengan Sasuke yang udah g ada dipihaknya lagi, karena dia cukup percaya diri dengan adanya biju yang berhasil dia tangkap selama ini. Hemmm,,,gitu aja deh, gambarannya (Sori gak bisa diceritaiin mendetail, karena memang gak ada dalam rencana).

Ada reader yang menanyakan soal ini, so Yarai jelasin aja disini. Gomen, kalau sempat membingungkan para reader sekalian. Maklum author baru, hehehehe ^ . ^/~~ peace!

Tapi, tetep ucapan THANKS buat semua yang mereview, terutama yang udah nge-fav. Gak nyangka banget!! Fic pertama, cuyy… hahahahahahaha…*ditimpuk wajan—terkapar—pingsan*

OUPS…*bangkit dari pingsan* satu lagi,, fic yang chap 1 itu, ada salah penulisan. Penulisan pairing:Haruno Sakura. Yarai baru aja ngeh, waktu baca review, banyak yang bilang pairingnya masih gak jelas. Yah iyalah, gak jelas….wong Yarai-nya yang salah nulis. Seharusnya, Main Character : Haruno Sakura. Hehehe…… gomen!!!

…………………………………………………….

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Friendship / Drama

Rated : T

Main Character : Haruno Sakura

Warning : OC, AR


I, YOU and WE

By : YaraiYarai-chan

Chapter 2


Sakura berjalan menelusuri jalanan Konoha dengan langkah gontai. Entah kenapa, hari ini rasanya ia lelah sekali. Mungkin karena semalam dia harus menginap di rumah sakit dan tidur di sofa ruang kerjanya. Dan hari ini, setelah melakukan pemeriksaan kepada sensei-nya dan melihat bagaimana keadaan teman-temannya di ruang rawat 211, Sakura memilih segera pulang dan tidur di kasur empuknya.

'Kruukk..'

Sakura berhenti berjalan dan kemudian tangannya memegangi perutnya. "Aku lapar, dari tadi siang aku belum makan." Katanya dengan suara lirih. Dan kebetulan sekali, Sakura sekarang sedang berada tepat didepan kedai ramen Ichiraku. Sejurus kemudian, Sakura kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kedai itu.

"Selamat sore, Sakura!" sapa Ayame saat Sakura baru saja masuk kedalam kedainya itu.

"Ya, sore Ayame-san."jawab Sakura tersenyum dan kemudian duduk dibangku yang telah tertata rapi disitu.

"Emm..? kau.. tampaknya lemas sekali? Kurang bersemangat seperti biasanya."

"Aku ..merasa hari ini sangat lelah sekali….dan lapar."

Tampak Ayame menahan mulutnya untuk tertawa mendengar jawaban Sakura dengan nada bicaranya yang seperti itu. "Baiklah, apa kau mau mencoba menu baru kami? Ramen special."

"….. Boleh." Tak perlu menunggu lama untuk segera menyantap Ramen Spesial dari kedai favorite Naruto ini. Setelah Ramennya siap, Sakura langsung saja menyambar sumpitnya dan tidak membuang waktu lagi untuk segera menyantap makanan yang tampak menggiyurkan itu.

Melihat Sakura makan dengan lahapnya, Ayame menjadi teringat dengan seseorang. Langganan tetap kedainya ini. Siapa lagi kalau bukan Naruto?

"Ne, Sakura."

"Hmm?" Sakura hanya mengguman sebagai ganti jawaban-mulutnya penuh.

"Bagaimana keadaan Naruto?" butuh waktu bagi Sakura untuk menjawab pertanyaan Ayame.

"Lebih membaik." Jawab Sakura singkat dan kembali menyumpitkan ramen kedalam mulutnya.

"Haah.. sayang sekali dia belum bisa keluar dari rumah sakit, ya. Padahal maksud lain aku membuat menu baru ini, untuk dicobakan padanya. Sayang sekali dia belum bisa mencoba menu baru ramen special ini."

Mendengar perkataan Ayame, Sakura segera menghentikan gerakan mengunyahnya.

"Sebenarnya, kemarin aku mau membawakannya saja kerumah sakit, tapi berhubung kemarin kedai ramai sekali, aku jadinya sibuk, deh."

Kini, Sakura sudah menelan semua isi didalam mulutnya. "Ramen…? Untuk Naruto?"

"Iya."

Dan kemudian, ide cemerlang seperti melintas diotaknya. "Ne, Ayame-san. Apa…boleh biar aku saja yang membuatkannya."

Masih belum mengerti dengan perkataan Sakura, Ayame mengangkat sebelah alisnya.

"Maksudku….., bagaimana kalau aku saja yang membuat ramen itu untuk Naruto. Dan…, resepnya, darimu…"terlihat Sakura memasang wajah memohonnya dan tak lupa kedua tangannya yang mengatup didepan dada.

"Emm…"melihat Ayame sedang berfikir, dia meletakkan jari telunjukk kiri didepan mulutnya dan tangan kanan yang menlingkar didepan dadanya. Melihat ini, Sakura langsung mengambil inisiatif. "Aku akan bilang pada Naruto, kalau resep itu aku dapat dari Ayame-san. Jadi, nanti jika ia ingin makan lagi, dia akan kesini seperti biasa. Hanya untuk saat ini saja."

Sakura merasa jantungnya berdetak tidak karuan. Dia merasa deg-degan sekali.

"Tapi, tidak gratis."

"Eh?"

"Sebelum kau memberikannya pada Naruto, berikan untukku satu porsi."

Dan sejurus kemudian, senyum bahagia merekah dibibir Sakura. Sakura menganggukkan kepalanya dengan semangat. Sepertinya, rencananya untuk cepat tiba di rumah dan tidur dikasur empuknya, sudah tidak terfikirkan lagi olehnya, yang terfikirkan olehnya saat ini hanyalah 'setelah ini aku akan pergi belanja, lalu pergi ketempat Ino untuk memberitahunya kalau besok aku akan datang ke rumah sakit pada jam makan siang, dan kemudian memasak ramen special untuk Naruto. Ohh,, untuk Kaka-sensei, Sasuke, Karin, Juugo dan Suigetsu juga.'

"Terima kasih, Ayame-san. Aku janji, besok akan kubawakan satu porsi untukmu."

…..

"Masuk saat jam makan siang?"

Sakura hanya menganggukkan kepalanya semangat.

"Tumben sekali? Ada apa?" Ino sepertinya merasakan gelagat aneh dari sahabatnya itu.

"Eem.., ada deh. Kau tidak boleh tahu, besok saja."

Ino makin bingung dibuatnya, ia menaikkan sebelah alisnya dan kemudian memandang penuh arti pada sekantong belanjaan yang dipegang Sakura.

"Sepertinya, aku bisa menebak. Jadi…" Ino sengaja menggantungkan kata-katanya.

"Apa?"

"Itu untuk siapa?" Tanya Ino lagi. Kini senyum jahil dan menggoda bersarang diwajahnya.

"Rahasia. Sudah ya, aku hanya mau bilang itu saja. Jaa...." Sakura sepertinya tidak mau berlama-lama bersama Ino sekarang, dia tidak akan tahan jika harus mendengar temannya itu menggodanya terus. Sakura langsung saja melongos pergi tanpa mengindahkan teriakan-teriakan Ino yang menyuruhnya untuk jangan pergi dulu dan menyisakan satu porsi untuknya jika Sakura benar-benar ingin memasak sesuatu.


"Mika, apa kau tahu dimana Kakashi-sensei? Kenapa dia tidak ada dikamarnya?" Tanya Sakura pada Mika-suster- yang kebetulan lewat didepan ruang rawat Kakashi.

"Oh, Hatake-san ada di ruang rawat 211. Disana juga tampaknya sangat ramai sekali, banyak yang menjenguk Uzumaki-san dan teman-temannya." Sakura tampak diam dan mengernyitkan dahinya. 'Ada apa?'

"Maaf, Sakura-sama. Tadi saya sudah memberitahukan kalau ada peraturan rumah sakit untuk tidak ramai-ramai menjenguk pasien, tapi Ino-san bilang tidak apa-apa dan dia yang akan bertanggung jawab pada anda."

"Ramai-ramai?" dan suster itu hanya mengangguk.

"Memangnya, ada berapa orang yang menjenguk?" suster itu tampak berfikir terlebih dahulu, ia seperti mengingat-ingat siapa saja yang datang berkunjung ke ruang rawat itu.

"Sekitar 8 orang." Dapat dilihat wajah konyol seorang Sakura sekarang. Ekspresi kagetnya benar-benar berlebihan-untung suster itu dapat menahan tawanya.

'Bagaimana, ini? Aku hanya membawa porsi untuk Naruto, Sasuke, Juugo, Karin, Suigetsu, Kakashi-sensei dan Ino saja. Kalau disana lebih ramai…..'

"Oh, ya sudah, terima kasih, Mika."

"Sama-sama, Sakura-sama."

Sakura segera melangkahkan kakinya menuju ruang rawat 211 yang memang berada tepat disamping ruang rawat senpainya itu. Saat hendak mengetuk pintu, sayup-sayup Sakura dapat mendengar suara-suara ramai dari dalam ruangan itu.

"Wahh….masakanmu enak sekali, Hinata-chan. Kapan-kapan buatkan aku lagi, ya."

"He, hem, y-ya. Sama-sama Na-Naruto-kun."

"Ini ramen terlezat yang pernah kumakan. Kalau Ayame-san tahu, dia pasti akan cemburu padamu, Hinata-chan."

"Hah… masakan Hinata itu memang yang paling lezat, kau tidak tahu saja, Naruto."

"Diam kau, Kiba!"

"Ki-Kiba…"

"Kalau begini, kau pasti akan jadi istri yang baik."

"Na-Naruto-kun.."

"Hati-hati Hinata, jangan sampai kau pingsan…."

"Kibaaa…"

Mendengar percakapan singkat itu, entah mengapa membuat genggaman tangan Sakura -yang tadinya ingin mengetuk pintu- mencengkram kuat. Ada perasaan iri dan terdahului yang sekarang tengah ia rasakan.

Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat ,berusaha untuk menghapus segala perasaan yang tidak-tidak dihatinya. Kemudian matanya beralih memandang bungkusan yang sedari tadi dipegangnya. 'Mereka sudah makan siang semua, lalu aku apakan ini semua?' dan saat akan berbalik, Sakura berpapasan dengan salah seorang suster yang bertugas di Receptionist.

"Yuri.." merasa namanya dipanggil, suster dengan rambut hitam yang digelung dan memakai kacamata itu beralih ke suara yang memanggilnya.

"Oh… ya, Sakura-sama. Ada yang bisa saya bantu?"

"Emm.., begini, tadi aku memasak ramen untuk makan siang..dan ada sisanya. Tidak ada yang makan lagi, jadi..apa kau sudah makan siang?"

Suster itu menggelengkan kepalanya. "Belum. Saya baru saja istirahat."

Mendengar hal itu, senyum Sakura merekah.

"Kalau begitu, maukah kau mencicipi masakanku? Kau bisa memberikannya pada suster yang lain, aku kira kau tidak akan menghabiskan ini semuanya sendiri." Sakura mengangkat bungkusan itu dan memberikannya pada suster itu.

"Terima kasih, Sakura-sama."

"Ya. Jangan lupa beri tau aku bagaimana rasanya menurutmu."

"Ya. Sekali lagi, terima kasih."

Sakura masih berdiri ditempatnya dan memandangi punggung suster Yuri tadi yang semakin menjauh. 'Tak apalah, yang penting ramen itu tidak ku buang.'

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Sakura langsung membuka pintu yang ada dibelakangnya tadi dan melangkah masuk.

"Eh, Sakura? Kau baru datang?" Tanya Tenten yang pertama kali menyadari kedatangan Sakura.

Sakura hanya tersenyum menanggapinya dan kemudian ia memandang kesekeliling ruangan itu. Benar saja, ramai sekali yang datang menjenguk. Ada Ino, Kakashi-sensei, Shikamaru, Hinata, Kiba, Shino, Neji dan Tenten.

"Waahh…tampaknya ada yang berpesta tanpa aku, nih!" kata Sakura sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

"Habiiiis, Sakura-chan lama sekali sih, datangnya."

"Memangnya, kau dari mana saja? Tumben datang siang." Tanya Sasuke dengan tampang datarnya.

"………….." Sakura diam. Dia bingung mau menjawab apa dan ditambah pandangan orang-orang disitu yang sangat tidak mengenakan-mereka memandang penasaran- setidaknya, itu menurutnya.

"Aku tadi ada urusan sedikit, di rumah." jawabnya dusta.

"Oh ya, Sa-Sakura-chan. Ini untukmu, hanya kau saja yang belum dapat bagian. Kau ..ma-mau mencobanya?" Hinata menyodorkan semangkuk ramen yang menguarkan aroma lezatnya. 'Ini mungkin lebih lezat dibanding punyaku.'

"Ramen? Kau membuatnya sendiri?"

Hinata hanya menganggukkan kepalanya dengan malu-malu. Gadis ini benar-benar baik padanya.

"Kau coba saja, ramennya enak, Sakura-san." Kata Karin dari arah belakang Sakura. Sakura tersenyum kemudian mengambil mangkuk yang masih disodorkan dihadapannya itu.

"Terima kasih, Hinata. Kebetulan sekali, aku belum makan siang. Emm…, aku makannya sehabis memeriksa mereka dulu, ya? Tidak apakan?" Hinata hanya mengangguk tersenyum kemudian menerima kembali mangkuk ramen yang disodorkan Sakura untuk ditaruh di meja dibelakangnya.

"Kau pergi siang begini, tapi belum makan siang. Ngapain saja kau dirumah?" Tanya Ino sewot.

"Aku tidak sempat….." jawabnya acuh. "Dan, Kakashi-sensei. Akukan pernah bilang, agar kau jangan banyak bergerak dulu, kenapa kau malah ada disini?" Tanya Sakura dengan tatapan memojokkan.

Kakashi hanya tersenyum dibalik maskernya dan kemudian tangannya bergerak untuk menggaruk-garuk belakang kepalanya-kebiasaan yang sering ia lakukan kalau sedang terpojok.

"Well, aku tidak bisa menolak tawaran makan." Jawabnya kemudian. Saat Sakura akan membalas jawaban gurunya itu, pintu diketok oleh seseorang dan kemudian muncul suster bernama Yuri dari balik pintu.

"Maaf, permisi Sakura-sama."

"Ya?"

"Ini ada titipan dari Tsunade-sama. Kata beliau, anda harus menyelesaikan laporan ini sebelum jam 3 sore." Suster itu menyerahkan sebuah map merah pada Sakura.

"Oh, ya, terima kasih, Yuri."

"Dan…" kata suster itu menggantung.

"Ada apa lagi?"

"Ramen buatan Sakura-sama enak sekali. Terima kasih banyak. Suster-suster yang lain juga menitipkan ucapan terima kasih pada anda."

"Oh…"

"Saya permisi dulu." Sakura hanya tersenyum kaku. Dia merasa pandangan seluruh orang-orang yang ada disitu terpaku padanya.

"Kau membuat ramen, Sakura-chan?" adalah Naruto yang memulai untuk memecah keheningan yang sempat terjadi. Sakura berbalik padanya dan tersenyum. Sungguh, hanya tersenyum paksa yang bisa ia lakukan sekarang.

"Kau buat ramen, kenapa aku tidak kau beri?"

"Kau baru saja makan ramen buatan Hinata, Naruto. Dasar, perutmu itu tidak pernah merasa kenyang apa?"

"Tapi itukan, beda…"

"Aku membuat untuk suster-suster disini. Yah.., untuk menciptakan imej atasan yang baik. Hehe…" Sakura nyengir dipaksakan. Dia tidak mengira, bahwa waktu yang diperlukan suster-suster itu untuk makan siang tidak lama dan akhirnya….terjadi sesuatu yang gawat.

"Auuww.." sakura meringis saat dirasakannya tangan kanannya dicengkram kuat oleh seseorang.

"Ino? Sakit tahu…."

"Ikut aku!" dan sejurus kemudian, Ino sudah menarik paksa Sakura keluar ruangan. Setelah pintu tertutup, Ino menghentakkan punggung Sakura dengan kasar kedinding di belakangnya.

"Aauww, sakit Ino. Kau ini, apa-apaan sih?" geram Sakura.

"Aku tidak suka kau bersikap seperti itu, Sakura. Aku tahu.."

"Kau tidak tahu apa-apa." Potong Sakura sebelum Ino melanjutkan kata-katanya. Ia sudah bisa menebak, apa yang akan dikatakan sahabatnya itu nanti. Sakura menyentak tangan Ino yang masih mencengkram tangan kanannya dan berbalik membuka pintu lalu masuk lagi ke ruangan itu.

"Maaf ya, kalian. Sepertinya untuk hari ini, aku tidak bisa memeriksa kalian. Biar Ino saja nanti yang menggantikan." Sakura berjalan mendekati meja di mana ramen yang diberikan Hinata tadi diletakkan. Dan kemudian dia mengambil mangkuk itu.

"Sekali lagi, terima kasih ya, Hinata. Dah…, semua.."

"Sakura-chan…" telat, pintu sudah terlanjur tertutup.

"Kenapa dia?" Tanya Naruto entah pada siapa. Tapi, sepertinya orang-orang yang berada disitu enggan untuk menjawabnya. Tanpa terasa semua pandangan orang-orang yang berada disitu masih tertuju pada pintu yang baru saja ditutup oleh gadis pink itu. Dan tidak terkecuali sepasang onyx itu. Pandangannya terasa bingung dan tidak suka. Merasa muak, Sasuke mangalihkan pandangan onyxnya ke pemandangan luar dari jendela yang terdapat di sebelah ranjangnya. Sedangkan sepasang ruby , terus memandangi pintu dan Sasuke bergantian.

"Dasar anak muda." Komentar Kakashi pelan, seolah mengerti apa yang sedang terjadi dengan muridnya itu.

"Merepotkan…" dan satu orang jenius. Tapi, sebenarnya tidak perlu punya otak jenius untuk mengerti keadaan seperti ini, kau hanya perlu kepekaan saja.

To be Continued


Adakah yang bersedia lagi untuk mengarahkan kursor para reader sekalian pada tulisan ijo' yang menggoda dibawah itu?????????